Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Januari 2012

"Kuil" Para Ateis?

Beberapa hari lalu muncul berita bawa direncanakan pembangunan "kuil" untuk para ateis di Inggris. Ide tersebut muncul dari seorang filsuf dan penulis bernama Alain de Botton. Ide pembangunan "kuil" tersebut untuk menepis anggapan bahwa para ateis (seperti digawangi oleh Richard Dawkins and alm. Christopher Hitchens -- keduanya berasal dari Inggris) kaum agresif dan destruktif. Richard Dawkins sendiri mengecam rencana pembangunan tersebut dengan berdasar, setidaknya, pada dua alasan:


1. Kaum ateis tidak butuh bangunan apalagi "kuil" karena lebih baik uangnya digunakan untuk pembangunan sarana-sarana -- seperti bangunan sekolah -- yang melaluinya pendidikan kritis dan rasionalistis dikembangkan dan dikedepankan.


2. Kecurigaan adanya penyalahgunaan uang dalam jumlah besar dalam rencana pembangunan tersebut.
    Sedangkan Alain de Botton berargumen bahwa bangunan tersebut akan menjadi simbol dari cinta, persahabatan, ketenangan, dan perspektif (?). Menariknya, ide pembangunan tersebut bukannya didukung oleh kaum ateis (contohya Richard Dawkins), melainkan malah didukung oleh seorang pendeta Anglikan, George Pitcher, yang mengatakan bahwa pembangunan kuil tersebut bisa menjadi rasa transendensi manusia, bahwa ada sesuatu yang lebih kuasa dan besar daripada keberadaannya.

    Tulisan ini tidak akan memperdebatkan apakah perlu dibangun sebuah bangunan bagi kaum ateis atau tidak, melainkan secara khusus memperhatikan pendapart-pendapat yang dikemukakan pihak-pihak yang terlibat, baik sang pencetus ide (Alain de Botton), pihak yang menolak (Richard Dawkins), maupun pihak yang menyambut baik ide tersebut (George Pitcher).

    Kita mulai dari Alain de Botton. Ia mengungkapkan bahwa ide pembangunan tersebut untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa kaum ateis bukanlah kaum yang agresif dan destruktif. Ini dinyatakannya dengan berdasar pada sikap agresif dan destruktif Richard Dawkins dan Christopher Hitchens (kaum ateis) yang selama ini menyerang (para pemeluk) agama. Ia juga menyatakan bahwa ide mendirikan bangunan tersebut merupakan sesuatu yang baik dan positif layaknya bangunan-bangunan keagamaan yang bersimbolkan tokoh masing-masing agama. Ia pun menggunakan kata "suci" yang dialamatkan pada bangunan yang akan didirikannya.

    Pernyataan Alain de Botton bahwa Richard Dawkins dan Christopher Hictchens adalah kaum ateis yang agresif dan destruktif tidak didasarkan pada bukti-bukti yang kuat. Meski pendapat kedua ateis tersebut mengenai (para pemeluk) agama tidak selalu tepat dan benar, namun itu tidak berarti bahwa mereka adalah orang-orang yang agresif dan destruktif. Agresif? Bisa ya, bisa tidak. Apa buktinya? Bukankah para pemeluk agama jauh lebih agresif dibandingkan para ateis karena mereka (kaum beragama dan bertuhan) berada dalam kelompok yang lebih besar dan kuat dibandingkan kaum ateis yang minoritas? Memang berbagai pernyataan Dawkins dan Hitchens mengenai agama dan para pemeluknya sangat tajam dan cenderung kasar, namun itu tidak bisa dijadikan patokan untuk mengatakan bahwa mereka agresif. Banyak orang (khususnya kaum beragama/bertuhan) lebih memperhatikan "nada" tulisan atau pernyataan Dawkins dan Hitchens sehingga luput memperhatikan isi argumen dalam tulisan maupun peryataan mereka. Tidak jarang orang mengatakan bahwa Dawkins dan Hitchens adalah orang-orang yang kejam. Ini terjadi akibat orang-orang tersebut hanya atau lebih memperhatikan "nada" tulisan ataupun pernyataan Dawkins dan Hitchens.

    Bagaimana mengukur agresivitas seorang ateis? Dengan menghitung berapa sering dia menulis dan mengeluarkan pendapatnya? Bukankah manusia dijamin haknya dalam mengemukakan pendapat, baik melalui kata-kata maupun tulisan? Bukankah setiap orang, entah beragama/bertuhan ataupun tidak, memiliki kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya sesering mungkin?

    Apakah kaum ateis (dhi. Dawkins dan Hitchens) destruktif? Apa buktinya? Sejauh ini kedua orang tersebut belum terbukti pernah membunuh ataupun menghasut orang lain untuk membunuh orang beragama/bertuhan ataupun merusak bangunan keagamaan. Mari kita lihat kelompok yang mayoritas dan lebih kuat, kaum beragama/bertuhan. Dapatkan dihitung, sudah berapa banyak kekerasan, kekejian, ketidakadilan, dan perang terjadi akibat dan didasarkan atas nama agama dan tuhan? Sepertinya tidak terhitung banyaknya. Meski banyak kali pandangan Dawkins dan Hitchens keliru memahami agama dan para pemeluknya, namun itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa mereka destruktif.

    Dengan demikian, mengatakan Dawkins dan Hitchens sebagai ateis yang agresif dan destruktif sama sekali tidak berdasar karena tidak didukung oleh bukti (-bukti) yang kuat. Tidak hanya itu, mengatakan Dawkins dan Hitchens agresif dan destruktif cukup berlebihan.

    Alain de Botton juga menyatakan bahwa jika para pemeluk agama mendirikan bangunan untuk menghormati dan menyembah figur suci masing-masing agama, maka kaum ateis pun bisa mendirikan bangunan yang suci. Penggunaan kata "suci" di sini mengundang pertanyaan. Apa artinya "suci"? Sesuatu yang tidak bernoda, tidak bercela, atau sempurna? Tidak bernoda, tidak bercela, dan sempurna menurut ukuran siapa? Apa tolok ukurnya? Bisa dibayangkan jika dalam konteks ini Alain de Botton tidak menggunakan kata "suci" dalam konteks agama karena dalam konteks agama "suci" berarti sesuatu yang tidak bercela, bersih.

    Apakah kata "suci" yang digunakan Alain de Botton disematkan pada bangunan yang akan didirikannya? Jika demikian, maka jelas, hal tersebut mengandung masalah karena bangunan, entah kuil, gereja, masjid, tempat sesembahan, atau apapun itu namanya hanyalah bangunan (benda mati). Orang-orang yang datang dan bersembahyang di tempat itu yang kemudian menganggap dan mempercayainya sebagai sesuatu yang suci. Dianggap suci karena ada aturan-aturan tertentu yang tidak boleh dilanggar (misalnya: melepas alas kaki, berpakaian rapi atau mengenakan pakaian tertentu bahkan atribut khusus, dan adanya ritual tertentu). Jika demikian, apakah dalam benak Alain de Botton bangunan yang akan didirikannya tersebut akan memiliki sederet aturan layaknya aturan dalam bangunan agama? Sepertinya tidak. Dengan demikian, penggunaan kata "suci" dalam konteks tersebut keliru alias tidak pada tempatnya.

    Di lain pihak Richard Dawkins menuding bahwa ide pendirian bangunan bagi kaum ateis tersebut tidaklah perlu karena lebih baik uangnya digunakan untuk membangun gedung-gedung sekolah yang di dalamnya mengembangkan dan mengedepankan pemikiran kritis dan rasionalistis. Terhadap pandangan Dawkins tersebut bisa ditambahkan juga bahwa demi mengembangkan pemikiran kritis juga dibutuhkan para guru, pendidik, dan pendamping yang terlatih. Ini artinya diperlukan adanya pelatihan-pelatihan terencana dan berkesinambungan untuk melatih orang-orang yang peduli terhadap pemikiran kritis.

    Selain itu, Dawkins juga menentang ide pendirian bangunan itu karena diduga biayanya berasal dari penyalahgunaan uang. Sayangnya pernyataan Dawkins tersebut tidak didukung oleh bukti-bukti alias tidak ditunjang oleh angka-angka. Jika tudingan Dawkins tersebut benar adanya, maka pembangunan "kuil" tersebut haruslah ditolak.

    Selain dua pihak ateis yang saling bertentangan terhadap ide pendirian bangunan bagi kaum ateis, ada juga pendapat yang muncul dari pemimpin agama (seorang pendeta Anglikan), George Pitcher. Bertolak belakang dari pandangan Dawkins, Pitcher malah menyambut baik ide pendirian bangunan tersebut. Ia menyatakan bahwa ide pendirian bangunan bagi kaum ateis berdasar pada adanya sesuatu yang lebih kuat dan besar dari manusia. Jika pandangan Pitcher ini merupakan tafsirannya terhadap ide pembangunan tersebut, maka tafsirannya tersebut keliru karena seorang yang tidak percaya adanya tuhan (ateis) berarti orang tersebut tidak percaya pada adanya sesuatu yang lebih kuat dan besar yang berada di luar dirinya. Seorang ateis tidak memiliki kepercayaan terhadap adanya sesuatu, entah kekuatan, energi, ataupun dorongan yang memiliki "pribadi" yang melampaui dirinya. Dengan demikian, jika tafsiran Pitcher itu ditujukan pada ide pendirian bangunan bagi kaum ateis, maka tafsirannya tersebut salah alamat alias tidak tepat alias salah.

    Pitcher juga menyatakan bahwa naluri yang berasal dari sekularitas atau narasi agama, sejatinya sama mengundang pertanyaan. Apakah ini berarti narasi dari dunia (kata "sekular" berasal dari kata Latin saeculum, yang artinya dunia) dan narasi dari agama memiliki semangat yang sama? Sama sekali tidak. Mengapa demikian? Narasi sekular (sesuai dengan artinya) berarti semangat hidup nyata yang berpijak pada dunia. Sementara narasi agama membawa semangat pada "dunia atas" (dunia abstrak seperti surga dan mahkluk2 surgawi). Sekular artinya berada, hidup pada dunia nyata, masa kini, dan tidak "melihat" ke atas serta mengarahkan pandangan kepada "hal-hal di atas." Yang ke dua ini mengacu pada agama, bukan pada sekular, dunia. Dengan demikian, pernyataan Pitcher bahwa narasi sekular dan narasi agama sesungguhnya sama adalah keliru.

    Setelah memperhatikan setiap pandangan dengan seteliti mungkin, maka pada pihak manakah anda setuju? Bagi saya, tidak penting apakah kaum ateis memiliki gedung "sendiri" atau khusus karena masing-masing bisa "berjuang" dan hidup dalam masyarakatnya masing-masing. Jika memang dibutuhkan tempat untuk berkumpul, maka bisa berkumpul di tempat tertentu, jadi tidak perlu mendirikan tempat khusus. Terlebih, bagi kaum ateis tidak ada satupun subjek yang "suci" dan (harus) disembah karena bagi kaum ateis tidak ada yang tidak bercela, tidak bernoda. Yang perlu dilakukan dan terus dikembangkan serta dikedepankan adalah pemikiran kritis dan perjuangan terhadap kekerasan dan ketidakadilan. Meski kritisisme, perlawanan terhadap kekerasan dan ketidakadilan harus terus dilakukan, itu pun bukan sesembahan kaum ateis sehingga ketiga hal tersebut pun tidak perlu disembah layaknya kaum beragama/bertuhan menyembah tuhan/allahnya. 
    text-align: justify;
    Yang ke dua ini mengacu pada agama, bukan pada sekular, dunia. Dengan demikian, pernyataan Pitcher bahwa narasi sekular dan narasi agama sesungguhnya sama adalah keliru.

    Minggu, 31 Oktober 2010

    Memprediksi Kematian Sendiri?

    Seorang mahasiswa Amerika mati setelah memprediksi kematiannya sendiri. Setidaknya itulah judul yang diberikan mengenai kabar "keberhasilan" prediksi mahasiswa tersebut terhadap kelangsungan hidupnya, atau itulah yang dipercaya beberapa orang bahwa mahasiswa itu mampu dengan tepat memprediksi kematiannya hanya beberapa saat sebelum ajal menjemputnya. Apakah mahasiswa itu memang "sukses" memprediksi kematiannya sendiri?

    Beberapa saat sebelum kematiannya, mahasiswa tersebut memposting dalam twitternya: "Hembusan angin hingga 60mph hari ini akan menyenangkan . . .  saya kira saya sudah hidup cukup lama." Tulisan inilah yang dijadikan orang sebagai patokan jika mahasiswa itu telah memperkirakan kematiannya sendiri, khususnya kalimat yang terakhir. Namun jika dibaca secara cermat kalimat terakhir itu sama sekali tidak menunjukkan jika mahasiswa itu telah memperkirakan hidupnya akan berakhir tidak lama setelah ia mempostingkan tulisan tersebut.

    Kalimat, "saya kira saya sudah hidup cukup lama" malah bisa diartikan jika pada saat itu mahasiswa tersebut sedang menikmati hidupnya, khususnya jika kalimat tersebut dihubungkan dengan kalimat sebelumnya. Dengan demikian, kalimat kedua tersebut sama sekali, baik implisit terlebih eksplisit, tidak menunjukkan jika mahasiswa itu tengah memprediksi kematiannya. Orang saja yang gemar menghubung-hubungkan berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya ataupun yang dialaminya dirinya walaupun hal-hal tersebut sama sekali tidak berhubungan. Inilah yang juga terjadi ketika orang menghubungkan kalimat di twitter mahasiswa tersebut dengan akhir hidupnya sehingga orang pun mengatakan bahwa mahasiswa tersebut telah "berhasil" memprediksi kematiannya sendiri. 

    Senin, 11 Oktober 2010

    Sangat Mengerikan

    Tidak berlebihan ketika para orangtua sangat melindungi anak-anaknya, khususnya ketika mereka mempercayakan anak-anaknya mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah tertentu. Bahkan tidak jarang orangtua yang bawel dengan mempertanyakan setiap fasilitas yang dimiliki di sekolah demi "kenyamanan" anak-anaknya. Namun demikian, ketika "kenyamanan" fisik bisa terjamin karena terlihat kasat mata, kualitas para guru tidak bisa dilihat sejak awal ketika orangtua hendak memasukkan anak-anaknya ke sekolah.

    Institusi sekolah dan pendidikan (termasuk sarana fisik dan non-fisik) yang seharusnya sebagai sarana pencerdasan generasi yang lebih muda, ternyata tidak selamanya menjanjikan hal yang semestinya, baik bagi orangtua maupun mereka yang berhak mengenyam pendidikan tersebut. Apa yang terjadi di Kenya sungguh-sungguh menjadi salah satu contoh yang sangat mengerikan bagi setiap orang. Institusi sekolah, khususnya para guru, yang seharusnya menjadi salah satu kekuatan pencerdas (baca: mendorong murid-muridnya menjadi berwawasan) sekaligus pelindung dan teladan bagi para muridnya malah menjadi figur yang sangat mengerikan dan sama sekali tidak bisa dijadikan teladan. Tindakan para guru tersebut betul-betul tidak terpuji dan mengerikan, bukan saja bagi orangtua dan anak-anak, namun juga bagi setiap orang yang peduli terhadap pendidikan.

    Di sisi lain, tindakan pemerintah Kenya terhadap guru-guru kejam itu perlu dipuji dan didukung karena dengan tegas telah mengambil sikap terhadap tragedi yang sangat tidak manusiawi itu. Lebih dari itu, sudah seharusnya komunikasi dan kerjasama antara institusi pendidikan, pemerintah, dan orangtua terjalin dengan sehat sehingga peristiwa yang serupa tidak terjadi lagi, bukan hanya di Kenya melainkan di seluruh dunia sehingga generasi yang lebih muda bisa mengenyam pendidikan yang selayaknya. Jika slogan "pendidikan adalah hak semua orang" memang benar, maka sudah seharusnya hal tersebut mewujud nyata dalam kehidupan setiap bangsa.

    Minggu, 10 Oktober 2010

    Apa Salah Mereka?!

    Masyarakat yang simpatik dan mendukung kesetaraan hak yang patut diterima kaum minoritas (gay) memperoleh perlakuan yang sangat tidak terpuji dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Peristiwa tidak manusiawi tersebut terjadi di ibukota Serbia, Belgrade, ketika kelompok Hak Gay mengadakan parade. Sekalipun acara tersebut berada di bawah pengawasan kepolisian, namun hal tersebut tidak menghambat para pemrotes menyerang kaum minoritas tersebut dengan bom minyak tanah dan batu. 

    Peristiwa serupa di lokasi yang sama ternyata pernah terjadi beberapa tahun silam (2001) dan ketika itu kejadian yang mencoreng nilai-nilai kemanusiaan itu dipicu oleh kelompok "sayap kanan" (orang-orang beragama) di negeri itu.

    Mengapa orang-orang yang tidak setuju terhadap gerakan penyetaraan hak gay menyerang kaum minoritas? Apakah yang telah dilakukan kaum gay Serbia sehingga orang-orang tidak menusiawi itu melakukan tindakan yang sama sekali tercela dan tidak terpuji? Apakah salah mereka sehingga para pemrotes dengan tega menyerang mereka dengan bom minyak tanah dan batu? Apalagi jika peristiwa yang merusak nilai-nilai kemanusiaan itu dilakukan oleh orang-orang yang mengaku bermoral karena beragama. Bukankah ironis ketika kaum yang selama ini mengagung-agungkan perbuatan baik dan cinta kasih malah menyerang dan menyakiti sesamanya?

    Rabu, 06 Oktober 2010

    Aksi Solidaritas

    Beberapa Rabi dan warga Yahudi mendatangi desa Beit Fajjar setelah salah satu Masjid di wilayah Tepi Barat itu diserang dan dirusak sekelompok orang tidak dikenal, walaupun diduga kuat perbuatan keji tersebut dilakukan orang-orang Yahudi. Tindakan yang dilakukan oleh beberapa Rabi dan warga Yahudi yang mendatagi desa Beit Fajjar itu  dianggap sebagai gerakan solidaritas terhadap warga Muslim Palestina yang tinggal di desa itu secara khusus, dan wilayah Tepi Barat secara umum. Ketika melakukan aksi solidaritasnya tersebut mereka pun membawa selusin Al-Quran untuk disumbangkan bagi warga Muslim yang beribadat di Masjid yang mengalami serangan itu.

    Di satu sisi aksi yang dilakukan beberapa Rabi dan warga Yahudi tersebut bisa dianggap sebagai tindakan solidaritas terhadap warga Muslim Palestina yang mengalami serangan. Setidaknya, tindakan mereka tersebut bisa memberikan gambaran kepada warga Muslim Palestina bahwa tidak semua orang Yahudi berlaku keras sehingga diharapkan warga Muslim Palestina tidak melakukan stereotipe dan takut, bahkan membenci semua orang Yahudi. Untuk hal ini tindakan beberapa Rabi dan warga Yahudi yang tinggal di sekitar desa Beit Fajjar tersebut perlu dijadikan teladan karena mereka berusaha menenangkan sesamanya yang mengalami tindak kekerasan.

    Namun di sisi lain, aksi solidaritas yang dilakukan beberapa Rabi dan warga Yahudi tersebut sangat mungkin menjadi sia-sia jika di antara pihak-pihak (Yahudi dan Palestina) yang bertikai terus melakukan aksi terornya dengan berdasar pada agama yang dianutnya. Ketika suatu tindakan yang mengancam kesejahteraan dan keselamatan orang lain didasarkan pada tradisi agama ("kitab suci" merupakan salah satu tradisi dalam agama), maka sesungguhnya agama tersebut telah gagal menuntun para pengikutnya untuk bertindak manusiawi. Agama yang selama ini diagung-agungkan dapat membawa manusia (baca: pengikutnya) menjadi lebih baik (manusiawi) ternyata malah membawa manusia pada jalan kekerasan. Jika demikian, agama tidak mampu membawa manusia pada keadaan yang lebih baik, tetapi sebaliknya, malah mengakibatkan manusia menjadi tidak manusiawi.

    Aksi solidaritas yang dilakukan beberapa Rabi dan warga Yahudi seperti dalam berita di atas akan sia-sia jika tidak didukung oleh pemerintah, baik pemerintah Israel maupun Palestina, yang lebih mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Ketika berbagai aksi kekerasan yang dilakukan atas nama agama masih terus terjadi, maka sudah waktunya bagi manusia untuk meninjau kembali agama (-agama) yang ada, apakah masih relevan atau tidak. Jika ya, mengapa masih terjadi kekerasan yang dilakukan berdasarkan agama. Jika tidak, berarti agama sudah usang dan tidak perlu dijadikan dasar lagi sebagai kehidupan manusia, karena jika tetap dijadikan dasar, mau sampai kapan korban kekerasan akibat agama terus berjatuhan?

    Senin, 20 September 2010

    Angela Merkel Bukan Adolf Hitler

    Semua orang tahu benar kekejaman Adolf Hitler ketika ia membantai orang-orang Yahudi Jerman pada tahun 1930-an dan 1940-an. Semua orang sadar betul kebejatan Adolf Hitler dengan kamp-kamp konsentrasinya yang bisa membuat bulu kuduk berdiri. Semua orang tentu masih ingat terhadap kekejian Adolf Hitler melalui pidato-pidatonya yang membakar semangat nasionalisme dangkal Jerman dengan menghembuskan kebencian terhadap kaum Yahudi, khususnya kaum Yahudi Jerman. Ternyata Angela Merkel - Kanselir Jerman - tidak mau mengikuti jejak mantan pemimpin Jerman beberapa tahun yang lampau tersebut. Ini setidaknya bisa dilihat dari sikap Merkel melalui wawancara yang baru-baru ini dilakukannya dengan salah satu harian di kota Frankfurt. Merkel tidak mau mengulangi kesalahan sejarah yang dilakukan Adolf Hitler, seniornya itu. Ia, Merkel, bahkan mengajak warga negara Jerman untuk sadar, membuka diri, bahkan terbiasa dengan perubahan yang terjadi di negeri mereka.

    Sikap yang ditunjukkan oleh Merkel tersebut merupakan salah satu contoh nyata di mana seorang pemimpin bisa berkata-kata dan bersikap dengan bijak. Setidaknya melalui pernyataannya tersebut Merkel telah menghembuskan suasa sejuk di tengah-tengah berkecamuknya pertikaian dan hubungan yang memanas antar (pemeluk) agama di dunia (baca: mereka yang beragama sangat sempit dan dangkal). Jelas, sikap Merkel tersebut patut diteladani oleh pemimpin-pemimpin bangsa lainnya, yakni dengan mampu bersikap tenang dan bijak dalam menghadapi perubahan yang terjadi di negerinya. Ketimbang bersikap reaktif dan panik terhadap perubahan yang terjadi di negerinya, seorang pemimpin yang bijak malah akan berusaha bersikap tenang bahkan berusaha mengajak dan menyadarkan warga negaranya untuk mampu menghadapi perubahan yang terjadi bahkan terbiasa dengan perubahan itu.  

    Angela Merkel adalah seorang pemimpin bangsa yang bijak dan terpuji karena sikapnya yang terhormat. Sikapnya yang terbuka terhadap perubahan yang terjadi di negerinya merupakan sikap yang rendah hati yang seyogianya menjadi panutan banyak orang, bukan hanya para pemimpin bangsa lainnya. Sikap rendah hati Merkel tersebut sangat jarang ditemukan pada diri pemimpin, bahkan orang lainnya yang dengan angkuh dan reaktif menghadapi perubahan yang terjadi di sekitarnya. Mencari seorang pemimpin bangsa yang rendah hati dan bijak, tengoklah pada diri Angela Merkel, seorang Kanselir Jerman. Warga negara dan penduduk Jerman patut berbangga memiliki seorang figur pemimpin seperti Angela Merkel karena dia bukanlah seorang figur seperti Adolf Hitler, yang pernah membawa Jerman pada kehancuran melainkan akan membawa Jerman sebagai bangsa yang penuh dengan kerendahan hati dan kehormatan.

    Sekolah untuk Para Remaja yang Hamil

    Jika orang sepakat bahwa pendidikan sangat penting bagi segala golongan, baik usia, tingkat ekonomi, status sosial, tingkat kecerdasan, maupun keadaan fisik seseorang, maka upaya yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia bagian Malaka dengan membuka sekolah yang menerima para remaja hamil agar tetap bisa bersekolah dan menerima pendidikan yang layak merupakan tindakan yang selaras dengan semangat itu. Ya, pemerintah Malaysia bagian Malaka baru-baru ini membuka pertama kali sekolah yang memperbolehkan para remaja yang hamil untuk memperoleh pendidikan di sekolah tersebut. Tentu, tindakan yang dilakukan pemerintah Malaysia bagian Malaka tersebut bukan tanpa hambatan dan penolakan, khususnya dari kelompok-kelompok keagamaan (dhi. Islam) yang menyatakan bahwa ide tersebut malah bisa mendorong para remaja berani melakukan seks dan hamil. Namun, seperti dikatakan oleh salah seorang staf pemerintah Malaysia bagian Malaka, memisahkan para remaja yang hamil dari sistem pendidikan/sekolah umum akan semakin membuat para remaja hamil tersebut mengalami stigmatisasi oleh dan di dalam masyarakat. Oleh karena itulah mereka tetap diperbolehkan memperoleh pendidikan di sekolah umum seraya kepada mereka diberikan perlindungan dan kerahasiaan mereka dijaga. 

    Hal yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia bagian Malaka merupakan salah satu contoh nyata di mana komitmen terhadap pendidikan layak yang menjadi hak setiap warga negara berusaha tetap dilakukan, terlepas dari kondisi fisik seseorang (dhi. hamil). Meski tindakan tersebut mendapat penolakan, khususnya dari kelompok-kelompok agama, namun pemerintah Malaysia bagian Malaka tetap berpegang teguh pada hak yang seharusnya diperoleh setiap warga negara. Oleh karena pendidikan merupakan dasar terpenting dalam hidup manusia, maka pendidikan yang layak pun menjadi tanggung jawab pemerintah untuk diberikan kepada setiap warga negaranya. Jika pemerintah Malaysia bagian Malaka - meski belum Malaysia secara keseluruhan - sebagai negara Islam bisa mengupayakan hal terhormat tersebut bagi warganya, masakan hal yang serupa tidak bisa diupayakan oleh negara Indonesia yang mengaku Bhinneka Tunggal Ika? Jika pemerintah Malaysia bagian Malaka mampu lebih mengedepankan nilai kemanusiaan daripada aturan keagamaan, masakan pemerintah Indonesia tidak mampu melakukan hal serupa, padahal Indonesia bukanlah negara Islam?

    Upaya yang dilakukan pemerintah Malaysia bagian Malaka merupakan tindakan terhormat dan terpuji yang bukan saja patut diteladani negara-negara yang mendasarkan hukum-hukumnya pada agama tertentu, terlebih perlu dicontoh oleh negara-negara yang selama ini selalu mendengung-dengungkan persamaan hak bagi warga negaranya dan kemanusiaan. Jika yang didengung-dengungkan itu sebatas jargon-jargon tanpa tindakan nyata, maka tiada artinya semua jargon itu karena sebatas teriakan kosong yang kemudian lenyap ditelan atau ditiup angin.

    Kamis, 16 September 2010

    Pesan dari Tuhan

    Meski Terry Jones membatalkan rencananya membakar Al-Quran pada tanggal 11 September lalu, namun para pendukung Jones tetap melaksanakan pembakaran Al-Quran di Springfield, AS. Bob Old dan Danny Allen - keduanya pendeta - mengaku melakukan aksi pembakaran Al-Quran karena memperoleh pesan dari Tuhan. Setelah Jones yang mengaku mengurungkan rencana pembakaran Al-Quran karena perintah Tuhan, sekarang kedua pendeta tersebut mengaku jika aksi mereka setelah menerima pesan dari Tuhan. 

    Segera setelah membaca kedua pengakuan yang berbeda 180 derajat tersebut - keduanya berasal dari pendeta - muncul beberapa pertanyaan: 

    1.  Apakah perintah dan pesan yang saling berbeda tersebut berasal dari Tuhan yang sama atau berbeda? 

    2. Jika berasal dari Tuhan yang sama, mengapa Tuhan memberikan pesan/perintah yang berbeda kepada para pendeta itu?

    3. Jika berasal dari Tuhan yang berbeda, Tuhan mana atau siapakah yang seharusnya dituruti, apakah Tuhan yang memberikan perintah larangan membakar Al-Quran (Tuhannya Jones) atau Tuhan yang memberikan pesan membakar Al-Quran (Tuhannya Old dan Allen)?  

    4. Terlepas dari Tuhan yang sama atau berbeda, jika memang benar perintah dan pesan itu berasal darinya, bukankah ini artinya ia adalah sosok yang membingungkan karena telah memberikan perintah dan pesan yang berlainan kepada orang yang berbeda?

    5. Jika ya, mengapa begitu banyak orang percaya, sujud syukur, bahkan rela mati demi namanya? 

    6. Jika Tuhan memang telah memberikan pesan membakar Al-Quran kepada manusia, bukankah ini artinya ia adalah figur kejam yang tidak peduli terhadap makhluk hidup (dhi. manusia)?

    Kembali pada berita pembakaran Al-Quran yang telah dilakukan Old dan Allen, ketika  akan membakar Al-Quran mereka berkata bahwa Al-Quran adalah buku yang berisi kebencian, bukan cinta. Mereka sepertinya, entah disengaja ataupun tidak disadari, menyingkirkan fakta bahwa dalam Alkitab sendiri banyak kisah yang menampilkan hal-hal bernuansa kekerasan,  seperti: kebencian dan pembantaian terhadap suku bangsa tertentu yang semuanya dilakukan atas persetujuan Tuhan. (Sangat mungkin Old dan Allen dengan sengaja menganggap kisah-kisah seperti itu tidak terdapat alam Alkitab bagian Perjanjian Lama karena mereka adalah pendeta, jadi kemungkinannya sangat kecil jika mereka tidak mengetahui kisah-kisah seperti itu. Hal yang seringkali juga dilakukan umat Kristen lainnya.) Jika demikian, jelas, Old dan Allen pun telah memberlakukan standar ganda terhadap "kitab suci" agama lain.

    Tindakan yang dilakukan Old dan Allen sama sekali tidak cerdas padahal mereka tidak suka jika dianggap tidak cerdas. (Orang beragama khususnya para pemimpinnya secara implisit tidak mau dianggap tidak cerdas karena mempelajari ilmu agama. Oleh karena itu, mereka menganggap diri cerdas karena mampu menggunakan akal sehatnya dengan baik.) Dengan demikian, pembakaran Al-Quran yang dilakukan Old dan Allen merupakan contoh nyata betapa manusia (baca: orang beragama) gagal menggunakan akal sehatnya untuk hal-hal yang jauh lebih positif, misalnya: daripada membakar Al-Quran, mereka bisa membuat tulisan yang isinya mengkritik (bukan mencela atau menghina) kepercayaan lain (dhi. Islam) sehingga terjadi perdebatan secara pemikiran, bukannya tindakan kekerasan. Bukankah para pendeta sebelum memperoleh "gelar" pendeta mereka diharuskan menempuh kuliah di seminari atau sekolah tinggi teologi? Jika demikian, tentu, semasa di bangku kuliah mereka telah diajar dan dilatih untuk berpikir dan menuangkan pikirannya ke dalam tulisan-tulisan sehingga mereka bisa diperhitungkan sebagai orang-orang cerdas. Jika tidak demikian, apakah ini artinya seminari atau sekolah tinggi teologi tidak lagi memberikan pelatihan dan pengajaran seperti? Saya pikir tidak. Oleh karena itu, hai para agamawan tunjukkanlah jika kalian memang cerdas!

    Jumat, 03 September 2010

    Fidel Castro

    Banyak orang menganggap jika kaum komunis terdiri dari orang-orang yang sadis dan tidak manusiawi, bahkan menyamakan komunisme dengan ateisme. Dengan menyamakan komunisme dengan ateisme, maka orang menilai para ateis adalah kaum yang sadis dan tidak manusiawi. Kedua pandangan tersebut sama sekali tidak tepat, bahkan salah sekaligus menyesatkan. Salah satu buktinya, tidak lama berlalu Fidel Castro - mantan pemimpin Cuba nyaris selama 50 tahun - dan pemimpin Partai Komunis Kuba menyatakan bahwa dirinya bertanggung jawab atas ketidakadilan yang diderita kaum homoseksual di Kuba selama pemerintahannya. Fidel Castro mengaku bahwa dirinyalah yang harus dipersalahkan karena tidak memperhatikan kaum homoseksual di Kuba akibat banyaknya masalah yang menimpa Kuba saat itu. 

    Ternyata meski Kuba adalah negara Komunis dengan segala cap yang melekat padanya dan tidak jarang Fidel Castro dianggap sebagai pemimpin yang otoriter, namun ia merupakan (mantan) pemimpin yang memiliki "jiwa" besar karena berani mengakui kesalahannya di masa lalu yang telah menelantarkan kaum homoseksual di Kuba sehingga mereka mengalami diskriminasi. Fidel Castro, yang dikenal sebagai figur pemimpin yang tegas, keras, bahkan angkuh oleh negara-negara kapitalis, khususnya Amerika, ternyata juga merupakan figur pemimpin yang ber-"jiwa" besar karena berani bertanggung jawab atas kesalahannya. Ia tidak mencari-cari alasan atau menimpakan kesalahan pada orang lain, tetapi dengan rendah hati mengakui kesalahannya.

    Di tengah dunia di mana sebagian besar orang - khususnya para pemimpin - sangat sulit mengakui kesalahannya, bahkan tidak (akan) bertanggung jawab terhadap kesalahan yang telah dilakukannya di masa lalu yang mengakibatkan orang lain menderita, maka  sikap Fidel Castro telah menjadikannya seorang pemimpin yang berbeda dibandingkan para pemimpin lainnya. Berbeda karena ia unik di tengah "lautan" pemimpin yang gengsi sehingga enggan mengakui kesalahannya. Fidel Castro berbeda dari kebanyakan orang dan pemimpin lainnya karena memiliki "jiwa" besar dengan mengakui kesalahannya di masa lalu, dan inilah yang membuatnya menjadi seorang pemimpin besar yang dihormati dan disegani, baik oleh para pengikut, pendukung, maupun para lawannya.

    Ternyata sikap Fidel Castro tidak berhenti hanya sampai pada mengakui kesalahan melainkan belakangan ini pemerintah Kuba sedang terus mengupayakan supaya keberadaan bahkan pernikahan di antara kaum homoseksual disahkan berdasarkan hukum Kuba. Nyaris bisa dipastikan bahwa upaya ini bisa berlangsung karena ada kaitannya dengan sikap Fidel Castro sebelumnya yang berani bertanggung jawab. Dengan demikian, jelas, sikap seorang pemimpin, baik mulai dari ruang lingkup yang sangat sempit (keluarga) maupun sampai ruang lingkup yang sangat luas (negara) bisa memicu bahkan mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, seorang pemimpin yang bijak adalah seorang yang mampu memberikan pengaruh yang positif terhadap para anggotanya dan seorang pemimpin yang ber-"jiwa" besar adalah seorang yang berani mengakui kesalahannya, persis seperti yang telah dilakukan Fidel Castro.

    Senin, 16 Agustus 2010

    Pornografi Kekerasan

    Ketika suatu aksi atau peristiwa terjadi begitu nyata atau gamblang dengan disaksikan khalayak ramai (terjadi di hadapan banyak orang), entah aksi/peristiwa tersebut melibatkan hubungan seksual ataupun kekerasan, maka hal tersebut diperhitungkan sebagai pornografi. Banyak orang beranggapan jika pornografi hanya sebatas tindakan hubungan seksual. Namun sesungguhnya setiap aksi yang terjadi begitu nyata atau gamblang disebut dengan pornografi. Oleh karena itu, ketika suatu aksi/peristiwa kekerasan yang terjadi dengan sangat gamblang dengan disaksikan banyak orang apalagi sengaja dilakukan di tengah khalayak ramai, maka hal tersebut bisa disebut sebagai pornografi kekerasan. Peristiwa inilah yang terjadi di wilayah utara Afganistan (propinsi Kunduz) ketika kelompok Taliban membunuh sepasang kekasih di tengah pasar karena mereka dianggap telah melakukan maksiat.

    Sebelum aksi pornografi kekerasan tersebut dilaksanakan kelompok Taliban tersebut mengumumkan akan diadakan "penghukuman" tersebut melalui corong Masjid sehingga masyarakat sekitar dapat menyaksikan aksi mengerikan itu. Bahkan khalayak diperbolehkan untuk turut serta dalam eksekusi rajam tersebut. Mengapa aksi pornografi kekerasan seperti itu dilakukan di muka umum dengan disaksikan banyak orang (dhi. terjadi di tengah pasar) bahkan memperbolehkan orang banyak itu terlibat? Setidaknya ada tiga alasan: Pertama, aksi tersebut hendak memberikan pesan dan kesan mengerikan kepada orang banyak sehingga mereka takut terhadap kelompok yang melakukan aksi kekerasan itu. Kedua, aksi tersebut bisa memberikan rasa superioritas (unggul) bagi kelompok yang melakukannya terhadap orang-orang yang menyaksikannya. Ketiga, orang-orang yang terlibat (dhi. turut dalam aksi menghukum dengan merajam) akan beranggapan bahwa apa yang dilakukan kelompok tersebut benar dan si terhukum memang salah sehingga mereka layak dihukum mati.

    Jelas, aksi main hakim sendiri yang didasarkan pada hukum agama tertentu merupakan salah satu bentuk pelanggaran terhadap hak asasi manusia karena hal tersebut tidak melalui proses pengadilan yang layaknya diterima oleh manusia. Main hakim sendiri meski didasarkan pada hukum agama tertentu menunjukkan jika para pelakunya; satu: tidak memiliki penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, dua: cenderung berperilaku layaknya hewan dan bukannya manusia. Terlebih, aksi tersebut tergolong ke dalam pornografi kekerasan karena terjadi dengan begitu gamblang dengan disaksikan banyak orang karena dilakukan di tengah keramaian serta memperbolehkan para penonton untuk turut mengambil bagian dalam aksi sangat keji tersebut. Dan betapa mengerikannya karena aksi tersebut didasarkan pada semangat agama!

    Rabu, 11 Agustus 2010

    Siapa Mau Ikut Jejak Meksiko?

    Setelah Uruguay dan Argentina yang lebih dulu meresmikan pernikahan sesama jenis sekarang giliran Meksiko mengikut jejak kedua negara tetangganya itu. Bahkan Mexico City merupakan ibukota pertama di belahan Amerika Latin yang mengakui pernikahan sejenis, termasuk memberikan hak hukum terhadap pasangan sejenis yang telah menikah untuk memiliki anak (adopsi). Keputusan pemerintah Mexico City yang telah memberikan hak hukum terhadap para pasangan sejenis yang telah menikah untuk mengadopsi anak ternyata telah menjadi pembuka jalan bagi pemerintahan Meksiko untuk melakukan hal yang sama. 

    Tentu, tindakan yang telah diambil oleh pemerintah Uruguay, Argentina, dan Meksiko jika dilihat sekitar 10 tahun lalu apalagi 100 tahun yang lalu merupakan suatu mission impossible karena ketika itu budaya masyarakat masih mentabukan, jangankan pernikahan sesama jenis, hubungan sesama jenis pun dianggap sebagai tindakan amoral, maksiat, dan terkutuk. Dan para pelakunya tidak jarang distigmatisasi sebagai pengikut setan/iblis akibat hal yang demikian tidak terdapat dalam kitab suci (dhi. Alkitab) atau bahkan dilarang sama sekali. Namun syukurnya, seiring dengan perjalanan waktu pemikiran orang terus mengalami perkembangan dengan lebih mendasarkan berbagai keputusannya pada nilai-nilai kemanusiaan yang ditempatkan lebih utama dibandingkan nilai-nilai keagamaan yang lebih sering menekan bahkan berusaha menyingkirkan nilai-nilai kemanusiaan itu. 

    Apa yang (telah) terjadi di Uruguay dan Argentina kemudian Meksiko - meresmikan pernikahan sesama jenis - sesungguhnya bukanlah suatu mission impossible karena bisa dilakukan meski harus melewati perjuangan yang sangat berat dan berliku. Oleh karena itu, yang dibutuhkan sehingga hal serupa bisa terjadi di lebih banyak negara, termasuk di belahan Asia, adalah para individu yang sudah memiliki pemikiran yang independen. Artinya, masyarakat sudah mampu berpikir mandiri dengan tidak mendasarkan pemikirannya tersebut pada otoritas-otoritas tertentu, seperti: keluarga, pemimpin agama, dan guru/dosen. Ketika hal tersebut bisa terjadi maka pada saat itulah para individu yang menjadi bagian dalam masyarakat bisa disebut sebagai individu yang dewasa.

    Dengan demikian, kenyataan yang terjadi di Uruguay, Argentina, dan Meksiko bisa juga terjadi dan berlaku di lebih banyak negara. Meski ketiga negara tersebut disebut sebagai negara-negara Katolik karena sebagian besar warganya beragama Katolik, ternyata nilai-nilai kemanusiaan bisa menempati tempat yang lebih depan dan utama ketimbang keputusan otoritas Vatikan. Jika Uruguay, Argentina, dan Meksiko yang notabene sebagai negara-negara agamis saja bisa melakukan hal yang dulunya dianggap tidak mungkin terjadi, apalagi negara-negara yang tidak mendasarkan hukumnya pada nilai-nilai keagamaan tertentu. 

    Selasa, 03 Agustus 2010

    Butuh Uang Tambahan

    Seorang pendeta dari suku Indian Aymara agaknya membutuhkan uang tambahan, bahkan bukan dalam jumlah yang kecil karena polisi menemukan laboratorium kokain di rumahnya. Kokain mentah yang ditemukan di rumah pendeta itu bernilai sekitar 240.000 dollar AS. Sepertinya pekerjaan sebagai seorang pendeta di Bolivia sangat tidak mencukupi biaya hidup yang harus ditanggungnya sehingga ia pun rela mengambil resiko dengan menyimpan kokain di rumahnya dalam jumlah yang sangat besar. 

    Mungkin yang ada dalam pikiran pendeta itu bahwa ia tidak akan dicurigai pihak keamanan jika menyimpan narkoba (dhi. kokain) karena ia merupakan seorang pendeta. Ini merupakan pikiran yang umum. Artinya, tidak seorang pun akan menyangka jika seseorang yang berprofesi sebagai pendeta akan berani menyimpan kokain di rumahnya karena anggapan sebagian besar masyarakat bahwa pendeta merupakan sosok yang "baik-baik" alias tidak akan melakukan tindakan tercela apalagi menyimpan narkoba di rumahnya. Namun kenyataan malah berbicara sebaliknya ketika polisi menemukan kokain yang bernilai sangat tinggi di rumah seorang pendeta Indian. 

    Oleh karena itu tidak perlu heran jika tidak sedikit orang beragama yang berprofesi atau memiliki pekerjaan sambilan sebagai bandar narkoba, wong pemimpin agamanya saja menyimpan kokain dalam jumlah yang sangat banyak di rumahnya koq! Bahkan beberapa orang akan berpikiran, jika pemimpin agamanya saja boleh menyimpan kokain di rumahnya berarti ia juga boleh memiliki narkoba. Jika ini sungguh-sungguh terjadi maka semakin tercorenglah wajah orang-orang para pemimpin agama yang selalu digadang-gadang sebagai sosok panutan dalam masyarakat karena menjadi contoh yang baik bagi para pengikutnya. 

    Tindakan Terpuji

    Tentu masih ingat dengan kisah perempuan Iran yang diancam hukuman rajam oleh pemerintah Iran akibat dituduh telah melakukan tindakan tercela, bukan? Ya, kisah perempuan malang tersebut - Sakineh Mohammadi Ashtiani - ternyata bukan hanya diketahui oleh belahan Asia melainkan sampai ke belahan bumi lainnya dan memunculkan simpatisme dari banyak kalangan termasuk petinggi pemerintahan. Tidak tanggung-tanggung simpati tersebut datang dari Presiden Brasil, Luis Inacio Lula da Silva, yang menawarkan kepada Mahmoud Ahmadinejad, pemimpin Iran, bahwa ia akan menampung Ashtiani jika pemerintah Iran tidak menginginkan keberadaannya di Iran. Da Silva mengimbau kepada Ahmadinejad untuk "menyerahkan" Ashtiani jika diperbolehkan sehingga ia tetap dapat hidup layak. Ini artinya bahwa jika disetujui Ashtiani akan terbebas dari ancaman hukuman mati. Jika dilihat sepintas tawaran yang diajukan oleh da Silva patut memperoleh pujian karena ia tidak lagi mengutuk tindakan keji pemerintah Iran melainkan langsung menawarkan "solusi" nyata bagi Ashtiani supaya ia bisa terlepas dari ancaman hukuman mati yang berlangsung di negerinya.
    Namun demikian, ketika orang membaca berita tersebut dengan saksama maka orang dapat menemukan konteks ketika da Silva memberikan tawaran itu, di mana ia mengatakannya dalam salah satu kampanye kepresidenannya. Tentu hal ini merupakan hal yang wajar dilakukan. Artinya, setiap orang yang sedang berkampanye, apapun bentuknya, tentu ia akan memberikan janji-janji manis yang disertai jargon-jargon positif dan membangun demi menarik perhatian dan simpati dari sebanyak mungkin orang sehingga perolehan suaranya tinggi. Ternyata hal demikian dilakukan juga oleh da Silva ketika ia melakukan kampanye untuk merebut kursi kepresidenan di Brasil. Ia bukan hanya berbicara mengenai keadaan politik dalam negeri Brasil, bahkan ia mencoba menarik perhatian dan simpati kalangan yang lebih luas, yakni dengan memberikan tawaran perlindungan kepada Ashtiani yang tengah diancam hukuman mati di Iran. Tentu, hal yang dilakukan da Silva akan menarik simpati banyak orang, khususnya mereka yang memang merupakan penggemar atau pemilihnya. Yang menjadi pertanyaannya adalah: Apakah jika ia terpilih nanti tawaran dan janji yang pernah diucapkannya ketika berkampanye akan menjadi kenyataan? Karena kekhawatirannya adalah bahwa ketika seorang yang telah terpilih untuk duduk di tapuk pimpinan ia lupa pada berbagai tawaran dan janji manis yang pernah diutarakannya ketika berkampanye. Inilah kenyataan yang senantiasa terjadi di sebagian besar negara, jika tidak mau dikatakan setiap negara.
    Setidaknya, apa yang telah ditawarkan oleh Presiden Brasil, da Silva, merupakan hal yang patut dipuji karena berani menawarkan diri dan negaranya untuk menjadi tempat "perlindungan" bagi Ashtiani. Kalaupun da Silva kembali terpilih menjadi Presiden Brasil dan ia tetap pada janji dan tawarannya tersebut, tentu bukanlah perkara yang sepele "menyerahkan" atau memindahkan seorang warga negara ke negara lainnya, terlebih jika warga negara tersebut sedang mengalami ancaman hukuman mati atau terikat pada hukum yang berlaku di negara asalnya. Apalagi negara tersebut dilandaskan pada hukum Islam. Suatu perkara yang bisa dikatakan impossible.

    Sabtu, 31 Juli 2010

    Jesus Saves!

    Seorang perempuan muda selamat dari perampokan bersenjata setelah bercerita mengenai Yesus kepada perampoknya. Ia merasa telah memperoleh inspirasi dari Allah sehingga ia memiliki keberanian untuk berkhotbah mengenai Yesus kepada laki-laki yang akan merampok tokonya tersebut. Oleh karena ia merasa Allah telah memberikannya keberanian untuk bercerita tentang Yesus, maka ia pun selamat tanpa mengalami tindak kekerasan sekecil apapun. Tentu ia menganggap bahwa Yesus telah menyelamatkan dirinya dari perampokan.

    Ternyata laki-laki yang awalnya hendak merampok tersebut adalah seorang Kristen dan ia hanya membutuhkan sejumlah kecil uang. Tentu kenyataannya akan berbeda jauh jika perampok itu bukan beragama Kristen, tentu ia tidak peduli dengan ajakan perempuan itu untuk mengenal Yesus karena yang dibutuhkannya adalah uang, sesuatu yang dapat dilihat dan diperolehnya segera ketimbang seorang figur imajiner yang tidak dapat dilihat dan tidak diketahui keberadaannya. Dengan demikian, peristiwa yang dialami perempuan muda tersebut merupakan kebetulan yang sangat menguntungkannya sehingga ia pun terhindar dari tindak kekerasan. Di satu sisi kenyataan itu patut disyukuri, namun di sisi lain bukan Yesus yang telah menyelamatkannya melainkan suatu kebetulan yang tidak diduga sebelumnya.

    Memanfaatkan Kesempatan

    Ketika sebagian besar orang di dunia khususnya warga Afrika tenggelam dalam perhelatan empat tahunan olahraga terbesar di dunia - sepakbola - yang tahun ini diadakan di Afrika Selatan, ada saja orang-orang yang memanfaatkan kesempatan itu untuk membunuh sesamanya. Inilah yang dilakukan tiga orang Kenya ketika meledakkan bom di saat penduduk Uganda menyaksikan tayangan final Piala Dunia 2010 melalui TV. Tindakan keji tersebut mengakibatkan  76 orang meninggal dan 70 lainnya luka-luka.

    Ternyata perhelatan olahraga seperti sepakbola yang sebenarnya sangat populer di Afrika tidak kuasa membendung hasrat membunuh para fundamentalis agama di Afrika. Padahal Piala Dunia untuk pertama kalinya diadakan di benua Afrika, namun ternyata hal ini tidak berpengaruh pada para fundamentalis agama yang hidup di Afrika. Mereka malah menggunakan kesempatan ini  dengan keji membunuh sesamanya yang juga warga benua Afrika. Sungguh merupakan tindakan yang sangat kejam karena sama sekali tidak menghargai kemanusiaan.

    Terobosan

    Ketika suatu hal yang awalnya dianggap mustahil terjadi/menjadi kenyataan akhirnya bisa terjadi atau menjadi kenyataan maka hal tersebut bisa dikatakan sebagai terobosan. Artinya, hal tersebut menjadi titik awal untuk sesuatu baru yang sebelumnya belum pernah terjadi, bahkan mungkin dibayangkan tidak. Hal ini yang sesungguhnya terjadi ketika Argentina menjadi negara Amerika Selatan pertama yang mensahkan (secara hukum) pernikahan sesama jenis kelamin. Dikatakan sebagai terobosan karena semua orang tahu jika Argentina - negara asal legenda hidup sepakbola, Maradona - didominasi oleh warga beragama Katolik Roma. Dan semua orang tahu jika otoritas tertinggi gereja Katolik Roma, Vatikan, masih mentabukan pernikahan sesama jenis. Jangankan pernikahan sesama jenis, uskup perempuan dalam hirarkhi gereja Katolik Roma pun ditentang keras oleh Vatikan. 

    Terobosan yang dilakukan pemerintah Argentina bisa jadi memberikan inspirasi pada para petinggi pemerintah negara-negara Amerika Selatan lainnya untuk lebih mengedapankan dan mengutamakan hak warganya untuk memperoleh kehidupan berkeluarga yang resmi dengan pasangan sejenisnya, bahkan negara-negara lainnya. Tentu, perjuangan untuk lebih mengutamakan hak warga negara dengan berdasar pada kemanusiaan ketimbang agama bukanlah pekerjaan yang mudah sehingga membutuhkan kerja keras dan kesabaran karena ada berbagai rintangan yang siap menghadang (misalnya: kalangan fundamentalis agama). 

    Kamis, 22 Juli 2010

    Seks Akibat Benci

    Seorang pemuda dituduh telah melakukan perkosaan oleh perempuan Yahudi setelah perempuan itu menyadari jika ternyata lelaki itu bukan orang Israel melainkan Arab. Peristiwa "perkosaan" itu langsung terjadi di hari yang sama setelah keduanya baru bertemu di sebuah jalan di Yerusalem pada tahun 2008. Sayangnya, tidak ada keterangan yang lebih rinci   mengenai peristiwa itu selain berita yang mengatakan bahwa setelah perempuan itu mengetahui jika pemuda yang telah berhubungan seks dengannya bukanlah seorang Yahudi melainkan Arab, ia melaporkan laki-laki tersebut ke polisi. 

    Dengan berdasar pada berita tersebut dapat ditarik beberapa hipotesa:
    1. Sebelum dan ketika saat hubungan seksual di hari pertama bertemu perempuan itu tidak mengetahui latar belakang (dhi. kebangsaan) laki-laki tersebut.
    2. Setelah hubungan seksual terjadi perempuan tersebut mencari tahu atau secara tidak sengaja mengetahui jika laki-laki yang berhubungan seks dengannya bukanlah orang Yahudi.
    3. Perempuan itu merasa telah ditipu/dimanipulasi oleh laki-laki tersebut sehingga menganggap jika dirinya telah diperkosa oleh laki-laki itu.

    Untuk poin no. 1 bisa saja pasangan yang akan berhubungan seks tidak mengetahui latar belakang masing-masing, namun kemungkinan sama sekali tidak mengetahui latar belakang secara umum atau sepintas sangatlah kecil sekalipun hubungan seksual tersebut hanya  one-night-stand. Artinya, pasangan yang berhubungan seks sangat mungkin, setidaknya, mengetahui asal negara pasangan seksnya yang bisa diketahui atau diduga dari bahasa bahkan aksen yang digunakan. Oleh karena itu, kemungkinan perempuan yang mengaku telah dimanipulasi dan diperkosa oleh laki-laki yang tidak diketahui asal negaranya itu sangatlah kecil. Dengan demikian, perempuan itu kemungkinan besar mengetahui asal negara (kebangsaan) laki-laki yang dituduhnya telah memperkosa dirinya.

    Seandainya perempuan tersebut sama sekali tidak mengetahui asal laki-laki tersebut, namun kemudian dengan secara sengaja mencari tahu asal laki-laki itu (poin no. 2), maka bisa dikatakan jika perempuan tersebut memiliki hasrat yang begitu kuat untuk mengetahui kebangsaan laki-laki itu. Ini artinya perempuan tersebut melakukan upaya yang terbilang tidak sederhana karena ia menginvestigasi banyak orang demi mengetahui asal negara laki-laki tersebut. Pada satu sisi upaya yang dilakukan perempuan tersebut patut dihargai, namun pada sisi lain menimbulkan keanehan karena muncul pertanyaan: Mengapa ia mencari tahu asal negara laki-laki itu setelah melakukan hubungan seks dengannya jika ia menghendaki hubungan jangka panjang dan serius? Bukankah logikanya, seseorang mencari tahu terlebih dulu mengenai pasangannya sebelum melakukan hubungan seks kecuali hubungan seks tersebut dilakukan hanya demi kesenangan sesaat atau one-night-stand? Oleh karena itu, upaya perempuan tersebut mencari tahu asal negara laki-laki yang telah berhubungan seks dengannya sangatlah mencurigakan karena sangat mungkin didorong oleh motivasi negatif. (Jangan lupa, bangsa Israel dan Arab saling membenci).

    Setelah mengetahui jika laki-laki yang telah berhubungan seks dengannya ternyata bukan orang Israel melainkan Arab, maka perempuan itu pun merasa telah ditipu/dimanipulasi oleh laki-laki tersebut (poin no. 3). Jika ini yang terjadi, maka ada kejanggalan karena setidaknya, berdasarkan berita, tidak ditemukan indikasi jika laki-laki tersebut telah melakukan penipuan/manipulasi terhadap perempuan tersebut yang mengakibatkan perkosaan. Seandainya laki-laki itu telah melakukan penipuan/manipulasi terhadap perempuan itu, mengapa hubungan seksual itu terjadi di hari yang sama ketika mereka baru pertama kali bertemu? Ini sama sekali tidak hendak menuduh perempuan tersebut bodoh apalagi "murahan" karena langsung mau berhubungan seks padahal baru bertemu pertama kali, namun hendak mengemukakan kejanggalan dan kelemahan hipotesis yang mengatakan bahwa perempuan tersebut merasa telah ditipu/dimanipulasi. Hipotesis ini janggal dan lemah karena mengandaikan perempuan tersebut mengalami perkosaan akibat ditipu/dimanipulasi dengan membayangkan laki-laki tersebut mengaku dirinya sebagai Yahudi padahal bukan. Jika ini yang terjadi, berarti hubungan seks yang telah terjadi rupanya hanya dilandasi oleh alasan yang sangat dangkal, yakni: asal negara yang sama. Artinya, perempuan Israel tersebut mau berhubungan seks dengan laki-laki itu karena ia juga orang Israel, padahal kenyataannya bukan. 

    Setelah mempertimbangkan ketiga hipotesa di atas, maka dapat dikatakan bahwa yang terjadi adalah hubungan seks yang dilakukan tanpa paksaan/kekerasan karena masing-masing pihak sama-sama mau melakukannya alias mau sama mau. Dengan demikian, tuduhan yang dilakukan perempuan Israel terhadap laki-laki Arab yang malang tersebut sangatlah lemah dan tidak berdasar karena tidak didukung oleh argumen-argumen yang kuat, ditambah, latar belakang dan sejarah kedua bangsa (Yahudi dan Arab) yang selalu bermusuhan. Ini artinya, tuduhan perempuan itu sangat mungkin dilandaskan pada kebencian terhadap bangsa tertentu yang dilampiaskan melalui salah seorang warganya.

    Selasa, 20 Juli 2010

    Dukun vs. Taktik

    Saya bukanlah pengagum Jose Mourinho, salah seorang manajer klub sepak bola tersukses di awal abad ke-21 karena mampu mengantar dua klub sepak bola berbeda - Porto (Portugal) 2004 dan Inter Milan (Italia) 2010 - merebut Piala Champions UEFA, karena keangkuhannya. (Ketika melatih klub Chelsea menyebut dirinya sebagai The Special One.) Namun, terlepas dari berbagai sikap dan perkataannya yang seringkali mengundang kontroversi serta keangkuhannya tersebut, harus diakui ia merupakan seorang manajer cerdas yang bertangan dingin karena, selain mampu membawa dua klub berbeda merengkuh Piala Champions UEFA, ia langsung berhasil membawa Chelsea menjuarai Liga Premiership (Inggris) setelah ditunjuk melatih klub tersebut, bahkan dua kali berturut-turut. Ia juga sukses mengantarkan Inter Milan menggondol tiga piala dalam satu musim (Liga Italia, Coppa Italia, dan Champions UEFA) di tahun keduanya menangani klub tersebut.

    Oleh karena itu, ketika salah seorang dukun kenamaan di Kenya mengaku telah didatangi Mourinho karena ia meminta bantuan dari dukun tersebut untuk tugas barunya (sekarang Mourinho menangani Real Madrid - Spanyol), berita tersebut sangatlah mencurigakan, tetapi tetap masuk akal. Artinya, merupakan hal yang masuk akal alias bisa saja Mourinho mendatangi seorang dukun kenamaan di Kenya untuk menolongnya agar sukses menangani Real Madrid, namun hal tersebut sangatlah mencurigakan. Berita tentang Mourinho, seorang salah seorang manajer klub tersukses di abad 21, mendatangi dukun agar sukes merupakan hal yang sangat mencurigakan. Apakah sebelum ini Mourinho memiliki kebiasaan mendatangi dukun supaya sukses melatih beberapa klub sepak bola? Kemungkinan tersebut sangatlah kecil. Artinya, kebenaran berita tersebut sangatlah diragukan mengingat kemampuan mumpuni Mourinho ketika menukangi beberapa klub, baik besar maupun kecil.

    Dengan demikian, "mantra" (baca: taktik) Mourinho ketika memimpin beberapa klub tidak bisa dianggap remeh apalagi dibandingkan dengan "mantra" yang digunakan oleh dukun karena taktik yang digunakan Mourinho telah terbukti jauh lebih ampuh ketimbang jampi-jampi dukun yang tidak lebih dari omong kosong belaka. Buat apa seorang Mourinho berkonsultasi dengan seorang dukun, sekalipun dukun kenamaan (di Kenya pula!), padahal ia telah terbukti sebagai salah seorang ahli strategi yang jitu. Ingat saja ketika ia menukangi Porto yang pada saat itu sangat tidak sebesar klub-klub di zamannya, seperti misalnya: Real Madrid dan Milan, namun Porto mampu menjuarai Champions UEFA setelah di final menumbangkan Monaco dengan skor yang meyakinkan, yakni 3-0. Yang masih hangat adalah ketika dengan strategi yang sangat tepat Mourinho berhasil membawa Inter Milan merebut piala yang sama tahun ini setelah menumbangkan kampiun tahun lalu, Barcelona, dan di final mematahkan taktik seorang ahli strategi (senior) lainnya, yakni Louis van Gaal (Bayern Muenchen) dengan skor akhir yang juga meyakinkan, yakni 2-0.

    Kejanggalan atau lebih tepatnya pertanyaan lain yang bisa dikemukakan setelah membaca berita itu adalah: Buat apa seorang Mourinho meminta bantuan seorang dukun di Kenya yang katanya juga berperan sebagai konsultan pengurus sepak bola di negeri itu, sedangkan prestasi timnas sepak bola negeri itu sendiri tidak lebih baik dari timnas, seperti misalnya: Nigeria, Pantai Gading, dan Kamerun (peserta Piala Dunia yang baru saja berakhir). Apakah timnas Kenya baru-baru ini pernah ikut serta dalam perhelatan Piala Dunia, atau setidaknya, berprestasi dalam perebutan Piala Afrika? Sejauh yang saya ketahui fakta tersebut tidak terbukti. Jika demikian, kemungkinan Mourinho berkonsultasi dengan seorang dukun di Kenya demi kesuksesannya di Real Madrid sangatlah kecil karena yang dibutuhkan oleh seorang Mourinho bukanlah jampi-jampi melainkan "ramuan" (baca: susunan pemain) yang tepat dan strategi yang jitu demi membawa Real Madrid - klub sepak bola terkaya di dunia - merebut sebanyak mungkin trofi yang menjadi ambisi klub sebesar, setua, dan sekaya Real Madrid.

    Sabtu, 17 Juli 2010

    Kaum Minoritas (Wajib) Dibunuh!

    Sepertinya ada beberapa kelompok dalam masyarakat, khususnya kaum beragama yang memiliki kecenderungan membasmi kelompok lain yang tidak "seiman" atau tidak "setradisi" dengan kelompoknya. Terlebih jika kelompok yang "berbeda" itu merupakan minoritas dalam masyarakat sehingga ada kecenderungan yang dimiliki oleh para anggota kaum mayoritas untuk melenyapkan kelompok minoritas, atau setidaknya, berupaya bertindak keras terhadap mereka. Kenyataan inilah yang terjadi di Pakistan ketika sekelompok Muslim Shia diserang dan dibunuh oleh, yang diduga kuat, kelompok Muslim Sunni. Peristiwa itu sendiri terjadi di wilayah yang mayoritas penduduknya adalah Muslim Sunni. Para penganut Muslim Shia dalam komposisi penduduk Pakistan hanya 20% dari total penduduk yang berjumlah 160 juta orang.

    Kenyataan sepertinya ini sesungguhnya tidak hanya terjadi di Pakistan melainkan terjadi di berbagai belahan dunia lainnya apalagi ketika bersinggungan dengan ranah keagamaan, di mana kelompok mayoritas menganggap jika kelompok minoritas patut disingkirkan dari masyarakat. Mengapa kelompok mayoritas (keagamaan) tega melakukan hal keji seperti itu? Hal ini mereka lakukan karena menganggap jika kebenaran absolut dimiliki oleh kelompok mereka dengan meniadakan kebenaran yang dianut oleh kelompok lain. Ini didasarkan pada jumlah pengikut mereka lebih banyak sehingga beranggapan Tuhan yang menjadi sesembahan mereka (hanya) memberkati kelompoknya. Dengan demikian, kelompok mayoritas yakin bahwa Tuhan tidak mungkin memberkati kelompok minoritas.

    Keyakinan bahwa kelompoknya diberkati Tuhan inilah yang membuat kelompok mayoritas tidak ragu bertindak semena-mena terhadap kelompok minoritas. Mereka menganggap bahwa kebenaran dan berkat Tuhan sebagai hal absolut bagi kelompok mereka saja. Mereka sama sekali menutup kemungkinan jika ada kebenaran lain yang dianut oleh kelompok lain sekalipun kelompok itu tergolong minoritas dalam masyarakat. Nyata dalam masyarakat jika kuantitas masih memainkan peranan yang utama dengan keyakinan bahwa mayoritas berarti benar. Ini merupakan salah contoh "teori" yang salah bahkan sesat karena sesungguhnya kuantitas sama sekali tidak menentukan kebenaran suatu hal.

    Sabtu, 10 Juli 2010

    Gaya Kuno

    Seorang perempuan Iran "lolos" dari hukuman rajam setelah pemerintah Iran mencabut tuntutan mengerikan tersebut. Sebelumnya perempuan itu diancam hukum rajam akibat terbukti telah melakukan hubungan tidak resmi dengan dua orang laki-laki sepeninggal suaminya. Sudah merupakan hukuman dalam negara Iran jika seorang perempuan terbukti melakukan perbuatan seksual di luar pernikahan (Islam), maka ia akan dirajam, sedangkan jika terbukti adanya hubungan seksual sebelum nikah akan dicambuk sebanyak 100 kali. Semua hukuman itu tentu didasarkan pada hukum-hukum Islam yang merupakan dasar pemerintahan Iran.

    Terlepas dari tindakan seksual perempuan tersebut (berhubungan dengan dua laki-laki sepeningal suaminya) dan hal baik yang diperolehnya karena ia tidak akan dihukum rajam, pemberlakuan hukuman yang didasarkan pada hukum-hukum Islam seperti yang diberlakukan di Iran merupakan hal yang sangat mengerikan. Dikatakan mengerikan karena mereka masih memberlakukan jenis hukuman yang sama sekali tidak manusiawi, di mana manusia diperlakukan layaknya binatang, dengan dicambuk dan dirajam. Sangat mungkin banyak orang berdalih bahwa hukuman seperti itu hendak memberikan efek jera terhadap si terhukum, namun hukuman seperti itu dilakukan pada zaman baheula ketika peradaban manusia tidak sebegitu modern seperti saat ini, di mana hak asasi dan kebebasan manusia sudah lebih diperhatikan dan diperjuangkan.

    Pemberlakuan jenis hukuman yang begitu keras dan mengerikan sesungguhnya menunjukkan bahwa pemerintahan atau kelompok yang memberlakukan hal tersebut tidak menghargai (ke)hidup(an) yang menjadi hal setiap orang. Lebih dari itu, pemerintah atau kelompok yang memberlakukan cara-cara hukuman yang sangat keras dan keji memperlihatkan mereka sebagai barbarian yang masih hidup di zaman dahulu. Mereka adalah orang-orang yang hidup di masa kini (modern), namun masih berperilaku bagaikan orang-orang yang hidup ribuan tahun yang lampau. Orang-orang seperti itu tidak mau melihat kenyataan, bahkan menutup mata dan telinga serta membentengi pikiran mereka dari berbagai hal yang terjadi di masa kini ketika pemikiran dan peradaban manusia terus berkembang, namun sebaliknya mendasarkan pikiran mereka pada hukum-hukum agama yang sudah usang alias out-of-date karena sebenarnya sudah tidak sesuai dengan kenyataan riil yang terjadi di masa kini.

    Kembali pada berita mengenai perempuan yang tidak akan dijatuhi hukuman rajam tadi, jika orang tidak membaca berita tersebut dengan cermat maka orang akan segera memberikan pujian dan penghargaan pada pemerintah Iran yang sudah membatalkan hukuman atas perempuan itu, yang sesuai dengan perjuangan hak asasi manusia. Namun, kita tidak tahu dan tidak bisa memastikan jika (ancaman) hukuman yang sama tidak akan berlaku lagi pada orang lain, bukan? Orang mungkin juga terburu-buru memuji pemerintah Iran yang sudah bersikap manusiawi karena tidak jadi merajam perempuan tersebut sehingga tidak memperhatikan bahwa sebelumnya perempuan malang tersebut telah mengalami hukuman dicambuk sebanyak 99 kali! Apakah ini yang dinamakan dengan sikap yang sesuai dengan perjuangan kemanusiaan? Jauh dari kenyataan yang sesungguhnya!