Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Januari 2012

Maaf dalam Doa

Tidak jarang orang mengaitkan kematian dengan agama dan/atau tuhan, namun sebaliknya hanya segelintir orang yang memahami bahwa peristiwa kematian merupakan hal yang wajar alias normal karena dialami oleh setiap makhluk hidup. Oleh karena kematian oleh banyak orang dianggap berkaitan tuhan maka ketika kematian terjadi mereka membawa-bawa tuhan. Hal inilah yang juga dialami oleh perempuan muda yang karena mabuk telah mengakibatkan kematian sembilan orang. Dalam surat yang ditulisnya di balik jeruji ia memohon maaf kepada banyak pihak termasuk tuhan. Dalam surat yang janggal -- selain meminta maaf kepada tuhan, perempuan muda tersebut juga memohon maaf dari, serta mendoakan para korban -- itu si pemohon maaf kepada tuhan layaknya sebagai figur yang nyata dan hidup.

Mengapa "figur" tuhan dianggap sebagai sesuatu yang nyata dan hidup oleh banyak orang, khususnya yang beragama, sekalipun keberadaan figur tersebut, sampai saat ini, tidak dapat dibuktikan secara jasmani? Salah satu penjelasan yang sederhananya adalah bahwa karena kepada mereka diajarkan dan ditanamkan untuk percaya akan adanya figur tersebut sejak kecil tanpa mempertanyakan apalagi meragukan, "apakah figur tersebut memang benar nyata dan hidup."

Mereka yang percaya pada keberadaan tuhan selalu mendasarkan kepercayaannya pada, selain ajaran yang diterima sejak kecil, juga pada "perasaan" dan pengalaman pribadi dengan figur tuhan tersebut. "Perasaan" dan pengalaman pribadi inilah yang disebut mereka dengan pengalaman spiritual. Jika "perasaan" dan pengalaman tersebut memang benar adanya, mengapa tidak setiap orang "merasakan" dan "mengalami" perjumpaan dengan figur yang disebut tuhan, allah, ataupun "kuasa" pribadi yang  mengendalikan manusia? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut cukup sederhana, yakni: "perasaan" dan pengalaman spiritual bersifat sangat subjektif karena berasal dari bentukan sejak kecil dan juga bisa diperkuat oleh lingkungan sekitar.

Kedua hal tersebut, jika tidak dipikirkan secara kritis, akan terus tertanam dalam pemikiran orang yang meyakininya. Apa artinya? "Perasaan" dan pengalaman mengenai tuhan merupakan "benih" dalam otak yang oleh orang yang mempercayainya dianggap sebagai sesuatu yang nyata dan hidup di luar dirinya. Namun sesungguhnya hal tersebut berada dalam pikirannya semata. Oleh karena "figur" tuhan dipahami berada di luar diri manusia, maka orang-orang yang mempercayainya pun memanjatkan doa pada figur tersebut. Tuhan dipercaya sebagai "figur" maha pemaaf dan pemurah layaknya manusia meskipun manusia bukan yang "maha."

Jika tuhan, allah, ataupun "kuasa" pribadi yang mampu mengendalikan manusia hanyalah berada dalam pikiran manusia, dan tidak berada di luar manuasia, maka dialamatkan ke manakah doa-doa yang dipanjatkan oleh begitu banyak orang? Jika pertanyaan tersebut dialamatkan kepada saya, maka jawabannya pun sangat sederhana dan singkat, "Jangan tanya saya karena saya tidak berdoa."

Kamis, 25 November 2010

Agama > Delusi > Pembunuhan

Fakta sangat mengerikan kembali terjadi di mana agama kerapkali membuat orang-orang yang memeluknya mengalami delusi. Tidak berhenti di situ, agama pun tidak jarang membuat para pemeluknya tega melakukan tindakan yang sangat kejam, misalnya: membunuh. Contoh terkini seorang penganut agama yang tega berlaku keji, bahkan terhadap ibunya sendiri, ditemukan dalam diri seorang aktor Aktor Hollywood berkebangsaan Amerika Serikat. Aktor itu memenggal ibunya sendiri dengan sebilah samurai seraya di tangan lainnya memegang Alkitab. 

Meski kepada laki-laki tersebut segera akan dilakukan pemeriksaan psikologi untuk menentukan apakah ia mengalami penyakit atau gangguan tertentu yang membuatnya dengan keji telah memenggal ibunya sendiri, besar kemungkinan tindakan keji yang dilakukannya dipicu oleh pemahaman agamanya yang sangat mengerikan. Pemahaman agama yang sarat dengan kekerasan dan darah itulah yang membuat laki-laki itu mengalami delusi sehingga kemudian membunuh ibunya sendiri. 

Ini merupakan hal yang sangat mungkin terjadi karena banyak ayat dan kisah dalam Alkitab yang memang mengumbar dan menggambarkan kekerasan yang penuh darah, khususnya dalam bagian Perjanjian Lama. Jadi, sama sekali tidak mengherankan jika kisah-kisah tersebut bisa sampai membakar semangat umat Kristen untuk bertindak keras, karena "kitab suci"-nya sendiri pun memuat bahkan membenarkan kekerasan itu. Sesuatu yang sangat mengerikan! 

Mungkin ada pendapat yang menentang pandangan di atas dengan mengatakan: "Jangan salahkan agama dan/atau kitab sucinya melainkan orangnya, karena itu semua bergantung pada pemahaman masing-masing orang." Pendapat ini sangat lemah karena malah semakin memperlemah kedudukan agama dan "kitab suci" (dhi. Alkitab) agama tersebut, bukankah agama serta "kitab suci"-nya dibuat oleh manusia? Jika yang dipersalahkan adalah orangnya, berarti orang-orang yang membentuk agama dan membuat/menyusun "kitab suci"-lah yang memiliki kesalahan terberat karena mereka telah mengakibatkan begitu banyak orang di zaman-zaman setelah mereka bertindak keji. Artinya, para pembentuk agama dan pembuat/penyusun "kitab suci" itulah yang telah memicu peristiwa berdarah atas nama agama terjadi selama ribuan tahun, bahkan hingga saat ini. 

Jika dikatakan: "bergantung pada pemahaman masing-masing orang beragama", ini pun sangatlah lemah karena pertanyaan menjadi: apakah tolok ukurnya? agama? "kitab suci"? Jika begitu banyak orang beragama mengatakan bahwa agama yang benar mengajarkan kasih dan perdamaian, dan ketika ada orang beragama bertindak kejam atas nama agamanya dianggap memiliki pemahaman yang salah atau minim terhadap agamanya (menyalahkan orang tersebut), maka argumen ini (seharusnya) membawa orang yang mengatakannya pada pertanyaan dan masalah yang sudah muncul di paragraf sebelumnya.

Bagaimana dengan kenyataan bahwa lebih banyak orang beragama (dhi. Kristen) berlaku penuh kasih? Ada dua kemungkinan: pertama, mereka tidak mengetahui bahwa latar belakang agama yang dipeluknya penuh dengan kekerasan dan banyak kisah dalam Perjanjian Lama yang bernuansa pertumpahan darah, atau, kedua, mereka mengetahui kedua hal tersebut, namun mengacuhkannya dan menganggapnya tidak ada. Sikap yang pertama menunjukkan minimnya pengetahuan orang tersebut mengenai agama dan "kitab suci"-nya sendiri dan keengganan untuk belajar, sedangkan sikap yang kedua berarti orang tersebut bohong dan munafik. Bukankah hal-hal ini dilarang oleh agama Kristen?

Kembali pada berita di atas, jelas, agama membuat para penganutnya mengalami delusinasi, dan dapat mendorong orang-orang beragama untuk bertindak keras terhadap sesamanya serta memiliki kecenderungan membahayakan keberadaan sekitarnya. Jika tindakan keji seperti yang dilakukan laki-laki dalam berita tersebut - memenggal ibunya sendiri - bisa dilakukan, maka juga ada kemungkinan (bahkan lebih besar kemungkinannya) jika orang-orang beragama akan bertindak keras terhadap orang-orang yang berbeda paham dengan diri atau kelompoknya. 

Dengan demikian, tidaklah tepat jika dikatakan agama (dhi. Kristen) adalah agama yang mengedepankan dan menguatamakan ajaran kasih, atau mengatakan Kristen adalah agama kasih, karena pernyataan ini tidak didukung oleh kenyataan yang terjadi. Kenyataannya malah terbalik 180%, di mana bukan kasih yang muncul melainkan kekejaman.

Jumat, 12 November 2010

Kejahatan X Kebaikan

Begitu banyak orang beranggapan dan percaya jika kesurupan terjadi akibat unsur yang berasal dari luar tubuh seseorang (seperti: hantu/makhluk halus) kemudian hantu tersebut merasuki tubuh orang itu. Dengan demikian, begitu banyak orang mengatakan bahwa kesurupan diakibatkan oleh gangguan yang dialami manusia berasal dari luar unsur tubuhnya. Apakah benar demikian? Pandangan ini salah dan cenderung menyederhanakan persoalan dengan meniadakan unsur yang berasal dari dalam tubuh manusia.   

Contoh kesurupan yang dipercayai hanya akibat yang berasal dari luar tubuh manusia adalah terjadi baru-baru ini di Bangkalan, Madura, di mana sekitar 10 siswa mengalami kesurupan. Peristiwa kesurupan terjadi ketika para siswa tersebut sedang mengikuti salah satu kegiatan yang diadakan sekolah. Namun, pihak sekolah segera menyatakan bahwa anak-anak yang kesurupan itu bukan akibat kegiatan sekolah yang diadakan sekolah melainkan hal lainnya, seperti: 
1. Sekolah akan mengadakan kegiatan agama.
2. Sekolah menebang beberapa pohon besar di lingkungan sekolah.

Pihak sekolah menganggap jika kedua hal ini menjadi penyebab kesurupan yang dialami anak-anak akibat "penunggu" sekolah tidak suka/marah sehingga "penunggu" itu merasuki beberapa siswa. Dengan demikian, pihak sekolah menolak jika acara yang diadakan sekolah sebagai penyebab beberapa anak mengalami kesurupan dan lebih "menyalahkan" sesuatu yang bernuansa supernatural. Ini artinya, sekolah lebih percaya pada sesuatu yang tidak kasat mata ketimbang yang kasat mata dan memiliki materi.

Mengapa hal demikian bisa terjadi? Hal seperti itu bisa terjadi karena  hal-hal yang bernuansa supernatural lebih misterius dan seru dibandingkan hal-hal yang terlihat kasat mata. Hal-hal yang tidak kasat mata bisa membuat merinding ketimbang hal-hal materil yang tidak bisa membuat bulu kuduk berdiri. Hal ini sejajar dengan agama dan kepercayaan kepada Tuhan, di mana bisa membuat manusia takjub, merinding, bahagia, bahkan menangis. Artinya, manusia menggemari hal-hal yang membuat emosinya "naik-turun" karena sesuatu yang misterius dan tidak kasat mata. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan ketika melihat/mengetahui bagaimana cara manusia menangani fenomena kesurupan, yakni dengan membacakan ayat-ayat yang berasal dari "kitab suci."

Pembacaan ayat-ayat "kitab suci" yang ditujukan bagi orang-orang yang mengalami kesurupan didasarkan pada kepercayaan bahwa kesurupan diakibatkan oleh sesuatu supernatural yang jahat, oleh karenanya harus dilawan oleh sesuatu supernatural juga, namun yang baik. Jadi, ada pemikiran banyak orang bahwa sesuatu yang tidak kelihatan harus diperhadapkan dengan sesuatu yang tidak juga tidak kelihatan, dan karena kesurupan diakibatkan oleh hantu, maka harus dilawan oleh Tuhan. Kejahatan harus dilawan oleh kebaikan. Akibatnya, banyak orang meniadakan atau tidak mempedulikan hal-hal yang sesungguhnya kasat mata. Artinya, orang lebih mempercayai hal-hal yang tidak kelihatan (supernatural) ketimbang hal-hal yang keliatan (material). 

Contoh inilah yang ditemukan dalam berita di atas ketika pihak sekolah bukannya memperhatikan kegiatan telah dan sedang dilakukan anak-anak melainkan membiarkan pikirannya dikuasai oleh hal-hal yang tidak kelihatan. Pihak sekolah sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan jika kegiatan yang diadakannya telah membuat beberapa anak merasa tidak nyaman, dan anak-anak yang tidak merasa nyaman tersebut tidak memiliki pikiran yang kuat sehingga mereka mengalami kesurupan. Inilah salah satu contoh nyata (lagi) di mana manusia lebih mempercayai sesuatu yang supernatural ketimbang material. Akibatnya, penanganan yang diberikan pun sangat sederhana bahkan ga nyambung karena menafikan psikologi serta melibatkan orang-orang yang keliru.

Jumat, 29 Oktober 2010

Kesurupan & "Kitab Suci"

Apakah seorang yang mengalami fenomena kesurupan bisa disembuhkan atau ditanggulangi dengan meningkatkan tradisi membaca "kitab suci?" Atau, apakah peristiwa kesurupan bisa ditekan atau diminimalisasi dengan cara mengadakan pembacaan "kitab suci?" Jawaban yang diberikan adalah positif, setidaknya inilah yang dipercaya Kepala Sekolah Menengah Kejuruan I Kota Bengkulu setelah beberapa siswanya kesurupan. Apakah dengan membaca "kitab suci" mampu menghindarkan seseorang dari kesurupan atau apakah kebiasaan membaca "kitab suci" bisa mempengaruhi emosi seseorang sehingga orang tersebut bisa terhindar dari kesurupan?

Pandangan yang mengatakan bahwa kegiatan beragama, seperti salah satunya, mengadakan pembacaan "kitab suci" dapat mempengaruhi emosi seseorang masih sangat kuat mempengaruhi pikiran masyarakat luas, khususnya di Indonesia. Dalam tingkatan tertentu, kegiatan beragama bisa saja membuat seseorang - tentunya yang beragama - merasa lebih tenang, terkendali, dan adem. Mereka yang percaya jika kegiatan beragama bisa mengendalikan emosinya mengatakan bahwa agama membawa dan melahirkan kebahagiaan  dan ketenangan batin. Bahkan tidak jarang juga jika hal tersebut "tertular" atau setidaknya, sampai dilihat oleh orang lain sehingga orang lain pun turut merasa tenang. Namun demikian, pandangan yang mengatakan bahwa kegiatan beragama bisa membuat orang beragama tenang amatlah lemah karena sekian kasus kesurupan yang terjadi di Indonesia malah dialami oleh orang-orang yang, setidaknya mengklaim diri sebagai orang beragama. Jika demikian adanya, maka klaim yang mengatakan bahwa kegiatan beragama bisa menenangkan bahkan mengendalikan emosi seseorang bersifat subjektif karena tidak terbukti pada orang lain.

Emosi yang dialami setiap orang tidak turun dari langit melainkan dibentuk, baik oleh bawaan gen yang dimiliki orang yang bersangkutan maupun lingkungan di mana orang itu hidup. Jika kegiatan beragama dianggap sebagai salah satu hal yang termasuk ke dalam unsur lingkungan/sosial, maka mungkin saja emosi seseorang bisa dipengaruhi oleh kegiatan beragama yang dilakukannya. Bagaimana dengan pembacaan "kitab suci?" Bukankah itu juga termasuk dengan kegiatan? Ya, dalam pengertian yang sangat sempit, namun tidak dalam pengertian yang lebih luas. Jika membaca "kitab suci" dilakukan secara pribadi aktivitas tersebut merupakan aktivitas yang lebih mengarah pada diri sendiri. Jika aktivitas membaca "kitab suci" dilakukan secara berkelompok, maka sesungguhnya yang terjadi adalah sugesti yang diperoleh seseorang atau beberapa orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Jadi, bukan "kitab suci" yang mampu membuat seseorang merasa tenang atau mengendalikan emosinya melainkan "perasaan" subjektif yang dimiliki orang yang bersangkutan karena sejak awal sudah datang dengan membawa keyakinan bahwa dirinya akan merasa tenang karena membaca "kitab suci."

Apakah dengan demikian kegiatan membaca "kitab suci" bisa diperhitungkan sebagai aktivitas yang mampu menenangkan atau mengendalikan emosi seseorang? Jawabannya adalah: ya dan tidak. Ya, jika seseorang memiliki keyakinan yang begitu kuat bahwa hal yang dilakukannya bisa menenangkan dirinya. Ini artinya, bukan "kitab suci" yang mampu membuat "perasaan" orang tersebut tenang melainkan pikirannya sendiri. Tidak, jika orang menempatkan aktivitas membaca "kitab suci" dalam konteks lebih luas, di mana kegiatan tersebut melibatkan orang lain. Jadi, bukan kegiatan membaca "kitab suci" yang membuat seseorang menjadi tenang atau adem melainkan suasana tertentu yang dialami orang tersebut ketika ia berada dalam kegiatan membaca "kitab suci" secara berkelompok.

Dengan demikian, kegiatan membaca "kitab suci" tidak bisa mempengaruhi emosi seseorang atau tidak bisa membuat "perasaan" seseorang menjadi lebih tenang. Ini berarti bahwa tidak ditemukan hubungan antara "kitab suci" dan kesurupan yang bisa membuat orang berkesimpulan bahwa tindakan/aktivitas membaca "kitab suci" mampu menekan atau menghindari orang dari kesurupan karena kesurupan terjadi akibat lemahnya pengendalian emosi yang dilakukan seseorang yang berbenturan dengan fenomena sosial yang dihadapinya. Jika ini yang terjadi, maka rencana mengadakan kegiatan membaca "kitab suci" dalam upaya menanggulangi kesurupan merupakan tindakan yang menyederhanakan masalah karena kesurupan merupakan masalah psikologi sekaligus sosiologis, oleh karenanya tidak bisa ditanggulangi oleh kegiatan membaca "kitab suci."

Minggu, 10 Oktober 2010

Apa Salah Mereka?!

Masyarakat yang simpatik dan mendukung kesetaraan hak yang patut diterima kaum minoritas (gay) memperoleh perlakuan yang sangat tidak terpuji dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Peristiwa tidak manusiawi tersebut terjadi di ibukota Serbia, Belgrade, ketika kelompok Hak Gay mengadakan parade. Sekalipun acara tersebut berada di bawah pengawasan kepolisian, namun hal tersebut tidak menghambat para pemrotes menyerang kaum minoritas tersebut dengan bom minyak tanah dan batu. 

Peristiwa serupa di lokasi yang sama ternyata pernah terjadi beberapa tahun silam (2001) dan ketika itu kejadian yang mencoreng nilai-nilai kemanusiaan itu dipicu oleh kelompok "sayap kanan" (orang-orang beragama) di negeri itu.

Mengapa orang-orang yang tidak setuju terhadap gerakan penyetaraan hak gay menyerang kaum minoritas? Apakah yang telah dilakukan kaum gay Serbia sehingga orang-orang tidak menusiawi itu melakukan tindakan yang sama sekali tercela dan tidak terpuji? Apakah salah mereka sehingga para pemrotes dengan tega menyerang mereka dengan bom minyak tanah dan batu? Apalagi jika peristiwa yang merusak nilai-nilai kemanusiaan itu dilakukan oleh orang-orang yang mengaku bermoral karena beragama. Bukankah ironis ketika kaum yang selama ini mengagung-agungkan perbuatan baik dan cinta kasih malah menyerang dan menyakiti sesamanya?

Rabu, 06 Oktober 2010

Aksi Solidaritas

Beberapa Rabi dan warga Yahudi mendatangi desa Beit Fajjar setelah salah satu Masjid di wilayah Tepi Barat itu diserang dan dirusak sekelompok orang tidak dikenal, walaupun diduga kuat perbuatan keji tersebut dilakukan orang-orang Yahudi. Tindakan yang dilakukan oleh beberapa Rabi dan warga Yahudi yang mendatagi desa Beit Fajjar itu  dianggap sebagai gerakan solidaritas terhadap warga Muslim Palestina yang tinggal di desa itu secara khusus, dan wilayah Tepi Barat secara umum. Ketika melakukan aksi solidaritasnya tersebut mereka pun membawa selusin Al-Quran untuk disumbangkan bagi warga Muslim yang beribadat di Masjid yang mengalami serangan itu.

Di satu sisi aksi yang dilakukan beberapa Rabi dan warga Yahudi tersebut bisa dianggap sebagai tindakan solidaritas terhadap warga Muslim Palestina yang mengalami serangan. Setidaknya, tindakan mereka tersebut bisa memberikan gambaran kepada warga Muslim Palestina bahwa tidak semua orang Yahudi berlaku keras sehingga diharapkan warga Muslim Palestina tidak melakukan stereotipe dan takut, bahkan membenci semua orang Yahudi. Untuk hal ini tindakan beberapa Rabi dan warga Yahudi yang tinggal di sekitar desa Beit Fajjar tersebut perlu dijadikan teladan karena mereka berusaha menenangkan sesamanya yang mengalami tindak kekerasan.

Namun di sisi lain, aksi solidaritas yang dilakukan beberapa Rabi dan warga Yahudi tersebut sangat mungkin menjadi sia-sia jika di antara pihak-pihak (Yahudi dan Palestina) yang bertikai terus melakukan aksi terornya dengan berdasar pada agama yang dianutnya. Ketika suatu tindakan yang mengancam kesejahteraan dan keselamatan orang lain didasarkan pada tradisi agama ("kitab suci" merupakan salah satu tradisi dalam agama), maka sesungguhnya agama tersebut telah gagal menuntun para pengikutnya untuk bertindak manusiawi. Agama yang selama ini diagung-agungkan dapat membawa manusia (baca: pengikutnya) menjadi lebih baik (manusiawi) ternyata malah membawa manusia pada jalan kekerasan. Jika demikian, agama tidak mampu membawa manusia pada keadaan yang lebih baik, tetapi sebaliknya, malah mengakibatkan manusia menjadi tidak manusiawi.

Aksi solidaritas yang dilakukan beberapa Rabi dan warga Yahudi seperti dalam berita di atas akan sia-sia jika tidak didukung oleh pemerintah, baik pemerintah Israel maupun Palestina, yang lebih mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Ketika berbagai aksi kekerasan yang dilakukan atas nama agama masih terus terjadi, maka sudah waktunya bagi manusia untuk meninjau kembali agama (-agama) yang ada, apakah masih relevan atau tidak. Jika ya, mengapa masih terjadi kekerasan yang dilakukan berdasarkan agama. Jika tidak, berarti agama sudah usang dan tidak perlu dijadikan dasar lagi sebagai kehidupan manusia, karena jika tetap dijadikan dasar, mau sampai kapan korban kekerasan akibat agama terus berjatuhan?

Kamis, 30 September 2010

Iman >< Pengetahuan

Banyak orang seringkali dengan keliru menghubungkan antara keberimanan dan pengetahuan yang dimiliki seseorang karena kedua hal tersebut sesungguhnya seringkali tidak saling mempengaruhi. Inilah yang terjadi di AS - berdasar pada sebuah survei - di mana kaum ateis AS memiliki pengetahuan yang cukup, bahkan mereka memiliki pengetahuan agama (dhi. Agama Kristen) yang lebih dalam daripada kaum teis dan/atau beragama itu sendiri. Hal ini menegaskan pernyataan seorang fisikawan AS yang mengatakan bahwa warga AS - walaupun bukanlah keseluruhan warga AS - tertarik untuk mengetahui landasan agama Kristen.

Berdasar pada hasil sebuah survei yang dilakukan dari Mei sampai Juli tahun ini dan pernyataan fisikawan tadi, orang bisa melihat bahwa yang dibicarakan adalah "pengetahuan," bukannya "iman" atau keberimanan. Jadi, kata kuncinya adalah "pengetahuan" dan bukannya "iman." Meski pengetahuan dalam pengertian tertentu (dibentuk/dipengaruhi oleh tradisi atau otoritas) yang dimiliki seseorang bisa saja mempengaruhi keberimanannya, entah mempertegas ataupun malah menolak imannya, namun seringkali atau bahkan lebih sering jika iman dan pengetahuan tidak saling mempengaruhi alias tidak berkaitan. Alasannya? Lihat saja banyaknya orang yang beragama dan/atau bertuhan, entah secara sadar ataupun tidak sadar, secara tersistematisasi (belajar serius) ataupun hanya ikut-ikutan karena tradisi atau diturunkan beragama karena keturunan. Dengan masih banyaknya orang yang, entah yang mengaku ataupun tidak mengaku beragama dan/atau bertuhan, maka dengan demikian bisa dikatakan bahwa iman seseorang tidak dipengaruhi oleh pengetahuan walaupun pengetahuan (berbagai bukti yang ada) yang bertolak belakang dengan iman seseorang sangatlah banyak. Namun hal tersebut tidak membuat banyak orang beragama/bertuhan mengubah pendirian/pandangan/kepercayaannya terhadap agama dan/atau keberimanan yang dianutnya.

Bagaimana dengan orang-orang yang mengubah pendirian atau kepercayaannya terhadap agamanya sendiri, entah dengan memeluk agama lain (pindah agama) ataupun meninggalkan agama sama sekali dengan menjadi, misalnya, ateis? Bukankah orang-orang yang berpindah ataupun meninggalkan agama, sedikit-banyaknya dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimilikinya? Kemungkinan besar ya, namun bukan pengetahuan-lah yang menyebabkan mereka memutuskan untuk mengubah pandangan dan pendiriannya melainkan argumentasi-argumentasi yang berasal dari pemikiran akal sehat mereka. Pengetahuan pada dirinya sendiri sesungguhnya tidak memiliki kekuatan atau pengaruh apapun pada diri seseorang jika orang tersebut tidak mengolah pikiran dan melakukan permenungan. (Permenungan yang dimaksud di sini bukanlah berfokus pada meditasi walaupun hal itu sah-sah saja dilakukan orang dan membuatnya mengubah pandangan dan pendiriannya setelah bermeditasi. "Permenungan" yang dimaksud di sini adalah melakukan analisis yang serius dan mendalam terhadap objek tertentu.) 

Dengan demikian, pengetahuan saja tidak cukup mampu mengubah pandangan seseorang karena yang dibutuhkan lebih dari itu. Oleh karena itu, yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk berpikir secara cermat dan tajam serta keberanian menyatakan diri dengan jelas dan tegas, setidaknya, terhadap diri sendiri, di mana semuanya itu dilakukan dengan kesadaran penuh dan tersistematisasi dengan baik. Apapun posisi seseorang, entah ia adalah seorang percaya yang beriman terhadap figur yang disebut, dipanggil, dan dinamakan Tuhan atau Allah  atau Brahma atau yang ilahi, ataupun ia seorang ateis yang tidak mempercayai keberadaan figur yang lebih "tinggi" yang melampaui, bahkan mengendalikan hidup dan alam semesta ini, orang tersebut harus mampu menjelaskan posisinya tersebut dengan jelas dan tegas (sekali lagi, setidaknya, pada dirinya sendiri) dengan mengemukakan berbagai argumentasi yang runut, masuk akal, dan jelas.

Apakah dengan demikian pengetahuan tidak diperlukan karena tidak penting? Pengetahuan sangatlah penting karena bisa merangsang orang untuk berpikir lebih dalam sekaligus luas dan tiada henti. Namun, pengetahuan jika tidak ditopang oleh argumentasi-argumentasi yang runut dan jelas serta keputusan diri yang dilakukan secara sadar, mandiri, dan disistematasi, maka sesungguhnya pengetahuan menjadi sesuatu yang kosong dan sia-sia belaka. Pengetahuan pada dirinya sendiri merupakan sesuatu yang baik, namun yang baik itu menjadi semakin nyata dan bermanfaat ketika orang mampu menyerap dan menggunakan pengetahuan itu untuk menjelaskan posisinya secara sadar dan bertanggung jawab.

Rabu, 29 September 2010

Panik Akibat Dugaan

FPI melancarkan protes dan demonstrasi terhadap pemutaran film yang dilakukan di Pusat Kebudayaan Jerman Goethe House, Jakarta Pusat, karena mereka menduga film tersebut berisi kampanye tentang hubungan sesama jenis. Mereka menganggap film tersebut sangat tidak sesuai dengan ajaran agama dan dapat merusak moral bangsa terutama generasi muda. Tindakan FPI tersebut sangatlah konyol karena sangat mungkin belum ada di antara mereka yang menonton film itu, namun sudah melancarkan aksi. Sikap inilah yang masih banyak dianut orang di mana mereka belum membaca, menyaksikan, atau melihatnya sesuatu melainkan  hanya mendengarnya dari orang lain (komentar orang bahkan gosip), tetapi sudah memberikan komentar, bahkan aksi protes yang hanya berdasar pada pengamatan orang lain. Inilah konyolnya di mana banyak orang bersikap sok tahu terhadap sesuatu padahal hal itu sama sekali tidak diketahuinya atau ia memiliki pengetahuan yang minim mengenai hal itu, tetapi bersikap seolah-olah mereka mengetahui betul hal tersebut.

Sesungguhnya tindakan seperti yang dilakukan FPI tidaklah aneh, namun cukup membuat kening mengerenyit akibat aneh, bahkan mengakibatkan tawa sangking konyol. Ditambah tindakan FPI yang memprotes keras pemutaran film itu karena mengaitkannya dengan agama dan moral bangsa secara keseluruhan. Sepertinya mereka lupa atau memang tidak tahu jika banyak hal dalam seni yang tidak sejajar dengan agama alias bertentangan. Jangan lupa, film yang diputar dan kemungkinan besar juga akan diputar di pusat-pusat kebudayaan lainnya di Jakarta itu memang bukan film agama. Mungkin saja film itu memang berdasar pada kisah nyata, namun tetap saja itu hanya merupakan sebuah film. 

Dengan demikian, pahamilah film sebagai sebuah karya seni bukan sejarah sekalipun film tersebut berkisah tentang sejarah. Artinya, dalam sebuah karya seni ada unsur-unsur yang tidak bisa dipahami melalui sudut agama karena memang sudut pandangnya yang berbeda. Agama pun merupakan cara pandang orang terhadap sesuatu yang coba dipahami dan direfleksikan berdasar konteks di mana orang itu berada. Demikian pun dengan film, karena mencoba menampilkan segi tertentu mengenai sebuah objek atau suatu peristiwa. Oleh karena itu, pandangan dan penilaian masing-masing orang tentu berbeda. Kesalahannya - seperti yang dilakukan FPI - ketika orang mencampuradukkan, bahkan memasukkan sudut pandangnya terhadap sesuatu yang dibaca, dilihat, atau disaksikannya. Tanpa disadari orang tersebut sesungguhnya ia telah memperkosa sebuah ide atau objek yang dibaca, dilihat, atau disaksikannya karena ia berusaha memasukkan pemikirannya sendiri.

Kekonyolan yang juga banyak dilakukan orang - seperti juga dilakukan FPI - adalah menarik suatu peristiwa "kecil" menjadi persoalan yang begitu besar atau luas. Yang dilakukan oleh Goethe House Institute Jakarta hanyalah memutar sebuah atau beberapa film. Namun, hal itu dianggap FPI (mungkin juga banyak orang lainnya) bisa mempengaruhi pikiran banyak orang, tidak peduli apakah mereka menonton atau tidak menonton film (-film) tersebut. Apakah sebuah atau beberapa film mempengaruhi pikiran orang? Sangat mungkin. Namun apakah sebuah atau beberapa film mempengaruhi masyarakat? Sangat diragukan. Dalam konteks Indonesia, film tidak mempengaruhi masyarakat secara luas, namun individu-individu-lah yang mempengaruhi masyarakat secara luas. Artinya, individu-individu tertentu yang memiliki dan dianggap sebagai otoritas dalam masyarakat yang sangat bisa memberikan pengaruh yang lebih luas, dimulai dari kelompoknya sendiri. Dengan demikian, dalam konteks Indonesia, kekuatan sebuah atau beberapa film untuk mempengaruhi pikiran masyarakat Indonesia tidaklah begitu kuat/besar seperti yang dipikir, diduga, dianggap, atau dipercaya FPI dan  mungkin banyak orang lainnya karena yang memiliki kekuatan yang sangat besar untuk mempengaruhi bahkan mengendalikan pikiran masyarakat adalah otoritas-otoritas tertentu dalam masyarakat yang bergerak mulai dari kelompoknya sendiri. Jelas, sikap FPI menunjukkan kepanikan yang berlebihan terhadap sesuatu yang sesungguhnya "kecil" karena kemungkinannya untuk mempengaruhi masyarakat luas sangatlah tipis.

Terakhir, apa yang dilakukan FPI - terlepas dari film yang telah dan akan diputar - malah sangat mungkin akan membuat banyak orang yang tidak mengetahui film tersebut (karena awalnya hanya diputar di pusat-pusat kebudayaan di Jakarta) penasaran ingin menyaksikan film tersebut karena rencananya film tersebut akan ditayangkan di bioskop-bioskop, selain juga di kampus-kampus. Jadi, yang dilakukan FPI bukannya menghambat atau menutup "akses" kepada orang banyak, tetapi sebaliknya, mereka malah membuat banyak orang tahu mengenai "keberadaan" film tersebut dan sangat mungkin akan membuat orang banyak ingin menyaksikan film tersebut, entah di bioskop ataupun membeli DVD bajakannya. Jika ini yang terjadi, maka ucapan "terima kasih" tidak layak dilayangkan kepada FPI karena mereka telah membuat film itu menjadi diketahui masyarakat (baca: warga Jakarta) luas. Jika film yang diputar berjudul Fucking Different Tel Aviv, maka kata-kata yang tepat untuk tindakan FPI tersebut adalah: Fucking Silly FPI.

Minggu, 26 September 2010

Apa Hubungannya?

Berita mengenai aksi Patrick Mahoney - seorang pendeta - yang membagi-bagikan Al-Quran ke seluruh gereja yang ada di New York memang terdengar cukup melegakan, khususnya bagi kaum Muslim dan Nasrani AS yang beberapa minggu lalu sangat resah dengan rencana Terry Jones yang akan membakar Al-Quran (walaupun kabar terakhir mengatakan bahwa Jones urung melakukan rencananya tersebut). Namun, tujuan membagi-bagikan Al-Quran ke gereja-gereja di New York itu sangatlah aneh karena, menurut Mahoney, pembagian Al-Quran itu dilakukan agar kaum Nasrani dapat mendoakan kaum Muslim

Setidaknya dua pertanyaan segera muncul setelah membaca kalimat tersebut: 

1. Apa hubungan antara "kitab suci" dengan doa? Apakah ini mengandaikan bahwa orang beragama/bertuhan tidak bisa berdoa tanpa adanya "kitab suci"? Ditambah, "kitab suci" yang dimaksud adalah milik agama lain. Bukankah orang beragama/bertuhan tetap bisa mendoakan orang lain (mereka yang beragama lain) meski tanpa memiliki "kitab suci"-nya karena doa adalah perkara iman yang tidak perlu melibatkan "kitab suci."

2. Apakah warga New York yang pergi ke gereja (Kristen) dan menerima Al-Quran bisa membacanya karena buku itu ditulis dalam bahasa Arab? Kemungkinan besar tidak. Jika demikian, apa gunanya Al-Quran di tangan orang-orang (baca: Kristen) yang tidak memiliki kemampuan membaca dan memahami bahasa Arab? Bukankah tindakan tersebut hanyalah kesia-siaan belaka?

Jelas, tindakan Mahoney tidak lebih dari suatu upaya untuk "mendinginkan" suasana keberagamaan di AS, yang di satu sisi ada baiknya. Namun di sisi lain, tindakannya tersebut bisa tidak memiliki arti atau manfaat apapun karena tidak adanya hubungan antara tindakan dan tujuannya melakukan hal tersebut. Selain itu, jika ia bersama kaum Nasrani dan Muslim, baik para pemimpin agama Kristen maupun Islam AS memang ingin meredam suasana panas yang belakangan diakibatkan oleh pernyataan dan tindakan para pemimpin Kristen di sana, lebih baik dilakukan tindakan yang lebih konkret, misalnya: dialog antar para penganut agama dan kepercayaan di AS dan/atau mendesak pemerintah AS menindak tegas orang/kelompok tertentu yang akan dan telah dianggap mengganggu kerukunan umat beragama di AS.

Dengan demikian, ketimbang melakukan tindakan yang tidak lebih dari sekadar simbolik yang tak berarti karena tidak menyentuh pada akar permasalahan yang ada dengan membagi-bagikan Al-Quran kepada umat Kristen, maka umat beragama di AS perlu melakukan dialog terbuka antar pemeluk agama sehingga masing-masing pihak bisa lebih mengenal dan memahami agama dan kepercayaan orang lain. Jika hal ini tidak berhasil, maka sangat tepatlah untuk mengatakan bahwa demikian agama telah gagal menciptakan suasana yang tenteram karena yang terjadi malah sebaliknya, saling ancam, serang, bahkan bunuh di antara orang-orang beragama yang selalu mengaku bermoral. 

Jika ini yang terjadi, maka lebih baik orang-orang beragama mengakui saja bahwa agama tidak berfungsi karena terbukti ajaran-ajarannya bukannya membuat manusia semakin baik melainkan membuat manusia berpikir sempit dan dangkal. Ketika kenyataan yang sangat memprihatinkan ini terjadi maka sudah waktunya bagi manusia (orang-orang beragama) mulai mencari alternatif lain, pertama-tama meninggalkan agamanya untuk kemudian, misalnya, menjadi seorang sekularis.

Bunuh yang Seagama

Tindakan mengadili, mengucilkan, menyiksa, bahkan membunuh orang yang beragama lain sudah banyak terjadi di dunia ini dan sudah menjadi "bagian" dalam kehidupan orang-orang yang mengaku bermoral karena memiliki "kitab suci." Oleh karena itu, tidak aneh apalagi mengagetkan lagi jika manusia membunuh sesamanya karena sesamanya itu memiliki agama yang berbeda dari si pembunuh, dan si pembunuh menganggap bahwa agama orang lain tidak benar sehingga ia pun tega membunuh sesamanya itu. Ini dilakukan karena kepercayaan seseorang yang begitu kuat terhadap kitab yang dianggapnya suci karena berasal dari yang ilahi. Namun sangat aneh bahkan cukup mengagetkan jika pembunuhan dilakukan terhadap orang memiliki agama yang sama. Pembunuhan dilakukan karena seseorang/kelompok menganggap orang/kelompok lain tidak atau kurang beriman atau tidak mematuhi ajaran yang benar. Peristiwa inilah yang beberapa hari lalu terjadi di Dagestan, Rusia.

Jika kelompok yang dengan tega telah membunuh sesamanya yang beragama sama dengan mereka mengatakan bahwa mereka (orang-orang yang dibunuh) tidak mematuhi agama yang benar, bukankah mereka beragama dan beriman yang sama? Bukankah mereka membaca, menaati, dan berpedoman pada kitab yang sama? Jika mereka tidak, apakah ada lebih dari satu ajaran dalam agama yang sama itu? Jika dalam agama yang sama terdapat ajaran yang berbeda, bagaimana cara mengukur atau menilai ajaran mana yang lebih benar dari ajaran lainnya? Apakah ukuran yang digunakan untuk menilai ajaran yang satu lebih baik dari ajaran lainnya? Apakah ukuran yang dipakai untuk menilai adalah buku yang dianggap "suci" oleh orang-orang yang mempercayainya? Sekali lagi, bukankah mereka menggunakan buku yang sama? Lalu apakah ukurannya? 

Banyak orang tidak menyadari bahwa agama merupakan hasil tafsir masing-masing orang atau kelompok terhadap sesuatu yang dianggapnya "suci," berada melampaui dirinya, mengatur hidupnya, bahkan berkuasa atas kehidupannya. Semuanya itu berdasar pada buku yang dianggapnya "suci." Oleh karena mereka membaca berbagai kisah masa lalu dan peristiwa yang dipercayanya sebagai mukjizat, maka orang-orang itu meyakini bahwa ada sesuatu yang berada di luar dan di atas diri dan hidupnya. Orang-orang beragama percaya apa yang terjadi pada masa yang sangat lampau merupakan peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi, bahkan terjadi juga saat ini ketika mereka membaca kisah-kisah tersebut. Mereka tidak menyadari bahwa kisah-kisah itu juga merupakan hasil tafsir terhadap peristiwa yang sama karena sesungguhnya kita tidak bisa mengetahui secara pasti apakah peristiwa-peristiwa itu sungguh terjadi atau tidak. 

Oleh karena agama hanyalah tafsiran orang-orang tertentu yang akhirnya percaya terhadap agama dan tuhan tertentu, maka dengan demikian, tidak ada ukuran yang pasti mengenai kepercayaan mana yang benar karena setiap orang menafsirkan menurut konteks di mana ia hidup dan kepentingan tertentu yang ada di belakangnya. Setiap orang akan memahami, menilai, dan menafsirkan sebuah tulisan/kisah yang terdapa dalam "kitab suci" berdasar pada konteks keberadaannya. Jadi, tidak ada ukuran pasti yang dapat digunakan untuk menilai ajaran mana yang lebih benar dari yang lainnya. Bahkan keberadaan Tuhan pun tidak lebih dari sekadar upaya manusia mencoba memahami dan menafsirkan sesuatu yang dianggapnya berada di luar dan di atas dirinya. Sesuatu yang dipercayanya mengatur bahkan berkuasa atas diri manusia. Jika demikian, maka "keberadaan" figur yang disebut dan dinamakan Tuhan atau Allah itu pun tidak lain dari hasil tafsir manusia setelah membaca berbagai tulisan/kisah yang terdapat dalam sebuah kitab yang dianggap "suci." Bagaimana seandainya cap "suci" itu disisihkan dari pemikiran sebagian besar orang (baca: orang beragama dan/atau bertuhan)? Kemungkinan besar hasil tafsirnya menjadi berbeda!

Tidak Ada Cinta & Keadilan

Baru-baru ini pemimpin tertinggi Iran, Ahmadinejad, ketika berpidato di sidang tahunan Majelis Umum PBB membawa Al-Quran dan Alkitab. Hal ini dilakukannya untuk mengatakan bahwa seharusnya manusia menaruh hormat kepada semua "kitab suci" dan para pengikutnya. Dalam pidatonya tersebut Ahmadinejad juga menandaskan "bahwa para nabi ilahi memiliki misi bagi umat manusia untuk percaya pada satu Tuhan (monoteisme), cinta dan keadilan sekaligus menunjukkan belas kasih bagi kemakmuran serta menjauhi ateisme dan egoisme." 

Di satu sisi tindakan Ahmadinejad membawa dua "kitab suci" milik umat Muslim dan Kristen ketika berpidato di sidang tahunan Majelis Umum PBB di New York - meski seperti pedagang yang membawa dan menjajakan barang dagangannya - bisa dianggap positif karena ia berusaha menunjukkan pada banyak orang bahwa dirinya menghormati, bukan saja Al-Quran tetapi juga Alkitab. Pernyataannya mengenai cinta, keadilan, dan belas kasih juga bernuansa positif karena sepertinya ia berusaha menekankan dan mengajak orang untuk mengutamakan ketiga hal tersebut. Namun kenyataannya - sepertinya Ahmadinejad tidak menyadari hal ini - kenyataan di dunia berbeda 180 derajat dari pernyataannya. Yang terjadi bukanlah cinta, keadilan, dan belas kasih seperti yang didengungkan Ahmadinejad melainkan kekerasan, peperangan, dan pembunuhan. Terlebih, berbagai tindakan yang sama sekali tidak manusiawi dan tidak terpuji itu malah dilakukan oleh orang-orang yang mengaku beragama, bertuhan, dan memiliki moral yang berdasar pada kitab sucinya.

Ternyata pernyataan Ahmadinejad tersebut juga hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak jargon yang biasa dikumandangkan kaum beragama dan bertuhan, di mana kekerasan seharusnya tidak perlu terjadi jika umat beragama dan bertuhan sungguh-sungguh menaati dan mengimani "kitab suci"-nya. Ini dilakukan karena menurut umat beragama dan bertuhan kitab suci yang dimilikinya sesungguhnya mengajarkan moral yang baik, seperti: cinta, keadilan, dan belas kasih. Namun kenyataan yang terjadi hingga saat ini tidak demikian karena berbagai tindak kekerasan malah dilakukan orang-orang yang mengaku bermoral itu, bahkan tindakan yang mengatasnamakan "perintah Allah" semakin gencar dilakukan dilakukan kaum yang beragama dan bertuhan. Jika demikian, apakah masih tepat mengatakan jika "kitab suci" memang mengajarkan cinta, keadilan, dan belas kasih?

Ahmadinejad juga mengatakan agar manusia menjauhi ateisme dan egoisme. Egoisme memang harus dijauhi, namun ateisme? Menengok pada kenyataan yang terjadi di bumi dan membandingkannya dengan berbagai slogan yang selalu diumbar oleh kaum beragama dan bertuhan serta berbagai tindak kekerasan yang dilakukan oleh kaum yang mengaku bermoral karena memiliki "kitab suci," apakah ada tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kaum ateis? Atau, apakah seorang/kelompok ateis yang ketika melakukan tindakan yang keras (mengancam keberadaan orang banyak) berkata: "Saya/kami melakukan hal tersebut karena kami ateis!" atau "Saya/kami membunuh karena itu adalah perintah "kitab suci"!" atau saya/kami membakar bangunan itu karena tindakan itu merupakan ibadah dan perintah dari Tuhan kami!" Sama sekali tidak, bukan? 

Dengan demikian, jelas, pernyataan Ahmadinejad yang menyinggung agar orang menjauhi ateisme sama sekali tidak relevan karena kaum ateis tidak melakukan tindak kekerasan yang mengancam makhluk hidup lainnya, setidaknya, tidak mengaku bahwa tindakannya tersebut dilandaskan pada "kitab suci" dan/atau perintah yang diperoleh dari sesembahan kaum ateis. Mengapa? karena kaum ateis tidak punya "kitab suci" seperti kaum beragama dan bertuhan percaya pada buku yang dipercaya mengajarkan moral tertentu. Kaum ateis juga tidak percaya dan menyembah pada sesembahan yang dianggap mengatur hidupnya seperti kaum beragama dan bertuhan yang percaya dan sembah sujud pada figur tertentu yang berada di luar dirinya, bahkan di luar dunia di mana mereka berada yang mengatur seluruh alam semesta.

Sabtu, 25 September 2010

Sesembahan yang (Memang) Kejam

Ya, untuk kesekian kalinya sesembahan orang beragama/bertuhan - yang disebut, dipanggil, dinamakan Tuhan dan/atau Allah - menurunkan perintah kejam. Setidaknya, inilah yang dipercaya dan diakui oleh Sofyan Tsauri. Ia mengatakan bahwa tindakannya tersebut bukanlah termasuk ke dalam kategori teror karena merupakan ibadah. Sebaliknya ia mengatakan bahwa perbuatannya tersebut merupakan ibadah karena berasal dari Allah alias perintah Allah. Sepertinya yang ada dalam pikiran Tsauri melalui pernyataannya tersebut mengandaikan bahwa karena perintah itu berasal dari Allah, maka tidak bisa dikategorikan apalagi disebut sebagai teror karena teror hanyalah perbuatan manusia kerdil yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena perintah itu berasal dari yang ilahi maka tentu hasilnya pun demi kebaikan manusia, bahkan mungkin untuk seisi alam semesta.

Jika yang dikatakan - yang berasal dari Tuhan benar dan baik - orang seperti Tsauri benar, namun mengapa hasil atau dampaknya malah menyengsarakan orang lain? Bukankah itu berarti pernyataan seperti itu bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi di dunia? Atau, apakah yang dibayangkan orang seperti Tsauri merupakan "dunia lain" atau dunia ideal yang keberadaannya bukan di bumi ini melainkan di tempat lain? Jika ya, di manakah dunia yang dimaksudkan oleh orang seperti Tsauri?

Banyak orang (beragama dan bertuhan) yang mengatasnamakan, menyebut, atau mengaitkan sesembahan atau agamanya demi membenarkan tindakan keji - menyengsarakan orang lain - yang dilakukannya sehingga perbuatannya tersebut dianggap sebagai kebaikan atau bahkan kebenaran. Ini merupakan pemikiran dan tindakan yang sangat salah bahkan menyesatkan. Namun, hal yang serupa menjadi tidak salah dan tidak menyesatkan jika saja orang-orang beragama dan bertuhan mengakui bahwa sesembahan yang dipercayanya telah memerintahkan dan agama yang dipeluknya memang telah mengajarkan para pengikutnya membunuh makhluk hidup lainnya. Jika demikian, sama sekali tidak keliru alias sangat tepat jika dikatakan bahwa sesembahannya itu memang figur yang kejam. Namun sayangnya, sejauh yang diketahui, tidak ada seorang beragama dan bertuhan pun yang rela jika agama yang dipeluknya dikatakan telah mengajarkan sesuatu yang kejam apalagi jika sesembahan yang dipercayanya disebut sebagai figur yang kejam. 

Seandainya saja orang-orang beragama dan/atau bertuhan mau mengakuinya, maka setidaknya ada satu yang hal bisa disepakati bersama, baik oleh kaum percaya maupun kaum ateis, yakni: sesembahan orang beragama atau bertuhan memang kejam. Sayangnya hal ini tidak terjadi.

Kamis, 16 September 2010

Pesan dari Tuhan

Meski Terry Jones membatalkan rencananya membakar Al-Quran pada tanggal 11 September lalu, namun para pendukung Jones tetap melaksanakan pembakaran Al-Quran di Springfield, AS. Bob Old dan Danny Allen - keduanya pendeta - mengaku melakukan aksi pembakaran Al-Quran karena memperoleh pesan dari Tuhan. Setelah Jones yang mengaku mengurungkan rencana pembakaran Al-Quran karena perintah Tuhan, sekarang kedua pendeta tersebut mengaku jika aksi mereka setelah menerima pesan dari Tuhan. 

Segera setelah membaca kedua pengakuan yang berbeda 180 derajat tersebut - keduanya berasal dari pendeta - muncul beberapa pertanyaan: 

1.  Apakah perintah dan pesan yang saling berbeda tersebut berasal dari Tuhan yang sama atau berbeda? 

2. Jika berasal dari Tuhan yang sama, mengapa Tuhan memberikan pesan/perintah yang berbeda kepada para pendeta itu?

3. Jika berasal dari Tuhan yang berbeda, Tuhan mana atau siapakah yang seharusnya dituruti, apakah Tuhan yang memberikan perintah larangan membakar Al-Quran (Tuhannya Jones) atau Tuhan yang memberikan pesan membakar Al-Quran (Tuhannya Old dan Allen)?  

4. Terlepas dari Tuhan yang sama atau berbeda, jika memang benar perintah dan pesan itu berasal darinya, bukankah ini artinya ia adalah sosok yang membingungkan karena telah memberikan perintah dan pesan yang berlainan kepada orang yang berbeda?

5. Jika ya, mengapa begitu banyak orang percaya, sujud syukur, bahkan rela mati demi namanya? 

6. Jika Tuhan memang telah memberikan pesan membakar Al-Quran kepada manusia, bukankah ini artinya ia adalah figur kejam yang tidak peduli terhadap makhluk hidup (dhi. manusia)?

Kembali pada berita pembakaran Al-Quran yang telah dilakukan Old dan Allen, ketika  akan membakar Al-Quran mereka berkata bahwa Al-Quran adalah buku yang berisi kebencian, bukan cinta. Mereka sepertinya, entah disengaja ataupun tidak disadari, menyingkirkan fakta bahwa dalam Alkitab sendiri banyak kisah yang menampilkan hal-hal bernuansa kekerasan,  seperti: kebencian dan pembantaian terhadap suku bangsa tertentu yang semuanya dilakukan atas persetujuan Tuhan. (Sangat mungkin Old dan Allen dengan sengaja menganggap kisah-kisah seperti itu tidak terdapat alam Alkitab bagian Perjanjian Lama karena mereka adalah pendeta, jadi kemungkinannya sangat kecil jika mereka tidak mengetahui kisah-kisah seperti itu. Hal yang seringkali juga dilakukan umat Kristen lainnya.) Jika demikian, jelas, Old dan Allen pun telah memberlakukan standar ganda terhadap "kitab suci" agama lain.

Tindakan yang dilakukan Old dan Allen sama sekali tidak cerdas padahal mereka tidak suka jika dianggap tidak cerdas. (Orang beragama khususnya para pemimpinnya secara implisit tidak mau dianggap tidak cerdas karena mempelajari ilmu agama. Oleh karena itu, mereka menganggap diri cerdas karena mampu menggunakan akal sehatnya dengan baik.) Dengan demikian, pembakaran Al-Quran yang dilakukan Old dan Allen merupakan contoh nyata betapa manusia (baca: orang beragama) gagal menggunakan akal sehatnya untuk hal-hal yang jauh lebih positif, misalnya: daripada membakar Al-Quran, mereka bisa membuat tulisan yang isinya mengkritik (bukan mencela atau menghina) kepercayaan lain (dhi. Islam) sehingga terjadi perdebatan secara pemikiran, bukannya tindakan kekerasan. Bukankah para pendeta sebelum memperoleh "gelar" pendeta mereka diharuskan menempuh kuliah di seminari atau sekolah tinggi teologi? Jika demikian, tentu, semasa di bangku kuliah mereka telah diajar dan dilatih untuk berpikir dan menuangkan pikirannya ke dalam tulisan-tulisan sehingga mereka bisa diperhitungkan sebagai orang-orang cerdas. Jika tidak demikian, apakah ini artinya seminari atau sekolah tinggi teologi tidak lagi memberikan pelatihan dan pengajaran seperti? Saya pikir tidak. Oleh karena itu, hai para agamawan tunjukkanlah jika kalian memang cerdas!

Rabu, 15 September 2010

Perintah Tuhan

Terry Jones, seorang pendeta di sebuah gereja kecil di Florida (AS), yang belakangan menghebohkan dunia agama, khususnya kaum Muslim karena rencana busuknya akan  membakar Al-Quran pada tanggal 11 September baru-baru ini membatalkan rencananya tersebut. Jones mengaku mengurungkan niatnya membakar Al-Quran setelah memperoleh perintah dari Tuhan. Lebih dari itu, ia pun mengatakan bahwa tidak akan pernah membakar membakar Al-Quran. 

Di satu sisi, tidak jadinya Jones membakar Al-Quran merupakan berita yang sangat melegakan, bukan saja bagi umat beragama (khususnya umat Muslim), namun sepatutnya juga bagi umat manusia secara keseluruhan karena jika rencana keji itu jadi dilakukan Jones, maka akan memicu reaksi dan gerakan keagamaan yang sangat negatif dari umat Muslim. Namun di sisi lain, alasan Jones tidak jadi membakar Al-Quran menimbulkan pertanyaan: karena ia mengaku Tuhan telah memerintahkannya untuk tidak melanjutkan tindakannya tersebut, maka siapa yang pertama kali (telah) memerintahkannya untuk membakar Al-Quran? Apakah Tuhan juga? Jika ya, apakah ia adalah Tuhan yang sama yang juga telah memerintahkannya untuk tidak membakar Al-Quran? Jika ya, maka sangat bisa dikatakan bahwa Tuhan yang disembah Jones adalah sosok keji yang tidak peduli terhadap "perasaan" manusia. Ia (Tuhan) adalah monster yang dengan seenaknya memerintah manusia melakukan tindak kejahatan. Namun, jika bukan Tuhan yang sama, apakah ia adalah Tuhan yang lain? Ataukah, Jones mendengar suara dari "batin"-nya sendiri? Sayangnya, semua pertanyaan tersebut tidak dapat ditemukan jawabannya dari berita di atas. 

Di berita yang sama juga dikatakan bahwa Jones menggemari film besutan Mel Gibson, Braveheart. Film Braveheart mengedepankan tema perang pembebasan Skotlandia dari penjajahan Inggris, dan menurut berita, hal tersebut menginspirasi Jones sehingga membuat seri video yang bernafaskan anti-Islam. Mel Gibson sendiri adalah seorang Katolik taat anti-Yahudi sedangkan Jones seorang Kristen Protestan anti-Islam dan dunia Arab.

Pertanyaan apa atau siapakah yang telah memerintahkan seorang Terry Jones  membakar Al-Quran dan benarkah Tuhan telah memerintahkannya menghentikan rencana pembakaran Al-Quran tersebut sulit dijawab karena bersifat sangat subjektif. Artinya, "perintah Tuhan" itu hanya diterima oleh Jones. Oleh karena itu, satu-satunya hal yang bisa dilihat kaitannya adalah kegemaran Jones terhadap film Braveheart yang disutradarai oleh Mel Gibson dan kesejajaran antara figur Jones dan Gibson. Sepertinya Jones menganggap Amerika Serikat sedang berada di bawah penjajahan fundamentalisme Islam dan peradaban Arabnya (bandingkan dengan semangat Skotlandia yang berusaha membebaskan diri dari penjajahan Inggris seperti digambarkan dalam Braveheart). Namun perbedaan mencoloknya adalah: Jones berencana membakar Al-Quran sedangkan dalam Braveheart tidak pembakaran buku apapun. 

Yang jelas, Terry Jones bukanlah figur pemimpin yang berjuang dengan semangat cerdas dan bermartabat melainkan figur yang mengedepankan kebodohan dan tidak manusiawi karena melakukan tindakan yang telah membuat begitu banyak pihak gerah dan resah. Ia adalah  contoh orang yang hidup di zaman modern dan beradab (penduduk AS seringkali dengan bangga menggadang-gadang sebagai bangsa yang maju dan beradab) namun sesungguhnya malah berlaku primitif dan barbar karena tindakannya telah membuat cemas sesamanya. Selain itu, orang-orang beragama selalu dengan angkuh menyatakan bahwa agama hanya dan selalu mengajarkan moral. Jika ya, coba tengok kembali pada apa yang telah dilakukan Jones.

Selasa, 14 September 2010

Mereka Dianggap Apa?


  • orang-orang yang mengaku beragama, bertuhan, dan bermoral baik, namun dengan tega menyerang, merusak, melakukan tindak kekerasan, dan menyakiti, baik perasaan maupun fisik sesamanya, bahkan melenyapkan nyawa sesamanya yang beragama lain?
  • orang-orang yang percaya pada keberadaan sesuatu yang tidak dilihatnya bahkan menyembah sosok tersebut?
    • orang-orang yang mengaku telah mendengar sesuatu di telinga/kepalanya dan menganggapnya sebagai suara Tuhan?
    • orang-orang yang mati-matian bahkan rela mati membela keyakinannya demi memperoleh sebuah tempat di "dunia seberang/lain" sekalipun tempat tersebut tidak diketahui keberadaannya?

    Jika demikian, bisa dianggap mengidap apakah orang-orang yang termasuk ke dalam empat poin di atas?

    Banyak orang memberlakukan standar ganda setiap kali berkaitan dengan keyakinan, kepercayaan, dan sesuatu yang disukainya apalagi jika ketiga hal tersebut telah mendarah daging sekian lama dalam dirinya.

    Minggu, 05 September 2010

    Konon

    "Konon Masjid Al Alam (Al Auliya) Marunda, dibangun hanya dalam tempo semalam." Kalimat tersebut dikutip dari berita yang mengatakan bahwa Masjid Al Alam (berdiri sejak  tahun 1600) yang terletak di Marunda, Jakarta Utara, dibangun hanya dalam satu malam. Beberapa tanggapan  bisa dikemukakan berkaitan dengan segala hal mengenai Masjid Al Alam menurut berita tersebut:

     1. Mengacu pada foto dalam berita tersebut dan detail bangunan Masjid menurut Ensiklopedi Jakarta, maka bukanlah hal yang istimewa atau luar biasa jika Masjid Al Alam dibangun hanya dalam satu malam karena bentuknya yang sangat sederhana (tidak seperti Masjid-masjid modern) dan luas bangunan yang tergolong sangat kecil. Jika pembangunan Masjid ini dimulai sejak pukul 18.30 (selepas Azan Magrib) dan dilakukan tanpa henti hingga pukul 05.00, serta melibatkan banyak orang (anggaplah 100 orang), maka bukan merupakan sesuatu yang "ajaib" atau aneh jika Masjid ini bisa dirampungkan hanya dalam tempo semalam. Tentu dengan catatan, semua hal (bahan-bahan, seperti: kayu/balok, batu, genteng, dan semen) yang berkaitan dengan pembangunan Masjid ini telah tersedia lengkap sehingga para pekerja tinggal membangun Masjid tanpa perlu mencari-cari bahan yang akan digunakan. Jika ini semua terpenuhi, maka jelas, Masjid Al Alam sangat bisa dibangun dalam waktu satu malam saja.

    2. Ada dua pendapat yang berbeda mengenai siapa yang membangun Masjid Al Alam. Ada yang berpendapat bahwa Walisongo-lah yang membangun Masjid tersebut, namun ada yang berpendapat jika Fatahilah yang membangunnya. Pendapat yang mengatakan Wali Songo merupakan pendiri Masjid Al Alam tidak memberitahu secara tepat Wali siapa yang membangun Masjid tersebut karena Walisongo bukan merujuk pada nama seseorang melainkan gelar yang diberikan kepada sembilan (bahasa Jawanya: songo) wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-14. Jika keterangan yang mengatakan para wali sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-14, berarti pendapat yang mengatakan Masjid Al Alam dibangun oleh Walisongo tidak tepat alias keliru karena Masjid berdiri sejak tahun 1600 (berarti abad ke-17) sedangkan para wali aktif menyebarkan Islam di tanah Jawa pada abad ke-14 (tahun 1300-an).

    Pendapat lainnya mengatakan bahwa Fatahilah yang membangun Masjid Al Alam. Siapakah sosok yang bernama Fatahilah? Ia adalah seorang pejuang dari Demak yang berhasil menaklukkan Kerajaan Sunda dengan menguasai pelabuhannya pada tanggal 22 Juni 1527. Jika keterangan tersebut tepat, maka kemungkinan yang terdekat dan paling masuk akal adalah pendapat kedua ini karena Fatahilah menguasai menguasai Jayakarta (nama kota Jakarta pada abad ke-16) sejak tahun 1527, sedangkan dikatakan Masjid Al Alam berdiri sejak tahun 1600.

    3. Kembali pada kutipan kalimat pertama di atas mengenai "konon." Maka orang harus sadar penuh bahwa keyakinan seseorang atau kelompok dibentuk dan dipengaruhi oleh tradisi yang diturunkan sejak nenek moyang. Bagaimana tradisi tersebut diturunkan? Setidaknya ada tiga cara, yakni: melalui cerita (mulut ke mulut, "kata orang"), tulisan, dan peninggalan (prasasti atau gambar). Kisah mengenai Masjid Al Alam yang diyakini banyak orang dibangun hanya dalam satu malam termasuk ke dalam tradisi yang diturunkan melalui cerita. Oleh karena itulah orang biasa mengatakan "konon" yang artinya cerita tersebut diperolehnya dari orang lain. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan hal ini. 

    Dengan demikian, setiap kali mendengar atau membaca kata "konon" orang jangan lekas kagum atau berpikir mengenai sesuatu yang luar biasa mengenai sebuah cerita karena bisa saja pernyataan atau berita itu setelah dipikirkan dengan lebih cermat dan matang ternyata bukanlah sesuatu yang istimewa apalagi "ajaib." Namun sebaliknya, berita tersebut merupakan sesuatu yang biasa saja karena memang masuk akal. Demikian juga, setiap kali orang mendengar atau membaca kata yang sama hendaknya orang tidak mudah percaya melainkan sebisa mungkin mengecek atau mengevaluasi pernyataan tersebut karena mungkin saja keterangan yang diberikan tidak jelas, tidak tepat, atau bahkan tidak didukung oleh bukti nyata ataupun argumen yang kuat. Ketika orang tidak lekas kagum dan tidak mudah percaya pada berita yang diterimanya maka, disadari atau tidak disadarinya, sesungguhnya ia adalah seorang yang kritis.

    Jumat, 03 September 2010

    Jangan Marah atau GR Dulu

    Kemarin Times menerbitkan pernyataan Stephen Hawking, seorang fisikawan terkemuka asal Inggris, mengenai terciptanya alam semesta. Hawking, melalui kutipan yang terdapat dalam buku terkininya yang ditulis bersama seorang fisikawan AS (Leonard Mlodinow) dan baru akan dijual ke pasaran tanggal 9 September, menyatakan bahwa alam semesta tercipta secara spontan tanpa campur tangan ilahi di dalamnya. Ini artinya, dalam pandangan Hawking, orang tidak perlu menyertakan Tuhan dalam proses terciptanya alam semesta. Dengan demikian, terciptanya alam semesta tidak ada sangkut-pautnya dengan Tuhan karena Tuhan tidak menciptakan alam semesta. Lanjut Hawking, alam semesta terjadi semata-mata karena adanya hukum gravitasi sehingga alam semesta bisa dan akan menciptakan dirinya sendiri dari yang tidak ada.

    Setidaknya ada dua reaksi yang muncul segera setelah orang membaca berita tersebut. Pertama, reaksi marah yang sangat mungkin muncul dari kaum agamis dan/atau kaum kreasionis yang percaya jika alam semesta ini diciptakan oleh yang ilahi. Oleh karena itu, tidak heran jika kaum agamis dan/atau kaum kreasionis yang percaya jika Tuhanlah yang menciptakan alam semesta ini menolak bahkan mengutuk pandangan Hawking, dengan mengatakan, salah satunya: ilmu pengetahuan tidak bisa membuktikan jika alam semesta ini bukan berasal dari sebuah Grand Design yang dibuat oleh Grand Designer yang mampu menciptakan alam semesta dengan segala keteraturannya. Artinya, kaum ini marah karena Hawking dianggap telah meniadakan (keterlibatan) Tuhan sebagai pencipta alam semesta.

    Reaksi kedua berasal dari kaum yang memuja ilmu pengetahuan dan/atau kaum ateis karena menganggap jika pandangan Hawking menegaskan dan memperkokoh "dogma" mereka, di mana ilmu pengetahuan berada di atas agama. Bagi kaum ateis, pandangan Hawking membuat mereka semakin yakin jika figur Tuhan tidak ada, dan oleh karenanya alam semesta bukan diciptakan oleh Tuhan. Dengan demikian, bisa dikatakan jika kaum yang memuja ilmu pengetahuan dan/atau kaum ateis GR karena menganggap "kepercayaan" mereka ditopang oleh pernyataan seorang fisikawan (saintis) ternama yang memegang jabatan akademis yang sangat bergengsi di Universitas Cambridge, Inggris, sebagai Lucasian Professor of Mathematics (jabatan yang pernah dipegang juga oleh Isaac Newton). 

    Namun, jika orang membaca dengan cermat berita tentang terciptanya alam semesta menurut Hawking, maka sesungguhnya kedua reaksi di atas, entah marah ataupun GR tersebut tidaklah perlu terjadi, karena:

    Pertama (bagi kaum agamis dan/atau kaum kreasionis): Meski Hawking berpendapat bahwa bukan Tuhan yang menciptakan alam semesta, namun ia tidak menyatakan jika ia menolak/menentang keberadaan Tuhan itu sendiri. Hawking "hanya" menyatakan: Tuhan tidak menciptakan alam semesta. Ia "hanya" menyatakan Tuhan tidak diperlukan untuk menjelaskan bagaimana alam semesta diciptakan karena semuanya terjadi akibat hukum gravitasi. 

    Kaum agamis dan/atau kaum kreasionis juga tidak perlu marah karena Hawking mengemukakan pandangannya dengan berdasar pada hukum fisika yang dikuasainya, dan ia sebenarnya sama sekali tidak bermaksud menghancurkan apalagi "menobatkan" orang-orang beragama dan bertuhan untuk "memeluk" pandangannya yang berdasarkan ilmu pengetahuan. Meski demikian, memang tidak bisa dipungkiri jika teori Hawking tersebut (telah) memicu reaksi sangat keras dari kaum beragama dan bertuhan karena ia telah "menyingkirkan" Tuhan dari skema terciptanya alam semesta, tidak seperti yang dipercaya oleh kaum beragama dan bertuhan.

    Kedua (bagi kaum yang memuja ilmu pengetahuan dan/atau kaum ateis): Meski Hawking berpendapat - didukung ilmu fisikanya yang mumpuni - bahwa (figur) Grand Designer tidak menciptakan alam semesta, ini tidak serta-merta menyatakan jika Tuhan tidak ada. Sekali lagi, Hawking "hanya" mengatakan bahwa Tuhan tidak menciptakan alam semesta karena alam semesta terjadi akibat hukum gravitasi. Sangat keliru jika pernyataan Hawking mengenai terciptanya alam semesta dijadikan argumen bahkan ditarik menjadi sebuah kesimpulan bahwa ia mendukung "teori" tidak adanya Tuhan karena Hawking sama sekali tidak berbicara mengenai, apakah Tuhan ada atau tidak ada. Pandangan Hawking menjelaskan proses terciptanya alam semesta, bukan menjawab pertanyaan mengenai keberadaan Tuhan.

    Apakah Tuhan ada atau tidak ada? Bukan cakupan tulisan ini untuk menjawab pertanyaan kompleks tersebut karena sebelum menjawab pertanyaan tersebut orang harus menjawab terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan, seperti: Apa itu yang dimaksud dengan "Tuhan"? Sosok pribadi? Energi? Zat? Atau? "Pisau bedah" apa yang akan digunakan untuk "membuktikan" ada atau tidak adanya Tuhan? Ilmu Pengetahuan? Teologi? Filsafat? Atau? Apa ukurannya sehingga orang bisa sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan ada atau tidak ada? Semua pertanyaan itu bukan fokus tulisan ini.

    Tulisan ini hanya mengajak orang untuk membaca berita dan pandangan orang dengan cermat sehingga kedua reaksi seperti di atas tidak perlu terjadi. Ketika orang mampu membaca dengan cermat sesungguhnya ia sudah berpikir secara kritis, karena setidaknya, ia menjadi tidak salah dalam memahami berita akibat mendasarkan pikirannya pada emosi dan/atau otoritas. Dengan demikian, orang harus sadar penuh bahwa beberapa rintangan dalam berpikir kritis, seperti: emosi pribadi atau kelompok dan otoritas. Artinya, orang harus mampu berpikir dan mengambil kesimpulan secara mandiri dengan menyingkirkan keterlibatan emosi pribadi atau kelompok serta otoritas tertentu dalam masyarakat.

    Sabtu, 28 Agustus 2010

    Ketika Alam Fantasi Dibawa ke dalam Alam Nyata

    Tidak jarang orang percaya jika hal yang dilihat dalam mimpi akan mewujudnyata dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, banyak orang percaya mimpi dapat mengubah "nasib" atau jalan hidup manusia. Mimpi dianggap sebagai gambaran nyata yang akan terjadi juga di alam  nyata sekalipun awalnya hanya terjadi di alam fantasi. Hal inilah yang sepertinya dialami oleh salah seorang pesinetron Marshanda ketika ia memutuskan mengenakan jilbab karena mimpi yang dialaminya. Melalui mimpi mengenai kiamat yang dialaminya selama lima hari beruturut-turut ia percaya jika ia sedang diingatkan untuk semakin mendekatkan diri pada yang kuasa. Sepertinya seorang Marshanda percaya jika mimpi kiamat yang dialaminya merupakan pertanda yang akan terjadi di masa mendatang, oleh karenanya ia mendekatkan diri pada penciptanya.

    Apakah apa yang terjadi atau dilihat di dalam mimpi sungguh-sungguh akan terjadi di dalam alam nyata? Bisa ya, bisa tidak. Jika ya, orang tidak bisa serta-merta menyimpulkan bahwa mimpi bisa sungguh-sungguh terjadi dalam alam nyata. Bagaimana jika tidak terjadi? Inilah yang seringkali orang lupakan atau singkirkan, yakni kemungkinan (bahkan lebih sering!) jika apa yang orang alami atau lihat di dalam mimpi tidak terjadi dalam alam nyata, bahkan tidak jarang apa yang terjadi di alam nyata berbalik 180 derajat dengan apa yang terjadi dalam alam fantasi. 

    Dengan demikian, bagaimana menjelaskan jika yang dialami atau dilihat dalam mimpi juga dialami atau dilihat dalam alam nyata? Banyak orang mengatakan bahwa mereka mengalami dan melihat sesuatu dalam alam nyata setelah peristiwa itu terjadi kemudian dikaitkan dengan mimpi yang pernah dialaminya. Ini berarti bahwa awalnya mereka tidak mengatakan atau mengaku mengalami mimpi tertentu, namun ketika sesuatu dialami dalam hidupnya mereka pun menyatakan jika beberapa waktu lalu pernah mengalami mimpi yang  kemudian terjadi juga dalam kehidupannya. Dengan demikian, mereka menghubungkan peristiwa yang dialami dalam dunia nyata dengan mimpi yang pernah dialami. 

    Hal sebaliknya juga tidak jarang dilakukan orang, di mana awalnya mereka memang mengakui mengalami mimpi tertentu kemudian mimpi tersebut mewujudnyata dalam hidupnya. Jika ini yang terjadi maka sesungguhnya yang dilakukan orang tersebut adalah "membenarkan" bahwa yang dialami dalam mimpinya sesuai dengan yang terjadi dalam kehidupannya. Artinya, orang yang melakukan hal ini sudah begitu yakin jika mimpi yang dialaminya akan sungguh-sungguh terjadi di dalam alam nyata, dan ketika hal tersebut terjadi maka ia pun menyatakan dan semakin percaya jika mimpi akan terjadi kelak dalam alam nyata.

    Seperti telah disinggung sepintas di atas, bagaimana seandainya apa dimimpikan tidak terjadi dalam alam nyata alias kehidupan ini? Sesungguhnya kenyataan inilah yang jauh lebih sering terjadi ketimbang mimpi yang mewujudnyata dalam alam nyata. Sayangnya, mereka yang percaya jika mimpi juga terjadi dalam alam nyata menyingkirkan kenyataan bahwa mimpi lebih sering tidak terjadi dalam hidup ini. Mereka tidak mau menerima kenyataan bahwa sesungguhnya mimpi yang terjadi dalam dunia nyata tidak lebih dari sekadar ketidaksengajaan yang harus diakui sangat jarang terjadi. Mimpi, bagi mereka yang percaya jika mimpi itu akan terjadi di kemudian hari, tidak sadar atau tidak mau menerima penjelasan bahwa sesungguhnya mimpi hanyalah proyeksi ke masa depan yang muncul karena dirangsang oleh berbagai ingatan yang diperoleh dari berbagai hal, baik yang pernah dibaca, disaksikan, didengar, maupun dialami manusia. 

    Kembali pada mimpi kiamat yang dialami Marshanda maka terlihat dengan begitu gamblang pola ingatan yang dimilikinya, di mana dalam mimpinya ia melihat kiamat seperti yang ditampilkan melalui film Armageddon beberapa tahun silam. Jelas, tayangan film tersebut tersimpan dalam memori otaknya, dan ketika ada peristiwa tertentu terjadi dalam hidupnya maka ingatan akan film tersebut muncul dalam mimpinya. Kita tidak mengetahui persis peristiwa tertentu apa yang dialami/terjadi baru-baru ini, namun kemungkinan besarnya adalah momen bulan Ramadan yang tengah dilakoninya merupakan hal yang sangat masuk akal. 

    Peristiwa tertentu yang dialami seseorang merupakan pemicu paling efektif untuk membangkitkan/memunculkan ingatan seseorang terjadi sesuatu yang pernah dibaca, disaksikan, didengar,  bahkan dialaminya. Inilah yang sepertinya dialami oleh seorang Marshanda sehingga ingatannya terhadap film Armageddon pun tampil dalam mimpinya. Oleh Marshanda hal yang dilihat dalam mimpinya tersebut tidak dianggap angin lalu atau didiamkan melainkan olehnya diberikan muatan makna relijius yang dipercayanya sebagai peringatan terhadap dirinya sehingga ia pun mengenakan jilbab. 

    Hal yang harus diperhatikan mengenai fenomena mimpi adalah bahwa orang harus sadar dan menerima kenyataan sesungguhnya ada dua kemungkinan, yakni: baik mimpi tersebut terjadi dalam alam nyata maupun tidak terjadi dalam dunia nyata, dan hal kedualah yang lebih sering terjadi dibandingkan yang pertama. Ketika mimpi terjadi dalam alam nyata sesungguhnya tidak lebih dari sekadar ketidaksengajaan yang sangat jarang, namun ketika mimpi tidak terjadi dalam alam nyata banyak orang tidak peduli dengan memberikan banyak alasan. 

    Apakah mimpi bisa mengubah "nasib" atau jalan hidup seseorang? Biarlah orang-orang yang percaya pada "kekuatan" mimpi yang menjawab pertanyaan tersebut. Apakah mimpi bisa mengubah sikap atau gaya hidup seseorang? Melihat pada "kasus" Marshanda, maka jawaban yang bisa diberikan adalah positif, "ya."

    Jumat, 27 Agustus 2010

    Pencideraan terhadap Kemanusiaan

    Tindakan kekerasan kembali terjadi di benua Afrika dan kali ini merenggut korban, bukan saja para pegawai pemerintahan tetapi juga rakyat sipil. Tindakan brutal tersebut dilakukan oleh sekelompok fundamentalis Islam dan terjadi ketika umat Muslim sedunia menjalankan ibadah puasa. Mungkin banyak orang mengecam bahwa tindakan keji tersebut merupakan pencideraan terhadap agama tertentu (dhi. Islam) karena dilakukan pada saat bulan Ramadan, bahkan  bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap agama Islam. Tentu, kecaman seperti itu sangatlah wajar apalagi jika dilakukan oleh umat Muslim sendiri. Namun, sudah seharusnyalah jika bukan hanya umat Muslim yang mengecam bahkan mengutuk tindakan brutal tersebut karena sesungguhnya tindakan tersebut bukan hanya menghina dan mencidera umat agama tertentu melainkan juga menghina dan mencidera umat manusia secara lebih luas. 

    Ketika suatu tindakan kekerasan merenggut korban manusia, entah korban beragama ataupun bahkan tidak beragama, maka tindakan tersebut sudah seharusnya dikecam oleh seluruh umat manusia. Sekalipun tindak kekerasan yang terjadi tidak melenyapkan nyawa manusia, namun tetap saja tindakan tersebut harus dikcecam bahkan dikutuk karena telah menghina dan mencidera manusia sebagai makhluk hidup. Inilah salah satu tindakan yang tergolong tidak humanis, bahkan sangat tidak humanis.

    Semua tindakan yang melibatkan manusia sebagai makhluk hidup sudah sepatutnya tidak dipandang secara sempit, hanya dengan mengaitkan pada ideologi, kepercayaan (agama), atau prinsip tertentu yang dimiliki orang yang bersangkutan. Oleh karena itu, ketika suatu tindakan atau peristiwa dialami manusia maka tanggung jawab manusia lainnya untuk peduli terhadap hal tersebut. Artinya, nilai kemanusiaanlah yang dikedepankan, diutamakan, dan dijunjung tinggi melampaui ideologi, agama, dan/atau prinsip seseorang. Oleh karena itulah nilai kemanusiaan, seperti penghargaan terhadap nyawa seseorang harus yang lebih dipentingkan dan dihargai daripada kepercayaannya. Dengan demikian, siapa dan apa kepercayaan yang dianut seseorang menjadi tidak begitu relevan karena siapapun dia dan apapun kepercayaan yang dipeluknya, orang tersebut adalah manusia. Itulah yang pertama dan terutama.

    Rabu, 25 Agustus 2010

    Sealiran Kok Ricuh?

    Kok bisa-bisanya sesama manusia terlibat dalam kericuhan, terlebih kericuhan tersebut melibatkan mereka yang memiliki kepercayaan yang sama? Bukankah seharusnya mereka yang beriman sama itu malah saling dukung, bantu, bahkan mencintai, namun kenyataannya malah terlibat dalam kericuhan. Tentu, sikap seperti ini (seharusnya) sungguh-sungguh memalukan mereka yang mengaku dan mendaku beragama dan percaya kepada Tuhan. Selain itu, sikap ricuh di antara orang-orang sealiran tersebut akan semakin membuat mereka yang antipati terhadap agama dan orang-orang yang beragama semakin tidak menyukai agama dan orang-orangnya.

    Mungkin orang akan berdalih bahwa yang seharusnya dikritisi bukanlah agamanya, melainkan orang-orang yang melakukan tindakan tidak terpuji itu. Secara sepintas dalih ini sepertinya tepat, namun jika dilihat secara lebih tajam dan jernih tidaklah demikian. Artinya, bukan saja orang-orang beragama yang melakukan tindakan memalukan, seperti: membuat onar atau kericuhan yang harus dikritisi melainkan dasar kepercayaan (agama) yang selama ini dianut orang-orang tersebut juga patut dikritisi karena ternyata agama yang mereka anut tidak mampu "menahan" mereka dari amarah akibatnya mereka berbuat ricuh dengan sesamanya yang seiman. 

    Jika agama, seperti yang dipeluk dan diyakini oleh begitu banyak orang hingga saat ini dianggap bisa membawa para penganutnya pada ketenteraman, kedamaian, dan kesejukan, namun mengapa nyatanya kericuhan dengan umat seiman bisa terjadi? Belum lagi ditambah dengan kericuhan, bahkan pembunuhan yang dilakukan oleh umat beragama/kepercayaan yang lain. Mungkin juga orang akan berkilah bahwa yang melakukan tindakan-tindakan tercela seperti itu adalah orang-orang yang belum memahami dan menjalankan agama dengan benar. Artinya, mereka merupakan oknum-oknum dan tidak bisa dianggap mewakili keseluruhan bahkan sebagian besar umat beragama. Tentu, argumen ini jika dilihat secara sepintas juga tepat, namun tetaplah lemah. Artinya, tetap, oknum-oknum tersebut juga adalah orang-orang beragama. Terlepas mereka belum memahami dan menjalankan agama mereka dengan benar dan sungguh-sungguh merupakan hal lain, namun yang pasti, mereka pun termasuk ke dalam orang-orang beragama, apalagi peristiwa itu melibatkan orang-orang yang seiman.

    Jika umat beragama tidak mampu mengejawantahkan teori-teori nan indah yang terdapat dalam agama mereka masing-masing, ini artinya bahwa agama yang mereka anut tidak mampu mendorong mereka mewujudkan ajaran-ajaran agamanya. Sesungguhnya suatu ajaran yang benar bukan ditentukan oleh seberapa banyak orang mempercayai dan menganutnya, tetapi seberapa kuat ajaran itu telah mendorong atau menginspirasi, bukan saja mereka yang mempercayai dan menganutnya melainkan juga mereka yang tidak memeluk ajaran itu. Apakah ada seorang yang sungguh-sungguh mempercayai dan menganut agamanya namun tergerak atau terinspirasi oleh agama lain? Mungkin contoh terdekat adalah  Mahatma Gandhi, seorang Hindu sejati yang, bukan saja mengaggumi sosok Yesus Kristus, sesembahan umat Nasrani, namun juga tergerak dan terinspirasi oleh ajaran-ajaran Yesus. Namun harus diingat, Gandhi sama sekali tidak tergerak dan terinspirasi oleh agama Kristen, tetapi tergerak dan terinspirasi oleh ajaran-ajaran Yesus karena ia (Gandhi) sendiri menyatakan bahwa banyak orang Kristen yang malah tidak menjalankan ajaran Yesus.