Tampilkan postingan dengan label Prediksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prediksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Oktober 2010

Memprediksi Kematian Sendiri?

Seorang mahasiswa Amerika mati setelah memprediksi kematiannya sendiri. Setidaknya itulah judul yang diberikan mengenai kabar "keberhasilan" prediksi mahasiswa tersebut terhadap kelangsungan hidupnya, atau itulah yang dipercaya beberapa orang bahwa mahasiswa itu mampu dengan tepat memprediksi kematiannya hanya beberapa saat sebelum ajal menjemputnya. Apakah mahasiswa itu memang "sukses" memprediksi kematiannya sendiri?

Beberapa saat sebelum kematiannya, mahasiswa tersebut memposting dalam twitternya: "Hembusan angin hingga 60mph hari ini akan menyenangkan . . .  saya kira saya sudah hidup cukup lama." Tulisan inilah yang dijadikan orang sebagai patokan jika mahasiswa itu telah memperkirakan kematiannya sendiri, khususnya kalimat yang terakhir. Namun jika dibaca secara cermat kalimat terakhir itu sama sekali tidak menunjukkan jika mahasiswa itu telah memperkirakan hidupnya akan berakhir tidak lama setelah ia mempostingkan tulisan tersebut.

Kalimat, "saya kira saya sudah hidup cukup lama" malah bisa diartikan jika pada saat itu mahasiswa tersebut sedang menikmati hidupnya, khususnya jika kalimat tersebut dihubungkan dengan kalimat sebelumnya. Dengan demikian, kalimat kedua tersebut sama sekali, baik implisit terlebih eksplisit, tidak menunjukkan jika mahasiswa itu tengah memprediksi kematiannya. Orang saja yang gemar menghubung-hubungkan berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya ataupun yang dialaminya dirinya walaupun hal-hal tersebut sama sekali tidak berhubungan. Inilah yang juga terjadi ketika orang menghubungkan kalimat di twitter mahasiswa tersebut dengan akhir hidupnya sehingga orang pun mengatakan bahwa mahasiswa tersebut telah "berhasil" memprediksi kematiannya sendiri. 

Sabtu, 10 Juli 2010

Burung Parkit Juga Bisa Meramal

Setelah seekor gurita yang dipercaya bisa meramal hasil pertandingan Piala Dunia 2010 secara tepat sekarang seekor burung Parkit pun tidak mau ketinggalan aksi dengan meramal beberapa hasil pertandingan di turnamen yang sama. Khusus untuk pertandingan final antara Belanda vs. Spanyol, mani - nama burung Parkit itu - meramal bahwa Belanda akan keluar sebagai pemenangnya.
"Kehebatan" Mani meramal dengan tepat beberapa hasil pertandingan di Piala Dunia kali ini membuatnya menjadi populer karena didatangi oleh orang-orang yang suka berjudi untuk memperoleh keuntungan. Tentu, hal ini tidak hanya menguntungkan mereka yang menang taruhan setelah "berkonsultasi" dengan Mani, tetapi juga menambah pundi-pundi pemilik Mani yang ternyata adalah seorang astrologer. 
"Ramalan" yang dilakukan Mani merupakan suatu kebetulan yang memang sangat jarang karena bisa menebak beberapa hasil pertandingan dengan tepat dan rupanya diperhatikan oleh si pemiliknya. Pemilik burung Parkit tersebut pun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas untuk mempopulerkan Mani sehingga ia menjadi tenar yang ujung-ujungnya bisa menambah keuangan si pemilik Mani. Ternyata suatu hal yang sangat kebetulan bisa mendongkrak popularitas seseorang yang dari hal tersebut diharapkan juga akan mendongkrak penghasilan/pendapatan orang yang bersangkutan.

Rabu, 07 Juli 2010

Paul Masih Populer

Karena "ramalan" Paul - gurita cenayang - mengenai hasil pertandingan antara timnas Argentina vs. Jerman pada babak perempat final Piala Dunia 2010 tidak meleset alias tepat di mana Jerman menekuk Argentina, maka "ramalan" Paul berikutnya mengenai pertandingan Jerman vs. Spanyol masih ditunggu. Oleh karena "ramalannya" itu Paul masih populer bagi banyak orang. Namun kali ini Paul "meramal" bahwa Spanyol yang akan memenangi pertandingan semifinal dini hari besok (waktu Indonesia) melawan Jerman

Jika "ramalan" Paul tidak meleset dan ini berarti Spanyol yang akan memenangi pertandingan, apakah dengan demikian seekor gurita memang bisa meramal? Tidak ada ukuran jelas yang digunakan untuk menilai apa yang dimaksud dengan "ramalan" itu. Bagaimana seandainya ramalan tersebut meleset atau tidak tepat? Apakah ada penjelasan mengenai hal itu? Sejauh ini tidak ada penjelasan jika sebuah ramalan keliru selain pernyataan bahwa ada hal-hal tertentu telah mengakibatkan kekeliruan ramalan tersebut. Dan untuk hal ini kebanyakan orang cenderung tidak mau peduli dan tidak tertarik karena mereka hanya tertarik ketika ramalan tersebut tepat sehingga tidak ada pemberitaan yang "heboh" mengenai kekeliruan tersebut. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kita nyaris atau bahkan tidak pernah mendengar/membaca berita mengenai ramalan yang meleset. Namun tidak demikian halnya dengan banyaknya berita mengenai ramalan yang tepat. 

Jika "ramalan" Paul tepat, maka bisa dipastikan dari sekarang - tidak perlu ramalan - ia akan terus populer, bahkan sangat mungkin popularitasnya akan terus meningkat. Namun, jika ramalannya meleset bisa dipastikan juga sejak saat ini - tidak juga memerlukan ramalan - jika berita mengenai gurita cenayang itu akan pudar tergerus atau setidaknya, orang-orang tertentu akan memberikan penjelasan yang sifatnya "membela" kekeliruan yang dilakukan Paul karena toh, ia hanyalah seekor gurita. Namun satu hal yang pasti - tetap tidak memerlukan ramalan - para pendukung Jerman akan bergembira jika Jerman memenangiduel melawan Spanyol, sedangkan para penggemar Spanyol akan gigit jari karena tim unggulannya tersingkir dari ajang Piala Dunia 2010.

Kamis, 01 Juli 2010

Paul: Gurita Cenayang

Ternyata bukan hanya manusia yang bisa meramal apa yang akan terjadi di esok hari, seekor gurita pun bisa meramal. Tidak tanggung-tanggung yang diramal oleh gurita itu adalah hasil pertandingan sepak bola Piala Dunia 2010, dan ramalannya tepat. Bahkan ia bukan hanya meramal satu pertandingan melainkan beberapa pertandingan yang semua hasilnya sesuai dengan ramalan gurita tersebut. Apa yang sesungguhnya dilakukan oleh gurita itu sehingga ia dikatakan telah berhasil meramal hasil beberapa pertandingan sepak bola?


Diberitakan, Paul, nama gurita itu, dihadapkan pada dua buah kotak kaca yang masing-masing diisi oleh kerang dan ditempeli oleh bendera tim yang akan bertanding. Kotak yang didekati dan disentuh artinya itulah tim yang akan memenangkan pertandingan. Tentu, hal ini sangat mungkin terjadi sebagai suatu kebetulan belaka. Mungkin orang akan bertanya: Jika hanya kebetulan, mengapa bisa terjadi lebih dari satu kali? Jawaban terhadap pertanyaan itu adalah: kebetulan bisa terjadi lebih dari satu kali, bahkan berulang kali. Namun yang harus dijawab oleh mereka yang percaya terhadap ramalan adalah: Apakah ada ramalan yang meleset? Jika ya, bagaimana menjelaskannya? Dan mengapa ramalan-ramalan yang meleset itu tidak diketahui publik?


Sebagian besar orang lebih menyukai jika hal-hal yang menjadi kesukaan atau dugaannya tepat dan menghindar jika kesukaan atau dugaannya meleset karena ia akan malu. Sebagian besar lebih memperhatikan ketika ramalan seseorang (bahkan seekor gurita!) tepat tanpa memperhitungkan berapa ramalan yang meleset apalagi memberitahukannya kepada khalayak ramai karena sebagian besar orang lebih memilih untuk mengetahui sesuatu yang tepat (tidak meleset). Orang tidak tertarik bahkan tidak ambil pusing jika ada ramalan yang meleset karena hal itu dianggap tidak menarik perhatian mereka. Terlebih media massa, cenderung tidak akan mempublikasikan ramalan-ramalan yang meleset karena mungkin dianggap tidak sopan, intoleran, dan bisa membunuh pribadi dan karir seseorang (bagi beberapa orang cenayang dianggap sebagai profesi, bukan sekadar iseng-iseng). Oleh karena itulah sebagian besar orang akan memilih ketika ramalan-ramalan tersebut tepat dan menyingkirkan kemungkinan yang lebih banyak jika ramalan-ramalan yang sama meleset.


Kembali pada berita mengenai Paul, seekor gurita cenayang, di mana ia meramalkan bahwa  yang akan keluar sebagai pemenang antara Jerman dan Argentina adalah timnas Jerman. Saya sendiri adalah pendukung timnas sepak bola Jerman sejak lama dan berharap Jerman dapat mengalahkan Argentina di babak perempat final nanti, namun saya juga menunggu (walaupun tidak antusias) apakah ramalan Paul itu tepat atau tidak. Jika ramalannya tepat (Jerman menang) tentu saya senang dan mungkin berita mengenai kehebatan Paul terus ada, namun jika Jerman kalah dan ini berarti ramalan Paul meleset, saya "meramalkan" setidaknya ada dua kemungkinan:


1. Berita mengenai kehebatan Paul dalam meramal tetap ada, tetapi para staf di Sea Life Aquarium di Oberhausen, Jerman, tempat Paul berada, akan memberikan berbagai alasan yang menyebabkan ramalan Paul meleset


atau...


2. berita mengenai kehebatan Paul dalam meramal akan lenyap. Artinya, tidak akan ada lagi berita mengenai seekor gurita bernama Paul yang mampu meramal hasil pertandingan sepak bola Piala Dunia 2010. Mengapa? Karena orang-orang yang tadinya yakin bahwa Paul bisa meramal menjadi malu karena ternyata ramalan Paul meleset. 


Jika kemungkinan kedua yang terjadi, maka, tepatlah "ramalan" saya yang mengatakan orang lebih memilih sesuatu yang tepat dan membenci hal yang tidak tepat (dugaan atau ramalan), dan ketika mereka tidak bisa menjelaskan mengapa duguaan atau ramalan itu meleset, mereka pun pergi mengacuhkan pertanyaan tersebut.

Sabtu, 12 Juni 2010

Meramal Masa Depan

Urusan masa depan memang cukup menarik perhatian bagi banyak orang sehingga mereka berusaha mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang. Fenomena ini ternyata bukan hanya melanda masyarakat "biasa", tetapi juga artis (public figure). Menariknya lagi, urusan masa depan ini melibatkan orang-orang tertentu yang disebut sebagai peramal. Peramal adalah orang yang dipercaya memiliki "kemampuan khusus" untuk menerawang atau "melihat" masa depan seseorang. Melalui jasa para peramal maka hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang dapat diketahui. Salah seorang artis yang rupanya sering menggunakan jasa peramal adalah Brad Pitt.

Ron Bard bisa dianggap peramal pribadi Brad Pitt. Atau setidaknya, Brad Pitt sering meminta "pertolongan" Ron untuk "melihat" masa depannya. Diberitakan pula jika Ron memuji artis tersebut setinggi langit. Tentu ia (akan) memuji kliennya tersebut karena ia dibayar mahal berkat jasanya meramal Brad Pitt. Tidak mungkin ia menjelek-jelekan Brad Pitt jika tidak ingin kehilangan pundi-pundinya. Terlebih, dikabarkan bukan hanya Brad Pitt yang menjadi memerlukan jasanya melainkan ada beberapa artis Hollywood (tidak disebutkan siapa saja). Sangat kecil kemungkinannya jika Ron menjelek-jelekan Brad Pitt atau artis lainnya karena hal tersebut akan mempengaruhi "pangsa pasar" ramal-meramal dia di kalangan artis Hollywood.

Satu hal yang sangat menarik dari mengenai Brad Pitt dalam hubungannya dengan urusan ramal-meramal adalah ketika ia pertama kali Ron meramalkan masa depannya dengan Jennifer Aniston yang ternyata kandas. Apakah ramalan Ron salah? Atau, apakah ia tidak bisa meramal hubungan Brad dan Jeniffer yang kemudian terbukti gagal? Atau mungkin Ron sebenarnya saat itu telah meramalkan jika hubungan antara Brad dan Jennifer akan kandas di kemudian hari? Jika memang demikian, mengapa Brad tetap menikahi Jennifer, bukan sebaliknya langsung memutuskan hubungannya dengan Jennifer? Anehnya, Brad tetap "berkonsultasi" dengan Ron. Mungkin ia berpikir jika "percobaan" pertama bisa salah, maka dibutuhkan "percobaan" kedua, ketiga, dan seterusnya. Dan ketika salah satu "percobaan" itu sepertinya terlihat "berhasil", maka ia pun meneruskan "konsultasi" ramalannnya terhadap Ron.

Ternyata urusan "melihat" masa depan sudah menjadi bisnis tersendiri khususnya di kalangan artis (Hollywood) dan orang-orang berduit karena melibatkan gengsi tersendiri di antara mereka yang terlibat di dalamnya. Hal menarik lainnya dari fenomena dan bisnis ramal-meramal ini adalah figur peramal yang juga terkenal karena pergaulannya dengan para artis, seperti yang terjadi di negeri ini (sebut saja misalnya Mama Lauren). Oleh karena para artis sering menggunakan "jasa" peramal maka peramal itu turut terkenal, dan masyarakat pun ikut-ikutan pergi ke tempat-tempat yang menyajikan aksi ramal-meramal walaupun ramalannya salah. Masyarakat mempercayai ramalan yang salah karena para artis yang diidolakannya melakukan hal yang serupa.

Kamis, 14 Januari 2010

Ramalan Saksi Yehovah

Saksi (-saksi) Yehovah merupakan salah satu kelompok (sekte) Kristen yang terkenal dengan berbagai ramalannya mengenai kedatangan Yesus yang kedua ke dalam dunia (Second Coming). Sejauh yang dapat saya ingat, kali pertama para penganut Saksi Yehovah meramalkan bahwa Yesus akan datang kedua kalinya ke dunia ini terjadi di tahun 1914. Namun, ketika peristiwa itu tidak terjadi mereka mengubahnya menjadi tahun 1925. Namun, peristiwa itu pun tidak terjadi sampai mereka betul-betul yakin bahwa Yesus akan datang kembali ke dunia pada tahun 1975. Apa yang terjadi? Kembali, Yesus tidak kunjung datang ke dunia ini. 

Sebagian besar orang berpendapat bahwa jika ramalan atau pandangan atau ajaran seseorang (sebuah kelompok) keliru atau meleset, maka orang tersebut akan "bertobat" atau kelompok tersebut akan bubar atau setidaknya akan mengalami kemunduran. Artinya, anggota kelompok tersebut menjadi berkurang. Namun, apakah benar demikian? Apakah para penganut Saksi Yehovah menjadi berkurang akibat ramalan-ramalan mereka yang selalu meleset? Ternyata tidak! 

Satu kali tanpa disengaja saya berjumpa dengan para penganut Saksi Yehovah ketika sedang menghadiri kremasi yang dilakukan di Cilincing, Jakarta Utara. Saya bertanya kepada mereka, "mengapa ramalan-ramalan mereka mengenai kedatangan Yesus yang kedua kalinya ke dunia ini selalu meleset?" Jawaban mereka membuat saya sangat terperangah. Mereka menjawab: "ramalan-ramalan itu sebetulnya tidak meleset karena sebetulnya Yesus sudah datang hanya saja belum dapat dilihat secara kasat mata karena memang belum diizinkan oleh Allah untuk dapat dilihat manusia". Karena tidak puas saya kembali bertanya, "jika Yesus sudah datang, ia datang di mana? Di mana dia sekarang? Mereka menjawab: "Yesus sekarang sedang berada di langit". Jawaban yang sangat mengejutkan!

Saya mencoba dengan sangat keras memahami jawaban mereka. Akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan sementara bahwa inilah yang dinamakan dengan fenomena orang beragama, di mana manusia yang percaya secara membabi-buta tidak lagi sadar bahwa sesungguhnya mereka mengalami delusinasi. Dikatakan delusinasi karena seseorang atau sebuah kelompok sudah tidak mampu memisahkan/membedakan antara iman yang buta dan bukti-bukti yang ada. Dalam kasus ramalan-ramalan Saksi Yehovah, para penganutnya tetap meyakini bahwa Yesus akan, bahkan telah datang ke dunia walaupun kenyataan berbicara sebaliknya. Demi membenarkan dan menegaskan kepercayaannya, mereka sanggup berkelit dengan mengatakan bahwa Yesus telah datang kembali ke dunia hanya saja belum dapat dilihat oleh manusia. 

Fenomena delusinasi dan berkelit seperti itu biasa ditemukan dalam diri orang-orang yang beriman secara membabi-buta. Orang-orang seperti itu selalu mampu memberi jawaban, penjelasan, bahkan pembenaran dan penegasan atas segala hal yang diimaninya, walaupun kenyataan berbicara lain dari apa yang diimaninya. Inilah yang menjelaskan mengapa seseorang belum tentu meninggalkan imannya walaupun kenyataan bertolak belakang dengan yang diimaninya. Demikian juga dengan sebuah kelompok yang belum tentu ditinggalkan para pengikutnya walaupun selama ini semua ramalan mereka telah terbukti meleset.