Minggu, 30 Mei 2010

Dukun Tidak Tahu Peraturan

Tidak sedikit orang yang mengaku memiliki kemampuan khusus tertentu, seperti meramal jodoh, masa depan, keberuntungan, termasuk menyembuhkan penyakit. Orang-orang seperti itu disebut dukun, dan tidak sedikit juga orang yang percaya bahwa ada orang-orang seperti itu - dukun - yang bisa melakukan hal-hal seperti yang telah disebut di atas. Ini adalah kenyataan yang sangat memprihatinkan dan disayangkan karena di zaman yang sudah sangat melek ilmu pengetahuan dan teknologi seperti sekarang ini masih ada saja orang yang percaya terhadap perdukunan. Di satu sisi ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang, namun di sisi lainnya pola dan cara berpikir banyak orang mengalami kemandekan, bahkan kemunduran.

Orang-orang yang mempercayai praktik-praktik perdukunan sudah tidak lagi mampu menggunakan akal sehatnya untuk melihat kenyataan bahwa sesungguhnya perdukunan telah terbukti berulangkali gagal dalam praktiknya. Artinya, ada begitu banyak ramalan meleset, bahkan salah serta penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Namun itu semua tidak menghalangi orang untuk terus mendatangi orang-orang yang mengklaim dan diklaim sebagai dukun dan mengkonsultasikan banyak hal yang terdapat dalam dirinya dengan dukun. Hal demikian pun tidak dibiarkan sia-sia oleh orang-orang yang hendak meraup keuntungan dari praktik perdukunan tersebut. Oleh karena itu, banyak orang mengklaim dirinya sebagai dukun dan melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian orang supaya mempercayai "kesaktian" yang dimilikinya.

Contoh terkini mengenai hal tersebut adalah ketika seseorang yang mengaku sebagai dukun menggunakan dua ekor anak buaya sebagai daya tarik. Tujuan digunakannya dua ekor anak buaya oleh dukun tersebut adalah agar pasien percaya bahwa ia memang memiliki "kesaktian" sehingga si pasien pun membeli obat ramuannya. Hal yang sangat menggelikan. Ternyata dukun tersebut perlu menggunakan "alat bantu" lain untuk membuat para pasiennya percaya terhadap keampuhan "ilmu" yang dimilikinya. Ternyata ia memerlukan "bantuan" dari binatang (dua ekor anak buaya) untuk menarik perhatian para pasiennya. (Mirip pertunjukkan sirkus saja yang melibatkan binatang untuk menarik perhatian pengunjung sehingga bisa memberikan pertunjukkan yang unik.) Hal menggelikan lainnya terkait dengan penggunaan dua ekor anak buaya oleh dukun tersebut adalah bahwa ternyata si dukun tidak mengetahui jika buaya termasuk salah satu hewan yang dilindungi. Ia tidak tahu bahwa di tempat di mana ia mempraktikan "kesaktian"-nya buaya adalah binatang yang dilindungi oleh pemerintah setempat.

Hal sangat ironis sekaligus menggelikan, dukun yang mengaku bisa "mendiagnosis" dan menyembukan penyakit orang lain ternyata tidak mampu mengetahui jika binatang yang digunakannya sebagai atraksi untuk menarik perhatian orang ternyata merupakan salah satu binatang yang dilindungi oleh pemerintah setempat. Sangat ironis sekaligus menggelikan, dukun yang mengklaim diri bisa mengetahui berbagai hal yang terdapat dalam diri (tubuh) orang lain ternyata tidak bisa bisa mengenal sesuatu yang ada dalam dirinya. Sangat ironis sekaligus menggelikan, dukun yang mengklaim dan diklaim "sakti" karena dipercaya mampu "melihat" berbagai hal yang tidak dapat dilihat oleh orang lain secara kasat mata ternyata tidak melihat peraturan/hukum yang jelas-jelas dapat dilihat secara kasat mata. [Katanya sakti . . . kok peraturan aja ga tau sih?!]

Sabtu, 29 Mei 2010

Kemenangan Kemanusiaan

Tidak ada yang lebih melegakan ketika "kemanusiaan" berhasil mengalahkan doktrin-doktrin agama yang kaku, menindas, tidak adil, dan semena-mena. Tidak ada yang lebih membahagiakan saat "kemanusiaan" mampu dijunjung lebih tinggi daripada ajaran-ajaran agama yang seringkali merendahkan dan menyisihkan kaum minoritas. Tidak ada momen yang lebih menggetarkan ketika "kemanusiaan" bisa dipeluk lebih erat dibandingkan tradisi-tradisi agama yang sebagian besar sudah kuno, ketinggalan zaman, out-of-date. Pada saat itulah pengalaman manusia akan kemanusiaannya memperoleh nilai yang sangat tinggi karena ia berhasil mengatasi nilai-nilai agama yang sempit dan dangkal.

Peristiwa yang terjadi di Malawi patut dicontoh oleh setiap pemimpin negara di dunia. Berbagai tekanan yang ditujukan terhadap negara tersebut mampu "meluluhkan" presiden Malawi sehingga dengan sangat berani dan jumawa mengambil keputusan yang patut dipuji. Tentu, ini bisa terjadi karena "dunia" terus memberikan tekanan terhadap Malawi. Tekanan dan protes harus terus dilakukan tiada henti ketika kemanusiaan mengalami penyingkiran dan pemberangusan, entah akibat agama ataupun ideologi (politik) tertentu. Oleh karena itu, kemanusiaan harus terus diperjuangkan untuk selalu berada di atas segala hal. Kemanusiaan harus menempati tempat tertinggi dalam (ke)-hidup-(an) manusia karena kemanusiaan yang sejati mengedepankan dan mengutamakan keadilan, cinta kasih, dan kehormatan manusia.

Kemenangan kemanusiaan berarti kemenangan manusia atas segala bentuk penindasan, ketidakadilan, dan eksploitasi, baik yang dilakukan oleh agama maupun ideologi (politik). Kemenangan kemanusiaan berarti kemenangan manusia yang mampu sadar penuh bahwa (ke)-hidup-(an) manusia itu sendirilah yang jauh lebih penting dan utama dibandingkan agama. Mengapa demikian? Karena agama dibuat/diciptakan oleh manusia, dan ketika agama tidak mampu membuat manusia menjadi manusiawi maka itu berarti agama telah gagal melakukan fungsinya. Memanusiakan manusia tidak membutuhkan doktrin-doktrin agama karena telah terbukti berulangkali bahwa agama malah mengakibatkan ketidakadilan. Memanusiakan manusia tidak perlu membawa-bawa tradisi-tradisi agama karena telah terbukti jika hal-hal tersebut ketinggalan zaman, kuno, dan out-of-date. Kemenangan kemanusiaan adalah keberhasilan manusia dalam mengatasi kedangkalan, kesempitan, kekakuan, dan kegelapan pikirannya yang selama ini dikungkung dan dibutakan oleh agama. Kemenangan kemanusiaan berarti kemenangan akal sehat yang didukung oleh semangat cinta kasih dan keadilan.

Jumat, 28 Mei 2010

Tiga Jawaban


Apakah (ke)-agama-(an) dan kepercayaan terhadap adanya Tuhan telah dan dapat membawa manusia (baca: para pemeluknya) pada dunia dan kehidupan yang baik dan semakin manusiawi? Setidaknya ada tiga jawaban yang diperoleh:

1. "Ya", jawab orang-orang yang dengan mati-mati dengan membabi-buta dan membela agama (termasuk agama yang dipeluknya). Mereka menutup mata dan telinga terhadap berbagai fakta yang mengungkapkan betapa agama telah melahirkan orang-orang yang berpikir sangat sempit dan dangkal sehingga bertindak seenaknya terhadap orang-orang yang "berbeda" dari mereka.

ATAU

2. "Tidak selalu", jawab orang-orang yang masih mau berpikir kritis terhadap agama (maupun agama yang dipeluknya) karena mereka masih dapat dan mau melihat berbagai kenyataan di mana agama telah melahirkan orang-orang militan-fundamentalis. Namun mereka selalu berupaya mengajukan berbagai contoh di mana agama telah dan mampu membawa manusia pada kehidupan (kemanusiaan) yang semakin baik dan manusiawi dan orang-orang tersebut tidak meninggalkan agama(nya). Orang-orang yang beragama secara kritis berupaya beragama secara terbuka, toleran, dan menghormati orang-orang yang memiliki kepercayaan yang tidak sama dengan mereka.

ATAU

3. "Tidak", jawab orang-orang yang mendasarkan jawabannya pada begitu banyaknya kenyataan di mana agama telah merusak kehidupan dunia ini. Agama dianggap telah gagal membawa manusia pada dunia dan (ke)-hidup-(an) yang lebih baik dan manusiawi. Sebaliknya, agama dan orang-orang beragama seringkali telah bertindak tidak toleran dan keji terhadap sesamanya. Agama telah melahirkan orang-orang yang fobia terhadap keniscayaan akan “keberagaman” di dunia. Tidak sedikit orang-orang yang menjawab “tidak” tersebut kemudian pergi meninggalkan agama dan kepercayaan terhadap Tuhan (kekuatan yang melampaui dan mengatur dirinya). Sebagai gantinya mereka “memeluk kepercayaan” bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang mengedepankan dan mengutamakan, seperti: cinta kasih, keadilan, dan kehormatan.

Serangan Kaum Mayoritas & "Lebih Tua"

Pandangan umum yang (masih) berkembang di masyarakat bahwa "angka menentukan kebenaran suatu hal" merupakan hal yang salah. Artinya, popularitas suatu hal tidak bisa diukur dan ditentukan oleh banyaknya orang yang mempercayai hal tersebut sebagai sesuatu yang benar. Demikian halnya ketika "ukuran" tersebut diterapkan di dalam kehidupan beragama. Orang-orang beragama seringkali meyakini bahwa popularitas kepercayaan atau ajaran atau dogma yang diyakininya menjadi penentu bahwa agama yang dipeluknya sebagai kebenaran. Oleh karena itu, ketika ada orang atau kelompok lain yang menyatakan kepercayaan atau ajaran yang berbeda dari ajaran yang diyakini dan dipeluknya, maka kelompok yang memiliki pengikut lebih banyak jumlahnya tidak ragu untuk menuduh bahwa kelompok yang lebih sedikit pengikutnya sebagai orang-orang sesat/kafir/bida'ah.

Tuduhan seperti itu seringkali tidak berakhir pada sekadar cap atau bahkan pemberlakukan hukum-hukum yang tidak adil serta menekan kelompok minoritas. Tidak jarang kelompok mayoritas yang di dalamnya beranggotakan juga orang-orang militan-fundamentalis melakukan serangan bersenjata terhadap anggota kelompok minoritas. Kenyataan yang sangat memprihatinkan karena tindakan yang menyingkirkan nilai kemanusiaan tersebut masih saja terjadi di dunia yang sangat beragam ini. Banyak orang dengan begitu tega telah bertindak keras dan keji terhadap sesamanya. Ini merupakan keniscayaan yang sangat menyedihkan ketika manusia dengan teganya melenyapkan keberadaan sesamanya karena begitu meyakini bahwa hanya kepercayaan yang dipeluknyalah yang paling benar sehingga kepercayaan orang lain yang berbeda merupakan kesalahan/kesesatan.

Selain ukuran popularitas yang dianut banyak untuk menentukan kebenaran suatu hal, usia hal tertentu juga digunakan sebagain besar orang untuk menilai kebenaran banyak hal. Artinya, jika suatu hal telah berusia sangat tua atau lama maka hal tersebut dipercaya sebagai kebenaran. Banyak orang beranggapan bahwa sesuatu yang datang lebih kemudian (baru muncul) adalah salah. Dengan demikian, sesuatu yang lama dan sudah ada lebih dulu dianggap sebagai kebenaran. Ini pun pandangan yang sangat salah sekaligus menyesatkan.

Terlebih jika hal tersebut diterapkan dalam konteks (ke)-agama-(an) sehingga banyak orang beragama beranggapan bahwa kepercayaan yang dianutnya benar karena hal yang diyakininya tersebut sudah ada lebih lama dan/atau lebih dulu dibandingkan kepercayaan sejenis atau berbeda lainnya yang baru muncul kemudian. Orang beragama meyakini bahwa kepercayaan yang dipeluknya benar karena terbukti telah mampu bertahan sekian lama (sampai sekarang) meskipun ada begitu banyak kepercayaan sejenis atau berbeda lainnya yang lahir setelah kepercayaannya itu. Pandangan salah dan menyesatkan itu semakin diperparah ketika dianut oleh orang-orang yang berpandangan sangat sempit dan dangkal (baca: para militan-fundamentalis agama) yang tidak ragu dan segan-segan menyerang dan membantai orang-orang yang memiliki kepercayaan yang berbeda.

Saat orang, entah menggunakan ukuran popularitas ataupun usia untuk mengukur kebenaran hal yang dianutnya - terlebih gabungan keduanya - maka pada saat itulah ia terjebak dalam kesesatan berpikir. Hal tersebut semakin diperparah jika ukuran-ukuran itu dipakai oleh para militan-fundamentalis yang mempercayai bahwa mereka memiliki hak penuh untuk berlaku sewenang-wenang terhadap kelompok dan minoritas dan "lebih muda." Banyak fakta telah mengungkapkan dengan gamblang betapa ukuran popularitas dan usia selalu mengakibatkan penderitaan di pihak yang dianggap minoritas dan "lebih muda." Para militan-fundamentalis agama yang mayoritas dan "lebih tua" menganggap kelompok minoritas dan "lebih muda" salah, sesat, dan kafir, dan oleh karenanya, harus dilenyapkan karena "berbeda".

Jika ukuran popularitas dan usia adalah salah dan menyesatkan, terlebih di tangan para militan-fundamentalis agama, ukuran apakah yang seharusnya digunakan untuk mempertimbangkan dan menilai kebenaran suatu hal? Apakah itu "(ke)-benar-(an)"? Banyak orang mengatakan bahwa "kebenaran" itu bersifat relatif dan subjektif. Artinya, tergantung pada kepercayaan masing-masing orang sehingga setiap orang memiliki "definisi" kebenaran yang berbeda dan beragam. Jika demikian, "kebenaran" orang-orang beragama terbukti telah melahirkan sisi militan-fundamentalisme yang sangat keras, keji, dan tidak manusiawi. Yang jelas dan pasti adalah bahwa "kebenaran" orang-orang beragama (khususnya yang militan-fundamentalis) tidak sejalan dengan nilai kemanusiaan yang mengedepankan dan mengutamakan cinta kasih, keadilan, dan kehormatan.

Kamis, 27 Mei 2010

Fobia terhadap Perempuan


Apa yang di dalam benak kaum laki-laki yang sepertinya senang sekali melarang-larang atau membatasi gerak kaum perempuan, khususnya para lelaki yang memiliki otoritas tertentu di dalam masyarakat, seperti pemuka/pemimpin agama? Bahkan sepertinya para pemuka agama berlomba-lomba dalam menetapakan berbagai larangan yang berusaha mengatur, mengendalikan, dan menguasai bahkan mungkin menindas kaum perempuan. Contoh terkini mengenai hal tersebut ditemukan ketika salah seorang pemuka agama Yahudi di Israel melarang kaum perempuan Yahudi mengikuti pemilihan umum. Tentu hal yang tidak masuk akal sekaligus konyol tersebut dilakukan dengan berdasar pada alasan (-alasan) tertentu. Dan bisa diduga kuat bahwa alasan yang utama adalah karena adanya “hukum” agama tertentu yang menganggap kaum perempuan sebagai makhluk “kelas dua.”

Alasan agama – yang memang sering digunakan – merupakan hal yang biasa diterapkan orang-orang beragam untuk membatasi, menekan, menguasi, dan mengendalikan kaum yang dianggapnya tidak lebih penting (minoritas) daripada kaum/kelompoknya. Namun, ada alasan lain yang sesungguhnya bisa dikemukakan terkait dengan “kegemaran” kaum laki-laki dalam melarang-larang dan membatasi gerak kaum perempuan, yakni fobia. Artinya, kaum laki-laki yang suka melarang-larang dan membatasi gerak kaum perempuan terdiri dari orang-orang yang takut terhadap kaum perempuan. Laki-laki yang takut terhadap perempuan sesungguhnya menyadari penuh bahwa perempuan memiliki hak, kekuatan, dan kemampuan yang sama dengan mereka. Mereka (laki-laki) takut dan berusaha menghindari kenyataan bahwa perempuan pun bisa berkarya, memimpin, dan berkuasa bukan saja atas kaumnya tetapi juga atas kaum laki-laki.


Kenyataan bahwa banyak lelaki fobia terhadap perempuan sangatlah disayangkan dan memprihatinkan karena itu merupakan warisan zaman baheula yang seharusnya sudah sejak lama dikikis bahkan dihapus dari benak seluruh lelaki. Kaum perempuan bukanlah “warga kelas dua” di dunia ini. Mereka memiliki hak dan kewajiban yang setara dengan kaum laki-laki. Bahkan setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sejajar. Oleh karena itu, ketika alasan agama selalu digunakan untuk melarang, membatasi, mengatur, dan menguasai kelompok lain yang dianggap lebih lemah, tidak berdaya, berbeda, dan “tidak suci”, maka pada saat itulah agama (baca: orang-orang yang beragama dan mengaku bertuhan) mengalami kemandekan bahkan menemukan kuburannya. Dengan demikian, agama ternyata tidak mampu menjadi kekuatan pendorong demi perubahan sosial ke arah yang lebih baik melainkan membawa para penganutnya kembali pada zaman kuno dan tenggelam dalam pandangan-pandangan kolot yang ketinggalan zaman.

Rabu, 26 Mei 2010

Pakaian Ketat = Mengumbar Aurat

Liputan 6.com edisi Rabu, 26 Mei 2010 memuat berita mengenai peraturan berbusana menurut Hukum Islam yang berlaku di Aceh Barat dengan tajuk “Jangan Berpakaian Ketat di Aceh Barat.”
Liputan6.com, Meulaboh: Terhitung besok atau Kamis (27/5), wanita dewasa berbusana ketat dinyatakan haram berdomisili di Kabupaten Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam. Hal itu menyusul diberlakukannya peraturan kepala daerah setempat tentang penegakan syariat Islam dalam pemakaian busana muslim.
Bupati Aceh Barat Ramli Mansyur mengatakan, mulai besok para wanita juga harus memakai rok. Menurut Ramli, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat telah menyediakan 20 ribu helai rok untuk dibagikan secara gratis kepada wanita yang terjaring razia tertib busana muslim.
Walau terjadi pro dan kontra, pemkab tetap memberlakukan aturan itu. Sebab, berbusana yang menutupi aurat adalah bagian dari penegakan hukum syariat Islam. "Sebagai pemimpin, harus menerapkan aturan ini, walaupun itu pahit, karena saya akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah bila menyepelekan masalah ini," kata Ramli di Meulaboh, hari ini, seperti dilansir Antara.
Sejak beberapa hari terakhir, Dinas Syariat Islam Aceh Barat gencar menggelar razia tertib busana muslim sekaligus menyosialisasikan peraturan tersebut. Dalam razia itu, para wanita yang memakai pakaian ketat akan didata dan dinasehati. Jika tiga kali kedapatan menggunakan celana ketat, maka akan ditindak dengan cara ditukar dengan rok.
Peraturan bupati itu juga berimbas terhadap pedagang yang dilarang menjual pakaian ketat. Seperti baju blus dan celana ketat, baju terusan ketat, baju transparan tanpa pelapis, dan jilbab model pendek. Bagi lelaki juga dilarang memakai celana pendek di atas lutut di tempat-tempat umum. Diharapkan, mereka berpakaian longgar dan sopan sehingga mudah dalam gerakan salat. (TES/ANS)
===========
Kembali kaum perempuan dijadikan alasan munculnya hasrat seksual kaum laki-laki. Setidaknya hal ini dapat ditafsirkan seperti melalui berita di atas, di mana semua perempuan yang berada di Aceh barat diharamkan menggunakan baju dan celana ketat, baju terusan ketat, dan baju transparan tanpa pelapis (siapa juga perempuan yang berani malu menggunakan baju transparan di tempat ramai/umum?!) Belum cukup sampai peraturan tersebut, bahkan kaum perempuan di Aceh barat diharamkan menggunakan celana. Ini semua dihalalkan dengan berdasar pada Hukum Islam yang dianut oleh pemerintah setempat. Kaum perempuan di Aceh barat diharuskan menggunakan rok [panjang sampai menutupi mata kaki] karena bertujuan untuk menutupi aurat. Namun bukankah peraturan bahwa kaum perempuan Aceh barat harus menggunakan rok merupakan sesuatu yang berlebihan? Mungkin tidak bagi mereka yang memeluk Hukum Islam secara “ketat” karena hukum tersebut memiliki kebenaran mutlak dan normatif sehingga harus ditaati se-“ketat” mungkin.

Ternyata hukum yang serupa bukan hanya diterapkan pada kaum perempuan di Aceh barat melainkan juga diterapkan pada kaum laki-lakinya, di mana mereka dilarang menggunakan celana pendek di atas lutut. Selain itu, mereka pun “diharapkan” (berarti tidak “diharuskan”) berpakaian longgar dan sopan. Namun, harapan tersebut tidak didasarkan pada upaya menutup aurat seperti yang diberlakukan terhadap kaum perempuan melainkan semata-mata agar ketika salat mereka bisa mudah bergerak dalam melakukan gerakan-gerakan dalam salat.

Segera dengan mudah orang melihat ketidakadilan yang sangat kentara antara peraturan berbusana yang diberlakukan terhadap kaum perempuan dan laki-laki. Peraturan berbusana bagi kaum perempuan didasarkan pada upaya menutupi aurat sementara peraturan yang berbusana bagi kaum laki-laki didasarkan pada upaya untuk membuat mereka agar lebih mudah bergerak ketika melakukan gerakan solat. Jelas, ini merupakan ketidakadilan. Ketidakadilan yang diakibatkan oleh agama.

Selasa, 25 Mei 2010

Betapa Sibuknya Tuhan


BBC News edisi Senin, 24 Mei 2010 memuat berita berjudul “Bishop of Croydon calls on God for World Cup help” mengenai seorang Uskup Croydon, Nick Baines, yang berdoa bagi kelangsungan perhelatan Piala Dunia yang akan digelar dalam beberapa minggu mendatang di Afrika Selatan.
“Many England fans know months of training, silky skills and a confident manager may be no guarantee of success at the World Cup in three weeks' time.”
But now a little help from above may be at hand, thanks to a series of prayers written by the Bishop of Croydon, the Right Reverend Nick Baines. The first hopes fans will find the tournament a "source of celebration". Another, written for those with no interest in the game, asks that they may be granted "the gift of sympathy".
The Church of England's Bishop Baines, a Liverpool fan, said everyone would be affected by the World Cup so it made sense to have some suitable prayers. The first calls for all who work and play in the tournament to be guided, guarded and protected.In his second, Bishop Baines asks God to smile on the host country, South Africa, and all those who travel to "join in the party". The final one is for those who may not be watching, but may need to show family, friends and colleagues understanding and patience over the coming weeks and possibly sympathy if their team is knocked out. The bishop said: "More than half the population pray at some time and everyone will be affected by the World Cup in one way or another, so it makes sense to have some prayers for those that want to use them.
'Generous sportsmanship'
"This isn't just about football; it's about the rainbow nations of the world celebrating together with the people of South Africa."
During past World Cups, there have been prayers for David Beckham's broken metatarsal to heal and for God to "lift up his hand and confound the might of Ronaldo and Rivaldo".
The three latest prayers are:
• Lord of all the nations, who played the cosmos into being, guide, guard and protect all who work or play in the World Cup. May all find in this competition a source of celebration, an experience of common humanity and a growing attitude of generous sportsmanship to others. Amen.
• God of the nations, who has always called his people to be a blessing for the world, bless all who take part in the World Cup. Smile on South Africa in her hosting, on the nations represented in competition and on those who travel to join in the party. Amen.
• Lord, as all around are gripped with World Cup fever, bless us with understanding, strengthen us with patience and grant us the gift of sympathy if needed. Amen.
Bishop Baines, who was appointed to his post in 2003, said he wrote them for personal use or for church services.
=============
Terbukti memang bahwa olahraga sepakbola digemari oleh lebih dari separoh penduduk bumi ini, baik tua – muda, laki-laki – perempuan, petinggi – karyawan, bahkan rohaniwan sekalipun, sampai-sampai Nick Baines (Uskup Croydon) – seorang pendukung Liverpool – berdoa bagi Piala Dunia yang akan berlangsung di Afrika Selatan. Ia bukan hanya berdoa bagi tuan rumah, tetapi seluruh negara peserta Piala Dunia agar bisa tiba di Afrika Selatan dengan aman dan ketika bertanding dapat bertanding dalam semangat olahraga yang penuh persahabatan dan keakraban. Bahkan ia merinci doanya ke dalam tiga bagian pendek yang masing-masing mendoakan: keamanan, keselamatan, dan perlindungan bagi semua hal yang terkait dengan perhelatan akbar empat tahunan tersebut; setiap peserta dapat menjadi saluran berkat dunia; dan memberkati serta memperkuat manusia dengan kesabaran dan simpati sehingga acara tersebut dapat dinikmati oleh seluruh umat.

Demam Piala Dunia bukan hanya merasuki relung-relung “jiwa” anak-anak kecil sampai orang dewasa, baik yang hidup di pedesaan maupun di perkotaan, namun juga menerobos masuk ke dalam “jiwa” seorang rohaniwan Inggris. Bahkan “demam” ini tidak berhenti pada semangat menonton Piala Dunia melainkan juga mendoakannya. Bisa diduga bahwa yang berdoa untuk Piala Dunia, khususnya negara/tim kebanggaannya, bukan saja Uskup Nick Baines, tetapi ada jutaan pendukung lainnya. Mereka berdoa bukan saja demi keselamatan tim/negaranya melainkan terlebih demi meraih kemenangan di cabang olahraga yang konon paling banyak diminati oleh penduduk bumi. Tidak terbayang betapa sibuknya Tuhan karena ia harus mendengar dan mengabulkan doa orang-orang yang mempercayainya, terlebih doa yang dipanjatkan tidak jarang bersifat paksaan bagaikan anak kecil yang memaksa orangtuanya agar menuruti apa yang menjadi keinginannya.

Pengakuan Seseorang >< Kebenaran


Liputan 6.com edisi kemarin, Senin 24 Mei 2010 menurunkan berita singkat yang berjudul “Manusia Tertua di Dunia Ada di Sragen.” Berikut adalah beritanya:
Liputan6.com, Sragen: Saparman Sodimejo, warga Dukuh Segeran, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, Jawa Tengah, dianggap sebagai orang tertua di dunia. Sayangnya Saparman tak ingat tanggal lahir. Ia diperkirakan berusia 140 tahun. Menurut catatan Guinness World Records, manusia tertua saat ini berusia 114 tahun.
Dugaan usia didasarkan pada cerita masa kecil Saparman yang bisa melihat pembangunan pabrik gula Kedung Banteng Gondang. Pabrik gula itu dibangun pada 1880, sekitar 130 tahun silam. Ia juga mengaku pernah melalui zaman Belanda dan Jepang. Saparman juga sempat menikah empat empat kali hingga jumlah cucu dan cicitnya mencapai ratusan orang. Sejauh ini Saparman tetap segar bugar dan mampu melaksanakan pekerjaan sehari-hari dengan baik. Resepnya kata Mbah Saparman yakni hati ikhlas dan pasrah pada Tuhan. (AIS)
===========
Tulisan kali ini bukan hendak serta-merta menolak atau tidak mempercayai berita mengenai manusia tertua di dunia yang hidup di Sragen, Jawa Tengah, melainkan hendak menunjukkan bahwa pengakuan seseorang mengenai pengalaman hidupnya sama sekali tidak bisa dijadikan tolok ukur mengenai kebenaran berita yang dilaporkannya. Artinya, pengakuan atau klaim seseorang tidak bisa dijadikan ukuran untuk menentukan kebenaran sesuatu yang diakui atau diklaimnya.

Banyak orang seringkali mengatakan bahwa suatu peristiwa dialami dan/atau dilihatnya langsung, namun itu pun tidak bisa dijadikan ukuran untuk menentukan bahwa pengalaman dan penglihatannya sebagai sesuatu yang benar. Sebagian besar orang menyatakan bahwa karena ia mengalami dan melihatnya langsung, maka peristiwa yang dialami atau objek yang dilihatnya adalah benar, tepat, dan akurat. Kenyataannya tidaklah demikian. Mengapa demikian? Karena pengalaman, penglihatan, terlebih perasaan manusia seringkali dipenuhi oleh bias, self-confirmation, self-deception, wishful thinking, dan delusinasi. Namun sayangnya keempat hal ini seringkali tidak disadari oleh sebagian besar orang.

Dengan demikian, pengakuan seseorang tidak bisa diandalkan untuk mengetahui dan menilai kebenaran berita yang dilaporkannya. Pengakuan manusia tidak bisa dan tidak boleh mudah dipercaya karena sangat lemah yang seringkali keliru, meleset, bahkan salah. Oleh karena itu, yang diperlukan orang ketika menganalisis pengakuan, pernyataan, ataupun klaim seseorang adalah menilai, mempertimbangkan, dan terus mengujinya dengan berbagai data relevan yang ditopang oleh argumen-argumen yang dilandaskan pada akal sehat yang juga terus diuji. Kata yang bisa digunakan untuk merangkum tujuan tulisan ini adalah: KRITISISME.

Minggu, 23 Mei 2010

Kesurupan di Atas Sepeda Motor


Liputan 6.com memuat berita singkat mengenai seorang perempuan yang dipercaya kesurupan ketika mengendarai motor sehingga ia membahayakan, baik dirinya sendiri maupun orang lain. Berita edisi Sabtu, 22 Mei 2010 tersebut diberi judul “Tengah Berkendaraan, Perempuan Kesurupan.”
Liputan6.com, Bulukumba: Kesurupan saat mengedarai sepeda motor. Itulah peristiwa nahas yang dialami seorang perempuan di Bulukumba, Sulawesi Selatan, Jumat (21/5). Akibatnya, perempuan bernama Karmila itu menabrak pengendara sepeda motor lain. Karmila juga menabrak sepeda motor yang sedang diparkir dan nyaris menabrak mobil melaju ugal-ugalan.Tidak ada korban dalam peristiwa ini. Tapi, adu mulut sempat terjadi antara sejumlah pengendara dan petugas lalu lintas. Sebelum pingsan, Karmila sempat mengamuk dan berteriak-teriak. Warga di lokasi kejadian pun panik dan membiarkannya hingga terkulai lemas di lantai. Kemudian, warga membopongnya ke teras rumah untuk dipijat. (OMI/SHA)
==========
Menurut Kamus Bahasa Indonesia Online, lema “kesurupan” termasuk kata kerja yang artinya: kemasukan (setan, roh) sehingga bertindak yang aneh-aneh. Dengan mengacu pada definisi tersebut berarti perempuan tersebut dimasuki setan atau roh ketika ia mengendarai sepeda motor. Ini adalah berita yang sangat menarik karena sejauh sepengetahuan saya belum pernah ada berita mengenai orang yang dimasuki setan atau roh ketika sedang mengendarai sesuatu, entah motor, mobil, kapal laut maupun pesawat terbang. Sangat mengerikan ketika membayangkan jika peristiwa yang serupa (kesurupan) dialami oleh pilot yang sedang menerbangkan pesawat terbangnya.
Ada beberapa pertanyaan yang perlu dikemukakan terkait berita di atas. Pertama, apakah memang bisa yang namanya roh atau setan atau “makhluk halus” masuk ke dalam raga/tubuh/jasmani manusia kemudian mengendalikan atau “mengganggu” aktivitas raga manusia? Sejauh ini tidak ada penjelasan saintifik yang bisa menemukan dan menganalisis fenomena tersebut selain penggunaan istilah “supernatural.” Apa itu “supernatural”? Menurut Kamus Bahasa Indonesia Online, “supernatural” berarti: ajaib (tidak dapat diterangkan dengan akal sehat), gaib, adikodrati. Ya, ketika orang melihat sepintas fenomena kesurupan sepertinya ajaib karena tidak bisa diterangkan dengan akal sehat. Ini bisa terjadi karena pengetahuan orang yang melihat fenomena tersebut terbatas. Artinya, ia tidak atau belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai fenomena kesurupan. Sesungguhnya fenomena kesurupan bisa dijelaskan melalui penelitian otak dan psikologi yang terus mengalami perkembangan dengan didukung oleh penelitian sosial dan antropologi (mungkin Moralizm bisa menjelaskan fenomena kesurupan dari sisi medis).
Pertanyaan kedua yang bisa dikemukakan terhadap fenomena kesurupan seperti diberitakan di atas adalah: apakah mungkin perempuan tersebut mengalami kantuk atau sangat lelah sehingga ia kehilangan konsentrasinya yang mengakibatkan kecelakaan? Artinya, selalu ada kemungkinan jika sebenarnya ia ngantuk ketika mengendarai sepeda motornya sehingga ia membahayakan dirinya sendiri dan orang lain. Kemungkinan seperti ini sama sekali tidak boleh disingkirkan ketika orang hendak mencari tahu dan menjelaskan suatu peristiwa.
Kembali pada definisi “supernatural” menurut Kamus Bahasa Indonesia Online, maka seharusnyalan suatu hal yang belum bisa diterangkan oleh akal sehat tidak bisa disebut sebagai hal yang ajaib. Oleh karena itu, sesuatu yang belum bisa diterangkan dengan akal sehat sama sekali tidak berarti bahwa hal tersebut gaib atau adikodrati. “Fenomena” ini memang merasuki sebagian besar manusia, di mana mereka dengan cepat dan mudahnya mengatakan sesuatu itu sebagai hal gaib dan adikodrati hanya karena hal tersebut belum mampu dijelaskan menggunakan akal sehatnya. Akal sehat manusia sangat dipengaruhi oleh (ilmu) pengetahuan yang dimiliki seseorang. Oleh karena itu, jika seseorang belum mampu menjelaskan suatu hal maka sesungguhnya hal itu terjadi karena pengetahuan orang tersebut yang terbatas.
Keterbatasan (ilmu) pengetahuan manusia hendaknya tidak menjadikan manusia berhenti berpikir dengan menggunakan akal sehatnya. Keterbatasan pengetahuan manusia hendaknya tidak membuat manusia dengan begitu cepat dan mudah menamai atau menyebut hal-hal yang, entah didengar, dibaca, disaksikan, bahkan dialaminya sebagai hal-hal yang gaib dan adikodrati. Tidak ada yang gaib dan adikodrati dalam alam ini, tetapi yang ada hanyalah keterbatasan pengetahuan manusia untuk menjelaskan hal-hal yang oleh banyak orang dianggap sebagai hal-hal yang gaib dan adikodrati tersebut. Ketika hal yang disebut gaib dan adikodrati itu sudah bisa dijelaskan oleh akal sehat manusia, maka sesungguhnya hal itu tidak lagi merupakan sesuatu yang gaib dan adikodrati.

Sabtu, 22 Mei 2010

Tidak Perlu Cenayang


BBC News edisi Jumat, 21 Mei 2010 menurunkan berita menarik mengenai seorang cenayang yang berkedudukan di Banglore, India, karena mengklaim telah “menemukan” seekor kucing yang hilang di Lincolnshire, Inggris. Berita tersebut bertajuk “Psychic joins search for missing cat in Lincolnshire” dan berikut adalah beritanya.
“An Indian psychic is helping to search for cat which went missing from a Lincolnshire village.”

Oliver, a four-year-old tabby and white cat, went missing from Boothby Graffoe in October. Owner Sue Machen, 56, has paid £1,000 for Hertfordshire-based company Animal Search UK to hunt for the animal. It has employed psychic Sarita Gupta, who is based in Bangalore, to help in the search, a move which has been criticised by a sceptics' society. Ms Gupta believes the cat has been adopted as a stray by a new family, who do not know he has an owner.

Ms Machen said: "The expense [for the search] is immaterial. "I am just desperate to know what has happened to him. I am hoping he has wandered off and been picked up by someone."

Tom Watkins, who is leading the search, said: "We have had some good publicity and we are building up a picture of where Oliver might be. "We are hoping the psychic is right and we will receive a call about where Oliver is. "That would be mission accomplished if we can achieve that." The team said a missing cat in Birmingham had been found in a Wendy house after the same psychic said it would turn up "where children play".

A spokesman for the Merseyside Skeptics Society said: "Looking at the advice given by the psychic in both cases, we have the suggestion that the cat is staying with another family, and the idea that lost cats like to be near children. "Both of these are incredibly obvious scenarios to suggest for a missing cat, and would likely be the suggestions you'd get from someone without psychic powers - and without the need for a fee, too."

===========


Berita di atas segera menarik perhatian saya karena seorang cenayang yang berdomisili di Banglore, India, mengklaim mampu menginformasikan keberadaan kucing yang dilaporkan hilang oleh majikannya walaupun kucing tersebut berada di Lincolnshire, Inggris. Ternyata jarak ribuan mil yang memisahkan antara Inggris dan India serta perbedaan waktu di antara kedua negara tersebut sama sekali tidak menjadi penghalang bagi seorang cenayang untuk menemukan kucing yang hilang itu. Pertanyaan yang mengemuka terhadap berita tersebut adalah: mengapa lebih memilih bantuan seseorang yang memiliki "gelar" cenayang daripada orang atau kelompok yang berfokus pada pencarian binatang atau pecinta binatang? Kalaupun tetap (harus) menggunakan cenayang, mengapa menggunakan bantuan cenayang yang berada di Banglore, India, bukannya cenayang yang ada di Lincolnshire, Inggris, atau bahkan di sekitar kota tersebut? Apakah tidak ada cenayang yang berdomisili di Lincolnshire?

Namun, "hasil penerawangan" cenayang tersebut bukanlah sesuatu yang "istimewa" karena ia hanya menjelaskan mengenai sesuatu yang sangat umum. Artinya, cenayang tersebut tidak memberikan keterangan yang lebih spesifik mengenai keberadaan kucing yang hilang itu. Ia hanya mengatakan jika kucing tersebut telah ditemukan dan dibawa oleh orang lain. Ini merupakan keterangan yang sangat sederhana dan bersifat sangat masuk akal karena memang mungkin saja kucing tersebut telah ditemukan dan dibawa oleh orang lain. Atau bahkan mungkin kucing tersebut sudah mati akibat tertabrak oleh kendaraan bermotor. Oleh karena itu, untuk menyatakan hal-hal yang sangat sederhana, umum, dan masuk akal tidak dibutuhkan seseorang yang "berstatus" cenayang karena hal-hal tersebut bisa dilakukan oleh setiap orang yang mampu menggunakan akal sehatnya.

Sangat disayangkan, pemilik kucing tersebut tidak menggunakan akal sehatnya karena lebih memilih dan mempercayai akal sehat seorang cenayang. Ia pun rela mengeluarkan uang yang sangat banyak (1000 pounds) hanya untuk membayar keterangan yang sangat umum dan sederhana dari cenayang tersebut. Dalam kasus ini, jelas, pihak yang telah menggunakan akal sehatnya adalah cenayang itu karena mampu memberikan keterangan yang sangat sederhana dan umum. Ia juga telah menggunakan "akal sehat"-nya karena mampu memperoleh bayaran yang sangat tinggi hanya untuk "menemukan" seekor kucing yang telah hilang.

Jumat, 21 Mei 2010

Tuyul di dalam Botol


Kompas.com edisi Jumat, 21 Mei 2010 memuat berita yang diberi tajuk “Lagi, Tuyul Gegerkan Warga Bekasi”, yakni mengenai tuyul yang diklaim berhasil ditangkap oleh beberapa orang kemudian dimasukkan ke dalam sebuah botol bekas sirup.
JAKARTA, KOMPAS.comWarga Kampung Pedurenan RT 08 RW 05, Kelurahan Durenjaya, Bekasi Timur, kemarin dihebohkan dengan kabar penangkapan tuyul. Sebelumnya, Selasa (18/5/2010), warga Kelapa Gading, Jakarta Utara, juga dihebohkan dengan "ditangkapnya" tuyul dalam botol.
Makhluk gaib yang dituding gemar menggasak duit itu tertangkap Kamis (20/5/2010) sekitar pukul 02.00. Penangkapan tuyul itu bermula dari kecurigaan empat warga Gang Swadaya, Kampung Pedurenan, yang tengah bermain karambol. Mereka, yakni Dimin (50), Zainul Abidin (45), Turodi (57), dan Murjianto (25), terusik dengan kehadiran sosok makhlus halus itu. "Lewat tengah malam, di antara kami ada yang merasakan hawa lain. Tiba-tiba Murjianto melihat sosok seperti anak kecil berlarian masuk ke dalam gang. Tidak semua dari kami yang berkumpul malam itu bisa melihatnya," ungkap Dimin, ketua RT setempat. Dibantu rekan-rekannya, kata Dimin, Murjianto akhirnya menggiring makhluk itu ke pojokan sebuah rumah dan memasukkannya ke dalam botol bekas wadah sirup. Kejadian itu kontan memancing perhatian warga setempat. Cerita dari mulut ke mulut pun membuat warga berdatangan.
Tak hanya warga Kampung Pedurenan, sejumlah warga tetangga kampung juga menyempatkan diri mendatangi rumah Murjianto untuk melihat langsung makhluk halus itu. Mereka berebut mengabadikannya menggunakan beragam kamera, mulai dari kamera ponsel, kamera saku, hingga kamera video.
Sejumlah warga mengaku kehilangan uang beberapa hari sebelum penangkapan itu. Ny Anis (41), warga setempat, mengaku kehilangan uang Rp 500.000 yang tersimpan dalam celengan plastik. Celengan itu dia taruh dalam lemari pakaian dan kuncinya selalu dibawa. Tiap kali menabung, Anis mencatatnya sehingga tahu persis berapa jumlah uangnya. "Celengannya enggak pecah, tetapi waktu tiga hari lalu saya bongkar duitnya sudah enggak ada," ungkap ibu dua anak itu.
Demi kenyamanan warga, akhirnya botol kaca berisi makhluk halus itu dibawa petugas ke kantor Kelurahan Durenjaya, sekitar 500 meter dari rumah Murjianto. "Sudah ratusan orang datang ke sini dari pagi, kasihan yang punya rumah," kata Dimin. (chi)
===========
Segera setelah membaca berita di atas muncul lima tanggapan:
Pertama, diberitakan bahwa hanya seorang – bernama Murjianto – yang merasakan “hawa lain” yang kemudian ditafsirkan bahwa hal itu karena ada tuyul di sekitar tempat tersebut. Sejauh ini setiap kali orang mengatakan bahwa ia “merasakan hawa lain/aneh”, maka ciri-ciri fisiknya adalah bahwa bulu kuduk orang tersebut naik tanpa sama sekali menjelaskan lebih rinci apa yang dimaksudnya dengan “hawa lain/aneh” itu. Sejauh yang berkaitan dengan “hawa lain/aneh” itu ada yang mengatakan bahwa tiba-tiba terasa dingin. Ya, bisa saja udara dingin berhembus karena hal itu terjadi pada malam hari dengan didukung oleh hembusan angin malam yang rata-rata memang sejuk. Ada yang mengatakan tiba-tiba mencium bau bunga tertentu. Ya, hal itu sangat mungkin terjadi karena tidak disadari orang bahwa di sekitar tempat tersebut ada tanaman atau bunga-bunga tertentu yang ketika malam mengeluarkan bau khas yang tajam. (Ketika nongkrong sampai subuh bersama teman-teman pernah mencium bau khas seperti kopi/daun pandan. Beberapa teman merinding dan langsung mengatakan bahwa ada “jadi-jadian” (?) yang lewat, padahal tidak lama kemudian melintas musang di dahan pohon.) Dengan demikian, jelas, “hawa lain/aneh” yang dimaksud tersebut sama sekali tidak membuktikan bahwa ada makhluk lain (dhi. tuyul) di sekitar tempat tersebut. Oleh karena itu, yang terjadi adalah bahwa orang tersebut terlalu mempercayai “sense”-nya. Jangan lupa, manusia memiliki lima sense dan dari kelima sense tersebut tidak ada satupun yang berfungsi untuk “melacak” keberadaan “makhluk halus” atau makhluk apapun itu.

Kedua, diberitakan bahwa hanya seseorang bernama Murjianto yang merasakan “hawa lain” tersebut sedangkan teman-temannya yang saat itu juga berada di tempat tersebut tidak merasakannya. Ini sangat janggal. Mengapa hanya Murjianto yang merasakannya dan mengapa teman-temannya tidak merasakan hal yang sama? Apakah ada “kemampuan” tertentu yang dimiliki orang-orang tertentu sehingga ia mampu “merasakan” hal-hal yang tidak bisa dirasakan orang lain? Tidak ada. Namun yang menarik adalah teman-temannya terpengaruh oleh “perasaan” Murjianto sehingga mereka pun percaya terhadap apa yang dirasakan olehnya. Dengan demikian, mereka mengalami halusinasi karena mereka semua mempercayai sesuatu yang sesungguhnya tidak nyata dengan berdasar pada “perasaan” atau kepercayaan atau pengalaman satu orang. Jelas, hal ini bisa terjadi karena mereka adalah teman-teman Murjianto sehingga mereka cenderung mudah mempercayai pernyataan seorang temannya. Ini biasa terjadi dalam masyarakat, di mana sebuah kelompok cenderung mudah mempercayai dan menerima pernyataan bahkan pengalaman anggota kelompoknya sendiri karena di antara mereka sudah ada semacam “ikatan batin” dan “perjanjian tidak tertulis” bahwa anggota kelompok saling mempercayai dan mendukung. Tentu, dalam situasi seperti ini kritisisme dan skeptisisme menjadi sesuatu yang nyaris tidak mungkin sehingga menjadi sangat mandul.

Ketiga, dikatakan bahwa tuyul adalah “makhluk halus”. Apakah yang dimaksud dengan “makhluk halus” itu? Apakah itu berarti bahwa tuyul merupakan makhluk yang tidak memiliki fisik/raga/jasmani, ataukah? Jika tuyul adalah makhluk yang tidak memiliki fisik/raga/jasmani, namun mengapa ia bisa “ditangkap” bahkan dimasukkan ke dalam sebuah botol bekas sirup? Apaka dengan demikian berarti tuyul adalah makhluk yang bisa disentuh oleh fisik manusia? Jika tuyul adalah makhluk yang memiliki fisik/raga/jasmani, dari manakah ia berasal? Di manakah ia tinggal? Apakah yang menjadi makanannya? Namun sepertinya tuyul adalah makhluk yang memiliki raga karena ia dianggap sebagai penyebab hilangnya uang, seperti yang diklaim oleh banyak orang yang mempercayai hal tersebut. Ini artinya bahwa tuyul bisa menyentuh dan disentuh secara fisik. Namun demikian, sampai saat ini pertanyaan-pertanyaan tersebut belum dijawab secara rinci dan jelas.

Keempat, diberitakan bahwa warga banyak mengabadikan (foto dan video) botol yang menjadi tempat di mana tuyul tersebut disimpan. Dikabarkan juga bahwa di dalam botol tersebut terdapat gumpalan hitam mengambang yang berbentuk anak kecil yang sedang duduk. Sejauh yang dapat dikatakan bahwa “penglihatan” tersebut merupakan pareidolia. Orang-orang yang datang melihat dan mengabadikan botol tersebut sudah membawa asumsi di benaknya bahwa tuyul adalah makhluk yang berbentuk anak kecil gundul (berita kali ini tidak mengatakan jika gumpalan hitam yang berbentuk anak kecil tersebut gundul atau tidak). Asumsi tersebut semakin diperkuat dan dipertegas ketika orang melihat bentuk atau kontur permukaan atau pola yang terlihat di botol tersebut. Kontur permukaan atau pola tersebut bisa saja berasal dari cahaya yang memantul dari benda-benda lain sehingga membentuk seperti gumpalan hitam. Juga sangat mungkin jika bentuk gumpalan hitam yang berbentuk anak kecil sedang duduk tersebut memang merupakan kontur permukaan botol tersebut. Harus selalu diingat bahwa setiap orang memiliki asumsi yang diperoleh dari berbagai pengetahuan dasar yang pernah diterima sebelumnya. Dengan demikian, jelas, tuyul di dalam botol bekas sirup tersebut hanya bisa “dilihat” dan “dikatakan” oleh mereka yang sebelumnya sudah memiliki gambaran dasar seperti apakah tuyul itu. Tentu, mereka yang belum atau tidak memiliki gambaran dasar mengenai bentuk tuyul tidak bisa “melihat” dan “mengatakan” bahwa ada tuyul di dalam botol bekas sirup tersebut.

Kelima, diberitakan bahwa keberadaan dan penangkapan tuyul tersebut semakin diperkuat oleh pengakuan sejumlah warga yang mengklaim telah kehilangan uangnya. Tradisi yang berkembang di masyarakat adalah bahwa jika uang hilang tanpa penyebab yang jelas, maka itu artinya uang tersebut telah dicuri oleh tuyul. Bagaimana upaya memecahkan “misteri” ini? Salah satunya adalah dengan menggunakan pisau Ockham. Secara sederhana cara berpikir dan bekerja pisau Ockham adalah: jangan membawa sesuatu yang baru ke dalam kasus yang sedang dibahas. Artinya, ketika menggunakan pisau Ockham seseorang hanya memperhatikan hal-hal sederhana yang berasal dari sekitarnya. Mengenai sejumlah warga yang mengaku telah kehilangan uangnya, maka tidak perlu mencari sesuatu yang berasal dari luar peristiwa tersebut. Tidak perlu membawa hal-hal yang baru yang tidak ada kaitannya dengan “kasus” hilangnya uang-uang tersebut melainkan mencari tahu dari hal-hal sederhana yang bisa dipertimbangkan menjadi penyebab hilangnya uang tersebut, misalnya: uang itu dianggap hilang padahal terselip di suatu tempat, atau orang lupa jika uang yang dimaksud sebenarnya sudah digunakan, atau orang lupa meletakkan uangnya (atau juga terselip) sehingga ia menganggap bahwa uangnya telah hilang, atau karena uang itu memang hilang akibat dicuri oleh, entah anggota keluarga sendiri atau orang lain.

Setelah memperhatikan kelima poin di atas, apakah “makhluk halus” yang dinamakan tuyul itu masih ada, bahkan ada di dalam botol bekas sirup? Ya, masih ada, namun bukan di dalam botol bekas sirup melainkan dalam benak kita.

Homofobia


BBC News edisi Kamis, 20 Mei 2010 memuat berita mengenai pasangan sejenis (laki-laki) yang dihukum oleh pemerintah Malawi karena dianggap melakukan tindakan tidak senonoh (tunangan). Berikut adalah beritanya:

A judge in Malawi has imposed a maximum sentence of 14 years in prison with hard labour on a gay couple convicted of gross indecency and unnatural acts. The judge said he wanted to protect the public from "people like you".

Steven Monjeza, 26, and Tiwonge Chimbalanga, 20, have been in jail since they were arrested in December after holding an engagement ceremony. The case has sparked international condemnation and a debate about homosexuality in the country. The British government, Malawi's largest donor, expressed its "dismay" at the sentences, but has not withdrawn aid.

'Horrendous example'

The US state department, meanwhile, said the case was "a step backwards in the protection of human rights in Malawi".

Handing down sentence in the commercial capital, Blantyre, Judge Nyakwawa Usiwa-Usiwa told the pair: "I will give you a scaring sentence so that the public be protected from people like you, so that we are not tempted to emulate this horrendous example."

The judge said the pair - whom he convicted on Tuesday - had shown no remorse. "We are sitting here to represent the Malawi society, which I do not believe is ready at this point in time to see its sons getting married to other sons or conducting engagement ceremonies," said the judge.

The BBC's Raphael Tenthani in Blantyre says Monjeza, who is unemployed, broke down in tears while Chimbalanga remained calm. "I am not worried," Chimbalanga, a hotel janitor, told reporters as he was led away.

Defence lawyer Mauya Msuku told the BBC that they would appeal. The courtroom was packed, and hundreds of people gathered outside the building. Some shouted abuse as the couple were taken back to jail. There were shouts of "You got what you deserve!" and "Fourteen years is not enough, they should get 50!"

Mr Msuku had argued for a lighter sentence, pointing out that the pair's actions had not victimised anyone. "Here are two consenting adults doing their thing in private. Nobody will be threatened or offended if they are released into society," he said on Tuesday.

'Prisoners of conscience'

Gift Trapence, from the Centre for Development of People (Cedep), a human rights group, described it as a sad day for Malawi. "How can they get 14 years simply for loving one another?" he asked. "Even if they are jailed for 20 years you can't change their sexuality. Michelle Kagari, deputy Africa director of Amnesty International, called the sentence "an outrage", reports the AP news agency. She described the pair as "prisoners of conscience" and said Amnesty would continue to campaign for them to be freed.

UK gay rights campaigner Peter Tatchell pointed out that the laws under which the pair were convicted were introduced during British colonial rule. "These laws are a foreign imposition. They are not African," he said. He described the sentence as "brutal" and more severe than for rapists, armed robbers and killers.
The men had denied the charges and their lawyers said their constitutional rights had been violated. Cedep and the Centre for Human Rights and Rehabilitation (CHRR) have been urging Malawi's authorities to relax the country's stance on homosexuals. Our reporter says the government has come under pressure from Western donors over the issue.

===========

“Perasaan” yang timbul segera setelah membaca berita di atas adalah sangat memprihatinkan. Sangat memprihatinkan karena manusia tega “menghakimi” sesamanya dengan menggunakan tolok ukur yang sangat sempit dan dangkal. Sempit dan dangkal karena tidak didasarkan pada argumen-argumen yang lebih mengutamakan nilai kemanusiaan.

Setidaknya ada dua dasar yang biasa digunakan manusia setiap kali menilai sesamanya, yakni: agama/kepercayaan dan/atau popularitas. Pertama, dasar yang digunakan sebagian besar orang adalah agama/kepercayaan karena mereka beranggapan bahwa agama/kepercayaan yang dianutnya memberikan jawaban yang pasti terhadap semua pertanyaan yang ada dalam benaknya. Hal ini termasuk tolok ukur yang digunakan sebagaian besar orang beragama, di mana “kitab suci”, tradisi, ajaran-ajaran para pemuka agama, dan dogma selalu digunakan sebagai tolok ukur untuk menilai setiap hal yang ada dalam alam semesta. Namun, semua hal tersebut seringkali malah menimbulkan masalah. Artinya, saat tolok ukur agama/kepercayaan digunakan, maka ada pihak lain yang merasa dirugikan karena mengalami ketidakadilan. Jika demikian, tolok ukur agama, yang seharusnya “membawa” manusia pada “kebahagiaan” atau ketenteraman.

Dasar kedua yang biasa digunakan orang adalah “kadar” kepopuleran pandangan yang dianutnya. Artinya, jika pandangan yang dipercayanya banyak dianut oleh orang lain, maka ia berkesimpulan bahwa pandangannya tersebut benar, dan pandangan yang bertolak belakang dengan pandangannya itu salah. Hal inilah yang seringkali ditemukan, misalnya mengenai pandangan homoseksualitas dan lesbian; apakah homoseksualitas dan lesbian benar atau salah. Jika mengacu pada dasar ke-2, maka homoseksualitas dan lesbian adalah salah karena jauh lebih banyak orang yang menyatakan bahwa hal tersebut salah (misalnya, dengan didukung oleh pandangan pertama, yakni agama). Pandangan ini seringkali juga didukung oleh pernyataan bahwa sesuatu itu salah jika segelintir orang yang mengalami atau melakukannya. Tentu, dalam konteks homoseksualitas dan lesbian, tolok ukur ini salah karena tidak ada kaitan antara tindakan seseorang (pilihan orang) dengan “nilai” yang dianut dalam pandangan yang dianutnya.

Dengan demikian, jelas, kedua dasar di atas telah melahirkan ketidakadilan, khususnya terhadap mereka yang minoritas. Kelompok minoritas seringkali tidak berdaya karena sudah langsung dianggap sebagai kaum yang lebih lemah. Kelompok minoritas “kalah” karena jumlah yang lebih sedikit dibandingkan kelompok mayoritas. Dan yang pasti, polarisasi antara kelompok mayoritas dan minoritas telah menghasilkan sikap homofobia yang menggiring manusia ke arah yang tidak manusiawi.

Pemblokiran YouTube


BBC News edisi Kamis, 20 Mei 2010 menurunkan berita mengenai pelarangan penggunaan YouTube oleh pemerintah Pakistan yang bertajuk “Pakistan blocks acces to YouTube in internet crackdown.”
Pakistan has blocked the popular video sharing website YouTube because of its "growing sacrilegious content". Access to the social network Facebook has also been barred as part of a crackdown on websites seen to be hosting un-Islamic content.
On Wednesday a Pakistani court ordered Facebook to be blocked because of a page inviting people to draw images of the Prophet Muhammad. Some Wikipedia pages are also now being restricted, latest reports say. Correspondents say it remains to be seen how successful the new bans will be in Pakistan and whether citizens find a way round them. Because YouTube is a platform for free expression of all sorts, we take great care when we enforce our policies.
YouTube says it is "looking into the matter and working to ensure that the service is restored as soon as possible". The site was briefly blocked in Pakistan in 2008 - ostensibly for carrying material deemed offensive to Muslims.
Facebook said on Wednesday that the content did not violate its terms. There have been protests in several Pakistani cities against the Facebook competition.
'Derogatory material'
The Pakistan Telecommunications Authority said it had ordered internet service providers to "completely shut down" YouTube and prevent Facebook from being viewed within Pakistan. It said the move came only after "all possible avenues" within its jurisdiction had been used. "Before shutting down (YouTube), we did try just to block particular URLs or links, and access to 450 links on the internet were stopped," said PTA spokesman Khurram Ali Mehran. "But the blasphemous content kept appearing so we ordered a total shut down."
One of the links blocked is to a BBC News website article about Pakistani soldiers apparently beating Taliban suspects in a video posted on Facebook. A YouTube spokesperson said: "YouTube offers citizens the world over a vital window on cultures and societies and we believe people should not be denied access to information via video. "Because YouTube is a platform for free expression of all sorts, we take great care when we enforce our policies. Content that violates our guidelines is removed as soon as we become aware of it."
The controversy began with the Facebook feature called "Everybody Draw Muhammad Day". Depictions of the Prophet are forbidden in Islam. A message on the item's information page said it was not "trying to slander the average Muslim". "We simply want to show the extremists that threaten to harm people because of their Muhammad depictions that we're not afraid of them."
The page contains drawings and caricatures of the Prophet Muhammad and characters from other religions, including Hinduism and Christianity. "Such malicious and insulting attacks hurt the sentiments of Muslims around the world and cannot be accepted under the garb of freedom of expression," Pakistani foreign ministry spokesman Abdul Basit said about the page.
Facebook said in a statement that it would take action if any content "becomes an attack on anyone, including Muslim people", but that in this case its policies were not violated. "Facebook values free speech and enables people to express their feelings about a multitude of topics, even some that others may find distasteful or ignorant," the statement said.
A hotline has been set up in Pakistan, asking members of the public to phone in if they see offensive material anywhere. Islamic parties say they are planning nationwide protests in Pakistan. Five people were killed in the country in 2006 during violent demonstrations following publication of Muhammad cartoons in a Danish newspaper.
===========
Setelah salah satu jejering sosial, Facebook, dilarang penggunaannya oleh pemerintah Pakistan, langkah berikut yang dilakukan adalah dengan memblokir akses YouTube di negara tersebut. Saya semakin penasaran terhadap sikap pemerintah Pakistan dan negara-negara Islam lainnya mengenai langkah berikut apa yang akan diambil oleh mereka terkait dengan kebebasan berpikir, berekspresi, dan berpendapat yang seharusnya menjadi hak setiap orang. Kebebasan itu bukan berarti seseorang atau kelompok bisa bertindak sebebas-bebasnya melainkan orang atau kelompok lain pun bebas mengkritik pandangan orang lain, dan bukannya melarang atau memblokir hak-hak orang lain tanpa sebelumnya diadakan semacam debat atau diskusi. Terlebih, jika larangan atau pemblokiran tersebut dilakukan dengan cara-cara kekerasan, seperti ancaman/intimidasi dan vandalisme.

Selain itu, Facebook dan YouTube bukan saja merupakan wadah orang untuk menggunakan hak berpendapat dan berekspresi, tetapi juga merupakan wadah orang untuk berkomunikasi. Artinya, melalui Facebook dan YouTube orang bisa berhubungan dengan orang banyak (bukan hanya teman atau orang-orang yang dikenalnya) melainkan juga bisa terhubung dengan masyarakat yang lebih luas. Memang saat Facebook dan YouTube dilarang atau diblokir bukanlah akhir dari segalanya, namun bisa saja terjadi ketika kedua hal tersebut menjadi pemicu terhadap pelarangan-pelarangan lainnya.