Tampilkan postingan dengan label Kritisisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kritisisme. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 November 2010

Agama > Delusi > Pembunuhan

Fakta sangat mengerikan kembali terjadi di mana agama kerapkali membuat orang-orang yang memeluknya mengalami delusi. Tidak berhenti di situ, agama pun tidak jarang membuat para pemeluknya tega melakukan tindakan yang sangat kejam, misalnya: membunuh. Contoh terkini seorang penganut agama yang tega berlaku keji, bahkan terhadap ibunya sendiri, ditemukan dalam diri seorang aktor Aktor Hollywood berkebangsaan Amerika Serikat. Aktor itu memenggal ibunya sendiri dengan sebilah samurai seraya di tangan lainnya memegang Alkitab. 

Meski kepada laki-laki tersebut segera akan dilakukan pemeriksaan psikologi untuk menentukan apakah ia mengalami penyakit atau gangguan tertentu yang membuatnya dengan keji telah memenggal ibunya sendiri, besar kemungkinan tindakan keji yang dilakukannya dipicu oleh pemahaman agamanya yang sangat mengerikan. Pemahaman agama yang sarat dengan kekerasan dan darah itulah yang membuat laki-laki itu mengalami delusi sehingga kemudian membunuh ibunya sendiri. 

Ini merupakan hal yang sangat mungkin terjadi karena banyak ayat dan kisah dalam Alkitab yang memang mengumbar dan menggambarkan kekerasan yang penuh darah, khususnya dalam bagian Perjanjian Lama. Jadi, sama sekali tidak mengherankan jika kisah-kisah tersebut bisa sampai membakar semangat umat Kristen untuk bertindak keras, karena "kitab suci"-nya sendiri pun memuat bahkan membenarkan kekerasan itu. Sesuatu yang sangat mengerikan! 

Mungkin ada pendapat yang menentang pandangan di atas dengan mengatakan: "Jangan salahkan agama dan/atau kitab sucinya melainkan orangnya, karena itu semua bergantung pada pemahaman masing-masing orang." Pendapat ini sangat lemah karena malah semakin memperlemah kedudukan agama dan "kitab suci" (dhi. Alkitab) agama tersebut, bukankah agama serta "kitab suci"-nya dibuat oleh manusia? Jika yang dipersalahkan adalah orangnya, berarti orang-orang yang membentuk agama dan membuat/menyusun "kitab suci"-lah yang memiliki kesalahan terberat karena mereka telah mengakibatkan begitu banyak orang di zaman-zaman setelah mereka bertindak keji. Artinya, para pembentuk agama dan pembuat/penyusun "kitab suci" itulah yang telah memicu peristiwa berdarah atas nama agama terjadi selama ribuan tahun, bahkan hingga saat ini. 

Jika dikatakan: "bergantung pada pemahaman masing-masing orang beragama", ini pun sangatlah lemah karena pertanyaan menjadi: apakah tolok ukurnya? agama? "kitab suci"? Jika begitu banyak orang beragama mengatakan bahwa agama yang benar mengajarkan kasih dan perdamaian, dan ketika ada orang beragama bertindak kejam atas nama agamanya dianggap memiliki pemahaman yang salah atau minim terhadap agamanya (menyalahkan orang tersebut), maka argumen ini (seharusnya) membawa orang yang mengatakannya pada pertanyaan dan masalah yang sudah muncul di paragraf sebelumnya.

Bagaimana dengan kenyataan bahwa lebih banyak orang beragama (dhi. Kristen) berlaku penuh kasih? Ada dua kemungkinan: pertama, mereka tidak mengetahui bahwa latar belakang agama yang dipeluknya penuh dengan kekerasan dan banyak kisah dalam Perjanjian Lama yang bernuansa pertumpahan darah, atau, kedua, mereka mengetahui kedua hal tersebut, namun mengacuhkannya dan menganggapnya tidak ada. Sikap yang pertama menunjukkan minimnya pengetahuan orang tersebut mengenai agama dan "kitab suci"-nya sendiri dan keengganan untuk belajar, sedangkan sikap yang kedua berarti orang tersebut bohong dan munafik. Bukankah hal-hal ini dilarang oleh agama Kristen?

Kembali pada berita di atas, jelas, agama membuat para penganutnya mengalami delusinasi, dan dapat mendorong orang-orang beragama untuk bertindak keras terhadap sesamanya serta memiliki kecenderungan membahayakan keberadaan sekitarnya. Jika tindakan keji seperti yang dilakukan laki-laki dalam berita tersebut - memenggal ibunya sendiri - bisa dilakukan, maka juga ada kemungkinan (bahkan lebih besar kemungkinannya) jika orang-orang beragama akan bertindak keras terhadap orang-orang yang berbeda paham dengan diri atau kelompoknya. 

Dengan demikian, tidaklah tepat jika dikatakan agama (dhi. Kristen) adalah agama yang mengedepankan dan menguatamakan ajaran kasih, atau mengatakan Kristen adalah agama kasih, karena pernyataan ini tidak didukung oleh kenyataan yang terjadi. Kenyataannya malah terbalik 180%, di mana bukan kasih yang muncul melainkan kekejaman.

Senin, 11 Oktober 2010

Sangat Mengerikan

Tidak berlebihan ketika para orangtua sangat melindungi anak-anaknya, khususnya ketika mereka mempercayakan anak-anaknya mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah tertentu. Bahkan tidak jarang orangtua yang bawel dengan mempertanyakan setiap fasilitas yang dimiliki di sekolah demi "kenyamanan" anak-anaknya. Namun demikian, ketika "kenyamanan" fisik bisa terjamin karena terlihat kasat mata, kualitas para guru tidak bisa dilihat sejak awal ketika orangtua hendak memasukkan anak-anaknya ke sekolah.

Institusi sekolah dan pendidikan (termasuk sarana fisik dan non-fisik) yang seharusnya sebagai sarana pencerdasan generasi yang lebih muda, ternyata tidak selamanya menjanjikan hal yang semestinya, baik bagi orangtua maupun mereka yang berhak mengenyam pendidikan tersebut. Apa yang terjadi di Kenya sungguh-sungguh menjadi salah satu contoh yang sangat mengerikan bagi setiap orang. Institusi sekolah, khususnya para guru, yang seharusnya menjadi salah satu kekuatan pencerdas (baca: mendorong murid-muridnya menjadi berwawasan) sekaligus pelindung dan teladan bagi para muridnya malah menjadi figur yang sangat mengerikan dan sama sekali tidak bisa dijadikan teladan. Tindakan para guru tersebut betul-betul tidak terpuji dan mengerikan, bukan saja bagi orangtua dan anak-anak, namun juga bagi setiap orang yang peduli terhadap pendidikan.

Di sisi lain, tindakan pemerintah Kenya terhadap guru-guru kejam itu perlu dipuji dan didukung karena dengan tegas telah mengambil sikap terhadap tragedi yang sangat tidak manusiawi itu. Lebih dari itu, sudah seharusnya komunikasi dan kerjasama antara institusi pendidikan, pemerintah, dan orangtua terjalin dengan sehat sehingga peristiwa yang serupa tidak terjadi lagi, bukan hanya di Kenya melainkan di seluruh dunia sehingga generasi yang lebih muda bisa mengenyam pendidikan yang selayaknya. Jika slogan "pendidikan adalah hak semua orang" memang benar, maka sudah seharusnya hal tersebut mewujud nyata dalam kehidupan setiap bangsa.

Minggu, 10 Oktober 2010

Apa Salah Mereka?!

Masyarakat yang simpatik dan mendukung kesetaraan hak yang patut diterima kaum minoritas (gay) memperoleh perlakuan yang sangat tidak terpuji dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Peristiwa tidak manusiawi tersebut terjadi di ibukota Serbia, Belgrade, ketika kelompok Hak Gay mengadakan parade. Sekalipun acara tersebut berada di bawah pengawasan kepolisian, namun hal tersebut tidak menghambat para pemrotes menyerang kaum minoritas tersebut dengan bom minyak tanah dan batu. 

Peristiwa serupa di lokasi yang sama ternyata pernah terjadi beberapa tahun silam (2001) dan ketika itu kejadian yang mencoreng nilai-nilai kemanusiaan itu dipicu oleh kelompok "sayap kanan" (orang-orang beragama) di negeri itu.

Mengapa orang-orang yang tidak setuju terhadap gerakan penyetaraan hak gay menyerang kaum minoritas? Apakah yang telah dilakukan kaum gay Serbia sehingga orang-orang tidak menusiawi itu melakukan tindakan yang sama sekali tercela dan tidak terpuji? Apakah salah mereka sehingga para pemrotes dengan tega menyerang mereka dengan bom minyak tanah dan batu? Apalagi jika peristiwa yang merusak nilai-nilai kemanusiaan itu dilakukan oleh orang-orang yang mengaku bermoral karena beragama. Bukankah ironis ketika kaum yang selama ini mengagung-agungkan perbuatan baik dan cinta kasih malah menyerang dan menyakiti sesamanya?

Rabu, 29 September 2010

Panik Akibat Dugaan

FPI melancarkan protes dan demonstrasi terhadap pemutaran film yang dilakukan di Pusat Kebudayaan Jerman Goethe House, Jakarta Pusat, karena mereka menduga film tersebut berisi kampanye tentang hubungan sesama jenis. Mereka menganggap film tersebut sangat tidak sesuai dengan ajaran agama dan dapat merusak moral bangsa terutama generasi muda. Tindakan FPI tersebut sangatlah konyol karena sangat mungkin belum ada di antara mereka yang menonton film itu, namun sudah melancarkan aksi. Sikap inilah yang masih banyak dianut orang di mana mereka belum membaca, menyaksikan, atau melihatnya sesuatu melainkan  hanya mendengarnya dari orang lain (komentar orang bahkan gosip), tetapi sudah memberikan komentar, bahkan aksi protes yang hanya berdasar pada pengamatan orang lain. Inilah konyolnya di mana banyak orang bersikap sok tahu terhadap sesuatu padahal hal itu sama sekali tidak diketahuinya atau ia memiliki pengetahuan yang minim mengenai hal itu, tetapi bersikap seolah-olah mereka mengetahui betul hal tersebut.

Sesungguhnya tindakan seperti yang dilakukan FPI tidaklah aneh, namun cukup membuat kening mengerenyit akibat aneh, bahkan mengakibatkan tawa sangking konyol. Ditambah tindakan FPI yang memprotes keras pemutaran film itu karena mengaitkannya dengan agama dan moral bangsa secara keseluruhan. Sepertinya mereka lupa atau memang tidak tahu jika banyak hal dalam seni yang tidak sejajar dengan agama alias bertentangan. Jangan lupa, film yang diputar dan kemungkinan besar juga akan diputar di pusat-pusat kebudayaan lainnya di Jakarta itu memang bukan film agama. Mungkin saja film itu memang berdasar pada kisah nyata, namun tetap saja itu hanya merupakan sebuah film. 

Dengan demikian, pahamilah film sebagai sebuah karya seni bukan sejarah sekalipun film tersebut berkisah tentang sejarah. Artinya, dalam sebuah karya seni ada unsur-unsur yang tidak bisa dipahami melalui sudut agama karena memang sudut pandangnya yang berbeda. Agama pun merupakan cara pandang orang terhadap sesuatu yang coba dipahami dan direfleksikan berdasar konteks di mana orang itu berada. Demikian pun dengan film, karena mencoba menampilkan segi tertentu mengenai sebuah objek atau suatu peristiwa. Oleh karena itu, pandangan dan penilaian masing-masing orang tentu berbeda. Kesalahannya - seperti yang dilakukan FPI - ketika orang mencampuradukkan, bahkan memasukkan sudut pandangnya terhadap sesuatu yang dibaca, dilihat, atau disaksikannya. Tanpa disadari orang tersebut sesungguhnya ia telah memperkosa sebuah ide atau objek yang dibaca, dilihat, atau disaksikannya karena ia berusaha memasukkan pemikirannya sendiri.

Kekonyolan yang juga banyak dilakukan orang - seperti juga dilakukan FPI - adalah menarik suatu peristiwa "kecil" menjadi persoalan yang begitu besar atau luas. Yang dilakukan oleh Goethe House Institute Jakarta hanyalah memutar sebuah atau beberapa film. Namun, hal itu dianggap FPI (mungkin juga banyak orang lainnya) bisa mempengaruhi pikiran banyak orang, tidak peduli apakah mereka menonton atau tidak menonton film (-film) tersebut. Apakah sebuah atau beberapa film mempengaruhi pikiran orang? Sangat mungkin. Namun apakah sebuah atau beberapa film mempengaruhi masyarakat? Sangat diragukan. Dalam konteks Indonesia, film tidak mempengaruhi masyarakat secara luas, namun individu-individu-lah yang mempengaruhi masyarakat secara luas. Artinya, individu-individu tertentu yang memiliki dan dianggap sebagai otoritas dalam masyarakat yang sangat bisa memberikan pengaruh yang lebih luas, dimulai dari kelompoknya sendiri. Dengan demikian, dalam konteks Indonesia, kekuatan sebuah atau beberapa film untuk mempengaruhi pikiran masyarakat Indonesia tidaklah begitu kuat/besar seperti yang dipikir, diduga, dianggap, atau dipercaya FPI dan  mungkin banyak orang lainnya karena yang memiliki kekuatan yang sangat besar untuk mempengaruhi bahkan mengendalikan pikiran masyarakat adalah otoritas-otoritas tertentu dalam masyarakat yang bergerak mulai dari kelompoknya sendiri. Jelas, sikap FPI menunjukkan kepanikan yang berlebihan terhadap sesuatu yang sesungguhnya "kecil" karena kemungkinannya untuk mempengaruhi masyarakat luas sangatlah tipis.

Terakhir, apa yang dilakukan FPI - terlepas dari film yang telah dan akan diputar - malah sangat mungkin akan membuat banyak orang yang tidak mengetahui film tersebut (karena awalnya hanya diputar di pusat-pusat kebudayaan di Jakarta) penasaran ingin menyaksikan film tersebut karena rencananya film tersebut akan ditayangkan di bioskop-bioskop, selain juga di kampus-kampus. Jadi, yang dilakukan FPI bukannya menghambat atau menutup "akses" kepada orang banyak, tetapi sebaliknya, mereka malah membuat banyak orang tahu mengenai "keberadaan" film tersebut dan sangat mungkin akan membuat orang banyak ingin menyaksikan film tersebut, entah di bioskop ataupun membeli DVD bajakannya. Jika ini yang terjadi, maka ucapan "terima kasih" tidak layak dilayangkan kepada FPI karena mereka telah membuat film itu menjadi diketahui masyarakat (baca: warga Jakarta) luas. Jika film yang diputar berjudul Fucking Different Tel Aviv, maka kata-kata yang tepat untuk tindakan FPI tersebut adalah: Fucking Silly FPI.

Minggu, 26 September 2010

Apa Hubungannya?

Berita mengenai aksi Patrick Mahoney - seorang pendeta - yang membagi-bagikan Al-Quran ke seluruh gereja yang ada di New York memang terdengar cukup melegakan, khususnya bagi kaum Muslim dan Nasrani AS yang beberapa minggu lalu sangat resah dengan rencana Terry Jones yang akan membakar Al-Quran (walaupun kabar terakhir mengatakan bahwa Jones urung melakukan rencananya tersebut). Namun, tujuan membagi-bagikan Al-Quran ke gereja-gereja di New York itu sangatlah aneh karena, menurut Mahoney, pembagian Al-Quran itu dilakukan agar kaum Nasrani dapat mendoakan kaum Muslim

Setidaknya dua pertanyaan segera muncul setelah membaca kalimat tersebut: 

1. Apa hubungan antara "kitab suci" dengan doa? Apakah ini mengandaikan bahwa orang beragama/bertuhan tidak bisa berdoa tanpa adanya "kitab suci"? Ditambah, "kitab suci" yang dimaksud adalah milik agama lain. Bukankah orang beragama/bertuhan tetap bisa mendoakan orang lain (mereka yang beragama lain) meski tanpa memiliki "kitab suci"-nya karena doa adalah perkara iman yang tidak perlu melibatkan "kitab suci."

2. Apakah warga New York yang pergi ke gereja (Kristen) dan menerima Al-Quran bisa membacanya karena buku itu ditulis dalam bahasa Arab? Kemungkinan besar tidak. Jika demikian, apa gunanya Al-Quran di tangan orang-orang (baca: Kristen) yang tidak memiliki kemampuan membaca dan memahami bahasa Arab? Bukankah tindakan tersebut hanyalah kesia-siaan belaka?

Jelas, tindakan Mahoney tidak lebih dari suatu upaya untuk "mendinginkan" suasana keberagamaan di AS, yang di satu sisi ada baiknya. Namun di sisi lain, tindakannya tersebut bisa tidak memiliki arti atau manfaat apapun karena tidak adanya hubungan antara tindakan dan tujuannya melakukan hal tersebut. Selain itu, jika ia bersama kaum Nasrani dan Muslim, baik para pemimpin agama Kristen maupun Islam AS memang ingin meredam suasana panas yang belakangan diakibatkan oleh pernyataan dan tindakan para pemimpin Kristen di sana, lebih baik dilakukan tindakan yang lebih konkret, misalnya: dialog antar para penganut agama dan kepercayaan di AS dan/atau mendesak pemerintah AS menindak tegas orang/kelompok tertentu yang akan dan telah dianggap mengganggu kerukunan umat beragama di AS.

Dengan demikian, ketimbang melakukan tindakan yang tidak lebih dari sekadar simbolik yang tak berarti karena tidak menyentuh pada akar permasalahan yang ada dengan membagi-bagikan Al-Quran kepada umat Kristen, maka umat beragama di AS perlu melakukan dialog terbuka antar pemeluk agama sehingga masing-masing pihak bisa lebih mengenal dan memahami agama dan kepercayaan orang lain. Jika hal ini tidak berhasil, maka sangat tepatlah untuk mengatakan bahwa demikian agama telah gagal menciptakan suasana yang tenteram karena yang terjadi malah sebaliknya, saling ancam, serang, bahkan bunuh di antara orang-orang beragama yang selalu mengaku bermoral. 

Jika ini yang terjadi, maka lebih baik orang-orang beragama mengakui saja bahwa agama tidak berfungsi karena terbukti ajaran-ajarannya bukannya membuat manusia semakin baik melainkan membuat manusia berpikir sempit dan dangkal. Ketika kenyataan yang sangat memprihatinkan ini terjadi maka sudah waktunya bagi manusia (orang-orang beragama) mulai mencari alternatif lain, pertama-tama meninggalkan agamanya untuk kemudian, misalnya, menjadi seorang sekularis.

Bunuh yang Seagama

Tindakan mengadili, mengucilkan, menyiksa, bahkan membunuh orang yang beragama lain sudah banyak terjadi di dunia ini dan sudah menjadi "bagian" dalam kehidupan orang-orang yang mengaku bermoral karena memiliki "kitab suci." Oleh karena itu, tidak aneh apalagi mengagetkan lagi jika manusia membunuh sesamanya karena sesamanya itu memiliki agama yang berbeda dari si pembunuh, dan si pembunuh menganggap bahwa agama orang lain tidak benar sehingga ia pun tega membunuh sesamanya itu. Ini dilakukan karena kepercayaan seseorang yang begitu kuat terhadap kitab yang dianggapnya suci karena berasal dari yang ilahi. Namun sangat aneh bahkan cukup mengagetkan jika pembunuhan dilakukan terhadap orang memiliki agama yang sama. Pembunuhan dilakukan karena seseorang/kelompok menganggap orang/kelompok lain tidak atau kurang beriman atau tidak mematuhi ajaran yang benar. Peristiwa inilah yang beberapa hari lalu terjadi di Dagestan, Rusia.

Jika kelompok yang dengan tega telah membunuh sesamanya yang beragama sama dengan mereka mengatakan bahwa mereka (orang-orang yang dibunuh) tidak mematuhi agama yang benar, bukankah mereka beragama dan beriman yang sama? Bukankah mereka membaca, menaati, dan berpedoman pada kitab yang sama? Jika mereka tidak, apakah ada lebih dari satu ajaran dalam agama yang sama itu? Jika dalam agama yang sama terdapat ajaran yang berbeda, bagaimana cara mengukur atau menilai ajaran mana yang lebih benar dari ajaran lainnya? Apakah ukuran yang digunakan untuk menilai ajaran yang satu lebih baik dari ajaran lainnya? Apakah ukuran yang dipakai untuk menilai adalah buku yang dianggap "suci" oleh orang-orang yang mempercayainya? Sekali lagi, bukankah mereka menggunakan buku yang sama? Lalu apakah ukurannya? 

Banyak orang tidak menyadari bahwa agama merupakan hasil tafsir masing-masing orang atau kelompok terhadap sesuatu yang dianggapnya "suci," berada melampaui dirinya, mengatur hidupnya, bahkan berkuasa atas kehidupannya. Semuanya itu berdasar pada buku yang dianggapnya "suci." Oleh karena mereka membaca berbagai kisah masa lalu dan peristiwa yang dipercayanya sebagai mukjizat, maka orang-orang itu meyakini bahwa ada sesuatu yang berada di luar dan di atas diri dan hidupnya. Orang-orang beragama percaya apa yang terjadi pada masa yang sangat lampau merupakan peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi, bahkan terjadi juga saat ini ketika mereka membaca kisah-kisah tersebut. Mereka tidak menyadari bahwa kisah-kisah itu juga merupakan hasil tafsir terhadap peristiwa yang sama karena sesungguhnya kita tidak bisa mengetahui secara pasti apakah peristiwa-peristiwa itu sungguh terjadi atau tidak. 

Oleh karena agama hanyalah tafsiran orang-orang tertentu yang akhirnya percaya terhadap agama dan tuhan tertentu, maka dengan demikian, tidak ada ukuran yang pasti mengenai kepercayaan mana yang benar karena setiap orang menafsirkan menurut konteks di mana ia hidup dan kepentingan tertentu yang ada di belakangnya. Setiap orang akan memahami, menilai, dan menafsirkan sebuah tulisan/kisah yang terdapa dalam "kitab suci" berdasar pada konteks keberadaannya. Jadi, tidak ada ukuran pasti yang dapat digunakan untuk menilai ajaran mana yang lebih benar dari yang lainnya. Bahkan keberadaan Tuhan pun tidak lebih dari sekadar upaya manusia mencoba memahami dan menafsirkan sesuatu yang dianggapnya berada di luar dan di atas dirinya. Sesuatu yang dipercayanya mengatur bahkan berkuasa atas diri manusia. Jika demikian, maka "keberadaan" figur yang disebut dan dinamakan Tuhan atau Allah itu pun tidak lain dari hasil tafsir manusia setelah membaca berbagai tulisan/kisah yang terdapat dalam sebuah kitab yang dianggap "suci." Bagaimana seandainya cap "suci" itu disisihkan dari pemikiran sebagian besar orang (baca: orang beragama dan/atau bertuhan)? Kemungkinan besar hasil tafsirnya menjadi berbeda!

Tidak Ada Cinta & Keadilan

Baru-baru ini pemimpin tertinggi Iran, Ahmadinejad, ketika berpidato di sidang tahunan Majelis Umum PBB membawa Al-Quran dan Alkitab. Hal ini dilakukannya untuk mengatakan bahwa seharusnya manusia menaruh hormat kepada semua "kitab suci" dan para pengikutnya. Dalam pidatonya tersebut Ahmadinejad juga menandaskan "bahwa para nabi ilahi memiliki misi bagi umat manusia untuk percaya pada satu Tuhan (monoteisme), cinta dan keadilan sekaligus menunjukkan belas kasih bagi kemakmuran serta menjauhi ateisme dan egoisme." 

Di satu sisi tindakan Ahmadinejad membawa dua "kitab suci" milik umat Muslim dan Kristen ketika berpidato di sidang tahunan Majelis Umum PBB di New York - meski seperti pedagang yang membawa dan menjajakan barang dagangannya - bisa dianggap positif karena ia berusaha menunjukkan pada banyak orang bahwa dirinya menghormati, bukan saja Al-Quran tetapi juga Alkitab. Pernyataannya mengenai cinta, keadilan, dan belas kasih juga bernuansa positif karena sepertinya ia berusaha menekankan dan mengajak orang untuk mengutamakan ketiga hal tersebut. Namun kenyataannya - sepertinya Ahmadinejad tidak menyadari hal ini - kenyataan di dunia berbeda 180 derajat dari pernyataannya. Yang terjadi bukanlah cinta, keadilan, dan belas kasih seperti yang didengungkan Ahmadinejad melainkan kekerasan, peperangan, dan pembunuhan. Terlebih, berbagai tindakan yang sama sekali tidak manusiawi dan tidak terpuji itu malah dilakukan oleh orang-orang yang mengaku beragama, bertuhan, dan memiliki moral yang berdasar pada kitab sucinya.

Ternyata pernyataan Ahmadinejad tersebut juga hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak jargon yang biasa dikumandangkan kaum beragama dan bertuhan, di mana kekerasan seharusnya tidak perlu terjadi jika umat beragama dan bertuhan sungguh-sungguh menaati dan mengimani "kitab suci"-nya. Ini dilakukan karena menurut umat beragama dan bertuhan kitab suci yang dimilikinya sesungguhnya mengajarkan moral yang baik, seperti: cinta, keadilan, dan belas kasih. Namun kenyataan yang terjadi hingga saat ini tidak demikian karena berbagai tindak kekerasan malah dilakukan orang-orang yang mengaku bermoral itu, bahkan tindakan yang mengatasnamakan "perintah Allah" semakin gencar dilakukan dilakukan kaum yang beragama dan bertuhan. Jika demikian, apakah masih tepat mengatakan jika "kitab suci" memang mengajarkan cinta, keadilan, dan belas kasih?

Ahmadinejad juga mengatakan agar manusia menjauhi ateisme dan egoisme. Egoisme memang harus dijauhi, namun ateisme? Menengok pada kenyataan yang terjadi di bumi dan membandingkannya dengan berbagai slogan yang selalu diumbar oleh kaum beragama dan bertuhan serta berbagai tindak kekerasan yang dilakukan oleh kaum yang mengaku bermoral karena memiliki "kitab suci," apakah ada tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kaum ateis? Atau, apakah seorang/kelompok ateis yang ketika melakukan tindakan yang keras (mengancam keberadaan orang banyak) berkata: "Saya/kami melakukan hal tersebut karena kami ateis!" atau "Saya/kami membunuh karena itu adalah perintah "kitab suci"!" atau saya/kami membakar bangunan itu karena tindakan itu merupakan ibadah dan perintah dari Tuhan kami!" Sama sekali tidak, bukan? 

Dengan demikian, jelas, pernyataan Ahmadinejad yang menyinggung agar orang menjauhi ateisme sama sekali tidak relevan karena kaum ateis tidak melakukan tindak kekerasan yang mengancam makhluk hidup lainnya, setidaknya, tidak mengaku bahwa tindakannya tersebut dilandaskan pada "kitab suci" dan/atau perintah yang diperoleh dari sesembahan kaum ateis. Mengapa? karena kaum ateis tidak punya "kitab suci" seperti kaum beragama dan bertuhan percaya pada buku yang dipercaya mengajarkan moral tertentu. Kaum ateis juga tidak percaya dan menyembah pada sesembahan yang dianggap mengatur hidupnya seperti kaum beragama dan bertuhan yang percaya dan sembah sujud pada figur tertentu yang berada di luar dirinya, bahkan di luar dunia di mana mereka berada yang mengatur seluruh alam semesta.

Sabtu, 25 September 2010

Sesembahan yang (Memang) Kejam

Ya, untuk kesekian kalinya sesembahan orang beragama/bertuhan - yang disebut, dipanggil, dinamakan Tuhan dan/atau Allah - menurunkan perintah kejam. Setidaknya, inilah yang dipercaya dan diakui oleh Sofyan Tsauri. Ia mengatakan bahwa tindakannya tersebut bukanlah termasuk ke dalam kategori teror karena merupakan ibadah. Sebaliknya ia mengatakan bahwa perbuatannya tersebut merupakan ibadah karena berasal dari Allah alias perintah Allah. Sepertinya yang ada dalam pikiran Tsauri melalui pernyataannya tersebut mengandaikan bahwa karena perintah itu berasal dari Allah, maka tidak bisa dikategorikan apalagi disebut sebagai teror karena teror hanyalah perbuatan manusia kerdil yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena perintah itu berasal dari yang ilahi maka tentu hasilnya pun demi kebaikan manusia, bahkan mungkin untuk seisi alam semesta.

Jika yang dikatakan - yang berasal dari Tuhan benar dan baik - orang seperti Tsauri benar, namun mengapa hasil atau dampaknya malah menyengsarakan orang lain? Bukankah itu berarti pernyataan seperti itu bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi di dunia? Atau, apakah yang dibayangkan orang seperti Tsauri merupakan "dunia lain" atau dunia ideal yang keberadaannya bukan di bumi ini melainkan di tempat lain? Jika ya, di manakah dunia yang dimaksudkan oleh orang seperti Tsauri?

Banyak orang (beragama dan bertuhan) yang mengatasnamakan, menyebut, atau mengaitkan sesembahan atau agamanya demi membenarkan tindakan keji - menyengsarakan orang lain - yang dilakukannya sehingga perbuatannya tersebut dianggap sebagai kebaikan atau bahkan kebenaran. Ini merupakan pemikiran dan tindakan yang sangat salah bahkan menyesatkan. Namun, hal yang serupa menjadi tidak salah dan tidak menyesatkan jika saja orang-orang beragama dan bertuhan mengakui bahwa sesembahan yang dipercayanya telah memerintahkan dan agama yang dipeluknya memang telah mengajarkan para pengikutnya membunuh makhluk hidup lainnya. Jika demikian, sama sekali tidak keliru alias sangat tepat jika dikatakan bahwa sesembahannya itu memang figur yang kejam. Namun sayangnya, sejauh yang diketahui, tidak ada seorang beragama dan bertuhan pun yang rela jika agama yang dipeluknya dikatakan telah mengajarkan sesuatu yang kejam apalagi jika sesembahan yang dipercayanya disebut sebagai figur yang kejam. 

Seandainya saja orang-orang beragama dan/atau bertuhan mau mengakuinya, maka setidaknya ada satu yang hal bisa disepakati bersama, baik oleh kaum percaya maupun kaum ateis, yakni: sesembahan orang beragama atau bertuhan memang kejam. Sayangnya hal ini tidak terjadi.

Apa Ga Tau Sejarah?

Memang tidak sedikit orang yang cukup awas atau kurang peduli terhadap sejarah, apalagi mempelajari sejarah secara formal (melalui pendidikan) atau secara sadar mau berpikir kritis terhadap sejarah. Mengapa demikian? Salah satunya banyak orang menganggap bahwa sejarah merupakan bidang yang membosankan dan "tidak basah" atau tidak menguntungkan secara ekonomis, ditambah tidak populer dibandingkan bidang-bidang, seperti: ekonomi, kedokteran, dan/atau psikologi. Semua pendapat mengenai "sejarah" tersebut sah-sah saja. Artinya, orang bebas memberikan pandangannya mengenai bidang sejarah. Namun, sangat keliru bahkan menyesatkan jika ada pandangan yang mengatakan jika "sejarah" tidaklah penting dalam hidup manusia karena, setidaknya, hari ini bisa ada setelah kemarin telah berlalu.

Hal yang sangat berbahaya dan menyesatkan terkait dengan "sejarah" adalah jika orang secara sadar dan sengaja sama sekali tidak peduli terhadap "sejarah" dengan alasan emosioanal karena orang bersangkutan terlibat dalam suatu proyek yang bisa membuatnya terkenal atau semakin terkenal dan hal ini membuat pundi-pundi tabungannya bertambah. Sepertinya inilah yang terjadi dengan penyanyi Marcell Siahaan. Ia akan memerankan figur Letnan Kolonel Soeharto dalam film "Laskar Pemimpi." Masalahnya adalah bukan karena Marcell akan memerankan figur Soeharto muda dalam film tersebut melainkan pernyataannya yang cukup naif mengenai figur Soeharto: "meski Soeharto yang kemudian memimpin Indonesia selama 32 tahun penuh kontroversi, masyarakat Indonesia tidak seharusnya melupakan sumbangsih sang pejuang dalam mewujudkan Indonesia sebagai sebuah negeri merdeka" (alinea kelima).

Orang tidak bisa dengan mudah mengatakan bahwa hanya segelintir orang yang berjasa telah membawa sebuah negara pada kemerdekaannya karena bukan hanya segelintir orang itu yang berjasa melainkan ada banyak orang yang terlibat dirinya, apalagi jika hanya menyebut satu orang. Bisa saja orang yang dianggap berjasa itu memang telah melakukan sesuatu yang bermanfaat di masa lalu, namun keberjasaannya itu tidak bisa serta-merta menutupi berbagai hal yang dilakukannya di kemudian hari, di mana hal-hal yang dilakukannya itu sangat menyengsarakan banyak orang. Namun ini juga tidak berarti bahwa tindakan-tindakannya yang menyengsarakan orang lain itu menutupi jasa-jasa yang telah dilakukannya. Hal yang hendak ditekankan di sini adalah hendaknya orang memberikan penilaian yang lebih seimbang dengan memperhatikan tidak hanya salah satu unsur melainkan sebanyak mungkin unsur yang relevan. Jika ini dilakukan maka orang dapat memperoleh penjelasan yang lebih jernih.

Oleh karena itulah salah satu hal yang harus diperhatikan adalah "sejarah" sehingga hal yang seperti dilakukan Marcell tidak akan terulang di kemudian hari. Jika seorang melakukan beberapa tindakan heroik atau berjasa karena perbuatannya membuat banyak orang bahagia, kemudian dianggap sebagai pahlawan, namun setelah itu dalam jangka waktu yang lama menyengsarakan orang lain, bukankah orang tersebut bisa dikategorikan sebagai penjahat? Terlebih, jika perbuatannya yang telah menyengsarakan banyak orang itu memiliki dampak yang sangat besar dan lama. Apakah "kepahlawanannya" di masa lalu bisa disingkirkan begitu saja? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Saya tidak tahu. Namun yang lebih jelas, seharusnya pernyataan yang diungkapkan Marcell tidak perlu terjadi jika ia cukup mengetahui sejarah dalam konteks yang lebih luas dengan memperhitungkan banyak aspek. 

Hal lainnya yang perlu dikemukakan adalah bahwa pernyataan Marcell mengandung bias. Tentu saja Marcell akan memuji figur yang akan diperankannya karena ia memperoleh keuntungan  (popularitas dan ekonomi) dari memerankan figur tersebut. Dengan demikian, jelas, pernyataan Marcell itu bias. Sangat kecil kemungkinan orang melakukan kritik terhadap sesuatu jika ia terlibat di dalam suatu hal/proyek apalagi hal itu memberikannya keuntungan popularitas yang sangat mungkin juga akan membuatnya memperoleh uang yang banyak.

Kamis, 16 September 2010

Pesan dari Tuhan

Meski Terry Jones membatalkan rencananya membakar Al-Quran pada tanggal 11 September lalu, namun para pendukung Jones tetap melaksanakan pembakaran Al-Quran di Springfield, AS. Bob Old dan Danny Allen - keduanya pendeta - mengaku melakukan aksi pembakaran Al-Quran karena memperoleh pesan dari Tuhan. Setelah Jones yang mengaku mengurungkan rencana pembakaran Al-Quran karena perintah Tuhan, sekarang kedua pendeta tersebut mengaku jika aksi mereka setelah menerima pesan dari Tuhan. 

Segera setelah membaca kedua pengakuan yang berbeda 180 derajat tersebut - keduanya berasal dari pendeta - muncul beberapa pertanyaan: 

1.  Apakah perintah dan pesan yang saling berbeda tersebut berasal dari Tuhan yang sama atau berbeda? 

2. Jika berasal dari Tuhan yang sama, mengapa Tuhan memberikan pesan/perintah yang berbeda kepada para pendeta itu?

3. Jika berasal dari Tuhan yang berbeda, Tuhan mana atau siapakah yang seharusnya dituruti, apakah Tuhan yang memberikan perintah larangan membakar Al-Quran (Tuhannya Jones) atau Tuhan yang memberikan pesan membakar Al-Quran (Tuhannya Old dan Allen)?  

4. Terlepas dari Tuhan yang sama atau berbeda, jika memang benar perintah dan pesan itu berasal darinya, bukankah ini artinya ia adalah sosok yang membingungkan karena telah memberikan perintah dan pesan yang berlainan kepada orang yang berbeda?

5. Jika ya, mengapa begitu banyak orang percaya, sujud syukur, bahkan rela mati demi namanya? 

6. Jika Tuhan memang telah memberikan pesan membakar Al-Quran kepada manusia, bukankah ini artinya ia adalah figur kejam yang tidak peduli terhadap makhluk hidup (dhi. manusia)?

Kembali pada berita pembakaran Al-Quran yang telah dilakukan Old dan Allen, ketika  akan membakar Al-Quran mereka berkata bahwa Al-Quran adalah buku yang berisi kebencian, bukan cinta. Mereka sepertinya, entah disengaja ataupun tidak disadari, menyingkirkan fakta bahwa dalam Alkitab sendiri banyak kisah yang menampilkan hal-hal bernuansa kekerasan,  seperti: kebencian dan pembantaian terhadap suku bangsa tertentu yang semuanya dilakukan atas persetujuan Tuhan. (Sangat mungkin Old dan Allen dengan sengaja menganggap kisah-kisah seperti itu tidak terdapat alam Alkitab bagian Perjanjian Lama karena mereka adalah pendeta, jadi kemungkinannya sangat kecil jika mereka tidak mengetahui kisah-kisah seperti itu. Hal yang seringkali juga dilakukan umat Kristen lainnya.) Jika demikian, jelas, Old dan Allen pun telah memberlakukan standar ganda terhadap "kitab suci" agama lain.

Tindakan yang dilakukan Old dan Allen sama sekali tidak cerdas padahal mereka tidak suka jika dianggap tidak cerdas. (Orang beragama khususnya para pemimpinnya secara implisit tidak mau dianggap tidak cerdas karena mempelajari ilmu agama. Oleh karena itu, mereka menganggap diri cerdas karena mampu menggunakan akal sehatnya dengan baik.) Dengan demikian, pembakaran Al-Quran yang dilakukan Old dan Allen merupakan contoh nyata betapa manusia (baca: orang beragama) gagal menggunakan akal sehatnya untuk hal-hal yang jauh lebih positif, misalnya: daripada membakar Al-Quran, mereka bisa membuat tulisan yang isinya mengkritik (bukan mencela atau menghina) kepercayaan lain (dhi. Islam) sehingga terjadi perdebatan secara pemikiran, bukannya tindakan kekerasan. Bukankah para pendeta sebelum memperoleh "gelar" pendeta mereka diharuskan menempuh kuliah di seminari atau sekolah tinggi teologi? Jika demikian, tentu, semasa di bangku kuliah mereka telah diajar dan dilatih untuk berpikir dan menuangkan pikirannya ke dalam tulisan-tulisan sehingga mereka bisa diperhitungkan sebagai orang-orang cerdas. Jika tidak demikian, apakah ini artinya seminari atau sekolah tinggi teologi tidak lagi memberikan pelatihan dan pengajaran seperti? Saya pikir tidak. Oleh karena itu, hai para agamawan tunjukkanlah jika kalian memang cerdas!

Rabu, 15 September 2010

Perintah Tuhan

Terry Jones, seorang pendeta di sebuah gereja kecil di Florida (AS), yang belakangan menghebohkan dunia agama, khususnya kaum Muslim karena rencana busuknya akan  membakar Al-Quran pada tanggal 11 September baru-baru ini membatalkan rencananya tersebut. Jones mengaku mengurungkan niatnya membakar Al-Quran setelah memperoleh perintah dari Tuhan. Lebih dari itu, ia pun mengatakan bahwa tidak akan pernah membakar membakar Al-Quran. 

Di satu sisi, tidak jadinya Jones membakar Al-Quran merupakan berita yang sangat melegakan, bukan saja bagi umat beragama (khususnya umat Muslim), namun sepatutnya juga bagi umat manusia secara keseluruhan karena jika rencana keji itu jadi dilakukan Jones, maka akan memicu reaksi dan gerakan keagamaan yang sangat negatif dari umat Muslim. Namun di sisi lain, alasan Jones tidak jadi membakar Al-Quran menimbulkan pertanyaan: karena ia mengaku Tuhan telah memerintahkannya untuk tidak melanjutkan tindakannya tersebut, maka siapa yang pertama kali (telah) memerintahkannya untuk membakar Al-Quran? Apakah Tuhan juga? Jika ya, apakah ia adalah Tuhan yang sama yang juga telah memerintahkannya untuk tidak membakar Al-Quran? Jika ya, maka sangat bisa dikatakan bahwa Tuhan yang disembah Jones adalah sosok keji yang tidak peduli terhadap "perasaan" manusia. Ia (Tuhan) adalah monster yang dengan seenaknya memerintah manusia melakukan tindak kejahatan. Namun, jika bukan Tuhan yang sama, apakah ia adalah Tuhan yang lain? Ataukah, Jones mendengar suara dari "batin"-nya sendiri? Sayangnya, semua pertanyaan tersebut tidak dapat ditemukan jawabannya dari berita di atas. 

Di berita yang sama juga dikatakan bahwa Jones menggemari film besutan Mel Gibson, Braveheart. Film Braveheart mengedepankan tema perang pembebasan Skotlandia dari penjajahan Inggris, dan menurut berita, hal tersebut menginspirasi Jones sehingga membuat seri video yang bernafaskan anti-Islam. Mel Gibson sendiri adalah seorang Katolik taat anti-Yahudi sedangkan Jones seorang Kristen Protestan anti-Islam dan dunia Arab.

Pertanyaan apa atau siapakah yang telah memerintahkan seorang Terry Jones  membakar Al-Quran dan benarkah Tuhan telah memerintahkannya menghentikan rencana pembakaran Al-Quran tersebut sulit dijawab karena bersifat sangat subjektif. Artinya, "perintah Tuhan" itu hanya diterima oleh Jones. Oleh karena itu, satu-satunya hal yang bisa dilihat kaitannya adalah kegemaran Jones terhadap film Braveheart yang disutradarai oleh Mel Gibson dan kesejajaran antara figur Jones dan Gibson. Sepertinya Jones menganggap Amerika Serikat sedang berada di bawah penjajahan fundamentalisme Islam dan peradaban Arabnya (bandingkan dengan semangat Skotlandia yang berusaha membebaskan diri dari penjajahan Inggris seperti digambarkan dalam Braveheart). Namun perbedaan mencoloknya adalah: Jones berencana membakar Al-Quran sedangkan dalam Braveheart tidak pembakaran buku apapun. 

Yang jelas, Terry Jones bukanlah figur pemimpin yang berjuang dengan semangat cerdas dan bermartabat melainkan figur yang mengedepankan kebodohan dan tidak manusiawi karena melakukan tindakan yang telah membuat begitu banyak pihak gerah dan resah. Ia adalah  contoh orang yang hidup di zaman modern dan beradab (penduduk AS seringkali dengan bangga menggadang-gadang sebagai bangsa yang maju dan beradab) namun sesungguhnya malah berlaku primitif dan barbar karena tindakannya telah membuat cemas sesamanya. Selain itu, orang-orang beragama selalu dengan angkuh menyatakan bahwa agama hanya dan selalu mengajarkan moral. Jika ya, coba tengok kembali pada apa yang telah dilakukan Jones.

Selasa, 14 September 2010

Mereka Dianggap Apa?


  • orang-orang yang mengaku beragama, bertuhan, dan bermoral baik, namun dengan tega menyerang, merusak, melakukan tindak kekerasan, dan menyakiti, baik perasaan maupun fisik sesamanya, bahkan melenyapkan nyawa sesamanya yang beragama lain?
  • orang-orang yang percaya pada keberadaan sesuatu yang tidak dilihatnya bahkan menyembah sosok tersebut?
    • orang-orang yang mengaku telah mendengar sesuatu di telinga/kepalanya dan menganggapnya sebagai suara Tuhan?
    • orang-orang yang mati-matian bahkan rela mati membela keyakinannya demi memperoleh sebuah tempat di "dunia seberang/lain" sekalipun tempat tersebut tidak diketahui keberadaannya?

    Jika demikian, bisa dianggap mengidap apakah orang-orang yang termasuk ke dalam empat poin di atas?

    Banyak orang memberlakukan standar ganda setiap kali berkaitan dengan keyakinan, kepercayaan, dan sesuatu yang disukainya apalagi jika ketiga hal tersebut telah mendarah daging sekian lama dalam dirinya.

    Sabtu, 28 Agustus 2010

    Ketika Alam Fantasi Dibawa ke dalam Alam Nyata

    Tidak jarang orang percaya jika hal yang dilihat dalam mimpi akan mewujudnyata dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, banyak orang percaya mimpi dapat mengubah "nasib" atau jalan hidup manusia. Mimpi dianggap sebagai gambaran nyata yang akan terjadi juga di alam  nyata sekalipun awalnya hanya terjadi di alam fantasi. Hal inilah yang sepertinya dialami oleh salah seorang pesinetron Marshanda ketika ia memutuskan mengenakan jilbab karena mimpi yang dialaminya. Melalui mimpi mengenai kiamat yang dialaminya selama lima hari beruturut-turut ia percaya jika ia sedang diingatkan untuk semakin mendekatkan diri pada yang kuasa. Sepertinya seorang Marshanda percaya jika mimpi kiamat yang dialaminya merupakan pertanda yang akan terjadi di masa mendatang, oleh karenanya ia mendekatkan diri pada penciptanya.

    Apakah apa yang terjadi atau dilihat di dalam mimpi sungguh-sungguh akan terjadi di dalam alam nyata? Bisa ya, bisa tidak. Jika ya, orang tidak bisa serta-merta menyimpulkan bahwa mimpi bisa sungguh-sungguh terjadi dalam alam nyata. Bagaimana jika tidak terjadi? Inilah yang seringkali orang lupakan atau singkirkan, yakni kemungkinan (bahkan lebih sering!) jika apa yang orang alami atau lihat di dalam mimpi tidak terjadi dalam alam nyata, bahkan tidak jarang apa yang terjadi di alam nyata berbalik 180 derajat dengan apa yang terjadi dalam alam fantasi. 

    Dengan demikian, bagaimana menjelaskan jika yang dialami atau dilihat dalam mimpi juga dialami atau dilihat dalam alam nyata? Banyak orang mengatakan bahwa mereka mengalami dan melihat sesuatu dalam alam nyata setelah peristiwa itu terjadi kemudian dikaitkan dengan mimpi yang pernah dialaminya. Ini berarti bahwa awalnya mereka tidak mengatakan atau mengaku mengalami mimpi tertentu, namun ketika sesuatu dialami dalam hidupnya mereka pun menyatakan jika beberapa waktu lalu pernah mengalami mimpi yang  kemudian terjadi juga dalam kehidupannya. Dengan demikian, mereka menghubungkan peristiwa yang dialami dalam dunia nyata dengan mimpi yang pernah dialami. 

    Hal sebaliknya juga tidak jarang dilakukan orang, di mana awalnya mereka memang mengakui mengalami mimpi tertentu kemudian mimpi tersebut mewujudnyata dalam hidupnya. Jika ini yang terjadi maka sesungguhnya yang dilakukan orang tersebut adalah "membenarkan" bahwa yang dialami dalam mimpinya sesuai dengan yang terjadi dalam kehidupannya. Artinya, orang yang melakukan hal ini sudah begitu yakin jika mimpi yang dialaminya akan sungguh-sungguh terjadi di dalam alam nyata, dan ketika hal tersebut terjadi maka ia pun menyatakan dan semakin percaya jika mimpi akan terjadi kelak dalam alam nyata.

    Seperti telah disinggung sepintas di atas, bagaimana seandainya apa dimimpikan tidak terjadi dalam alam nyata alias kehidupan ini? Sesungguhnya kenyataan inilah yang jauh lebih sering terjadi ketimbang mimpi yang mewujudnyata dalam alam nyata. Sayangnya, mereka yang percaya jika mimpi juga terjadi dalam alam nyata menyingkirkan kenyataan bahwa mimpi lebih sering tidak terjadi dalam hidup ini. Mereka tidak mau menerima kenyataan bahwa sesungguhnya mimpi yang terjadi dalam dunia nyata tidak lebih dari sekadar ketidaksengajaan yang harus diakui sangat jarang terjadi. Mimpi, bagi mereka yang percaya jika mimpi itu akan terjadi di kemudian hari, tidak sadar atau tidak mau menerima penjelasan bahwa sesungguhnya mimpi hanyalah proyeksi ke masa depan yang muncul karena dirangsang oleh berbagai ingatan yang diperoleh dari berbagai hal, baik yang pernah dibaca, disaksikan, didengar, maupun dialami manusia. 

    Kembali pada mimpi kiamat yang dialami Marshanda maka terlihat dengan begitu gamblang pola ingatan yang dimilikinya, di mana dalam mimpinya ia melihat kiamat seperti yang ditampilkan melalui film Armageddon beberapa tahun silam. Jelas, tayangan film tersebut tersimpan dalam memori otaknya, dan ketika ada peristiwa tertentu terjadi dalam hidupnya maka ingatan akan film tersebut muncul dalam mimpinya. Kita tidak mengetahui persis peristiwa tertentu apa yang dialami/terjadi baru-baru ini, namun kemungkinan besarnya adalah momen bulan Ramadan yang tengah dilakoninya merupakan hal yang sangat masuk akal. 

    Peristiwa tertentu yang dialami seseorang merupakan pemicu paling efektif untuk membangkitkan/memunculkan ingatan seseorang terjadi sesuatu yang pernah dibaca, disaksikan, didengar,  bahkan dialaminya. Inilah yang sepertinya dialami oleh seorang Marshanda sehingga ingatannya terhadap film Armageddon pun tampil dalam mimpinya. Oleh Marshanda hal yang dilihat dalam mimpinya tersebut tidak dianggap angin lalu atau didiamkan melainkan olehnya diberikan muatan makna relijius yang dipercayanya sebagai peringatan terhadap dirinya sehingga ia pun mengenakan jilbab. 

    Hal yang harus diperhatikan mengenai fenomena mimpi adalah bahwa orang harus sadar dan menerima kenyataan sesungguhnya ada dua kemungkinan, yakni: baik mimpi tersebut terjadi dalam alam nyata maupun tidak terjadi dalam dunia nyata, dan hal kedualah yang lebih sering terjadi dibandingkan yang pertama. Ketika mimpi terjadi dalam alam nyata sesungguhnya tidak lebih dari sekadar ketidaksengajaan yang sangat jarang, namun ketika mimpi tidak terjadi dalam alam nyata banyak orang tidak peduli dengan memberikan banyak alasan. 

    Apakah mimpi bisa mengubah "nasib" atau jalan hidup seseorang? Biarlah orang-orang yang percaya pada "kekuatan" mimpi yang menjawab pertanyaan tersebut. Apakah mimpi bisa mengubah sikap atau gaya hidup seseorang? Melihat pada "kasus" Marshanda, maka jawaban yang bisa diberikan adalah positif, "ya."

    Jumat, 27 Agustus 2010

    Pencideraan terhadap Kemanusiaan

    Tindakan kekerasan kembali terjadi di benua Afrika dan kali ini merenggut korban, bukan saja para pegawai pemerintahan tetapi juga rakyat sipil. Tindakan brutal tersebut dilakukan oleh sekelompok fundamentalis Islam dan terjadi ketika umat Muslim sedunia menjalankan ibadah puasa. Mungkin banyak orang mengecam bahwa tindakan keji tersebut merupakan pencideraan terhadap agama tertentu (dhi. Islam) karena dilakukan pada saat bulan Ramadan, bahkan  bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap agama Islam. Tentu, kecaman seperti itu sangatlah wajar apalagi jika dilakukan oleh umat Muslim sendiri. Namun, sudah seharusnyalah jika bukan hanya umat Muslim yang mengecam bahkan mengutuk tindakan brutal tersebut karena sesungguhnya tindakan tersebut bukan hanya menghina dan mencidera umat agama tertentu melainkan juga menghina dan mencidera umat manusia secara lebih luas. 

    Ketika suatu tindakan kekerasan merenggut korban manusia, entah korban beragama ataupun bahkan tidak beragama, maka tindakan tersebut sudah seharusnya dikecam oleh seluruh umat manusia. Sekalipun tindak kekerasan yang terjadi tidak melenyapkan nyawa manusia, namun tetap saja tindakan tersebut harus dikcecam bahkan dikutuk karena telah menghina dan mencidera manusia sebagai makhluk hidup. Inilah salah satu tindakan yang tergolong tidak humanis, bahkan sangat tidak humanis.

    Semua tindakan yang melibatkan manusia sebagai makhluk hidup sudah sepatutnya tidak dipandang secara sempit, hanya dengan mengaitkan pada ideologi, kepercayaan (agama), atau prinsip tertentu yang dimiliki orang yang bersangkutan. Oleh karena itu, ketika suatu tindakan atau peristiwa dialami manusia maka tanggung jawab manusia lainnya untuk peduli terhadap hal tersebut. Artinya, nilai kemanusiaanlah yang dikedepankan, diutamakan, dan dijunjung tinggi melampaui ideologi, agama, dan/atau prinsip seseorang. Oleh karena itulah nilai kemanusiaan, seperti penghargaan terhadap nyawa seseorang harus yang lebih dipentingkan dan dihargai daripada kepercayaannya. Dengan demikian, siapa dan apa kepercayaan yang dianut seseorang menjadi tidak begitu relevan karena siapapun dia dan apapun kepercayaan yang dipeluknya, orang tersebut adalah manusia. Itulah yang pertama dan terutama.

    Rabu, 25 Agustus 2010

    Sealiran Kok Ricuh?

    Kok bisa-bisanya sesama manusia terlibat dalam kericuhan, terlebih kericuhan tersebut melibatkan mereka yang memiliki kepercayaan yang sama? Bukankah seharusnya mereka yang beriman sama itu malah saling dukung, bantu, bahkan mencintai, namun kenyataannya malah terlibat dalam kericuhan. Tentu, sikap seperti ini (seharusnya) sungguh-sungguh memalukan mereka yang mengaku dan mendaku beragama dan percaya kepada Tuhan. Selain itu, sikap ricuh di antara orang-orang sealiran tersebut akan semakin membuat mereka yang antipati terhadap agama dan orang-orang yang beragama semakin tidak menyukai agama dan orang-orangnya.

    Mungkin orang akan berdalih bahwa yang seharusnya dikritisi bukanlah agamanya, melainkan orang-orang yang melakukan tindakan tidak terpuji itu. Secara sepintas dalih ini sepertinya tepat, namun jika dilihat secara lebih tajam dan jernih tidaklah demikian. Artinya, bukan saja orang-orang beragama yang melakukan tindakan memalukan, seperti: membuat onar atau kericuhan yang harus dikritisi melainkan dasar kepercayaan (agama) yang selama ini dianut orang-orang tersebut juga patut dikritisi karena ternyata agama yang mereka anut tidak mampu "menahan" mereka dari amarah akibatnya mereka berbuat ricuh dengan sesamanya yang seiman. 

    Jika agama, seperti yang dipeluk dan diyakini oleh begitu banyak orang hingga saat ini dianggap bisa membawa para penganutnya pada ketenteraman, kedamaian, dan kesejukan, namun mengapa nyatanya kericuhan dengan umat seiman bisa terjadi? Belum lagi ditambah dengan kericuhan, bahkan pembunuhan yang dilakukan oleh umat beragama/kepercayaan yang lain. Mungkin juga orang akan berkilah bahwa yang melakukan tindakan-tindakan tercela seperti itu adalah orang-orang yang belum memahami dan menjalankan agama dengan benar. Artinya, mereka merupakan oknum-oknum dan tidak bisa dianggap mewakili keseluruhan bahkan sebagian besar umat beragama. Tentu, argumen ini jika dilihat secara sepintas juga tepat, namun tetaplah lemah. Artinya, tetap, oknum-oknum tersebut juga adalah orang-orang beragama. Terlepas mereka belum memahami dan menjalankan agama mereka dengan benar dan sungguh-sungguh merupakan hal lain, namun yang pasti, mereka pun termasuk ke dalam orang-orang beragama, apalagi peristiwa itu melibatkan orang-orang yang seiman.

    Jika umat beragama tidak mampu mengejawantahkan teori-teori nan indah yang terdapat dalam agama mereka masing-masing, ini artinya bahwa agama yang mereka anut tidak mampu mendorong mereka mewujudkan ajaran-ajaran agamanya. Sesungguhnya suatu ajaran yang benar bukan ditentukan oleh seberapa banyak orang mempercayai dan menganutnya, tetapi seberapa kuat ajaran itu telah mendorong atau menginspirasi, bukan saja mereka yang mempercayai dan menganutnya melainkan juga mereka yang tidak memeluk ajaran itu. Apakah ada seorang yang sungguh-sungguh mempercayai dan menganut agamanya namun tergerak atau terinspirasi oleh agama lain? Mungkin contoh terdekat adalah  Mahatma Gandhi, seorang Hindu sejati yang, bukan saja mengaggumi sosok Yesus Kristus, sesembahan umat Nasrani, namun juga tergerak dan terinspirasi oleh ajaran-ajaran Yesus. Namun harus diingat, Gandhi sama sekali tidak tergerak dan terinspirasi oleh agama Kristen, tetapi tergerak dan terinspirasi oleh ajaran-ajaran Yesus karena ia (Gandhi) sendiri menyatakan bahwa banyak orang Kristen yang malah tidak menjalankan ajaran Yesus.

    Senin, 23 Agustus 2010

    Sangat Memalukan!

    Sangat disayangkan sebuah pernyataan ganjil dikemukakan oleh salah seorang pemimpin masyarakat ketika ia menyatakan bahwa wartawan merupakan profesi yang berdosa. Selain tidak didukung oleh penjelasan yang lebih lanjut, walikota Banjarmasin itu, berusaha berkilah dengan menyatakan bahwa perkataan tersebut bukanlah berasal dari mulutnya melainkan dari ormas Islam setempat. Tidak cukup melakukan kesalahan yang pertama, ia melakukan kesalahan yang kedua yakni berusaha berbohong. Suatu tindakan yang sangat disayangkan dan memalukan. 

    Terlepas jika ia memberikan penjelasan mengenai alasan ia menyatakan wartawan merupakan profesi yang berdosa, tetap saja, pernyataan seorang walikota seperti itu sama sekali tidak mencerminkan suatu tindakan yang menghargai profesi orang lain. Terlebih, apakah "berdosanya" jika seorang berprofesi sebagai wartawan? Apakah karena profesi wartawan selalu lekat (lebih tepatnya mengalami stigmatisasi) dengan berita-berita yang tidak akurat bahkan salah sehingga cenderung dianggap menyebarkan gosip atau fitnah? Kalaupun ya, tidak ada seorang makhluk pun yang berhak "menghakimi" profesi tersebut dan menstigmatisasinya sebagai "profesi berdosa" karena ia bukanlah Tuhan. Sekalipun ia adalah Tuhan, mengapa ia (Tuhan) bukan sejak awalnya menghalangi atau tidak menciptakan  profesi tersebut dengan "kemahakuasaannya" sehingga banyak orang tidak akan menjadi wartawan? 

    Pernyataan yang sangat merendahkan sebuah profesi sangatlah disayangkan dan memalukan, apalagi pernyataan itu berasal dari mulut seorang pemimpin masyarakat dan dilakukan bukan sekali serta di hadapan banyak orang. Bisa dibayangkan pengaruh ucapan tersebut terhadap, baik mereka yang ketika itu mendengarkan pernyataan tersebut secara langsung maupun mereka yang berprofesi sebagai wartawan. Pertama, mereka yang mendengarkan secara langsung jika tidak "diperlengkapi" dengan pikiran yang kritis atau mudah percaya dan mengikuti pernyataan pemimpinnya tentu akan berpikiran serupa sehingga membenci orang-orang yang berprofesi sebagai wartawan. Kedua, mereka yang berprofesi wartawan tak pelak lagi menjadi sangat tersinggung karena telah direndahkan atau dilecehkan seakan-akan profesi mereka tidak baik alias tidak halal padahal banyak dari mereka yang menjalankan profesinya itu dengan sebaik mungkin. Terlepas banyaknya wartawan yang mungkin tidak menjalankan tanggung jawabnya dengan tidak baik, namun sekali lagi, tidak ada seorang pun yang berhak merendahkan profesi yang menjadi tumpuan "dapur" orang lain tersebut.

    Sabtu, 21 Agustus 2010

    Mirip Aja Tuh...

    Selain kepribadian seseorang bisa "dibaca" melalui horoskop, seperti dipercaya banyak orang, ternyata kepribadian seseorang juga bisa "dilihat" melalui bentuk bibir. Setidaknya itulah yang dinyatakan oleh Poppy King, seorang pembuat lipstik. Lucunya, hal tersebut bukan dikatakan oleh seorang psikolog atau orang yang memiliki kompetensi di bidang kepribadian melainkan oleh seorang pembuat lipstik. Namun ia sama sekali tidak menjelaskan bagaimana hubungan antara bentuk bibir seseorang dengan kepribadian orang yang bersangkutan, dan contoh yang digunakan adalah bibir para figur publik. Mengapa ia tidak menggunakan bentuk-bentuk bibir tertentu tanpa melibatkan bibir para figur publik? Bagaimana ia bisa mengetahui kepribadian  para figur publik yang bibirnya digunakan sebagai contoh? Penjelasan mengenai kepribadian para figur publik itu pun sangat umum karena umumnya para figur publik memiliki kepribadian seperti yang dijelaskan King. 

    Setelah memperhatikan bentuk bibir para figur publik yang dijadikan contoh semuanya terlihat mirip saja alias nyaris tidak ada perbedaan yang berarti. Dan satu hal yang pasti, semua bentuk bibir para figur publik yang digunakan sebagai contoh itu, bagi saya, terlihat menarik. Tentu, "analisis" yang dibuat oleh King tidak perlu dianggap serius karena dia bukanlah seorang yang memiliki keahlian di bidang psikologi atau kepribadian melainkan seorang pembuat lipstik. Oleh karena itu, yang dilakukannya adalah berupaya agar jualannya, yakni lipstik, bisa laris manis di pasaran, seperti manisnya paras para figur publik yang digunakannya sebagai contoh.

    Rabu, 18 Agustus 2010

    Pilih Kasih

    Jika peristiwa jatuhnya pesawat di Pulau San Andres, Kolombia, dianggap sebagai suatu "keajaiban" karena mengacu pada kondisi pesawat yang hancur, tentu hal tersebut tidak akan berlaku bagi keluarga, Amar Fernandez de Barreto, seorang nenek berusia 70 tahun, satu-satunya penumpang pesawat yang meninggal dalam peristiwa naas tersebut. Peristiwa mengerikan namun "ajaib" itu keluar dari mulut Gubernur San Andres Pedro Gallardo yang menegaskan: "Hanya tangan Tuhan yang mencegah jatuhnya korban tewas. Kita harus berterima kasih kepada Tuhan." 

    Jika tangan Tuhan memang "ajaib" dan mampu mencegah jatuhnya korban tewas, mengapa tidak sekalian saja ia menyelamatkan pesawat itu sehingga tidak sampai jatuh sama sekali? Mengapa ia membiarkan pesawat itu jatuh, apapun penyebabnya, dan membiarkan seorang nenek meninggal sekalipun akibat serangan jantung? Apakah ia (Tuhan) adalah sosok yang pilih kasih? Masih menganggap peristiwa jatuhnya pesawat itu merupakan "keajaiban"? Jika ya, coba katakan hal itu pada keluarga yang ditinggalkan oleh nenek yang telah meninggal.

    Selasa, 17 Agustus 2010

    Sungguh-sungguh Tidak Manusiawi

    Beberapa hari yang lalu warga Kecamatan Kuala Behe, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat dihebohkan oleh adanya bayi yang menurut mereka tidak normal karena kedua bola matanya besar serta hidung dan mulutnya lebar. Oleh karena ketidaknormalan tersebut beberapa warga menganggapnya sebagai "bayi hantu" akibat wajahnya yang mengerikan. Apakah yang sesungguhnya terjadi sehingga bayi malang tersebut dianggap sebagai "bayi hantu"? 

    Melalui berita tersebut segera dapat dikatakan bahwa karena wajah bayi tersebut tidak normal maka ia dianggap sebagai "bayi hantu" akibat bentuk bola mata, hidung, dan mulutnya yang tidak seperti bayi umumnya. Apakah "ukuran pada umumnya" tersebut bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai seseorang terlebih bayi? Sama sekali tidak. Banyak orang melakukan kesalahan karena menggunakan "jumlah" atau frasa "pada umumnya" sebagai ukuran untuk memutuskan kebenaran suatu hal dan menilai normal atau tidak normalnya suatu hal. Artinya, jika banyak orang mengatakan suatu hal sebagai kebenaran maka hal tersebut dianggap sebagai suatu yang benar. Atau, jika suatu yang baru muncul padahal sebelumnya belum pernah ada/dilihat maka hal baru tersebut dianggap sebagai hal yang tidak normal apalagi berkaitan dengan bentuk/wujud yang mengerikan. Oleh karena itu, ketika ada bayi yang wajahnya mengerikan menurut ukuran banyak orang karena sebelumnya mereka belum pernah melihat bayi yang berwajah seperti itu maka banyak orang menilai bayi itu tidak normal. Penilaian yang sangat dangkal dan simplisistis.

    Belum selesai sampai di situ, ternyata bayi "tidak normal" tersebut dianggap sebagai "bayi hantu." Bagaimana hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena ketika si bayi masih berada di dalam kandungan, sang ayah pernah bermimpi berjumpa dengan hantu dan hantu itu mengajak bertukar anak yang disetujui oleh si ayah bayi tersebut. Alhasil, bayi yang dilahirkan oleh si ibu pun berwajah seperti hantu. Ternyata cerita yang sama sekali tidak lucu tersebut dipercaya oleh banyak orang. Jika cerita tersebut berasal dari pasangan yang memiliki bayi tersebut, betapa tidak manusiawinya mereka karena mencari-cari alasan untuk membenarkan bahwa wajah "tidak normal" yang dimiliki bayi mereka tidak lain karena si bayi telah ditukar dengan bayi hantu. Jika itu yang terjadi maka bisa dikatakan jika orangtua si bayi malu dengan keberadaan bayinya karena memiliki wajah yang "tidak normal" menurut ukuran umum sehingga mereka pun menolak kehadiran bayi tersebut dengan berusaha membuat cerita untuk menutupi rasa malu mereka sebagai orangtua. Jika cerita tersebut berasal dari masyarakat, betapa kejamnya mereka yang tega mengukur dan menilai wujud seseorang menggunakan tolok ukur "pada umumnya" yang akhirnya menyimpulkan bayi tersebut "tidak normal." 

    Terlepas dari siapa yang pertama kali mengukur dan menilai serta mengatakan bayi malang tersebut "tidak normal" bahkan menganggapnya sebagai "bayi hantu," sesungguhnya orang tersebut telah menggunakan tolok ukur yang salah dalam menilai wujud seseorang. Sekali lagi, "jumlah" sama sekali tidak berarti suatu hal itu benar. Ukuran "pada umumnya" sama sekali tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai normal atau tidak normalnya suatu hal. Artinya, "jumlah" tidak menentukan normal atau tidak normalnya sesuatu. Terlebih, tolok ukur itu dikenakan untuk mengukur dan menilai wujud atau rupa manusia (dhi. bayi). Di atas dari hal tersebut, menyebut wajah seorang bayi mengerikan karena dianggap "tidak normal" sungguh-ungguh tidak manusiawi ditambah dengan menyebutnya sebagai "bayi hantu." Tindakan yang sangat memprihatinkan sekaligus tidak terpuji.

    Senin, 16 Agustus 2010

    Pornografi Kekerasan

    Ketika suatu aksi atau peristiwa terjadi begitu nyata atau gamblang dengan disaksikan khalayak ramai (terjadi di hadapan banyak orang), entah aksi/peristiwa tersebut melibatkan hubungan seksual ataupun kekerasan, maka hal tersebut diperhitungkan sebagai pornografi. Banyak orang beranggapan jika pornografi hanya sebatas tindakan hubungan seksual. Namun sesungguhnya setiap aksi yang terjadi begitu nyata atau gamblang disebut dengan pornografi. Oleh karena itu, ketika suatu aksi/peristiwa kekerasan yang terjadi dengan sangat gamblang dengan disaksikan banyak orang apalagi sengaja dilakukan di tengah khalayak ramai, maka hal tersebut bisa disebut sebagai pornografi kekerasan. Peristiwa inilah yang terjadi di wilayah utara Afganistan (propinsi Kunduz) ketika kelompok Taliban membunuh sepasang kekasih di tengah pasar karena mereka dianggap telah melakukan maksiat.

    Sebelum aksi pornografi kekerasan tersebut dilaksanakan kelompok Taliban tersebut mengumumkan akan diadakan "penghukuman" tersebut melalui corong Masjid sehingga masyarakat sekitar dapat menyaksikan aksi mengerikan itu. Bahkan khalayak diperbolehkan untuk turut serta dalam eksekusi rajam tersebut. Mengapa aksi pornografi kekerasan seperti itu dilakukan di muka umum dengan disaksikan banyak orang (dhi. terjadi di tengah pasar) bahkan memperbolehkan orang banyak itu terlibat? Setidaknya ada tiga alasan: Pertama, aksi tersebut hendak memberikan pesan dan kesan mengerikan kepada orang banyak sehingga mereka takut terhadap kelompok yang melakukan aksi kekerasan itu. Kedua, aksi tersebut bisa memberikan rasa superioritas (unggul) bagi kelompok yang melakukannya terhadap orang-orang yang menyaksikannya. Ketiga, orang-orang yang terlibat (dhi. turut dalam aksi menghukum dengan merajam) akan beranggapan bahwa apa yang dilakukan kelompok tersebut benar dan si terhukum memang salah sehingga mereka layak dihukum mati.

    Jelas, aksi main hakim sendiri yang didasarkan pada hukum agama tertentu merupakan salah satu bentuk pelanggaran terhadap hak asasi manusia karena hal tersebut tidak melalui proses pengadilan yang layaknya diterima oleh manusia. Main hakim sendiri meski didasarkan pada hukum agama tertentu menunjukkan jika para pelakunya; satu: tidak memiliki penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, dua: cenderung berperilaku layaknya hewan dan bukannya manusia. Terlebih, aksi tersebut tergolong ke dalam pornografi kekerasan karena terjadi dengan begitu gamblang dengan disaksikan banyak orang karena dilakukan di tengah keramaian serta memperbolehkan para penonton untuk turut mengambil bagian dalam aksi sangat keji tersebut. Dan betapa mengerikannya karena aksi tersebut didasarkan pada semangat agama!