Minggu, 14 Agustus 2011

Makna Kehidupan (1)

Apakah makna kehidupan? Tidak sedikit orang bertanya dan mencari jawaban terhadap pertanyaan seperti itu, termasuk seorang filsuf Jerman, Arthur Schopenhauer (1788-1860). Namun demikian, banyak orang (secara keliru) menafsirkan pandangannya mengenai kehidupan sehingga ia dianggap sebagai seorang yang pesimis. Tidak jarang orang mengatakan jika Schopenhauer memiliki pandangan negatif terhadap kehidupan dan menganggap dunia sebagai sesuatu yang seharusnya tidak ada. Apakah benar Schopenhauer filsuf yang pesimis terhadap kehidupan? Jika ya, mengapa ia berpikir demikian? Jika tidak, apakah pandangannya mengenai kehidupan, dan adakah jalan keluar yang ditawarkan kepada manusia untuk memaknai kehidupannya? Pembahasan makna kehidupan menurut Arthur Schopenhauer akan dibagi ke dalam dua bagian tulisan

Dualisme
Siapa saja yang hendak menyelami pemikiran Schopenhauer terlebih dulu perlu memahami karya Immanuel Kant (1724-1804) agar tidak tersesat, karena pandangan Schopenhauer berangkat dari penolakannya terhadap pemikiran Kant. Dalam karyanya (“Kritik terhadap Akal Budi Murni”) Kant mengatakan bahwa pikiran itu aktif dan kekuatan apriori yang berasal dari pikiran itu yang memainkan peranan dalam pembentukan sifat dunia yang dialami manusia. Berbagai bentuk yang berasal dari intuisi inderawi manusia berlangsung di dalam ruang dan waktu. Artinya, semua objek yang dialami manusia selalu berada dalam ruang/tempat dan waktu tertentu. Namun demikian, intuisi inderawi manusia tidak cukup memberikan pengetahuan mengenai objek yang dialami manusia sehingga intuisi tersebut harus dibawa ke dalam konsep-konsep sehingga membentuk pengalaman inderawi. Pengalaman inderawi ini dibentuk dan diatur oleh kerja mental yang disebut kategori (Menurut Kant ada 12 kategori, yakni: kesatuan, pluralitas, totalitas, kenyataan, negasi, pembatasan, substansi, sebab-akibat, kesalingan, kemungkinan, aktualitas, dan kebutuhan), sedangkan menurut Schopenhauer hanya ada satu, yaitu kausalitas. Kategori-kategori ini memampukan manusia untuk memahami bahwa setiap objek yang dicerapnya berada dalam ruang dan waktu. Hal-hal inilah yang memungkinkan manusia dapat melihat dan memahami dunia bukan hanya dalam ruang dan waktu namun secara keseluruhan. Dengan demikian, Kant memandang dunia sebagai objek yang menampakkan diri kepada manusia (subjek). Artinya, semua hal yang bisa diketahui manusia tidak lain hanyalah berupa sifat representasi dari sebuah objek.

Lebih lanjut Kant mengatakan bahwa makna terutama dunia sebagaimana ia menampakkan dirinya kepada manusia menunjukkan sesuatu yang lain/berbeda, yakni adanya realitas di balik penampakan tersebut. Inilah yang disebut Kant dengan fenomena (penampakan) dan noumena (“sesuatu pada dirinya sendiri”). Menurut Kant noumena merupakan hal yang tidak sama dengan pengalaman manusia. Artinya, pengalaman manusia berasal dari dunia objek dan dikonstruksi di dalam pikiran manusia. Dengan demikian, manusia bisa memiliki pengetahuan mengenai fenomena, namun tidak bisa memiliki pengetahuan mengenai noumena karena samar-samar. Oleh karena itulah manusia tidak dapat mengatakan hal-hal mengenai noumena selain hanya menyadari bahwa hal tersebut ada. Noumena itulah yang berinteraksi dengan pikiran manusia sehingga melahirkan pengalaman.

Pada momen inilah Schopenhauer menolak pandangan Kant. Pernyataan Kant bahwa noumena merupakan tempat dalam rangkaian kausalitas yang menjadi dasar pengalaman manusia, bagi Schopenhauer dianggap sebagai konsep yang menunjuk bahwa ada sesuatu lain yang berada di luar pengalaman manusia. Penolakan Schopenhauer tersebut jika dirumuskan ke dalam sebuah pertanyaan menjadi: bagaimana mungkin sungguh-sungguh ada yang disebut dengan noumena jika ia sendiri lahir karena konstruksi pikiran manusia? Dengan demikian, seandainya Kant benar dan kategori kausalitas sesuai hanya pada objek sebagaimana ia menampakkan dirinya, bagaimana kita bisa memahami pernyataan Kant bahwa noumena dapat melahirkan sesuatu? Berdasar pada hal ini Schopenhauer mengatakan bahwa tetap diperlukan adanya konsepsi lain dari hubungan antara fenomena dan noumena.

Dunia (sebagai) Kehendak
Dualisme fenomena dan noumena Kant, bagi Schopenhauer, merupakan sesuatu yang absurd dan tidak mungkin dilakukan sehingga harus ditolak. Berbeda dari Kant, Schopenhauer berpendapat bahwa penampakan dan noumena tidak dapat dipisahkan karena merupakan realitas yang sama, hanya saja dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda. Bagi Schopenhauer, relasi bukanlah sebab-akibat melainkan identitas itu sendiri. Pada satu sisi dunia adalah representasi sekaligus pada sisi lainnya dunia pada dirinya sendiri merupakan kehendak. Pandangan Schopenhauer tersebut berdampak pada pengertian bahwa manusia sebagai subjek menerima tubuhnya sebagai objek sebagaimana objek lain dalam dunia (fisik) ini. Pengertian tersebut menampakkan diri dalam ruang dan waktu, berada dalam hubungan kausal, selalu berubah, dan demikian seterusnya. Dengan demikian, manusia melihat hal tersebut sebagai representasi, penampakan yang berada dalam dunia eksternal sekaligus empiris. Artinya, terhadap semua objek dalam dunia yang menampakkan diri sebagai representasi, manusia memiliki akses terhadap tubuhnya. Manusia mengetahui tubuhnya sebagaimana tubuhnya berada, terlepas dari tubuh manusia sebagai representasi karena ia memilikinya. Schopenhauer pun mengatakan dalam tubuhnya manusia menemukan kehendak.

Namun demikian, orang harus berhati-hati untuk tidak menafsirkan pernyataan Schopenhauer tersebut dengan mengatakan bahwa kehendak manusia merupakan penyebab aktivitas tubuh karena baginya tubuh dan kehendak adalah dua aspek dari realitas yang tidak berbeda alias sama. Schopenhauer mengatakan bahwa hasrat menghendaki itu adalah tubuh. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa tubuh manusia adalah kehendak yang terobjektifikasi. Dengan demikian, pada poin ini ia sependapat dengan Kant yang menyatakan bahwa dunia pada dirinya sendiri mengakibatkan representasi.

Pernyataan Schopenhauer bahwa tubuh adalah kehendak yang terobjektifikasi berimplikasi pada gagasan bahwa seluruh dunia berdasarkan penampakannya tidak lain dan tidak lebih merupakan kehendak yang terobjektifikasi. Hal ini didasarkan pada penolakan Schopenhauer terhadap paham solipsisme yang mengatakan “yang ada hanyalah noumena dan representasinya.” Oleh karena itulah ia menegaskan bahwa tubuh manusia merupakan bagian dari dunia sebagaimana dunia menampakkan dirinya, dan keseluruhan manusia adalah kehendak itu. Dalam bahasa Schopenhauer, ketika individu menyadari dan mengenali hal ini, maka ia akan memahami bahwa sifat terdalam yang dimilikinya adalah kehendak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak setuju dengan pandangan saya? Silahkan mendebatnya.