Tampilkan postingan dengan label Delusinasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Delusinasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 November 2010

Agama > Delusi > Pembunuhan

Fakta sangat mengerikan kembali terjadi di mana agama kerapkali membuat orang-orang yang memeluknya mengalami delusi. Tidak berhenti di situ, agama pun tidak jarang membuat para pemeluknya tega melakukan tindakan yang sangat kejam, misalnya: membunuh. Contoh terkini seorang penganut agama yang tega berlaku keji, bahkan terhadap ibunya sendiri, ditemukan dalam diri seorang aktor Aktor Hollywood berkebangsaan Amerika Serikat. Aktor itu memenggal ibunya sendiri dengan sebilah samurai seraya di tangan lainnya memegang Alkitab. 

Meski kepada laki-laki tersebut segera akan dilakukan pemeriksaan psikologi untuk menentukan apakah ia mengalami penyakit atau gangguan tertentu yang membuatnya dengan keji telah memenggal ibunya sendiri, besar kemungkinan tindakan keji yang dilakukannya dipicu oleh pemahaman agamanya yang sangat mengerikan. Pemahaman agama yang sarat dengan kekerasan dan darah itulah yang membuat laki-laki itu mengalami delusi sehingga kemudian membunuh ibunya sendiri. 

Ini merupakan hal yang sangat mungkin terjadi karena banyak ayat dan kisah dalam Alkitab yang memang mengumbar dan menggambarkan kekerasan yang penuh darah, khususnya dalam bagian Perjanjian Lama. Jadi, sama sekali tidak mengherankan jika kisah-kisah tersebut bisa sampai membakar semangat umat Kristen untuk bertindak keras, karena "kitab suci"-nya sendiri pun memuat bahkan membenarkan kekerasan itu. Sesuatu yang sangat mengerikan! 

Mungkin ada pendapat yang menentang pandangan di atas dengan mengatakan: "Jangan salahkan agama dan/atau kitab sucinya melainkan orangnya, karena itu semua bergantung pada pemahaman masing-masing orang." Pendapat ini sangat lemah karena malah semakin memperlemah kedudukan agama dan "kitab suci" (dhi. Alkitab) agama tersebut, bukankah agama serta "kitab suci"-nya dibuat oleh manusia? Jika yang dipersalahkan adalah orangnya, berarti orang-orang yang membentuk agama dan membuat/menyusun "kitab suci"-lah yang memiliki kesalahan terberat karena mereka telah mengakibatkan begitu banyak orang di zaman-zaman setelah mereka bertindak keji. Artinya, para pembentuk agama dan pembuat/penyusun "kitab suci" itulah yang telah memicu peristiwa berdarah atas nama agama terjadi selama ribuan tahun, bahkan hingga saat ini. 

Jika dikatakan: "bergantung pada pemahaman masing-masing orang beragama", ini pun sangatlah lemah karena pertanyaan menjadi: apakah tolok ukurnya? agama? "kitab suci"? Jika begitu banyak orang beragama mengatakan bahwa agama yang benar mengajarkan kasih dan perdamaian, dan ketika ada orang beragama bertindak kejam atas nama agamanya dianggap memiliki pemahaman yang salah atau minim terhadap agamanya (menyalahkan orang tersebut), maka argumen ini (seharusnya) membawa orang yang mengatakannya pada pertanyaan dan masalah yang sudah muncul di paragraf sebelumnya.

Bagaimana dengan kenyataan bahwa lebih banyak orang beragama (dhi. Kristen) berlaku penuh kasih? Ada dua kemungkinan: pertama, mereka tidak mengetahui bahwa latar belakang agama yang dipeluknya penuh dengan kekerasan dan banyak kisah dalam Perjanjian Lama yang bernuansa pertumpahan darah, atau, kedua, mereka mengetahui kedua hal tersebut, namun mengacuhkannya dan menganggapnya tidak ada. Sikap yang pertama menunjukkan minimnya pengetahuan orang tersebut mengenai agama dan "kitab suci"-nya sendiri dan keengganan untuk belajar, sedangkan sikap yang kedua berarti orang tersebut bohong dan munafik. Bukankah hal-hal ini dilarang oleh agama Kristen?

Kembali pada berita di atas, jelas, agama membuat para penganutnya mengalami delusinasi, dan dapat mendorong orang-orang beragama untuk bertindak keras terhadap sesamanya serta memiliki kecenderungan membahayakan keberadaan sekitarnya. Jika tindakan keji seperti yang dilakukan laki-laki dalam berita tersebut - memenggal ibunya sendiri - bisa dilakukan, maka juga ada kemungkinan (bahkan lebih besar kemungkinannya) jika orang-orang beragama akan bertindak keras terhadap orang-orang yang berbeda paham dengan diri atau kelompoknya. 

Dengan demikian, tidaklah tepat jika dikatakan agama (dhi. Kristen) adalah agama yang mengedepankan dan menguatamakan ajaran kasih, atau mengatakan Kristen adalah agama kasih, karena pernyataan ini tidak didukung oleh kenyataan yang terjadi. Kenyataannya malah terbalik 180%, di mana bukan kasih yang muncul melainkan kekejaman.

Rabu, 24 November 2010

Alasan "Gaib"

Seorang pemuda memerkosa banyak gadis cilik dengan alasan untuk memenuhi permintaan makhluk gaib yang telah menyelamatkannya dari kecelakaan maut. Mungkin orang banyak orang segera bereaksi terhadap pengakuan pemuda tersebut dengan mengatakan: "Ah, alasan ajah, bilang ajah kalo emang mo perkosa anak-anak!" atau "Dasar orang gila, bilang ajah pengen merkosa anak-anak kecil, ga usah bawa-bawa makhluk gaib segala!" 
 
Dua reaksi di atas bisa dianggap emosional akibat geram dan benci terhadap tindakan pemuda tersebut. Di satu sisi, reaksi yang demikian  bisa diterima, terlebih jika diungkapkan orangtua-orangtua yang memiliki anak-anak gadis yang masih kecil, karena mungkin saja mereka terbayang seandainya hal tersebut dialami oleh anak-anak gadis mereka yang masih kecil. Artinya, reaksi tersebut sangatlah lumrah jika dilontarkan oleh orangtua. Namun di sisi lain, reaksi tersebut bisa diperhitungkan sebagai hambatan untuk membaca pernyataan pemuda itu secara lebih jernih, dengan meminimalkan penggunaan emosi yang tidak sehat. Dikatakan tidak sehat karena sangat mungkin reaksi tersebut lahir akibat penggunaan emosi yang tidak pada tempatnya sehingga serta-merta mengatai pemuda tersebut sebagai orang gila.

Bisa saja apa yang diakui oleh pemuda tersebut benar. Artinya, ia mendengar bahwa ada suara yang mendorongnya untuk memerkosa anak-anak gadis yang masih kecil. Bagaimana hal tersebut bisa diketahui? Tentu, dengan melakukan pemeriksaan/penelitian psikologi yang melibatkan unsur-unsur pikiran serta mental pemuda tersebut. Jika pemeriksaan psikologi yang ketat telah dilakukan dan hasilnya mengatakan bahwa pemuda tersebut memang memperoleh suara-suara tertentu yang mendorongnya melakukan pemerkosaan, maka pengakuannya tersebut bisa diperhitungkan sebagai kebenaran. Tentu, pemeriksaan ini harus dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur dan perangkat (orang dan alat) yang baik sehingga hasil pemeriksaan tersebut bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jika demikian, pemuda tersebut diperhitungkan mengidap delusi. 

Jika pemuda tersebut terbukti benar mengalami delusi, apakah ia akan lolos dari hukuman? Dalam pengertian tertentu ya. Artinya, penjara bukanlah tempat yang cocok untuk seseorang yang mengidap delusi melainkan rumah sakit jiwa-lah tempat yang lebih cocok. Penjara hanya cocok untuk orang-orang yang tidak mengidap penyakit, sedangkan delusi digolongkan ke dalam salah satu penyakit yang mempengaruhi, baik mental maupun fisik penderitanya. Oleh karena itu, tidak tepat jika orang yang mengidap delusi dipenjarakan, tepatnya orang tersebut dirumahsakitkan. Jika setelah mengalami "penahanan" di rumah sakit keadaan orang bersangkutan (pemuda yang mengaku mendapat bisikan dari makhluk gaib) membaik dan bisa diperhitungkan tidak mengidap delusinasi lagi, maka ia bisa diajukan ke pengadilan untuk dituntut dan dikenai sanksi-sanksi akibat perbuatannya, untuk kemudian dipenjarakan.

Mungkin ada pendapat mengatakan: "Mengapa tidak dipenjarakan saja, nanti kalo cuma dimasukin ke rumah sakit kabur deh...?!" atau "Wah, enak banget cuma dimasukin ke rumah sakit jiwa, bukan ke penjara!" Masalah kabur atau tidaknya si pengidap delusi merupakan tanggung jawab pihak rumah sakit dan bukan juga mengenai mana yang lebih enak. Fokus tulisan ini menanggapi berita di atas adalah mengenai penanganan yang tepat terhadap warga negara. Jika bangsa ini mengaku sebagai bangsa yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dengan memperjuangkan hak asasi kemanusiaan, maka penanganan yang tepat terhadap setiap warganya adalah salah satu bukti nyata yang bisa dipertanggungjawabkan. Tanggung jawab aparat hukum-lah untuk menerapkan ketepatan penanganan terhadap setiap warga negara.

Kamis, 11 November 2010

Ketakutan > Loncat

Ternyata ketakutan bisa mengakibatkan peristiwa yang cukup tragis, apalagi jika ketakutan itu begitu mencekam sehingga orang yang mengalaminya tidak mampu memisahkan dan membedakan antara kenyataan dan halusinasi. Hal inilah yang dialami 11 orang termasuk seorang bayi ketika mereka dikejutkan oleh teriakan seseorang yang menganggap dirinya telah melihat setan. Kontan setelah mendengar teriakan itu ke-11 orang itu pun loncat dari lantai dua sangking takutnya. Peristiwa konyol tersebut terjadi sekitar pukul 03.00 ketika 13 orang sedang menonton televisi. Kemudian seorang laki-laki mendengar bayinya menangis, ia pun beranjak membuatkan susu dalam keadaan tidak mengenakan pakaian. Ketika sedang membuatkan susu itulah beberapa orang melihat laki-laki telanjang tersebut dan menganggapnya sebagai setan dengan berteriak, "Ada setan... ada setan...!" 

Ketika ketakutan yang mencekam menguasai seseorang akibat mudah terpengaruh oleh adanya teriakan, itu artinya orang tersebut tidak mampu membedakan antara hal yang riil/nyata dan hal yang merupakan halusinasi. Hal tersebut semakin diperparah karena orang tersebut sangat mudah percaya pada sesuatu yang berasal dari luar dirinya, misalnya: teriakan atau perkataan orang lain. Ia serta-merta percaya kepada orang lain dan hal itulah yang menyebabkannya bertindak/berlaku berdasarkan sesuatu yang berasal dari luar dirinya. Akibatnya, salah satunya adalah seperti peristiwa yang terjadi di Versailles, Perancis, dalam berita di atas.

Jika orang beranggapan rasionalitas seseorang menentukan keputusan yang dimiliki seseorang, khususnya dalam kaitannya dengan hal-hal supernatural dan paranormal, ternyata anggapan tersebut tidaklah tepat karena rasionalitas seseorang belum cukup membuat seseorang untuk mampu membedakan antara yang nyata dan halusinasi serta delusinasi. Artinya, rasionalitas seseorang tidak cukup untuk membuat manusia untuk tidak percaya dan menerima hal-hal yang supernatural dan paranormal, bahkan tidak jarang orang yang rasionalistis malah sangat mempercayai berbagai hal yang bernuansa supernatural dan paranormal.

Dengan demikian, hal apakah yang bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai berbagai hal yang berkaitan dengan supernatural dan paranormal? Setidaknya ada satu "benteng" yang bisa diandalkan, yakni: sikap skeptis. Ini artinya jika seseorang memiliki sikap yang kritis, ia tidak akan mau, apalagi mudah, percaya pada pandangan ataupun kepercayaan orang lain. Seorang yang skeptis tidak akan menerima pernyataan ataupun argumen orang lain sekalipun pernyataan atau argumen itu dikeluarkan oleh otoritas tertentu dalam masyarakat. Seorang skeptik tidak mau menerima dan memeluk kepercayaan orang lain sebelum ia mengujinya terlebih dahulu dengan daya kritis yang dimilikinya.

Oleh karena itulah rasionalitas seseorang seharusnya muncul/berangkat dari sikap skeptis yang dimilikinya, di mana awalnya ia meragukan segala hal yang terjadi di sekitarnya, terlebih meragukan pernyataan ataupun argumen orang lain. Semangat seorang skeptik adalah meragukan setiap sebelum hal itu melalui "pengadilan" akal budinya sendiri yang didukung oleh pikiran kritis dan argumen kuat yang dimilikinya. Jika hal ini terjadi maka  sudah sepantasnyalah peristiwa konyol yang ada dalam berita di atas tidak akan terulang kembali.

Selasa, 17 Agustus 2010

Pengakuan yang Aneh

Banyak orang mengaku telah melihat "penampakan" atau menyaksikan peristiwa yang sebenarnya tidak tidak begitu jelas menurut penglihatannya, namun tidak sedikit dari mereka yang sangat yakin dengan penglihatan yang dialaminya. Berbagai "penampakan" yang diyakini oleh banyak orang, seperti: kilatan cahaya yang terjadi di langit pada malam hari yang diyakini sebagai UFO atau pesawat luar angkasa yang di dalamnya ada aliens atau bayangan yang menyerupai sosok/figur tertentu yang dipercaya sebagai hantu atau Bigfoot. Dari semua kesaksian yang pernah diberikan sebagian besar - kalau tidak mau dikatakan semuanya - tidak didukung oleh bukti-bukti yang kuat, seperti: penjelasan yang jernih dan argumen yang konsisten. Hal ini belum ditambah oleh bukti-bukti fisik jika "penampakan" atau peristiwa tersebut terjadi dalam waktu yang cukup lama sehingga orang (-orang) yang menyaksikannya dapat mengabadikan peristiwa tersebut dengan kamera. Namun, sebagian besar dari peristiwa tersebut terjadi begitu singkat/cepat, entah objek yang langsung menghilang (dalam peristiwa "penampakan" UFO) ataupun orang yang melihat langsung ngacir karena takut (dalam fenomena hantu).

Hal terakhir inilah yang dialami oleh Jake Bestwick (12 tahun) ketika ia mengaku telah melihat hantu berjubah hitam saat berada di rumah sakit. Berdasarkan pengakuan yang diberikan oleh Bestwick, si hantu berjubah hitam tersebut secara tiba-tiba muncul di hadapannya dan di antara mereka hanya terbentang jarak sekitar 20 cm. Ini artinya, Bestwick melihat hantu itu dari jarak yang sangat dekat, hanya berjarak sejengkal jari-jari orang dewasa. Kemunculan hantu tersebut, menurut pengakuannya lebih lanjut, hanya terjadi beberapa detik alias sangat cepat sebelum hantu itu menghilang. 

Sayangnya, dalam berita tersebut tidak ada keterangan lanjutan mengenai Bestwick sendiri, seperti:

1. Apakah ia berada di rumah sakit tersebut sebagai pasien atau bukan.

 Jika ia merupakan pasien maka kemungkinan besar ia mengalami delusinasi, entah akibat obat-obatan yang dikonsumsi ataupun penyakit yang dideritanya. Orang perlu menyadari bahkan penyakit biasa sekalipun, seperti: demam tinggi, bisa mengakibatkan orang yang menderitanya mengalami delusinasi apalagi penyakit akut, seperti: kanker atau tumor. Jika Bestwick ternyata merupakan pasien di rumah sakit tersebut maka jelas, perlu diketahui keterangan lanjutan lainnya mengenai penyakit apa yang dideritanya serta obat-obatan yang dikonsumsinya sebelum "penglihatan" hantu itu dialaminya karena kedua hal tersebut bisa menjelaskan fenomena "penampakan" hantu yang dialaminya. 

2. Peristiwa itu terjadi pada saat ruangan gelap atau terang.

 Jika pada saat itu ruangan dalam keadaan gelap hanya dengan penerangan yang sangat minim maka bisa jadi apa yang telah dilihat Bestwick tidak lain dari bayangan orang lewat di depan/samping kamarnya atau juga bayangan gorden yang tertiup oleh penghangat/pendingin ruangan. Namun, jika pada saat itu ruangan dalam keadaan sebaliknya, terang, atau setidaknya, memiliki pencahayaan yang cukup, maka pengakuan Bestwick bahwa ia telah melihat sosok yang dianggapnya sebagai hantu berjubah hitam menjadi sangat janggal karena saat itu ruangan di mana ia berada memiliki cahaya yang cukup.

3. Ketika peristiwa itu ia sedang dalam keadaan tidur (mata tertutup) atau terjaga (mata terbuka).

Jika ketika peristiwa itu Bestwick dalam keadaan tidur (mata tertutup), maka sangat mungkin "penglihatan" yang dialaminya tidak lebih dari sekadar "penglihatan" yang diperolehnya ketika ia dalam keadaan tidur. Artinya, "penglihatan" itu tidak terjadi dalam dunia nyata melainkan semata-mata proyeksi hasil kerja otaknya ketika tubuh dalam keadaan tidur. Hal ini bisa juga terjadi karena "bantuan" obat-obatan yang dikonsumsinya sehingga pada saat tidur ia mengalami penglihatan yang begitu gamblang sehingga dianggapnya sebagai pengalaman yang terjadi di dunia nyata padahal hanya terjadi dalam dunia fantasi alias tidak nyata. Jika ketika itu ia  berada dalam keadaan terjaga (mata tertutup), maka bisa jadi obat-obatan yang dikonsumsinya (jika ia berstatus sebagai pasien) memberikan stimulus terhadap otaknya sehingga ia menganggap telah melihat sesuatu berwarna hitam yang kemudian disimpulkan sebagai hantu berjubah hitam. 

Jika ketiga keterangan di atas menyertai pengakuan Bestwick, maka orang dapat menganalisis apa yang sesungguhnya telah dialami oleh Bestwick, apakah ia memang telah sungguh-sungguh melihat "makhluk halus" yang disebutnya sebagai hantu dengan jubah hitam ataukah ia hanya mengalami fenomena yang dinamakan dengan delusinasi akibat penyakit yang dideritanya serta obat-obatan yang dikonsumsinya. Jika berita mengenai "penglihatan" yang dialami Bestwick itu disertai oleh keterangan yang lebih memadai, maka pernyataan terakhirnya: "Kutahu apa yang kulihat adalah hantu" padahal ia sendiri tidak tahu atau setidaknya kurang yakin mengenai apa yang dilihat/dialaminya, menjadi sama sekali tidak relevan karena bagaimana bisa seseorang tidak tahu apa sesungguhnya yang  telah dilihat/dialaminya, namun (tetap) menjelaskan apa yang dilihat/dialaminya. Pernyataan ini tidak ada bedanya dengan pernyataan: Saya tidak tahu apa saya lihat/alami kemarin, namun yang pasti apa yang saya lihat/alami itu benar. 

Sebaiknya perlu terus diingatkan agar orang tidak mudah lupa bahwa pengalaman seseorang tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai dan menyimpulkan kebenaran suatu hal karena sifatnya yang sangat subjektif. Artinya, pengalaman seseorang selalu bergantung pada konteks dunia yang lebih luas dan kompleks, belum lagi ditambah oleh kerja otak masing-masing orang dengan segala keragaman dan kerumitannya.

Minggu, 15 Agustus 2010

Frustrasi > Delusinasi

Sepertinya hal yang dialami seorang laki-laki Taiwan yang mengaku telah menikah dengan dewi (dari) kayangan adalah akibat frustrasi tidak kunjung menemukan pasangan (perempuan) yang tepat di dunia nyata. Oleh karena itu, ia mengaku telah menikah dengan Dewi Kayangan dan peristiwa tersebut terjadi dalam dunia mimpi ketika ia tidur. Laki-laki tersebut tidak mampu membedakan antara peristiwa yang tidak nyata alias terjadi dalam dunia mimpi dan peristiwa nyata yang terjadi dalam dunia. Akibatnya, peristiwa yang sebenarnya hanya terjadi di dalam mimpi tersebut diyakininya berlaku juga dalam dunia nyata. 

Laki-laki Taiwan tersebut begitu yakin jika perempuan yang dinikahinya dalam mimpi merupakan perempuan nyata sehingga ia mengadakan upacara pernikahan lengkap dengan penandatanganan surat nikah dan penyerahan cincin kepada "istri"-nya. Selain hal janggal dan memprihatinkan tersebut ada hal lucu terkait dengan pernikahan "kayangan" itu, yakni laki-laki tersebut selalu berdoa kepada Dewi Teratai yang dipercaya selalu melindunginya dari segala penyakit dan kecelakaan. Ternyata selain berstatus sebagai "istri", perempuan itu dianggap sebagai pelindung karena ia adalah seorang dewi. Jika demikian, tentu, laki-laki Taiwan tersebut merupakan laki-laki paling beruntung di dunia karena bukan saja ia memiliki seorang istri namun juga seorang pelindung dalam pengertian yang sesungguhnya karena ia menikah dengan seorang dewi.

Berita di atas merupakan salah satu contoh delusinasi ketika seseorang tidak mampu "membebaskan" diri dari "perangkap" ilusi yang dialaminya. Orang yang mengalami delusi tidak mampu membedakan antara hal/peristiwa tidak nyata dan hal/peristiwa tidak nyata. Dalam kasus di atas orang dapat segera menemukan bahwa sesungguhnya yang dialami laki-laki itu adalah peristiwa yang sebenarnya hanya terjadi di dalam dunia yang tidak nyata, di mana ketika tidur ia bermimpi menikah dengan seorang dewi dari kayangan. Hal ini sangat mungkin terjadi karena laki-laki - usia 40 tahun itu - selalu gagal dalam membina hubungan dengan perempuan. Ketika seseorang seringkali gagal dalam membina hubungan dengan seorang perempuan ditambah oleh keinginannya untuk menikah semakin kuat, maka bisa jadi orang tersebut memimpikan sesuatu seperti yang diidam-idamkannya selama ini. Namun hal yang diidam-idamkannya itu muncul dalam mimpinya dan bukan muncul dalam dunia nyata.

Selasa, 15 Juni 2010

UFO di Pontianak

Fenomena UFO kali ini muncul di langit Pontianak, setidaknya itulah yang sangat diyakini oleh seseorang bernama Jaka. Ia sendiri bukanlah yang merekam fenomena itu secara langsung. Artinya, rekaman itu bukan berasal dari kamera ponsel miliknya dan bukan ia yang merekamnya melainkan, menurut pengakuannya, berasal dari anak tetangganya. Rupanya hal inilah yang membuat orang tersebut begitu yakin jika benda di langit tersebut adalah UFO padahal sejumlah kejanggalan dapat langsung ditemukan hanya dengan membaca berita tersebut.

Mengenai fenomena benda di langit yang oleh banyak orang (sangat) diyakini sebagai UFO, setidaknya ada dua hal yang bisa dikemukakan: Pertama, orang-orang yang begitu meyakininya sangat mungkin mengalami fenomena yang dinamakan pareidolia. (Beberapa tulisan yang lampau telah mengangkat tema pareidolia dalam kaitannya dengan keagamaan walaupun pareidolia sendiri tidak tertutup pada hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan.) Artinya, orang-orang yang (sangat) yakin akan keberadaan UFO sudah terlebih dulu mempercayai bahwa ada sesuatu yang dinamakan UFO walaupun tidak didukung oleh bukti-bukti yang relevan dan kuat. Biasanya beberapa hal yang disebut/dinamakan bukti itu hanyalah cerita dari mulut ke mulut mengenai UFO dengan semata-mata berdasar pada rekaman video atau foto yang sangat mungkin sebenarnya merupakan pantulan cahaya terhadap benda-benda di darat belaka. Hal-hal ini semakin diperkuat dengan begitu banyaknya film yang bertemakan UFO, seperti The X-Files, E.T., dan Aliens.

Hal kedua yang bisa dikemukakan mengenai orang-orang yang begitu mempercayai keberadaan UFO walaupun tidak didukung oleh berbagai bukti relevan dan kuat adalah self-delusion. Artinya, orang-orang tersebut tetap (sangat) mempercayai adanya UFO walaupun bukti-bukti yang disajikan malah berlawanan dengan "kepercayaan" mereka sehingga mereka disebut mengalami self-deluding. Orang-orang seperti itu tidak mau mengubah pandangannya apalagi "kepercayaan"-nya mengenai suatu hal meskipun pandangan dan "kepercayaan"-nya tidak didasarkan pada berbagai bukti relevan dan kuat. Mereka telah menutup "pikiran"-nya terhadap bukti-bukti yang bertolak belakang dengan pandangan dan "kepercayaan"-nya.

Orang-orang yang tidak mau mengubah pandangan dan "kepercayaan"-nya walaupun bukti-bukti berbicara sebaliknya selalu mendasarkan keyakinannya tersebut pada hal-hal, seperti: perasaan, penglihatan, memori bahkan pengalamannya sendiri. Namun banyak orang tidak menyadari bahwa banyak hal-hal tersebut sangat rentan terhadap self-delusion, self-affirmation, self-deception, dan wishful thinking. Oleh karena itu, perasaan, penglihatan, memori, bahkan pengalaman seseorang sama sekali tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menentukan kebenaran suatu hal.

Kembali pada fenomena UFO di Pontianak, maka hasil rekaman video yang berasal kamera ponsel merupakan bukti yang sangat lemah karena tidak ditunjang oleh bukti-bukti lainnya. Artinya, jika UFO memang benar ada maka dibutuhkan lebih dari rekaman video dan foto. Sekalian lama fenomena UFO muncul dan beredar, masak tidak ada satu bukti fisik
pun yang menunjukkan keberadaan berbagai hal yang berkaitan dengan UFO, seperti: benda, potongan pakaian, pesawat, atau jejak makhluk luar angkasa.

Selasa, 25 Mei 2010

Pengakuan Seseorang >< Kebenaran


Liputan 6.com edisi kemarin, Senin 24 Mei 2010 menurunkan berita singkat yang berjudul “Manusia Tertua di Dunia Ada di Sragen.” Berikut adalah beritanya:
Liputan6.com, Sragen: Saparman Sodimejo, warga Dukuh Segeran, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, Jawa Tengah, dianggap sebagai orang tertua di dunia. Sayangnya Saparman tak ingat tanggal lahir. Ia diperkirakan berusia 140 tahun. Menurut catatan Guinness World Records, manusia tertua saat ini berusia 114 tahun.
Dugaan usia didasarkan pada cerita masa kecil Saparman yang bisa melihat pembangunan pabrik gula Kedung Banteng Gondang. Pabrik gula itu dibangun pada 1880, sekitar 130 tahun silam. Ia juga mengaku pernah melalui zaman Belanda dan Jepang. Saparman juga sempat menikah empat empat kali hingga jumlah cucu dan cicitnya mencapai ratusan orang. Sejauh ini Saparman tetap segar bugar dan mampu melaksanakan pekerjaan sehari-hari dengan baik. Resepnya kata Mbah Saparman yakni hati ikhlas dan pasrah pada Tuhan. (AIS)
===========
Tulisan kali ini bukan hendak serta-merta menolak atau tidak mempercayai berita mengenai manusia tertua di dunia yang hidup di Sragen, Jawa Tengah, melainkan hendak menunjukkan bahwa pengakuan seseorang mengenai pengalaman hidupnya sama sekali tidak bisa dijadikan tolok ukur mengenai kebenaran berita yang dilaporkannya. Artinya, pengakuan atau klaim seseorang tidak bisa dijadikan ukuran untuk menentukan kebenaran sesuatu yang diakui atau diklaimnya.

Banyak orang seringkali mengatakan bahwa suatu peristiwa dialami dan/atau dilihatnya langsung, namun itu pun tidak bisa dijadikan ukuran untuk menentukan bahwa pengalaman dan penglihatannya sebagai sesuatu yang benar. Sebagian besar orang menyatakan bahwa karena ia mengalami dan melihatnya langsung, maka peristiwa yang dialami atau objek yang dilihatnya adalah benar, tepat, dan akurat. Kenyataannya tidaklah demikian. Mengapa demikian? Karena pengalaman, penglihatan, terlebih perasaan manusia seringkali dipenuhi oleh bias, self-confirmation, self-deception, wishful thinking, dan delusinasi. Namun sayangnya keempat hal ini seringkali tidak disadari oleh sebagian besar orang.

Dengan demikian, pengakuan seseorang tidak bisa diandalkan untuk mengetahui dan menilai kebenaran berita yang dilaporkannya. Pengakuan manusia tidak bisa dan tidak boleh mudah dipercaya karena sangat lemah yang seringkali keliru, meleset, bahkan salah. Oleh karena itu, yang diperlukan orang ketika menganalisis pengakuan, pernyataan, ataupun klaim seseorang adalah menilai, mempertimbangkan, dan terus mengujinya dengan berbagai data relevan yang ditopang oleh argumen-argumen yang dilandaskan pada akal sehat yang juga terus diuji. Kata yang bisa digunakan untuk merangkum tujuan tulisan ini adalah: KRITISISME.

Jumat, 26 Maret 2010

Klaim Luar Biasa = Bukti Luar Biasa

Jika seseorang berkata kepada anda bahwa ia memiliki hewan peliharaan seekor anjing, anda bisa mempercayainya karena memiliki seekor anjing sebagai hewan peliharaan merupakan hal yang biasa. Selain banyak orang memelihara anjing sebagai hewan peliharaan, anjing juga merupakan hewan yang cenderung mudah dipelihara, jadi kemungkinan besar anda tidak membutuhkan bukti apakah orang itu memiliki anjing atau tidak.

Jika seseorang berkata kepada anda bahwa ia memiliki hewan peliharaan seekor jerapah, kemungkinan besar anda tidak serta-merta mempercayainya karena jerapah sebagai hewan peliharaan merupakan hal yang tidak biasa dilakukan orang. Selain orang tidak biasa memelihara jerapah sebagai hewan peliharaan, jerapah juga merupakan hewan yang sulit dipelihara karena membutuhkan makanan, kandang, dan lingkungan yang cukup berbeda dibandingkan jika orang memelihara anjing. Selain itu, sejauh yang bisa ditemukan jerapah hanya dipelihara dalam kebun binatang atau berkeliaran di alam bebas. Oleh karena itu, kemungkinan besar, jika anda seorang skeptik anda membutuhkan bukti apakah orang itu sungguh-sungguh memiliki jerapah sebagai hewan peliharaan atau tidak.

Jika ada orang lain berkata bahwa ia memiliki atau pernah melihat seekor anjing atau jerapah yang bisa terbang, maka pada konteks inilah orang harus bersikap skeptis terhadap klaim orang tersebut karena sejauh ini belum ada orang yang pernah memiliki atau melihat anjing atau jerapah yang bisa terbang, tidak seekor pun. Oleh karena itu, orang bisa menganggap jika klaim tersebut adalah omong kosong, entah orang itu mengalami delusinasi ataupun ingin membuat heboh sehingga menghasilkan terkenal dan memperoleh banyak uang dari klaimnya tersebut.

Sekalipun ada beberapa orang atau banyak orang mengklaim jika mereka memiliki atau pernah melihat anjing atau jerapah terbang, maka klaim mereka harus diperhadapkan terhadap berbagai bukti yang didasarkan pada akal sehat. Jika berbagai bukti mengatakan hal yang bertolak belakang dengan klaim mereka, maka mereka mengalami halusinasi kolektif. Atau, sekalipun anda "merasa" pernah melihat seekor anjing atau jerapah yang bisa terbang, namun anda meragukan "penglihatan" anda, maka anda perlu mengevaluasi "penglihatan" anda terhadap berbagai data dan bukti yang didasarkan pada akal sehat. Selain itu, anda perlu menguji klaim anda tersebut terhadap pandangan para ahli binatang. Artinya, anda perlu bertanya kepada para ahli binatang, apakah ada anjing atau jerapah yang bisa terbang. Jika semua bukti tersebut mengatakan hal yang bertolak belakang dengan klaim anda, namun anda tetap mempertahankan klaim anda, maka anda mengalami delusinasi.

Orang memelihara anjing adalah klaim biasa dibandingkan dengan orang yang mengklaim memiliki atau pernah melihat seekor anjing atau jerapah terbang. Klaim yang kedua disebut sebagai klaim luar biasa karena tidak didukung oleh berbagai bukti relevan. Oleh karena itu, klaim luar biasa membutuhkan bukti yang luar biasa. Artinya, klaim luar biasa harus didukung oleh bukti-bukti yang juga luar biasa. Dengan demikian, bebannya terletak pada orang yang mengutarakan klaim yang luar biasa karena ia (mereka) harus mendukung klaimnya dengan bukti yang luar biasa.

Kamis, 18 Maret 2010

Soulmate

Seorang teman bertanya kepada saya, "Lu percaya adanya soulmate ga?" Saya pun menjawab, "Waduh, pertanyaan lu gua harus tanya balik nih, karena gua ga ngerti arti kata soulmate itu. Maksudnya apaan sih?" Teman saya menjelaskan: "Iya, soulmate itu artinya setiap orang sebenarnya udah diciptakan sepasang-sepasang. Jadi, tinggal tunggu waktu yang pas entar suatu saat seseorang ketemu soulmate-nya, pasangan jiwanya." Saya bertanya kembali: "Jadi artinya, setiap orang punya pasangan yang pas gitu yah?" Teman saya menanggapi lagi: "Iya, pasangan hidup yang pas. Pasangan sejati." Saya pun bertanya kembali: "Apakah soulmate itu terbatas pada pasangan beda jenis kelamin? Artinya, hanya antara pasangan perempuan dan laki-laki?" Teman saya menjawab: "Ya, dalam hal ini soulmate hanya terbatas pada pasangan perempuan dan laki-laki. Saya pun bertanya kembali: "Apakah kalo gitu setiap harus berusaha mencari soulmate-nya atau ga perlu lagi melainkan santai-santai aja, toh tinggal tunggu waktu seperti yang lu bilang tadi karena cepat atau lambat si soulmate itu pasti akan datang, kan. Gimana? Jawaban teman saya: "Ga berdiam diri juga sih . . . tapi harus tetap membuka diri, bergaul, dan bersosialisasi jadi bisa ketemu soulmate-nya. Jadi . . . lu percaya ga kalo ada soulmate?" Jawaban saya sangat singkat: "Ga." "Kenapa ga?", tanya teman saya. Saya pun menjelaskan jawaban saya tadi.

Kalo setiap orang sudah memiliki pasangannya masing-masing dan pasangannya itu dianggap sebagai pasangan hidup yang paling cocok, pas, dan tepat, bagaimana dengan orang-orang yang sampai akhir hayatnya tidak menikah atau hidup membujang tanpa pasangan hidup (berbeda jenis kelamin)? Apakah berarti mereka tidak memiliki soulmate? Lalu, bagaimana dengan pasangan-pasangan yang bercerai? Apakah itu berarti mereka telah bertemu orang yang salah? Saya pikir tidak. Mereka bercerai karena ada begitu banyak rintangan yang akhirnya tidak bisa diselesaikan bersama dengan mempertahankan kehidupan rumah tangganya, sehingga mereka pun memutuskan untuk bercerai.

Namun, orang bisa mengatakan bahwa mereka yang bercerai bisa saja bertemu orang baru kemudian cocok lalu akhirnya menikah dan langgeng. Dengan demikian, pasangan yang berikutnya tersebut bisa dikatakan sebagai soulmate-nya. Jika argumen ini yang digunakan, maka saya akan mengatakan berarti sesungguhnya tebakan atau perkiraan atau analisis seseorang mengenai soulmate-nya itu bisa keliru dan gagal pada kesempatan yang pertama, sehingga ia memerlukan kesempatan kedua, dan akhirnya berhasil. Jika memang pada kesempatan kedua berhasil, bagaimana jika sampai kesempatan ketiga, keempat, dan seterusnya ternyata tidak berhasil juga? Berarti, "teori" mengenai adanya soulmate itu keliru.

Bagaimana dengan adanya kenyataan banyaknya kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga antara suami dan istri, meskipun awalnya masing-masing pasangan berikrar di hadapan banyak orang bahwa mereka merupakan pasangan yang sejati, akan saling mengasihi, dan merupakan soulmate? Apakah "teori" adanya soulmate tetap bisa dipertahankan walaupun kenyataan kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga begitu sering terjadi sehingga tidak bisa dipungkiri lagi? Apakah itu yang dinamakan soulmate ketika salah satu pasangan berlaku keras dan kasar terhadap pasangannya? Tentu sama sekali tidak.

Apakah salah seorang pasangan akan tetap bersikukuh mempertahankan pernikahannya walaupun pasangannya telah berulangkali berlaku kasar terhadapnya demi sebuah kata yang dinamakan "soulmate"? Jika ya, maka menurut saya, pasangan yang diperlakukan kasar tersebut tengah mengalami delusinasi karena mempertahankan sesuatu yang sesungguhnya tidak ada (setidaknya hanyalah sebuah kata). Ia mengalami delusinasi karena tetap mempertahankan pernikahannya walaupun diri dan hidupnya babak belur akibat ketidakadilan dan kekerasan yang dilakukan pasangannya sendiri.

Dengan memperhatikan beberapa contoh yang telah diberikan, maka apakah lema soulmate memiliki pengertian tertentu dan istimewa? Menurut saya, sama sekali tidak. Soulmate hanyalah sebuah kata yang sama sekali tidak memiliki makna pada dirinya sendiri, terlebih ketika ditempatkan dalam konteks kehidupan nyata manusia yang begitu kompleks. Banyaknya orang yang tidak menikah sampai akhir hayatnya, kekerasan dan ketidakadilan yang terjadi dalam kehidupan banyak rumah tangga, dan tidak sedikit orang yang hidup dengan sesama jenisnya membuat lema soulmate sama sekali tidak memiliki arti. Soulmate hanya berfungsi, bekerja, atau dipercaya oleh orang-orang yang menganggap bahwa lema tersebut berlaku dalam kehidupan (pernikahan) mereka. Oleh karena itu, penggunaan lema soulmate sama sekali tidak bermanfaat alias sia-sia karena tidak terbukti berlaku dalam kehidupan semua orang.

Sabtu, 30 Januari 2010

Delusinasi

Delusi adalah "kepercayaan salah" yang dianut atau dipeluk atau diyakini seseorang walaupun kenyataan berbicara sebaliknya. Dan orang yang meyakini kepercayaan yang salah tersebut artinya mengalami delusinasi. Delusinasi tidak ada kaitannya dengan kerusakan jaringan syaraf otak seseorang yang mengalaminya. Seseorang yang mengalami delusinasi adalah seseorang yang sangat mempercayai sesuatu sampai-sampai kepercayaannya akan sesuatu itu tidak dapat diganggu-gugat apalagi diubah walaupun berbagai bukti bertolak belakang dengan kepercayaannya itu.

Beberapa contoh:

1. Seseorang yang mempercayai bahwa bumi adalah pusat tata surya, padahal kenyataannya matahari adalah pusat tata surya.

2. Seseorang yang tidak percaya bahwa bentuk bumi bulat dan menganggap bahwa bumi datar sehingga di ujung cakrawala terdapat jurang.

3. Seseorang yang mempercayai bahwa surga terletak di langit/awan dan neraka di bawah bumi.

4. Seseorang yang mempercayai adanya malaikat-malaikat yang melindungi kehidupannya.

5. Seseorang yang mempercayai bahwa dirinya adalah "titisan ilahi" yang diutus ke dunia ini untuk membawa manusia bertobat.

6. Seseorang yang mempercayai bahwa Tuhan telah berbicara kepadanya mengenai kapan tepatnya dunia akan kiamat.

Seseorang yang mengalami delusinasi tidak lagi memperhitungkan/mempertimbangkan akal sehat melainkan hanya mendasarkan berbagai kepercayaannya pada emosinya. Orang tersebut tidak akan menguji dan menganalisis kepercayaan yang dianut dan diyakininya karena baginya hal itu sudah mutlak benar. Ia tidak mendasarkan kepercayaan yang dianutnya pada bukti-bukti nyata melainkan pada pewahyuan yang dianggapnya telah diterima langsung dari yang ilahi. Atau, orang tersebut hanya mendasari kepercayaannya pada cerita-cerita lama tanpa sama sekali mempedulikan bukti-bukti terkini dan ilmu pengetahuan masa kini.

Sekali lagi harus ditekankan dan diingat, delusi sama sekali tidak ada kaitannya dengan gangguan atau kerusakan jaringan syaraf otak orang yang mengalaminya. Orang yang mengalami delusinasi sangat yakin bahwa kepercayaan yang dianutnya merupakan suatu kebenaran yang mutlak. Oleh karena itu, ia tidak membutuhkan bukti-bukti nyata apalagi menguji kepercayaannya tersebut.