Minggu, 31 Januari 2010

Kritis terhadap Pemikiran Sendiri: Suatu Pengantar

Setiap manusia berpikir, entah ia seorang pemimpin perusahaan, pekerja/karyawan, seniman, olahragawan, pengamen, pengangguran, atau pedagang. Di mana pun manusia berada ia berpikir. Oleh karena itu, manusia seringkali disebut sebagai makhluk yang berpikir. Namun, tidak semua manusia menggunakan pikirannya dengan baik, tetapi hanya segelintir orang yang berpikir secara baik. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa sebagian besar orang tidak menggunakan pikirannya dengan baik. Apapun pekerjaan atau jabatan seseorang, jika ia menggunakan pikirannya dengan baik, maka hasilnya akan baik. Namun sebaliknya, jika seseorang tidak menggunakan pikirannya dengan baik, maka hasilnya akan tidak baik, apapun pekerjaan atau jabatan orang itu.

Berpikir kritis adalah sebuah seni berpikir yang mendorong dan membawa orang untuk menggunakan daya pikirnya dengan sebaik mungkin dalam segala situasi yang dihadapi seseorang. Dan tujuan utama berpikir adalah untuk menilai dan menjelaskan berbagai informasi di sekitar kita. Setiap orang memiliki berbagai pilihan yang harus dinilai, dijelaskan, dan diambil. Oleh karena itu, setiap orang membutuhkan informasi-informasi yang terbaik sebelum mengambil sebuah keputusan yang cermat dan terbaik.

Berikut adalah beberapa contoh pertanyaan yang perlu dikemukakan seseorang ketika berupaya menilai dan menjelaskan informasi yang diperolehnya atau situasi yang terjadi di sekitarnya:
1. Apakah yang sebenarnya sedang terjadi?
2. Mengapa hal itu terjadi?
3. Apakah benar yang dikatakan orang itu?
4. Apakah tepat jika saya akan melakukan hal itu?
5. Apakah dampaknya jika saya melakukan hal itu, baik bagi orang lain maupun diri sendiri?
6. Apakah yang harus saya lakukan?
7. Bagaimana cara terbaik untuk mengatasi masalah itu?
8. Apakah hal itu merupakan masalah terbesar atau lebih baik saya berfokus pada masalah yang lebih penting?

Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas sesungguhnya selalu muncul dalam benak setiap orang walaupun tidak selalu disadari penuh oleh semua orang. Oleh karena itu, agar setiap orang menyadari penuh terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti itu, maka orang harus mempelajari bagaimana menggunakan pikirannya dengan baik. Hal ini dilakukan supaya orang mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritisnya dengan pertama-tama kritis terhadap pikirannya sendiri. Dan untuk bisa menjadi seseorang yang kritis terhadap pikirannya, maka orang tersebut harus rela menggunakan waktunya untuk terus belajar mempertajam pikirannya dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang tepat dan relevan mengenai semua hal atau situasi yang dihadapinya.

Harus diakui bahwa hanya sedikit orang yang mau menggunakan pikirannya dengan baik melalui berpikir secara kritis karena hal tersebut cukup menguras tenaga dan waktu seseorang. Keterampilan berpikir kritis tidak dapat dicapai dalam waktu singkat. Berpikir kritis memerlukan komitmen, kerja keras, ketekunan, dan latihan yang tiada henti. Upaya mempelajari dan meningkatkan ketajaman berpikir dapat dianalogikan/disejajarkan dengan upaya seorang atlit yang terus berlatih demi memperoleh hasil yang terus membaik. Upaya untuk mempelajari dan selalu meningkatkan kemampuan berpikir kritis bukanlah suatu aktivitas yang mudah dan menyenangkan, tetapi tidak jarang sulit dan kurang menyenangkan sekaligus menantang. Upaya intelektualitas yang membutuhkan kesabaran tinggi. Namun ketika seseorang mampu menggunakan pikirannya dengan baik melalu berpikir kritis, maka ia dapat menyaring semua informasi yang ada di sekitarnya, menilai dan menjelaskan berbagai data, pendapat, argumen, dan kesimpulan orang lain, serta terhindar dari manipulasi, penipuan, eksploitasi, pembohan, dan penyesatan.

Tulisan berikutnya akan mengangkat hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana mempelajari seni berpikir kritis dalam kaitannya dengan kritis terhadap pikiran sendiri. Hal-hal tersebut akan dijelaskan dalam beberapa tulisan ke depan.

Sabtu, 30 Januari 2010

Delusinasi

Delusi adalah "kepercayaan salah" yang dianut atau dipeluk atau diyakini seseorang walaupun kenyataan berbicara sebaliknya. Dan orang yang meyakini kepercayaan yang salah tersebut artinya mengalami delusinasi. Delusinasi tidak ada kaitannya dengan kerusakan jaringan syaraf otak seseorang yang mengalaminya. Seseorang yang mengalami delusinasi adalah seseorang yang sangat mempercayai sesuatu sampai-sampai kepercayaannya akan sesuatu itu tidak dapat diganggu-gugat apalagi diubah walaupun berbagai bukti bertolak belakang dengan kepercayaannya itu.

Beberapa contoh:

1. Seseorang yang mempercayai bahwa bumi adalah pusat tata surya, padahal kenyataannya matahari adalah pusat tata surya.

2. Seseorang yang tidak percaya bahwa bentuk bumi bulat dan menganggap bahwa bumi datar sehingga di ujung cakrawala terdapat jurang.

3. Seseorang yang mempercayai bahwa surga terletak di langit/awan dan neraka di bawah bumi.

4. Seseorang yang mempercayai adanya malaikat-malaikat yang melindungi kehidupannya.

5. Seseorang yang mempercayai bahwa dirinya adalah "titisan ilahi" yang diutus ke dunia ini untuk membawa manusia bertobat.

6. Seseorang yang mempercayai bahwa Tuhan telah berbicara kepadanya mengenai kapan tepatnya dunia akan kiamat.

Seseorang yang mengalami delusinasi tidak lagi memperhitungkan/mempertimbangkan akal sehat melainkan hanya mendasarkan berbagai kepercayaannya pada emosinya. Orang tersebut tidak akan menguji dan menganalisis kepercayaan yang dianut dan diyakininya karena baginya hal itu sudah mutlak benar. Ia tidak mendasarkan kepercayaan yang dianutnya pada bukti-bukti nyata melainkan pada pewahyuan yang dianggapnya telah diterima langsung dari yang ilahi. Atau, orang tersebut hanya mendasari kepercayaannya pada cerita-cerita lama tanpa sama sekali mempedulikan bukti-bukti terkini dan ilmu pengetahuan masa kini.

Sekali lagi harus ditekankan dan diingat, delusi sama sekali tidak ada kaitannya dengan gangguan atau kerusakan jaringan syaraf otak orang yang mengalaminya. Orang yang mengalami delusinasi sangat yakin bahwa kepercayaan yang dianutnya merupakan suatu kebenaran yang mutlak. Oleh karena itu, ia tidak membutuhkan bukti-bukti nyata apalagi menguji kepercayaannya tersebut.

Jumat, 29 Januari 2010

Berpikir Kritis = Berpikir Cermat

Jika orang hendak berpikir kritis, maka sesungguhnya ia ingin menggunakan pikirannya secara cermat. Seperti dikemukakan dalam beberapa tulisan sebelumnya, berpikir kritis dapat menghindarkan orang dari manipulasi, penipuan, pembodohan, kesesatan, pengambilan keputusan yang keliru, namun sebaliknya dapat membuat orang terlibat dalam perziarahan kemanusiaan yang nyata, hidup dalam dunia nyata masa kini, bahkan menemukan dan menjelaskan kebenaran-kebenaran dalam kehidupannya. Tulisan kali ini hanya bermanfaat bagi orang-orang yang mau berpikir kritis karena berpikir kritis adalah upaya berpikir secara cermat.

Membaca adalah langkah awal yang baik jika orang hendak berpikir kritis. Namun hal itu tidaklah cukup. Oleh karena itu, langkah berikut yang harus dilakukan orang yang mau berpikir kritis adalah memutuskan berpikir kritis. Banyak orang membaca, entah koran, tabloid, majalah, novel, cerpen, tulisan-tulisan mengenai gaya hidup, perbintangan, gosip, maupun kitab suci. Namun, tidak semua orang melakukan pembacaan secara kritis terhadap semua hal yang dibacanya karena sangat mungkin mereka beranggapan bahwa hal tersebut buang-buang waktu dan tenaga sehingga hal itu (pembacaan kritis) merupakan sesuatu yang percuma. Atau, orang tidak pernah mengetahui apalagi memahami bahwa perlu dilakukan pembacaan yang kritis terhadap banyak (jika tidak semua) bacaannya. Atau, orang beranggapan bahwa ia sudah melakukan pembacaan yang kritis. Jadi, seseorang yang mau berpikir kritis harus memutuskan bahwa dirinya mau berpikir secara kritis demi memperoleh kebenaran-kebenaran dalam hidup ini.

Hal berikut yang harus dilakukan orang yang mau berpikir kritis adalah belajar bagaimana berpikir kritis. Berpikir kritis bukanlah suatu hal yang biasa dilakukan kebanyakan orang. Berpikir kritis bukanlah tren yang berkembang dalam masyarakat. Berpikir kritis dihindari sebagian besar orang karena dianggap melelahkan dan sia-sia (tidak bermanfaat). Sebaliknya, berpikir kritis memang membutuhkan waktu dan pengetahuan yang cukup. Berpikir kritis membutuhkan seperangkat teknik dasar (telah dikemukakan dalam tulisan yang lalu). Berpikir kritis adalah keterampilan yang harus dipelajari dan bukan sesuatu yang jatuh dari langit atau diperoleh secara tiba-tiba. Jadi, berpikir kritis adalah keterampilan yang bisa dan harus dipelajari orang jika hendak memiliki kemampuan berpikir kritis.

Hal berikut yang harus dilakukan orang yang mau berpikir kritis adalah berpikir kritis setiap saat. Berpikir kritis adalah suatu keterampilan yang seperti keterampilan-keterampilan lainnya (memasak, memainkan piano, berhitung atau melukis) yang harus dipraktikkan sesering/sebanyak mungkin demi meningkatkan dan mempertajam kemampuan berpikir orang yang mempraktikkannya. Ketika berpikir kritis telah menjadi kebiasaan dan bagian dari kehidupan seseorang, maka orang itu dengan mudah menemukan dan menjelaskan berbagai kelemahan atau kesalahan yang terjadi di sekitarnya. Oleh karena itu, berpikir kritis adalah keterampilan yang harus terus dilatih dengan cara melakukannya setiap saat. Dengan demikian, berpikir kritis adalah keterampilan berpikir cermat demi menemukan kebenaran-kebenaran dalam hidup ini sekaligus menghindarkan orang dari manipulasi, penipuan, eksploitasi, pembodohan, dan kesesatan.

Kamis, 28 Januari 2010

Manfaat Berpikir Kritis

Beberapa hari lalu telah dibahas mengenai teknik-teknik dasar yang perlu dimiliki seseorang yang mengklaim diri sebagai orang yang kritis. Dalam tulisan kali ini akan dikemukakan beberapa manfaat berpikir kritis bagi orang yang selalu peduli terhadap kebenaran dalam hidupnya. Dengan berpikir kritis maka seseorang:

1. Terhindar dari berbagai upaya penipuan, manipulasi, pembodohan, dan penyesatan.

2. Selalu fokus pada suatu hal yang sebenarnya.

3. Hidup dalam dunia nyata daripada dunia fantasi.

4. Terhindar dari berbagai kesalahan, seperti membuang waktu, uang, dan melibatkan emosi dalam kepercayaan atau ajaran atau dogma atau ideologi yang salah dan menyesatkan.

5. Selalu terlibat dalam perziarahan kemanusiaan yang menarik dan menantang dalam upaya memahami diri sendiri dan dunia di mana kita berada.

6. Selalu mampu memberikan sumbangsih kemanusiaan yang nyata dan bermanfaat demi menemukan dan mengedepankan kebenaran yang didasarkan pada ilmu pengetahuan dan akal sehat.

7. Mampu menyaring semua informasi yang diperoleh dari semua sumber.

8. Mampu memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dalam hal menjelaskan dan berargumentasi mengenai banyak topik/fenomena serta mampu meyakinkan orang lain yang didasarkan pada akal sehat, kejujuran, dan kebijaksanaan.

Selasa, 26 Januari 2010

Argumen Induktif

Tulisan kali ini akan membahas secara sederhana argumen induktif untuk melengkapi pembahasan mengenai argumen deduktif yang telah dibahas dalam tulisan sebelumnya.

Sebuah argumen induktif tidak membangun kesimpulan (-kesimpulannya) atas dasar kepastian melainkan premis-premis yang dibuatnya melahirkan kesimpulan yang sangat mungkin. Sebuah argumen induktif tidak berbicara mengenai kesahihan atau ketidaksahihan kesimpulan (-kesimpulannya) melainkan, apakah kesimpulan tersebut lemah atau kuat, baik atau tidak baik. Meskipun jika premis-premis yang dibuatnya benar dan memiliki dasar yang sangat kuat bagi kesimpulan, namun kesimpulan tersebut tidaklah pasti. Sebuah argumen induktif yang paling kuat tidaklah semeyakinkan atau menentukan seperti sebuah argumen deduktif yang masuk akal. Berikut adalah contoh yang sederhana:

1. Sebagian besar orang Kristen merayakan Natal dan pergi ke gereja setiap hari Minggu.

2. Budi adalah orang Kristen.

3. Dengan demikian, Budi merayakan Natal dan pergi ke gereja setiap hari Minggu.

Di atas adalah contoh sebuah argumen induktif yang cukup baik karena, anggap saja, premis-premisnya benar. Dengan demikian, kesimpulannya cenderung benar daripada salah. Namun, sekarang kita perhatikan contoh berikut:

* Budi adalah anggota Gereja Advent.

Sementara kita ketahui bahwa:

* Anggota Gereja Advent tidak merayakan Natal dan tidak pergi ke gereja pada hari Minggu.

Setelah memperhatikan contoh di atas, maka argumen induktif sangatlah lemah karena berdasarkan contoh di atas, sangat mungkin Budi tidak merayakan Natal dan pergi ke gereja pada hari Minggu.


Kesahihan dan Kebenaran

Ketika berbicara argumen deduktif dan induktif, maka sesungguhnya orang sedang membicarakan kesahihan atau ketidaksahihan dan kebenaran atau ketidakbenaran sebuah argumen. Ketidaksahihan sebuah argumen hanya memiliki kombinasi premis-premis yang benar atau salah dan kesimpulan (-kesimpulan) benar atau salah. Sebuah argumen yang sahih juga bisa memiliki semua kombinasi tersebut, tetapi tidak bisa memiliki premis-premis yang salah sekaligus sebuah kesimpulan yang salah.

Dengan demikian, sebuah proposisi (premis-premis dan kesimpulan-kesimpulan) bisa benar atau salah. Namun sebuah argumen tidak demikian. Adalah tugas ilmu pengetahuan dan filsafat untuk menentukan, apakah premis-premis sebuah argumen itu benar atau salah, sementara tujuan logika untuk menentukan, apakah sebuah argumen deduktif itu sahih atau tidak sahih, dan apakah, sebuah argumen induktif itu kuat atau lemah.

Argumen Deduktif

Ada dua macam argumen yang orang selalu kemukakan, entah disadari maupun tidak disadari.

1. Argumen deduktif : premis-premis yang dikemukakan dalam argumen ini melahirkan kesimpulan yang pasti.

2. Argumen induktif : premis-premis yang dikemukakan dalam argumen ini hanya melahirkan kesimpulan yang sangat mungkin.

Dalam tulisan ini akan dijelaskan secara sederhana mengenai argumen deduktif.


Jika premis-premisnya benar dan berhasil menghasilkan kesimpulan yang pasti, maka argumen tersebut sahih. Namun jika premis-premisnya benar tetapi gagal menghasilkan kesimpulan yang pasti, maka argumen tersebut tidak sahih. Berikut contohnya:

1. Semua mamalia memiliki paru-paru.

2. Semua paus adalah mamalia.

3. Dengan demikian, semua paus memiliki paru-paru.

Argumen di atas adalah argumen deduktif yang sahih karena kesimpulan yang mengikutinya memiliki kepastian jika premis-premis yang mendahuluinya benar. Dengan demikian, dalam argumen deduktif tidak mungkin premis-premis yang dibuat benar, tetapi kesimpulannya salah.

Perhatikan contoh berikut:

1. Semua binatang berkaki delapan memiliki sayap.

2. Laba-laba adalah binatang berkaki delapan.

3. Dengan demikian, laba-laba memiliki sayap.

Argumen di atas adalah benar karena jika premis-premisnya benar, maka seharusnya kesimpulannya juga benar. Namun masalahnya di sini adalah bukan karena argumen di atas tidak sahih melainkan premis-premisnya yang salah.

Sekarang perhatikan sebuah argumen yang memiki premis-premis yang benar dan sebuah kesimpulan benar yang tidak sahih:

1. Jika saya memiliki semua emas di Freeport, saya adalah orang kaya.

2. Saya tidak memiliki semua emas di Freeport.

3. Dengan demikian, saya bukan orang kaya.

Kedua premis di atas benar, tetapi kesimpulan yang mengikutinya tidak memiliki kepastian . Mengapa demikian? Karena ada banyak cara lain yang dapat dilakukan untuk menjadi orang kaya tanpa memiliki semua emas di Freeport.

Sebuah argumen deduktif yang sahih dengan premis-premis yang benar adalah sebuah argumen yang masuk akal. Argumen yang masuk akal seringkali disebut orang sebagai "bukti", tetapi istilah ini juga bisa menyesatkan. Jika premis-premisnya sangat pasti, maka sebuah argumen yang masuk akal tentu melahirkan/memberikan bukti, seperti contoh berikut:

1. Semua bujang tidak/belum menikah.

2. Semua bujang adalah laki-laki.

3. Dengan demikian, semua bujang adalah laki-laki yang tidak/belum menikah.

Premis-premis yang yang diungkapkan di atas adalah pasti karena benar secara definisi/pengertian, dan argumen yang dikemukakan masuk akal, jadi kesimpulannya merupakan bukti. Namun, perhatikan contoh berikut:

1. Semua bujang tidak/belum menikah.

2. Budi adalah seorang bujang.

3. Dengan demikian, Budi tidak/belum menikah.

Contoh di atas juga merupakan sebuah argumen yang masuk akal (sebuah argumen yang sahih disertai premis-premis yang benar), tetapi kesimpulannya bukanlah bukti. Mengapa demikian? Karena premis kedua merupakan klaim empiris mengenai keberadaan sesuatu, bukan semata-mata sebuah pernyataan mengenai makna dari istilah yang digunakan. Oleh karena itu, kekeliruan mungkin saja terjadi. Misalnya, mungkin saja ketika sedang berpesiar ke Las Vegas dalam keadaan mabuk Budi menikahi seorang penghibur dan tidak ingat dengan peristiwa tersebut.

Inti argumen deduktif adalah selalu menguji dan meneliti, apakah premis-premis dalam argumen ini benar atau salah, atau sangat mungkin atau sangat tidak mungkin, dan bukannya, apakah argumen tersebut sahih atau tidak sahih. Dengan demikian, bahkan sebuah argumen deduktif tidak menawarkan 100% bukti jika salah satu premis membuat sebuah klaim mengenai keberadaan sesuatu. Harus diakui bahwa cara kerja argumen deduktif cukup sulit dipahami. Oleh karena itu, diperlukan waktu yang cukup untuk mempelajari cara kerja argumen ini.

Argumen

Tulisan ini berupaya menjelaskan pengertian "argumen" dalam bahasa yang sangat sederhana, tanpa menyederhanakan makna mengenai "argumen" itu sendiri.

Sebuah argumen menyajikan premis-premis (pernyataan dasar) yang seharusnya mendukung atau menjadi dasar sebuah kesimpulan. Berikut adalah contohnya:

1. Semua manusia akan mati.

2. Sokrates adalah manusia.

3. Dengan demikian, Sokrates akan mati.

Dua kalimat pertama (no. 1 dan 2) adalah premis sedangkan kalimat no. 3 adalah kesimpulannya. Ini adalah sebuah argumen deduktif yang sahih. Artinya, jika seseorang setuju dengan premis-premis yang ada, maka orang tersebut harus menerima kesimpulan yang berdasar pada pada premis-premis tersebut. Namun, tidak semua argumen disajikan dalam bentuk yang jelas disertai beberapa premis dan sebuah kesimpulan. Terkadang sebuah argumen berasal dari beberapa halaman buku dan terdiri dari premis-premis yang tersebar di berbagai tempat. Ada kalanya sebuah argumen disajikan dalam sebuah kalimat pendek, seperti berikut:


"Archimedes akan dikenang sementara Aeschylus dilupakan orang karena bahasa mati namun ide-ide matematika terus hidup"

Kalimat di atas adalah sebuah argumen. Oleh karena itu, untuk menganalisisnya orang terlebih dahulu harus menguraikan kalimat itu, seperti berikut:

1. Bahasa mati.

2. Karya Aeschylus termasuk ke dalam kategori bahasa.

3. Dengan demikian, karya Aeschylus suatu saat akan mati.

4. Ide-ide matematika tidak akan mati.

5. Karya Archimedes termasuk ke dalam kategori matematika.

6. Jadi, karya Archimedes tidak akan mati.

7. Jika demikian, karya Archimedes akan hidup lebih lama daripada karya Aeschylus.

8. Berdasarkan hal tersebut, Archimedes akan dikenang sementara Aeschylus akan dilupakan orang.

Namun, itu semua tidak membuat argumen di atas serta-merta sahih. Untuk membuatnya sahih maka dibutuhkan beberapa premis tambahan. Bukan hanya itu, orang dapat mengajukan pertanyaan (-pertanyaan) mengenai kebenaran yang terdapat dalam beberapa premis tersebut.

Orang akan menemukan argumen dalam keseharian hidupnya, bahkan dalam hal-hal yang sangat sederhana. Jadi, argumen biasa dan bisa digunakan setiap orang untuk mendukung atau menolak pandangan orang lain.

Senin, 25 Januari 2010

Logika

Logika adalah suatu upaya berpikir secara cermat dan tepat mengenai berbagai argumen yang hendak dikemukakan seseorang. Logika juga dapat digunakan untuk menganalisis atau menguji argumen (-argumen) orang lain. Tujuan atau sasaran logika adalah sebisa mungkin menempatkan cara berpikir seseorang ke dalam sebuah struktur formal yang dinamakan argumen. Dengan pertolongan dan didasarkan pada logika, maka seseorang dapat menilai apakah argumen orang lain (bahkan dirinya sendiri) termasuk ke dalam kategori argumen yang baik atau argumen yang tidak baik.

Dalam pengertian tertentu, logika seperti matematika. Dalam perhitungan matematika dan logika adalah hal yang mungkin bagi seseorang untuk membuktikan ketepatan suatu hal secara 100%, namun tidak demikian halnya dalam bidang sains. Secara sederhana saya berpendapat bahwa matematika dan logika memiliki dasar yang sama, yakni sebuah struktur yang ditemukan, dipilih, dan digunakan manusia sebagai dasar bersama. Contoh sangat sederhana mengenai matematika dan logika adalah, jika saya menyebut "3", ini berarti pada saat bersamaan saya tidak bermaksud menyebut "4". Dan "3" ini disepakati oleh manusia lainnya bukan sebagai "4". Sangat sederhana, bukan!

Berikut ini adalah tiga aturan dasar logika yang disepakati oleh manusia:


1. Hukum Identitas: a sama dengan a pada saat dan cara yang sama. Dengan demikian, Sokrates adalah Sokrates.
2. Hukum Non-Kontradiksi: Jika a benar, maka bukan a tidak dapat benar pada saat dan cara yang sama. Dengan demikian, jika pernyataan "Sokrates hidup" adalah benar, maka pernyataan "Sokrates tidak hidup" tidak dapat benar pada saat dan cara yang sama.
3. Hukum Menyingkirkan yang di Tengah: Salah satu, entah a atau bukan a harus benar. Tidak ada di antaranya. Jika pernyataan "Sokrates tidak hidup" adalah salah, maka pernyataan "Sokrates hidup" haruslah benar.

Setelah melihat tiga aturan dasar logika di atas mungkin ada orang yang berkomentar, "ah, terlalu sederhana!" atau "terlalu menyederhanakan logika" atau "tiga aturan dasar logika di atas dikatakan benar hanya bergantung maksud setiap orang ketika menggunakan kata-kata tersebut". Artinya, setiap orang memiliki definisi tertentu mengenai kata-kata yang digunakannya. Untuk menanggapi tanggapan-tanggapan di atas, maka untuk no. (1) dan (2) sesungguhnya tiga aturan dasar logika yang diungkapkan di atas tidaklah menyederhanakan apalagi meremehkan logika. Sebaliknya, tiga dasar logika tersebut sengaja ditampilkan secara sederhana agar setiap orang mampu memahami cara kerja logika tanpa ketakutan akibat telah menganggapnya seperti perhitungan matematika (seperti saya ungkapkan di atas bahwa cara kerja dasar logika sangat mirip dengan matematika). Untuk menanggapi komentar no. (3), jika seseorang tidak setuju dengan cara kerja salah satu dari ketiga aturan dasar logika di atas, maka sesungguhnya yang terjadi bahwa ia menggunakan kata-kata yang sama tetapi dalam cara yang berbeda dari kebanyakan orang lainnya.

Seperti telah diungkapkan di atas bahwa tujuan dan sasaran logika adalah sebisa mungkin menempatkan cara berpikir seseorang ke dalam sebuah struktur formal yang dinamakan argumen. Dengan bantuan dan berdasarkan logika-lah maka seseorang dapat menilai apakah argumen orang lain (bahkan dirinya sendiri) merupakan argumen yang baik atau argumen yang tidak baik. Apakah yang dimaksud dengan argumen? Di tulisan berikutnya akan dibahas mengenai argumen.

Minggu, 24 Januari 2010

Jalan Menuju Kebenaran

Setiap orang selalu mencari dan berusaha menemukan kebenaran dalam hidup ini, entah kebenaran dalam agama, kebenaran dalam ilmu pengetahuan, kebenaran dalam menjalin hubungan dengan sesama, maupun kebenaran dalam pekerjaan. Oleh karena itu, setiap orang menempuh cara dan jalannya masing-masing demi tiba pada kebenaran itu. Sebagian besar orang menggunakan pengalaman hidupnya atau perasaannya atau kesaksian dari orang lain (khususnya otoritas tertentu), bahkan juga kombinasi dari ketiga cara tersebut untuk sampai pada kebenaran yang dirindukannya. Cara-cara seperti bisa saja menolong orang untuk menemukan kebenaran, tetapi hanya terbatas pada hubungan dengan sesama ataupun dalam pekerjaan. Namun, cara-cara itu pun tidaklah pasti serta-merta dapat diterapkan seperti jika dialami oleh orang lain. Terlebih, cara-cara seperti itu sama sekali tidak dapat diandalkan jika orang hendak menemukan kebenaran di segala hal dalam kehidupan ini.

Sejarah telah mencatat dan menyaksikan bagaimana sebagian besar orang telah salah mengenai begitu banyak hal. Salah mengenai makhluk halus (roh). Salah mengenai obat-obatan. Salah mengenai kesehatan. Salah mengenai alam. Salah mengenai teori politik. Salah mengenai ekonomi. Salah mengenai psikologi. Salah mengenai lawan jenis. Salah mengenai jagat raya. Bahkan salah mengenai sejarah. Kebanyakan orang telah salah memahami sebagian besar hal yang terjadi di sekitar dirinya termasuk hidupnya sendiri.

Mengapa terjadi hal demikian? Karena sebagian besar orang telah menggunakan alat yang salah setiap kali hendak menemukan kebenaran yang dirindukannya. "Perasaan" manusia bukanlah alat yang tepat untuk menemukan dan memahami kebenaran. Itu sama saja dengan persoalan matematika yang hendak dijawab menggunakan jantung anda. Intinya, demi menjawab dan menjelaskan suatu hal, maka diperlukan alat yang tepat supaya tidak tersesat atau bahkan ngawur.

Pengalaman hidup pribadi seseorang juga tidak dapat digunakan sebagai alat untuk menemukan dan memahami kebenaran. Banyak orang memiliki pengalaman yang sama mengenai banyak hal, tetapi mereka memberikan kesan dan tanggapan yang saling berbeda. Pengalaman seseorang lebih banyak berbicara dalam dan dari konteks sejarah, kepercayaan, perasaan, dan sudut pandang orang tersebut daripada berbicara mengenai kebenaran yang "terjadi di konteks yang lebih luas", yakni dunia ini.

Kesaksian atau pernyataan atau pandangan orang lain pun tidaklah lebih baik dibandingkan perasaan dan pengalaman pribadi. Artinya, kesaksian yang berasal dari orang lain bukanlah cara yang tepat dalam upaya seseorang menemukan dan memahami kebenaran dalam konteks yang lebih luas. Masalah pertama adalah bahwa banyak orang tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai suatu. hal Namun, kekurangan dan kelemahan tersebut tidak urung membuat orang tersebut terus berbicara layaknya seseorang yang telah mengetahui dan memahami dengan benar suatu hal tersebut. Ditambah, orang yang tidak kritis menerima dan mempercayai pandangan orang tersebut. Harus selalu disadari dan diingat bahwa setiap orang memiliki prasangka-prasangka walaupun dalam tingkatan yang beragam. Inilah mengapa seharusnya orang juga tidak tergesa-gesa menerima dan mempercayai pandangan otoritas-otoritas yang ada, seperti orangtua/keluarga, guru, pemuka agama, dan buku/informasi yang ada. Masalah kedua adalah setiap orang memiliki tujuan atau agenda yang hendak dicapainya. Oleh karena itu, bisa saja manusia mencoba menipu atau memanipulasi atau mengeksploitasi sesamanya demi mencapai agendanya tersebut (misalnya untuk memperkaya diri), yang semuanya berakibat pada kebodohan bagi orang yang mengalami penipuan.

Oleh karena itu, jelas, pengalaman pribadi, "perasaan", dan kesaksian atau pernyataan orang lain bukanlah cara yang tepat untuk menemukan dan memahami kebenaran yang ada dalam dunia bahkan jagat raya ini. Ketiga cara tersebut sangat rentan membuat manusia tersesat atau tidak menyadari jika hal yang selama ini dipercayainya ternyata tidak benar. Dengan demikian, orang (tentu yang peduli dengan hal kebenaran ini) memerlukan cara yang tepat, cara yang benar demi menemukan dan memahami kebenaran dalam jagat raya, khususnya dunia ini. Cara itu disebut logika. Dengan menggunakan logika orang mampu menyaring berbagai hal yang diterimanya, baik melalui penglihatan dan pendengaran maupun pengalamannya demi sebelum tiba sampai pada kesimpulan bahwa hal-hal tersebut benar atau salah. Apakah logika itu? Akan dijelaskan dalam tulisan berikutnya.

Sabtu, 23 Januari 2010

Pisau Ockham

Para skeptik seringkali menyebut Pisau Ockham (Ockham's Razor). Pisau Ockham digunakan untuk memilih salah satu dari berbagai pilihan penjelasan mengenai suatu hal, khususnya ketika belum ada pilihan yang telah dibuktikan kebenarannya atau belum dibuktikan ketidakbenarannya. Pisau Ockham akan menolong orang dengan menuntunnya pada satu pilihan yang lebih jelas dan nyata. dibandingkan pilihan (-pilihan) lainnya. Oleh karena itu, apakah Pisau Ockham itu?

Istilah "Pisau Ockham" berasal dari seorang filsuf Inggris di abad Pertengahan yang bernama William dari Ockham (1285-1349). Secara sederhana Pisau Ockham mengatakan, "keragaman seharusnya tidak diangkat/dikemukakan jika tidak diperlukan". Ketika pernyataan ini diterapkan dalam konteks masa kini, maka menjadi, "jangan membuat hal yang tidak perlu untuk menjelaskan sesuatu".

Demi mempermudah maka perlu digunakan contoh. Seumpama saya memiliki seekor anjing. Pada suatu malam saya meninggalkan satu mangkok susu di atas wastafel, kemudian pada pagi hari saya menemukan mangkok yang tadinya berisi susu itu telah kosong. Yang tinggal di rumah itu hanya saya dan seekor anjing. Tidak ditemukan bukti sekecil apapun bahwa ketika saya tidur ada orang ataupun kucing yang masuk ke dalam rumah. Rumah itu juga bersih dari tikus.

Mengenai hal tersebut setidaknya ada dua kemungkinan yang bisa diangkat:

1. Pada malam hari ketika saya tidur anjing saya telah meminum habis susu di mangkok itu
atau
2. Pada malam hari ketika saya tidur bergentayangan peri susu di rumah saya dan karena haus ia meminum habis susu di mangkok itu.

Apa yang terjadi pada susu di mangkok itu? Siapa yang telah meminumnya? Ataukah siapa yang telah mencuri susu di mangkok itu?

Jika pertanyaan-pertanyaan tadi dijawab menggunakan Pisau Ockham, maka pilihan nomor dua tidak akan menjadi jawabannya. Mengapa? Jika pilihan nomor dua yang menjadi jawabannya, maka orang yang memilih nomor dua pertama-tama harus bisa membuktikan bahwa memang ada makhluk yang disebut peri susu itu. Kedua, jika peri susu adalah makhluk yang tidak beraga alias roh, maka harus bisa dibuktikan bagaimana bisa sesuatu tidak beraga mampu menyentuh bahkan menghabiskan semangkok susu. Ketiga, jika memang ada makhluk yang disebut peri susu, dari mana ia berasal? Apakah dari luar rumah? Atau?

Bagaimana dengan anjing di rumah saya? Apakah ia bisa dibuktikan telah meminum habis susu itu? Bagaimana membuktikan bahwa anjing itu telah meminum habis susu itu karena tidak seorang pun yang melihat! Tidak ada bukti jika anjing itu telah meminum susu di mangkok. Dengan demikian, orang tidak dapat membuktikan bahwa susu di mangkok telah diminum oleh seekor anjing, dan tidak dapat dibuktikan juga bahwa tidak ada peri susu yang telah meminum susu itu. Jika demikian, apa yang bisa dikatakan mengenai raibnya susu di mangkok itu?

Mari kembali pada apa yang dikatakan Pisau Ockham. Bagaimana Pisau Ockham dapat menjawab kasus di atas. Terhadap dua pilihan yang ada, maka orang harus memperlakukan kedua pilihan tadi dengan seimbang. Artinya, kedua pilihan itu sama-sama dilihat memiliki kemungkinan. Namun, tidak berhenti hanya pada kemungkinan yang ada, melainkan pilihan mana yang memiliki kemungkinan yang lebih kuat atau paling kuat di antara keduanya. Satu hal yang pasti dan jelas ada seekor anjing di rumah. Sementara itu, sama sekali tidak pasti dan tidak jelas apakah ada makhluk yang disebut peri susu itu. Pisau Ockham bekerja bukan untuk memberikan jawaban yang pasti terhadap suatu hal melainkan mengarahkan pada salah satu pilihan yang lebih jelas dan nyata. Memang, tidak dapat dibuktikan bahwa anjing telah meminum susu di mangkok itu, tetapi yang jelas dan nyata bahwa ada anjing di rumah itu. Bagaimana dengan kemungkinan adanya peri susu? Apakah peri susu adalah sesuatu yang jelas dan nyata? Jika orang ngotot mengatakan bahwa peri susu-lah yang telah meminum susu di mangkok itu, maka sekarang menjadi "beban" dan "tugas" orang itu yang harus menjawab dan membuktikan ketiga hal yang menjadi pertanyaan di atas.

Pisau Ockham dapat diterapkan dalam hal apapun. Hal yang harus ditekankan dan diingat adalah bahwa Pisau Ockham tidak bekerja untuk mencari dan menemukan jawaban yang paling tepat, tetapi mengarahkan pada pilihan yang lebih jelas dan nyata. Pisau Ockham bekerja untuk memisahkan antara bukti-bukti yang jelas dan nyata dan bukti-bukti yang tidak jelas dan tidak nyata. Pisau Ockham bekerja demi mengarahkan pada pilihan yang paling jelas dan nyata sampai ditemukan bukti-bukti baru yang lebih jelas dan nyata dari bukti-bukti sebelumnya. Tanpa adanya bukti-bukti yang jelas dan nyata, maka seseorang mudah terjebak dengan mempercayai sesuatu seperti mempercayai adanya peri susu yang telah meminum habis susu di mangkok tadi.

Kamis, 21 Januari 2010

Makna & Nilai

Berpikir kritis pada dasarnya merupakan suatu cara untuk menilai atau menguji atau mengevaluasi setiap klaim/pandangan/argumen yang berasal dari orang lain dan diri sendiri. Dua pertanyaan dasar yang berkaitan dengan hal tersebut adalah:
1. Apakah yang Anda katakan?
2. Mengapa Anda berpikir hal tersebut (klaim/pandangan/klaim) benar?

Pertanyaan pertama adalah mengenai makna. Yang harus dilakukan orang sebelum menilai atau menguji sebuah klaim/pandangan/argumen adalah memastikan bahwa hal tersebut telah disampaikan dengan jelas/jernih. Oleh karena itu, seorang yang kritis akan seringkali bertanya hal-hal, seperti: "Apakah yang Anda maksud dengan ...... ?" atau "Apa arti kata tersebut?" atau "Bisakah Anda menjelaskannya dengan lebih spesifik?" atau "Dapatkah Anda memberikan sebuah/beberapa contoh untuk memperjelas apa yang Anda maksudkan?"

Sementara itu, pertanyaan kedua adalah mengenai nilai. Setelah orang memahami dengan jelas klaim/pandangan/argumen orang lain, maka dengan berbagai "alat" berpikir kritis orang tersebut mulai dapat, entah menerima atau menolak atau menunda penilaiannya terhadap hal tersebut.

Dengan kata lain, berpikir kritis dapat dicirikan oleh adanya berbagai pertanyaan, seperti: apa yang Anda maksud? Bagaimana hal tersebut berkaitan dengan hal lainnya? Apa argumen Anda untuk mendukung pandangan tersebut? Mengapa Anda yakin bahwa pandangan tersebut benar? Apa buktinya sehingga Anda bisa sampai pada kesimpulan tersebut? Artinya, seorang kritis juga memiliki sikap skeptis terhadap segala hal. Ia tidak langsung menerima dan mempercayai pandangan/klaim orang lain walaupun hal tersebut dikatakan oleh otoritas tertentu atau didukung oleh suara terbanyak atau opini publik. Sebaliknya, seorang skeptis selalu mencari berbagai bukti dan membangun berbagai argumen yang didasarkan pada akal sehat dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya demi memperoleh kebenaran.

Seorang yang berpikir kritis selalu menyadari kelemahan dan kekurangan dirinya. Oleh karena itu, selain kritis terhadap pandangan/klaim orang lain, seorang kritis juga kritis terhadap pandangan/klaim yang berasal dari dirinya sendiri. Ia selalu berupaya mengenali dan menyadari berbagai prasangka yang berasal dari dirinya. Dengan menyadari semuanya itu maka seorang yang kritis selalu membuka pikirannya terhadap pandangan-pandangan orang lain. Hal penting dan yang juga selalu harus ditekankan adalah bahwa seorang yang berpikir kritis adalah seseorang yang mencintai kebenaran. Ia selalu kritis terhadap berbagai hal, baik yang menurut orang lain kecil (remeh-temeh) maupun besar. Ia lebih mengutamakan kebenaran dibandingkan kebanyakan orang. Hal ini ditunjukkan dengan upayanya untuk senantiasa memperluas, memperlebar, dan mempertajam kemampuan berpikir kritisnya. Seorang yang berpikir kritis adalah seseorang selalu ingin tahu dan penuh dengan pertanyaan karena ia ingin mengetahui kebenaran.

Seorang yang berpikir kritis adalah seseorang yang selalu berupaya adil. Artinya, selalu menyadari dan mengenali berbagai prasangka yang berasal dari dirinya sendiri. Ia tidak membiarkan emosi dirinya menekan dan menguasai akal sehatnya untuk berpikir kritis. Ia terbuka terhadap semua pandangan dan tidak enggan untuk menerapkan tolok ukur dan proses yang sama terhadap semua hal. Oleh karena ia adalah orang yang mencintai kebenaran, maka ia akan terus mencari demi menemukan kebenaran. Dengan demikian, ia sangat menjunjung tinggi kejernihan semua hal dan sebaliknya membenci hal-hal yang tidak jelas, membingungkan, dan kebohongan.

Rabu, 20 Januari 2010

Melatih Berpikir Kritis

Berpikir kritis merupakan upaya untuk mengatasi bias-bias (prasangka-prasangka) yang kita miliki dengan hati-hati selalu menguji dan meneliti berbagai klaim, pengamatan, dan pengalaman yang dialami. Berpikir kritis merupakan keterampilan yang harus terus diasah demi memperoleh kejernihan, ketepatan, relevansi, kejujuran, dan pengertian.

Menurut saya ada beberapa teknik dasar yang harus selalu dilakukan orang jika mengklaim diri sebagai orang yang berpikir kritis:

1. Kejernihan.
Sampaikan masalah/pokok pikiran/pertanyaan satu per satu. Dukung pernyataan dengan memberikan beberapa contoh. Minta lawan bicara untuk menyampaikan pokok pikirannya dengan menggunakan contoh. Jika pokok pikiran yang sedang dibicarakan tidak jelas akibatnya percakapan/diskusi jadi ngawur atau kemana-mana.

2. Ketelitian/Kecermatan.
Selalu memeriksa/menguji pernyataan dengan fakta-fakta terkini.

3. Ketepatan.
Selalu hindari berbagai generalisasi, ungkapan, dan ambiguitas.

4. Relevansi.
Selalu mengaitkan semua pernyataan dengan topik utama pembahasan/diskusi/permasalahan. Semua hal yang disampaikan haruslah berhubungan dengan topik utama yang sedang dibicarakan.

5. Mengetahui Maksud yang Hendak Dicapai.
Hal apa yang hendak dicapai? Apakah hal yang terpenting dalam diskusi tersebut? Pisahkan maksud yang hendak dicapai daripada maksud-maksud lain.

6. Identifikasi Asumsi-asumsi yang Ada.
Semua pemikiran didasarkan pada asumsi-asumsi yang ada. Asumsi-asumsi yang dimiliki haruslah jelas, bukan asumsi orang lain melainkan asumsi yang berasal dari diri sendiri.

7. Cek Emosi.
Emosi atau subjektivitas akan mengaburkan bahkan merusak kritisisme. Selalu perhatikan dan awasi emosi karena akan mendorong upaya berpikir kritis seseorang ke arah yang tidak sehat.

8. Pengenalan.
Kenali dan selalu mencoba memahami pandangan dan argumen orang lain atau lawan bicara. Selalu mencoba memahami emosi dan pengalaman orang lain atau lawan bicara.

9. Kerendahan Hati.
Selalu rendah hati dengan menyadari kelemahan atau kekurangan diri sendiri. Oleh karena itu, selalu melatih diri dengan menyerap sebanyak mungkin pengetahuan yang ada alias tidak pernah berhenti belajar.

10. Independensi.
Selalu menguji dan meneliti semua hal yang dibaca, dilihat, didengar, dan dirasa. Jangan hanya mengikuti pandangan otoritas-otoritas atau pendapat orang lain tanpa mengujinya sama sekali.

11. Tidak Tergesa-gesa Membuat Kesimpulan
Berpikir kritis akan menghasilkan kesimpulan, dan bukan sebaliknya. Berpikir kritis bukanlah untuk mendukung kesimpulan. Gunakan cara/metode ilmu pengetahuan, yakni: perhatikan data kemudian mengujinya dengan pengamatan, pengalaman, argumen, dan ilmu pengetahuan yang didukung oleh penggunaan akal sehat. Semua hal itu dilakukan tiada henti alias terus berulang. Dengan demikian, seorang yang kritis tidak akan tergesa-gesa dalam membuat kesimpulan.

12. Berpikiran Terbuka.
Selalu berupaya untuk melihat permasalahan/topik utama dari berbagai/banyak sudut pandang, bukan hanya argumen-argumen yang mendukungnya melainkan juga argumen-argumen yang melawannya.

13. Mengenali dan Menyadari Latar Belakang Budaya.
Selalu mengenali dan menyadari bahwa orang lain sangat mungkin berpikir berbeda akibat latar belakang budaya yang berbeda dari kita. Oleh karena itu, yang harus selalu coba dijawab adalah pertanyaan, "mengapa pandangan saya lebih baik dari orang yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda?"

14. Bijak.
Selalu berupaya untuk bersikap bijak dengan menyadari keterbatasan diri sendiri. Gunakanlah kata-kata bijak, seperti: "saat ini saya belum mengetahui jawabannya, namun saya akan segera mencari penjelasan mengenai hal itu, dan ketika saya sudah memperolehnya, saya akan kembali kepada anda" atau " saya belum mempelajari hal tersebut, tolong berikan saya waktu untuk mempelajarinya terlebih dahulu".

Selasa, 19 Januari 2010

Mengapa Saya Berpikir Kritis?

* Dengan berpikir kritis pikiran saya yang tadinya sempit menjadi terbuka, dan yang sebelumnya sudah terbuka menjadi lebih terbuka.

 * Dengan berpikir kritis pikiran saya senantiasa dilatih untuk terus berpikir demi memperoleh pemahaman yang jernih terhadap semua hal.

* Dengan berpikir kritis saya selalu dibawa dan dituntun untuk terus mencari, menemukan, dan memahami kebenaran segala hal dengan menggunakan akal sehat dan ilmu pengetahuan yang sesuai/tepat.

* Dengan berpikir kritis saya selalu belajar untuk senantiasa jujur dan terbuka terhadap orang lain, terutama terhadap diri sendiri.

 * Dengan berpikir kritis saya dimampukan untuk melampaui rasa takut terhadap otoritas apapun dan siapapun.

 Mengapa sebagian besar orang tidak menggunakan pikirannya dengan kritis? Mengapa kebanyakan orang tidak menyukai kritik? Orang tidak menyukai kritik atau tidak suka dikritik karena sangat mungkin hal tersebut berkaitan dengan ego seseorang. Sangat mungkin orang merasa bahwa nilai kebenaran yang mereka pegang dan percayai selama ini adalah sesuatu yang mutlak, tidak dapat diganggu gugat lagi. Oleh karena itu, mereka merasa bahwa dirinya sedang terancam ketika nilai kebenarannya dikritik atau dipertanyakan oleh orang lain. Mereka merasa terancam dan takut ketika nilai kebenaran mereka dianggap salah oleh orang lain sehingga mereka mempertahankan diri.

 Sangat mungkin juga orang tidak nyaman terhadap kritik yang dialamatkan kepada dirinya karena hal tersebut dianggapnya bisa mengurangi pengaruh orang itu di dalam masyarakat atau kelompok tertentu. Orang yang selalu diklaim dan mengklaim diri benar cenderung enggan menerima kritik. Orang yang dianggap selalu melakukan kebenaran cenderung memiliki pengaruh yang kuat dalam masyarakat atau kelompok tertentu. Hal ini biasa dan sangat mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Anggota kelompok atau masyarakat tertentu cenderung mengikuti seorang pemimpin yang tidak memiliki rasa takut daripada seorang pemimpin tidak segan mengkritik dirinya dan terbuka menghadapi kritik orang lain atau anggota masyarakat/kelompoknya. Seorang politikus sulit atau bahkan tidak akan memiliki pengaruh dan pengikut jika ia sering mengkritik dirinya daripada mengkritik lawan politiknya.

 Saya cukup memahami jika sebagian besar orang tidak (mau) berpikir kritis. Saya cukup dapat menerima jika sebagian besar orang tidak nyaman jika dirinya dikritik. Namun, otak saya tidak bekerja seperti itu. Sebaliknya, saya selalu melatih otak saya untuk membuka diri terhadap berbagai kritik. Saya senantiasa melatih diri saya untuk tidak merasa terancam ketika orang lain mengkritik pemikiran, pandangan, atau argumen saya. Dengan berpikir kritis saya berharap untuk selalu terhindar dari delusinasi, fundamentalisme, manipulasi, penipuan, "kebutaan" dan "kesesatan" pikiran, serta kebodohan.

Senin, 18 Januari 2010

Deja Vu

Kata "Deja vu" berasal dari bahasa Perancis yang artinya "sudah melihat". Deja vu adalah perasaan aneh yang dialami seseorang setelah melihat sesuatu atau mengalami suatu peristiwa yang menurut orang itu pernah dilihat atau dialami sebelumnya, tetapi ia tidak ingat kapan tepatnya. Apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan deja vu? Apakah hal tersebut merupakan hal yang lumrah atau tidak lumrah?

Jika yang dimaksud adalah ingatan akan pengalaman mengenai suatu peristiwa, maka sangat mungkin deja vu terjadi karena ingatan/memori seseorang belum sepenuhnya mengingat peristiwa yang sebenarnya pernah dialami oleh orang itu. Maka yang terjadi sesungguhnya adalah bahwa peristiwa yang sedang dialami memicu ingatan orang tersebut terhadap berbagai kumpulan ingatan mengenai berbagai peristiwa yang pernah dialaminya. Oleh karena itu, pengalaman seperti itu tentu akan dirasakan aneh oleh orang yang mengalami hal tersebut karena ingatannya masih terfragmentasi (terpecah-pecah/terbagi-bagi) dan belum membentuk satu ingatan yang utuh mengenai satu peristiwa. Harus selalu diingat dan disadari bahwa otak manusia mengumpulkan dan menyimpan berbagai ingatan yang terdiri dari berbagai fragmen (bagian) dan setiap otak manusia memiliki perbedaan dalam berapa lama mampu menyatukan fragmen-fragmen itu sehingga menjadi satu ingatan yang utuh dan jelas.

 Dengan demikian, pengalaman deja vu menurut penjelasan di atas bukanlah hal yang aneh atau luar biasa karena yang sesungguhnya terjadi adalah bahwa orang tersebut memang sebelumnya pernah pergi ke tempat itu atau sebelumnya pernah mengalami hal yang sedang dialaminya sekarang. Oleh karena itu, yang dialaminya hanyalah bahwa ia lupa terhadap detail-detail pengalamannya itu karena sangat mungkin pada saat pertama itu ia tidak begitu memperhatikannya. Dan pengalaman yang dialami orang itu bukan hanya mengacu pada beberapa hari atau bulan yang telah berlalu, tetapi bisa juga dialami hanya beberapa menit, bahkan beberapa detik sebelumnya.

Deja vu tidak terbatas pada ingatan akan pengalaman tertentu, tetapi juga bisa karena melihat gambar-gambar atau mendengar cerita-cerita yang sangat jelas yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Pengalaman seperti itu mungkin merupakan bagian dari pengalaman masa kanak-kanak. Selain itu, deja vu juga mungkin terjadi karena dipicu oleh aktivitas jaringan tertentu dalam otak manusia yang sama sekali tidak berkaitan dengan pengalaman yang terjadi di masa lalu.

Hal unik mengenai deja vu ini sesungguhnya bukanlah terletak pada peristiwa yang terjadi di masa lampau melainkan peristiwa yang terjadi di masa kini. Merupakan hal yang lumrah terjadi jika orang lupa bertanya mengenai hal-hal, seperti: "apakah saya sudah pernah membaca buku ini?" dan "tempat ini kelihatannya tidak asing lagi, apakah saya pernah datang ke sini sebelumnya?" Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidaklah aneh melainkan wajar. Terlebih jika orang itu sudah berumur di atas 60 tahun, di mana ia sudah membaca sekian banyak buku. Atau, seseorang yang seringkali berpergian ke berbagai tempat. Bukanlah hal yang aneh jika seseorang lupa terhadap hal-hal tertentu. Dengan demikian, apa yang terjadi ketika seseorang mengalami deja vu adalah tidak lebih dari apa yang biasa disebut dengan lupa.

Minggu, 17 Januari 2010

Berpikir Terbuka

Orang seringkali berkata, "berpikirlah terbuka!" atau "bukalah pikiran anda!" atau "kamu harus membuka pikiranmu dan jangan menutup pikiranmu!" Kata-kata serupa juga seringkali dialamatkan kepada saya. Apakah yang dimaksud dengan berpikir terbuka atau membuka pikiran? Bukankah seorang skeptik seperti saya yang selalu mempertanyakan banyak hal sudah pasti juga berpikiran terbuka? Jadi, bukankah kata-kata itu sangatlah keliru jika dialamatkan kepada saya karena saya bukanlah seorang yang berpikir tertutup? Dan apakah yang dimaksud dengan berpikir terbuka itu?

Berpikir terbuka adalah aktivitas otak yang terbuka terhadap segala ide, pandangan, data, teori, dan kesimpulan. Lebih dari itu, berpikir terbuka berarti membuka pikiran terhadap kemungkinan bahwa suatu ide, pandangan, data, teori, dan kesimpulan bisa benar atau salah. Jika seseorang tidak dapat menerima kemungkinan bahwa suatu ide/pandangan/data/teori/kesimpulan salah, maka orang itu dapat dikatakan sebagai orang yang berpikir tertutup. Dampak seseorang yang menganggap atau mengklaim dirinya sebagai orang yang berpikir terbuka, maka ia harus meneliti/menganalisis/mengkaji semua ide/pandangan/data/teori/kesimpulan secara kritis dengan menggunakan akal sehat dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya sebelum menerima dan mempercayai suatu hal sebagai sesuatu yang benar. Artinya, seorang yang berpikir terbuka tidak akan menerima dan mempercayai suatu ide/pandangan/data/teori/kesimpulan jika tidak didukung oleh berbagai bukti dan argumen yang didukung oleh akal sehat. dan ilmu pengetahuan Jadi, seorang yang berpikir terbuka tidak akan serta-merta menerima dan mempercayai suatu ide/pandangan/data/teori/kesimpulan meskipun hal tersebut dikatakan oleh otoritas tertentu (orangtua/keluaga, orang yang lebih tua, guru, pemuka agama/masyarakat, buku/bacaan) tanpa mengujinya terlebih dahulu dengan menggunakan akal sehat dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Jika seseorang menerima dan mempercayai sesuatu tanpa mengujinya terlebih dahulu, maka ia bisa disebut sebagai orang yang tidak kritis. Jika seseorang menerima dan mempercayai sesuatu tanpa didukung oleh data, bukti, dan argumen yang kuat, maka orang itu dapat disebut sebagai orang yang mudah percaya. Kedua tipe orang seperti itulah yang cenderung mudah ditipu, dimanipulasi, dan disesatkan. Dan jika seseorang menerima dan mempercayai sesuatu padahal data, bukti, dan kenyataan bertolak belakang dengan apa yang dipercayainya, maka orang tersebut mengalami delusinasi.

Setiap orang memiliki kecenderungan untuk lebih menerima dan mempercayai otoritas tertentu atau opini publik atau bahkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, seorang ilmuwan bisa saja 'jatuh' ke dalam pikirannya yang tertutup karena menganggap diri sudah benar dengan pengetahuan yang mumpuni. Seorang yang kritis atau skeptis tentu sangat mungkin, tanpa disadarinya, memiliki pikiran yang tertutup. Tidak ada seorang pun yang dapat serta-merta dinyatakan sebagai seorang yang berpikir terbuka, apapun pekerjaan, kekuasaan, kedudukan, karakter, ataupun label/cap yang selama ini dikenakan pada orang itu.

Dengan demikian, apakah saya termasuk orang yang berpikir terbuka atau tertutup? Sejauh yang saya sadari, maka saya termasuk orang yang berpikir terbuka karena saya selalu menyadari bahwa dalam dunia ini setidaknya selalu ada dua kemungkinan, entah benar atau salah. Saya sadar penuh bahwa teori, kesimpulan, dan argumen saya tentu saja bisa salah. Oleh karena itu, saya selalu menguji pandangan-pandangan saya sendiri dengan menggunakan akal sehat dan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Dan jika pandangan saya terbukti salah, maka dengan kesadaran penuh itu pulalah saya tidak ragu untuk mengakui dan mengoreksinya. Semua ini merupakan proses yang tiada akhir. Artinya, saya terus menguji berbagai pandangan, kesimpulan, dan argumen saya sendiri. Dengan didasarkan pada penjelasan di atas, maka saya dapat mengatakan bahwa saya adalah seorang skeptik sekaligus seorang yang selalu berpikir terbuka.

Seorang Sinik atau Skeptik?

Cukup lama saya dengan bangga menyatakan diri sebagai seorang sinik (bahasa Inggris: cynic), yakni seorang yang selalu berpikir dan bersikap meragukan segala hal. Cukup lama juga saya berpikir bahwa kata 'sinis' dan 'skeptis' memiliki pengertian yang sama. Hal ini didukung oleh penjelasan menurut Oxford Advanced Learner's Dictionary: International Student's Edition (seventh edition, 2006). Apakah kata 'sinis' dan 'skeptis' memang memiliki pengertian yang sama? Selain itu, cukup lama saya menyatakan diri sebagai orang yang suka meruntuhkan/menghancurkan pendapat orang lain. Apakah seorang sinik suka meruntuhkan/menghancurkan pendapat orang lain? Dalam tulisan ini saya akan menjelaskan siapakah sesungguhnya diri saya, apakah seorang sinik atau skeptik. Apakah saya memang suka meruntuhkan/menghancurkan pendapat orang lain? Atau?

Setelah memikirkan terus pengertian sinis dan skeptis dalam kaitannya dengan diri saya, maka saya menganggap bahwa yang lebih tepat adalah sinis karena pengertian sinis cenderung negatif. Oleh karena itu, saya menganggap diri sebagai seorang skeptik karena saya selalu mempertanyakan banyak hal. Bagi saya, mempertanyakan banyak hal, bahkan segala hal merupakan sesuatu yang lumrah. Sebagian besar orang memiliki kemampuan untuk mempertanyakan berbagai hal di sekitarnya untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Anak-anak juga mempertanyakan berbagai hal di sekitarnya. Namun harus diperhatikan, anak-anak memperoleh pengertian dan pengetahuan mengenai berbagai pertanyaannya dari orangtua dan orang-orang yang lebih tua. Dengan demikian, yang menjadi penekanan mengenai berbagai pertanyaan yang diajukan oleh orang yang lebih dewasa adalah selalu menguji dan mempertanyakan kembali "jawaban" yang telah diterima. Inilah yang dinamakan dengan skeptisisme, yakni selalu mempertanyakan banyak hal, termasuk pendapat/pandangan yang dibuat oleh diri sendiri.

Apakah skeptisisme hanya dilakukan dan diperuntukkan oleh para ilmuwan? Sama sekali tidak. Setiap orang dapat menjadi seorang yang skeptis, mempertanyakan banyak hal. Bahkan pada dasarnya, sifat dasariah manusia adalah mempertanyakan berbagai hal. Skeptisisme merupakan hal yang sangat baik bagi setiap orang karena dengan melakukan hal itu, seseorang mampu membedakan banyak hal, seperti baik - tidak baik, benar - tidak benar, nyata - tidak nyata. Skeptisisme dapat membuat orang selalu sadar akan banyak hal termasuk dirinya sendiri. Skeptisisme dapat menghindarkan orang dari manipulasi, penipuan, pembodohan, opini publik yang menyesatkan, eksploitasi, dan ketakutan, tetapi sebaliknya skeptisisme membuat orang selalu berpikir, mencari tahu kebenaran, dan mengedepankan argumen yang menggunakan akal sehatnya.

Bagi saya setidaknya ada tiga hal/karakter yang mencirikan diri saya yang sesungguhnya:


1. Berpikir. Artinya, saya selalu penggunaan akal sehat yang didasarkan pada berbagai data, teori, bukti, pengamatan, dan argumen daripada pendapat atau "perasaan" orang lain dan diri sendiri.


2. Bertanya. Artinya, saya selalu mempertanyakan suatu hal daripada langsung menerima dan mempercayai pandangan orang lain, sekalipun merupakan pandangan publik (banyak orang).


3. Berpikir terbuka. Artinya, saya selalu membuka pikiran terhadap berbagai hal baru. Ini sama sekali tidak berarti saya lebih mempercayai hal-hal baru dibandingkan yang lama karena tidak semua hal baru adalah benar. Sebagai contoh: banyak orang mempercayai New Age Movement sebagai sesuatu yang "baru" dan benar, padahal sebenarnya tidak karena sesungguhnya yang terjadi adalah manipulasi, penipuan, bahkan pembodohan yang menyesatkan.

Dengan demikian, saya sesungguhnya bukanlah seorang sinik melainkan seorang skeptik karena saya adalah seorang yang selalu mempertanyakan dan meragukan banyak hal yang terjadi di sekitar saya (dunia ini) demi memperoleh kebenaran, melalui berbagai data, teori, pengamatan, dan terlebih argumen yang mengedepankan penggunaan akal sehat dan ilmu pengetahuan.

Ilmu Pengetahuan & Skeptisisme

Ilmu pengetahuan merupakan cara berpikir dan bertindak tertentu yang bermanfaat untuk memahami berbagai pengetahuan yang diperoleh manusia, baik yang diterima secara langsung maupun tidak langsung (terjadi di masa lalu maupun masa kini). Hal-hal yang termasuk ke dalam cara berpikir manusia adalah semua hal mengenai dugaan, tebakan, ide, hipotesa, teori, dan paradigma. Sedangkan hal-hal yang termasuk ke dalam tindakan manusia adalah pengalaman, analisis statistik, penelitian lapangan, pengumpulan data, penemuan-penemuan, komunikasi dengan sesama, seminar (presentasi), dan tulisan-tulisan. Hal-hal yang termasuk ke dalam cara berpikir manusia disebut metode mental, sementara berbagai hal yang termasuk ke dalam tindakan manusia disebut metode sikap/kebiasaan.

Jika demikian, apa yang menjadi ciri khas ilmu pengetahuan? Metode apakah yang digunakan oleh dan dalam ilmu pengetahuan? Apakah metode ilmu pengetahuan itu? Ada begitu banyak tulisan yang membahas mengenai metode ilmu pengetahuan ini. Namun, kata sepakat mengenai hal tersebut sangat sulit dicapai, setidaknya para ahli berbicara mengenai hal yang saling berbeda. Artinya, para ahli mengemukakan pendapatnya masing-masing secara berlainan. Hal ini tidak berarti mereka tidak mengetahui apa yang dilakukannya. Antara "melakukan" dan "menjelaskan" terdapat perbedaan, walaupun rata-rata ahli menjalankan proses "melakukan" dan "menjelaskan" tersebut.

Setidaknya ada empat hal atau langkah yang dilakukan para peneliti (termasuk orang yang menyebut dirinya skeptik), yakni:

1. Melakukan observasi (pengamatan). Dalam tahap ini orang melakukan pengumpulan berbagai data menggunakan teknologi yang dimilikinya
2. Melakukan induksi. Dalam tahap ini orang menarik berbagai kesimpulan sementara yang diperoleh dari berbagai data yang telah dikumpulkannya pada tahap observasi. Pada tahap ini terbentuk hipotesis (tunggal) atau hipotesa (jamak).
3. Melakukan deduksi. Pada tahap ini orang membentuk teori (-teori) yang didasarkan pada berbagai kesimpulan yang diperoleh pada tahap induksi. Pada tahap ini hipotesis atau hipotesa melahirkan teori (-teori).
4. Melakukan verifikasi. Pada tahap ini teori (-teori) tadi diuji kesahihannya terhadap berbagai pengamatan yang terus dilakukan.
Keempat langkah/tahap di atas dapat disebut metode ilmu pengetahuan dan merupakan proses yang dilakukan secara berulang.

Hal yang selalu ditekankan dan diingat adalah, ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang selalu sama atau tidak pernah berubah atau kaku. Namun sebaliknya, ilmu pengetahuan tidak pernah "takut" atau tabu terhadap kata "perubahan". Ilmu pengetahuan akan berubah sejauh sesuai dengan data, bukti, dan argumen yang kuat. Artinya, semua data, teori, fakta, dan argumen berjalan sejajar alias tidak terjadi pertentangan di antara hal-hal tersebut. Oleh karena itu, melalui metode ilmu pengetahuan dengan sederhana kita dapat memperoleh tiga hal yang umum:

1. Hipotesis/hipotesa: pernyataan (-pernyataan) yang telah diuji kesahihannya melalui berbagai penelitian dan/atau pengamatan.
2. Teori: pernyataan (-pernyataan) yang telah diuji kesahihannya melalui berbagai penelitian dan/atau pengamatan.
3. Fakta: kesimpulan (-kesimpulan) yang menegaskan dan memperkuat data-data yang sudah ada/diperoleh.

Ilmu pengetahuan membawa, memimpin, dan menuntun manusia menuju akal sehat, akar dari metode ilmu pengetahuan. Contoh ilmu pengetahuan yang menjadi akar metode ilmu pengetahuan adalah berikut: bagaimana kita dapat mengatakan bahwa bumi ini bulat?

1. Bayangan yang terlihat di bulan bulat.
2. Ujung layar/tiang kapal laut yang sedang berlayar terlihat paling akhir sebelum hilang di ujung laut.
3. Cakrawala berbentuk lonjong atau setengah melingkar.
4. Hasil foto yang dilakukan dari luar angkasa/bumi.

Lebih lagi, ilmu pengetahuan dapat sangat membantu kita (bermanfaat) menghindari berbagai dogmatisme, seperti: menarik kesimpulan-kesimpulan yang hanya didasarkan pada otoritas tertentu (orangtua/keluarga, guru, pemuka/pemimpin agama, dan buku/bacaan). Tentu, pandangan otoritas itu patut, bukan sekadar diperhatikan melainkan diuji kebenarannya. Kesimpulan tidak diperoleh karena berdasarkan pendangan orang lain, tetapi berdasarkan data, teori, dan argumen yang didasarkan pada akal sehat manusia. Namun demikian, bukan dogmatisme itu sendiri yang harus digugat, dipertanyakan, dan dianggap sebagai suatu hal yang tidak sahih, tetapi yang lebih penting adalah mempertanyakan: bagaimana otoritas tertentu (seseorang) bisa sampai pada kesimpulannya? Apakah mereka menggunakan akal sehat atau hal (-hal) lainnya?

Jumat, 15 Januari 2010

Si Vis Pacem, Protege Creaturam

Si vis pacem, protege creaturam (bila mau damai, lindungilah ciptaan) merupakan kata-kata Paus Benediktus XIV yang dikutip oleh B. S. Mardiatmadja, SJ, seorang rohaniwan Katolik, dalam tulisannya berjudul "Ekodamai" yang dimuat di harian Kompas, Jumat, 15 Januari 2010 (hlm. 6).

Di awal tulisannya Mardiatmadja mengatakan, "film Avatar mungkin sarat dengan fiksi, tetapi nada-nada dasarnya seperti menggemakan film The Mission dan perjuangan kelompok orang di sejumlah bagian Papua sejak beberapa puluh tahun terakhir: konflik bersenjata yang dijiwai oleh kekerasan ideologis. (Sekelompok) orang dengan ideologi tertentu menggagahi orang (-orang) yang memiliki keyakinan lain. Tindakan menggagahi itu kerap dikemas dengan kosmetik modern, seperti demokrasi, kebebasan berpendapat, dan persaingan sah. Terjadilah apa yang dulu disebut "perang yang dapat dipertanggungjawabkan". Dapat ditekankan dalam pernyataan Mardiatmadja adalah mengenai ". . . ideologi tertentu menggagahi orang (-orang) yang memiliki keyakinan lain (penekanan saya). Bukankah dengan demikian dapat dikatakan bahwa penggagahan yang dilakukan sekelompok orang terhadap masyarakat Papua ataupun masyarakat lainnya akibat masyarakat yang digagahi itu memiliki keyakinan yang berbeda dari pihak yang menggagahi? Dengan berdasar pada pernyataan Mardiatmadja di atas, maka dapat dikatakan bahwa penindasan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap kelompok (masyarakat) lainnya akibat adanya perbedaan keyakinan (agama/ideologi) di antara kedua kelompok tersebut. Kelompok yang merasa superior menganggap bahwa kelompok yang berbeda keyakinannya dengan mereka adalah kelompok yang perlu ditaklukkan (ditobatkan) dengan didasarkan pada klaim bahwa hanya merekalah yang benar, sedangkan kelompok lainnya salah. Jadi sesungguhnya, perang terjadi akibat adanya perbedaan keyakinan di antara bangsa-bangsa.

Mardiatmadja juga mengatakan mengenai "kosmetik modern", seperti demokrasi, kebebasan berpendapat, dan persaingan sah tanpa menjelaskan sama sekali apa yang dimaksudkannya dengan "kosmetik modern". Saya hanya akan menyoroti satu unsur "kosmetik modern" menurut Mardiatmadja, yakni "kebebasan berpendapat". Apa yang keliru dengan kebebasan berpendapat? Apakah manusia tidak memiliki kebebasan dalam mengutarakan berpendapat, berkespresi, bahkan berpikir? Apakah kebebasan berpendapat merupakan produk modern? Sama sekali tidak. Kebebasan berpendapat sudah dilakoni sejak zaman para filsuf Yunani klasik. Jika dikaitkan dengan agama, tentu, kebebasan berpendapat memperoleh tempat yang begitu sempit, kalau tidak mau sampai dikatakan tidak ada sama sekali kebebasan berpendapat dalam agama-agama. Mengapa dikatakan demikian? Karena agama, bagi para pemeluknya merupakan hal yang pasti, mutlak, absolut, normatif, dan tidak bisa berubah. Pendapat jemaat adalah pendapat Allah.

Dalam bagian berikutnya
Mardiatmadja mengutip seruan damai tradisional Paus di tanggal 1 Januari 2010 dengan mengatakan dalam tulisannya bahwa pelestarian ciptaan bukanlah sekadar alternatif; mencintai dan melestarikan ciptaan adalah suatu keharusan kalau kita mau damai. "Nyatanya, sejak akhir abad ke-20 banyak pertempuran mengambil berbagai dalih yang bunyinya saja demokratis, tetapi pada intinya dasar perang akhir-akhir ini adalah perebutan sumber alam untuk memeras madu alam: pemiskinan ciptaan". Lebih lanjut ia mengatakan, "[e]kologi mutlak agar dunia jadi oikos kita bersama, rumah kita bersama: damai di Bumi.

Mardiatmadja sama sekali tidak mendukung pernyataannya tersebut dengan contoh-contoh yang nyata, di mana kekerasan senjata (perang) terjadi akibat bangsa-bangsa yang memperebutkan sumber alam untuk memeras madu alam, yang mengakibatkan pemiskinan ciptaan. Kalaupun perang terjadi akibat bangsa-bangsa memperebutkan sumber alam itu pun bukan karena bangsa-bangsa itu hendak memeras madu alam, tetapi karena sumber alam sangatlah penting demi kemakmuran dan kekayaan bagi suatu bangsa. (Ingat: sejarah penjajahan Belanda ke Indonesia. Bangsa Belanda menjajah Indonesia bukan karena ingin memeras madu alam Indonesia, tetapi karena memang hendak memperkaya dirinya.) Sumber daya alam begitu penting bagi banyak bangsa di dunia. Namun tetap tidak dapat dipungkiri bahwa banyak peperangan terjadi akibat perebutan kekuasaan politik, wilayah, kekuatan (pengaruh), dan kebencian terhadap pihak-pihak tertentu (lawan politik dan suku tertentu).

Di bagian lain dalam tulisannya Mardiatmadja mengatakan, "[k]udusnya alam ciptaan tampak dalam pandangan banyak bangsa di mana pun. Tentu saja film Avatar menghidangkannya dengan kecanggihan elektronik dan koreografi baru serta nada-nada New Age. Namun, paparan Avatar sudah lama dapat kita temukan dalam Kisah Penciptaan; ketika kepada manusia diserahkan tidak hanya alam semesta untuk dipergunakan, tetapi juga untuk dipelihara" (penekanan saya). Kitab Kejadian 1:28 mengatakan, "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi" (penekanan saya). Dalam ayat tersebut yang berbicara dalam konteks kisah penciptaan - seperti dikatakan Mardiatmadja - tidak ditemukan kata "dipelihara" seperti yang ditulis Mardiatmadja. Sebaliknya, dalam kitab Kejadian ditulis "taklukkanlah" dan "berkuasalah". Manusia diperbolehkan, bahkan diperintahkan untuk menaklukkan dan menguasai alam semesta. Setelah membaca tulisan Mardiatmadja dan kitab Kejadian dalam konteks kisah penciptaan, maka jelas sekali, Mardiatmadja telah melakukan domestikasi terhadap ayat (kata-kata) dalam Alkitab.

Tema-tema ekologi, pelestarian alam, dan kedamaian manusia (dunia) yang diangkat Mardiatmadja sama sekali tidak didukung oleh argumen atau alasan yang kuat. Pertama, seperti tanpa disadarinya Mardiatmadja menulis bahwa perang terjadi akibat adanya sekelompok orang yang merasa superior akan keyakinan (agama/ideologi) yang dimilikinya sehingga mereka menjajah ("menggagahi" kata yang digunakan Mardiatmadja) kelompok yang berbeda keyakinannya dengan mereka. Kedua, Mardiatmadja mengatakan bahwa perang terjadi akibat bangsa-bangsa saling memperebutkan sumber alam untuk memeras alam yang mengakibatkan pemiskinan alam. Kalaupun bangsa-bangsa berperang untuk memperebutkan sumber alam, itu dilakukan bukannya untuk memeras alam melainkan karena dengan menguasai sumber alam, maka sebuah bangsa akan menjadi (lebih) kaya dan makmur. Dengan demikian jelas, penguasaan terhadap sumber alam akan memperkaya sebuah bangsa. Ketiga, Mardiatmadja mengatakan bahwa dalam kisah penciptaan manusia diberikan kuasa untuk memelihara alam. Namun setelah membaca kisah penciptaan Kristen, ternyata manusia tidak pernah diberikan kuasa untuk memelihara alam melainkan diperintahkan untuk menaklukkan dan menguasai alam. Jelas, pernyataan bahwa manusia diberikan kuasa untuk memelihara alam merupakan tafsiran Mardiatmadja yang sama sekali tidak didasarkan pada kisah penciptaan. Bahkan kisah penciptaan sama sekali berbicara hal yang bertolak belakang dari yang dikatakan Mardiatmadja. 


Dengan demikian, kisah penciptaan Kristen sama sekali tidak dapat digunakan sebagai dasar bagi manusia (dhi. orang beragama Kristen) untuk memelihara alam. Lebih dari itu, kisah penciptaan ini dapat menjadi batu sandungan atau bumerang bagi umat Kristen karena ternyata kitab sucinya tidak mendorong manusia untuk bertanggung jawab memelihara alam. Oleh karena itu, tidak perlu heran/kaget/aneh jika masih banyak orang Kristen enggan memelihara alam, wong kitab sucinya malah bilang hal yang sebaliknya, kok!

Kamis, 14 Januari 2010

Tiga Kategori Pertanyaan Kritis

Banyak orang beranggapan bahwa penilaian kritis hanya cukup didasarkan pada dua hal, yakni: fakta dan opini. Namun sesungguhnya ada satu penilaian kritis lainnya yang seringkali dilupakan orang. Penilaian kritis ini bukan hanya penting dan bermanfaat bagi orang lain, tetapi juga sangat penting dan bermanfaat bagi orang yang melakukannya. Penilaian kritis ini didasarkan pada alasan atau argumen yang kuat.

Kita dapat mengambil contoh dari dunia hukum/pengadilan, di mana seorang hakim dituntut mampu mengambil keputusan dengan tidak sekadar melakukan penilaian sederhana melainkan melakukan penilaian yang didasarkan pada berbagai alasan atau argumen yang relevan dengan bukti-bukti yang ada. Dengan demikian jelas, seorang hakim dituntut agar tidak mendasarkan berbagai penilaian dan keputusannya pada berbagai hal subjektif dan pendapat pribadinya. Singkat kata, penilaian yang didasarkan pada argumen atau alasan yang kuat melampaui fakta atau opini jika kedua hal (fakta dan opini) tersebut berdiri sendiri. Tentu, fakta-fakta yang ada biasa digunakan sebagai argumen atau alasan, tetapi argumen atau alasan yang baik/kuat lebih memiliki kekuatan dibandingkan sekadar pernyataan mengenai fakta-fakta. Lebih jauh dapat dikatakan bahwa sebuah posisi yang memiliki argumen atau alasan yang baik/kuat tidak cukup hanya disebut sebagai "opini". Memang harus diakui kadang kita mengatakan bahwa keputusan hakim sebagai sebuah "opini", namun seharusnya kita bukan hanya mengharapkan, melainkan menuntut bahwa opini tersebut telah didasarkan pada argumen atau alasan yang relevan dan kuat.

Untuk semakin memperjelas dan mempertajam penjelasan di atas maka berikut ini akan disajikan tiga jenis pertanyaan:

1. Apa penyebab utama anak malas belajar? Jawaban yang akan diberikan terhadap pertanyaan ini pasti berkaitan dengan fakta yang terjadi. Artinya, pertanyaan ini berkaitan dengan apa yang benar dan apa yang tidak benar berkaitan dengan penyebab utama kemalasan anak.

2. Bagaimana cara terbaik dalam menangani anak yang malas belajar? Jawaban yang akan diberikan terhadap pertanyaan ini berdasarkan pada alasan-alasan yang baik atau alasan-alasan yang tidak baik berkaitan dengan penanganan terhadap anak yang malas belajar.

3. Mana yang akan anda pilih, mendorong anak untuk giat belajar atau memukulinya? Jawaban yang akan diberikan terhadap pertanyaan ini pasti akan beragam karena berkaitan dengan perbedaan cara pandang yang dimiliki setiap orang.

Setelah membandingkan ketiga jenis pertanyaan di atas, maka jenis pertanyaan kedua termasuk ke dalam penilaian kritis yang harus didasarkan pada argumen atau alasan yang kuat. Untuk menjawab jenis pertanyaan kedua, maka kita harus terus melakukan berbagai tolok ukur, seperti: kejelasan, kedalaman, dan konsistensi jawaban terhadap pertanyaan.

Ketika sebuah pertanyaan membutuhkan jawaban mana yang lebih baik atau mana yang lebih tidak baik, tetapi jawaban-jawaban tersebut dianggap/diperlakukan semata-mata sebagai opini, maka pada saat itulah orang keliru karena menganggap bahwa "opini" setiap orang memiliki nilai kebenaran yang sama. Kemampuan menghargai pentingnya berbagai tolok ukur intelektual telah sirna, dan kita akan biasa mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti: Bagaimana jika saya tidak menyukai berbagai tolok ukur itu? Mengapa saya tidak bisa menggunakan tolok ukur saya sendiri? Bukankah saya memiliki hak untuk mengutarakan pendapat saya sendiri? Bagaimana jika pada saat itu saya sedang berada dalam keadaan yang emosional? Bagaimana jika saya suka mengikuti intuisi saya? Bagaimana jika saya tidak percaya akan hal yang rasional/masuk akal? Pada saat seperti itulah orang tidak mampu membedakan antara memberikan alasan-alasan yang kuat dan bukti untuk mendukung pendapatnya, dan sekadar mengatakan pendapatnya sebagai sesuatu yang benar. Jika ini yang terjadi maka sesungguhnya orang tersebut tidak sedang berpikir secara kritis.

Ramalan Saksi Yehovah

Saksi (-saksi) Yehovah merupakan salah satu kelompok (sekte) Kristen yang terkenal dengan berbagai ramalannya mengenai kedatangan Yesus yang kedua ke dalam dunia (Second Coming). Sejauh yang dapat saya ingat, kali pertama para penganut Saksi Yehovah meramalkan bahwa Yesus akan datang kedua kalinya ke dunia ini terjadi di tahun 1914. Namun, ketika peristiwa itu tidak terjadi mereka mengubahnya menjadi tahun 1925. Namun, peristiwa itu pun tidak terjadi sampai mereka betul-betul yakin bahwa Yesus akan datang kembali ke dunia pada tahun 1975. Apa yang terjadi? Kembali, Yesus tidak kunjung datang ke dunia ini. 

Sebagian besar orang berpendapat bahwa jika ramalan atau pandangan atau ajaran seseorang (sebuah kelompok) keliru atau meleset, maka orang tersebut akan "bertobat" atau kelompok tersebut akan bubar atau setidaknya akan mengalami kemunduran. Artinya, anggota kelompok tersebut menjadi berkurang. Namun, apakah benar demikian? Apakah para penganut Saksi Yehovah menjadi berkurang akibat ramalan-ramalan mereka yang selalu meleset? Ternyata tidak! 

Satu kali tanpa disengaja saya berjumpa dengan para penganut Saksi Yehovah ketika sedang menghadiri kremasi yang dilakukan di Cilincing, Jakarta Utara. Saya bertanya kepada mereka, "mengapa ramalan-ramalan mereka mengenai kedatangan Yesus yang kedua kalinya ke dunia ini selalu meleset?" Jawaban mereka membuat saya sangat terperangah. Mereka menjawab: "ramalan-ramalan itu sebetulnya tidak meleset karena sebetulnya Yesus sudah datang hanya saja belum dapat dilihat secara kasat mata karena memang belum diizinkan oleh Allah untuk dapat dilihat manusia". Karena tidak puas saya kembali bertanya, "jika Yesus sudah datang, ia datang di mana? Di mana dia sekarang? Mereka menjawab: "Yesus sekarang sedang berada di langit". Jawaban yang sangat mengejutkan!

Saya mencoba dengan sangat keras memahami jawaban mereka. Akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan sementara bahwa inilah yang dinamakan dengan fenomena orang beragama, di mana manusia yang percaya secara membabi-buta tidak lagi sadar bahwa sesungguhnya mereka mengalami delusinasi. Dikatakan delusinasi karena seseorang atau sebuah kelompok sudah tidak mampu memisahkan/membedakan antara iman yang buta dan bukti-bukti yang ada. Dalam kasus ramalan-ramalan Saksi Yehovah, para penganutnya tetap meyakini bahwa Yesus akan, bahkan telah datang ke dunia walaupun kenyataan berbicara sebaliknya. Demi membenarkan dan menegaskan kepercayaannya, mereka sanggup berkelit dengan mengatakan bahwa Yesus telah datang kembali ke dunia hanya saja belum dapat dilihat oleh manusia. 

Fenomena delusinasi dan berkelit seperti itu biasa ditemukan dalam diri orang-orang yang beriman secara membabi-buta. Orang-orang seperti itu selalu mampu memberi jawaban, penjelasan, bahkan pembenaran dan penegasan atas segala hal yang diimaninya, walaupun kenyataan berbicara lain dari apa yang diimaninya. Inilah yang menjelaskan mengapa seseorang belum tentu meninggalkan imannya walaupun kenyataan bertolak belakang dengan yang diimaninya. Demikian juga dengan sebuah kelompok yang belum tentu ditinggalkan para pengikutnya walaupun selama ini semua ramalan mereka telah terbukti meleset.

Sementara...

Kata "cinta" seringkali didengungkan orang, baik melalui kata-kata, tulisan, bahkan tayangan-tayangan yang bertemakan "cinta". Saya memiliki definisi "cinta" sendiri. Inilah "cinta" menurut saya:


Cinta tidak mengkhianati dan menolak diri sendiri. Cinta tidak melibatkan pertumpahan darah dan penderitaan. Cinta tidak mengorbankan orang lain demi memuaskan hasrat pribadi. Cinta bukanlah kemarahan dan kebencian. Cinta tidak mengutuk dan menghakimi orang lain dengan mengatakan bahwa orang tersebut akan masuk neraka karena tidak memiliki pendapat atau kepercayaan atau ajaran atau dogma atau "iman" yang sama dengan kita. Cinta bukanlah ketaatan buta atau penyerahan diri total/sepenuhnya terhadap suatu hal yang "pasti". Cinta tidak lahir dari dan melahirkan kekuasaan, hukuman ataupun ketakutan. Cinta sejati yakni adanya rasa hormat, kekaguman, kebaikan, dan belarasa yang diberikan oleh seseorang yang selalu berpikir terbuka, kritis, dan tidak diliputi ketakutan terhadap siapapun dan apapun.

Untuk sementara, itulah definisi "cinta" menurut saya.

Selasa, 12 Januari 2010

Speechless

Di bawah ini merupakan e-mail yang saya terima dari salah seorang teman dan saya betul-betul speechless ketika dan segera setelah membaca e-mail tersebut. Saya sungguh-sungguh terpana, bahkan sampai bengong. Beragam hal berkecamuk di dalam otak saya, antara tertawa, jengkel, gemes, gregetan, dlsb. Untuk hal ini saya sampai tidak mampu berbuat apa-apa (memberikan komentar bahkan kritikan). Inilah e-mail teman saya tersebut. Selamat membaca.

Dear My Friends,

Boleh percaya, boleh juga gak ttg hal yang akan terjadi klo kalian ga menyenbarkan ini. Yang jelas yg harus bgt2 di percaya adalah Jesus Christ itu adalah benar2 Tuhan n Juruselamat qta, hanya melalui Dia lah qta beroleh keselamatan, okey,,,,,saya hanya berusaha memforward aja...

Disalin sesuai dengan aslinya oleh Uskup Agung Jakarta !!

AKU BERSUMPAH
ATAS NAMA YESUS KRISTUS DAN ROH KUDUS.

Pada Suatu malam,tatkala Sri Paus sedang asyik membaca sambil merenung di depan altar, karena asyiknya hingga ia kecapaian lalu tertidur dan bermimpi.

Didepan Sri Paus yang sedang membaca dan merenung, ia berjumpa dengan Yesus Sang Juru Selamat dan Penebus dosa dan berkata: "Wahai Karol Woztyla (nama kecil dari Sri Paus), ketahuilah bahwa di dalam dunia ini banyak diantara hamba-hamba yang mati dalam keadaan tidak beriman. Banyak orang kaya dan mampu tidak lagi menimbang sang kasih terhadap sesama dan terutama mereka yang hidup sebagai gelandangan. Banyak istri menyeleweng dan tidak lagi mendengarkan kata-kata suci. Karena itu wahai Karel Waltyin, hendaknya engkau serukan kepada umat kristiani agar berkata-kata selalu tentang kebaikan dan kebijaksanaan dan memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama".

Sri Paus tertegun dan tak berani menatap wajahNya, lalu Yesus berkata lagi dengan penuh kasih sayang,: "Wahai karel Waltyin, ketahuilah bahwa AKULAH TERANG DUNIA. barang siapa mengikuti AKU, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan terang".

Demikianlah pesan
Tuhan Yesus Kristus melalui mimpi kepada Sri Paus.

Oleh karena itu, barang siapa yang telah menerima surat wasiat ini hendaknya ia menyalin
atau mengcopynya atau mem-forward paling sedikit 20 lembar dan mengirimkan kepada sanak saudara kerabat dan handai-taulan yang beriman. Maka anda mengalami/mendapat suatu keuntungan/berkat yang tidak terduga dalam 2 minggu kemudian. Apabila surat ini tidak jelas, maka upayakanlah saudara berkenan untuk membuat salinan ini sesuai dengan aslinya, sehingga menjadi jelas untuk dibaca.

Di Venezuela :

Riya Kisayana, tahun 1985 mendapatkan hadiah ulang tahun sebesar $1,000,000 dengan memenangkan undian sebab ia menyuruh sekretarisnya untuk menyalin dan mengirimkan
surat wasiat ini kepada sahabat-sahabatnya.

Di Mexico :

Margareth, tahun 1980 menerima surat wasiat ini,dan meremehkannya, karena ia seorang putri milyoner, beberapa hari kemudian dia diperkosa oleh beberapa pemuda tak dikenal dan ia menjadi gila.

Pluit (Jakarta/Indonesia ) :

Endang Wijaya membuang surat seperti ini ke tempat sampah di Pluit, kemudian ia dipecat dan dihukum atas kasusnya.

Banjarmasin ( Indonesia ) :

Kis di Banjarmasin membuang surat wasiat ini ke sungai, lalu akhirnya ia meninggal dan dimakan buaya.

Jakarta ( Indonesia ) :

P. Hutapea tahun 1978 menerima surat wasiat ini tapi lupa mengeposkan. Ia diberhentikan dari tugasnya di DPR, tetapi tahun 1980 ketika menerima kembali surat wasiat ini di Yogyakarta, ia segera mengeposkan dan mengcopy sebanyak 20 lembar, dan akhirnya ia menerima kembali jabatannya.

Jakarta ( Indonesia ) :

Sutradara Pettrajaya Burnama tahun 1992 hanya sempat mengirimkan beberapa copy dari surat wasiat ini. Akibatnya mobil kreditan disita dan wajib meninggalkannya rumah kediamannya. Pada Th 1993 ia menyalin dan mengcopy surat wasiat ini yang sudah tidak terbaca lagi, menjadi jelas dan terang lalu mengirimkannya kepada teman-teman atasannya sebanyak 20 lembar, akhirnya ia bisa memperoleh mobil baru lagi.

Di Italia :

Seorang juragan kapal yang kaya mendapat keuntungan besar, setelah mengcopy dan mengirimkan kepada seluruh relasinya dalam waktu lebih dari 2 minggu.

Di Philipina :

Presiden Ferdinand Macos tidak mengindahkan surat wasiat ini dan tidak lama kemudian ia terisingkir dari kedudukannya. Yang terjadi setelah anda mengirimkan surat wasiat ini, anda akan
menerima keuntungan. Tetapi jika anda tidak mengirimkannya, percayalah anda akan mendapat kesulitan yang sukar dipecahkan, terlebih-lebih mereka yang meremehkannya dan memutuskan dari peredaran, mereka akan mendapat hukuman dari Tuhan.

Dengan bukti diatas maka saya (Sri Paus) mengharapkan tidak meremehkan surat ini. Sesungguhnya surat wasiat ini sudah berantai dan atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, anda akan mendapatkan hasil yang baik atau buruk, semuanya tergantung dari sikap anda melaksanakan perintah saya.

Persembahan pada Tuhan dengan segenap hatimu dan seluruh jiwa raga....!!! Kiranya Tuhan selalu menyertai anda dengan kasih-Nya. Tuhanlah gembalaku agar tidak tersesat, Tuhanlah perisaiku dalam menghadapi bencana. Surat wasiat ini telah disetujui oleh Pejabat dalam Pembangunan Kabinet yang beragama kristen.

Surat wasiat ini telah beredar mengelilingi dunia.. Jangan memberi uang atau materi dalam
surat ini Anda harus menggunakan waktu sesingkat mungkin agar wasiat ini dapat keliling dunia supaya mereka yang belum mengenal Yesus Kristus boleh memperoleh keselamatan abadi.

TUNGGU DALAM DUA MINGGU SETELAH MEMPERBANYAK/ MENGIRIMKAN
SURAT WASIAT INI !!!!! ANDA AKAN MENGALAMI BERKAT TUHAN, AMIN..

JANGANLAH ANDA MENGANGGAP BAHWA WASIAT INI ADALAH SUATU LELUCON, YANG ANDA TERIMA DARI POS/ EMAIL TETAPI PIKIRKAN BAHWA SURAT INI SANGAT DINANTIKAN OLEH MEREKA YANG HAUS AKAN FIRMAN ALLAH. AMIN.

Jangan liat keuntungan ato kerugian dalam memberitakan Firman Tuhan karena tidak ada keuntungan lain yang lebih besar dari penebusan dan keselamatan yang telah Ia berikan, tetapi anggaplah ini sebagai tugas yang diberikan kepada kita sebagai anak2 yang telah diselamatkan.
dan perlakukanlah ini,, karena memang kita percaya pada-Nya,, bkn hanya demi keberuntungan semata..

? ? ? ? ? ? ? ? ? . . . . S P E E C H L E S S . . . . ? ? ? ? ? ? ? ? ?