Tampilkan postingan dengan label Kesurupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesurupan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 November 2010

Kejahatan X Kebaikan

Begitu banyak orang beranggapan dan percaya jika kesurupan terjadi akibat unsur yang berasal dari luar tubuh seseorang (seperti: hantu/makhluk halus) kemudian hantu tersebut merasuki tubuh orang itu. Dengan demikian, begitu banyak orang mengatakan bahwa kesurupan diakibatkan oleh gangguan yang dialami manusia berasal dari luar unsur tubuhnya. Apakah benar demikian? Pandangan ini salah dan cenderung menyederhanakan persoalan dengan meniadakan unsur yang berasal dari dalam tubuh manusia.   

Contoh kesurupan yang dipercayai hanya akibat yang berasal dari luar tubuh manusia adalah terjadi baru-baru ini di Bangkalan, Madura, di mana sekitar 10 siswa mengalami kesurupan. Peristiwa kesurupan terjadi ketika para siswa tersebut sedang mengikuti salah satu kegiatan yang diadakan sekolah. Namun, pihak sekolah segera menyatakan bahwa anak-anak yang kesurupan itu bukan akibat kegiatan sekolah yang diadakan sekolah melainkan hal lainnya, seperti: 
1. Sekolah akan mengadakan kegiatan agama.
2. Sekolah menebang beberapa pohon besar di lingkungan sekolah.

Pihak sekolah menganggap jika kedua hal ini menjadi penyebab kesurupan yang dialami anak-anak akibat "penunggu" sekolah tidak suka/marah sehingga "penunggu" itu merasuki beberapa siswa. Dengan demikian, pihak sekolah menolak jika acara yang diadakan sekolah sebagai penyebab beberapa anak mengalami kesurupan dan lebih "menyalahkan" sesuatu yang bernuansa supernatural. Ini artinya, sekolah lebih percaya pada sesuatu yang tidak kasat mata ketimbang yang kasat mata dan memiliki materi.

Mengapa hal demikian bisa terjadi? Hal seperti itu bisa terjadi karena  hal-hal yang bernuansa supernatural lebih misterius dan seru dibandingkan hal-hal yang terlihat kasat mata. Hal-hal yang tidak kasat mata bisa membuat merinding ketimbang hal-hal materil yang tidak bisa membuat bulu kuduk berdiri. Hal ini sejajar dengan agama dan kepercayaan kepada Tuhan, di mana bisa membuat manusia takjub, merinding, bahagia, bahkan menangis. Artinya, manusia menggemari hal-hal yang membuat emosinya "naik-turun" karena sesuatu yang misterius dan tidak kasat mata. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan ketika melihat/mengetahui bagaimana cara manusia menangani fenomena kesurupan, yakni dengan membacakan ayat-ayat yang berasal dari "kitab suci."

Pembacaan ayat-ayat "kitab suci" yang ditujukan bagi orang-orang yang mengalami kesurupan didasarkan pada kepercayaan bahwa kesurupan diakibatkan oleh sesuatu supernatural yang jahat, oleh karenanya harus dilawan oleh sesuatu supernatural juga, namun yang baik. Jadi, ada pemikiran banyak orang bahwa sesuatu yang tidak kelihatan harus diperhadapkan dengan sesuatu yang tidak juga tidak kelihatan, dan karena kesurupan diakibatkan oleh hantu, maka harus dilawan oleh Tuhan. Kejahatan harus dilawan oleh kebaikan. Akibatnya, banyak orang meniadakan atau tidak mempedulikan hal-hal yang sesungguhnya kasat mata. Artinya, orang lebih mempercayai hal-hal yang tidak kelihatan (supernatural) ketimbang hal-hal yang keliatan (material). 

Contoh inilah yang ditemukan dalam berita di atas ketika pihak sekolah bukannya memperhatikan kegiatan telah dan sedang dilakukan anak-anak melainkan membiarkan pikirannya dikuasai oleh hal-hal yang tidak kelihatan. Pihak sekolah sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan jika kegiatan yang diadakannya telah membuat beberapa anak merasa tidak nyaman, dan anak-anak yang tidak merasa nyaman tersebut tidak memiliki pikiran yang kuat sehingga mereka mengalami kesurupan. Inilah salah satu contoh nyata (lagi) di mana manusia lebih mempercayai sesuatu yang supernatural ketimbang material. Akibatnya, penanganan yang diberikan pun sangat sederhana bahkan ga nyambung karena menafikan psikologi serta melibatkan orang-orang yang keliru.

Kamis, 11 November 2010

Hantu Curhat

Dua remaja perempuan (SMP) yang berada dalam keadaan "kesurupan" mengaku jika hantu yang ditemui masing-masing perempuan itu mengajak mereka curhat. Salah seorang remaja  perempuan yang kesurupan itu mengatakan bahwa hantu (makhluk halus) yang dijumpainya dalam keadaan kesurupan itu bercerita tentang keluarganya, bahkan meminta tolong agar anaknya yang sedang sakit ditolong. Sementara remaja yang lainnya mengaku ketika dalam keadaan kesurupan ia berjumpa dengan seorang anak kecil dan perempuan sama-sama mengenakan pakaian putih. Dan ia mengatakan bahwa perempuan yang dijumpainya itu mengajaknya curhat. Mungkin banyak orang dengan cepat menghakimi atau menganggap pernyataan kedua remaja perempuan itu sebagai hal yang bohong-bohongan atau yang mereka katakan tidak lebih dari omong kosong. Sikap-sikap seperti itu tidaklah bijak karena ada sikap yang lain yang bisa ditampilkan.

Fenomena kesurupan mesti dipahami sebagai peristiwa yang sungguh terjadi. Artinya, orang yang mengalaminya tidak sedang melakukan kebohongan ataupun omong kosong, jika ia benar-benar mengalami kesurupan. Peristiwa kesurupan memang bisa terjadi akibat pikiran seseorang tidak mampu lagi menampung atau menguasai emosi yang berada dalam diri seorang ketika berbenturan dengan kenyataan sosial yang dialami orang tersebut. Ketika pikiran tersebut tidak mampu menguasai benturan kedua hal itu, misalnya dengan menyalurkannya pada aktivitas tertentu, maka yang terjadi adalah "kesurupan." 

Oleh karena itulah harus dikatakan bahwa kesurupan yang dialami seseorang bukanlah akibat tubuh ataupun pikiran orang itu dimasuki oleh hantu (makhluk halus) melainkan akibat pikiran yang tidak mampu menguasai emosinya setelah orang tersebut mengalami suatu peristiwa yang menekan pikirannya. Orang yang mengalami kesurupan bukanlah sedang melakukan kebohongan atau omong kosong melainkan pikirannya tidak mampu menampung emosi yang begitu meluap sehingga hal tersebut membuat tubuhnya melakukan gerakan-gerakan motorik di luar kemampuan kendali pikirannya. Oleh karena itulah sama sekali tidak perlu menjadi heran ketika orang kesurupan tubuhnya menjadi mengejang, tidak jarang disertai dengan teriakan, bahkan tangisan, dan banyak gerakan yang jika dalam keadaan sadar orang tersebut tidak akan dan tidak mampu melakukannya.

Bagaimana dengan pengakuan kedua remaja perempuan dalam berita di atas yang mengaku masing-masing telah bertemu dengan hantu yang curhat dengan mereka? Apakah mereka mengatakan sesuatu yang omong kosong atau benar? Kedua remaja tersebut tidak mengatakan hal yang omong kosong apalagi berbohong, tetapi mereka menyampaikan ingatan tertentu yang muncul di dalam pikiran mereka. Namun ingatan tersebut sangat mungkin merupakan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan buat mereka. Ingatan tersebut telah membangkitkan emosi tertentu yang tidak mampu ditampung atau dikendalikan atau disalurkan oleh pikiran mereka sehingga mereka pun mengalami kesurupan. 

Dari manakah ingatan itu berasal? Bisa jadi ingatan itu berasal dari pengalaman mereka, entah sudah lama ataupun tidak lama terjadi ketika mereka berjumpa atau mendengar cerita seseorang yang mengalami kesulitan/kemalangan. Setelah mendengar cerita, maka cerita itu pun disimpan dalam memori otak mereka. Dan ketika mereka mengalami suatu peristiwa, entah mirip ataupun tidak mirip dengan pengalaman, maka ingatan yang tersimpan dalam memori otak itu pun muncul ketika mereka mengalami kesurupan, walaupun kemungkinan besar yang terjadi adalah bahwa peristiwa tersebut memiliki kemiripan dengan peristiwa yang pernah dialami. 

Jadi, jelas, kedua remaja perempuan dalam berita di atas tidaklah bohong karena peristiwa berjumpa dengan orang yang mau curhat ketika mereka dalam keadaan kesurupan sungguh-sungguh terjadi. Ya, terjadi dalam pikiran mereka, bukan di luar pikiran mereka. Dengan demikian, pengakuan kedua perempuan remaja itu sama sekali bukanlah omong kosong karena mereka memang berjumpa dengan figur-figur tertentu dalam pikirannya, yang sangat mungkin dipicu oleh peristiwa serupa yang sangat tidak menyenangkan pikiran mereka sehingga ingatan yang mirip itu pun muncul ketika mereka mengalami kesurupan.

Jumat, 29 Oktober 2010

Kesurupan & "Kitab Suci"

Apakah seorang yang mengalami fenomena kesurupan bisa disembuhkan atau ditanggulangi dengan meningkatkan tradisi membaca "kitab suci?" Atau, apakah peristiwa kesurupan bisa ditekan atau diminimalisasi dengan cara mengadakan pembacaan "kitab suci?" Jawaban yang diberikan adalah positif, setidaknya inilah yang dipercaya Kepala Sekolah Menengah Kejuruan I Kota Bengkulu setelah beberapa siswanya kesurupan. Apakah dengan membaca "kitab suci" mampu menghindarkan seseorang dari kesurupan atau apakah kebiasaan membaca "kitab suci" bisa mempengaruhi emosi seseorang sehingga orang tersebut bisa terhindar dari kesurupan?

Pandangan yang mengatakan bahwa kegiatan beragama, seperti salah satunya, mengadakan pembacaan "kitab suci" dapat mempengaruhi emosi seseorang masih sangat kuat mempengaruhi pikiran masyarakat luas, khususnya di Indonesia. Dalam tingkatan tertentu, kegiatan beragama bisa saja membuat seseorang - tentunya yang beragama - merasa lebih tenang, terkendali, dan adem. Mereka yang percaya jika kegiatan beragama bisa mengendalikan emosinya mengatakan bahwa agama membawa dan melahirkan kebahagiaan  dan ketenangan batin. Bahkan tidak jarang juga jika hal tersebut "tertular" atau setidaknya, sampai dilihat oleh orang lain sehingga orang lain pun turut merasa tenang. Namun demikian, pandangan yang mengatakan bahwa kegiatan beragama bisa membuat orang beragama tenang amatlah lemah karena sekian kasus kesurupan yang terjadi di Indonesia malah dialami oleh orang-orang yang, setidaknya mengklaim diri sebagai orang beragama. Jika demikian adanya, maka klaim yang mengatakan bahwa kegiatan beragama bisa menenangkan bahkan mengendalikan emosi seseorang bersifat subjektif karena tidak terbukti pada orang lain.

Emosi yang dialami setiap orang tidak turun dari langit melainkan dibentuk, baik oleh bawaan gen yang dimiliki orang yang bersangkutan maupun lingkungan di mana orang itu hidup. Jika kegiatan beragama dianggap sebagai salah satu hal yang termasuk ke dalam unsur lingkungan/sosial, maka mungkin saja emosi seseorang bisa dipengaruhi oleh kegiatan beragama yang dilakukannya. Bagaimana dengan pembacaan "kitab suci?" Bukankah itu juga termasuk dengan kegiatan? Ya, dalam pengertian yang sangat sempit, namun tidak dalam pengertian yang lebih luas. Jika membaca "kitab suci" dilakukan secara pribadi aktivitas tersebut merupakan aktivitas yang lebih mengarah pada diri sendiri. Jika aktivitas membaca "kitab suci" dilakukan secara berkelompok, maka sesungguhnya yang terjadi adalah sugesti yang diperoleh seseorang atau beberapa orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Jadi, bukan "kitab suci" yang mampu membuat seseorang merasa tenang atau mengendalikan emosinya melainkan "perasaan" subjektif yang dimiliki orang yang bersangkutan karena sejak awal sudah datang dengan membawa keyakinan bahwa dirinya akan merasa tenang karena membaca "kitab suci."

Apakah dengan demikian kegiatan membaca "kitab suci" bisa diperhitungkan sebagai aktivitas yang mampu menenangkan atau mengendalikan emosi seseorang? Jawabannya adalah: ya dan tidak. Ya, jika seseorang memiliki keyakinan yang begitu kuat bahwa hal yang dilakukannya bisa menenangkan dirinya. Ini artinya, bukan "kitab suci" yang mampu membuat "perasaan" orang tersebut tenang melainkan pikirannya sendiri. Tidak, jika orang menempatkan aktivitas membaca "kitab suci" dalam konteks lebih luas, di mana kegiatan tersebut melibatkan orang lain. Jadi, bukan kegiatan membaca "kitab suci" yang membuat seseorang menjadi tenang atau adem melainkan suasana tertentu yang dialami orang tersebut ketika ia berada dalam kegiatan membaca "kitab suci" secara berkelompok.

Dengan demikian, kegiatan membaca "kitab suci" tidak bisa mempengaruhi emosi seseorang atau tidak bisa membuat "perasaan" seseorang menjadi lebih tenang. Ini berarti bahwa tidak ditemukan hubungan antara "kitab suci" dan kesurupan yang bisa membuat orang berkesimpulan bahwa tindakan/aktivitas membaca "kitab suci" mampu menekan atau menghindari orang dari kesurupan karena kesurupan terjadi akibat lemahnya pengendalian emosi yang dilakukan seseorang yang berbenturan dengan fenomena sosial yang dihadapinya. Jika ini yang terjadi, maka rencana mengadakan kegiatan membaca "kitab suci" dalam upaya menanggulangi kesurupan merupakan tindakan yang menyederhanakan masalah karena kesurupan merupakan masalah psikologi sekaligus sosiologis, oleh karenanya tidak bisa ditanggulangi oleh kegiatan membaca "kitab suci."

Jumat, 01 Oktober 2010

Salah Panggil

Setelah "kasus" salah penanganan yang dilakukan sebuah sekolah dengan memanggil polisi untuk menangani masalah psikologis yang dialami murid-muridnya, sekarang kasus yang serupa dilakukan sekolah lainnya ketika berusaha menangani permasalahan yang sama. Peristiwanya adalah ketika belasan murid salah satu SD di Kota Jambi mengalami kesurupan. Seperti yang dipahami dan diyakini kebanyakan orang lainnya, di mana fenomena kesurupan diakibatkan oleh makhluk halus yang masuk dan mengganggu jasmani seseorang, dan karenanya sekolah tersebut memanggil "orang pintar" untuk mengusir makhluk halus tersebut.

Tindakan yang dilakukan sekolah tersebut sangatlah tidak bijak dan sama sekali tidak tepat karena menunjukkan bahwa sekolah sama sekali tidak mengetahui permasalahan sesungguhnya yang telah terjadi. Oleh karena itulah para guru bukan hanya perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan, seperti: mendidik anak-anak, bagaimana menangani anak-anak yang membutuhkan penanganan khusus, dan menyusun rencana pengajaran, namun para guru perlu bahkan sangat perlu (melihat banyaknya kasus "kesurupan" yang dialami anak-anak di lingkungan sekolah) dibekali dengan pengetahuan psikologi dasar khususnya psikologi anak dan remaja. Ini dilakukan dengan harapan agar pihak sekolah mampu memberikan penanganan yang bijak dan cermat setiap kali murid (-muridnya) mengalami gangguan, tekanan, atau masalah psikologis di sekolah. Tentu hal seperti ini perlu didukung oleh pemerintah, khususnya Departemen Pendidikan untuk menjadi fasilitator, penyedia, atau  penyelenggara bagi pendidikan atau pelatihan bagi para guru terkait dengan psikologi dasar tersebut.

Jika setiap warga negara Indonesia termasuk pemerintah menganggap bahwa pendidikan adalah hal dasariah yang sangat penting bagi setiap warga (baca: anak), maka penanganan yang bijak dan tepat terhadap anak-anak merupakan sesuatu yang sangat penting dan mendesak untuk direalisasikan, terlebih ketika anak-anak mengalami peristiwa tertentu di lingkungan sekolah. Tentu, penanganan yang bijak dan tepat terhadap anak-anak yang dilakukan di sekolah sudah seharusnya dilakukan dengan berdasar pada pengetahuan relevan yang ditopang oleh pemikiran kritis yang memadai. Pengetahuan relevan yang dimaksud dalam konteks ini adalah dengan memperhatikan perkembangan psikologis anak/remaja dan konteks sosial di mana mereka hidup, baik di lingkungan sekolah bersama teman-temannya, hubungannya dengan para guru, dan tugas-tugas sekolah, maupun di rumah bersama keluarga, pergaulan di sekitar rumah, dan tugas-tugas yang dikerjakan di rumah. Ketika perkembangan psikologis anak/remaja diperhatikan dalam kaitannya dengan konteks sosial anak/remaja yang luas, maka diharapkan para guru mampu memahami sedikit-banyak murid-muridnya. Tentu tidak secara keseluruhan dan mendalam, namun setidaknya, para guru cukup bisa mengetahui ketika murid (-muridnya) mengalami masalah psikologis tertentu.

Tawaran atau saran di atas bukanlah suatu mission impossible atau sesuatu yang mengawang-awang, namun sebaliknya, suatu yang sangat masuk akal, realistis, dan tidak sulit untuk diejawantahkan. Hal yang dibutuhkan adalah kemauan dan komitmen untuk memperlakukan dan menangani anak-anak didik dengan bijak dan tepat yang semuanya dilandaskan pada pengetahuan yang relevan dan pemikiran kritis yang memadai. Jika ini bisa dilakukan maka niscaya pihak sekolah tidak perlu dan tidak akan memanggil "orang pintar" ke sekolah karena yang dialami anak-anak itu sesungguhnya adalah perihal psikologis bukannya sesuatu yang bernuansa paranormal.

Kamis, 12 Agustus 2010

Pohon Mangga Ditebang > Kesurupan

Fenomena kesurupan massal yang dialami anak-anak sekolah kembali terjadi dan kali ini dialami anak-anak SMP Sunari Loka, Kuta, Bali. Berdasarkan pengakuan dan "keyakinan" salah seorang siswa, kesurupan itu terjadi akibat ditebangnya pohon mangga yang ada di halaman sekolah. Siswa tersebut mengatakan bahwa pohon mangga yang ditebang itu besar dan diyakini banyak orang sebagai pohon angker. 

Setelah membaca keterangan siswa tersebut segera muncul beberapa pertanyaan: Apa hubungan antara pohon yang besar dan peristiwa kesurupan? Apakah pohon besar berarti ada "penunggunya" seperti diyakini cukup banyak orang? Oleh karena keyakinan banyak orang pohon besar memiliki "penunggu" dan ketika pohon tersebut ditebang, maka "penunggunya" marah. Apakah ini artinya "si penunggu" marah akibat tidak lagi memiliki tempat untuk ditungguinya alias tempat tinggal (dhi. pohon besar)? Jika ya, apakah ini berarti "sosok penunggu" tersebut memiliki tempat tinggal fisik layaknya manusia atau makhluk hidup lainnya yang memerlukan rumah atau kandang atau sarang? Jika juga ya, bukankah janggal jika "figur penunggu" yang tidak berupa fisik itu memerlukan sebuah tempat tinggal yang berupa fisik seperti pohon? 

Hal janggal lainnya yang bisa segera ditemukan melalui keterangan siswa tersebut adalah pernyataannya: ". . . pohon itu memang besar dan katanya juga pohon itu angker" (penekanan ditambahkan). Tidak sedikit orang mudah mempercayai kata-kata ataupun keyakinan orang lain walaupun hal tersebut tergolong sebagai hal yang tidak nyata, seperti: pohon angker. Jika pengalaman diri sendiri saja tidak bisa dijadikan tolok ukur mutlak untuk menilai kebenaran dan suatu hal, terlebih pengakuan atau kesaksian orang lain sekalipun hal yang sama diakui atau disaksikan oleh banyak orang. Akibatnya, orang serta-merta mempercayai perkataan orang lain apalagi jika hal itu berkaitan dengan hal-hal gaib atau paranormal ketimbang berusaha mencari jawabannya menggunakan logika dan akal sehatnya. Ini terjadi karena sebagian besar orang keburu atau terlalu malas mencari tahu alasan-alasan nyata yang melatarbelakangi semua peristiwa sehingga mereka dengan mudah menerima alasan-alasan tidak nyata karena alasan-alasan yang tidak nyata tersebut dianggap jauh lebih menarik dan seru dibandingkan alasan-alasan nyata yang didasarkan pada pertimbangan nalar. 

Ketika manusia terlalu malas mencari tahu berbagai alasan nyata yang ada di balik setiap peristiwa hidup dan tidak (mau) berpikir kritis, maka pada saat itulah manusia jatuh pada pemikiran simplisistis dan dengan mudah mempercayai pengakuan atau kesaksian orang lain tanpa mempertimbangkan lagi mengenai kebenaran pengakuan atau kesaksian tersebut. Salah satu contoh nyatanya adalah berita di atas yang mengaitkan fenomena kesurupan  yang dialami anak-anak SMP dengan penebangan pohon mangga besar yang diyakini beberapa (banyak) orang angker.

Selasa, 03 Agustus 2010

Salah Penanganan

Kembali muncul berita mengenai kesurupan yang dialami lebih dari satu orang dan kali ini dialami oleh beberapa siswi SMK di Kota Cimahi, Jawa Barat. Sayangnya pihak sekolah sama sekali tidak tahu bagaimana menangani masalah tersebut secara bijak sehingga mereka bukannya menyerahkan masalah tersebut kepada orang-orang yang memang kompeten di bidangnya, seperti: (seharusnya) guru BP atau guru-guru lainnya yang bisa diperbantukan, tetapi malah memanggil pihak keamanan alias polisi. Jelas, sekolah tidak tahu bagaimana menghadapi kasus yang disebut dengan "kesurupan" tersebut dengan tepat. Yang dibutuhkan dan seharusnya dilakukan oleh pihak sekolah adalah guru (-guru) BP yang seyogianya sudah diperlengkapi, setidaknya, oleh ilmu psikologi dasar sehingga bisa menangani kasus-kasus frustrasi yang dialami murid-muridnya. Sesungguhnya yang dialami oleh siswi-siswi malang tersebut bukanlah masalah kriminalitas, tetapi psikis. Artinya, para siswi tersebut bukan sedang melakukan tindak kriminal melainkan mengalami guncangan psikis yang cukup berat sehingga mengalami "kesurupan." Oleh karena itu, memanggil dan menyerahkan kasus tersebut pada pihak polisi adalah langkah yang sangat ga nyambung alias sama sekali salah.

Memperhatikan kasus kesurupan yang dialami cukup banyak sekolah sudah seharusnya menjadi perhatian pemerintah, khususnya bagian pendidikan negeri ini, yakni dengan membekali para gurunya, terlebih guru BP, bukan hanya dengan teori-teori pendidikan melainkan juga dengan ilmu psikologi dasar. Ini dilakukan supaya para guru tersebut setidaknya memiliki kemampuan dasar bagaimana dalam menghadapi dan menangani kasus kesurupan jika menimpa murid (-muridnya). Kemampuan dasar tersebut sangatlah penting guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi lebih jauh, misalnya: ketakutan yang menghinggapi murid yang bersangkutan sehingga tidak mau masuk sekolah. Tentu, jika kesurupan ini terjadi berulangkali maka orang yang bersangkutan akan terganggu secara fisik dan pikiran karena peristiwa tersebut sangat menguras tenaga dan mentalnya. Oleh karena itulah guru-guru, terlebih guru BP, sudah sepatutnya diperlengkapi dengan ilmu psikologi dasar untuk menghadapi kasus-kasus seperti kesurupan tadi. Penanganan yang tepat dan cermat tentu akan memberikan hasil yang baik dan maksimal.

Selain guru-guru, khususnya guru BP, diperlengkapi oleh ilmu psikologi dasar yang memadai, para murid juga sudah selayaknya diperkenalkan dan dibekali dengan psikologi umum yang mendasar. Ini dilakukan agar mereka, bukan hanya mengenal dan mengetahui gejala-gejala psikis tertentu yang bisa dialami beberapa orang, tetapi juga tahu bagaimana menghadapi dan mengatasi gejolak emosi yang dialaminya. Terlebih, para remaja masa kini yang dipenuhi oleh berbagai tuntutan, baik dari rumah (keluarga), sekolah, pergaulan (teman-teman), dan masyarakat. Psikologi umum mendasar tersebut diharapkan bisa membekali mereka, baik dengan ilmu maupun ketrampilan, sehingga mereka dapat melakukan interaksi seimbang dengan sekitar mereka. Artinya, mereka diharapkan bisa menempatkan diri secara proporsional dalam masyarakat sesuai dengan usia mereka. 

Sebagai contoh sederhana para remaja bisa dilibatkan dalam berbagai kegiatan di dalam sekolah (kelas) maupun di luar sekolah yang mengajak mereka untuk berpikir kritis dan mampu menganalisis permasalahan. Kepada mereka diberikan beberapa contoh kasus remaja yang terjadi di masyarakat yang mengajak mereka untuk menyumbangkan pikirannya demi penyelesaian yang cocok dan tepat sesuai dengan konteks usia mereka serta relevan dengan kenyataan yang mereka hadapi sehari-hari. Hal ini diharapkan mampu merangsang daya pikir dan analisis para remaja sehingga mereka dapat terlibat aktif dalam banyak kegiatan ketimbang menuntut, memaksa, dan mencekoki mereka dengan berbagai hal yang tidak sesuai dengan usia mereka alias terlalu berat untuk usia mereka dengan diancam oleh berbagai hukuman. Tentu, ini bukanlah perkara yang mudah dilakukan seperti membalikan telapak tangan karena membutuhkan kurikulum yang tepat, kerja sama, kerja keras, dan waktu. Namun pada saat yang bersamaan hal ini juga bukanlah suatu mission impossible karena sesungguhnya bisa dilakukan.

Kamis, 15 Juli 2010

Frustrasi Berat Tuh...

Fenomena kesurupan massal kembali terjadi di Jambi setelah tim voli Kabupaten Sarolangun, Jambi, dikalahkan oleh lawannya. Sesungguhnya kesurupan yang dialami enam atlet dalam tim voli tersebut bukanlah akibat gangguan makhluk halus seperti yang diberitakan melainkan kekalahan yang diderita tim tersebut. Kekalahan yang mengakibatkan fenomena kesurupan yang dialami keenam atlet voli tersebut sangat mungkin terjadi karena keenam atlet itu tidak kuasa mengendalikan gejolak emosi dan pikiran mereka. Letupan emosi yang tidak mampu dikendalikan itu bisa terjadi akibat kekecewaan yang begitu mendalam setelah mengalami kekalahan yang diperkuat oleh harapan untuk menang yang sangat tinggi.

Ketika harapan terhadap sesuatu tidak menjadi kenyataan dan emosi serta pikiran tidak bisa dikendalikan dengan baik, maka tidak heran orang yang mengalaminya akan menderita fenomena kesurupan. Banyak orang tidak menyadari bahwa hal tersebut sama sekali tidak terjadi akibat gangguan makhluk halus melainkan semata-mata akibat hal psikis yang sebenarnya bisa dijelaskan tanpa menyinggung hal-hal yang berbau paranormal. Jadi, yang terjadi sesungguhnya bukanlah gangguan makhluk halus yang mengakibatkan kesurupan melainkan orang-orang tersebut menderita gangguan psikis yang cukup berat.

Minggu, 20 Juni 2010

Kesurupan Massal

Beberapa waktu lalu diangkat tulisan mengenai kesurupan. Kali ini fenomena yang serupa bukan hanya dialami oleh satu orang melainkan belasan orang lainnya. Mereka adalah para pegawai pabrik sepatu di Cianjur, Jawa Barat. Ternyata kesurupan bisa dialami oleh lebih dari satu orang (bahkan massal) di tempat yang sama. Artinya, kesurupan dialami oleh banyak orang di satu tempat (sekolah atau tempat kerja seperti pabrik). Fenomena kesurupan massal ini semakin membuat orang percaya bahwa kesurupan tersebut memang diakibatkan "roh /makhluk halus" yang merasuki tubuh orang banyak itu. Hal ini biasanya didukung oleh pernyataan orang-orang setempat yang mengatakan bahwa dulu di tempat tersebut ada orang yang meninggal akibat kecelakaan (kerja atau lalu lintas) atau meninggal akibat dibunuh. Pernyataan-pernyataan semacam itu semakin menebalkan kepercayaan orang terhadap adanya "roh/makhluk halus" yang bisa merasuki tubuh manusia. Apakah benar demikian?

Tulisan mengenai kesurupan yang lalu sebenarnya telah menyinggung kaitan antara psikososial seseorang dengan tubuh, khususnya otak orang yang bersangkutan (rekan Moralizm, di kolom tanggapan, telah menjelaskan hal tersebut dengan cukup rinci). Artinya, berbagai hal yang terjadi atau dialami sehari-hari (sosial) oleh manusia disimpan dalam otak, khususnya hal-hal yang sangat baik dan sangat buruk. Hal-hal inilah yang direkam oleh dan dalam otak setiap manusia. Ketika ingatan-ingatan mengenai hal yang sangat buruk (menyakitkan) muncul dan orang itu tidak kuasa mengendalikan ingatan dan "perasaan" menyakitkan itu, maka motoriknya bergerak tidak beraturan dan biasanya sangat kuat. Ini terjadi akibat rangsangan yang dikirimkan dari otak yang menyimpan berbagai ingatan buruk tersebut.

Dengan demikian, sekali lagi dapat dinyatakan bahwa sesungguhnya fenomena kesurupan yang dipercaya begitu banyak orang sebagai akibat "roh/makhluk halus" yang merasuki tubuh manusia adalah keliru. Sesungguhnya yang terjadi dalam fenomena kesurupan adalah gejala psikososial yang tidak mampu dikendalikan oleh orang-orang tertentu sehingga mereka dikatakan mengalami kesurupan.

Mengapa banyak orang dengan mudah mencari penjelasan supernatural terhadap banyak hal yang terjadi di sekitarnya, seperti kesurupan? Karena banyak kelompok masyarakat yang sedari kecil dijejali dan di-"indoktrinasi" oleh berbagai kisah supernatural, seperti adanya tuyul, hantu, setan, wewe gombel, dan sejenisnya. Ditambah, penjelasan supernatural tidak njelimet alias sederhana sehingga memudahkan orang untuk mencerna bahkan mempercayainya. Selain itu, penjelasan secara supernatural, oleh banyak orang dianggap lebih menarik dan dramatis dibandingkan penjelasan saintifik yang dianggap kaku dan dingin. Oleh karena itu, tidak heran jika lebih banyak orang lebih memilih dan mempercayai berbagai penjelasan supernatural ketimbang penjelasan saintifik. Akibatnya, sebagian besar orang lebih mempercayai bahwa kesurupan massal terjadi kerena "roh/makhluk halus" telah merasuki tubuh orang banyak itu daripada mempercayai bahwa hal tersebut terjadi karena dipicu oleh latar belakang ekonomi dan sosial (sulit dan menghimpit) yang dialami orang-orang malang tersebut.

Minggu, 23 Mei 2010

Kesurupan di Atas Sepeda Motor


Liputan 6.com memuat berita singkat mengenai seorang perempuan yang dipercaya kesurupan ketika mengendarai motor sehingga ia membahayakan, baik dirinya sendiri maupun orang lain. Berita edisi Sabtu, 22 Mei 2010 tersebut diberi judul “Tengah Berkendaraan, Perempuan Kesurupan.”
Liputan6.com, Bulukumba: Kesurupan saat mengedarai sepeda motor. Itulah peristiwa nahas yang dialami seorang perempuan di Bulukumba, Sulawesi Selatan, Jumat (21/5). Akibatnya, perempuan bernama Karmila itu menabrak pengendara sepeda motor lain. Karmila juga menabrak sepeda motor yang sedang diparkir dan nyaris menabrak mobil melaju ugal-ugalan.Tidak ada korban dalam peristiwa ini. Tapi, adu mulut sempat terjadi antara sejumlah pengendara dan petugas lalu lintas. Sebelum pingsan, Karmila sempat mengamuk dan berteriak-teriak. Warga di lokasi kejadian pun panik dan membiarkannya hingga terkulai lemas di lantai. Kemudian, warga membopongnya ke teras rumah untuk dipijat. (OMI/SHA)
==========
Menurut Kamus Bahasa Indonesia Online, lema “kesurupan” termasuk kata kerja yang artinya: kemasukan (setan, roh) sehingga bertindak yang aneh-aneh. Dengan mengacu pada definisi tersebut berarti perempuan tersebut dimasuki setan atau roh ketika ia mengendarai sepeda motor. Ini adalah berita yang sangat menarik karena sejauh sepengetahuan saya belum pernah ada berita mengenai orang yang dimasuki setan atau roh ketika sedang mengendarai sesuatu, entah motor, mobil, kapal laut maupun pesawat terbang. Sangat mengerikan ketika membayangkan jika peristiwa yang serupa (kesurupan) dialami oleh pilot yang sedang menerbangkan pesawat terbangnya.
Ada beberapa pertanyaan yang perlu dikemukakan terkait berita di atas. Pertama, apakah memang bisa yang namanya roh atau setan atau “makhluk halus” masuk ke dalam raga/tubuh/jasmani manusia kemudian mengendalikan atau “mengganggu” aktivitas raga manusia? Sejauh ini tidak ada penjelasan saintifik yang bisa menemukan dan menganalisis fenomena tersebut selain penggunaan istilah “supernatural.” Apa itu “supernatural”? Menurut Kamus Bahasa Indonesia Online, “supernatural” berarti: ajaib (tidak dapat diterangkan dengan akal sehat), gaib, adikodrati. Ya, ketika orang melihat sepintas fenomena kesurupan sepertinya ajaib karena tidak bisa diterangkan dengan akal sehat. Ini bisa terjadi karena pengetahuan orang yang melihat fenomena tersebut terbatas. Artinya, ia tidak atau belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai fenomena kesurupan. Sesungguhnya fenomena kesurupan bisa dijelaskan melalui penelitian otak dan psikologi yang terus mengalami perkembangan dengan didukung oleh penelitian sosial dan antropologi (mungkin Moralizm bisa menjelaskan fenomena kesurupan dari sisi medis).
Pertanyaan kedua yang bisa dikemukakan terhadap fenomena kesurupan seperti diberitakan di atas adalah: apakah mungkin perempuan tersebut mengalami kantuk atau sangat lelah sehingga ia kehilangan konsentrasinya yang mengakibatkan kecelakaan? Artinya, selalu ada kemungkinan jika sebenarnya ia ngantuk ketika mengendarai sepeda motornya sehingga ia membahayakan dirinya sendiri dan orang lain. Kemungkinan seperti ini sama sekali tidak boleh disingkirkan ketika orang hendak mencari tahu dan menjelaskan suatu peristiwa.
Kembali pada definisi “supernatural” menurut Kamus Bahasa Indonesia Online, maka seharusnyalan suatu hal yang belum bisa diterangkan oleh akal sehat tidak bisa disebut sebagai hal yang ajaib. Oleh karena itu, sesuatu yang belum bisa diterangkan dengan akal sehat sama sekali tidak berarti bahwa hal tersebut gaib atau adikodrati. “Fenomena” ini memang merasuki sebagian besar manusia, di mana mereka dengan cepat dan mudahnya mengatakan sesuatu itu sebagai hal gaib dan adikodrati hanya karena hal tersebut belum mampu dijelaskan menggunakan akal sehatnya. Akal sehat manusia sangat dipengaruhi oleh (ilmu) pengetahuan yang dimiliki seseorang. Oleh karena itu, jika seseorang belum mampu menjelaskan suatu hal maka sesungguhnya hal itu terjadi karena pengetahuan orang tersebut yang terbatas.
Keterbatasan (ilmu) pengetahuan manusia hendaknya tidak menjadikan manusia berhenti berpikir dengan menggunakan akal sehatnya. Keterbatasan pengetahuan manusia hendaknya tidak membuat manusia dengan begitu cepat dan mudah menamai atau menyebut hal-hal yang, entah didengar, dibaca, disaksikan, bahkan dialaminya sebagai hal-hal yang gaib dan adikodrati. Tidak ada yang gaib dan adikodrati dalam alam ini, tetapi yang ada hanyalah keterbatasan pengetahuan manusia untuk menjelaskan hal-hal yang oleh banyak orang dianggap sebagai hal-hal yang gaib dan adikodrati tersebut. Ketika hal yang disebut gaib dan adikodrati itu sudah bisa dijelaskan oleh akal sehat manusia, maka sesungguhnya hal itu tidak lagi merupakan sesuatu yang gaib dan adikodrati.

Rabu, 23 Desember 2009

Kesurupan

Sebagian besar orang percaya bahwa tubuh manusia dapat dirasuki oleh roh jahat yang mengakibatkan orang yang tubuhnya dirasuki tidak sadarkan diri lagi, tidak mampu mengendalikan dirinya alias kesurupan. Oleh karena kepercayaan yang begitu kuat mengenai hal tersebut sampai-sampai dibuat film berjudul The Exorcist , bahkan sampai beberapa sekuel. Orang yang mengalami kesurupan akibat dirasuki roh jahat tersebut dapat disembuhkan (roh jahat yang merasuki tubuhnya diusir) melalui ritual yang dilakukan oleh seseorang yang memiliki kemampuan untuk mengusir roh jahat. (Dalam bahasa Inggris orang yang diklaim mampu mengusir roh jahat disebut exorcist.)

Sebagai awam fenomena eksorsisme tersebut cukup menarik perhatian saya. Percaya bahwa di dunia ini hidup bermacam-macam roh (makhluk yang tidak memiliki raga) yang hanya dapat dilihat dan "dirasa" oleh orang-orang tertentu, tentu merupakan hal yang sangat menarik bagi beberapa (mungkin banyak) orang. Menarik pula bahwa ada orang-orang tertentu yang diklaim atau mengklaim diri memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan roh, bahkan mampu mengusir roh jahat yang merasuki tubuh seseorang. Hal-hal tersebut tidak pelak lagi menjadi perhatian sebagian besar orang yang hidup dalam kebudayaan tertentu, termasuk di Indonesia tentunya. Opini publik sangat berperan besar dalam membentuk pandangan masyarakat mengenai fenomena kesurupan tersebut. Ada begitu banyak film layar lebar dan (dulu) tayangan di televisi yang mengangkat berbagai cerita mengenai fenomena itu. Maka tak pelak lagi pandangan masyarakat menjadi semakin kuat terhadap fenomena kesurupan. Ditambah, pandangan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat yang mengatakan bahwa setan atau roh jahat ada di mana-mana, di sekitar manusia. Namun anehnya, ketika ada seseorang yang dianggap kesurupan tiba-tiba selalu ada saja orang yang memiliki kemampuan untuk mengusir roh jahat yang merasuki tubuh orang itu.

Beberapa hasil pengamatan yang cukup dekat dengan fenomena ini pernah saya alami. Ketika seorang teman yang dinyatakan oleh keluarga dan masyarakat mengalami kesurupun ketika sedang duduk di bawah pohon beringin yang sangat besar. Di tengah-tengah masyarakat sudah beredar rumor bahwa pohon itu angker karena ada penunggunya, yakni roh jahat. Maka ketika teman saya mengalami kesurupan keluarga dan masyarakat percaya bahwa ia telah dirasuki roh jahat yang menjadi penunggu pohon besar tersebut. Setelah beberapa kali didoakan, "disembuhkan", dan roh jahat yang merasuki tubuh teman tersebut berhasil diusir oleh pemuka agama setempat, teman saya pun normal kembali. Teman saya itu tidak hanya mengalami kesurupan satu kali, tetapi beberapa kali. Dan setiap kali ia mengalami hal tersebut, maka ritual yang sama (pengusiran roh) dilakukan oleh orang yang sama. Namun, setelah sekian lama saya bergaul dengan dia saya baru tahu ternyata ia mudah mengalami stress, baik di tempat kerja maupun di rumah (dua kali ia kesurupan di tempat kerjanya).

Satu waktu saya kembali mengamati fenomena kesurupan dari jarak yang sangat dekat ketika pembantu perempuan di rumah saudara diklaim mengalami kesurupan. Dikatakan bahwa ia memiliki "ilmu hitam" dan selalu diganggu oleh kakeknya yang telah meninggal. Hal ini dikatakan oleh pembantu tersebut ketika dalam keadaan kesurupan dan yang berbicara langsung adalah roh kakeknya, di mana suaranya berubah menjadi berat dan serak mirip suara kakek-kakek. Uniknya, pembantu tersebut bisa disembuhkan oleh teman saudara saya yang merupakan pemuka agama yang berbeda dengan agama yang dianut oleh pembantu itu. Ia mengalami kesurupan tiga kali dan ketika saudara saya menawarkan dia untuk istirahat dulu dengan pulang kampung, sejak itu ia tidak kesurupan lagi. Ketika saya ngobrol-ngobrol dengannya ternyata terungkaplah bahwa sesungguhnya ia stress dengan bekerja di tempat saudara saya itu, walaupun gajinya cukup tetapi pekerjaannya berat dan ia selalu rindu pulang kampung. Dan ternyata kakeknya yang sudah meninggal itu belum lama meninggal dan sewaktu hidupnya sangat menyayangi pembantu saudara saya itu.

Mereka yang sangat mempercayai fenomena kesurupan juga selalu mendukung hal tersebut dengan menyatakan bahwa tidak mungkin seseorang normal ketika kesurupan memiliki kekuatan yang berlipat-lipat dibandingkan ketika ia berada dalam keadaan normal. Dengan berdasarkan pada hal tersebut, maka mereka menyimpulkan bahwa kekuatan yang berlipat-lipat itu berasal dari roh yang merasuki orang yang kesurupan tersebut. Ini adalah fenomena yang sangat lumrah karena kerja otak manusia mampu mempengaruhi kerja syaraf dan otot tubuh manusia, walaupun dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ternyata fenomena kesurupan tidak lebih karena akibat adanya kerusakan, entah sedikit atau banyak yang terjadi dalam otak orang yang mengalaminya. Berbagai kerusakan mulai dari yang paling ringan seperti epilepsi sampai yang paling berat yakni skisofrenia merupakan hal yang sangat masuk akal untuk menjelaskan fenomena kesurupan tersebut. Dengan demikian, kesurupan bukanlah berarti bahwa jasmani seseorang dirasuki oleh roh jahat melainkan ada jaringan (-jaringan) otak dalam orang itu yang mengalami gangguan/kerusakan.