Tampilkan postingan dengan label Skeptisisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skeptisisme. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Januari 2012

Maaf dalam Doa

Tidak jarang orang mengaitkan kematian dengan agama dan/atau tuhan, namun sebaliknya hanya segelintir orang yang memahami bahwa peristiwa kematian merupakan hal yang wajar alias normal karena dialami oleh setiap makhluk hidup. Oleh karena kematian oleh banyak orang dianggap berkaitan tuhan maka ketika kematian terjadi mereka membawa-bawa tuhan. Hal inilah yang juga dialami oleh perempuan muda yang karena mabuk telah mengakibatkan kematian sembilan orang. Dalam surat yang ditulisnya di balik jeruji ia memohon maaf kepada banyak pihak termasuk tuhan. Dalam surat yang janggal -- selain meminta maaf kepada tuhan, perempuan muda tersebut juga memohon maaf dari, serta mendoakan para korban -- itu si pemohon maaf kepada tuhan layaknya sebagai figur yang nyata dan hidup.

Mengapa "figur" tuhan dianggap sebagai sesuatu yang nyata dan hidup oleh banyak orang, khususnya yang beragama, sekalipun keberadaan figur tersebut, sampai saat ini, tidak dapat dibuktikan secara jasmani? Salah satu penjelasan yang sederhananya adalah bahwa karena kepada mereka diajarkan dan ditanamkan untuk percaya akan adanya figur tersebut sejak kecil tanpa mempertanyakan apalagi meragukan, "apakah figur tersebut memang benar nyata dan hidup."

Mereka yang percaya pada keberadaan tuhan selalu mendasarkan kepercayaannya pada, selain ajaran yang diterima sejak kecil, juga pada "perasaan" dan pengalaman pribadi dengan figur tuhan tersebut. "Perasaan" dan pengalaman pribadi inilah yang disebut mereka dengan pengalaman spiritual. Jika "perasaan" dan pengalaman tersebut memang benar adanya, mengapa tidak setiap orang "merasakan" dan "mengalami" perjumpaan dengan figur yang disebut tuhan, allah, ataupun "kuasa" pribadi yang  mengendalikan manusia? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut cukup sederhana, yakni: "perasaan" dan pengalaman spiritual bersifat sangat subjektif karena berasal dari bentukan sejak kecil dan juga bisa diperkuat oleh lingkungan sekitar.

Kedua hal tersebut, jika tidak dipikirkan secara kritis, akan terus tertanam dalam pemikiran orang yang meyakininya. Apa artinya? "Perasaan" dan pengalaman mengenai tuhan merupakan "benih" dalam otak yang oleh orang yang mempercayainya dianggap sebagai sesuatu yang nyata dan hidup di luar dirinya. Namun sesungguhnya hal tersebut berada dalam pikirannya semata. Oleh karena "figur" tuhan dipahami berada di luar diri manusia, maka orang-orang yang mempercayainya pun memanjatkan doa pada figur tersebut. Tuhan dipercaya sebagai "figur" maha pemaaf dan pemurah layaknya manusia meskipun manusia bukan yang "maha."

Jika tuhan, allah, ataupun "kuasa" pribadi yang mampu mengendalikan manusia hanyalah berada dalam pikiran manusia, dan tidak berada di luar manuasia, maka dialamatkan ke manakah doa-doa yang dipanjatkan oleh begitu banyak orang? Jika pertanyaan tersebut dialamatkan kepada saya, maka jawabannya pun sangat sederhana dan singkat, "Jangan tanya saya karena saya tidak berdoa."

Senin, 29 November 2010

Hantu Perempuan Tertangkap Kamera?


Warga Kelurahan Mimbaan, Situbondo, Jawa Timur, dihebohkan oleh keberadaan sosok berwarna putih yang diyakini sebagai hantu dan berhasil ditangkap kamera. Hantu tersebut diduga belakangan ini telah mengganggu satu keluarga, khususnya salah seorang anggota keluarga (pemuda) yang mengklaim beberapa kali ditindih oleh hantu tersebut. Beberapa orang bahkan yakin bahwa hantu yang berhasil ditangkap dan dimasukkan ke dalam botol itu berjenis kelamin perempuan.

Berikut adalah beberapa kejanggalan yang muncul setelah memperhatikan berita dan gambar yang diyakini beberapa orang sebagai sosok hantu itu: 

1. Diklaim bahwa hantu tersebut berjenis kelamin perempuan. Apakah dasarnya? Ketika memperhatikan gambar yang ditampilkan, tidak terlihat ciri-ciri jika hantu tersebut berjenis kelamin perempuan (misalnya: berambut panjang), kecuali hantu tersebut berambut pendek. Oleh karena itu, jika mendasarkan pada foto/gambar, seperti yang ditampilkan dalam berita, maka klaim bahwa hantu tersebut berjenis kelamin perempuan sangatlah lemah.

2. Klaim bahwa ada hantu perempuan yang selama ini mengganggu hanya dikatakan oleh seorang anggota keluarga. Kemungkinan besar ia mengatakan hantu yang mengganggu bahkan menindihnya berjenis kelamin perempuan karena yang mengatakan hal tersebut adalah seorang laki-laki. Sangat mungkin pernyataan ini didasarkan pada argumen: oleh karena yang ditindih adalah laki-laki, maka sudah pasti hantu yang menindih berkelamin perempuan, karena tidak mungkin hantu laki-laki (mau) menindih laki-laki. Pernyataannya anggota keluarga yang mengaku diganggu dan ditindih hantu laki-laki tersebut tidak didukung oleh keterangan lainnya, misalnya dengan menyebutkan ciri-ciri fisik perempuan secara rinci (rambut, buah dada, dan/atau suara). Dengan demikian, klaim bahwa ada hantu perempuan yang telah mengganggu sangat lemah karena tidak ditopang oleh penjelasan yang lebih rinci dan jelas.

3. Inti dan yang paling menghebohkan adalah hantu tersebut dapat ditangkap dan dimasukkan ke dalam sebuah botol bening kemudian diabadikan dengan kamera. Jika memang ada yang dinamakan/disebut hantu kemudian bisa dimasukkan ke dalam botol, berarti definisi yang selama ini menjelaskan hantu sebagai "makhluk halus" yang tidak bisa disentuh dan menyentuh harus dirubah dan diganti karena ternyata hantu adalah makhluk yang bisa disentuh/dirasa dan menyentuh. (Hal yang sama berlaku pada poin dua.) 

4. Hal berikut yang mirip dengan hal di atas adalah, jika hantu adalah "makhluk halus" yang bisa ditangkap dengan kamera dan mata, berarti definisi hantu sebagai "makhluk halus" yang tidak bisa dilihat kasat mata haruslah dirubah karena sekarang hantu bisa dilihat secara kasat mata bahkan tertangkap oleh kamera.

Demi membuktikan dan menguji bahwa yang di dalam botol itu sungguh-sungguh hantu berarti  orang diperkenankan menyentuhnya, jadi tidak hanya mendasarkan kepercayaannya pada penglihatan apalagi pendengaran (mendengar cerita orang-orang). Jika yang di dalam botol itu sosok hantu biarlah beberapa orang - sebelumnya sama sekali tidak diberitahu jika sosok di dalam botol itu hantu - mencoba menyentuh, menggenggam, bahkan mengeluarkannya dari botol untuk dilihat dari luar botol. Inilah yang dinamakan dengan double-blind investigation. 

Tujuan utama dilakukannya langkah pembuktian seperti ini untuk menguji seberapa kuat dan sahih pernyataan orang dan fenomen yang ada. Jika dari lebih dari dua orang mengatakan bahwa ada sesuatu (benda fisik/materil) di dalam botol itu yang bisa disentuh, bahkan digenggam dan dibawa ke luar dari botol untuk dilihat oleh lebih banyak orang berarti pernyataan orang bahwa sosok di dalam botol itu adalah hantu bisa diperhitungkan sebagai kebenaran.

5. Sejauh yang bisa dilihat karena berita hanya menampilkan satu gambar mengenai adanya sesuatu di dalam botol, seharusnya foto mengenai sosok di dalam botol tersebut diambil dari sebanyak mungkin sudut/arah. Hal inilah yang dilakukan ketika para peneliti mengkaji suatu fenomen/peristiwa. (Hal yang serupa dilakukan polisi atau kriminolog dengan mengambil sebanyak mungkin gambar satu objek dari berbagai sudut/arah.) Ini dilakukan untuk memperoleh kejernihan dan objektivitas sebuah objek. Jika objek yang sama direkam oleh kamera foto dari berbagai sudut/arah dan menghasilkan gambar yang serupa serta menghasilkan gambar/foto yang sama, hanya sudutnya saja yang berbeda, barulah objek tersebut bisa dianggap sebagai sesuatu yang nyata. 

Namun, jika pada sudut/arah lain objek tersebut tidak "berubah bentuk" dengan tingkat perubahan yang sangat besar, atau bahkan tidak nampak sama sekali, berarti jelas, objek yang hanya bisa direkam dari satu sudut/arah haruslah diperhitungkan sebagai hasil dari pantulan cahaya dari objek lain ataupun adanya partikel yang sangat kecil/halus yang menempel pada lensa kamera sehingga menghadirkan foto/gambar berwarna putih karena sangat mungkin jika partikel debu yang sangat halus atau setitik air menempel pada lensa sehingga menghasilkan gambar seperti di berita di atas.
Dengan demikian, klaim adanya hantu berjenis kelamin perempuan yang berhasil ditangkap dan dimasukkan ke dalam botol bening kemudian diabadikan oleh kamera foto sangatlah lemah karena tidak didukung oleh penjelasan yang rinci dan bukti-bukti fisik relevan yang bisa dipertanggungjawabkan penjelasannya. Selama hal-hal tersebut tidak bisa disajikan, maka klaim tersebut haruslah dianggap sebagai sesuatu yang tidak terbukti kebenarannya.

Rabu, 24 November 2010

Alasan "Gaib"

Seorang pemuda memerkosa banyak gadis cilik dengan alasan untuk memenuhi permintaan makhluk gaib yang telah menyelamatkannya dari kecelakaan maut. Mungkin orang banyak orang segera bereaksi terhadap pengakuan pemuda tersebut dengan mengatakan: "Ah, alasan ajah, bilang ajah kalo emang mo perkosa anak-anak!" atau "Dasar orang gila, bilang ajah pengen merkosa anak-anak kecil, ga usah bawa-bawa makhluk gaib segala!" 
 
Dua reaksi di atas bisa dianggap emosional akibat geram dan benci terhadap tindakan pemuda tersebut. Di satu sisi, reaksi yang demikian  bisa diterima, terlebih jika diungkapkan orangtua-orangtua yang memiliki anak-anak gadis yang masih kecil, karena mungkin saja mereka terbayang seandainya hal tersebut dialami oleh anak-anak gadis mereka yang masih kecil. Artinya, reaksi tersebut sangatlah lumrah jika dilontarkan oleh orangtua. Namun di sisi lain, reaksi tersebut bisa diperhitungkan sebagai hambatan untuk membaca pernyataan pemuda itu secara lebih jernih, dengan meminimalkan penggunaan emosi yang tidak sehat. Dikatakan tidak sehat karena sangat mungkin reaksi tersebut lahir akibat penggunaan emosi yang tidak pada tempatnya sehingga serta-merta mengatai pemuda tersebut sebagai orang gila.

Bisa saja apa yang diakui oleh pemuda tersebut benar. Artinya, ia mendengar bahwa ada suara yang mendorongnya untuk memerkosa anak-anak gadis yang masih kecil. Bagaimana hal tersebut bisa diketahui? Tentu, dengan melakukan pemeriksaan/penelitian psikologi yang melibatkan unsur-unsur pikiran serta mental pemuda tersebut. Jika pemeriksaan psikologi yang ketat telah dilakukan dan hasilnya mengatakan bahwa pemuda tersebut memang memperoleh suara-suara tertentu yang mendorongnya melakukan pemerkosaan, maka pengakuannya tersebut bisa diperhitungkan sebagai kebenaran. Tentu, pemeriksaan ini harus dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur dan perangkat (orang dan alat) yang baik sehingga hasil pemeriksaan tersebut bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jika demikian, pemuda tersebut diperhitungkan mengidap delusi. 

Jika pemuda tersebut terbukti benar mengalami delusi, apakah ia akan lolos dari hukuman? Dalam pengertian tertentu ya. Artinya, penjara bukanlah tempat yang cocok untuk seseorang yang mengidap delusi melainkan rumah sakit jiwa-lah tempat yang lebih cocok. Penjara hanya cocok untuk orang-orang yang tidak mengidap penyakit, sedangkan delusi digolongkan ke dalam salah satu penyakit yang mempengaruhi, baik mental maupun fisik penderitanya. Oleh karena itu, tidak tepat jika orang yang mengidap delusi dipenjarakan, tepatnya orang tersebut dirumahsakitkan. Jika setelah mengalami "penahanan" di rumah sakit keadaan orang bersangkutan (pemuda yang mengaku mendapat bisikan dari makhluk gaib) membaik dan bisa diperhitungkan tidak mengidap delusinasi lagi, maka ia bisa diajukan ke pengadilan untuk dituntut dan dikenai sanksi-sanksi akibat perbuatannya, untuk kemudian dipenjarakan.

Mungkin ada pendapat mengatakan: "Mengapa tidak dipenjarakan saja, nanti kalo cuma dimasukin ke rumah sakit kabur deh...?!" atau "Wah, enak banget cuma dimasukin ke rumah sakit jiwa, bukan ke penjara!" Masalah kabur atau tidaknya si pengidap delusi merupakan tanggung jawab pihak rumah sakit dan bukan juga mengenai mana yang lebih enak. Fokus tulisan ini menanggapi berita di atas adalah mengenai penanganan yang tepat terhadap warga negara. Jika bangsa ini mengaku sebagai bangsa yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dengan memperjuangkan hak asasi kemanusiaan, maka penanganan yang tepat terhadap setiap warganya adalah salah satu bukti nyata yang bisa dipertanggungjawabkan. Tanggung jawab aparat hukum-lah untuk menerapkan ketepatan penanganan terhadap setiap warga negara.

Jumat, 12 November 2010

Ekstrinsik + Intrinsik

Berita dalam Viva News mengatakan setidaknya ada tujuh hal yang menjadi pemicu orang percaya pada adanya UFO dan alien. Sementara ketujuh hal tersebut berasal dari luar diri orang yang percaya pada UFO, maka dalam tulisan ini ditambahkan satu penyebab orang percaya pada UFO, dan penyebab ini lebih berasal dari dalam diri orang tersebut.

Banyak orang mempercayai keberadaan UFO karena mereka mudah menerima pernyataan atau kesaksian orang lain mengenai adanya UFO. Mereka percaya UFO ada karena pernyataan tersebut berasal dari orang-orang tertentu, misalnya: ahli antariksa dan/atau pemerintah. Hal tersebut membuat banyak orang dengan tanpa keraguan mempercayai suatu hal. Hal tersebut diperkuat dengan tayangan film atau dokumenter yang berkisah mengenai adanya UFO dan alien yang membuat keyakinan banyak orang mengenai adanya UFO semakin dipertebal. 

Banyak orang menganggap jika tayangan yang bergenre "dokumenter" sudah berarti benar, tidak mungkin salah apalagi suatu kebohongan. Ini adalah pandangan yang keliru sekaligus bisa menyesatkan orang lain. Namun demikian, tidak berarti bahwa tayangan dokumenter harus serta-merta ditolak dan sama sekali tidak (bisa) dipercaya. Sikap yang kedua ini pun tidak bijak. Dengan demikian, sikap bijak menanggapi fenomena UFO adalah tidak segera/mempercayainya sekaligus tidak serta-merta menolaknya. Oleh karena itu, yang dibutuhkan adalah berbagai bukti relevan dengan didukung argumen yang kuat. Jika hal ini bisa dicapai, maka orang tidak menjadi "penolak" ataupun "penerima" setiap hal, termasuk UFO.

Setelah melihat ketujuh hal ekstrinsik yang tidak mendukung keberadaan UFO ditambah satu  hal intrinsik yang juga meragukan keberadaan UFO, maka dengan demikian keberadaan UFO bisa ditolak atau tidak dipercaya karena berbagai bukti yang ada bukannya memperkuat keberadaan UFO melainkan memperlemahnya. Jadi, dengan berdasar pada delapan poin itu dapat disimpulkan bahwa UFO bukanlah sesuatu yang nyata melainkan bentukan hal-hal lain, baik yang material (tujuh hal ekstrinsik) maupun imaterial (satu hal intrinsik = kepercayaan pada kesaksian/pengakuan orang lain).

Kejahatan X Kebaikan

Begitu banyak orang beranggapan dan percaya jika kesurupan terjadi akibat unsur yang berasal dari luar tubuh seseorang (seperti: hantu/makhluk halus) kemudian hantu tersebut merasuki tubuh orang itu. Dengan demikian, begitu banyak orang mengatakan bahwa kesurupan diakibatkan oleh gangguan yang dialami manusia berasal dari luar unsur tubuhnya. Apakah benar demikian? Pandangan ini salah dan cenderung menyederhanakan persoalan dengan meniadakan unsur yang berasal dari dalam tubuh manusia.   

Contoh kesurupan yang dipercayai hanya akibat yang berasal dari luar tubuh manusia adalah terjadi baru-baru ini di Bangkalan, Madura, di mana sekitar 10 siswa mengalami kesurupan. Peristiwa kesurupan terjadi ketika para siswa tersebut sedang mengikuti salah satu kegiatan yang diadakan sekolah. Namun, pihak sekolah segera menyatakan bahwa anak-anak yang kesurupan itu bukan akibat kegiatan sekolah yang diadakan sekolah melainkan hal lainnya, seperti: 
1. Sekolah akan mengadakan kegiatan agama.
2. Sekolah menebang beberapa pohon besar di lingkungan sekolah.

Pihak sekolah menganggap jika kedua hal ini menjadi penyebab kesurupan yang dialami anak-anak akibat "penunggu" sekolah tidak suka/marah sehingga "penunggu" itu merasuki beberapa siswa. Dengan demikian, pihak sekolah menolak jika acara yang diadakan sekolah sebagai penyebab beberapa anak mengalami kesurupan dan lebih "menyalahkan" sesuatu yang bernuansa supernatural. Ini artinya, sekolah lebih percaya pada sesuatu yang tidak kasat mata ketimbang yang kasat mata dan memiliki materi.

Mengapa hal demikian bisa terjadi? Hal seperti itu bisa terjadi karena  hal-hal yang bernuansa supernatural lebih misterius dan seru dibandingkan hal-hal yang terlihat kasat mata. Hal-hal yang tidak kasat mata bisa membuat merinding ketimbang hal-hal materil yang tidak bisa membuat bulu kuduk berdiri. Hal ini sejajar dengan agama dan kepercayaan kepada Tuhan, di mana bisa membuat manusia takjub, merinding, bahagia, bahkan menangis. Artinya, manusia menggemari hal-hal yang membuat emosinya "naik-turun" karena sesuatu yang misterius dan tidak kasat mata. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan ketika melihat/mengetahui bagaimana cara manusia menangani fenomena kesurupan, yakni dengan membacakan ayat-ayat yang berasal dari "kitab suci."

Pembacaan ayat-ayat "kitab suci" yang ditujukan bagi orang-orang yang mengalami kesurupan didasarkan pada kepercayaan bahwa kesurupan diakibatkan oleh sesuatu supernatural yang jahat, oleh karenanya harus dilawan oleh sesuatu supernatural juga, namun yang baik. Jadi, ada pemikiran banyak orang bahwa sesuatu yang tidak kelihatan harus diperhadapkan dengan sesuatu yang tidak juga tidak kelihatan, dan karena kesurupan diakibatkan oleh hantu, maka harus dilawan oleh Tuhan. Kejahatan harus dilawan oleh kebaikan. Akibatnya, banyak orang meniadakan atau tidak mempedulikan hal-hal yang sesungguhnya kasat mata. Artinya, orang lebih mempercayai hal-hal yang tidak kelihatan (supernatural) ketimbang hal-hal yang keliatan (material). 

Contoh inilah yang ditemukan dalam berita di atas ketika pihak sekolah bukannya memperhatikan kegiatan telah dan sedang dilakukan anak-anak melainkan membiarkan pikirannya dikuasai oleh hal-hal yang tidak kelihatan. Pihak sekolah sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan jika kegiatan yang diadakannya telah membuat beberapa anak merasa tidak nyaman, dan anak-anak yang tidak merasa nyaman tersebut tidak memiliki pikiran yang kuat sehingga mereka mengalami kesurupan. Inilah salah satu contoh nyata (lagi) di mana manusia lebih mempercayai sesuatu yang supernatural ketimbang material. Akibatnya, penanganan yang diberikan pun sangat sederhana bahkan ga nyambung karena menafikan psikologi serta melibatkan orang-orang yang keliru.

Kamis, 11 November 2010

Hantu Curhat

Dua remaja perempuan (SMP) yang berada dalam keadaan "kesurupan" mengaku jika hantu yang ditemui masing-masing perempuan itu mengajak mereka curhat. Salah seorang remaja  perempuan yang kesurupan itu mengatakan bahwa hantu (makhluk halus) yang dijumpainya dalam keadaan kesurupan itu bercerita tentang keluarganya, bahkan meminta tolong agar anaknya yang sedang sakit ditolong. Sementara remaja yang lainnya mengaku ketika dalam keadaan kesurupan ia berjumpa dengan seorang anak kecil dan perempuan sama-sama mengenakan pakaian putih. Dan ia mengatakan bahwa perempuan yang dijumpainya itu mengajaknya curhat. Mungkin banyak orang dengan cepat menghakimi atau menganggap pernyataan kedua remaja perempuan itu sebagai hal yang bohong-bohongan atau yang mereka katakan tidak lebih dari omong kosong. Sikap-sikap seperti itu tidaklah bijak karena ada sikap yang lain yang bisa ditampilkan.

Fenomena kesurupan mesti dipahami sebagai peristiwa yang sungguh terjadi. Artinya, orang yang mengalaminya tidak sedang melakukan kebohongan ataupun omong kosong, jika ia benar-benar mengalami kesurupan. Peristiwa kesurupan memang bisa terjadi akibat pikiran seseorang tidak mampu lagi menampung atau menguasai emosi yang berada dalam diri seorang ketika berbenturan dengan kenyataan sosial yang dialami orang tersebut. Ketika pikiran tersebut tidak mampu menguasai benturan kedua hal itu, misalnya dengan menyalurkannya pada aktivitas tertentu, maka yang terjadi adalah "kesurupan." 

Oleh karena itulah harus dikatakan bahwa kesurupan yang dialami seseorang bukanlah akibat tubuh ataupun pikiran orang itu dimasuki oleh hantu (makhluk halus) melainkan akibat pikiran yang tidak mampu menguasai emosinya setelah orang tersebut mengalami suatu peristiwa yang menekan pikirannya. Orang yang mengalami kesurupan bukanlah sedang melakukan kebohongan atau omong kosong melainkan pikirannya tidak mampu menampung emosi yang begitu meluap sehingga hal tersebut membuat tubuhnya melakukan gerakan-gerakan motorik di luar kemampuan kendali pikirannya. Oleh karena itulah sama sekali tidak perlu menjadi heran ketika orang kesurupan tubuhnya menjadi mengejang, tidak jarang disertai dengan teriakan, bahkan tangisan, dan banyak gerakan yang jika dalam keadaan sadar orang tersebut tidak akan dan tidak mampu melakukannya.

Bagaimana dengan pengakuan kedua remaja perempuan dalam berita di atas yang mengaku masing-masing telah bertemu dengan hantu yang curhat dengan mereka? Apakah mereka mengatakan sesuatu yang omong kosong atau benar? Kedua remaja tersebut tidak mengatakan hal yang omong kosong apalagi berbohong, tetapi mereka menyampaikan ingatan tertentu yang muncul di dalam pikiran mereka. Namun ingatan tersebut sangat mungkin merupakan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan buat mereka. Ingatan tersebut telah membangkitkan emosi tertentu yang tidak mampu ditampung atau dikendalikan atau disalurkan oleh pikiran mereka sehingga mereka pun mengalami kesurupan. 

Dari manakah ingatan itu berasal? Bisa jadi ingatan itu berasal dari pengalaman mereka, entah sudah lama ataupun tidak lama terjadi ketika mereka berjumpa atau mendengar cerita seseorang yang mengalami kesulitan/kemalangan. Setelah mendengar cerita, maka cerita itu pun disimpan dalam memori otak mereka. Dan ketika mereka mengalami suatu peristiwa, entah mirip ataupun tidak mirip dengan pengalaman, maka ingatan yang tersimpan dalam memori otak itu pun muncul ketika mereka mengalami kesurupan, walaupun kemungkinan besar yang terjadi adalah bahwa peristiwa tersebut memiliki kemiripan dengan peristiwa yang pernah dialami. 

Jadi, jelas, kedua remaja perempuan dalam berita di atas tidaklah bohong karena peristiwa berjumpa dengan orang yang mau curhat ketika mereka dalam keadaan kesurupan sungguh-sungguh terjadi. Ya, terjadi dalam pikiran mereka, bukan di luar pikiran mereka. Dengan demikian, pengakuan kedua perempuan remaja itu sama sekali bukanlah omong kosong karena mereka memang berjumpa dengan figur-figur tertentu dalam pikirannya, yang sangat mungkin dipicu oleh peristiwa serupa yang sangat tidak menyenangkan pikiran mereka sehingga ingatan yang mirip itu pun muncul ketika mereka mengalami kesurupan.

Ketakutan > Loncat

Ternyata ketakutan bisa mengakibatkan peristiwa yang cukup tragis, apalagi jika ketakutan itu begitu mencekam sehingga orang yang mengalaminya tidak mampu memisahkan dan membedakan antara kenyataan dan halusinasi. Hal inilah yang dialami 11 orang termasuk seorang bayi ketika mereka dikejutkan oleh teriakan seseorang yang menganggap dirinya telah melihat setan. Kontan setelah mendengar teriakan itu ke-11 orang itu pun loncat dari lantai dua sangking takutnya. Peristiwa konyol tersebut terjadi sekitar pukul 03.00 ketika 13 orang sedang menonton televisi. Kemudian seorang laki-laki mendengar bayinya menangis, ia pun beranjak membuatkan susu dalam keadaan tidak mengenakan pakaian. Ketika sedang membuatkan susu itulah beberapa orang melihat laki-laki telanjang tersebut dan menganggapnya sebagai setan dengan berteriak, "Ada setan... ada setan...!" 

Ketika ketakutan yang mencekam menguasai seseorang akibat mudah terpengaruh oleh adanya teriakan, itu artinya orang tersebut tidak mampu membedakan antara hal yang riil/nyata dan hal yang merupakan halusinasi. Hal tersebut semakin diperparah karena orang tersebut sangat mudah percaya pada sesuatu yang berasal dari luar dirinya, misalnya: teriakan atau perkataan orang lain. Ia serta-merta percaya kepada orang lain dan hal itulah yang menyebabkannya bertindak/berlaku berdasarkan sesuatu yang berasal dari luar dirinya. Akibatnya, salah satunya adalah seperti peristiwa yang terjadi di Versailles, Perancis, dalam berita di atas.

Jika orang beranggapan rasionalitas seseorang menentukan keputusan yang dimiliki seseorang, khususnya dalam kaitannya dengan hal-hal supernatural dan paranormal, ternyata anggapan tersebut tidaklah tepat karena rasionalitas seseorang belum cukup membuat seseorang untuk mampu membedakan antara yang nyata dan halusinasi serta delusinasi. Artinya, rasionalitas seseorang tidak cukup untuk membuat manusia untuk tidak percaya dan menerima hal-hal yang supernatural dan paranormal, bahkan tidak jarang orang yang rasionalistis malah sangat mempercayai berbagai hal yang bernuansa supernatural dan paranormal.

Dengan demikian, hal apakah yang bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai berbagai hal yang berkaitan dengan supernatural dan paranormal? Setidaknya ada satu "benteng" yang bisa diandalkan, yakni: sikap skeptis. Ini artinya jika seseorang memiliki sikap yang kritis, ia tidak akan mau, apalagi mudah, percaya pada pandangan ataupun kepercayaan orang lain. Seorang yang skeptis tidak akan menerima pernyataan ataupun argumen orang lain sekalipun pernyataan atau argumen itu dikeluarkan oleh otoritas tertentu dalam masyarakat. Seorang skeptik tidak mau menerima dan memeluk kepercayaan orang lain sebelum ia mengujinya terlebih dahulu dengan daya kritis yang dimilikinya.

Oleh karena itulah rasionalitas seseorang seharusnya muncul/berangkat dari sikap skeptis yang dimilikinya, di mana awalnya ia meragukan segala hal yang terjadi di sekitarnya, terlebih meragukan pernyataan ataupun argumen orang lain. Semangat seorang skeptik adalah meragukan setiap sebelum hal itu melalui "pengadilan" akal budinya sendiri yang didukung oleh pikiran kritis dan argumen kuat yang dimilikinya. Jika hal ini terjadi maka  sudah sepantasnyalah peristiwa konyol yang ada dalam berita di atas tidak akan terulang kembali.

Minggu, 31 Oktober 2010

Memprediksi Kematian Sendiri?

Seorang mahasiswa Amerika mati setelah memprediksi kematiannya sendiri. Setidaknya itulah judul yang diberikan mengenai kabar "keberhasilan" prediksi mahasiswa tersebut terhadap kelangsungan hidupnya, atau itulah yang dipercaya beberapa orang bahwa mahasiswa itu mampu dengan tepat memprediksi kematiannya hanya beberapa saat sebelum ajal menjemputnya. Apakah mahasiswa itu memang "sukses" memprediksi kematiannya sendiri?

Beberapa saat sebelum kematiannya, mahasiswa tersebut memposting dalam twitternya: "Hembusan angin hingga 60mph hari ini akan menyenangkan . . .  saya kira saya sudah hidup cukup lama." Tulisan inilah yang dijadikan orang sebagai patokan jika mahasiswa itu telah memperkirakan kematiannya sendiri, khususnya kalimat yang terakhir. Namun jika dibaca secara cermat kalimat terakhir itu sama sekali tidak menunjukkan jika mahasiswa itu telah memperkirakan hidupnya akan berakhir tidak lama setelah ia mempostingkan tulisan tersebut.

Kalimat, "saya kira saya sudah hidup cukup lama" malah bisa diartikan jika pada saat itu mahasiswa tersebut sedang menikmati hidupnya, khususnya jika kalimat tersebut dihubungkan dengan kalimat sebelumnya. Dengan demikian, kalimat kedua tersebut sama sekali, baik implisit terlebih eksplisit, tidak menunjukkan jika mahasiswa itu tengah memprediksi kematiannya. Orang saja yang gemar menghubung-hubungkan berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya ataupun yang dialaminya dirinya walaupun hal-hal tersebut sama sekali tidak berhubungan. Inilah yang juga terjadi ketika orang menghubungkan kalimat di twitter mahasiswa tersebut dengan akhir hidupnya sehingga orang pun mengatakan bahwa mahasiswa tersebut telah "berhasil" memprediksi kematiannya sendiri. 

Sabtu, 30 Oktober 2010

Tuyul Masuk Botol Aqua

Seorang warga Jalan Pulo Mawar, Grogol Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mengaku telah menangkap empat tuyul yang selama ini dianggap menjadi penyebab warga kehilangan uangnya. Warga yang mengklaim telah menangkap tuyul-tuyul itu pun mengaku keluarganya sering kehilangan uang. Sekitar seminggu lalu ia tidak sengaja melihat tuyul-tuyul itu lewat di depan rumahnya, dan ia pun langsung menangkap keempat tuyul tersebut yang kemudian dimasukkan ke dalam botol aqua ukuran tanggung. 

Berikut adalah beberapa kejanggalan yang bisa ditemukan dengan cukup mudah di dalam berita mengenai hal tersebut:

Pertama: di alinea pertama ditulis bahwa empat makhluk aneh (tuyul) ditangkap dalam waktu hampir bersamaan, namun di alinea ketiga dikatakan bahwa seorang warga menangkap keempat tuyul itu ketika keempatnya sedang lewat di depan rumahnya. "Kemudian tanpa pikir panjang dirinya langsung menangkap keempatnya" [tuyul-tuyul]. Berita di alinea ketiga tersebut bisa diartikan bahwa keempat tuyul itu ditangkap pada waktu yang bersamaan. Dengan demikian, dari berita tersebut tidak terlihat adanya kesamaan waktu, di mana alinea pertama  mengatakan hampir bersamaan sedangkan alinea kedua bersamaan. Ini artinya, ada perbedaan waktu mengenai penangkapan tuyul-tuyul tersebut.

Kedua: di alinea kedua tertulis: "Warga curiga dengan keberadaan tuyul yang dipelihara oleh seseorang." Jika warga bisa mengatakan hal tersebut, ini artinya warga sudah menyimpulkan bahwa ada tuyul dipelihara manusia. Atau, ada orang yang memelihara tuyul. Pertanyaannya adalah: bagaimana warga bisa mengetahui bahwa ada orang memelihara tuyul sedangkan belum melihat keberadaan tuyul itu sendiri? Ini artinya warga sudah memiliki asumsi mengenai keberadaan tuyul dari cerita-cerita yang diperolehnya, baik melalui orang lain maupun bacaan-bacaan populer.

Ketiga: di aline ketiga dikatakan bahwa, Toto, seorang warga yang menangkap keempat tuyul itu "tidak sengaja melihat tuyul-tuyul itu lewat di depan rumahnya" (penekanan ditambahkan), sementara di alinea berikutnya dikatakan: "keempat tuyul yang tidak dapat dilihat secara jelas itu . . . ." Jika tuyul adalah makhluk yang tidak dapat dilihat secara jelas, maka bagaimana bisa seseorang melihatnya hanya dengan cara tidak sengaja? Bagaimana orang yang sama bisa mengatakan bahwa yang dilihatnya secara tidak sengaja itu adalah makhluk yang disebut, dikenal, atau dinamakan tuyul? Dengan demikian, ini pun bisa dikatakan bahwa orang yang bersangkutan sebelumnya telah memiliki "gambaran" tertentu mengenai tuyul yang diperolehnya, baik melalui cerita-cerita orang maupun berita-berita di media populer mengenai keberadaan tuyul tersebut.

Keempat: berdasarkan berita dikatakan bahwa peristiwa penangkapan tuyul itu terjadi seminggu lalu, dan sejak itu banyak warga berdatangan ke kediaman Toto karena hendak menyaksikan atau membuktikan adanya tuyul dalam botol aqua tersebut. Jika benar demikian, mengapa sampai saat ini belum ada satu pun foto yang mengabadikan keberadaan tuyul-tuyul dalam botol aqua itu? Setidaknya, ada bukti fisik yang menyatakan bahwa benar ada tuyul yang ditangkap manusia kemudian dimasukkan ke dalam botol aqua. Jika ada bukti fisik yang menyatakan hal tersebut barulah penyelidikan lanjutan bisa dilakukan. Jika tidak, berarti penyelidikan terhadap keberadaan tuyul dalam berita tersebut pun berhenti sampai di sini. 

Jadi, apakah memang ada yang namanya tuyul itu, bahkan orang bisa menangkap dan memasukkannya ke dalam botol aqua? Berdasarkan keempat poin di atas, maka bisa disimpulkan bahwa keberadaan tuyul-tuyul tersebut hanyalah milik orang-orang yang memang sebelumnya sudah memiliki asumsi mengenai adanya tuyul. Bahkan mungkin lebih dari itu, orang-orang sudah percaya terlebih dulu bahwa makhluk yang dinamakan tuyul itu memang ada, nyata, riil. "Kepercayaan" yang sudah dimiliki itulah yang mengendalikan kesimpulan banyak orang mengenai suatu hal karena mereka percaya dulu baru membuktikan. Atau lebih tepatnya, banyak orang langsung percaya tanpa mau membuktikannya. Inilah yang dinamakan dengan self-confirmation bias, di mana orang mempercayai sesuatu yang sudah diyakininya lebih dulu sehingga apa yang dilihatnya menegaskan "kepercayaan"-nya tersebut.

Jumat, 29 Oktober 2010

Kesurupan & "Kitab Suci"

Apakah seorang yang mengalami fenomena kesurupan bisa disembuhkan atau ditanggulangi dengan meningkatkan tradisi membaca "kitab suci?" Atau, apakah peristiwa kesurupan bisa ditekan atau diminimalisasi dengan cara mengadakan pembacaan "kitab suci?" Jawaban yang diberikan adalah positif, setidaknya inilah yang dipercaya Kepala Sekolah Menengah Kejuruan I Kota Bengkulu setelah beberapa siswanya kesurupan. Apakah dengan membaca "kitab suci" mampu menghindarkan seseorang dari kesurupan atau apakah kebiasaan membaca "kitab suci" bisa mempengaruhi emosi seseorang sehingga orang tersebut bisa terhindar dari kesurupan?

Pandangan yang mengatakan bahwa kegiatan beragama, seperti salah satunya, mengadakan pembacaan "kitab suci" dapat mempengaruhi emosi seseorang masih sangat kuat mempengaruhi pikiran masyarakat luas, khususnya di Indonesia. Dalam tingkatan tertentu, kegiatan beragama bisa saja membuat seseorang - tentunya yang beragama - merasa lebih tenang, terkendali, dan adem. Mereka yang percaya jika kegiatan beragama bisa mengendalikan emosinya mengatakan bahwa agama membawa dan melahirkan kebahagiaan  dan ketenangan batin. Bahkan tidak jarang juga jika hal tersebut "tertular" atau setidaknya, sampai dilihat oleh orang lain sehingga orang lain pun turut merasa tenang. Namun demikian, pandangan yang mengatakan bahwa kegiatan beragama bisa membuat orang beragama tenang amatlah lemah karena sekian kasus kesurupan yang terjadi di Indonesia malah dialami oleh orang-orang yang, setidaknya mengklaim diri sebagai orang beragama. Jika demikian adanya, maka klaim yang mengatakan bahwa kegiatan beragama bisa menenangkan bahkan mengendalikan emosi seseorang bersifat subjektif karena tidak terbukti pada orang lain.

Emosi yang dialami setiap orang tidak turun dari langit melainkan dibentuk, baik oleh bawaan gen yang dimiliki orang yang bersangkutan maupun lingkungan di mana orang itu hidup. Jika kegiatan beragama dianggap sebagai salah satu hal yang termasuk ke dalam unsur lingkungan/sosial, maka mungkin saja emosi seseorang bisa dipengaruhi oleh kegiatan beragama yang dilakukannya. Bagaimana dengan pembacaan "kitab suci?" Bukankah itu juga termasuk dengan kegiatan? Ya, dalam pengertian yang sangat sempit, namun tidak dalam pengertian yang lebih luas. Jika membaca "kitab suci" dilakukan secara pribadi aktivitas tersebut merupakan aktivitas yang lebih mengarah pada diri sendiri. Jika aktivitas membaca "kitab suci" dilakukan secara berkelompok, maka sesungguhnya yang terjadi adalah sugesti yang diperoleh seseorang atau beberapa orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Jadi, bukan "kitab suci" yang mampu membuat seseorang merasa tenang atau mengendalikan emosinya melainkan "perasaan" subjektif yang dimiliki orang yang bersangkutan karena sejak awal sudah datang dengan membawa keyakinan bahwa dirinya akan merasa tenang karena membaca "kitab suci."

Apakah dengan demikian kegiatan membaca "kitab suci" bisa diperhitungkan sebagai aktivitas yang mampu menenangkan atau mengendalikan emosi seseorang? Jawabannya adalah: ya dan tidak. Ya, jika seseorang memiliki keyakinan yang begitu kuat bahwa hal yang dilakukannya bisa menenangkan dirinya. Ini artinya, bukan "kitab suci" yang mampu membuat "perasaan" orang tersebut tenang melainkan pikirannya sendiri. Tidak, jika orang menempatkan aktivitas membaca "kitab suci" dalam konteks lebih luas, di mana kegiatan tersebut melibatkan orang lain. Jadi, bukan kegiatan membaca "kitab suci" yang membuat seseorang menjadi tenang atau adem melainkan suasana tertentu yang dialami orang tersebut ketika ia berada dalam kegiatan membaca "kitab suci" secara berkelompok.

Dengan demikian, kegiatan membaca "kitab suci" tidak bisa mempengaruhi emosi seseorang atau tidak bisa membuat "perasaan" seseorang menjadi lebih tenang. Ini berarti bahwa tidak ditemukan hubungan antara "kitab suci" dan kesurupan yang bisa membuat orang berkesimpulan bahwa tindakan/aktivitas membaca "kitab suci" mampu menekan atau menghindari orang dari kesurupan karena kesurupan terjadi akibat lemahnya pengendalian emosi yang dilakukan seseorang yang berbenturan dengan fenomena sosial yang dihadapinya. Jika ini yang terjadi, maka rencana mengadakan kegiatan membaca "kitab suci" dalam upaya menanggulangi kesurupan merupakan tindakan yang menyederhanakan masalah karena kesurupan merupakan masalah psikologi sekaligus sosiologis, oleh karenanya tidak bisa ditanggulangi oleh kegiatan membaca "kitab suci."

Minggu, 10 Oktober 2010

10-10-10

Tidak sedikit orang menganggap bahwa tanda-tanda tertentu - seperti angka-angka - yang terdapat di sekitarnya memiliki sebuah makna. Orang-orang yang mempercayai hal tersebut juga yakin bahwa angka dapat menyingkapkan sesuatu yang dalam dan hal itu mempengaruhi hidup dan kehidupan di sekitarnya. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa angka pada dirinya sendiri sesungguhnya memiliki makna terselubung yang jika orang mampu memahaminya hal tersebut bisa bermanfaat baginya, seperti: menghindar dari kemalangan dan mencapai kesuksesan. Inilah sepertinya yang diyakini banyak warga Cina di seantero negeri itu ketika mereka berbondong-bondong mendaftarkan diri dan pasangannya untuk menikah pada tanggal 10 bulan 10 (Oktober) tahun 2010. 

Kepercayaan 10-10-10 akan membawa berkah bagi warga Cina di negerinya berasal dari bahasa Mandarin angka 10-10-10 itu yang artinya "sempurna dalam semua sisi." Dengan berdasar pada permainan angka dan kata-kata itulah warga Cina percaya bahwa jika mereka mengadakan acara pada 10-10-10 maka hidup mereka selanjutnya akan mengalami keuntungan. Namun demikian, permainan angka yang dipadukan dengan kata-kata tersebut tidak menjelaskan apa dan bagaimana hubungan 10-10-10 dengan "keuntungan" dan "kesempurnaan" yang dimaksud. Jika 10-10-10 akan membawa keuntungan dan kesempurnaan, bagaimana orang menjelaskan hubungan semua kedua hal itu (angka dan keuntungan). Apakah hanya berdasar pada arti 10-10-10 dalam bahasa Mandarin yang maknanya "sempurna dalam semua sisi" tadi? Jika ya, maka penjelasan yang berdasar hanya pada makna angka-angka itu sangatlah lemah karena tidak didukung oleh fakta yang tengah terjadi saat ini di Cina, di mana bencana alam sedang melanda Cina.

Seperti telah diungkapkan dalam berita di atas, banyak warga Cina tidak mempedulikan bencana alam yang sedang menghantam negerinya demi "keuntungan" yang bisa diperoleh melalui 10-10-10 itu. Kenyataan bahwa banyak orang (warga Cina) tidak peduli pada sisi lain yang bisa muncul dari permainan angka yang dilakukannya menunjukkan dengan jelasa bahwa banyak orang cenderung memaknai dan mempercayai sesuatu yang sudahl lebih dulu dipercayainya. Maksudnya, orang-orang seperti itu tidak mau melihat apalagi memperhitungkan bahwa sesuatu yang dipercayainya itu tidak lebih dari sekadar hasrat dirinya yang ingin membenarkan keyakinannya yang  dibentuk dan dipengaruhi oleh sesuatu sehingga ketika ada hal lain yang bertentangan dengan kepercayaannya tersebut, maka mereka pun menolaknya. 

Inilah yang dinamakan dengan selective thinking. Artinya, orang-orang yang mengalami selective thinking hanya mau menerima atau mempercayai sesuatu yang sesuai dengan keinginan atau kepercayaan yang sudah dimilikinya lebih dulu. Orang-orang yang mengidap hal ini tidak akan mau menerima kenyataan bahwa keyakinannya salah karena tidak didukung oleh bukti yang jelas. Orang yang mengalami selective thinking tidak akan pernah bisa mengubah keyakinannya sekalipun bukti yang ada sama sekali bertolak belakang dengan keyakinan yang dimilikinya. Oleh karena itulah tidak heran jika banyak warga Cina negerinya tersebut yang tidak peduli dengan kenyataan "negatif" yang muncul dari 10-10-10, tetapi percaya bahwa 10-10-10 hanya akan membawa keuntungan bagi mereka.

Sabtu, 09 Oktober 2010

Daun Mangga Berdesah

Daun pohon mangga miliknya mengeluarkan suara desahan seperti orang bernafas, menurut pengakuan Hamran Datundugon. Karena pengakuannya tersebut banyak warga yang tinggal di sekitarnya berbondong-bondong mendatangi pohon itu untuk membuktikannya. Pengakuan pemilik pohon mangga tersebut diamini oleh tetangganya yang juga pernah mendengar suara yang sama, bahkan ia mengaku suara itu dapat terdengar sampai rumahnya meski samar-samar. Ia pun mengklaim bahwa pada saat itu tidak ada angin berhembus yang bisa menyebabkan daun-daun di pohon itu bergoyang sehingga dapat menghasilkan bunyi.  

Apakah pengakuan orang-orang yang mengatakan daun pohon mangga berdesah tanpa sama sekali ada angin bisa diterima dan dipercaya? Berikut adalah beberapa tanggapan dan pertanyaan yang mencoba menganalisis dan menguji keakuratan pengakuan dan keakuratan fenomena tersebut.

Pertama, pengakuan itu berasal hanya dari beberapa orang dan tidak didukung oleh pengakuan yang sama dari lebih banyak orang.

Kedua, sekalipun pengakuan itu berasal dari banyak orang, tidak serta-merta membuat pengakuan tersebut benar. Artinya, banyaknya orang tidak bisa dijadikan patokan untuk menyimpulkan bahwa sesuatu itu benar atau peristiwa tertentu sungguh-sungguh terjadi.

Ketiga, apa yang membuat daun pohon mangga milik Hamran Datundugon "istimewa" sehingga bisa mengeluarkan suara seperti orang berdesah sedangkan pohon mangga lainnya di seluruh dunia tidak bisa mengeluarkan suara seperti miliknya? Pertanyaan yang juga harus bisa dijawab adalah: mengapa daun pohon mangga tersebut mengeluarkan suara seperti desahan manusia?

Keempat, mengapa dikatakan ketika hari terang (bukan malam) daun pohon mangga itu tidak mengeluarkan suara? Mengapa ia hanya mengeluarkan desahan pada malam hari dan tidak pada siang hari?

Jika poin ketiga bisa dijawab, maka fenomena daun mangga yang berdesah itu bisa diperhitungkan sebagai peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi dan bukan rekaan orang-orang yang sengaja melakukannya, entah awalnya berpikir pohon itu bisa mengeluarkan suara seperti desahan manusia ataupun sengaja mengarang cerita sehingga pohon dan dirinya menjadi tenar. Namun, jika poin ketiga tidak bisa dijawab, maka pengakuan mengenai daun mangga yang dianggap bisa berdesah itu tidak lebih dari kebohongan.

Jumat, 08 Oktober 2010

Lompat pada Kesimpulan

Begitu banyak orang, sengaja atau tidak sengaja, langsung lompat pada kesimpulan tanpa terlebih dulu menganalisis pendapat, penglihatan, atau pengetahuan yang ada. Beberapa hal bisa dianggap sebagai penyebab, seperti:

1. Tiadanya pengetahuan yang memadai untuk melakukan pertimbangan dan penilaian. Orang seperti ini nyaris tidak bisa melakukan pertimbangan dan penilaian karena kurangnya pengetahuan yang dimiliki. Jika orang dalam kategori ini tidak mau memperluas wawasannya, maka orang-orang dalam kategori ini cenderung mengikuti pandangan orang-orang tertentu (otoritas) dan/atau pandangan umum yang berlaku di masyarakat.

2. Kemalasan yang dimiliki seseorang sehingga ia sengaja tidak mau melakukan pertimbangan dan penilaian. Orang-orang dalam kategori ini enggan memperkaya wawasan dan pengetahuannya sehingga mereka mendasarkan pendapatnya pada pandangan otoritas tertentu dan/atau suara terbanyak (popularitas) suatu hal. 

3. Takut pada otoritas tertentu. Orang dalam kategori ini bukannya hormat pada otoritas tertentu, tetapi takut pada otoritas karena mungkin, takut dikucilkan. Ia takut dianggap dianggap sebagai pemberontak/pengkhianat/musuh karena memiliki pandangan yang berbeda dari otoritas itu.

4. Pengetahuan yang tidak didasarkan pada pikiran kritis dan sikap skeptis. Berbeda dari poin no. 1, pada poin ini seseorang memiliki pengetahuan yang cukup mengenai suatu hal namun hal itu tidak ditopang oleh pemikiran kritis dan sikap skeptis. Artinya, pengetahuan yang dimilikinya itu tidak ditunjang oleh berbagai bukti relevan dan argumen jernih. Orang dalam kategori ini menganggap langsung menganggap bahwa pengetahuan yang ada (yang dimilikinya) sebagai kebenaran tanpa berusaha mengujinya terlebih dulu dan berulang kali.


Beberapa fenomena unik yang muncul pada malam hari di langit Cina yang terjadi belakangan dan diyakini banyak warga Cina sebagai penampakan UFO merupakan salah satu contoh di mana orang tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai suatu objek/fenomena (poin 1). Hal itu  diperparah oleh keengganan orang untuk memperkaya pengetahuan (poin 2) sehingga mereka pun mudah menyimpulkan sesuatu tanpa sebelumnya melakukan pertimbangan dan penilaian yang didasarkan pada berbagai bukti relevan dan argumen yang jernih. Akibatnya adalah kesimpulannya pun mudah ditebak dan sangat sederhana: fenomena unik yang terjadi di langit pada malam hari merupakan UFO. Itulah yang dinamakan dengan lompat pada kesimpulan tanpa sebelumnya melakukan pertimbangan dan peniliaian yang cermat.

Selasa, 05 Oktober 2010

Ribuan Orang Menonton Kuntilanak Terbang

Warga kota Mamuju, Propinsi Sulawesi Barat (Sulbar) geger karena menyaksikan kuntilanak yang melayang-layang di atas sebuah rumah kosong di Jalan Macciranae. Diakui warga setempat bahwa kuntilanak itu terbang dan menghilang di langit menjelang tengah malam. Para saksi mata mengaku jika peristiwa itu terjadi lebih dari satu kali alias berulang kali. Dikabarkan juga bahwa peristiwa tersebut disaksikan bukan oleh beberapa atau puluhan orang, bahkan disaksikan ribuan orang. Apakah peristiwa penampakan kuntilanak yang disaksikan ribuan orang terbang berulang kali menjelang tengah malam itu bisa diperhitungkan sebagai sesuatu yang nyata? Apakah pengakuan ribuan orang yang menyaksikan peristiwa yang sama bisa dianggap sebagai kebenaran? Apakah pengakuan ribuan orang itu bisa dipercaya?

Mari kita perhatikan dua pengakuan dalam berita di atas, yang pertama berasal dari Iccal (alinea kedua). Dia mengatakan bahwa sudah beberapa hari belakangan (hingga Sabtu minggu lalu) warga sekitar tempat kejadian muncul dan terbangnya kuntilanak itu geger karena peristiwa tersebut. Pengakuan Iccal tersebut sama sekali tidak menyebutkan apakah ia sendiri pernah menyaksikan peristiwa yang sama melainkan hanya melaporkan bahwa warga dihebohkan oleh kemunculan kuntilanak. Oleh karena itulah ia tidak bisa dianggap sebagai saksi mata. Artinya, Iccal hanya melaporkan pengakuan yang didengar dari orang lain. Ini artinya ia tidak menguji informasih yang diperolehnya dari orang lain. Tidak begitu jelas apakah Iccal sendiri mempercayai pengkuan orang lain atau tidak mempercayainya. Dengan demikian, pengakuan Iccal tersebut tidak bisa dijadikan pegangan, patokan, apalagi dipercaya sebagai kebenaran karena ia hanya melaporkan pengakuan yang diperolehnya dari orang lain dan sama sekali tidak jelas, entah ia percaya ataupun tidak percaya pada informasi yang telah diperolehnya.

Pengakuan kedua berasal dari Bambang (khususnya alinea ketujuh). Berbeda dari Iccal yang sama sekali tidak jelas, apakah ia percaya atau tidak percaya pada kuntilanak yang terbang itu, sementara Bambang, mengaku telah melihat sendiri keberadaan kuntilanak itu. Meski ia mengaku telah melihat sendiri dengan jelas kuntilanak itu, namun ia tidak menjelaskan bentuk/rupa kuntilanak yang dilihatnya, apakah persis sama dengan bentuk/rupa yang sebelumnya dilihat warga, yakni "kain putih yang mengepak-ngepak" (alinea kelima) atau "kain putih melayang di udara yang terbang ke sana kemari" (alinea keenam). Pengakuan Bambang sama sekali tidak berisi informasi mengenai bentuk/rupa makhluk yang dilihatnya melainkan ia hanya mengatakan telah melihat makhluk tersebut. Dengan demikian, pengakuan Bambang pun tidak bisa diperhitungkan sebagai laporan yang kuat karena sama sekali tidak menyediakan informasi yang jelas. Artinya, pengakuan Bambang sangatlah akibat tidak didukung oleh informasi yang relevan.

Hal berikut yang harus juga diperhatikan dari berita di atas adalah banyaknya orang (ribuan) yang mengaku telah melihat kuntilanak itu. Sebagian besar orang begitu mudah menerima/percaya pada pengakuan orang lain dan menganggap jika suatu peristiwa disaksikan orang banyak maka peristiwa tersebut benar atau sungguh-sungguh terjadi. Ini adalah salah satu kesesatan dalam berpikir karena mengandalkan banyaknya suara yang mengatakan hal yang sama mengenai fenomena tertentu. Mengapa sesat? Karena belum tentu banyaknya suara (popularitas) sesuatu menjadikan hal tersebut sebagai kebenaran. Belum tentu suara terbanyak itu yang benar karena bisa saja yang banyak itu telah keliru atau bahkan salah melihat, menganalisis, dan menyimpulkan suatu objek atau fenomena. Inilah yang dinamakan dengan halusinasi massa ketika banyak orang menganggap telah melihat sesuatu dan memperhitungkannya sebagai kebenaran. Contoh: fenomena crop circle yang awalnya dianggap dibuat oleh alien ternyata dibuat oleh orang-orang yang memang sengaja membuatnya, entah untuk menipu orang lain (membuat heboh) ataupun sebagai suatu karya seni.

Dengan demikian, meski suatu peristiwa/fenomena diakui telah disaksikan oleh begitu banyak orang, hal tersebut tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai dan menyimpulkan hal tersebut sebagai kebenaran karena seringkali emosi seseorang terlibat bahkan menguasai orang-orang yang bersangkutan. Artinya, orang-orang tersebut memang sudah datang dengan keinginan yang kuat untuk melihat sesuatu yang sebelumnya sudah dipercayainya, atau setidaknya, mereka datang dengan keinginan yang begitu kuat untuk melihat sesuatu yang memang ingin dilihatnya. Mereka datang karena ingin memuaskan kepercayaan/keyakinan yang sudah dimiliknya terlebih dulu. Oleh karena itulah ketika mereka melihat sesuatu yang unik, janggal, atau aneh mereka segera menafsirkan dan menyimpulkan hal tersebut sebagai sesuatu yang sudah diyakininya. Dengan berdasar pada penilaian seperti inilah, maka fenomena kuntilanak yang melayang seperti di dalam berita di atas dianggap sebagai kebenaran oleh ribuan warga.

Jadi, bagaimanakah sikap yang bijak dalam menanggapi berita-berita dan berbagai pengakuan orang khususnya yang berbau paranormal? Pertama, orang harus dengan sadar penuh mencurigai suara terbanyak karena hal tersebut bisa saja salah karena sesungguhnya yang dialami orang banyak itu adalah apa yang dinamakan dengan halusinasi. Kedua, orang harus mengawasi emosi yang seringkali mengendalikan dirinya. Artinya, seseorang harus sadar penuh bahwa ia tidak boleh melibatkan emosinya ketika menafsirkan, menilai, dan menyimpulkan suatu peristiwa/fenomena. Bagaimana cara mengawasi dan mengendalikan kedua hal tersebut? Gunakanlah ilmu pengetahuan untuk menilai setiap hal yang bernuansa paranormal dan supernatural, tentu, dengan ditopang oleh pikiran kritis dan sikap skeptis. Jika ini dilakukan maka tidak akan terjadi hal seperti yang dialami ribuan warga Sulbar yang menafsirkan dan menyimpulkan kain putih yang melayang di udara sebagai makhluk yang disebut dengan kuntilanak yang sampai beberapa hari membuat heboh warga.

Senin, 04 Oktober 2010

Hantu Pendendam

Ternyata kemunculan hantu pok-pok yang akhir pekan lalu meresahkan warga Kecamatan Sario, Kelurahan Titiwungen, sekitar Kompleks Rumah Makan Srisolo, Manado, Sulawesi Utara, masih berlanjut. Hal ini dikarenakan ia (hantu pok pok laki-laki) tersebut hendak membalaskan dendam kematian teman perempuannya karena dibunuh oleh tonaas. Berdasar berita tersebut baru diketahui, setidaknya oleh saya bahwa: pertama, hantu memiliki jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) seperti manusia dan, kedua, hantu memiliki "perasaan" balas dendam. Pertanyaan yang bisa diajukan berkaitan dengan pernyataan di atas adalah: bagaimana orang-orang yang mengaku melihat hantu pok pok itu bisa sampai pada kesimpulan bahwa ada hantu pok pok laki-laki dan perempuan? Bagaimana orang-orang itu bisa mengatakan jika hantu pok pok yang datang hendak membalaskan dendam kematian temannya?

Selain hal (baru) di atas, berita di atas juga mengandung kejanggalan atau keanehan, berkaitan dengan lamanya peristiwa itu. Peristiwa kemunculan/penampakan hantu pok pok tersebut sudah berlangsung sejak akhir pekan lalu dan peristiwa tersebut telah menarik perhatian banyak warga, bahkan dikabarkan puluhan kendaraan bermotor terlihat di sekitar lokasi peristiwa tersebut. Ini menandakan banyaknya orang yang mendatangi tempat tersebut karena sengaja hendak menyaksikan peristiwa itu. Jika demikian yang terjadi, masakan tidak ada seorang pun yang merekam peristiwa langka tersebut, entah dengan kamera ataupun telepon genggam. Tiadanya objek hasil rekaman - video dan/atau foto - bisa dianggap sangat janggal khususnya di era teknologi maju seperti sekarang ini, karena bertentangan dengan kebiasaan sebagian banyak orang yang berusaha mengabadikan sebanyak atau sesering mungkin, khususnya hal-hal yang dianggapnya unik. Dengan demikian, tidak adanya satu pun video dan/atau foto bisa dikatakan sebagai sesuatu yang janggal sekali bahkan tidak mungkin terjadi.

Hal aneh berikut yang sangat kentara mengenai adanya ketidakkonsistenan, setidaknya bisa dibaca melalui berita tersebut, di mana pada paragraf keempat dikatakan hantu pok pok tersebut berjenis kelamin perempuan, namun pada paragraf ketujuh diakui hantu pok pok itu berjenis kelamin laki-laki. Ketidakkonsistenan tersebut terjadi di antara orang-orang yang mengaku telah melihat keberadaan hantu tersebut. Jika demikian kenyataannya, maka pertanyaan yang segera mengemuka adalah: apakah di antara orang-orang itu melihat dua hantu yang berbeda? Jika ya, maka hal tersebut semakin menimbulkan keanehan karena sejak awal sepertinya warga hanya melihat atau merujuk pada hantu yang sama. Jika mereka sebenarnya melihat hantu yang sama, namun mengapa pengakuan di antara mereka tidak konsisten?

Dengan demikian, ada tiga kejanggalan/keanehan yang bisa ditemukan dalam berita di atas: 

1. Persoalan bagaimana mengenali, membedakan, dan menentukan mana jenis hantu laki-laki dan perempuan karena sama sekali tidak dijelaskan. Bahkan kalimat terakhir alinea keempat dikatakan "manusia jadi-jadian itu diperkirakan perempuan." Jelas, pernyataan tersebut sama sekali tidak bisa diperhitungkan sebagai kebenaran karena yang mengakuinya pun, entah sadar ataupun tidak sadar sesungguhnya tidak yakin pada jenis kelamin hantu pok pok yang telah dilihatnya.

2. Sama sekali tidak adanya hasil rekaman yang berupa, baik foto maupun video merupakan yang sangat janggal, khususnya di zaman yang perkembangan teknologinya sangat pesat, di mana kebanyakan orang memiliki hasrat yang cukup kuat untuk mengabadikan berbagai yang terjadi di sekitarnya, terlebih jika hal tersebut dianggapnya unik atau langka. Tentu, keberadaan hantu pok pok tergolong fenomena yang sangat unik dan langka, dan oleh karenanya bisa dipastikan banyak orang berusaha mengabadikannya. Namun kenyataannya, tidak ditemukan sebuah foto atau video yang jelas mengenai hantu tersebut.

3. Adanya ketidakkonsistenan di antara orang-orang yang mengaku melihat hantu itu karena ada yang mengatakan hantu tersebut berjenis kelamin laki-laki, namun ada juga yang mengatakan hantu yang sama berjenis kelamin perempuan. Ini merupakan hal yang sangat janggal karena ketidakkonsistenan di antara orang-orang yang melihat diperhitungkan sebagai kelemahan. Artinya, semakin sulit untuk mempercayai pengakuan/laporan siapa atau manakah yang bisa dipercaya karena adanya dua laporan yang berbeda.


Apakah memang ada yang dinamakan hantu pok pok seperti diakui oleh warga Kecamatan Sario, Kelurahan Titiwungen, Manado, Sulawesi Utara? Setelah memperhatikan ketiga kejanggalan di atas yang sangat vital, maka bisa dikatakan hantu pok pok hanyalah rekaan warga yang sejak semula memang sudah percaya dan/atau cenderung mau percaya pada sesuatu yang bernuansa paranormal. Dengan demikian, sama sekali tidak mengherankan jika banyak warga mudah percaya pada keberadaan hantu pok pok tersebut.

Hantu Pok Pok

Warga Kecamatan Sario, Kelurahan Titiwungen, Manado, Sulawesi Utara, belakangan ini tidak tenang karena dihantui oleh kehadiran hantu pok pok yang dipercaya suka menyantap bayi. Tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai bentuk atau ukuran hantu pok pok tersebut, namun warga yakin akan keberadaan makhluk tersebut. Tidak dijelaskan bentuk dan ukuran hantu pok pok merupakan hal yang lain dari kebiasaan selama ini, di mana warga yang percaya pada keberadaan "makhluk halus" seperti kuntilanak dan pocong selalu memberikan keterangan mengenai bentuk dan ukurannya, bahkan dengan cukup rinci. Artinya, baru kali ini warga yang percaya pada keberadaan "makhluk halus" tertentu tidak memberikan keterangan mengenai bentuk dan ukuran makhluk yang dimaksud.

Sementara salah satu sumber yang sepertinya dipercaya oleh warga adalah pengakuan seorang remaja yang pernah menyaksikan perkelahian antara pok pok dan tonaas. Remaja tersebut bahkan mengaku bahwa ia menyaksikan perkelahian antara kuasa jahat (pok pok) dan kuasa baik (tonaas) itu yang awalnya terjadi di lapangan kosong hingga mereka saling berkejaran ke sebuah pekuburan yang ada pohon besarnya. Berdasar pada pengakuan remaja tersebut, maka bisa diajukan beberapa tanggapan/pertanyaan: 

1. Jika peristiwa tersebut terjadi di lapangan kosong, apakah ada orang lain yang menyaksikan peristiwa tersebut?

2. Pada pukul berapakah peristiwa itu terjadi di lapangan kosong seperti pengakuan remaja tadi karena, entah terjadi pada waktu siang hari ataupun malam hari, masakan tidak ada orang lain yang menyaksikan peristiwa itu?

3. Sepertinya peristiwa tersebut juga tidak terjadi dalam waktu yang singkat, maka kemungkinan remaja tersebut histeris (berteriak-teriak) sehingga menarik perhatian orang banyak umumnya terjadi, namun berdasar pada pengakuannya, sepertinya hanya dia yang menyaksikan peristiwa tersebut. Bukankah ini merupakan hal yang janggal karena dalam waktu yang cukup lama tidak ada orang lain yang menyaksikan peristiwa itu?

Berita sangat pendek mengenai keberadaan hantu pok pok  yang dipercaya warga tersebut merupakan tipikal kisah-kisah "pertempuran" yang terjadi antara kuasa jahat dan kuasa baik, di mana kuasa jahat direpresentasikan melalui keberadaan hantu pok pok sedangkan kuasa baik diwakili melalui keberadaan figur tonaas. Hal ini bukanlah sesuatu yang janggal apalagi aneh karena pemikiran warga dan begitu banyak orang yang masih dikuasai oleh dualisme antara "baik" lawan "jahat," "dunia atas" dan "dunia bawah," dan "terang vs. "kegelapan." Sejauh kedua polarisasi tersebut dipahami secara metaforis, tidak terlalu bermasalah karena orang menganggap dan memahaminya sebagai gaya bercerita suatu tradisi di daerah tertentu. Namun, jika hal yang sama dipahami secara letterlijk (harfiah), maka kisah seperti berita di atas-lah yang terjadi.

Berita di atas bukan saja akibat pemahaman yang harfiah terhadap tradisi yang turun-temurun (perhatikan: yang mengaku pernah melihat wujud pok pok dan tonaas hanyalah seorang remaja), namun terlebih, merupakan upaya mewujudkan tradisi yang selama ini diturunkan melalui kisah-kisah serupa (tradisi lisan dan mungkin juga tradisi tulisan) ke dalam ke dalam bentuk yang lebih nyata dan hidup. Oleh karena itulah warga yang awalnya sudah pernah mendengar cerita yang serupa sejak kecil atau remaja dari orang-orang tua atau kakek dan nenek menjadi semakin tertarik dan mudah percaya ketika objek yang sama muncul secara nyata dan diyakini hidup di sekitar mereka. Jika ini yang terjadi, maka reaksi warga kompleks Titiwungen Manado, Sulawesi Utara, sama sekali tidak aneh apalagi mengangetkan karena sejak awal mereka sudah pernah mendengar kisah serupa yang kemudian dinyatakan "hidup" di sekitar mereka. Inilah yang dinamakan: awalnya hanya "hidup" dalam pikiran dan dunia imajinasi, namun kemudian menjadi nyata dalam kehidupan yang sesungguhnya.

Jumat, 01 Oktober 2010

Salah Panggil

Setelah "kasus" salah penanganan yang dilakukan sebuah sekolah dengan memanggil polisi untuk menangani masalah psikologis yang dialami murid-muridnya, sekarang kasus yang serupa dilakukan sekolah lainnya ketika berusaha menangani permasalahan yang sama. Peristiwanya adalah ketika belasan murid salah satu SD di Kota Jambi mengalami kesurupan. Seperti yang dipahami dan diyakini kebanyakan orang lainnya, di mana fenomena kesurupan diakibatkan oleh makhluk halus yang masuk dan mengganggu jasmani seseorang, dan karenanya sekolah tersebut memanggil "orang pintar" untuk mengusir makhluk halus tersebut.

Tindakan yang dilakukan sekolah tersebut sangatlah tidak bijak dan sama sekali tidak tepat karena menunjukkan bahwa sekolah sama sekali tidak mengetahui permasalahan sesungguhnya yang telah terjadi. Oleh karena itulah para guru bukan hanya perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan, seperti: mendidik anak-anak, bagaimana menangani anak-anak yang membutuhkan penanganan khusus, dan menyusun rencana pengajaran, namun para guru perlu bahkan sangat perlu (melihat banyaknya kasus "kesurupan" yang dialami anak-anak di lingkungan sekolah) dibekali dengan pengetahuan psikologi dasar khususnya psikologi anak dan remaja. Ini dilakukan dengan harapan agar pihak sekolah mampu memberikan penanganan yang bijak dan cermat setiap kali murid (-muridnya) mengalami gangguan, tekanan, atau masalah psikologis di sekolah. Tentu hal seperti ini perlu didukung oleh pemerintah, khususnya Departemen Pendidikan untuk menjadi fasilitator, penyedia, atau  penyelenggara bagi pendidikan atau pelatihan bagi para guru terkait dengan psikologi dasar tersebut.

Jika setiap warga negara Indonesia termasuk pemerintah menganggap bahwa pendidikan adalah hal dasariah yang sangat penting bagi setiap warga (baca: anak), maka penanganan yang bijak dan tepat terhadap anak-anak merupakan sesuatu yang sangat penting dan mendesak untuk direalisasikan, terlebih ketika anak-anak mengalami peristiwa tertentu di lingkungan sekolah. Tentu, penanganan yang bijak dan tepat terhadap anak-anak yang dilakukan di sekolah sudah seharusnya dilakukan dengan berdasar pada pengetahuan relevan yang ditopang oleh pemikiran kritis yang memadai. Pengetahuan relevan yang dimaksud dalam konteks ini adalah dengan memperhatikan perkembangan psikologis anak/remaja dan konteks sosial di mana mereka hidup, baik di lingkungan sekolah bersama teman-temannya, hubungannya dengan para guru, dan tugas-tugas sekolah, maupun di rumah bersama keluarga, pergaulan di sekitar rumah, dan tugas-tugas yang dikerjakan di rumah. Ketika perkembangan psikologis anak/remaja diperhatikan dalam kaitannya dengan konteks sosial anak/remaja yang luas, maka diharapkan para guru mampu memahami sedikit-banyak murid-muridnya. Tentu tidak secara keseluruhan dan mendalam, namun setidaknya, para guru cukup bisa mengetahui ketika murid (-muridnya) mengalami masalah psikologis tertentu.

Tawaran atau saran di atas bukanlah suatu mission impossible atau sesuatu yang mengawang-awang, namun sebaliknya, suatu yang sangat masuk akal, realistis, dan tidak sulit untuk diejawantahkan. Hal yang dibutuhkan adalah kemauan dan komitmen untuk memperlakukan dan menangani anak-anak didik dengan bijak dan tepat yang semuanya dilandaskan pada pengetahuan yang relevan dan pemikiran kritis yang memadai. Jika ini bisa dilakukan maka niscaya pihak sekolah tidak perlu dan tidak akan memanggil "orang pintar" ke sekolah karena yang dialami anak-anak itu sesungguhnya adalah perihal psikologis bukannya sesuatu yang bernuansa paranormal.

Selasa, 28 September 2010

Mengapa Baru Sekarang?

Enam mantan anggota Angkatan Udara AS tidak lama lagi akan mengungkapkan kepada umum bahwa UFO beberapa puluh tahun lalu telah merusak fasilitas persenjataan nuklir AS. Mereka mengatakan bahwa puluhan tahun lalu UFO pernah beberapa kali mengganggu bahkan mengacaukan peralatan nuklir AS, seperti yang terjadi di Pangkalan Udara Malmstrom di Montana tahun 1967 dan yang terjadi pada tahun 1948 (tempatnya tidak disebutkan). Mereka juga hendak mengungkapkan bahwa selama ini Angkatan Udara AS telah berbohong mengenai keamanan nasional akibat munculnya benda di angkasa yang berada di dekat pangkalan-pangkalan nuklir AS. Oleh karena itulah mereka hendak membongkar berbagai kebohongan yang telah dilakukan pihak Angkatan Udara AS mengenai keberadaan UFO dan dampaknya terhadap keamanan nasional AS. 

Beberapa pertanyaan sekaligus tanggapan yang segera muncul setelah membaca berita tersebut adalah:

1. Mengapa baru sekarang keenam mantan anggota Angkatan Udara AS itu akan mengungkapkan fakta mengenai keberadaan UFO yang diakui telah beberapa kali mengganggu bahkan mengacaukan peralatan nuklir AS? Bahkan berdasar pada pengakuan mereka kedatangan UFO sudah terjadi sejak tahun 1948. Mengapa setelah lebih dari 60 tahun mereka baru akan mengungkapkan hal tersebut kepada khalayak? Bukankah waktu lebih dari 60 tahun itu terlalu lama untuk menyimpan sebuah cerita atau kenyataan yang bisa menghebohkan sangat banyak orang? Mengapa baru sekarang?

2. Siapa yang selama ini telah membuat mereka bungkam sehingga mereka tidak berani mengutarakan apa yang memang telah mereka lihat puluhan tahun lalu itu? Bahkan mulut mereka dibungkam sampai lebih dari 60 tahun? Apakah Angkatan Bersenjata atau pemerintah AS yang telah membuat mereka bungkam hingga begitu lama? Dan setelah pensiun mereka baru berani mengutarakan yang sesungguhnya. Mungkin saja.

3. Jika seperti yang dikatakan mereka bahwa selama ini Angkatan Udara AS telah berbohong mengenai keberadaan UFO dan dampaknya terhadap keamanan nasional AS, ini berarti Angkatan Udara AS mengetahui bahwa memang UFO dan makhluk luar angkasa itu memang sungguh-sungguh ada bahkan telah beberapa kali memasuki bumi (AS) termasuk mengganggu dan mengacaukan peralatan nuklir AS. Jika demikian, mengapa Angkatan Udara AS berbohong mengenai keberadaan UFO dan "kunjungan"-nya ke pangkalan-pangkalan nuklir di  AS? Apa manfaat Angkatan Udara AS dengan melakukan kebohongan seperti itu? Apa kepentingan Angkatan Udara AS dalam "bisnis" UFO tersebut dan seberapa penting Angkatan Udara AS sampai perlu berbohong mengenai keberadaan UFO bahkan sampai dampaknya pada keamanan nasional AS. Bukannya selama ini pemerintah AS malah dikenal dengan kehebohannya jika berkaitan dengan masalah keamanan, termasuk "keamanan" bangsa lain. Jika pemerintah AS menganggap UFO penting dalam kaitannya dengan keamanan nasional, maka hampir bisa dipastikan pemerintah akan menginformasikannya terhadap warganya.

Pemerintah AS memang dikenal suka menyembunyikan informasi, namun selama ini selalu saja informasi itu akhirnya diketahui (baca: bocor) sehingga dunia pun tahu karena ada orang dalam yang akhirnya "berkicau." Jika demikian, mengapa informasi mengenai kedatangan UFO kemudian mengacaukan peralatan nuklir AS tersebut bisa tersimpan begitu rapi sampai tidak diketahui sama sekali sekalipun oleh warga AS sendiri. Suatu hal yang nyaris tidak mungkin terjadi, khususnya dalam negara seperti AS yang cukup terkenal terbuka.

4. Keenam mantan anggota Angkatan Udara AS tersebut menyebut tahun 1967 di mana menurut pengakuan mereka UFO telah mengacaukan fasilitas nuklir yang terdapa di Pangkalan Udara Malmstrom di Montana. Pada tahun itu AS terlibat - lebih tepatnya melibatkan diri - dalam konflik Vietnam dengan mengirim banyak pasukan ke sana. Dalam perang Vietnam tersebut Amerika kehilangan begitu banyak tentara, bahkan bisa dikatakan AS mengalami kekalahan dalam perang tersebut karena dampak yang psikologis yang begitu hebat terhadap pemerintah AS (diprotes keras oleh warganya sendiri karena turut campur dalam urusan politik negara lain yang akhirnya mengakibatkan kerugian fisik dan psikologis).

Berdasar kenyataan seperti itu bisa saja dikatakan bahwa keenam pensiunan Angkatan Udara AS itu dengan sengaja menyebut tahun 1967 karena ketika itu AS sedang getol-getolnya terlibat dalam perang Vietnam, namun mengalami kekalahan. Seandainya saja UFO pada tahun itu tidak mengganggu dan mengacaukan fasilitas nuklir di AS, maka mungkin saja akhir perang Vietnam bisa berbeda karena nuklir AS bisa diluncurkan dari pangkalannya. Tentu saja, analisis seperti ini bisa dianggap gila atau berlebihan oleh banyak orang, namun setidaknya, analisis seperti itu tidak mengada-ada karena didasarkan pada latar belakang relevan yang terjadi ketika itu. Artinya, pada tahun itu (1967) AS tidak sedang adem-ayem melainkan sedang sibuk dan heboh berperang di Vietnam.

Setelah memperhatikan beberapa argumen di atas maka jelas ada beberapa keberatan terhadap pengakuan keenam pensiunan Angkatan Udara AS mengenai keberadaan bahkan kedatangan UFO yang diakui telah mengacaukan fasilitas nuklir AS. Keempat argumen di atas untuk sementara mengatakan bahwa niat tertentu yang diupayakan oleh keenam orang tersebut, entah mereka melakukannya sendiri ataupun didukung oleh pihak lain yang memiliki kepentingan apakah itu politik atau memang sekadar cari perhatian atau hendak membuat heboh dengan "teori" mengenai UFO-nya. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa pernyataan keenam orang tadi mengenai keberadaan dan apa yang telah dilakukan UFO di negeri Barrack Obama pada puluhan tahun yang lampau sangat diragukan kebenarannya karena sangat lemah akibat tidak didukung oleh argumen yang kuat.

Selasa, 21 September 2010

Iseng

Memang harus diakui jika banyak orang menyukai atau tertarik pada hal-hal misterius, seperti penampakan hantu, kuntilanak, tuyul, dan sejenisnya. Hal itu ditunjukkan dengan tidak sedikit nang yang mudah dan cepat memberikan berbagai penafsiran paranormal terkait dengan hal-hal itu tanpa memperhatikan berbagai bukti relevan karena mereka mudah percaya pada dan mengikuti opini publik. Oleh karena itu, banyak orang yang menafsirkan hal-hal misterius yang ditemui, bahkan hanya didengarnya dari orang lain itu secara berlebihan sehingga terkesan panik. Inilah sepertinya yang baru-baru ini dialami warga Kelurahan Komet, Kota Banjarbaru, Kalimantan, mengenai penemuan barang aneh yang dinamakan dengan jenglot. 

Warga Kota Banjarbaru mengaku ketika  mereka kembali setelah memanggil Satpol PP setempat untuk melaporkan penemuan benda aneh tersebut ternyata benda itu telah berpindah tempat sekitar 5-6 meter dari tempat semula ketika ditemukan warga. Tak pelak lagi hal tersebut semakin membuat warga terkejut, panik, dan merasa ada sesuatu yang sungguh aneh berkaitan dengan benda tersebut. Padahal warga tidak perlu merasa terkejut, panik, apalagi aneh mengenai keberadaan benda tersebut, terlebih menafsirkannya sebagai benda dan peristiwa yang berbau mistis atau paranormal. Mengapa? karena sangat mungkin hal itu tidak lebih dari keisengan orang (sekelompok orang) yang dengan sengaja telah melakukannya untuk menakut-nakuti atau membuat panik warga. Dan memang terbukti, banyak warga yang terkejut bahkan panik akibat adanya benda tersebut. Buktinya, warga sampai melaporkan hal tersebut kepada Satpol PP setempat. 

Jangan-jangan jika suatu hari ada penemuan yang dianggap lebih heboh, aneh, dan mengejutkan warga, mereka akan melaporkannya pada polisi atau mungkin juga TNI. Jika ini benar-benar terjadi, betapa berlebihannya sikap warga tersebut. Sikap yang seharusnya sama sekali tidak perlu terjadi seandainya warga memiliki daya pikir kritis dan sikap skeptis yang memadai, khususnya terhadap berbagai hal yang selama ini dianggap paranormal dan/atau supernatural.

Sabtu, 18 September 2010

Hantu Penunggang Kuda

Inilah contoh yang sangat nyata di mana pikiran manusia dengan sengaja dibentuk (dibuat sedemikian rupa) sehingga percaya pada objek yang dilihatnya. Awalnya pasangan (Stephen dan Sue Berringer) warga negara Inggris tersebut tidak menyadari jika objek yang diabadikan oleh kamera mereka tersebut adalah sosok yang mirip dengan sosok dalam sebuah film, namun setelah dilihat terus seraya "memanggil" ingatan mereka yang mirip dengan objek di foto, akhirnya mereka pun cukup yakin jika objek di foto mereka adalah gambar hantu.

Mari kita perhatikan satu demi satu keterangan yang terdapat dalam berita tersebut:

1. Mereka pun takut dan tercengang karena ketika mengambil foto di air terjun Ingleton di Yorkshire Dales (Inggris) itu tidak melihat obyek apa pun yang mencurigakan (alinea kedua).

Tanggapan: ini merupakan contoh di mana awalnya orang tidak sadar karena tidak memikirkan hal-hal yang bernuansa paranormal melainkan hanya berpikir mengenai keindahann alam yang diabadikan melalui kamera. Namun, ketika orang mulai berpikir mengenai hal yang bernuansa paranormal dan mencoba mengaitkan objek yang diabadikan melalui kamera pada sesuatu yang bernuansa paranormal itu, maka yang terjadi adalah seperti yang terdapat dalam poin di bawah.

2. Sosok laki-laki berjubah dan berwajah seram itu dicermati agak lama ketika mereka memerhatikan di layar komputer dan mengingat-ingat apakah ada obyek di air terjun itu (alinea keempat).

Tanggapan: ini adalah contoh yang sangat jelas ketika orang mulai mengingat-ingat objek tertentu yang pernah dilihat/disaksikannya kemudian mencoba menghubungkan objek dalam ingatannya tersebut dengan objek sedang dilihatnya. Inilah yang sesungguhnya terjadi pada pasangan dalam berita di atas, di mana mereka berusaha melihat objek dalam foto yang telah mereka abadikan dalam kaitannya dengan objek yang terdapat dalam memori otak mereka. Hasilnya jelas, ingatan mereka menutupi bahkan menggantikan objek dalam foto tersebut. Artinya, ingatan mereka telah menjadi sesuatu yang nyata melalui dan di dalam objek foto itu.

3. Setelah dicermati, air mengalir itu membentuk sebuah obyek seperti seorang laki serem yang mirip hantu Nazgul dalam film Lord of the Rings (alinea keenam).

Tanggapan: ketika orang berhasil "memanggil" sebuah objek dalam ingatan mereka dan mampu memproyeksikannya dengan sangat jelas, maka hasilnya adalah pernyatan seperti yang terdapat dalam poin ketiga ini. Dan satu kata yang perlu digarisbawahi dalam pernyataan di atas adalah "mirip." Banyak orang, entah disadari ataupun disengaja telah mengaburkan pengertian kata "mirip" tersebut dengan mengartikannya sebagai sesuatu yang "sama persis." Kata "mirip" tidak berarti objek yang dimaksud "sama persis" melainkan memiliki pola atau garis atau bentuk yang menyerupai alisa tidak persis sama.

4. "Kami tidak melihat sesuatu yang luar biasa ketika kami berada di air terjun dan kami bahkan duduk di sana untuk minum kopi" (pengakuan Sue Berringer di alinea ketujuh).

Tanggapan: ini merupakan contoh (tidak disadari) di mana orang berusaha memberikan penegasan bahwa awalnya objek yang dilihatnya bukanlah sesuatu yang aneh/janggal karena hal yang biasa. Namun, seperti telah diungkapkan dalam tanggapan terhadap poin ketiga, objek yang awalnya biasa "berubah" menjadi tidak biasa karena orang yang sama yang melihatnya dengan sengaja telah "memainkan" pikirannya dengan cara "memanggil" ingatannya terhadap objek yang mirip dengan objek dalam foto yang sedang dilihatnya.

5. "Tapi ketika kami tiba di rumah dan melihat sosok gelap seorang pria berjubah, kami pun terheran-heran" (pengakuan Sue Berringer di alinea kedelapan).

Tanggapan: ini merupakan contoh ketika orang berusaha mempertegas bahwa objek yang awalnya biasa telah berubah menjadi objek yang tidak biasa akibat objek yang muncul dalam memori berhasil diproyeksikan dengan jelas terhadap objek dalam foto sehingga  gambaran objek dalam ingatan itu malah "menggantikan" objek dalam foto itu.

6. Menurutnya, tidak ada batu di lokasi air terjun itu sehingga mereka berpikir bahwa bentuk itu tidak sengaja terukir oleh air terjun secara utuh (alinea kesembilan).

Tangggapan: bisa saja memang tidak ada batu di lokasi air terjun itu, namun hal tersebut tidak bisa digunakan sebagai alasan untuk menjelaskan bahwa itu merupakan hantu seperti di dalam film Lord of the Rings. Lebih dari itu, tiadanya batu di lokasi air terjun tersebut tidak menjelaskan apa-apa. Oleh karena itu, diperlukan penjelasan yang memadai, mengapa air tersebut bisa membentuk "gambar" hantu dalam film tadi. 

Pertanyaan di atas bisa dijawab dengan menerapkan Pisau Ockham. Oleh karena hal itu (air terjun) merupakan salah satu fenomena alam, maka jawabannya pun harus dicari melalui alam. Dengan demikian, salah satu kemungkinan yang paling kuat adalah hal tersebut terjadi karena tiupan angin yang begitu kuat sehingga air terjun itu membentuk pola yang dilihat dan dipercaya pasangan tadi sebagai hantu. Padahal yang terjadi adalah tiupan angin dengan tidak sengaja telah membentuk pola tertentu pada aliran air terjun itu. Sangat sederhana dan alamiah, bukan? ketimbang mencari-cari jawaban dan penjelasan yang dikaitkan dengan sesuatu yang berbau paranormal dan/atau supernatural.

7. Walau begitu, pasangan tersebut tetap tidak yakin bahwa apa yang dipotret adalah hantu (alinea kesepuluh).

Tanggapan: ini merupakan pernyataan yang sangat janggal karena bertentangan dengan "keyakinan" yang dimiliki pasangan tersebut, seperti telah diungkapkan di alinea-alinea sebelumnya, di mana mereka sepertinya cukup yakin jika objek dalam foto tersebut adalah hantu. Seharusnya ketidakyakinan mereka itu ditempatkan di "awal" ketika mereka pertama kali melihat foto itu. Jika ketidakyakinan tersebut ditempatkan di "awal" maka bisa jadi mereka akan mencoba mencari jawaban dan penjelasan yang alamiah dan masuk akal ketimbang memberikan kesimpulan yang bernuansa paranormal. (Pasangan tersebut sama sekali tidak memberikan penjelasan, tetapi langsung menyimpulkan.) 

Ketidakyakinan atau keraguan terhadap suatu objek atau peristiwa - seringkali tidak diketahui dan tidak disadari oleh begitu banyak orang - sesungguhnya merupakan sikap skeptis. Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa banyak orang tidak sadar jika dirinya termasuk kategori skeptik karena ketidakyakinan dan keraguannya terhadap sebuah objek atau suatu peristiwa. Namun, seorang skeptik yang sadar dan sengaja bertindak berdasarkan ketidakyakinan atau keraguannya, dengan sadar penuh dan secara runut berusaha mencari dan mengumpulkan sebanyak mungkin bukti yang relevan mengenai sebuah objek atau suatu peristiwa. Setelah bukti-bukti relevan terkumpul barulah ia menganalisis seraya menjelaskan suatu peristiwa  yang terjadi dengan berdasar pada bukti-bukti yang ada seraya mengawasi berbagai bias dalam dirinya dan kesesatan berpikir. Seorang skeptik tidak mau tergesa-gesa loncat pada kesimpulan sebelum melakukan hal-hal di atas sekaligus menyusun argumentasi-argumentasi relevan, objektif, dan masuk akal berkaitan dengan objek yang dianalisisnya. Oleh karena itulah seorang skeptik awalnya selalu tidak yakin atau ragu, bahkan ciri seorang skeptik ia selalu tidak yakin dan ragu terhadap segala hal terlebih terhadap berbagai penjelasan yang bernuansa paranormal dan supernatural.

8. Memang tidak seketika foto-foto hasil jepretannya di air terjun itu di-copy ke komputer. Namun, selang tiga minggu dari liburan itu baru dimasukkan ke komputer dan anehnya gambar hantu Nazgul tiba-tiba ada dalam fotonya di air terjun itu (alinea kesepuluh).

Tanggapan: sepertinya pernyataan ini hendak mengatakan bahwa hantu yang diyakini pasangan tersebut awalnya tidak ada di dalam foto, namun setelah beberapa hari/minggu hantu itu muncul di dalam foto tersebut setelah foto tersebut dimasukkan dan disimpan di dalam komputer. Apakah ini artinya hasil jepretan foto berbeda dengan yang muncul di layar komputer? Kita tidak bisa mengetahuinya jika jepretan foto itu tidak melalui proses cuci-cetak yang kemudian muncul dalam kertas foto.

Terlepas dari hasil bidikan kamera tersebut, entah berbeda ataupun sama antara yang muncul di layar komputer dan di kertas foto, hal yang sangat jelas dan bisa dikatakan terhadap berita di atas adalah: pasangan warga negara Inggris tersebut dengan sengaja telah memainkan pikirannya sehingga objek yang dilihat di layar komputer merupakan sosok yang mirip dengan figur hantu seperti di dalam film (Lord of the Rings) yang telah mereka tonton. Apa yang dilakukan pasangan tersebut merupakan contoh di mana orang melihat dan menamakan objek yang dilihatnya dengan berdasar pada ingatan yang dimilikinya. Lebih dari itu, banyak orang dengan mudah, bahkan berusaha keras menghubung-hubungkan objek yang sedang dilihatnya dengan objek yang terdapat di dalam memorinya, bahkan tidak sedikit orang yang malah "menutupi/menggantikan" objek dilihatnya dengan objek yang ada dalam ingatannya setelah mereka berusaha "memanggil" ingatannya. 

Ingatan seseorang sama sekali tidak bisa dijadikan ukuran untuk menilai kebenaran suatu peristiwa karena sifatnya yang sangat subjektif. Bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki ingatan tertentu mengenai suatu hal, misalnya: belum menonton Lord of the Rings. Tentu, mereka tidak memiliki gambaran mengenai sosok hantu di dalam film tersebut sehingga tidak mampu mengaitkan objek seperti yang dilihat pasangan tadi dengan hantu dalam film itu. Jangankan ingatan, gambaran mengenai hantu itu saja tidak dimiliki karena belum menonton Lord of the Rings. Hal inilah yang terjadi pada saya ketika melihat objek yang dipercaya sebagai hantu oleh pasangan tadi.