Tampilkan postingan dengan label Survei. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Survei. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 September 2010

Iman >< Pengetahuan

Banyak orang seringkali dengan keliru menghubungkan antara keberimanan dan pengetahuan yang dimiliki seseorang karena kedua hal tersebut sesungguhnya seringkali tidak saling mempengaruhi. Inilah yang terjadi di AS - berdasar pada sebuah survei - di mana kaum ateis AS memiliki pengetahuan yang cukup, bahkan mereka memiliki pengetahuan agama (dhi. Agama Kristen) yang lebih dalam daripada kaum teis dan/atau beragama itu sendiri. Hal ini menegaskan pernyataan seorang fisikawan AS yang mengatakan bahwa warga AS - walaupun bukanlah keseluruhan warga AS - tertarik untuk mengetahui landasan agama Kristen.

Berdasar pada hasil sebuah survei yang dilakukan dari Mei sampai Juli tahun ini dan pernyataan fisikawan tadi, orang bisa melihat bahwa yang dibicarakan adalah "pengetahuan," bukannya "iman" atau keberimanan. Jadi, kata kuncinya adalah "pengetahuan" dan bukannya "iman." Meski pengetahuan dalam pengertian tertentu (dibentuk/dipengaruhi oleh tradisi atau otoritas) yang dimiliki seseorang bisa saja mempengaruhi keberimanannya, entah mempertegas ataupun malah menolak imannya, namun seringkali atau bahkan lebih sering jika iman dan pengetahuan tidak saling mempengaruhi alias tidak berkaitan. Alasannya? Lihat saja banyaknya orang yang beragama dan/atau bertuhan, entah secara sadar ataupun tidak sadar, secara tersistematisasi (belajar serius) ataupun hanya ikut-ikutan karena tradisi atau diturunkan beragama karena keturunan. Dengan masih banyaknya orang yang, entah yang mengaku ataupun tidak mengaku beragama dan/atau bertuhan, maka dengan demikian bisa dikatakan bahwa iman seseorang tidak dipengaruhi oleh pengetahuan walaupun pengetahuan (berbagai bukti yang ada) yang bertolak belakang dengan iman seseorang sangatlah banyak. Namun hal tersebut tidak membuat banyak orang beragama/bertuhan mengubah pendirian/pandangan/kepercayaannya terhadap agama dan/atau keberimanan yang dianutnya.

Bagaimana dengan orang-orang yang mengubah pendirian atau kepercayaannya terhadap agamanya sendiri, entah dengan memeluk agama lain (pindah agama) ataupun meninggalkan agama sama sekali dengan menjadi, misalnya, ateis? Bukankah orang-orang yang berpindah ataupun meninggalkan agama, sedikit-banyaknya dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimilikinya? Kemungkinan besar ya, namun bukan pengetahuan-lah yang menyebabkan mereka memutuskan untuk mengubah pandangan dan pendiriannya melainkan argumentasi-argumentasi yang berasal dari pemikiran akal sehat mereka. Pengetahuan pada dirinya sendiri sesungguhnya tidak memiliki kekuatan atau pengaruh apapun pada diri seseorang jika orang tersebut tidak mengolah pikiran dan melakukan permenungan. (Permenungan yang dimaksud di sini bukanlah berfokus pada meditasi walaupun hal itu sah-sah saja dilakukan orang dan membuatnya mengubah pandangan dan pendiriannya setelah bermeditasi. "Permenungan" yang dimaksud di sini adalah melakukan analisis yang serius dan mendalam terhadap objek tertentu.) 

Dengan demikian, pengetahuan saja tidak cukup mampu mengubah pandangan seseorang karena yang dibutuhkan lebih dari itu. Oleh karena itu, yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk berpikir secara cermat dan tajam serta keberanian menyatakan diri dengan jelas dan tegas, setidaknya, terhadap diri sendiri, di mana semuanya itu dilakukan dengan kesadaran penuh dan tersistematisasi dengan baik. Apapun posisi seseorang, entah ia adalah seorang percaya yang beriman terhadap figur yang disebut, dipanggil, dan dinamakan Tuhan atau Allah  atau Brahma atau yang ilahi, ataupun ia seorang ateis yang tidak mempercayai keberadaan figur yang lebih "tinggi" yang melampaui, bahkan mengendalikan hidup dan alam semesta ini, orang tersebut harus mampu menjelaskan posisinya tersebut dengan jelas dan tegas (sekali lagi, setidaknya, pada dirinya sendiri) dengan mengemukakan berbagai argumentasi yang runut, masuk akal, dan jelas.

Apakah dengan demikian pengetahuan tidak diperlukan karena tidak penting? Pengetahuan sangatlah penting karena bisa merangsang orang untuk berpikir lebih dalam sekaligus luas dan tiada henti. Namun, pengetahuan jika tidak ditopang oleh argumentasi-argumentasi yang runut dan jelas serta keputusan diri yang dilakukan secara sadar, mandiri, dan disistematasi, maka sesungguhnya pengetahuan menjadi sesuatu yang kosong dan sia-sia belaka. Pengetahuan pada dirinya sendiri merupakan sesuatu yang baik, namun yang baik itu menjadi semakin nyata dan bermanfaat ketika orang mampu menyerap dan menggunakan pengetahuan itu untuk menjelaskan posisinya secara sadar dan bertanggung jawab.

Minggu, 21 Maret 2010

Fundamentalisme Agama & Interaksi Sosial

Darren Sherkat, seorang dosen Sosiologi di Southern Illinois University melakukan penelitian yang didasarkan pada General Social Survey (badan survei resmi Amerika Serikat yang mendata hal-hal yang berkaitan dengan semua bidang kehidupan masyarakat Amerika Serikat) mengenai tingkat kecerdasan masyarakat Amerika Serikat. Hasil penelitian Sherkat sangat mencengangkan karena terungkap bahwa warga Amerika Serikat yang beragama secara keras (fundamentalistik) cenderung miskin dan berpendidikan rendah (hanya tamat SMA). Namun, kenyataan tersebut belum seberapa jika dibandingkan dengan kenyataan berikutnya yang mengungkapkan bahwa ternyata warga Amerika Serikat yang memeluk agamanya sangat kuat memiliki kemampuan berbahasa yang sangat minim. Artinya, kemampuan interaksi sosial warga Amerika Serikat yang beragama fundamentalistik sangat rendah.

Jika kenyataan berbicara demikian, lalu di mana hubungan antara fundamentalisme agama dan kemampuan interaksi sosial seseorang yang memeluk agamanya dengan begitu kuat? Setidaknya ada dua penjelasan yang bisa dikemukakan untuk melihat kaitan antara fundamentalisme agama di Amerika Serikat dan kemampuan interaksi sosial yang dimiliki oleh para pemeluk agama yang fundamentalistik.

Pertama, umumnya kehidupan keagamaan fundamentalistik di Amerika Serikat ditopang oleh berbagai kelompok kecil yang saling mendukung dan mengayomi. Berbagai jargon yang kerapkali terdengar, seperti: "Kita tidak sempurna, tetapi allah kita sempurna", "syukurilah kekuranganmu karena tuhan akan menyempurnakanmu", "kita harus tetap kecil, biarlah allah yang selalu besar", dan "engkau tidak kekurangan karena allah akan memenuhimu" sedikit banyaknya mempengaruhi pola pikir orang-orang yang termasuk ke dalam kategori tidak mampu, baik secara akademis maupun ekonomis. Mereka bukannya meningkatkan dan mengembangkan kemampuan akademis mereka melainkan melibatkan diri ke dalam kelompok-kelompok keagamaan yang lebih sering memberikan penguatan/penghiburan ketimbang mendorong anggotanya untuk mengembangkan dirinya.

Kedua, kelompok-kelompok keagamaan yang fundamentalistik di Amerika Serikat cenderung berpikiran sempit dan memisahkan diri dari kelompok masyarakat yang lebih luas dan dinamis. Kelompok-kelompok tersebut bukannya mendorong para anggotanya untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas demi meningkatkan dan mengembangkan kemampuan interaksi sosial mereka melalui bahasa, diskusi, dan dialog, tetapi malah cenderung menutup diri. Hal ini mengakibatkan kemampuan berbahasa para pemeluk agama fundamentalistik di Amerika Serikat cenderung minim, di mana hal yang serupa tidak ditemukan pada orang-orang yang tidak beragama secara fundamentalistik. Artinya, warga Amerika Serikat yang beragama secara fundamentalistik memiliki kemampuan interaksi sosial (bahasa) lebih minim dibandingkan warga Amerika Serikat yang tidak memeluk agamanya begitu kuat.

Berikut adalah ciri-ciri warga Amerika Serikat yang beragama secara fundamentalistik dan memiliki kemampuan interaksi sosial yang minim:

* Muda
* Laki-laki
* Bukan dari kalangan kulit putih
* Berasal dari kalangan imigran
* Miskin
* Hanya lulusan SMA
* Menikah muda
* Sudah memiliki anak
* Tinggal bukan di kota-kota besar
* Menetap di wilayah selatan Amerika Serikat

Bagaimana dengan warga Amerika Serikat yang tidak beragama (tidak sama dengan tidak percaya tuhan)? Hasil penelitian mengungkapkan fakta yang merupakan kebalikan dari hasil penelitian terhadap warga Amerika Serikat yang beragama secara fundamentalistik. Artinya, warga Amerika Serikat yang tidak beragama memiliki kemampuan interaksi sosial yang lebih baik dibandingkan saudara-saudaranya yang beragama secara fundamentalistik (keras).