Tampilkan postingan dengan label Wishful Thinking. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wishful Thinking. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Juni 2010

UFO di Pontianak

Fenomena UFO kali ini muncul di langit Pontianak, setidaknya itulah yang sangat diyakini oleh seseorang bernama Jaka. Ia sendiri bukanlah yang merekam fenomena itu secara langsung. Artinya, rekaman itu bukan berasal dari kamera ponsel miliknya dan bukan ia yang merekamnya melainkan, menurut pengakuannya, berasal dari anak tetangganya. Rupanya hal inilah yang membuat orang tersebut begitu yakin jika benda di langit tersebut adalah UFO padahal sejumlah kejanggalan dapat langsung ditemukan hanya dengan membaca berita tersebut.

Mengenai fenomena benda di langit yang oleh banyak orang (sangat) diyakini sebagai UFO, setidaknya ada dua hal yang bisa dikemukakan: Pertama, orang-orang yang begitu meyakininya sangat mungkin mengalami fenomena yang dinamakan pareidolia. (Beberapa tulisan yang lampau telah mengangkat tema pareidolia dalam kaitannya dengan keagamaan walaupun pareidolia sendiri tidak tertutup pada hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan.) Artinya, orang-orang yang (sangat) yakin akan keberadaan UFO sudah terlebih dulu mempercayai bahwa ada sesuatu yang dinamakan UFO walaupun tidak didukung oleh bukti-bukti yang relevan dan kuat. Biasanya beberapa hal yang disebut/dinamakan bukti itu hanyalah cerita dari mulut ke mulut mengenai UFO dengan semata-mata berdasar pada rekaman video atau foto yang sangat mungkin sebenarnya merupakan pantulan cahaya terhadap benda-benda di darat belaka. Hal-hal ini semakin diperkuat dengan begitu banyaknya film yang bertemakan UFO, seperti The X-Files, E.T., dan Aliens.

Hal kedua yang bisa dikemukakan mengenai orang-orang yang begitu mempercayai keberadaan UFO walaupun tidak didukung oleh berbagai bukti relevan dan kuat adalah self-delusion. Artinya, orang-orang tersebut tetap (sangat) mempercayai adanya UFO walaupun bukti-bukti yang disajikan malah berlawanan dengan "kepercayaan" mereka sehingga mereka disebut mengalami self-deluding. Orang-orang seperti itu tidak mau mengubah pandangannya apalagi "kepercayaan"-nya mengenai suatu hal meskipun pandangan dan "kepercayaan"-nya tidak didasarkan pada berbagai bukti relevan dan kuat. Mereka telah menutup "pikiran"-nya terhadap bukti-bukti yang bertolak belakang dengan pandangan dan "kepercayaan"-nya.

Orang-orang yang tidak mau mengubah pandangan dan "kepercayaan"-nya walaupun bukti-bukti berbicara sebaliknya selalu mendasarkan keyakinannya tersebut pada hal-hal, seperti: perasaan, penglihatan, memori bahkan pengalamannya sendiri. Namun banyak orang tidak menyadari bahwa banyak hal-hal tersebut sangat rentan terhadap self-delusion, self-affirmation, self-deception, dan wishful thinking. Oleh karena itu, perasaan, penglihatan, memori, bahkan pengalaman seseorang sama sekali tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menentukan kebenaran suatu hal.

Kembali pada fenomena UFO di Pontianak, maka hasil rekaman video yang berasal kamera ponsel merupakan bukti yang sangat lemah karena tidak ditunjang oleh bukti-bukti lainnya. Artinya, jika UFO memang benar ada maka dibutuhkan lebih dari rekaman video dan foto. Sekalian lama fenomena UFO muncul dan beredar, masak tidak ada satu bukti fisik
pun yang menunjukkan keberadaan berbagai hal yang berkaitan dengan UFO, seperti: benda, potongan pakaian, pesawat, atau jejak makhluk luar angkasa.

Selasa, 25 Mei 2010

Pengakuan Seseorang >< Kebenaran


Liputan 6.com edisi kemarin, Senin 24 Mei 2010 menurunkan berita singkat yang berjudul “Manusia Tertua di Dunia Ada di Sragen.” Berikut adalah beritanya:
Liputan6.com, Sragen: Saparman Sodimejo, warga Dukuh Segeran, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, Jawa Tengah, dianggap sebagai orang tertua di dunia. Sayangnya Saparman tak ingat tanggal lahir. Ia diperkirakan berusia 140 tahun. Menurut catatan Guinness World Records, manusia tertua saat ini berusia 114 tahun.
Dugaan usia didasarkan pada cerita masa kecil Saparman yang bisa melihat pembangunan pabrik gula Kedung Banteng Gondang. Pabrik gula itu dibangun pada 1880, sekitar 130 tahun silam. Ia juga mengaku pernah melalui zaman Belanda dan Jepang. Saparman juga sempat menikah empat empat kali hingga jumlah cucu dan cicitnya mencapai ratusan orang. Sejauh ini Saparman tetap segar bugar dan mampu melaksanakan pekerjaan sehari-hari dengan baik. Resepnya kata Mbah Saparman yakni hati ikhlas dan pasrah pada Tuhan. (AIS)
===========
Tulisan kali ini bukan hendak serta-merta menolak atau tidak mempercayai berita mengenai manusia tertua di dunia yang hidup di Sragen, Jawa Tengah, melainkan hendak menunjukkan bahwa pengakuan seseorang mengenai pengalaman hidupnya sama sekali tidak bisa dijadikan tolok ukur mengenai kebenaran berita yang dilaporkannya. Artinya, pengakuan atau klaim seseorang tidak bisa dijadikan ukuran untuk menentukan kebenaran sesuatu yang diakui atau diklaimnya.

Banyak orang seringkali mengatakan bahwa suatu peristiwa dialami dan/atau dilihatnya langsung, namun itu pun tidak bisa dijadikan ukuran untuk menentukan bahwa pengalaman dan penglihatannya sebagai sesuatu yang benar. Sebagian besar orang menyatakan bahwa karena ia mengalami dan melihatnya langsung, maka peristiwa yang dialami atau objek yang dilihatnya adalah benar, tepat, dan akurat. Kenyataannya tidaklah demikian. Mengapa demikian? Karena pengalaman, penglihatan, terlebih perasaan manusia seringkali dipenuhi oleh bias, self-confirmation, self-deception, wishful thinking, dan delusinasi. Namun sayangnya keempat hal ini seringkali tidak disadari oleh sebagian besar orang.

Dengan demikian, pengakuan seseorang tidak bisa diandalkan untuk mengetahui dan menilai kebenaran berita yang dilaporkannya. Pengakuan manusia tidak bisa dan tidak boleh mudah dipercaya karena sangat lemah yang seringkali keliru, meleset, bahkan salah. Oleh karena itu, yang diperlukan orang ketika menganalisis pengakuan, pernyataan, ataupun klaim seseorang adalah menilai, mempertimbangkan, dan terus mengujinya dengan berbagai data relevan yang ditopang oleh argumen-argumen yang dilandaskan pada akal sehat yang juga terus diuji. Kata yang bisa digunakan untuk merangkum tujuan tulisan ini adalah: KRITISISME.