Sudah cukup banyak berita yang menyatakan bahwa ada alat yang bisa mendeteksi keberadaan "makhluk halus". Hal ini didukung oleh beberapa tayangan TV berbayar yang menampilkan sekelompok orang yang memang dibayar untuk mendeteksi keberadaan "makhluk halus" (setan) yang diklaim telah mengganggu manusia (pemilik rumah, gedung, atau penghuni hotel). Orang-orang yang mengklaim telah "merasakan" atau "mendengar" atau "melihat" sepintas adanya bayangan atau pantulan cahaya yang diyakini sebagai "makhluk halus" menghubungi orang-orang (kelompok) tertentu yang mengklaim bisa menemukan dan mendeteksi keberadaan "makhluk halus" tersebut menggunakan alat tertentu (kamera, detektor panas, dan suara).
Ternyata keberadaan "makhluk halus" bukan saja bisa dideteksi dengan peralatan tertentu, bahkan ada alat tertentu yang dipercaya bisa mengusir "makhluk halus" dan bisa dimiliki oleh siapa saja (diperjualbelikan). Lady Gaga mengaku bahwa dirinya "merasa" tidak nyaman akibat diganggu oleh keberadaan "makhluk halus" tersebut. Oleh karena itu, ia membeli alat pengusir setan demi memperoleh kembali ketenangan yang pernah dialaminya.
Lady Gaga mengatakan bahwa ketidaknyamanan yang di-"rasa"-kannya akibat diganggu oleh keberadaan "makhluk halus." Ia pun mengaku tengah mengalami "perasaan yang tidak menentu." Apakah "perasaan" tidak nyaman dan tidak menentu seperti yang dialami oleh Lady Gaga merupakan pertanda bahwa ada yang disebut/dinamakan dengan "makhluk halus" itu? Ini artinya, setan memang ada dan "bisa" mengganggu hidup manusia. Dan hal ini didasarkan pada "perasaan" manusia yang sesungguhnya tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk mengukur dan menentukan kebenaran suatu hal karena "perasaan" manusia dipenuhi oleh bias, self-confirmation, sangat mudah berubah-ubah, dan deceptive. Oleh karena itu, "perasaan" manusia sangat "lemah" dan tidak bisa dipercaya. Dengan demikian, apa yang di-"rasa"-kan Lady Gaga sangat mungkin tidak lebih dari "perasaan" seorang selebriti (artis) yang sedang "naik daun" dan mengalami "sindrom artis" (merasa tidak nyaman karena selalu dikuntit oleh paparazzi dan penggemar). "Perasaan" seperti ini sangatlah umum karena juga dialami oleh banyak artis, khususnya yang popularitasnya baru menanjak.
Kalaupun memang ada yang disebut dan dinamakan "setan" dan bisa dibuktikan keberadaannya, bukankah sebagian besar orang percaya bahwa manusia dan "makhluk halus" hidup di dua dunia yang berbeda; manusia berada di dunia materi sedangkan "makhluk halus" berada di dunia imateri (roh)? Jika demikian, di antara manusia dan "makhluk halus" tidak ada hubungan. Artinya, manusia dan "makhluk halus" tidak bisa saling berkomunikasi. Jika saling berkomunikasi saja tidak bisa terjadi, maka bagaimana mungkin manusia bisa diganggu oleh "makhluk halus" atau keberadaan "makhluk halus" bisa mempengaruhi "perasaan" manusia?
Sepertinya "percakapan" dan "bisnis" yang berkaitan yang dunia paranormal dan supernatural selalu akan mengisi dan menghiasi hidup sebagian besar orang. Mengapa demikian? Karena hal-hal tersebut bagi sebagian besar orang sangat menarik perhatian. Hal-hal yang menurut mereka tidak atau belum dapat dijelaskan (sepenuhnya) oleh manusia sehingga dianggap sebagai misteri. Misteri itulah yang kemudian dianggap sebagai gaib. Gaib karena tidak bisa dijelaskan menggunakan akal sehat. Inilah hambatan yang seyogianya berusaha diteliti dan dianalisis secara kritis. Ketika kritisisme tersingkir dari dunia manusia, maka jangan heran dan kaget jika manusia sangat mudah mempercayai semua hal yang diperolehnya, apalagi ketika hal tersebut dinyatakan oleh seorang yang populer (terkenal seperti artis).
Beberapa waktu lalu saya menulis mengenai prana, vitalisme, chi kung, dan terapi. Di Indonesia, tepatnya Surabaya, baru-baru ini muncul fenomena yang sangat sejajar dengan keempat tulisan di atas. Diklaim bahwa kemampuan menyembuhkan yang dimiliki oleh anak tersebut tidaklah diperoleh secara tiba-tiba atau karena memiliki benda-benda [yang dipercaya memiliki kekuatan gaib]. Namun, kemampuan tersebut diperoleh melalui cara yang dilandasi oleh kesadaran penuh karena dipelajari. Sayangnya, sama sekali tidak dijelaskan hal-hal apa saja yang dipelajari anak tersebut sehingga ia diklaim bisa sampai memiliki kemampuan menyembuhkan orang lain.
Hal ini didukung oleh pengakuan beberapa pasien yang menyatakan bahwa penyakitnya langsung hilang setelah bertemu dan disembuhkan oleh anak tersebut. Beberapa orang mengaku yang ketika datang mengidap pusing, kembung, persendian kaki yang sakit, bahkan mengidap penyakit paru-paru dan sesak napas, namun setelah diterapi oleh anak tersebut penyakit-penyakit itu lenyap. Salah satu pasien juga mengaku bahwa ketika disentuh oleh anak tersebut ia merasakan hangat di tubuhnya. Bagaimana menjelaskan semua hal di atas yang jika dilihat sepintas merupakan hal luar biasa bagi beberapa orang? Mereka menganggap fenomena tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa karena gaib alias tidak dapat dijelaskan oleh akal sehat manusia. Apakah memang demikian?
Sangat bisa diduga dengan kuat bahwa sebagian besar orang yang mendatangi tempat-tempat "penyembuhan" seperti itu sudah terlebih dulu yakin dan percaya bahwa penyembuhan seperti itu memang ampuh. Terlebih, jika berbagai cara (upaya medis) telah dilakukan dan tidak/belum memberikan hasil maksimal. Tentu, dapat diduga kuat bahwa orang-orang tersebut datang ke tempat tersebut dengan harapan dan kepercayaan bahwa penyakitnya akan hilang. Harapan dan kepercayaan yang begitu tinggi dan kuat seperti itu juga didukung oleh berbagai informasi, entah dari media massa ataupun (terutama) dari mulut ke mulut. Hal ini dan keputusasaan akibat penyakit yang tidak kunjung sembuh serta uang yang telah dihabiskan melalui pengobatan medis tertentu telah mendorong banyak orang untuk cenderung mudah mempercayai bahwa ada cara lain yang ternyata lebih sederhana dan jauh lebih murah (berita di atas bahkan gratis) ketimbang berbagai cara yang telah dilakukan sebelumnya. Semua hal ini menstimulasi pikiran orang yang bersangkutan untuk percaya bahwa ia pasti sembuh walaupun ia belum pergi ke tempat "penyembuhan" tersebut. (Banyak orang mengatakannya sebagai "sugesti".)
Jadi, "kesembuhan" yang diperoleh oleh orang-orang tersebut bukanlah kesembuhan yang bisa dijelaskan secara medis atau mungkin juga ditegaskan secara medis. Kalaupun akhirnya kesembuhan orang tersebut ditegaskan oleh medis, maka tetap tidak membuktikan jika kesembuhan tersebut adalah hasil "penyembuhan" yang dilakukan melalui sentuhan atau lambaian tangan tertentu yang dilakukan si penyembuh. Sejauh yang dapat dikatakan bahwa "kesembuhan" yang terjadi merupakan hasil dari dampak placebo. Artinya, "kesembuhan" tersebut dihasilkan oleh harapan dan kepercayaan yang begitu tinggi dan kuat terhadap cara penyembuhan tertentu. Kedua hal tersebut jika dimiliki seseorang sangat mampu mempengaruhi sistem-sistem syaraf dalam tubuh yang akhirnya bisa memberikan dampak pada hormon dan sistem kekebalan tubuh orang yang bersangkutan. Dengan demikian, dampak placebo yang sesungguhnya dipicu oleh dan dari otak manusia mampu mempengaruhi fisik manusia. Namun sayangnya, hal ini tidak banyak diketahui orang karena hanya sedikit orang tertarik mempelajari hal ini dengan lebih mendalam. Ini diakibatkan oleh pragmatisme yang melanda manusia dewasa ini.
Melalui berita yang sama juga dinyatakan bahwa setiap orang yang mendonorkan darahnya di tempat tersebut tidak perlu kuatir karena akan pulih dalam dua menit. Apa yang dimaksud dengan pulih dalam dua menit? Darah orang tersebut akan kembali bertambah dalam dua menit atau sakit akibat tusukan jarum akan pulih dalam dua menit? Saya pikir, orang yang sehat selalu menghasilkan darah bahkan dalam hitungan detik dan akibat tusukan jarum bahkan bisa pulih di bawah dua menit. Jadi, tidak diperlukan "tenaga dalam oleh master penyembuh Chi Sakti" karena semua hal tersebut memang akan terjadi dengan sendirinya, bahkan lebih cepat.
Ternyata kelompok Chi Sakti cukup percaya diri dengan "kemampuan" yang mereka miliki sehingga memberikan alamat lengkap, waktu, dan nomor telepon, baik untuk keperluan pengobatan maupun diklat. Tentu, cara "penyembuhan" seperti ini sangat menarik perhatian orang-orang yang sudah putus asa setelah mencoba berbagai cara pengobatan (medis) dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Mereka telah lelah karena berbagai cara telah dilakukan, namun kesembuhan tidak kunjung terjadi. Oleh karena itu, mereka mengambil jalan pintas dan sederhana dengan pergi ke tempat-tempat penyembuhan "alternatif" seperti yang ada di Surabaya tersebut. Mungkin tidak semua tempat dan cara penyembuhan "alternatif" membahayakan keselamatan para pasiennya. Namun yang pasti, cara-cara penyembuhan seperti itu merupakan "alat penyembuh" yang ampuh bagi mereka yang berpikir sangat sederhana hanya karena adanya harapan dan keyakinan yang begitu tinggi dan kuat.
Tidak sedikit orang yang mengaku memiliki kemampuan khusus tertentu, seperti meramal jodoh, masa depan, keberuntungan, termasuk menyembuhkan penyakit. Orang-orang seperti itu disebut dukun, dan tidak sedikit juga orang yang percaya bahwa ada orang-orang seperti itu - dukun - yang bisa melakukan hal-hal seperti yang telah disebut di atas. Ini adalah kenyataan yang sangat memprihatinkan dan disayangkan karena di zaman yang sudah sangat melek ilmu pengetahuan dan teknologi seperti sekarang ini masih ada saja orang yang percaya terhadap perdukunan. Di satu sisi ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang, namun di sisi lainnya pola dan cara berpikir banyak orang mengalami kemandekan, bahkan kemunduran.
Orang-orang yang mempercayai praktik-praktik perdukunan sudah tidak lagi mampu menggunakan akal sehatnya untuk melihat kenyataan bahwa sesungguhnya perdukunan telah terbukti berulangkali gagal dalam praktiknya. Artinya, ada begitu banyak ramalan meleset, bahkan salah serta penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Namun itu semua tidak menghalangi orang untuk terus mendatangi orang-orang yang mengklaim dan diklaim sebagai dukun dan mengkonsultasikan banyak hal yang terdapat dalam dirinya dengan dukun. Hal demikian pun tidak dibiarkan sia-sia oleh orang-orang yang hendak meraup keuntungan dari praktik perdukunan tersebut. Oleh karena itu, banyak orang mengklaim dirinya sebagai dukun dan melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian orang supaya mempercayai "kesaktian" yang dimilikinya.
Contoh terkini mengenai hal tersebut adalah ketika seseorang yang mengaku sebagai dukun menggunakan dua ekor anak buaya sebagai daya tarik. Tujuan digunakannya dua ekor anak buaya oleh dukun tersebut adalah agar pasien percaya bahwa ia memang memiliki "kesaktian" sehingga si pasien pun membeli obat ramuannya. Hal yang sangat menggelikan. Ternyata dukun tersebut perlu menggunakan "alat bantu" lain untuk membuat para pasiennya percaya terhadap keampuhan "ilmu" yang dimilikinya. Ternyata ia memerlukan "bantuan" dari binatang (dua ekor anak buaya) untuk menarik perhatian para pasiennya. (Mirip pertunjukkan sirkus saja yang melibatkan binatang untuk menarik perhatian pengunjung sehingga bisa memberikan pertunjukkan yang unik.) Hal menggelikan lainnya terkait dengan penggunaan dua ekor anak buaya oleh dukun tersebut adalah bahwa ternyata si dukun tidak mengetahui jika buaya termasuk salah satu hewan yang dilindungi. Ia tidak tahu bahwa di tempat di mana ia mempraktikan "kesaktian"-nya buaya adalah binatang yang dilindungi oleh pemerintah setempat.
Hal sangat ironis sekaligus menggelikan, dukun yang mengaku bisa "mendiagnosis" dan menyembukan penyakit orang lain ternyata tidak mampu mengetahui jika binatang yang digunakannya sebagai atraksi untuk menarik perhatian orang ternyata merupakan salah satu binatang yang dilindungi oleh pemerintah setempat. Sangat ironis sekaligus menggelikan, dukun yang mengklaim diri bisa mengetahui berbagai hal yang terdapat dalam diri (tubuh) orang lain ternyata tidak bisa bisa mengenal sesuatu yang ada dalam dirinya. Sangat ironis sekaligus menggelikan, dukun yang mengklaim dan diklaim "sakti" karena dipercaya mampu "melihat" berbagai hal yang tidak dapat dilihat oleh orang lain secara kasat mata ternyata tidak melihat peraturan/hukum yang jelas-jelas dapat dilihat secara kasat mata. [Katanya sakti . . . kok peraturan aja ga tau sih?!]
Tidak ada yang lebih melegakan ketika "kemanusiaan" berhasil mengalahkan doktrin-doktrin agama yang kaku, menindas, tidak adil, dan semena-mena. Tidak ada yang lebih membahagiakan saat "kemanusiaan" mampu dijunjung lebih tinggi daripada ajaran-ajaran agama yang seringkali merendahkan dan menyisihkan kaum minoritas. Tidak ada momen yang lebih menggetarkan ketika "kemanusiaan" bisa dipeluk lebih erat dibandingkan tradisi-tradisi agama yang sebagian besar sudah kuno, ketinggalan zaman, out-of-date. Pada saat itulah pengalaman manusia akan kemanusiaannya memperoleh nilai yang sangat tinggi karena ia berhasil mengatasi nilai-nilai agama yang sempit dan dangkal.
Peristiwa yang terjadi di Malawi patut dicontoh oleh setiap pemimpin negara di dunia. Berbagai tekanan yang ditujukan terhadap negara tersebut mampu "meluluhkan" presiden Malawi sehingga dengan sangat berani dan jumawa mengambil keputusan yang patut dipuji. Tentu, ini bisa terjadi karena "dunia" terus memberikan tekanan terhadap Malawi. Tekanan dan protes harus terus dilakukan tiada henti ketika kemanusiaan mengalami penyingkiran dan pemberangusan, entah akibat agama ataupun ideologi (politik) tertentu. Oleh karena itu, kemanusiaan harus terus diperjuangkan untuk selalu berada di atas segala hal. Kemanusiaan harus menempati tempat tertinggi dalam (ke)-hidup-(an) manusia karena kemanusiaan yang sejati mengedepankan dan mengutamakan keadilan, cinta kasih, dan kehormatan manusia.
Kemenangan kemanusiaan berarti kemenangan manusia atas segala bentuk penindasan, ketidakadilan, dan eksploitasi, baik yang dilakukan oleh agama maupun ideologi (politik). Kemenangan kemanusiaan berarti kemenangan manusia yang mampu sadar penuh bahwa (ke)-hidup-(an) manusia itu sendirilah yang jauh lebih penting dan utama dibandingkan agama. Mengapa demikian? Karena agama dibuat/diciptakan oleh manusia, dan ketika agama tidak mampu membuat manusia menjadi manusiawi maka itu berarti agama telah gagal melakukan fungsinya. Memanusiakan manusia tidak membutuhkan doktrin-doktrin agama karena telah terbukti berulangkali bahwa agama malah mengakibatkan ketidakadilan. Memanusiakan manusia tidak perlu membawa-bawa tradisi-tradisi agama karena telah terbukti jika hal-hal tersebut ketinggalan zaman, kuno, dan out-of-date. Kemenangan kemanusiaan adalah keberhasilan manusia dalam mengatasi kedangkalan, kesempitan, kekakuan, dan kegelapan pikirannya yang selama ini dikungkung dan dibutakan oleh agama. Kemenangan kemanusiaan berarti kemenangan akal sehat yang didukung oleh semangat cinta kasih dan keadilan.