Selasa, 06 Juli 2010

Potongan Rambut pun Diatur

Sudah merupakan hal yang biasa ketika di negara-negara tertentu, khususnya negara Islam, jika (cara) berpakaian penduduk di negara tersebut diatur oleh pemerintah dengan mendasarkannya pada hukum-hukum Islam. Hal mengatur bagaimana berpakaian yang layak menurut kaidah-kaidah Islam dilakukan supaya penduduk negara tersebut bisa dibentengi dari segala macam hal, seperti: godaan seksual dan derasnya perkembangan budaya ("barat"). Bahkan baru-baru ini pemerintah Iran mengeluarkan hukum yang mengatur potongan rambut kaum laki-laki di Iran.

Pemberlakuan hukum-hukum Islam tersebut sesungguhnya berupaya memenjarakan (tubuh) manusia ke dalam kerangkeng ideologi keagamaan yang sempit dan dangkal. Tubuh manusia dianggap bisa mengakibatkan "dosa" ataupun bencana, baik terhadap si pemilik tubuh maupun orang lain. Ketika sepertinya tubuh manusia diperlakukan sebagai sesuatu yang patut dilindungi karena begitu berharganya, namun yang tidak disadari bahwa sesungguhnya tubuh tersebut sedang diperlakukan semena-mena. Ketika sepertinya tubuh dijaga agar tidak mengalami penindasan dan perkosaan, namun sesungguhnya yang terjadi bahwa tubuh tersebut tengah mengalami ketidakadilan dan perkosaan.

Dunia yang terus mengalami perkembangan, baik secara pemikiran dan teknologi, ternyata juga diimbangi oleh pemikiran-pemikiran yang otoriter dan memenjarakan pikiran manusia. Ketika banyak negara memberikan kebebasan bagi warganya untuk mengekspresikan diri secara bertanggung jawab dengan tanpa berada di bawah kendali hukum-hukum agama melainkan mengedepankan logika dan kemanusiaan, tidak jarang masih ada negara yang mengatur warganya bukan dengan logika serta cara-cara yang tidak manusiawi. Ketika dunia ini terus bergerak ke arah modern, bahkan posmodern, dan banyak bangsa mengikuti arus tersebut, ada juga negara-negara yang malah membentengi diri dengan hukum-hukum agama yang sesungguhnya memasung kebebasan berekspresi warga negaranya. 

Apakah arus modernisasi, baik dalam pemikiran maupun ilmu pengetahuan bisa dibatasi oleh kaidah-kaidah agama? Mungkin saja ya, bisa, namun akibatnya adalah orang-orang yang merasa diri sebagai manusia yang berhak atas tubuh dan hidupnya sendiri merasa risih dan "panas" sehingga mereka pun berupaya memberontak. Jika ini yang terjadi, apakah ini yang dikehendaki dalam kehidupan bernegara, yakni adanya pemberontakan yang dilakukan oleh mereka yang merasa dipenjara oleh pemerintah di dalam negaranya sendiri? Sepertinya jawaban atas pertanyaan tersebut adalah negatif. 

Mengapa Baru Sekarang?

Setelah nyaris 20 tahun (1968-1986) merajalela dengan menyiksa 25 anak secara seksual barulah seorang mantan pastur dikenai ancaman hukuman 20 tahun penjara. Mengapa baru sekarang? Mengapa ancaman hukuman penjara tersebut diajukan setelah perlakuan keji pastur tersebut berlalu lebih dari 10 tahun silam? Mengapa pihak keamanan setempat (Australia) baru sekarang menjatuhi hukuman atas tindakan cela pastur tersebut setelah ia melakukan perbuatannya tersebut hampir 20 tahun? Mengapa juga Paus Benediktus XVI baru meminta maaf kepada korban dan keluarganya serta umum 10 tahun lebih setelah tindakan cemar itu terjadi? Mungkin ini memang "tradisi" otoritas tertinggi gereja Katolik Roma, Vatikan, yang memang sangat lambat meminta maaf kepada publik mungkin karena keangkuhan yang dimiliki mereka. Jangan-jangan selama rentang 20 tahun tersebut lebih dari 25 anak telah disakiti secara seksual oleh pastur biadab tersebut. 

Setelah sekian puluh skandal kekerasan, baik seksual maupun non-seksual yang dilakukan para pastur, sepertinya tidak ada tindakan nyata yang dilakukan oleh Vatikan untuk menganalisis mengapa para pastur tersebut telah berlaku dengan keji. Apakah yang melatarbelakangi perbuatan kejam para pastur yang seharusnya menjadi teladan, bahkan perlindungan bagi umatnya. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, di mana para pastur malah menggunakan otoritas mereka untuk memperdaya dan menyakiti orang-orang seyogianya memperoleh kesejukan dan kedamaian di dalam kepercayaan (Katolik) yang mereka anut. Ternyata otoritas yang dimiliki seseorang bisa membuat orang tersebut menjadi "buta" dengan menggunakan otoritas yang dimilikinya untuk menyesatkan, bahkan menyakiti sesamanya.

Apanya yang Jelas & Nyata Sih?!

Kembali, seorang pemuda di Southampton, Inggris, menyangka telah melihat wajah Yesus ketika berselancar di internet. Ia mengaku tidak sengaja melihat wajah Yesus melalui gambar satelit yang menyoroti sebuah lahan di Hongaria. Ia pun mengaku bukan seorang relijius yang mencari gambar Maria atau Yesus dalam segala hal, namun hal yang ia lihatnya ini merupakan sesuatu yang jelas dan nyata. Inilah salah satu contoh fenomena pareidolia. Beberapa waktu lalu sudah dijelaskan apa yang dimaksud dengan "pareidolia." 

Fenomena pareidolia tidak selalu harus dialami oleh orang yang relijius karena hal ini berkaitan dengan memori otak manusia yang berbagai pola atau bentuk tertentu yang sesungguhnya tidak jelas, apalagi nyata. Oleh karena manusia cenderung menafsirkan pola atau bentuk tertentu yang telah disimpan dalam otaknya dengan berbagai "penglihatan" yang berkaitan dengan figur-figur tertentu (khususnya dalam agama), maka mereka cenderung mudah mengaitkan pola atau bentuk tertentu itu dengan gambaran-gambaran tersebut. Dengan demikian, tidaklah heran jika seorang yang tidak relijius pun bisa mengalami pareidolia karena sebelumnya ia pernah, entah disadari ataupun tidak disadari, melihat gambar figur-figur tertentu dalam keagamaan.

Orang-orang yang mengalami pareidolia selalu menyatakan bahwa "penglihatan" yang dialaminya sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh "jelas dan nyata." Hal ini bisa terjadi karena mereka sudah memiliki asumsi awal yang berasal dan dipicu oleh pola-pola atau bentuk-bentuk yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya. Ketika "penglihatan" yang dianggap "jelas dan nyata" oleh mereka yang mengalami pareidolia itu diterima sebagai suatu kenyataan yang pasti artinya mereka telah mengalami delusinasi. Sesungguhnya hal ini bisa dihindari jika orang-orang itu mau berpikir kritis sehingga menyadari bahwa gambaran yang diterima dan ditafsirkan oleh indera penglihatan mereka itu hanyalah suatu kebetulan yang sama sekali tidak ada artinya.

Minggu, 04 Juli 2010

Rahasia Jerman

Seringkali orang mengatakan dan percaya bahwa pendukung sebuah tim yang sedang bertanding merupakan pihak yang sangat penting untuk kemenangan tim tersebut. Bahkan pendukung yang begitu bersemangat dianggap sebagai pemain tambahan (pemain ke-12 dalam tim sepak bola) sehingga tim lawan pun takluk. Oleh karena itulah banyak orang meyakini jika dukungan dari suporter menjadi hal vital dalam mencapai kemenangan sebuah tim yang didukungnya. Banyak orang pun akhirnya meyakini jika dukungan suporter  dianggap sebagai faktor utama dan penting bagi keberhasilan sebuah tim.

Dalam semangat Piala Dunia 2010 ini timnas Jerman berubah dari tim yang awalnya tidak terlalu diunggulkan karena bermaterikan pemain-pemain yang rata-rata berusia 26 tahun dan tidak diperluat oleh para pemain seniornya, khususnya kapten dan jenderal lapangan tengah mereka, Michael Ballack. Ada semacam tradisi dalam Piala Dunia jika sebuah timnas hendak memperoleh kemenangan dalam sebuah turnamen sekelas Piala Dunia maka dibutuhkan pemain-pemain yang sudah berpengalaman. Kenyataan yang dimiliki timnas Jerman adalah kebalikannya sehingga mereka pun tidak terlalu diunggulkan layaknya timnas-timnas, seperti: Italia (kampiun Piala Dunia sebelumnya dan telah merebut Piala Dunia sebanyak 3 kali), Inggris (diyakini dapat membawa pulang Piala Dunia karena bermaterikan pemain-pemain yang sedang berada pada puncak penampilan mereka/golden age), Brasil (kampiun empat kali Piala Dunia), Argentina (diperkuat peraih pemain terbaik Dunia dua kali yang dianggap sebagai "bocah ajaib" dalam dunia sepak bola), dan Spanyol (kampiun Piala Eropa dua tahun lalu). Namun demikian, Inggris dan Argentina, dua tim yang bermaterikan pemain-pemain sarat pengalaman sehingga lebih diunggulkan dari timnas Jerman, mampu dipulangkan lebih awal ke negara mereka oleh Jerman dengan skor yang sangat meyakinkan (4-1 dan 4-0). Apa yang membuat timnas Jerman yang tadinya tidak terlalu diunggulkan menjadi tim yang sangat diperhitungkan, bahkan dianggap berbahaya?

Berita terkini yang dianggap bisa menjawab pertanyaan tersebut adalah bahwa dukungan para penggemar Jerman di Jerman dipercaya telah membakar semangat anak-anak muda di timnas Jerman sehingga mereka pun mampu menaklukkan tim-tim tangguh, seperti: Inggris dan Argentina. Hal inilah yang dianggap sebagai "rahasia Jerman" sehingga mereka bisa mengalahkan dua tim besar yang bermaterikan pemain-pemain sarat pengalaman. Bahkan diberitakan sesaat sebelum bertanding melawan Argentina semua anggota timnas Jerman menyaksikan cuplikan-cuplikan para pendukung Jerman di berbagai tempat di Jerman yang begitu bersemangat mendukung timnas kesayangannya. Pelatih Jerman sendiri, Joachim Loew, menyatakan bahwa film yang dipertontonkan kepada seluruh anggota timnas Jerman itu dianggap telah memotivasi para pemain muda Jerman. 

Apakah semangat dan motivasi para pemain Jerman memang telah "memenangkan" mereka atas Inggris, bahkan Argentina? Bisa saja ya. Namun, hal "motivasi" atau "semangat" tim bukanlah hal paling penting dan utama yang dimiliki tim Jerman sehingga mereka bisa mengalahkan Inggris dan Argentina, apalagi satu-satunya. Ada beberapa hal yang lebih penting, bahkan paling penting dan utama dibandingkan "motivasi" dan "semangat" yang diperoleh para pemain muda Jerman, yakni: 1. strategi dan pemilihan pemain yang tepat oleh pelatih; 2. para pemain sungguh-sungguh menjalankan strategi yang diterapkan oleh pelatih; 3. kekompakan tim (tidak ada seorang pemain Jerman yang mau lebih unggul, hebat, atau terkenal karena semuanya bermain demi kepentingan tim); 4. para pemain muda Jerman tidak rendah diri karena minimnya pengalaman yang dimiliki apalagi hanya karena mereka rata-rata lebih muda dibandingkan para pemain lawan. 

Apakah ini artinya "motivasi" dan "semangat" tidak penting dimiliki oleh sebuah tim untuk memenangkan pertandingan? "Motivasi" dan "semangat" tetaplah penting, namun bukan menjadi hal yang paling utama dan penting demi memenangkan pertandingan. Apakah tim-tim, seperti: Inggris, Argentina, Italia, Prancis, Brasil, bahkan Korea Utara tidak memiliki cukup motivasi dan semangat untuk memenangkan pertandingan sehingga mereka kalah dan tersingkir dari perhelatan Piala Dunia 2010? Sepertinya sama sekali tidak. 


Dengan demikian, "rahasia Jerman" bisa mengalahkan Inggris dan Argentina, bahkan tim-tim sebelumnya bukanlah terletak pada motivasi dan semangat yang dimiliki para pemain muda Die Mannschaft melainkan terletak pada empat hal yang sudah diutarakan di atas. Apakah ketika dikalahkan 0-1 oleh Serbia di penyisihan grup para pemain Jerman tengah tidak memiliki cukup motivasi dan semangat untuk menggondol Piala Dunia 2010? Saya pikir juga sama sekali tidak. Keempat hal yang telah diutarakan di atas merupakan alasan paling penting dan utama sehingga timnas Jerman yang bermaterikan para pemain muda yang minim pengalaman di pentas dunia mampu mengalahkan lawan-lawannya, termasuk Inggris dan Argentina.