Tampilkan postingan dengan label Pisau Ockham. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pisau Ockham. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Agustus 2010

Hantu Genderuwo

Seorang warga Desa Wates, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, mengaku jika dada suaminya dilukai oleh "makhluk" yang oleh warga sekitar diyakini sebagai hantu genderuwo. Ketika peristiwa itu terjadi ia sedang tidur dengan suaminya di ruangan yang sama dan ketika tiba-tiba terbangun ia melihat sesosok besar menyerupai manusia sedang berjalan ke luar kamarnya. Ketika dibangunkan oleh Jumaasih - nama ibu tersebut - ternyata suaminya (Setulam) sudah dalam keadaan pingsan. Peristiwa tersebut dipercaya oleh warga karena hantu genderuwo itu hendak mengambil hati Setulam untuk menambah kesaktiannya sehingga meninggalkan luka sepanjang lima sentimeter akibat kuku "makhluk" tersebut. 

Apakah memang benar ada "makhluk" yang tidak jelas "identitas"-nya yang berusaha mengambil hati manusia akibatnya ia melukai korbannya? Bagaimana menjelaskan hal tersebut? Jika ya, mengapa ada "makhluk" yang berusaha mengambil hati manusia? Untuk menambah kesaktiannya? Jawaban yang sangat tidak memuaskan karena begitu pendek dan sederhana. Jika jawabannya tidak, maka perlu diberikan penjelasannya. Inilah yang menjadi fokus tulisan ini. 

Beberapa waktu lalu pernah diangkat tulisan mengenai Pisau Ockham. Nah, berita di atas coba dijelaskan dengan menerapkan Pisau Ockham. Dengan menggunakan Pisau Ockham maka berita mengenai apa atau siapa yang telah melukai laki-laki malang tersebut akan lebih jelas  dan nyata ketimbang menggunakan penjelasan mistik seperti yang dipercaya oleh warga Desa Wates. Pisau Ockham selalu berusaha mencari dan memberikan penjelasan yang rasionalistik terhadap berbagai hal, khususnya hal-hal yang berkaitan dengan supernatural dan paranormal. Beberapa kemungkinan rasionalistik bisa dikemukakan terhadap peristiwa tersebut: 

Kemungkinan pertama adalah bahwa laki-laki malang tersebut ketika tidur tanpa sengaja  telah melukai oleh dirinya sendiri. Namun berdasar pada luka yang di dadanya yang sepanjang lima sentimeter dengan didukung oleh keterangan medis, maka menjadi tidak mungkin jika laki-laki tersebut melukai dirinya sendiri hanya dengan kukunya. 

Kemungkinan kedua adalah bahwa laki-laki malang tersebut telah dilukai oleh istrinya sendiri, entah sengaja ataupun tidak sengaja. Namun, kemungkinan kedua ini lumayan kecil tingkat kemungkinannya karena melibatkan istri laki-laki tersebut walaupun sama sekali menyingkirkan adanya kemungkinan hal tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan kemungkinan ketiga. 

Kemungkinan ketiga adalah bahwa laki-laki malang tersebut telah dilukai oleh penjahat yang masuk ke dalam rumahnya ketika ia dan istrinya sedang tidur. Namun, ketika ia sedang melakukan perbuatan jahatnya tanpa diduga istri laki-laki itu terbangun sehingga penjahat itu menghentikan perbuatannya dan kabur. 

Setidaknya ada tiga kemungkinan rasionalistik yang bisa dikemukakan dengan bantuan Pisau Ockham, dan kemungkinan yang paling masuk akal dari ketiganya adalah kemungkinan yang ketiga, di mana laki-laki itu telah dilukai oleh penjahat. Harus diingat bahwa Pisau Ockham berusaha memberikan penjelasan yang paling masuk akal dengan menyingkirkan berbagai hal yang berkaitan dengan mistik. "Semangat" Pisau Ockham adalah memberikan sebanyak mungkin kemungkinan yang masuk akal, jelas, dan nyata. Oleh karena itu, semua penjelasan paranormal dan supernatural bisa dijelaskan dengan Pisau Ockham dengan mengajukan sebanyak mungkin kemungkinan yang masuk akal ketimbang penjelasan paranormal dan supernatural yang selalu simplisistik, seringkali tidak jelas, dan tidak konsisten. 

Dengan demikian, tidak seperti berbagai penjelasan paranormal dan supernatural yang selalu begitu menyederhanakan perkara, seringkali tidak jelas, dan tidak konsisten serta hanya mengemukakan satu kemungkinan, sebaliknya, Pisau Ockham akan sangat membantu dengan memberikan penjelasan yang tidak menyederhanakan perkara, berusaha konsisten pada peristiwa yang terjadi, dan mengajukan kemungkinan rasionalistik sebanyak mungkin. Jika penjelasan paranormal dan supernatural ketat pada hal-hal mistik dan gaib, sementara Pisau Ockham akan berusaha memberikan penjelasan yang tidak mistik atau gaib dengan mengajukan berbagai kemungkinan yang berlawanan dengan hal-hal mistik atau gaib karena sesungguhnya hal-hal mistik atau gaib bisa dijelaskan secara nalar.

Kamis, 17 Juni 2010

Tunggu Dulu Dong...

Orang-orang Katolik di Argentina dihebohkan oleh ukiran Yesus yang menangis darah. Dikabarkan bahwa ukiran Yesus di salah satu gereja kecil di Argentina menangis darah. Tak pelak lagi fenomena ini segera menyedot perhatian warga Katolik di sekitar tempat itu dan ribuan orang dikabarkan mendatangi gereja tersebut.

Otoritas Katolik setempat diberitakan telah mengambil dan mengirim sampel cairan yang mengalir dari dahi (tempat mahkota duri) ke pipi Yesus tersebut untuk diteliti secara ilmiah, apakah darah tersebut merupakan darah manusia. Meski hasil penelitian kimia belum keluar, namun hal ini tidak menghalangi ratusan bahkan ribuan warga Katolik untuk mempercayai kebenaran fenomena tersebut. Otoritas tertinggi Katolik - Vatikan - telah mengeluarkan pernyataan yang bijak dengan menyatakan bahwa orang beragama (dhi. warga Katolik) harus berhati-hati dengan fenomena serupa. Bahkan Vatikan mengakui bahwa kebanyakan fenomena seperti itu adalah buah imajinasi dari orang-orang yang berkhayal demi memperoleh uang.

Pernyataan Vatikan mengenai "imajinasi" dan "khayalan" sebenarnya kurang tepat karena yang lebih tepat adalah "pareidolia." Beberapa tulisan terdahulu mengangkat tema "pareidolia" tersebut (1, 2, 3). Kasus "pareidolia" sangat sering ditemukan dalam konteks keagamaan, namun demikian sama sekali tidak menutup kemungkinan terjadi pada kasus-kasus di luar konteks keagamaan, seperti telah diangkat dalam beberapa tulisan di blog ini.

Ada hal janggal yang ditemukan melalui pernyataan otoritas Katolik setempat yang mengatakan bahwa sampel cairan - yang mirip darah - itu sedang diteliti untuk melihat apakah cairan tersebut darah manusia atau bukan. Janggal karena cairan tersebut terdapat di sebuah ukiran, dan mengapa harus dibuktikan apakah cairan tersebut merupakan darah manusia atau bukan. Dan karena dikaitkan dengan Yesus (cairan tersebut terdapat di ukiran wajah Yesus), bukankah Yesus sendiri telah mati dan naik ke surga, seperti diimani oleh umat Kristen sedunia? Apakah Yesus yang sudah mati dan naik ke surga bisa mengeluarkan darah (lagi) melalui sebuah ukiran yang terdapat di dunia? Apakah darah Yesus menetes dari surga (jika surga berada di atas bumi atau terdapat di langit/angkasa) hingga jatuh di salah satu ukiran yang terdapat di sebuah gereja kecil di Argentina? Dengan demikian, pernyataan otoritas Katolik setempat tersebut sangat janggal karena cairan tersebut terdapat di sebuah ukiran, kecuali jika memang ada seseorang yang telah dengan sengaja meneteskan darah manusia di ukiran wajah Yesus itu. Jika demikian yang terjadi, maka tentu, cairan tersebut memang berasal dari seorang manusia, dan yang pasti, bukan berasal dari Yesus karena ia sudah tiada.

Bagaimana menjelaskan fenomena seperti yang terjadi di Argentina tersebut? Pisau Ockham adalah cara sederhana sekaligus masuk akal untuk menjelaskan hal seperti itu. Dengan menggunakan Pisau Ockham maka setidaknya orang dapat menjelaskan tiga kemungkinan:

1. Cairan yang mungkin berwarna merah sehingga menyerupai darah yang terdapat di sebuah
ukiran wajah Yesus itu mungkin berasal bahan (kayu) ukiran itu sendiri, atau . . .

2. cairan itu adalah cat yang melapisi ukiran tersebut yang meleleh akibat suhu tertentu, atau . . .

3. ada cairan lain yang menetes dari suatu benda yang terletak di atas ukiran tersebut dan ketikacairan itu tercampur dengan cat yang melapisi ukiran tersebut, maka mengkibatkan warnamerah yang menyerupai darah.

Dengan demikian, fenomena cairan menyerupai darah yang terdapat di ukiran wajah Yesus di Argentina dapat dijelaskan menggunakan Pisau Ockham yang setidaknya bisa menghasilkan tiga kemungkinan yang masuk akal ketimbang satu kemungkinan bahwa cairan tersebut merupakan darah milik Yesus. Ternyata, Pisau Ockham lebih cepat memberikan hasil dibandingkan "penelitian" yang dilakukan oleh pihak yang meneliti cairan di ukiran wajah Yesus. Namun demikian, langkah yang dilakukan otoritas Katolik di Argentina dengan mengirimkan sampel cairan tersebut untuk dianalisis secara ilmiah perlu dihargai. Dan sikap yang seharusnya diambil oleh warga Katolik terhadap fenomena tersebut adalah menunda "kesimpulan iman" mereka dengan menunggu hasil penelitian yang sedang dilakukan.

Jumat, 09 April 2010

Kritisisme & Skeptisisme


Tanggapan yang selalu saya terima dari orang-orang setelah mereka mengetahui dan menyadari bahwa saya adalah seorang yang kritis maka mereka menyematkan kepada saya beberapa “gelar” seperti: tukang protes, cerewet, sok cermat, dan tidak praktis. Beberapa “gelar terhomat” juga dialamatkan kepada saya setiap kali setelah orang mengetahui dan menyadari jika saya adalah orang skeptis, seperti: tidak mau percaya, memperumit hal yang sebenarnya sederhana, dan banyak tanya. “Gelar-gelar terhormat” tersebut tidak sepenuhnya salah dan tidak juga tidak sepenuhnya benar. Oleh karena itu, diperlukan keterangan atau penjelasan di sana-sini.

Mengenai “gelar” tukang protes sebenarnya tidaklah begitu salah karena sejauh yang saya sadari diri saya memang cukup banyak melakukan protes, tetapi dalam konteks jika pandangan atau argumen seseorang tidak sejalan dengan bukti yang ada dan tidak didukung oleh akal sehat. Namun memang harus diakui bahwa frasa “tukang protes” mengandung makna yang kurang baik karena sepertinya menuduh bahwa orang yang dicap tersebut dianggap sebagai orang yang tidak pernah setuju dengan pandangan orang lain padahal sebenarnya tidaklah demikian. Artinya, saya protes jika argumen atau pandangan seseorang tidak sesuai dengan bukti dan akal sehat saya.

“Gelar” sok cermat yang seringkali dialamatkan kepada saya juga perlu diperjelas karena nuansanya cenderung negatif. Bagi saya, jika seseorang dikatakan sok cermat artinya orang itu sesungguhnya tidaklah mampu berpikir cermat, tetapi mengklaim telah berpikir secara cermat. Oleh karena itu, jika istilah “sok cermat” tersebut dialamatkan kepada saya, maka penjelasannya menjadi demikian: Saya bukanlah seseorang yang “sok cermat” dalam pengertian sempit dan negatif seperti di atas melainkan seseorang yang selalu berusah berpikir cermat dengan mendasarkan cara berpikir pada bukti, logika, dan akal sehat.

Penjelasan mengenai cara berpikir saya itu membuat saya dijuluki sebagai orang yang tidak praktis. Saya menyadari dan mengakui bahwa dalam beberapa hal saya bukanlah orang yang praktis khususnya jika berkaitan dengan cara berpikir, baik diri sendiri maupun orang lain. Saya cenderung tidak bisa dan tidak mau menerima penjelasan-penjelasan atau argumen-argumen sederhana/praktis mengenai hal-hal yang bagi saya rumit. Bagi saya banyak hal yang terjadi di sekitar kita tidak bisa dijelaskan atau dijawab secara sederhana. Adagium yang pernah saya dengar dan baca mengenai hal ini adalah: Untuk setiap hal rumit yang dijelaskan secara sederhana, maka penjelasan itu salah. Ini tidak berarti bahwa hal-hal yang rumit harus dijelaskan secara rumit melainkan hal-hal yang rumit haruslah dijelaskan dengan menggunakan beberapa hal yang sudah saya utarakan di atas sehingga hal-hal rumit tersebut bisa dipahami secara jelas. Orang seringkali mencampuradukkan antara penjelasan yang tidak sederhana dan bahasa/kata-kata sulit. Yang seharusnya dicapai oleh seseorang adalah penjelasan yang tidak menyederhanakan masalah sekaligus menghindari penggunaan bahasa/kata-kata yang sulit agar setiap orang bisa memahami permasalahan yang ada tanpa menyederhanakan masalah dan penjelasannya.

Mengenai “gelar-gelar terhormat” dalam kaitannya dengan skeptisisme yang saya miliki, maka sesungguhnya saya bukanlah seseorang yang tidak mau percaya melainkan seseorang yang tidak mudah percaya pada pernyataan atau informasi yang diberikan orang lain. Oleh karena itu, saya membutuhkan berbagai bukti yang relevan sebelum saya mempercayai suatu hal. Saya berusaha tidak terburu-buru dalam memberikan keputusan atau penilaian terhadap sesuatu sebelum saya memperoleh berbagai bukti relevan yang didukung oleh akal sehat saya. Dengan demikian, saya bukanlah seorang yang tidak mau percaya, tetapi tidak mudah percaya, baik terhadap otoritas maupun prasangka-prasangka saya. Saya selalu menguji berbagai informasi, argumen, dan prasangka terhadap bukti-bukti, pengetahuan yang saya miliki, dan akal sehat saya. Dan pengujian itu saya lakukan tanpa henti dan tanpa standar ganda.

Sedangkan “gelar” terakhir, yakni banyak tanya tidak sepenuhnya saya tolak karena saya akui memang banyak bertanya. Namun hal itu saya lakukan demi memperoleh data, penjelasan/keterangan, dan definisi yang jelas supaya dalam menilai sesuatu diperoleh bukti yang relevan. Sesungguhnya “banyak tanya” bukanlah sesuatu yang negatif asalkan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan sesuai dengan hal yang sedang dibahas/dibicarakan. Pertanyaan yang diajukan secara tepat dan cermat merupakan langkah awal yang sangat penting dalam upaya seseorang menggali, mencari, menemukan, memahami, dan menjelaskan sesuatu yang telah membuatnya mempertanyakan hal tersebut.

Dengan demikian, bagi saya, kritisisme dan skeptisisme adalah dua hal yang saling terkait dan tidak bisa dilepaskan. Menurut saya, skeptisisme adalah aplikasi dari cara berpikir kritis yang berupaya memahami, menjelaskan, dan menilai berbagai klaim, informasi, dan pandangan. Kritisisme digunakan untuk menilai apakah sesuatu itu benar atau salah. Jadi, kritisisme dan skeptisisme adalah dua hal yang positif, berguna, dan tidak berbahaya. Dua hal tersebut "berbahaya" buat mereka yang tidak bisa atau tidak mau berbeda pendapat dan hidup dalam fundamentalisme.

Berikut adalah ciri orang yang berpikir kritis menurut pandangan saya:

  • Selalu berupaya memahami, menjelaskan, dan menilai berbagai klaim, informasi, dan pandangan menggunakan berbagai bukti yang disandarkan pada akal sehat.
  • Mengandalkan dan menggunakan pengetahuan yang ada.
  • Mengawasi emosi dan berbagai prasangka.
  • Mampu mengenali berbagai kesalahan berpikir (logika), baik dalam argumen orang lain maupun argumen sendiri.
  • Mampu menggunakan Pisau Occam (Ockham) secara tepat.

Rabu, 24 Maret 2010

Bangkit dari Kematian


Di bawah ini adalah berita yang saya baca dari detikcom, Rabu 24 Maret 2010, yang bertajuk: "Hi..Usai Diselamati 100 Hari, Seorang Wanita Hidup Lagi". Berikut beritanya:


Warga Desa Jorongan RT 5 RW 6 Blok Krajan Polotan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo geger. Pasalnya, seorang wanita bernama Nur Syamsiah (23), yang dikabarkan meninggal, ternyata hidup lagi.


Perempuan yang sudah mempunyai satu orang anak itu menghilang dari rumahnya selama 2,5 tahun. "Dia menghilang selama 2,5 tahun," ujar paman Nur Syamsiah, Iksan Halami saat ditemui wartawan di rumahnya, Rabu (24/3/2010).


Menghilangnya Nur Syamsiah selama 2,5 tahun itu, membuat keluarganya memastikan jika dia sudah meninggal. Bahkan, keluarganya sempat membuat selamatan laiknya selamatan orang meninggal biasanya. "Ya kita bikin selamatan 7 hari sampai 40 hari. Bahkan sampai seratus harinya," katanya.


Namun, tiba-tiba tanpa disangka, Nur Syamsiah, muncul di tengah keluarganya. Munculnya perempuan itu membuat seluruh keluarganya kaget bukan kepalang. "Semua keluarga kaget, ketika dia tiba-tiba pulang. Padahal, semua keluarga sudah memastikan dia meninggal, karena sudah 2,5 tahun menghilang," tambah Iksan Halami menceritakan.


Iksan Halami menuturkan, sejak menghilangnya keponakannya itu, pihak keluarga sudah mencarinya kemana-mana. Bahkan, juga sampai meminta petunjuk kepada orang pintar untuk mencari keberadaan Nur Syamsiah (penekanan ditambahkan).


Informasi yang dihimpun, menghilangnya perempuan itu diduga karena kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan oleh suaminya. Sehingga dia kemudian nekat menghilang dari keluarganya ke Negeri Jiran sampai dikabarkan telah meninggal (penekanan ditambahkan).

=============
Jika orang hanya membaca tajuk tulisan tersebut karena malas membaca beritanya secara keseluruhan, maka tidak pelak lagi orang akan menganggap bahwa ada seseorang yang betul-betul bisa hidup kembali walaupun telah dianggap meninggal oleh keluarganya. Khususnya, orang-orang yang senang dengan berita-berita yang fenomenal tanpa menerapkan sikap skeptis yang didasari oleh pemikiran yang kritis, akan serta-merta mempercayai tajuk tulisan tersebut tanpa terlebih dahulu membaca beritanya. Namun, setelah orang membaca berita tersebut sampai kalimat terakhir maka akan ditemukan bahwa sesungguhnya (diduga kuat) perempuan dalam cerita tersebut tidaklah meninggal seperti yang diduga sebelumnya, tetapi kabur ke tempat lain akibat kekerasan yang dilakukan suaminya.

Adagium Pisau Ockham mengatakan: "jangan mengemukakan suatu hal baru yang tidak masuk akal padahal ada beberapa (begitu banyak) hal masuk akal lainnya yang bisa menjelaskan masalah atau fenomena yang terjadi". Jika berita di atas dibedah menggunakan Pisau Ockham, maka Pisau Ockham akan memisahkan hal-hal yang tidak masuk akal dari yang masuk akal. Pisau Ockham akan lebih mengutamakan aspek-aspek masuk akal yang bisa menimpa perempuan tersebut, seperti: dibunuh oleh suaminya karena ternyata suaminya telah sekian lama melakukan kekerasan terhadapnya atau melarikan diri ke tempat lain. Dan ternyata memang, aspek kedualah yang terjadi.

Hal menarik berikut yang ditemukan dalam berita tersebut adalah pengakuan pihak keluarga yang telah meminta bantuan "orang pintar" (dalam bahasa Inggris disebut psychic) atau cenayang untuk menemukan perempuan tersebut. Namun kenyataannya, "orang pintar" tidak cukup sakti memberikan informasi mengenai keberadaan perempuan malang tersebut. Bahkan saya menduga kuat jika "vonis" meninggalnya perempuan tersebut didorong atau didukung oleh terawangan "orang pintar" yang telah dimintai tolong oleh pihak keluarga perempuan itu. Ternyata "orang pintar" tidaklah pintar seperti yang selama ini didengung-dengungkan banyak orang karena "orang pintar" ternyata hanyalah manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan istimewa atau kehebatan seperti yang selama ini dibangga-banggakan banyak orang.

Baiklah jika setiap informasi, berita, pengalaman, bahkan pikiran, termasuk pikiran sendiri selalu dievaluasi sehingga orang tidak terkecoh oleh berbagai hal yang terjadi di sekitarnya, bahkan yang dialaminya. Sesungguhnya berpikir kritis dan bersikap skeptis tidaklah menyakitkan dan bukanlah sesuatu yang tidak mungkin dilakukan, tetapi langkah awal yang diperlukan adalah kemauan seseorang untuk mau melakukannya. Jadi, orang yang selalu penasaran, kritis, dan skeptis tidak akan puas hanya dengan membaca judul tulisan ini melainkan akan membaca seluruh tulisan ini sampai kalimat yang terakhir ini.

Sabtu, 23 Januari 2010

Pisau Ockham

Para skeptik seringkali menyebut Pisau Ockham (Ockham's Razor). Pisau Ockham digunakan untuk memilih salah satu dari berbagai pilihan penjelasan mengenai suatu hal, khususnya ketika belum ada pilihan yang telah dibuktikan kebenarannya atau belum dibuktikan ketidakbenarannya. Pisau Ockham akan menolong orang dengan menuntunnya pada satu pilihan yang lebih jelas dan nyata. dibandingkan pilihan (-pilihan) lainnya. Oleh karena itu, apakah Pisau Ockham itu?

Istilah "Pisau Ockham" berasal dari seorang filsuf Inggris di abad Pertengahan yang bernama William dari Ockham (1285-1349). Secara sederhana Pisau Ockham mengatakan, "keragaman seharusnya tidak diangkat/dikemukakan jika tidak diperlukan". Ketika pernyataan ini diterapkan dalam konteks masa kini, maka menjadi, "jangan membuat hal yang tidak perlu untuk menjelaskan sesuatu".

Demi mempermudah maka perlu digunakan contoh. Seumpama saya memiliki seekor anjing. Pada suatu malam saya meninggalkan satu mangkok susu di atas wastafel, kemudian pada pagi hari saya menemukan mangkok yang tadinya berisi susu itu telah kosong. Yang tinggal di rumah itu hanya saya dan seekor anjing. Tidak ditemukan bukti sekecil apapun bahwa ketika saya tidur ada orang ataupun kucing yang masuk ke dalam rumah. Rumah itu juga bersih dari tikus.

Mengenai hal tersebut setidaknya ada dua kemungkinan yang bisa diangkat:

1. Pada malam hari ketika saya tidur anjing saya telah meminum habis susu di mangkok itu
atau
2. Pada malam hari ketika saya tidur bergentayangan peri susu di rumah saya dan karena haus ia meminum habis susu di mangkok itu.

Apa yang terjadi pada susu di mangkok itu? Siapa yang telah meminumnya? Ataukah siapa yang telah mencuri susu di mangkok itu?

Jika pertanyaan-pertanyaan tadi dijawab menggunakan Pisau Ockham, maka pilihan nomor dua tidak akan menjadi jawabannya. Mengapa? Jika pilihan nomor dua yang menjadi jawabannya, maka orang yang memilih nomor dua pertama-tama harus bisa membuktikan bahwa memang ada makhluk yang disebut peri susu itu. Kedua, jika peri susu adalah makhluk yang tidak beraga alias roh, maka harus bisa dibuktikan bagaimana bisa sesuatu tidak beraga mampu menyentuh bahkan menghabiskan semangkok susu. Ketiga, jika memang ada makhluk yang disebut peri susu, dari mana ia berasal? Apakah dari luar rumah? Atau?

Bagaimana dengan anjing di rumah saya? Apakah ia bisa dibuktikan telah meminum habis susu itu? Bagaimana membuktikan bahwa anjing itu telah meminum habis susu itu karena tidak seorang pun yang melihat! Tidak ada bukti jika anjing itu telah meminum susu di mangkok. Dengan demikian, orang tidak dapat membuktikan bahwa susu di mangkok telah diminum oleh seekor anjing, dan tidak dapat dibuktikan juga bahwa tidak ada peri susu yang telah meminum susu itu. Jika demikian, apa yang bisa dikatakan mengenai raibnya susu di mangkok itu?

Mari kembali pada apa yang dikatakan Pisau Ockham. Bagaimana Pisau Ockham dapat menjawab kasus di atas. Terhadap dua pilihan yang ada, maka orang harus memperlakukan kedua pilihan tadi dengan seimbang. Artinya, kedua pilihan itu sama-sama dilihat memiliki kemungkinan. Namun, tidak berhenti hanya pada kemungkinan yang ada, melainkan pilihan mana yang memiliki kemungkinan yang lebih kuat atau paling kuat di antara keduanya. Satu hal yang pasti dan jelas ada seekor anjing di rumah. Sementara itu, sama sekali tidak pasti dan tidak jelas apakah ada makhluk yang disebut peri susu itu. Pisau Ockham bekerja bukan untuk memberikan jawaban yang pasti terhadap suatu hal melainkan mengarahkan pada salah satu pilihan yang lebih jelas dan nyata. Memang, tidak dapat dibuktikan bahwa anjing telah meminum susu di mangkok itu, tetapi yang jelas dan nyata bahwa ada anjing di rumah itu. Bagaimana dengan kemungkinan adanya peri susu? Apakah peri susu adalah sesuatu yang jelas dan nyata? Jika orang ngotot mengatakan bahwa peri susu-lah yang telah meminum susu di mangkok itu, maka sekarang menjadi "beban" dan "tugas" orang itu yang harus menjawab dan membuktikan ketiga hal yang menjadi pertanyaan di atas.

Pisau Ockham dapat diterapkan dalam hal apapun. Hal yang harus ditekankan dan diingat adalah bahwa Pisau Ockham tidak bekerja untuk mencari dan menemukan jawaban yang paling tepat, tetapi mengarahkan pada pilihan yang lebih jelas dan nyata. Pisau Ockham bekerja untuk memisahkan antara bukti-bukti yang jelas dan nyata dan bukti-bukti yang tidak jelas dan tidak nyata. Pisau Ockham bekerja demi mengarahkan pada pilihan yang paling jelas dan nyata sampai ditemukan bukti-bukti baru yang lebih jelas dan nyata dari bukti-bukti sebelumnya. Tanpa adanya bukti-bukti yang jelas dan nyata, maka seseorang mudah terjebak dengan mempercayai sesuatu seperti mempercayai adanya peri susu yang telah meminum habis susu di mangkok tadi.