Tampilkan postingan dengan label Psikologis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 November 2010

Menangis

Seorang remaja lelaki berusia 16 tahun menangis di sel tahanan setelah ditangkap akibat dituduh telah melakukan perkosaan terhadap seorang remaja perempuan yang seusia dengannya. Menurut berita remaja lelaki itu menangis karena menyesali perbuatannya, dan hal seperti inilah yang menjadi pandangan umum. Jadi, banyak orang yang menafsirkan dan/atau menganggap ketika seseorang menangis setelah perbuatan jahatnya diketahui, artinya orang tersebut tengah menyesali perbuatannya, apalagi jika tangisan itu disertai dengan pengakuan orang yang bersangkutan bahwa ia telah menyesali perbuatannya. Terlebih, tangisan itu dilakukan oleh seorang remaja dan/atau anak di bawah umur. Apakah benar demikian? Bisa saja, namun ada kemungkinan lainnya.

Setidaknya ada dua kemungkinan yang menyebabkan seseorang menangis setelah perbuatan jahatnya diketahui orang lain yang mengakibatkan orang itu ditangkap dan ditahan. Selain kemungkinan pertama - pandangan umum - yang telah dikemukakan di atas, di mana penyebab orang yang menangis itu karena ia dianggap menyesali perbuatannya, ada kemungkinan kedua, yakni: orang tersebut khawatir bahkan takut apa yang akan terjadi pada dirinya. Hal normal ketika orang menangis akibat takut terhadap hal apa yang akan menimpanya karena berkaitan dengan hukuman yang harus dijalani apalagi sampai hidup di penjara. Oleh karena itu, sangat mungkin seseorang menangis setelah perbuatan jahatnya diketahui dan dirinya ditangkap.

Orang akan menangis ketika perbuatan jahatnya diketahui dan sadar jika dirinya akan menghadapi hukuman untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya tersebut. Terlebih jika kejahatan dilakukan oleh seorang remaja atau anak di bawah umur karena di dalam benaknya sudah ada gambaran kehidupan sebagai seorang tahanan yang berada di penjara. Ini artinya ia menyadari bahwa dirinya tidak akan bisa berkumpul dengan keluarga dan bertemu dengan teman-teman bermainnya seperti ketika ia berada di luar penjara. Oleh karena itulah seseorang, apalagi remaja atau anak di bawah umur akan merasa ketakutan dan menangis karena sesungguhnya ia menyadari bahwa dirinya tidak bisa bebas lagi jika berada dalam tahanan penjara. 

Ketika orang (dhi. petugas hukum) menyadari adanya kemungkinan kedua ini, maka kasus kejahatan yang dilakukan seseorang bisa disikapi dengan jernih dengan mengutamakan dan mengedepankan sikap yang didasarkan pada hukum yang adil. Artinya, hukum ditegakkan dengan tidak memandang latar belakang seseorang, sekalipun perbuatan jahat dilakukan oleh seorang remaja atau anak di bawah umur.

Jumat, 29 Oktober 2010

Kesurupan & "Kitab Suci"

Apakah seorang yang mengalami fenomena kesurupan bisa disembuhkan atau ditanggulangi dengan meningkatkan tradisi membaca "kitab suci?" Atau, apakah peristiwa kesurupan bisa ditekan atau diminimalisasi dengan cara mengadakan pembacaan "kitab suci?" Jawaban yang diberikan adalah positif, setidaknya inilah yang dipercaya Kepala Sekolah Menengah Kejuruan I Kota Bengkulu setelah beberapa siswanya kesurupan. Apakah dengan membaca "kitab suci" mampu menghindarkan seseorang dari kesurupan atau apakah kebiasaan membaca "kitab suci" bisa mempengaruhi emosi seseorang sehingga orang tersebut bisa terhindar dari kesurupan?

Pandangan yang mengatakan bahwa kegiatan beragama, seperti salah satunya, mengadakan pembacaan "kitab suci" dapat mempengaruhi emosi seseorang masih sangat kuat mempengaruhi pikiran masyarakat luas, khususnya di Indonesia. Dalam tingkatan tertentu, kegiatan beragama bisa saja membuat seseorang - tentunya yang beragama - merasa lebih tenang, terkendali, dan adem. Mereka yang percaya jika kegiatan beragama bisa mengendalikan emosinya mengatakan bahwa agama membawa dan melahirkan kebahagiaan  dan ketenangan batin. Bahkan tidak jarang juga jika hal tersebut "tertular" atau setidaknya, sampai dilihat oleh orang lain sehingga orang lain pun turut merasa tenang. Namun demikian, pandangan yang mengatakan bahwa kegiatan beragama bisa membuat orang beragama tenang amatlah lemah karena sekian kasus kesurupan yang terjadi di Indonesia malah dialami oleh orang-orang yang, setidaknya mengklaim diri sebagai orang beragama. Jika demikian adanya, maka klaim yang mengatakan bahwa kegiatan beragama bisa menenangkan bahkan mengendalikan emosi seseorang bersifat subjektif karena tidak terbukti pada orang lain.

Emosi yang dialami setiap orang tidak turun dari langit melainkan dibentuk, baik oleh bawaan gen yang dimiliki orang yang bersangkutan maupun lingkungan di mana orang itu hidup. Jika kegiatan beragama dianggap sebagai salah satu hal yang termasuk ke dalam unsur lingkungan/sosial, maka mungkin saja emosi seseorang bisa dipengaruhi oleh kegiatan beragama yang dilakukannya. Bagaimana dengan pembacaan "kitab suci?" Bukankah itu juga termasuk dengan kegiatan? Ya, dalam pengertian yang sangat sempit, namun tidak dalam pengertian yang lebih luas. Jika membaca "kitab suci" dilakukan secara pribadi aktivitas tersebut merupakan aktivitas yang lebih mengarah pada diri sendiri. Jika aktivitas membaca "kitab suci" dilakukan secara berkelompok, maka sesungguhnya yang terjadi adalah sugesti yang diperoleh seseorang atau beberapa orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Jadi, bukan "kitab suci" yang mampu membuat seseorang merasa tenang atau mengendalikan emosinya melainkan "perasaan" subjektif yang dimiliki orang yang bersangkutan karena sejak awal sudah datang dengan membawa keyakinan bahwa dirinya akan merasa tenang karena membaca "kitab suci."

Apakah dengan demikian kegiatan membaca "kitab suci" bisa diperhitungkan sebagai aktivitas yang mampu menenangkan atau mengendalikan emosi seseorang? Jawabannya adalah: ya dan tidak. Ya, jika seseorang memiliki keyakinan yang begitu kuat bahwa hal yang dilakukannya bisa menenangkan dirinya. Ini artinya, bukan "kitab suci" yang mampu membuat "perasaan" orang tersebut tenang melainkan pikirannya sendiri. Tidak, jika orang menempatkan aktivitas membaca "kitab suci" dalam konteks lebih luas, di mana kegiatan tersebut melibatkan orang lain. Jadi, bukan kegiatan membaca "kitab suci" yang membuat seseorang menjadi tenang atau adem melainkan suasana tertentu yang dialami orang tersebut ketika ia berada dalam kegiatan membaca "kitab suci" secara berkelompok.

Dengan demikian, kegiatan membaca "kitab suci" tidak bisa mempengaruhi emosi seseorang atau tidak bisa membuat "perasaan" seseorang menjadi lebih tenang. Ini berarti bahwa tidak ditemukan hubungan antara "kitab suci" dan kesurupan yang bisa membuat orang berkesimpulan bahwa tindakan/aktivitas membaca "kitab suci" mampu menekan atau menghindari orang dari kesurupan karena kesurupan terjadi akibat lemahnya pengendalian emosi yang dilakukan seseorang yang berbenturan dengan fenomena sosial yang dihadapinya. Jika ini yang terjadi, maka rencana mengadakan kegiatan membaca "kitab suci" dalam upaya menanggulangi kesurupan merupakan tindakan yang menyederhanakan masalah karena kesurupan merupakan masalah psikologi sekaligus sosiologis, oleh karenanya tidak bisa ditanggulangi oleh kegiatan membaca "kitab suci."

Jumat, 15 Oktober 2010

Akibat Emosi

Inilah akibatnya ketika manusia tidak mampu berpikir jernih karena, entah sengaja ataupun tidak sengaja membiarkan dirinya dipengaruhi bahkan dikuasai sesuatu yang tidak "sehat" (dhi. emosi). Ketika manusia tidak mampu "mengambil jarak" dari sesuatu yang berada, baik di dalam maupun di luar dirinya, maka akibatnya manusia dikendalikan oleh hal tersebut. Emosi inilah yang menguasai dan mempengaruhi seorang pelatih sepakbola sehingga ia memaki pihak lain dengan sebutan yang sangat tajam. Jika manusia memang sepakat bahwa dirinya adalah makhluk yang memiliki rasio maka sudah sepatutnyalah setiap perkataan dan tingkah lakukan didasarkan pada rasio tersebut. 

Mengapa rasio? Jika rasio yang selalu digunakan sebagai dasar setiap perkataan dan tindakan manusia, maka nyaris bisa dipastikan manusia tidak mudah dan cepat marah yang diakibatkan oleh emosi yang menguasai dirinya. Apakah ini artinya emosi yang mengakibatkan kemarahan harus disingkirkan sama sekali dari hidup manusia? Mungkin tidak. Maksudnya adalah bahwa emosi yang mengakibatkan kemarahan harus dikendalikan/dikuasai sehingga tidak membuat manusia melakukan hal-hal konyol yang tidak mencerminkan manusia sebagai makhluk rasional.

Bagaimana "melatih" rasio tersebut? Melakukan meditasi-kah? Bisa ya, bagi banyak orang. Bisa juga dengan memikirkan dampak tertentu yang bisa terjadi terhadap orang lain jika emosi yang mengakibatkan kemarahan tersebut dibiarkan. Artinya, manusia harus mampu memikirkan secara jernih akibat yang akan terjadi jika perkataan dan/atau tindakan tertentu dialamatkan pada, baik dirinya maupun orang lain. Jika dampak yang dihasilkan negatif (membuat orang lain marah/kecewa), ini artinya orang yang mengakibatkan hal tersebut tidak menggunakan rasio yang dimilikinya karena telah membiarkan dirinya dikuasai dan dikendalikan oleh emosi. Pada saat itulah orang tersebut tidak layak disebut sebagai makhluk yang memiliki rasio.

Jumat, 01 Oktober 2010

Salah Panggil

Setelah "kasus" salah penanganan yang dilakukan sebuah sekolah dengan memanggil polisi untuk menangani masalah psikologis yang dialami murid-muridnya, sekarang kasus yang serupa dilakukan sekolah lainnya ketika berusaha menangani permasalahan yang sama. Peristiwanya adalah ketika belasan murid salah satu SD di Kota Jambi mengalami kesurupan. Seperti yang dipahami dan diyakini kebanyakan orang lainnya, di mana fenomena kesurupan diakibatkan oleh makhluk halus yang masuk dan mengganggu jasmani seseorang, dan karenanya sekolah tersebut memanggil "orang pintar" untuk mengusir makhluk halus tersebut.

Tindakan yang dilakukan sekolah tersebut sangatlah tidak bijak dan sama sekali tidak tepat karena menunjukkan bahwa sekolah sama sekali tidak mengetahui permasalahan sesungguhnya yang telah terjadi. Oleh karena itulah para guru bukan hanya perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan, seperti: mendidik anak-anak, bagaimana menangani anak-anak yang membutuhkan penanganan khusus, dan menyusun rencana pengajaran, namun para guru perlu bahkan sangat perlu (melihat banyaknya kasus "kesurupan" yang dialami anak-anak di lingkungan sekolah) dibekali dengan pengetahuan psikologi dasar khususnya psikologi anak dan remaja. Ini dilakukan dengan harapan agar pihak sekolah mampu memberikan penanganan yang bijak dan cermat setiap kali murid (-muridnya) mengalami gangguan, tekanan, atau masalah psikologis di sekolah. Tentu hal seperti ini perlu didukung oleh pemerintah, khususnya Departemen Pendidikan untuk menjadi fasilitator, penyedia, atau  penyelenggara bagi pendidikan atau pelatihan bagi para guru terkait dengan psikologi dasar tersebut.

Jika setiap warga negara Indonesia termasuk pemerintah menganggap bahwa pendidikan adalah hal dasariah yang sangat penting bagi setiap warga (baca: anak), maka penanganan yang bijak dan tepat terhadap anak-anak merupakan sesuatu yang sangat penting dan mendesak untuk direalisasikan, terlebih ketika anak-anak mengalami peristiwa tertentu di lingkungan sekolah. Tentu, penanganan yang bijak dan tepat terhadap anak-anak yang dilakukan di sekolah sudah seharusnya dilakukan dengan berdasar pada pengetahuan relevan yang ditopang oleh pemikiran kritis yang memadai. Pengetahuan relevan yang dimaksud dalam konteks ini adalah dengan memperhatikan perkembangan psikologis anak/remaja dan konteks sosial di mana mereka hidup, baik di lingkungan sekolah bersama teman-temannya, hubungannya dengan para guru, dan tugas-tugas sekolah, maupun di rumah bersama keluarga, pergaulan di sekitar rumah, dan tugas-tugas yang dikerjakan di rumah. Ketika perkembangan psikologis anak/remaja diperhatikan dalam kaitannya dengan konteks sosial anak/remaja yang luas, maka diharapkan para guru mampu memahami sedikit-banyak murid-muridnya. Tentu tidak secara keseluruhan dan mendalam, namun setidaknya, para guru cukup bisa mengetahui ketika murid (-muridnya) mengalami masalah psikologis tertentu.

Tawaran atau saran di atas bukanlah suatu mission impossible atau sesuatu yang mengawang-awang, namun sebaliknya, suatu yang sangat masuk akal, realistis, dan tidak sulit untuk diejawantahkan. Hal yang dibutuhkan adalah kemauan dan komitmen untuk memperlakukan dan menangani anak-anak didik dengan bijak dan tepat yang semuanya dilandaskan pada pengetahuan yang relevan dan pemikiran kritis yang memadai. Jika ini bisa dilakukan maka niscaya pihak sekolah tidak perlu dan tidak akan memanggil "orang pintar" ke sekolah karena yang dialami anak-anak itu sesungguhnya adalah perihal psikologis bukannya sesuatu yang bernuansa paranormal.

Jumat, 17 September 2010

Hantu Casper

Berbagai "bukti" disajikan orang untuk mengatakan bahwa makhluk yang disebut hantu sungguh-sungguh ada. Salah satunya seperti yang direkam melalui CCTV, di mana terlihat ada sosok hantu Casper seperti dalam film kartun dengan nama yang sama. Penampakan hantu Casper tersebut muncul lewat tengah malam di sebuah pub di Cumbrian, Inggris, ketika pub tersebut telah tutup dan tidak ada seorang pun di dalam ruangan tersebut. Berita tersebut menyebutkan bahwa CCTV menangkap fenomena penampakan hantu Casper seperti bola cahaya. Beberapa tanggapan bisa diberikan berkaitan dengan fenomena penampakan tersebut.

1. Kemungkinan besar objek yang akhirnya dipercaya beberapa orang sebagai hantu mirip Casper melalui CCTV tersebut tidak lebih merupakan pantulan yang berasal dari objek (-objek) yang permukaannya terang. Selain itu, bisa jadi munculnya gambaran seperti itu merupakan hasil dari pantulan cahaya yang berasal dari partikel-partikel debu atau tetesan-tetesan air/embun yang terdapat dekat dengan lensa kamera. Oleh karena itu, salah satu dari kedua hal tersebut bisa menghasilkan gambar agak putih muncul di tengah ruangan yang diliputi kegelapan.

 2. Meski CCTV menampilkan objek tersebut bergerak melintasi ruangan yang gelap itu sebelum menghilang melalui langit-langit ruangan tersebut, namun sangat mungkin sesungguhnya yang terjadi adalah bahwa partikel-partikel debu atau tetesan-tetesan air/embun - seperti terdapat dalam poin pertama - bergeser karena ditiup angin sampai ke luar jangkauan lensa kamera. Hal ini menjelaskan fenomena mengapa objek tersebut bergerak sebelum akhirnya menghilang dari penangkapan CCTV.

3. Berkaitan dengan fenomena penampakan hantu Casper itu berita tersebut juga "didukung" oleh hal-hal ganjil yang terjadi di dalam dan sekitar pub seperti direkam melalui CCTV milik perusahaan yang berada di sebelah pub itu, seperti:
  • Mouse komputer di ruangan tersebut bergerak sendiri.
  • Kantor di pub itu diterangi cahaya lembut ketika layar komputer aktif.
  • Tidak lama kemudian papan pub yang terdapat di kaca depan jatuh.
  • Semenjak keganjilan-keganjilan tersebut anjing pemilik pub menggonggong setiap kali memasuki pub tersebut.  

4. Terakhir, beberapa orang karyawan perusahaan yang berada di sebelah pub mengatakan bahwa bangunan pub tersebut dulunya digunakan sebagai perusahaan jasa pemakaman. 

    Jika poin pertama dan kedua merupakan upaya menjelaskan fenomena penampakan hantu Casper melalui sudut pandang ilmiah, maka poin ketiga dan keempat merupakan penjelasan yang berkaitan dengan sisi psikologis yang sangat mungkin mempengaruhi pandangan orang-orang yang melihat tayangan CCTV tersebut dan/atau membaca berita mengenai fenomena tersebut. Oleh karena itu, poin ketiga dan keempat bisa dikatakan sebagai hal-hal yang "mendukung" dan mempertegas munculnya fenomena penampakan hantu Casper pada tengah malam di pub tersebut sehingga banyak orang memperhitungkan hal tersebut sebagai suatu kebenaran. Hal-hal ganjil yang terjadi di dalam dan sekitar pub tersebut sekalipun direkam oleh CCTV perusahaan yang berada di sebelah pub tersebut tidak bisa dijadikan bukti jika hantu Casper tersebut memang sungguh-sungguh telah muncul di pub pada tengah malam tersebut. 

    Satu hal yang juga sangat penting dan tidak boleh dikesampingkan adalah bahwa "sejarah" bangunan pub tersebut yang dulunya merupakan perusahaan jasa pemakaman. Hal ini menambah kesan misteri terhadap pub tersebut. (Hal yang berkaitan dengan pemakaman > kematian > hantu Casper.) Hal yang berkaitan dengan sejarah suatu tempat atau peristiwa seringkali memainkan peranan yang begitu vital dalam pengambilan keputusan seseorang. Artinya, sejarah atau peristiwa yang terjadi di masa lalu dianggap sebagai tolok ukur untuk menilai bahwa peristiwa yang terjadi saat ini sebagai kebenaran. Meski sejarah memainkan peranan yang sangat vital dalam menentukan kebenaran peristiwa yang terjadi saat ini, namun sejarah sama sekali tidak bisa dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk menilai kebenaran tersebut.

    Kembali pada fenomena penampakan hantu Casper di atas, maka orang harus mempertimbangkan secara cermat poin pertama dan kedua sekaligus memperhitungkan poin ketiga dan keempat sehingga orang tidak terjebak pada kepercayaan yang buta dan menyesatkan. Ketika orang mampu berpikir kritis - salah satunya dengan menggunakan tolok ukur sains - dan tidak lengah terhadap unsur-unsur psikologis, maka orang itu bisa dikategorikan sebagai makhluk hidup yang telah menggunakan nalarnya dengan maksimal.

    Selasa, 14 September 2010

    "Bukti"

    Seorang pemuda dan kelima temannya mengaku telah melihat sesosok yang dikenal dengan nama kuntilanak di sebuah tempat yang diyakini angker dan ada penunggunya. Di bawah  ada sekian keterangan yang bisa dianggap banyak orang sebagai "bukti" bahwa penglihatannya tersebut sungguh-sungguh terjadi alias ia dan kelima temannya tidak melakukan kebohongan:
    1. Areal tersebut sudah diyakini angker dan ada penunggunya.
    2. Sepi (pemukiman penduduk agak ke dalam).
    3. Dekat dengan kuburan.
    4. Malam Jumat.
    5. Terjadi subuh (sekitar pukul. 04.00).
    6. Dilihat dari jarak yang sangat dekat yakni 10 meter.
    7. Disaksikan lebih dari 2 orang.
    8. Sama persis dengan gambaran cerita banyak orang sebelumnya.
    9. Pernah diceritakan oleh para orangtua sebagai tempat yang angker dan ada penunggunya.
    10. Pertanda akan ada korban jiwa dan terbukti besoknya terjadi kecelakaan di tempat itu.
    11. Tiga minggu tidak berani ke tempat itu lagi.

    Ke-11 poin di atas merupakan ciri umum yang biasa orang baca atau dengar setiap kali seseorang/sekelompok orang mengaku telah melihat penampakan "makhluk halus" atau peristiwa misterius. Bagi beberapa orang atau banyak orang semua poin di atas dengan mudah membentuk gambaran awal seseorang mengenai hal-hal yang serba misterius sehingga mengaitkannya dengan penampakan "makhluk halus." Sejauh ini belum ada berita/cerita mengenai sekelompok orang yang melihat hantu pada siang hari "bolong" di tengah keramaian jalan atau pasar karena hal tersebut bisa dianggap sebagai lelucon yang sengaja dibuat oleh orang-orang itu. Atau, mereka akan dianggap hanya mencari perhatian banyak orang dengan membuat cerita picisan. Namun, hal serupa tidak akan terjadi jika diceritakan bahwa peristiwa tersebut terjadi di kegelapan malam yang sunyi. Tentu, cerita yang kedua memberikan efek dramatis yang sangat pas khususnya bagi mereka yang sangat demen dengan cerita-cerita misterius.
    Hal yang harus diperhatikan bahwa peristiwa tersebut disaksikan lebih dari dua orang, dan semua orang yang menyaksikannya adalah teman. Ini artinya sangat mungkin peristiwa yang sebetulnya hanya disaksikan oleh satu orang, namun karena yang menyaksikan memiliki kedekatan psikologis, entah teman, keluarga, ataupun pasangan, maka orang yang menyaksikan secara tidak disadari mempengaruhi orang-orang yang memiliki kedekatan dengannya. Demikian pula halnya dengan orang-orang lain tersebut, karena mereka memiliki kedekatan psikologis dengan orang yang menyaksikan peristiwa tersebut maka mereka tanpa disadari segera atau mudah percaya dengan pengakuan yang dikatakan oleh orang itu. Ini adalah pola yang sangat mudah terbaca, khususnya berkaitan dengan pengakuan orang mengenai hal-hal tertentu, termasuk pengakuan dalam dunia kejahatan (pengadilan). Maksudnya, ketika mengambil keputusan untuk percaya atau tidak percaya, mendukung atau tidak mendukung orang tertentu bukannya menggunakan akal sehatnya dengan berdasar pada bukti-bukti yang jelas dan kuat melainkan mendasarkannya pada emosi, seberapa dekat, intim, atau jauh hubungan yang dimilikinya dengan orang tersebut. Ini merupakan hal yang sangat salah dan sesat.

    Hal berikut yang harus diperhatikan bahwa setiap orang memiliki asumsi yang berasal dan/atau dibentuk dari berbagai hal yang sudah diterimanya, misalnya berupa cerita dan/atau ingatan. Cerita dan/atau ingatan ini bisa berasal dari otoritas tertentu, misalnya: orangtua, pemuka dalam masyarakat, atau guru/dosen yang dianggap ahli dalam bidangnya. Selain itu, cerita dan/atau ingatan bisa dibentuk oleh opini publik. Artinya, karena banyak orang mengaku sudah mengalaminya langsung maka hal tersebut dianggap sebagai kebenaran. Kedua hal tersebut - otoritas dan opini publik - disadari ataupun tidak disadari seringkali digunakan banyak orang untuk menyimpulkan bahwa sesuatu itu sungguh-sungguh terjadi dan benar adanya. Penggunaan otoritas yang didukung oleh opini publik seringkali mengecoh bahkan menyesatkan banyak orang dalam banyak hal, termasuk hal-hal yang misterius. Oleh karena otoritas dan opini publik yang digunakan dengan menggantikan akal sehat seseorang, maka pikiran banyak orang pun dibentuk oleh pandangan-pandangan orang lain tanpa terlebih dahulu menguji apakah pandangan-pandangan (termasuk keyakinan) itu benar atau salah. Maka dari itu tidak perlu kaget jika banyak orang yakin dan percaya pada keberadaan hantu karena hal itu diturunkan dari orangtua dan/atau mendengar cerita banyak orang mengenai hal itu sehingga di kepalanya pun muncul "gambaran" mengenai hantu yang dimaksud. Kedua hal ini pun salah dan sesat karena telah menggunakan otoritas dan opini publik sebagai ukuran untuk menilai kebenaran suatu hal.

    Cerita kuntilanak seperti dalam berita di atas pun diakhiri oleh kenyataan bahwa peristiwa itu menjadi pertanda terjadinya kecelakaan. Padahal seperti telah diungkapkan dalam berita yang sama, tanpa "kehadiran" kuntilanak pun tempat tersebut tergolong rawan kecelakaan akibat bentuk jalan yang menikung tajam, dan mungkin diperparah oleh minimnya rambu lalu-lintas atau lampu jalan yang bisa membantu para pengendara sehingga resiko kecelakaan pun bisa ditekan. Jika setiap kecelakaan, entah kecil ataupun besar, yang terjadi di tempat itu dikaitkan dengan penampakan kuntilanak, maka bisa dibayangkan sudah berapa ratus kali kuntilanak yang sama memperlihatkan dirinya kepada orang banyak. Jika ini yang terjadi maka tentu cerita mengenai kuntilanak tersebut tidak pudar dimakan waktu karena kecelakaan selalu terjadi dan semakin banyak orang percaya bahwa kuntilanak tersebut sebagai sesuatu yang nyata bahkan mempengaruhi "nasib" manusia.

    Ke-11 poin di atas bisa dianggap sebagai "bukti" penampakan kuntilanak bagi mereka yang sudah percaya bahwa kuntilanak atau segala macam dan nama "makhluk halus" itu ada. Keberadaan mereka ("makhluk halus") itu diturunkan dari para orangtua yang dipertegas oleh opini publik. "Oleh karena nenek saya mengatakannya dan banyak orang lain sudah menyaksikannya serta teman-teman saya pun mempercayainya maka kuntilanak itu memang ada." Jika demikian yang terjadi, sia-sialah otak manusia karena tidak berfungsi secara maksimal akibat hanya percaya pada orang lain dan bukan dipergunakan sebagai daya nalar untuk menguji banyak hal yang terjadi di sekitar.

    Selasa, 03 Agustus 2010

    Salah Penanganan

    Kembali muncul berita mengenai kesurupan yang dialami lebih dari satu orang dan kali ini dialami oleh beberapa siswi SMK di Kota Cimahi, Jawa Barat. Sayangnya pihak sekolah sama sekali tidak tahu bagaimana menangani masalah tersebut secara bijak sehingga mereka bukannya menyerahkan masalah tersebut kepada orang-orang yang memang kompeten di bidangnya, seperti: (seharusnya) guru BP atau guru-guru lainnya yang bisa diperbantukan, tetapi malah memanggil pihak keamanan alias polisi. Jelas, sekolah tidak tahu bagaimana menghadapi kasus yang disebut dengan "kesurupan" tersebut dengan tepat. Yang dibutuhkan dan seharusnya dilakukan oleh pihak sekolah adalah guru (-guru) BP yang seyogianya sudah diperlengkapi, setidaknya, oleh ilmu psikologi dasar sehingga bisa menangani kasus-kasus frustrasi yang dialami murid-muridnya. Sesungguhnya yang dialami oleh siswi-siswi malang tersebut bukanlah masalah kriminalitas, tetapi psikis. Artinya, para siswi tersebut bukan sedang melakukan tindak kriminal melainkan mengalami guncangan psikis yang cukup berat sehingga mengalami "kesurupan." Oleh karena itu, memanggil dan menyerahkan kasus tersebut pada pihak polisi adalah langkah yang sangat ga nyambung alias sama sekali salah.

    Memperhatikan kasus kesurupan yang dialami cukup banyak sekolah sudah seharusnya menjadi perhatian pemerintah, khususnya bagian pendidikan negeri ini, yakni dengan membekali para gurunya, terlebih guru BP, bukan hanya dengan teori-teori pendidikan melainkan juga dengan ilmu psikologi dasar. Ini dilakukan supaya para guru tersebut setidaknya memiliki kemampuan dasar bagaimana dalam menghadapi dan menangani kasus kesurupan jika menimpa murid (-muridnya). Kemampuan dasar tersebut sangatlah penting guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi lebih jauh, misalnya: ketakutan yang menghinggapi murid yang bersangkutan sehingga tidak mau masuk sekolah. Tentu, jika kesurupan ini terjadi berulangkali maka orang yang bersangkutan akan terganggu secara fisik dan pikiran karena peristiwa tersebut sangat menguras tenaga dan mentalnya. Oleh karena itulah guru-guru, terlebih guru BP, sudah sepatutnya diperlengkapi dengan ilmu psikologi dasar untuk menghadapi kasus-kasus seperti kesurupan tadi. Penanganan yang tepat dan cermat tentu akan memberikan hasil yang baik dan maksimal.

    Selain guru-guru, khususnya guru BP, diperlengkapi oleh ilmu psikologi dasar yang memadai, para murid juga sudah selayaknya diperkenalkan dan dibekali dengan psikologi umum yang mendasar. Ini dilakukan agar mereka, bukan hanya mengenal dan mengetahui gejala-gejala psikis tertentu yang bisa dialami beberapa orang, tetapi juga tahu bagaimana menghadapi dan mengatasi gejolak emosi yang dialaminya. Terlebih, para remaja masa kini yang dipenuhi oleh berbagai tuntutan, baik dari rumah (keluarga), sekolah, pergaulan (teman-teman), dan masyarakat. Psikologi umum mendasar tersebut diharapkan bisa membekali mereka, baik dengan ilmu maupun ketrampilan, sehingga mereka dapat melakukan interaksi seimbang dengan sekitar mereka. Artinya, mereka diharapkan bisa menempatkan diri secara proporsional dalam masyarakat sesuai dengan usia mereka. 

    Sebagai contoh sederhana para remaja bisa dilibatkan dalam berbagai kegiatan di dalam sekolah (kelas) maupun di luar sekolah yang mengajak mereka untuk berpikir kritis dan mampu menganalisis permasalahan. Kepada mereka diberikan beberapa contoh kasus remaja yang terjadi di masyarakat yang mengajak mereka untuk menyumbangkan pikirannya demi penyelesaian yang cocok dan tepat sesuai dengan konteks usia mereka serta relevan dengan kenyataan yang mereka hadapi sehari-hari. Hal ini diharapkan mampu merangsang daya pikir dan analisis para remaja sehingga mereka dapat terlibat aktif dalam banyak kegiatan ketimbang menuntut, memaksa, dan mencekoki mereka dengan berbagai hal yang tidak sesuai dengan usia mereka alias terlalu berat untuk usia mereka dengan diancam oleh berbagai hukuman. Tentu, ini bukanlah perkara yang mudah dilakukan seperti membalikan telapak tangan karena membutuhkan kurikulum yang tepat, kerja sama, kerja keras, dan waktu. Namun pada saat yang bersamaan hal ini juga bukanlah suatu mission impossible karena sesungguhnya bisa dilakukan.

    Minggu, 20 Juni 2010

    Kesurupan Massal

    Beberapa waktu lalu diangkat tulisan mengenai kesurupan. Kali ini fenomena yang serupa bukan hanya dialami oleh satu orang melainkan belasan orang lainnya. Mereka adalah para pegawai pabrik sepatu di Cianjur, Jawa Barat. Ternyata kesurupan bisa dialami oleh lebih dari satu orang (bahkan massal) di tempat yang sama. Artinya, kesurupan dialami oleh banyak orang di satu tempat (sekolah atau tempat kerja seperti pabrik). Fenomena kesurupan massal ini semakin membuat orang percaya bahwa kesurupan tersebut memang diakibatkan "roh /makhluk halus" yang merasuki tubuh orang banyak itu. Hal ini biasanya didukung oleh pernyataan orang-orang setempat yang mengatakan bahwa dulu di tempat tersebut ada orang yang meninggal akibat kecelakaan (kerja atau lalu lintas) atau meninggal akibat dibunuh. Pernyataan-pernyataan semacam itu semakin menebalkan kepercayaan orang terhadap adanya "roh/makhluk halus" yang bisa merasuki tubuh manusia. Apakah benar demikian?

    Tulisan mengenai kesurupan yang lalu sebenarnya telah menyinggung kaitan antara psikososial seseorang dengan tubuh, khususnya otak orang yang bersangkutan (rekan Moralizm, di kolom tanggapan, telah menjelaskan hal tersebut dengan cukup rinci). Artinya, berbagai hal yang terjadi atau dialami sehari-hari (sosial) oleh manusia disimpan dalam otak, khususnya hal-hal yang sangat baik dan sangat buruk. Hal-hal inilah yang direkam oleh dan dalam otak setiap manusia. Ketika ingatan-ingatan mengenai hal yang sangat buruk (menyakitkan) muncul dan orang itu tidak kuasa mengendalikan ingatan dan "perasaan" menyakitkan itu, maka motoriknya bergerak tidak beraturan dan biasanya sangat kuat. Ini terjadi akibat rangsangan yang dikirimkan dari otak yang menyimpan berbagai ingatan buruk tersebut.

    Dengan demikian, sekali lagi dapat dinyatakan bahwa sesungguhnya fenomena kesurupan yang dipercaya begitu banyak orang sebagai akibat "roh/makhluk halus" yang merasuki tubuh manusia adalah keliru. Sesungguhnya yang terjadi dalam fenomena kesurupan adalah gejala psikososial yang tidak mampu dikendalikan oleh orang-orang tertentu sehingga mereka dikatakan mengalami kesurupan.

    Mengapa banyak orang dengan mudah mencari penjelasan supernatural terhadap banyak hal yang terjadi di sekitarnya, seperti kesurupan? Karena banyak kelompok masyarakat yang sedari kecil dijejali dan di-"indoktrinasi" oleh berbagai kisah supernatural, seperti adanya tuyul, hantu, setan, wewe gombel, dan sejenisnya. Ditambah, penjelasan supernatural tidak njelimet alias sederhana sehingga memudahkan orang untuk mencerna bahkan mempercayainya. Selain itu, penjelasan secara supernatural, oleh banyak orang dianggap lebih menarik dan dramatis dibandingkan penjelasan saintifik yang dianggap kaku dan dingin. Oleh karena itu, tidak heran jika lebih banyak orang lebih memilih dan mempercayai berbagai penjelasan supernatural ketimbang penjelasan saintifik. Akibatnya, sebagian besar orang lebih mempercayai bahwa kesurupan massal terjadi kerena "roh/makhluk halus" telah merasuki tubuh orang banyak itu daripada mempercayai bahwa hal tersebut terjadi karena dipicu oleh latar belakang ekonomi dan sosial (sulit dan menghimpit) yang dialami orang-orang malang tersebut.

    Jumat, 11 Juni 2010

    "Membersihkan" Desa

    Seorang remaja Bali membuat heboh karena menyetubuhi seekor sapi di desanya. Perbuatan remaja tersebut dipergoki seorang warga sehingga mengharuskan pemimpin/ketua adat desa setempat melakukan upacara "membersihkan" desa. Ini dilakukan untuk "membersihkan" desa akibat perbuatan tidak senonoh remaja tersebut karena ia dianggap telah "mengotori" desa tersebut. Oleh karena itu, sapi yang menjadi "korban" tindakan aib remaja tersebut harus dibuang ke laut, namun si pemilik sapi memperoleh ganti rugi sebesar lima juta rupiah. Sedangkan remaja tersebut hanya dimandikan di laut untuk membuang aib dan kotor akibat perbuatannya tersebut.

    Banyak orang percaya bahwa jika seseorang melakukan tindakan yang melanggar norma tertentu dalam masyarakat, maka ia harus disertakan atau mengikuti upacara tertentu yang bertujuan untuk "membersihkan" orang tersebut dari "kotoran." Tentu, ini hanyalah simbol karena sesungguhnya tindakan orang tersebut sudah terjadi dan berlalu (kenyataan), namun ingatan orang lain dan dirinya terhadap tindakan tersebut tetap tersimpan. Namun sayangnya hal ini tidak disadari oleh banyak orang.

    Sesungguhnya yang dibutuhkan remaja itu adalah tindakan yang lebih nyata dan berguna mengingat apa yang telah dilakukannya. Artinya, ia tidak membutuhkan upacara "pembersihan" dari tindakan aib yang "mengotori" desa serta dirinya melainkan analisis yang jernih untuk memperoleh penyebab ia melakukan tindakan tersebut. Dengan demikian, remaja itu memperoleh penanganan yang tepat dan sesuai dengan analisis bio-psikologis yang telah dilakukan seakurat mungkin.

    Jumat, 04 Juni 2010

    Sepertinya Kaget...

    Beberapa hari lalu terjadi peristiwa yang bagi banyak orang sangat mengagetkan karena seorang yang sehari-hari terlihat sebagai "orang biasa" dan cenderung pendiam mengamuk dan membunuh 12 orang serta melukai 25 orang lainnya. Tanpa dapat diduga sama sekali, khususnya oleh mereka yang dekat (keluarga, tetangga, dan teman-teman sekerja), laki-laki yang cenderung pendiam namun ramah tersebut tega melakukan tindakan yang sangat keji. Tindakannya itu meninggalkan "kesan" yang sangat mendalam, baik orang-orang yang membaca ataupun mendengarkan berita tersebut, terlebih keluarga yang anggotanya menjadi korban.

    Banyak orang menanggapi tindakan laki-laki tersebut dengan bersikap sepertinya kaget bahkan tercengang karena sama sekali tidak menyangka perbuatan laki-laki yang memiliki hobi berburu tersebut. Ia membunuh dan melukai banyak orang menggunakan senapan yang biasa digunakannya untuk berburu. Beberapa orang menduga jika perbuatan laki-laki tersebut dipicu dan didorong bukan semata-mata oleh hobi berburu/menembak yang dilakukannya. Sangat mungkin ada latar belakang lain yang membuat laki-laki tersebut membunuh dan melukai banyak orang. Namun sayangnya laki-laki tersebut bunuh diri sehingga para psikolog dan/atau neurolog tidak bisa "membedah" kecenderungan-kecenderungan yang ada dalam sikap laki-laki tersebut dan apa yang terdapat di dalam otak laki-laki tersebut. Seandainya hal-hal tersebut terjadi maka bisa saja ditemukan jika ia mengidap skizofrenia.

    Salah satu hal yang pasti adalah bahwa tindakan yang dilakukan laki-laki tersebut seharusnya tidak disikapi dengan kaget apalagi sampai tercengang karena tindakan tersebut bisa dilakukan siapa saja, khususnya oleh mereka yang mengidap gangguan mental tertentu, seperti skizofrenia. Ini tidak berarti bahwa skizofrenia dan pembunuhan selalu berkaitan. Artinya, pembunuhan tidak selalu diakibatkan oleh skizofrenia atau gangguan mental lainnya. Namun, bisa saja gangguan mental tertentu, seperti skizofrenia mengakibatkan orang yang mengidapnya melakukan perbuatan-perbuatan fatalistik yang bagi banyak orang sangat mengagetkan. Namun demikian, sesungguhnya hal tersebut sama sekali tidaklah mengagetkan karena seluruhnya tindakan manusia dipengaruhi bahkan diatur otak.

    Senin, 18 Januari 2010

    Deja Vu

    Kata "Deja vu" berasal dari bahasa Perancis yang artinya "sudah melihat". Deja vu adalah perasaan aneh yang dialami seseorang setelah melihat sesuatu atau mengalami suatu peristiwa yang menurut orang itu pernah dilihat atau dialami sebelumnya, tetapi ia tidak ingat kapan tepatnya. Apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan deja vu? Apakah hal tersebut merupakan hal yang lumrah atau tidak lumrah?

    Jika yang dimaksud adalah ingatan akan pengalaman mengenai suatu peristiwa, maka sangat mungkin deja vu terjadi karena ingatan/memori seseorang belum sepenuhnya mengingat peristiwa yang sebenarnya pernah dialami oleh orang itu. Maka yang terjadi sesungguhnya adalah bahwa peristiwa yang sedang dialami memicu ingatan orang tersebut terhadap berbagai kumpulan ingatan mengenai berbagai peristiwa yang pernah dialaminya. Oleh karena itu, pengalaman seperti itu tentu akan dirasakan aneh oleh orang yang mengalami hal tersebut karena ingatannya masih terfragmentasi (terpecah-pecah/terbagi-bagi) dan belum membentuk satu ingatan yang utuh mengenai satu peristiwa. Harus selalu diingat dan disadari bahwa otak manusia mengumpulkan dan menyimpan berbagai ingatan yang terdiri dari berbagai fragmen (bagian) dan setiap otak manusia memiliki perbedaan dalam berapa lama mampu menyatukan fragmen-fragmen itu sehingga menjadi satu ingatan yang utuh dan jelas.

     Dengan demikian, pengalaman deja vu menurut penjelasan di atas bukanlah hal yang aneh atau luar biasa karena yang sesungguhnya terjadi adalah bahwa orang tersebut memang sebelumnya pernah pergi ke tempat itu atau sebelumnya pernah mengalami hal yang sedang dialaminya sekarang. Oleh karena itu, yang dialaminya hanyalah bahwa ia lupa terhadap detail-detail pengalamannya itu karena sangat mungkin pada saat pertama itu ia tidak begitu memperhatikannya. Dan pengalaman yang dialami orang itu bukan hanya mengacu pada beberapa hari atau bulan yang telah berlalu, tetapi bisa juga dialami hanya beberapa menit, bahkan beberapa detik sebelumnya.

    Deja vu tidak terbatas pada ingatan akan pengalaman tertentu, tetapi juga bisa karena melihat gambar-gambar atau mendengar cerita-cerita yang sangat jelas yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Pengalaman seperti itu mungkin merupakan bagian dari pengalaman masa kanak-kanak. Selain itu, deja vu juga mungkin terjadi karena dipicu oleh aktivitas jaringan tertentu dalam otak manusia yang sama sekali tidak berkaitan dengan pengalaman yang terjadi di masa lalu.

    Hal unik mengenai deja vu ini sesungguhnya bukanlah terletak pada peristiwa yang terjadi di masa lampau melainkan peristiwa yang terjadi di masa kini. Merupakan hal yang lumrah terjadi jika orang lupa bertanya mengenai hal-hal, seperti: "apakah saya sudah pernah membaca buku ini?" dan "tempat ini kelihatannya tidak asing lagi, apakah saya pernah datang ke sini sebelumnya?" Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidaklah aneh melainkan wajar. Terlebih jika orang itu sudah berumur di atas 60 tahun, di mana ia sudah membaca sekian banyak buku. Atau, seseorang yang seringkali berpergian ke berbagai tempat. Bukanlah hal yang aneh jika seseorang lupa terhadap hal-hal tertentu. Dengan demikian, apa yang terjadi ketika seseorang mengalami deja vu adalah tidak lebih dari apa yang biasa disebut dengan lupa.