Tampilkan postingan dengan label Rasionalitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rasionalitas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Oktober 2010

Akibat Emosi

Inilah akibatnya ketika manusia tidak mampu berpikir jernih karena, entah sengaja ataupun tidak sengaja membiarkan dirinya dipengaruhi bahkan dikuasai sesuatu yang tidak "sehat" (dhi. emosi). Ketika manusia tidak mampu "mengambil jarak" dari sesuatu yang berada, baik di dalam maupun di luar dirinya, maka akibatnya manusia dikendalikan oleh hal tersebut. Emosi inilah yang menguasai dan mempengaruhi seorang pelatih sepakbola sehingga ia memaki pihak lain dengan sebutan yang sangat tajam. Jika manusia memang sepakat bahwa dirinya adalah makhluk yang memiliki rasio maka sudah sepatutnyalah setiap perkataan dan tingkah lakukan didasarkan pada rasio tersebut. 

Mengapa rasio? Jika rasio yang selalu digunakan sebagai dasar setiap perkataan dan tindakan manusia, maka nyaris bisa dipastikan manusia tidak mudah dan cepat marah yang diakibatkan oleh emosi yang menguasai dirinya. Apakah ini artinya emosi yang mengakibatkan kemarahan harus disingkirkan sama sekali dari hidup manusia? Mungkin tidak. Maksudnya adalah bahwa emosi yang mengakibatkan kemarahan harus dikendalikan/dikuasai sehingga tidak membuat manusia melakukan hal-hal konyol yang tidak mencerminkan manusia sebagai makhluk rasional.

Bagaimana "melatih" rasio tersebut? Melakukan meditasi-kah? Bisa ya, bagi banyak orang. Bisa juga dengan memikirkan dampak tertentu yang bisa terjadi terhadap orang lain jika emosi yang mengakibatkan kemarahan tersebut dibiarkan. Artinya, manusia harus mampu memikirkan secara jernih akibat yang akan terjadi jika perkataan dan/atau tindakan tertentu dialamatkan pada, baik dirinya maupun orang lain. Jika dampak yang dihasilkan negatif (membuat orang lain marah/kecewa), ini artinya orang yang mengakibatkan hal tersebut tidak menggunakan rasio yang dimilikinya karena telah membiarkan dirinya dikuasai dan dikendalikan oleh emosi. Pada saat itulah orang tersebut tidak layak disebut sebagai makhluk yang memiliki rasio.

Jumat, 11 Juni 2010

Minum Darah untuk Keberuntungan

Ketika akal sehat sudah sama sekali tidak berfungsi manusia mampu melakukan berbagai hal yang tidak masuk akal dan kejam, seperti membunuh sesamanya. Hal serupa terjadi di Kenya ketika seorang laki-laki muda membunuh 17 orang (rata-rata perempuan) untuk diminum darahnya. Ini dilakukan karena dipercaya mampu memberikan keberuntungan bagi laki-laki tersebut. Sebenarnya ia diharuskan membunuh 100 orang, namun untungnya tindakan keji tersebut segera diketahui pihak kepolisian sehingga laki-laki itu langsung ditangkap.

Berita tersebut hanyalah salah satu contoh nyata di mana akal sehat manusia tidak lagi digunakan sehingga dengan mudahnya ia mempercayai perintah yang diberikan oleh orang lain. Manusia bisa bertingdak sangat tega terhadap orang lain demi memperoleh keberuntungan walaupun keberuntungan itu diperoleh dengan cara melenyapkan nyawa sesamanya. Ketika akal sehat sudah tidak lagi digunakan, maka jangan heran dan kaget jika manusia melakukan suatu tindakan yang tidak masuk akal.

Minggu, 30 Mei 2010

Dukun Tidak Tahu Peraturan

Tidak sedikit orang yang mengaku memiliki kemampuan khusus tertentu, seperti meramal jodoh, masa depan, keberuntungan, termasuk menyembuhkan penyakit. Orang-orang seperti itu disebut dukun, dan tidak sedikit juga orang yang percaya bahwa ada orang-orang seperti itu - dukun - yang bisa melakukan hal-hal seperti yang telah disebut di atas. Ini adalah kenyataan yang sangat memprihatinkan dan disayangkan karena di zaman yang sudah sangat melek ilmu pengetahuan dan teknologi seperti sekarang ini masih ada saja orang yang percaya terhadap perdukunan. Di satu sisi ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang, namun di sisi lainnya pola dan cara berpikir banyak orang mengalami kemandekan, bahkan kemunduran.

Orang-orang yang mempercayai praktik-praktik perdukunan sudah tidak lagi mampu menggunakan akal sehatnya untuk melihat kenyataan bahwa sesungguhnya perdukunan telah terbukti berulangkali gagal dalam praktiknya. Artinya, ada begitu banyak ramalan meleset, bahkan salah serta penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Namun itu semua tidak menghalangi orang untuk terus mendatangi orang-orang yang mengklaim dan diklaim sebagai dukun dan mengkonsultasikan banyak hal yang terdapat dalam dirinya dengan dukun. Hal demikian pun tidak dibiarkan sia-sia oleh orang-orang yang hendak meraup keuntungan dari praktik perdukunan tersebut. Oleh karena itu, banyak orang mengklaim dirinya sebagai dukun dan melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian orang supaya mempercayai "kesaktian" yang dimilikinya.

Contoh terkini mengenai hal tersebut adalah ketika seseorang yang mengaku sebagai dukun menggunakan dua ekor anak buaya sebagai daya tarik. Tujuan digunakannya dua ekor anak buaya oleh dukun tersebut adalah agar pasien percaya bahwa ia memang memiliki "kesaktian" sehingga si pasien pun membeli obat ramuannya. Hal yang sangat menggelikan. Ternyata dukun tersebut perlu menggunakan "alat bantu" lain untuk membuat para pasiennya percaya terhadap keampuhan "ilmu" yang dimilikinya. Ternyata ia memerlukan "bantuan" dari binatang (dua ekor anak buaya) untuk menarik perhatian para pasiennya. (Mirip pertunjukkan sirkus saja yang melibatkan binatang untuk menarik perhatian pengunjung sehingga bisa memberikan pertunjukkan yang unik.) Hal menggelikan lainnya terkait dengan penggunaan dua ekor anak buaya oleh dukun tersebut adalah bahwa ternyata si dukun tidak mengetahui jika buaya termasuk salah satu hewan yang dilindungi. Ia tidak tahu bahwa di tempat di mana ia mempraktikan "kesaktian"-nya buaya adalah binatang yang dilindungi oleh pemerintah setempat.

Hal sangat ironis sekaligus menggelikan, dukun yang mengaku bisa "mendiagnosis" dan menyembukan penyakit orang lain ternyata tidak mampu mengetahui jika binatang yang digunakannya sebagai atraksi untuk menarik perhatian orang ternyata merupakan salah satu binatang yang dilindungi oleh pemerintah setempat. Sangat ironis sekaligus menggelikan, dukun yang mengklaim diri bisa mengetahui berbagai hal yang terdapat dalam diri (tubuh) orang lain ternyata tidak bisa bisa mengenal sesuatu yang ada dalam dirinya. Sangat ironis sekaligus menggelikan, dukun yang mengklaim dan diklaim "sakti" karena dipercaya mampu "melihat" berbagai hal yang tidak dapat dilihat oleh orang lain secara kasat mata ternyata tidak melihat peraturan/hukum yang jelas-jelas dapat dilihat secara kasat mata. [Katanya sakti . . . kok peraturan aja ga tau sih?!]