Tampilkan postingan dengan label Minoritas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minoritas. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Oktober 2010

Apa Salah Mereka?!

Masyarakat yang simpatik dan mendukung kesetaraan hak yang patut diterima kaum minoritas (gay) memperoleh perlakuan yang sangat tidak terpuji dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Peristiwa tidak manusiawi tersebut terjadi di ibukota Serbia, Belgrade, ketika kelompok Hak Gay mengadakan parade. Sekalipun acara tersebut berada di bawah pengawasan kepolisian, namun hal tersebut tidak menghambat para pemrotes menyerang kaum minoritas tersebut dengan bom minyak tanah dan batu. 

Peristiwa serupa di lokasi yang sama ternyata pernah terjadi beberapa tahun silam (2001) dan ketika itu kejadian yang mencoreng nilai-nilai kemanusiaan itu dipicu oleh kelompok "sayap kanan" (orang-orang beragama) di negeri itu.

Mengapa orang-orang yang tidak setuju terhadap gerakan penyetaraan hak gay menyerang kaum minoritas? Apakah yang telah dilakukan kaum gay Serbia sehingga orang-orang tidak menusiawi itu melakukan tindakan yang sama sekali tercela dan tidak terpuji? Apakah salah mereka sehingga para pemrotes dengan tega menyerang mereka dengan bom minyak tanah dan batu? Apalagi jika peristiwa yang merusak nilai-nilai kemanusiaan itu dilakukan oleh orang-orang yang mengaku bermoral karena beragama. Bukankah ironis ketika kaum yang selama ini mengagung-agungkan perbuatan baik dan cinta kasih malah menyerang dan menyakiti sesamanya?

Jumat, 03 September 2010

Fidel Castro

Banyak orang menganggap jika kaum komunis terdiri dari orang-orang yang sadis dan tidak manusiawi, bahkan menyamakan komunisme dengan ateisme. Dengan menyamakan komunisme dengan ateisme, maka orang menilai para ateis adalah kaum yang sadis dan tidak manusiawi. Kedua pandangan tersebut sama sekali tidak tepat, bahkan salah sekaligus menyesatkan. Salah satu buktinya, tidak lama berlalu Fidel Castro - mantan pemimpin Cuba nyaris selama 50 tahun - dan pemimpin Partai Komunis Kuba menyatakan bahwa dirinya bertanggung jawab atas ketidakadilan yang diderita kaum homoseksual di Kuba selama pemerintahannya. Fidel Castro mengaku bahwa dirinyalah yang harus dipersalahkan karena tidak memperhatikan kaum homoseksual di Kuba akibat banyaknya masalah yang menimpa Kuba saat itu. 

Ternyata meski Kuba adalah negara Komunis dengan segala cap yang melekat padanya dan tidak jarang Fidel Castro dianggap sebagai pemimpin yang otoriter, namun ia merupakan (mantan) pemimpin yang memiliki "jiwa" besar karena berani mengakui kesalahannya di masa lalu yang telah menelantarkan kaum homoseksual di Kuba sehingga mereka mengalami diskriminasi. Fidel Castro, yang dikenal sebagai figur pemimpin yang tegas, keras, bahkan angkuh oleh negara-negara kapitalis, khususnya Amerika, ternyata juga merupakan figur pemimpin yang ber-"jiwa" besar karena berani bertanggung jawab atas kesalahannya. Ia tidak mencari-cari alasan atau menimpakan kesalahan pada orang lain, tetapi dengan rendah hati mengakui kesalahannya.

Di tengah dunia di mana sebagian besar orang - khususnya para pemimpin - sangat sulit mengakui kesalahannya, bahkan tidak (akan) bertanggung jawab terhadap kesalahan yang telah dilakukannya di masa lalu yang mengakibatkan orang lain menderita, maka  sikap Fidel Castro telah menjadikannya seorang pemimpin yang berbeda dibandingkan para pemimpin lainnya. Berbeda karena ia unik di tengah "lautan" pemimpin yang gengsi sehingga enggan mengakui kesalahannya. Fidel Castro berbeda dari kebanyakan orang dan pemimpin lainnya karena memiliki "jiwa" besar dengan mengakui kesalahannya di masa lalu, dan inilah yang membuatnya menjadi seorang pemimpin besar yang dihormati dan disegani, baik oleh para pengikut, pendukung, maupun para lawannya.

Ternyata sikap Fidel Castro tidak berhenti hanya sampai pada mengakui kesalahan melainkan belakangan ini pemerintah Kuba sedang terus mengupayakan supaya keberadaan bahkan pernikahan di antara kaum homoseksual disahkan berdasarkan hukum Kuba. Nyaris bisa dipastikan bahwa upaya ini bisa berlangsung karena ada kaitannya dengan sikap Fidel Castro sebelumnya yang berani bertanggung jawab. Dengan demikian, jelas, sikap seorang pemimpin, baik mulai dari ruang lingkup yang sangat sempit (keluarga) maupun sampai ruang lingkup yang sangat luas (negara) bisa memicu bahkan mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, seorang pemimpin yang bijak adalah seorang yang mampu memberikan pengaruh yang positif terhadap para anggotanya dan seorang pemimpin yang ber-"jiwa" besar adalah seorang yang berani mengakui kesalahannya, persis seperti yang telah dilakukan Fidel Castro.

Rabu, 11 Agustus 2010

Siapa Mau Ikut Jejak Meksiko?

Setelah Uruguay dan Argentina yang lebih dulu meresmikan pernikahan sesama jenis sekarang giliran Meksiko mengikut jejak kedua negara tetangganya itu. Bahkan Mexico City merupakan ibukota pertama di belahan Amerika Latin yang mengakui pernikahan sejenis, termasuk memberikan hak hukum terhadap pasangan sejenis yang telah menikah untuk memiliki anak (adopsi). Keputusan pemerintah Mexico City yang telah memberikan hak hukum terhadap para pasangan sejenis yang telah menikah untuk mengadopsi anak ternyata telah menjadi pembuka jalan bagi pemerintahan Meksiko untuk melakukan hal yang sama. 

Tentu, tindakan yang telah diambil oleh pemerintah Uruguay, Argentina, dan Meksiko jika dilihat sekitar 10 tahun lalu apalagi 100 tahun yang lalu merupakan suatu mission impossible karena ketika itu budaya masyarakat masih mentabukan, jangankan pernikahan sesama jenis, hubungan sesama jenis pun dianggap sebagai tindakan amoral, maksiat, dan terkutuk. Dan para pelakunya tidak jarang distigmatisasi sebagai pengikut setan/iblis akibat hal yang demikian tidak terdapat dalam kitab suci (dhi. Alkitab) atau bahkan dilarang sama sekali. Namun syukurnya, seiring dengan perjalanan waktu pemikiran orang terus mengalami perkembangan dengan lebih mendasarkan berbagai keputusannya pada nilai-nilai kemanusiaan yang ditempatkan lebih utama dibandingkan nilai-nilai keagamaan yang lebih sering menekan bahkan berusaha menyingkirkan nilai-nilai kemanusiaan itu. 

Apa yang (telah) terjadi di Uruguay dan Argentina kemudian Meksiko - meresmikan pernikahan sesama jenis - sesungguhnya bukanlah suatu mission impossible karena bisa dilakukan meski harus melewati perjuangan yang sangat berat dan berliku. Oleh karena itu, yang dibutuhkan sehingga hal serupa bisa terjadi di lebih banyak negara, termasuk di belahan Asia, adalah para individu yang sudah memiliki pemikiran yang independen. Artinya, masyarakat sudah mampu berpikir mandiri dengan tidak mendasarkan pemikirannya tersebut pada otoritas-otoritas tertentu, seperti: keluarga, pemimpin agama, dan guru/dosen. Ketika hal tersebut bisa terjadi maka pada saat itulah para individu yang menjadi bagian dalam masyarakat bisa disebut sebagai individu yang dewasa.

Dengan demikian, kenyataan yang terjadi di Uruguay, Argentina, dan Meksiko bisa juga terjadi dan berlaku di lebih banyak negara. Meski ketiga negara tersebut disebut sebagai negara-negara Katolik karena sebagian besar warganya beragama Katolik, ternyata nilai-nilai kemanusiaan bisa menempati tempat yang lebih depan dan utama ketimbang keputusan otoritas Vatikan. Jika Uruguay, Argentina, dan Meksiko yang notabene sebagai negara-negara agamis saja bisa melakukan hal yang dulunya dianggap tidak mungkin terjadi, apalagi negara-negara yang tidak mendasarkan hukumnya pada nilai-nilai keagamaan tertentu. 

Sabtu, 31 Juli 2010

Terobosan

Ketika suatu hal yang awalnya dianggap mustahil terjadi/menjadi kenyataan akhirnya bisa terjadi atau menjadi kenyataan maka hal tersebut bisa dikatakan sebagai terobosan. Artinya, hal tersebut menjadi titik awal untuk sesuatu baru yang sebelumnya belum pernah terjadi, bahkan mungkin dibayangkan tidak. Hal ini yang sesungguhnya terjadi ketika Argentina menjadi negara Amerika Selatan pertama yang mensahkan (secara hukum) pernikahan sesama jenis kelamin. Dikatakan sebagai terobosan karena semua orang tahu jika Argentina - negara asal legenda hidup sepakbola, Maradona - didominasi oleh warga beragama Katolik Roma. Dan semua orang tahu jika otoritas tertinggi gereja Katolik Roma, Vatikan, masih mentabukan pernikahan sesama jenis. Jangankan pernikahan sesama jenis, uskup perempuan dalam hirarkhi gereja Katolik Roma pun ditentang keras oleh Vatikan. 

Terobosan yang dilakukan pemerintah Argentina bisa jadi memberikan inspirasi pada para petinggi pemerintah negara-negara Amerika Selatan lainnya untuk lebih mengedapankan dan mengutamakan hak warganya untuk memperoleh kehidupan berkeluarga yang resmi dengan pasangan sejenisnya, bahkan negara-negara lainnya. Tentu, perjuangan untuk lebih mengutamakan hak warga negara dengan berdasar pada kemanusiaan ketimbang agama bukanlah pekerjaan yang mudah sehingga membutuhkan kerja keras dan kesabaran karena ada berbagai rintangan yang siap menghadang (misalnya: kalangan fundamentalis agama). 

Gas Air Mata Kalah oleh Jumlah

Dikabarkan bahwa jemaah Ahmadiyah kembali mengalami teror dari ratusan anggota ormas Islam di Desa Lor, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Ratusan anggota ormas Islam di tempat tersebut melempari kaca tempat ibadah jemaah Ahmadiyah. Hal yang juga memprihatinkan adalah bahwa sepertinya para petugas keamanan tidak kuasa membendung aksi kekerasan yang dilakukan orang-orang yang tidak bijaksana itu. Meski para petugas keamanan dibekali oleh pentungan dan gas air mata mereka tetap tidak bisa mengendalikan keberingasan massa yang menyerang tempat ibadah jemaah Ahmadiyah sehingga akhirnya mereka membubarkan diri. Sekalipun petugas keamanan kalah jumlah dari massa beringas, apakah gas air mata juga tidak kuasa menghentikan tindak kekerasan massa? Kalaupun juga gas air mata tetap tidak mampu menghendalikan massa, bukankah seharusnya pemerintah setempat sudah mempersiapkan perangkat tertentu, misalnya undang-undang yang tegas, untuk mengendalikan masyarakat sehingga tidak bertindak semena-mena. Terlebih, kasus kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah bukan baru terjadi kali ini atau beberapa kali melainkan sudah seringkali terjadi. 

Sudah menjadi tugas pemerintah setempat, bahkan negara untuk menjamin setiap warganya untuk memperoleh hak, baik untuk beribadah, kenyamanan, maupun keselamatan bahkan hidup. Jika pemerintah setempat ataupun negara tidak mampu melindungi setiap warganya dari segala tindakan kekerasan, maka dari manakah datangnya perlindungan itu? Kekuatan yang tidak kelihatan? Jika kekuatan yang kelihatan saja tidak mampu memberikan perlindungan, apalagi kekuatan yang tidak kelihatan.

Sabtu, 17 Juli 2010

Kaum Minoritas (Wajib) Dibunuh!

Sepertinya ada beberapa kelompok dalam masyarakat, khususnya kaum beragama yang memiliki kecenderungan membasmi kelompok lain yang tidak "seiman" atau tidak "setradisi" dengan kelompoknya. Terlebih jika kelompok yang "berbeda" itu merupakan minoritas dalam masyarakat sehingga ada kecenderungan yang dimiliki oleh para anggota kaum mayoritas untuk melenyapkan kelompok minoritas, atau setidaknya, berupaya bertindak keras terhadap mereka. Kenyataan inilah yang terjadi di Pakistan ketika sekelompok Muslim Shia diserang dan dibunuh oleh, yang diduga kuat, kelompok Muslim Sunni. Peristiwa itu sendiri terjadi di wilayah yang mayoritas penduduknya adalah Muslim Sunni. Para penganut Muslim Shia dalam komposisi penduduk Pakistan hanya 20% dari total penduduk yang berjumlah 160 juta orang.

Kenyataan sepertinya ini sesungguhnya tidak hanya terjadi di Pakistan melainkan terjadi di berbagai belahan dunia lainnya apalagi ketika bersinggungan dengan ranah keagamaan, di mana kelompok mayoritas menganggap jika kelompok minoritas patut disingkirkan dari masyarakat. Mengapa kelompok mayoritas (keagamaan) tega melakukan hal keji seperti itu? Hal ini mereka lakukan karena menganggap jika kebenaran absolut dimiliki oleh kelompok mereka dengan meniadakan kebenaran yang dianut oleh kelompok lain. Ini didasarkan pada jumlah pengikut mereka lebih banyak sehingga beranggapan Tuhan yang menjadi sesembahan mereka (hanya) memberkati kelompoknya. Dengan demikian, kelompok mayoritas yakin bahwa Tuhan tidak mungkin memberkati kelompok minoritas.

Keyakinan bahwa kelompoknya diberkati Tuhan inilah yang membuat kelompok mayoritas tidak ragu bertindak semena-mena terhadap kelompok minoritas. Mereka menganggap bahwa kebenaran dan berkat Tuhan sebagai hal absolut bagi kelompok mereka saja. Mereka sama sekali menutup kemungkinan jika ada kebenaran lain yang dianut oleh kelompok lain sekalipun kelompok itu tergolong minoritas dalam masyarakat. Nyata dalam masyarakat jika kuantitas masih memainkan peranan yang utama dengan keyakinan bahwa mayoritas berarti benar. Ini merupakan salah contoh "teori" yang salah bahkan sesat karena sesungguhnya kuantitas sama sekali tidak menentukan kebenaran suatu hal.

Selasa, 22 Juni 2010

Membunuh demi Kehormatan

Nilai kemanusiaan kembali disisihkan oleh nilai yang dianggap oleh kelompok masyarakat tertentu (India) lebih penting dan bermatabat. Kelompok tersebut menganggap jika ada anggota kelompoknya berhubungan dengan orang yang berasal dari kasta berbeda dan lebih rendah, maka tindakan tersebut merupakan cela. Oleh karena itu, pembunuhan terhadap pasangan yang berhubungan tersebut merupakan suatu hukuman yang layak dan setimpal dengan kecemaran yang telah diakibatkan oleh tindakan mereka. Bahkan pembunuhan tersebut diperhitungkan sebagai tindakan terhormat.

Betapa teganya orang-orang yang melakukan tindakan keji seperti itu dengan mengatasnamakan pembunuhan yang telah dilakukannya sebagai sesuatu yang terpuji bahkan terhormat. Bahkan mereka menganggap bahwa hubungan yang dilakukan oleh pasangan yang berasal dari kasta berbeda lebih keji dibandingkan pembunuhan. Lebih lanjut dikatakan oleh kelompok tersebut bahwa hubungan yang dilakukan oleh pasangan yang berasal dari kasta yang berbeda sebenarnya merupakan tindakan pembunuhan yang dilakukan secara perlahan dan menyengsarakan bagi anggota keluarga dan kelompok mereka yang masih hidup. Oleh karena itu, bagi mereka, pembunuhan terhadap pasangan tersebut merupakan tindakan yang lebih baik.

Kenyataan yang sungguh memprihatinkan sekaligus menyedihkan ketika pembunuhan dilakukan dengan mengatasnamakan "kehormatan"! Ternyata, bagi kelompok tersebut "kehormatan" keluarga atau kelompok mereka jauh lebih tinggi daripada nyawa manusia yang membuat dan menentukan ukuran "kehormatan" sendiri. (Walaupun ukuran "kehormatan" yang dianut tidaklah jelas.) Tindakan membunuh demi menjaga "kehormatan" keluarga atau kelompok sangatlah tidak masuk akal, apalagi manusiawi karena seharusnya manusia itu sendiri yang dijunjung lebih terhormat dibandingkan sesuatu yang dibuatnya. Namun nyatanya kelompok tersebut lebih memilih menjunjung sesuatu yang dibuatnya ("kehormatan") ketimbang yang membuatnya (manusia). Killing for the sake of our family's or group's honour, my ass!

Jumat, 28 Mei 2010

Serangan Kaum Mayoritas & "Lebih Tua"

Pandangan umum yang (masih) berkembang di masyarakat bahwa "angka menentukan kebenaran suatu hal" merupakan hal yang salah. Artinya, popularitas suatu hal tidak bisa diukur dan ditentukan oleh banyaknya orang yang mempercayai hal tersebut sebagai sesuatu yang benar. Demikian halnya ketika "ukuran" tersebut diterapkan di dalam kehidupan beragama. Orang-orang beragama seringkali meyakini bahwa popularitas kepercayaan atau ajaran atau dogma yang diyakininya menjadi penentu bahwa agama yang dipeluknya sebagai kebenaran. Oleh karena itu, ketika ada orang atau kelompok lain yang menyatakan kepercayaan atau ajaran yang berbeda dari ajaran yang diyakini dan dipeluknya, maka kelompok yang memiliki pengikut lebih banyak jumlahnya tidak ragu untuk menuduh bahwa kelompok yang lebih sedikit pengikutnya sebagai orang-orang sesat/kafir/bida'ah.

Tuduhan seperti itu seringkali tidak berakhir pada sekadar cap atau bahkan pemberlakukan hukum-hukum yang tidak adil serta menekan kelompok minoritas. Tidak jarang kelompok mayoritas yang di dalamnya beranggotakan juga orang-orang militan-fundamentalis melakukan serangan bersenjata terhadap anggota kelompok minoritas. Kenyataan yang sangat memprihatinkan karena tindakan yang menyingkirkan nilai kemanusiaan tersebut masih saja terjadi di dunia yang sangat beragam ini. Banyak orang dengan begitu tega telah bertindak keras dan keji terhadap sesamanya. Ini merupakan keniscayaan yang sangat menyedihkan ketika manusia dengan teganya melenyapkan keberadaan sesamanya karena begitu meyakini bahwa hanya kepercayaan yang dipeluknyalah yang paling benar sehingga kepercayaan orang lain yang berbeda merupakan kesalahan/kesesatan.

Selain ukuran popularitas yang dianut banyak untuk menentukan kebenaran suatu hal, usia hal tertentu juga digunakan sebagain besar orang untuk menilai kebenaran banyak hal. Artinya, jika suatu hal telah berusia sangat tua atau lama maka hal tersebut dipercaya sebagai kebenaran. Banyak orang beranggapan bahwa sesuatu yang datang lebih kemudian (baru muncul) adalah salah. Dengan demikian, sesuatu yang lama dan sudah ada lebih dulu dianggap sebagai kebenaran. Ini pun pandangan yang sangat salah sekaligus menyesatkan.

Terlebih jika hal tersebut diterapkan dalam konteks (ke)-agama-(an) sehingga banyak orang beragama beranggapan bahwa kepercayaan yang dianutnya benar karena hal yang diyakininya tersebut sudah ada lebih lama dan/atau lebih dulu dibandingkan kepercayaan sejenis atau berbeda lainnya yang baru muncul kemudian. Orang beragama meyakini bahwa kepercayaan yang dipeluknya benar karena terbukti telah mampu bertahan sekian lama (sampai sekarang) meskipun ada begitu banyak kepercayaan sejenis atau berbeda lainnya yang lahir setelah kepercayaannya itu. Pandangan salah dan menyesatkan itu semakin diperparah ketika dianut oleh orang-orang yang berpandangan sangat sempit dan dangkal (baca: para militan-fundamentalis agama) yang tidak ragu dan segan-segan menyerang dan membantai orang-orang yang memiliki kepercayaan yang berbeda.

Saat orang, entah menggunakan ukuran popularitas ataupun usia untuk mengukur kebenaran hal yang dianutnya - terlebih gabungan keduanya - maka pada saat itulah ia terjebak dalam kesesatan berpikir. Hal tersebut semakin diperparah jika ukuran-ukuran itu dipakai oleh para militan-fundamentalis yang mempercayai bahwa mereka memiliki hak penuh untuk berlaku sewenang-wenang terhadap kelompok dan minoritas dan "lebih muda." Banyak fakta telah mengungkapkan dengan gamblang betapa ukuran popularitas dan usia selalu mengakibatkan penderitaan di pihak yang dianggap minoritas dan "lebih muda." Para militan-fundamentalis agama yang mayoritas dan "lebih tua" menganggap kelompok minoritas dan "lebih muda" salah, sesat, dan kafir, dan oleh karenanya, harus dilenyapkan karena "berbeda".

Jika ukuran popularitas dan usia adalah salah dan menyesatkan, terlebih di tangan para militan-fundamentalis agama, ukuran apakah yang seharusnya digunakan untuk mempertimbangkan dan menilai kebenaran suatu hal? Apakah itu "(ke)-benar-(an)"? Banyak orang mengatakan bahwa "kebenaran" itu bersifat relatif dan subjektif. Artinya, tergantung pada kepercayaan masing-masing orang sehingga setiap orang memiliki "definisi" kebenaran yang berbeda dan beragam. Jika demikian, "kebenaran" orang-orang beragama terbukti telah melahirkan sisi militan-fundamentalisme yang sangat keras, keji, dan tidak manusiawi. Yang jelas dan pasti adalah bahwa "kebenaran" orang-orang beragama (khususnya yang militan-fundamentalis) tidak sejalan dengan nilai kemanusiaan yang mengedepankan dan mengutamakan cinta kasih, keadilan, dan kehormatan.