Selasa, 31 Januari 2012

Anak Perempuan Membawa Beban?

Malang tak bisa dihindari oleh perempuan muda ini karena melahirkan seorang bayi perempuan. Secara kejam perempuan mudah tersebut diakhiri hidupnya, tak tanggung-tanggung, bukan hanya oleh ibu mertuanya melainkan juga oleh suaminya sendiri. Peristiwa tragis ini bukan hanya dikecam keras oleh para kepala suka tetapi juga oleh para pemuka agama di wilayah di mana peristiwa tersebut terjadi.

Setidaknya dua pertanyaan segera mengemuka terkait peristiwa biadab tersebut:  
  1. Apa salahnya jika perempuan muda itu melahirkan seorang bayi perempuan?
  2. Mengapa ibu mertua bahkan suami perempuan itu tega mengakhiri nyawa anak menantu dan istrinya sendiri?
Sejauh ini belum ada keterangan lebih lanjut mengenai alasan dibunuhnya perempuan itu oleh ibu mertua dan suaminya. Namun berdasarkan keterangan pendek yang terdapat dalam berita tersebut mengatakan bahwa di beberapa wilayah dan suku di Afganistan anak perempuan dianggap sebagai beban, sebaliknya, keberadaan anak laki-laki disambut dengan pesta yang meriah. Dengan demikian, jika seorang ibu melahirkan anak perempuan, maka keberadaan dan hidup ibu tersebut terancam karena keberadaan anak perempuan tidak diharapkan di tengah-tengah masyarakat. Hal yang serupa tidak akan dialami jika seorang ibu melahirkan anak laki-laki karena kehadiran anak laki-laki malah diharapkan bahkan dirayakan dengan meriah. 

Kenyataan yang sangat memprihatinkan tersebut mendorong lahirnya beberapa pertanyaan lanjutan; mengapa keberadaan (anak) perempuan dianggap sebagai beban dan bukan sebaliknya, (anak) laki-laki yang menjadi beban? Mengapa kehadiran anak laki-laki disambut meriah sedangkan kehadiran anak perempuan akan mengancam hidup sang ibu? Terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut dibutuhkan informasi relevan yang memadai. Namun demikian muncul kecurigaan yang masuk akal, jika kehadiran anak perempuan tidak diharapkan bahkan dianggap sebagai beban, diakibatkan oleh pemikiran tradisional yang sangat sesat dengan berlandaskan pada tradisi agama tertentu.

Tidak lagi menjadi rahasia jika tiga agama samawi menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah daripada laki-laki dengan pemikiran bahwa perempuanlah yang digoda oleh "iblis" sehingga laki-laki dan manusia jatuh ke dalam "dosa." Jelas, pemikiran demikian berlandaskan pada kepercayaan yang berakar pada kisah mitologi yang lahir ribuan tahun yang lampau. Jika kepercayaan dan pemikiran masa lampau seperti itu masih dipercaya sampai saat ini oleh manusia modern, maka yang menjadi taruhannya adalah nyawa manusia. Dengan demikian, sangatlah tidak aneh jika peristiwa biadab seperti berita di atas (masih) terjadi pada masa kini. Ketika manusia modern lebih mengedepankan dan mengutamakan pemikiran tradisional yang sesat sekaligus membahayakan hidup orang lain, dan sebaliknya bukan mendasarkan hidupnya pada nilai-nilai kemanusiaan, maka pada saat itu sesungguhnya manusia tidak beradab alias tidak layak disebut manusia.

Sabtu, 28 Januari 2012

"Kuil" Para Ateis?

Beberapa hari lalu muncul berita bawa direncanakan pembangunan "kuil" untuk para ateis di Inggris. Ide tersebut muncul dari seorang filsuf dan penulis bernama Alain de Botton. Ide pembangunan "kuil" tersebut untuk menepis anggapan bahwa para ateis (seperti digawangi oleh Richard Dawkins and alm. Christopher Hitchens -- keduanya berasal dari Inggris) kaum agresif dan destruktif. Richard Dawkins sendiri mengecam rencana pembangunan tersebut dengan berdasar, setidaknya, pada dua alasan:


1. Kaum ateis tidak butuh bangunan apalagi "kuil" karena lebih baik uangnya digunakan untuk pembangunan sarana-sarana -- seperti bangunan sekolah -- yang melaluinya pendidikan kritis dan rasionalistis dikembangkan dan dikedepankan.


2. Kecurigaan adanya penyalahgunaan uang dalam jumlah besar dalam rencana pembangunan tersebut.
    Sedangkan Alain de Botton berargumen bahwa bangunan tersebut akan menjadi simbol dari cinta, persahabatan, ketenangan, dan perspektif (?). Menariknya, ide pembangunan tersebut bukannya didukung oleh kaum ateis (contohya Richard Dawkins), melainkan malah didukung oleh seorang pendeta Anglikan, George Pitcher, yang mengatakan bahwa pembangunan kuil tersebut bisa menjadi rasa transendensi manusia, bahwa ada sesuatu yang lebih kuasa dan besar daripada keberadaannya.

    Tulisan ini tidak akan memperdebatkan apakah perlu dibangun sebuah bangunan bagi kaum ateis atau tidak, melainkan secara khusus memperhatikan pendapart-pendapat yang dikemukakan pihak-pihak yang terlibat, baik sang pencetus ide (Alain de Botton), pihak yang menolak (Richard Dawkins), maupun pihak yang menyambut baik ide tersebut (George Pitcher).

    Kita mulai dari Alain de Botton. Ia mengungkapkan bahwa ide pembangunan tersebut untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa kaum ateis bukanlah kaum yang agresif dan destruktif. Ini dinyatakannya dengan berdasar pada sikap agresif dan destruktif Richard Dawkins dan Christopher Hitchens (kaum ateis) yang selama ini menyerang (para pemeluk) agama. Ia juga menyatakan bahwa ide mendirikan bangunan tersebut merupakan sesuatu yang baik dan positif layaknya bangunan-bangunan keagamaan yang bersimbolkan tokoh masing-masing agama. Ia pun menggunakan kata "suci" yang dialamatkan pada bangunan yang akan didirikannya.

    Pernyataan Alain de Botton bahwa Richard Dawkins dan Christopher Hictchens adalah kaum ateis yang agresif dan destruktif tidak didasarkan pada bukti-bukti yang kuat. Meski pendapat kedua ateis tersebut mengenai (para pemeluk) agama tidak selalu tepat dan benar, namun itu tidak berarti bahwa mereka adalah orang-orang yang agresif dan destruktif. Agresif? Bisa ya, bisa tidak. Apa buktinya? Bukankah para pemeluk agama jauh lebih agresif dibandingkan para ateis karena mereka (kaum beragama dan bertuhan) berada dalam kelompok yang lebih besar dan kuat dibandingkan kaum ateis yang minoritas? Memang berbagai pernyataan Dawkins dan Hitchens mengenai agama dan para pemeluknya sangat tajam dan cenderung kasar, namun itu tidak bisa dijadikan patokan untuk mengatakan bahwa mereka agresif. Banyak orang (khususnya kaum beragama/bertuhan) lebih memperhatikan "nada" tulisan atau pernyataan Dawkins dan Hitchens sehingga luput memperhatikan isi argumen dalam tulisan maupun peryataan mereka. Tidak jarang orang mengatakan bahwa Dawkins dan Hitchens adalah orang-orang yang kejam. Ini terjadi akibat orang-orang tersebut hanya atau lebih memperhatikan "nada" tulisan ataupun pernyataan Dawkins dan Hitchens.

    Bagaimana mengukur agresivitas seorang ateis? Dengan menghitung berapa sering dia menulis dan mengeluarkan pendapatnya? Bukankah manusia dijamin haknya dalam mengemukakan pendapat, baik melalui kata-kata maupun tulisan? Bukankah setiap orang, entah beragama/bertuhan ataupun tidak, memiliki kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya sesering mungkin?

    Apakah kaum ateis (dhi. Dawkins dan Hitchens) destruktif? Apa buktinya? Sejauh ini kedua orang tersebut belum terbukti pernah membunuh ataupun menghasut orang lain untuk membunuh orang beragama/bertuhan ataupun merusak bangunan keagamaan. Mari kita lihat kelompok yang mayoritas dan lebih kuat, kaum beragama/bertuhan. Dapatkan dihitung, sudah berapa banyak kekerasan, kekejian, ketidakadilan, dan perang terjadi akibat dan didasarkan atas nama agama dan tuhan? Sepertinya tidak terhitung banyaknya. Meski banyak kali pandangan Dawkins dan Hitchens keliru memahami agama dan para pemeluknya, namun itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa mereka destruktif.

    Dengan demikian, mengatakan Dawkins dan Hitchens sebagai ateis yang agresif dan destruktif sama sekali tidak berdasar karena tidak didukung oleh bukti (-bukti) yang kuat. Tidak hanya itu, mengatakan Dawkins dan Hitchens agresif dan destruktif cukup berlebihan.

    Alain de Botton juga menyatakan bahwa jika para pemeluk agama mendirikan bangunan untuk menghormati dan menyembah figur suci masing-masing agama, maka kaum ateis pun bisa mendirikan bangunan yang suci. Penggunaan kata "suci" di sini mengundang pertanyaan. Apa artinya "suci"? Sesuatu yang tidak bernoda, tidak bercela, atau sempurna? Tidak bernoda, tidak bercela, dan sempurna menurut ukuran siapa? Apa tolok ukurnya? Bisa dibayangkan jika dalam konteks ini Alain de Botton tidak menggunakan kata "suci" dalam konteks agama karena dalam konteks agama "suci" berarti sesuatu yang tidak bercela, bersih.

    Apakah kata "suci" yang digunakan Alain de Botton disematkan pada bangunan yang akan didirikannya? Jika demikian, maka jelas, hal tersebut mengandung masalah karena bangunan, entah kuil, gereja, masjid, tempat sesembahan, atau apapun itu namanya hanyalah bangunan (benda mati). Orang-orang yang datang dan bersembahyang di tempat itu yang kemudian menganggap dan mempercayainya sebagai sesuatu yang suci. Dianggap suci karena ada aturan-aturan tertentu yang tidak boleh dilanggar (misalnya: melepas alas kaki, berpakaian rapi atau mengenakan pakaian tertentu bahkan atribut khusus, dan adanya ritual tertentu). Jika demikian, apakah dalam benak Alain de Botton bangunan yang akan didirikannya tersebut akan memiliki sederet aturan layaknya aturan dalam bangunan agama? Sepertinya tidak. Dengan demikian, penggunaan kata "suci" dalam konteks tersebut keliru alias tidak pada tempatnya.

    Di lain pihak Richard Dawkins menuding bahwa ide pendirian bangunan bagi kaum ateis tersebut tidaklah perlu karena lebih baik uangnya digunakan untuk membangun gedung-gedung sekolah yang di dalamnya mengembangkan dan mengedepankan pemikiran kritis dan rasionalistis. Terhadap pandangan Dawkins tersebut bisa ditambahkan juga bahwa demi mengembangkan pemikiran kritis juga dibutuhkan para guru, pendidik, dan pendamping yang terlatih. Ini artinya diperlukan adanya pelatihan-pelatihan terencana dan berkesinambungan untuk melatih orang-orang yang peduli terhadap pemikiran kritis.

    Selain itu, Dawkins juga menentang ide pendirian bangunan itu karena diduga biayanya berasal dari penyalahgunaan uang. Sayangnya pernyataan Dawkins tersebut tidak didukung oleh bukti-bukti alias tidak ditunjang oleh angka-angka. Jika tudingan Dawkins tersebut benar adanya, maka pembangunan "kuil" tersebut haruslah ditolak.

    Selain dua pihak ateis yang saling bertentangan terhadap ide pendirian bangunan bagi kaum ateis, ada juga pendapat yang muncul dari pemimpin agama (seorang pendeta Anglikan), George Pitcher. Bertolak belakang dari pandangan Dawkins, Pitcher malah menyambut baik ide pendirian bangunan tersebut. Ia menyatakan bahwa ide pendirian bangunan bagi kaum ateis berdasar pada adanya sesuatu yang lebih kuat dan besar dari manusia. Jika pandangan Pitcher ini merupakan tafsirannya terhadap ide pembangunan tersebut, maka tafsirannya tersebut keliru karena seorang yang tidak percaya adanya tuhan (ateis) berarti orang tersebut tidak percaya pada adanya sesuatu yang lebih kuat dan besar yang berada di luar dirinya. Seorang ateis tidak memiliki kepercayaan terhadap adanya sesuatu, entah kekuatan, energi, ataupun dorongan yang memiliki "pribadi" yang melampaui dirinya. Dengan demikian, jika tafsiran Pitcher itu ditujukan pada ide pendirian bangunan bagi kaum ateis, maka tafsirannya tersebut salah alamat alias tidak tepat alias salah.

    Pitcher juga menyatakan bahwa naluri yang berasal dari sekularitas atau narasi agama, sejatinya sama mengundang pertanyaan. Apakah ini berarti narasi dari dunia (kata "sekular" berasal dari kata Latin saeculum, yang artinya dunia) dan narasi dari agama memiliki semangat yang sama? Sama sekali tidak. Mengapa demikian? Narasi sekular (sesuai dengan artinya) berarti semangat hidup nyata yang berpijak pada dunia. Sementara narasi agama membawa semangat pada "dunia atas" (dunia abstrak seperti surga dan mahkluk2 surgawi). Sekular artinya berada, hidup pada dunia nyata, masa kini, dan tidak "melihat" ke atas serta mengarahkan pandangan kepada "hal-hal di atas." Yang ke dua ini mengacu pada agama, bukan pada sekular, dunia. Dengan demikian, pernyataan Pitcher bahwa narasi sekular dan narasi agama sesungguhnya sama adalah keliru.

    Setelah memperhatikan setiap pandangan dengan seteliti mungkin, maka pada pihak manakah anda setuju? Bagi saya, tidak penting apakah kaum ateis memiliki gedung "sendiri" atau khusus karena masing-masing bisa "berjuang" dan hidup dalam masyarakatnya masing-masing. Jika memang dibutuhkan tempat untuk berkumpul, maka bisa berkumpul di tempat tertentu, jadi tidak perlu mendirikan tempat khusus. Terlebih, bagi kaum ateis tidak ada satupun subjek yang "suci" dan (harus) disembah karena bagi kaum ateis tidak ada yang tidak bercela, tidak bernoda. Yang perlu dilakukan dan terus dikembangkan serta dikedepankan adalah pemikiran kritis dan perjuangan terhadap kekerasan dan ketidakadilan. Meski kritisisme, perlawanan terhadap kekerasan dan ketidakadilan harus terus dilakukan, itu pun bukan sesembahan kaum ateis sehingga ketiga hal tersebut pun tidak perlu disembah layaknya kaum beragama/bertuhan menyembah tuhan/allahnya. 
    text-align: justify;
    Yang ke dua ini mengacu pada agama, bukan pada sekular, dunia. Dengan demikian, pernyataan Pitcher bahwa narasi sekular dan narasi agama sesungguhnya sama adalah keliru.

    Jumat, 27 Januari 2012

    Maaf dalam Doa

    Tidak jarang orang mengaitkan kematian dengan agama dan/atau tuhan, namun sebaliknya hanya segelintir orang yang memahami bahwa peristiwa kematian merupakan hal yang wajar alias normal karena dialami oleh setiap makhluk hidup. Oleh karena kematian oleh banyak orang dianggap berkaitan tuhan maka ketika kematian terjadi mereka membawa-bawa tuhan. Hal inilah yang juga dialami oleh perempuan muda yang karena mabuk telah mengakibatkan kematian sembilan orang. Dalam surat yang ditulisnya di balik jeruji ia memohon maaf kepada banyak pihak termasuk tuhan. Dalam surat yang janggal -- selain meminta maaf kepada tuhan, perempuan muda tersebut juga memohon maaf dari, serta mendoakan para korban -- itu si pemohon maaf kepada tuhan layaknya sebagai figur yang nyata dan hidup.

    Mengapa "figur" tuhan dianggap sebagai sesuatu yang nyata dan hidup oleh banyak orang, khususnya yang beragama, sekalipun keberadaan figur tersebut, sampai saat ini, tidak dapat dibuktikan secara jasmani? Salah satu penjelasan yang sederhananya adalah bahwa karena kepada mereka diajarkan dan ditanamkan untuk percaya akan adanya figur tersebut sejak kecil tanpa mempertanyakan apalagi meragukan, "apakah figur tersebut memang benar nyata dan hidup."

    Mereka yang percaya pada keberadaan tuhan selalu mendasarkan kepercayaannya pada, selain ajaran yang diterima sejak kecil, juga pada "perasaan" dan pengalaman pribadi dengan figur tuhan tersebut. "Perasaan" dan pengalaman pribadi inilah yang disebut mereka dengan pengalaman spiritual. Jika "perasaan" dan pengalaman tersebut memang benar adanya, mengapa tidak setiap orang "merasakan" dan "mengalami" perjumpaan dengan figur yang disebut tuhan, allah, ataupun "kuasa" pribadi yang  mengendalikan manusia? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut cukup sederhana, yakni: "perasaan" dan pengalaman spiritual bersifat sangat subjektif karena berasal dari bentukan sejak kecil dan juga bisa diperkuat oleh lingkungan sekitar.

    Kedua hal tersebut, jika tidak dipikirkan secara kritis, akan terus tertanam dalam pemikiran orang yang meyakininya. Apa artinya? "Perasaan" dan pengalaman mengenai tuhan merupakan "benih" dalam otak yang oleh orang yang mempercayainya dianggap sebagai sesuatu yang nyata dan hidup di luar dirinya. Namun sesungguhnya hal tersebut berada dalam pikirannya semata. Oleh karena "figur" tuhan dipahami berada di luar diri manusia, maka orang-orang yang mempercayainya pun memanjatkan doa pada figur tersebut. Tuhan dipercaya sebagai "figur" maha pemaaf dan pemurah layaknya manusia meskipun manusia bukan yang "maha."

    Jika tuhan, allah, ataupun "kuasa" pribadi yang mampu mengendalikan manusia hanyalah berada dalam pikiran manusia, dan tidak berada di luar manuasia, maka dialamatkan ke manakah doa-doa yang dipanjatkan oleh begitu banyak orang? Jika pertanyaan tersebut dialamatkan kepada saya, maka jawabannya pun sangat sederhana dan singkat, "Jangan tanya saya karena saya tidak berdoa."

    Senin, 15 Agustus 2011

    Seni Berpikir Kritis (Bagian Ketiga - Terakhir)


    Pada bagian akhir seri tulisan seni berpikir kritis yang lalu disinggung empat kunci utama yang merupakan ciri berpikir kritis, yakni: berusaha berpikir jernih dan lurus, berusaha fokus pada ide-ide atau poin-poin utama, berusaha mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam yang relevan, dan berusaha berpikir terbuka. Tulisan kali - seri terakhir - berfokus pada empat kunci utama tersebut.

    1.   Berusaha berpikir secara jernih dan lurus

    Seorang yang berpikir kritis selalu awas terhadap berbagai pernyataan, ide, atau pemikiran yang tidak jelas/jernih alias kabur dengan tidak puas sekadar memahami penampakan luar setiap hal melainkan selalu berusaha memahami apa yang terkandung di dalamnya. Artinya, orang tersebut mau berpikir mendalam. Namun sayangnya,  banyak orang lebih suka berpikir dangkal sehingga mudah dikelabui dan disesatkan oleh berbagai pernyataan, ide, atau pemikiran yang tidak jernih, ambigu (bermakna ganda), dan tidak lurus. Sebaliknya, orang yang berpikir jernih gemar berpikir secara mendalam dengan selalu menguji setiap pernyataan, ide, atau pemikiran, baik yang bukan berasal dari dirinya maupun berasal dari dirinya. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah selalu berusaha menjelaskan setiap hal dengan kata-kata sendiri demi pemahaman yang jernih, lurus, dan mendalam.

    2.   Berusaha fokus pada ide-ide atau poin-poin utama

    Seorang yang berpikir kritis selalu berusaha menghindari cara berpikir parsial. Artinya, ia selalu awas terhadap berbagai pernyataan, ide, atau pemikiran yang tidak fokus. Oleh karena itu, ia selalu berfokus hanya pada ide-ide atau poin-poin utama sehingga ia selalu berada dalam konteks. Dengan demikian, seorang pemikir kritis senantiasa berusaha berpikir dalam konteks tertentu, baik ketika mengajukan pertanyaan, memberikan contoh, analogi, metafor, mengemukakan hipotesis/hipotesa, menawarkan jalan keluar, maupun mengambil keputusan. Bagaimana fokus terhadap berbagai ide atau poin utama bisa dicapai? Dengan selalu mengajukan beberapa pertanyaan, seperti: “Apakah ini adalah ide pokok atau masalah utamanya?”, “apakah saya fokus pada ide atau masalah pokok?”, dan “apakah konteksnya?”

    3.  Berusaha mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam yang relevan

    Seorang yang berpikir kritis tidak jemu mengajukan pertanyaan relevan terhadap semua hal. Ini dilakukan demi pemahaman dan penilaian yang sesuai. Seorang pemikir kritis selalu awas dan sadar bahwa ada begitu banyak hal yang seringkali berbeda dari penampilannya. Artinya, ia tidak mau pikirannya dikecoh oleh penampakan luar dari setiap hal. Oleh karena itulah ia mengajukan berbagai pertanyaan mendasar, penting, dan sesuai konteks. Selain bertanya, seorang pemikir kritis juga selalu siap menanggapi berbagai pertanyaan relevan yang mempertanyakan pertanyaannya. Dengan demikian, ia bukan hanya mau bertanya, melainkan tidak bosan menghadapi pertanyaan, baik yang berasal dari dirinya maupun dari luar dirinya.

    4.   Berusaha berpikir terbuka

    Seorang yang berpikir kritis selalu bersedia mendengar pandangan orang lain sekalipun pandangan tersebut berbeda dari pandangannya. Dan jika memungkinkan ia mempertimbangkan ide atau pemikiran yang berbeda dari ide atau pemikirannya. Seorang pemikir kritis tidak ragu dan segan mengakui kesalahannya serta mengubah pandangannya ketika bukti datang bukti baru yang lebih masuk akal, kuat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, seorang pemikir kritis adalah individu yang selalu terbuka terhadap berbagai ide atau pemikiran baru yang telah dan dapat diuji kebenarannya. Dengan demikian, seorang yang kritis memiliki kerendahan hati untuk menyadari dan mengakui kesalahannya dalam berpikir.

    Setelah memperhatikan keempat kunci utama dalam berpikir kritis, maka dapat disimpulkan bahwa seorang yang berpikir kritis adalah individu yang sadar penuh menggunakan pikirannya dengan sesuai dan menjadikan berpikir sebagai kegiatan yang bukan hanya diterapkan pada subjek-subjek di luar dirinya, melainkan pertama-tama dan terutama dialamatkan pada dirinya sendiri sebagai subjek yang berpikir. Akhirnya, yang harus selalu diingat bahwa semuanya itu dilakukan tanpa mengenal kata “stop” karena merupakan bagian hidup yang terus berlangsung.

    Minggu, 14 Agustus 2011

    Makna Kehidupan (2)


    Jalan Keluar
    Bagi Schopenhauer kehendak tidaklah rasional. Kehendak merupakan dorongan yang tidak akan pernah bisa terpuaskan dan buta. Kehendak itu terjebak dalam kehidupan manusia yang membuatnya frustrasi karena dipenuhi dengan kerja keras tiada henti. Kehidupan, bagi Schopenhauer, seharusnya tidak perlu ada karena menyengsarakan manusia. Jika demikian, apa yang bisa dilakukan manusia agar bisa keluar dari kesengsaraannya? Schopenhauer mengajukan dua jalan keluar: pertama, kontemplasi estetik (bersifat sementara) dan kedua, penyangkalan estetik (bersifat abadi).

    Individu yang melakukan kontemplasi estetis mampu melampaui apa yang dilihat atau didengarnya dari sebuah objek. Individu tersebut memperoleh kesadaran lebih tentang unsur dasar dan sejati dari realitas. Kontemplasi membebaskan individu tersebut dari subjek yang berusaha menguasai objek. Namun jika individu melihat objek bukan sebagai objek yang ditentukan oleh kategori pemahaman atau representasi melainkan memandangnya lebih dari sekadar objek maka individu tersebut bisa tiba pada tipe dasar objek tersebut. Menurut Schopenhauer ketika kehendak memanifestasikan dirinya ke dalam objek partikular dari dunia ini akibatnya ia terobjektifikasi ke dalam objek-objek universal. Inilah yang disebut dengan Ide-ide Platonik.

    Pemahaman Schopenhauer tersebut akan mudah dipahami jika dianalogikan ke dalam bidang atau konteks seni. Seniman bisa menjadi lebih dari sekadar subjek ketika ia mampu membebaskan dirinya dari tuntutan kehendak dengan berhenti dari semata-mata pribadi dan menjadi subjek pengetahuan yang tidak lagi memiliki kehendak. Pada saat itulah seorang seniman dapat mengkomunikasikan pengetahuannya mengenai objek seni melalui karya seni yang mengagumkan. Dengan demikian, tidak mengherankan jika pelaku dan penikmat seni bisa mengalami perasaan tertentu terhadap objek seni karena mereka mampu melampaui objek yang dilihat atau didengarnya. Namun demikian, kontemplasi estetik sifatnya sementara, sedangkan penyangkalan estetik bersifat abadi.

    Pada saat individu mengenali dunia sebagaimana adanya dunia, pada momen itulah ia melihat kehidupan sebagai sebagai ruang dan waktu yang di dalamnya harus diisi dengan kerja keras tanpa akhir. Menurut Schopenhauer ketika individ mampu menyadari hal ini maka dirinya sesungguhnya telah terbebas dari kesengsaraannya karena pada titik ini ia telah sadar penuh. Ia bahkan menjadi individu yang sadar untuk menghargai, menghormati, dan mencintai subjek lain sebagaimana ia menghargai, menghormati, dan mencintai dirinya sendiri. Kesadaran ini menuntun individu pada pembebasan dari kehendak yang sifatnya ilusif. Pembebasan dari kehendak – pengosongan diri – ini dapat dicapai melalui penyangkalan diri. Ini yang disebut Schopenhauer sebagai penyangkalan estetik. Pernyataan Schopenhauer mengenai “penyangkalan diri” merangsang pertanyaan, apa itu “penyangkalan”? Apa yang disangkal?

    Menurut Schopenhauer proses mengetahui menuntut keberadaan subjek sebagai yang mengetahui dan objek sebagai yang diketahui, sementara setiap kali Schopenhauer menyebut “pengosongan” atau “penyangkalan” ia sedang berupaya, bukan hanya meniadakan subjek dan objek, namun juga meniadakan ruang, waktu, pengertian, dan kehendak itu sendiri. Dengan kata lain ia mengatakan bahwa tidak ada kehendak, tidak ada representasi, dan juga tidak ada dunia (bukan kehidupan). Apakah dengan demikian Schopenhauer seorang nihilis? Sama sekali bukan, karena ia tidak mengatakan bahwa “yang ada hanyalah ketiadaan” namun sebaliknya, “ketiadaan tidaklah pernah ada.”

    Kesimpulan
    Setelah mencoba memahami Schopenhauer, maka dengan demikian, pertanyaan “apakah Schopenhauer seorang filsuf yang memandang kehidupan secara pesimistis?” bisa dijawab dengan “tidak.” Mungkin saja Schopenhauer memahami kehidupan agak negatif, namun itu tidak berarti manusia lain yang hidup di dalamnya juga bersikap negatif terhadap kehidupan. Ini tidak dapat dilepaskan dari pandangannya mengenai bunuh diri. Jika kehidupan ini sama sekali tidak bernilai dan manusia seharusnya tidak perlu berada di dalamnya, apakah dengan demikian bunuh diri menjadi sah? Jika kehidupan ini tidak bermakna mengapa tidak bunuh diri saja?! Menurut Schopenhauer, tindakan bunuh diri merupakan kesalahan karena ketika individu melakukan bunuh diri berarti dirinya menyerah dan kalah terhadap kehendaknya. Lebih dari itu, tindakan bunuh diri adalah bentuk afirmasi atas kehendak dan penerimaan atas duka cita. Yang dikatakan Schopenhauer adalah “penyangkalan kehendak” bukan “penyangkalan (terhadap) kehidupan.” Dengan berdasar pada argumen inilah maka tindakan bunuh diri hanya akan menghancurkan diri sendiri dalam dunia representatif yang justru ditolak Schopenhauer.

    Hal penting yang perlu dicatat dari pandangan Schopenhauer – meski ia secara agak negatif memandang kehidupan – bahwa ia mengajukan pengalaman estetik (bukan mistik) sebagai alternatif atau jalan keluar bagi manusia dari kesengsaraan hidupnya. Harus diperhatikan bahwa jalan keluar tersebut bukanlah pelarian apalagi melakukan tindakan bunuh diri. Ini dilakukan dengan berdasar pada kesadaran bahwa manusia tidak hidup seorang diri di dunia ini karena ada makhluk hidup lainnya dan alam. Manusia juga bukanlah subjek sementara yang lainnya adalah objek(-nya), melainkan semuanya adalah subjek. Kesadaran inilah yang memampukan manusia melihat, memahami, dan menilai dunia sekitarnya sebagaimana adanya.

    Dengan demikian dari Arthur Schopenhauer kita belajar bahwa manusia bukanlah satu-satunya subjek di jagat ini karena ada subjek-subjek lainnya. Meski manusia selalu berusaha memahami dan memaknai dengan menilai subjek-subjek sekitarnya, namun adalah langkah yang bijak jika penilaian itu dilakukan dengan sesuai alias layak. Artinya, manusia tidak memberikan penilaian yang semena-mena terhadap subjek-subjek itu. Bagaimana penilaian sesuai/layak itu dilakukan? Dengan berpikir kritis individu akan dituntun ke dalam (proses) penilaian yang sesuai sehingga, baik dirinya maupun sesamanya tidak akan terkecoh dan tersesat.

    Makna Kehidupan (1)

    Apakah makna kehidupan? Tidak sedikit orang bertanya dan mencari jawaban terhadap pertanyaan seperti itu, termasuk seorang filsuf Jerman, Arthur Schopenhauer (1788-1860). Namun demikian, banyak orang (secara keliru) menafsirkan pandangannya mengenai kehidupan sehingga ia dianggap sebagai seorang yang pesimis. Tidak jarang orang mengatakan jika Schopenhauer memiliki pandangan negatif terhadap kehidupan dan menganggap dunia sebagai sesuatu yang seharusnya tidak ada. Apakah benar Schopenhauer filsuf yang pesimis terhadap kehidupan? Jika ya, mengapa ia berpikir demikian? Jika tidak, apakah pandangannya mengenai kehidupan, dan adakah jalan keluar yang ditawarkan kepada manusia untuk memaknai kehidupannya? Pembahasan makna kehidupan menurut Arthur Schopenhauer akan dibagi ke dalam dua bagian tulisan

    Dualisme
    Siapa saja yang hendak menyelami pemikiran Schopenhauer terlebih dulu perlu memahami karya Immanuel Kant (1724-1804) agar tidak tersesat, karena pandangan Schopenhauer berangkat dari penolakannya terhadap pemikiran Kant. Dalam karyanya (“Kritik terhadap Akal Budi Murni”) Kant mengatakan bahwa pikiran itu aktif dan kekuatan apriori yang berasal dari pikiran itu yang memainkan peranan dalam pembentukan sifat dunia yang dialami manusia. Berbagai bentuk yang berasal dari intuisi inderawi manusia berlangsung di dalam ruang dan waktu. Artinya, semua objek yang dialami manusia selalu berada dalam ruang/tempat dan waktu tertentu. Namun demikian, intuisi inderawi manusia tidak cukup memberikan pengetahuan mengenai objek yang dialami manusia sehingga intuisi tersebut harus dibawa ke dalam konsep-konsep sehingga membentuk pengalaman inderawi. Pengalaman inderawi ini dibentuk dan diatur oleh kerja mental yang disebut kategori (Menurut Kant ada 12 kategori, yakni: kesatuan, pluralitas, totalitas, kenyataan, negasi, pembatasan, substansi, sebab-akibat, kesalingan, kemungkinan, aktualitas, dan kebutuhan), sedangkan menurut Schopenhauer hanya ada satu, yaitu kausalitas. Kategori-kategori ini memampukan manusia untuk memahami bahwa setiap objek yang dicerapnya berada dalam ruang dan waktu. Hal-hal inilah yang memungkinkan manusia dapat melihat dan memahami dunia bukan hanya dalam ruang dan waktu namun secara keseluruhan. Dengan demikian, Kant memandang dunia sebagai objek yang menampakkan diri kepada manusia (subjek). Artinya, semua hal yang bisa diketahui manusia tidak lain hanyalah berupa sifat representasi dari sebuah objek.

    Lebih lanjut Kant mengatakan bahwa makna terutama dunia sebagaimana ia menampakkan dirinya kepada manusia menunjukkan sesuatu yang lain/berbeda, yakni adanya realitas di balik penampakan tersebut. Inilah yang disebut Kant dengan fenomena (penampakan) dan noumena (“sesuatu pada dirinya sendiri”). Menurut Kant noumena merupakan hal yang tidak sama dengan pengalaman manusia. Artinya, pengalaman manusia berasal dari dunia objek dan dikonstruksi di dalam pikiran manusia. Dengan demikian, manusia bisa memiliki pengetahuan mengenai fenomena, namun tidak bisa memiliki pengetahuan mengenai noumena karena samar-samar. Oleh karena itulah manusia tidak dapat mengatakan hal-hal mengenai noumena selain hanya menyadari bahwa hal tersebut ada. Noumena itulah yang berinteraksi dengan pikiran manusia sehingga melahirkan pengalaman.

    Pada momen inilah Schopenhauer menolak pandangan Kant. Pernyataan Kant bahwa noumena merupakan tempat dalam rangkaian kausalitas yang menjadi dasar pengalaman manusia, bagi Schopenhauer dianggap sebagai konsep yang menunjuk bahwa ada sesuatu lain yang berada di luar pengalaman manusia. Penolakan Schopenhauer tersebut jika dirumuskan ke dalam sebuah pertanyaan menjadi: bagaimana mungkin sungguh-sungguh ada yang disebut dengan noumena jika ia sendiri lahir karena konstruksi pikiran manusia? Dengan demikian, seandainya Kant benar dan kategori kausalitas sesuai hanya pada objek sebagaimana ia menampakkan dirinya, bagaimana kita bisa memahami pernyataan Kant bahwa noumena dapat melahirkan sesuatu? Berdasar pada hal ini Schopenhauer mengatakan bahwa tetap diperlukan adanya konsepsi lain dari hubungan antara fenomena dan noumena.

    Dunia (sebagai) Kehendak
    Dualisme fenomena dan noumena Kant, bagi Schopenhauer, merupakan sesuatu yang absurd dan tidak mungkin dilakukan sehingga harus ditolak. Berbeda dari Kant, Schopenhauer berpendapat bahwa penampakan dan noumena tidak dapat dipisahkan karena merupakan realitas yang sama, hanya saja dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda. Bagi Schopenhauer, relasi bukanlah sebab-akibat melainkan identitas itu sendiri. Pada satu sisi dunia adalah representasi sekaligus pada sisi lainnya dunia pada dirinya sendiri merupakan kehendak. Pandangan Schopenhauer tersebut berdampak pada pengertian bahwa manusia sebagai subjek menerima tubuhnya sebagai objek sebagaimana objek lain dalam dunia (fisik) ini. Pengertian tersebut menampakkan diri dalam ruang dan waktu, berada dalam hubungan kausal, selalu berubah, dan demikian seterusnya. Dengan demikian, manusia melihat hal tersebut sebagai representasi, penampakan yang berada dalam dunia eksternal sekaligus empiris. Artinya, terhadap semua objek dalam dunia yang menampakkan diri sebagai representasi, manusia memiliki akses terhadap tubuhnya. Manusia mengetahui tubuhnya sebagaimana tubuhnya berada, terlepas dari tubuh manusia sebagai representasi karena ia memilikinya. Schopenhauer pun mengatakan dalam tubuhnya manusia menemukan kehendak.

    Namun demikian, orang harus berhati-hati untuk tidak menafsirkan pernyataan Schopenhauer tersebut dengan mengatakan bahwa kehendak manusia merupakan penyebab aktivitas tubuh karena baginya tubuh dan kehendak adalah dua aspek dari realitas yang tidak berbeda alias sama. Schopenhauer mengatakan bahwa hasrat menghendaki itu adalah tubuh. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa tubuh manusia adalah kehendak yang terobjektifikasi. Dengan demikian, pada poin ini ia sependapat dengan Kant yang menyatakan bahwa dunia pada dirinya sendiri mengakibatkan representasi.

    Pernyataan Schopenhauer bahwa tubuh adalah kehendak yang terobjektifikasi berimplikasi pada gagasan bahwa seluruh dunia berdasarkan penampakannya tidak lain dan tidak lebih merupakan kehendak yang terobjektifikasi. Hal ini didasarkan pada penolakan Schopenhauer terhadap paham solipsisme yang mengatakan “yang ada hanyalah noumena dan representasinya.” Oleh karena itulah ia menegaskan bahwa tubuh manusia merupakan bagian dari dunia sebagaimana dunia menampakkan dirinya, dan keseluruhan manusia adalah kehendak itu. Dalam bahasa Schopenhauer, ketika individu menyadari dan mengenali hal ini, maka ia akan memahami bahwa sifat terdalam yang dimilikinya adalah kehendak.

    Seni Berpikir Kritis (Bagian Kedua)


    Tulisan bagian pertama membahas mengenai manfaat berpikir sesuai/tepat demi memberikan penilaian dan mengambil kesimpulan yang tepat dalam situasi tertentu. Namun sayangnya, banyak orang tidak menyadari pikirannya sendiri bahkan tidak jarang orang menganggap berpikir bukanlah hal yang penting karena pikirannya berproses dengan sendirinya alias otomatis. Tulisan bagian kedua ini mengangkat seberapa penting orang mempelajari pikirannya sendiri demi menanggapi berbagai pertanyaan yang diangkat di akhir tulisan bagian pertama.

    Harus diakui hanya segelintir orang menganggap berpikir mengenai pikirannya adalah sesuatu yang penting. Sebagian besar orang “berpikir” bahwa pikirannya tidaklah perlu dipikirkan karena tidak ada manfaatnya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa tidak sedikit orang menganggap berpikir mengenai pikirannya sendiri adalah hal yang aneh. Ini mengakibatkan berpikir hanya dilakukan sebagian kecil orang karena berpikir tidak dijadikan bagian dari budaya manusia. Namun jika diperhatikan dan disadari, (kegiatan) berpikir memainkan peran yang banyak dalam kehidupan manusia; pernyataan, keyakinan, dan “perasaan” dipengaruhi dan dihasilkan dari proses berpikir manusia. Ini adalah keniscayaan. Dengan demikian, orang harus sadar penuh bahwa berpikir merupakan bagian hidup manusia yang sangat penting, karena dengan berpikir manusia menentukan keberadaannya. 

    Setelah menyadari pentingnya berpikir, berikutnya adalah bagaimana berpikir yang sesuai itu? Bagaimana berpikir secara efektif? Ketika berbicara mengenai “sesuai” dan “efektif” berarti berkaitan dengan kualitas. Artinya, berpikir menjadi semakin penting karena kualitas ditentukan oleh, salah satunya, latihan demi keterampilan. Oleh karena itu, dibutuhkan ketekunan dan waktu untuk seseorang mencapai tahap berpikir yang baik. Kemampuan berpikir sesuai tidak bisa diperoleh hanya dalam satu atau beberapa hari, bahkan bulan karena dibutuhkan kemauan untuk mengembangkan kemampuan dan kerja keras tiada henti.

    Berpikir haruslah diperlakukan sebagai kegiatan seni yang terus berlangsung sehingga setiap kali kesulitan, masalah, tantangan, dan ketidaknyamanan muncul, orang tidak berhenti apalagi mundur dalam berpikir, melainkan terus melatih keterampilan berpikirnya. Layaknya seorang atlit atau seniman yang terus berlatih dan meningkatkan keterampilannya demi hasil yang maksimal bahkan sempurna, maka hal yang serupa berlaku bagi orang yang mau berpikir efektif. Tidak ada yang lain kecuali kesungguhan, latihan, dan kerja keras tiada henti demi tercapainya proses berpikir yang sesuai dan efektif.

    Setidaknya ada empat kunci utama yang menjadi ciri berpikir efektif, yakni: 

    • Berusaha berpikir secara jernih dan lurus
    • Berusaha fokus pada ide-ide atau poin-poin utama
    • Berusaha mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam yang relevan
    • Berusaha berpikir terbuka

    Jika seorang menerapkan empat hal tersebut maka ia sudah berada dalam jalur yang sesuai/tepat dalam proses berpikir efektif bahkan kritis. Harus disadari penuh bahwa keempat hal di atas tidak berfungsi sebagai tongkat ajaib atau mantra yang ketika diterapkan serta-merta mengubah seorang menjadi pemikir kritis. Harus terus diingat, kesungguhan, latihan dan kerja keras tiada henti adalah daya utama bagi mereka yang ingin dapat berpikir efektif bahkan kritis sedangkan keempat kunci utama di atas adalah rambu-rambu yang tugasnya mengarahkan dan menuntun untuk sampai pada tahap berpikir efektif dan kritis.

    Seni Berpikir Kritis (Bagian Pertama)

    Dalam tulisan yang lalu dibahas mengenai pertayaan Sokratik sebagai suatu seni. Untuk melengkapi dan memperluas seni dalam berpikir kritis, maka mulai tulisan kali ini akan dibahas secara khusus mengenai berpikir kritis sebagai suatu seni. Dengan kata lain, proses berpikir kritis juga bisa dipertimbangkan sebagai kegiatan seni. Pembahasan mengenai seni berpikir kritis akan disajikan ke dalam tiga seri tulisan.

    Seperti layaknya kegiatan lainnya, berpikir adalah salah satu kegiatan yang selalu dilakukan manusia, namun sebagian besar orang tidak menyadarinya atau menganggapnya sebagai suatu yang biasa saja. Bahkan tidak sedikit orang yang menganggap berpikir bukanlah kegiatan yang harus dilakukan, apalagi membutuhkan latihan dan terlebih, dipertimbangkan sebagai (kegiatan) seni. Oleh karena itulah banyak orang tidak memahami apa itu berpikir.

    Apapun situasi, tujuan, harapan, keberadaan, posisi, ataupun masalah yang dihadapi, manusia sesungguhnya senantiasa berpikir walaupun hal tersebut tidak disadarinya secara penuh. Baik sebagai pimpinan, karyawan, warga negara, pasangan, teman, orangtua, maupun anak, manusia berpikir. Bukan “sekadar” berpikir, tetapi berpikir secara layak (fair thinking) karena dengan berpikir layak menghasilkan banyak hal yang bermanfaat. Pendek kata, berpikir layak bermanfaat. Namun harus disadari, untuk mampu berpikir layak orang perlu berlatih karena hal itu tidak dapat dicapai hanya dalam satu atau beberapa hari bahkan bulan, melainkan membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebaliknya, berpikir secara asal-asalan mengakibatkan berbagai masalah, membuang-buang waktu dan tenaga, serta dapat menyebabakan kesesatan dan kecemasan.

    Berpikir kritis dapat dianggap sebagai sebagai seni yang melatih dan mendorong orang supaya dapat menggunakan pikirannya dengan layak untuk digunakan dalam setiap situasi yang beragam. Oleh karena tujuan utama berpikir adalah memahami situasi di mana seseorang berada, maka orang membutuhkan informasi relevan demi memberikan penilaian atau mengambil kesimpulan yang sesuai dengan situasi.

    Apa yang sesungguhnya terjadi? Apakah ia/mereka sedang berusaha memanfaatkan saya? Apakah ia/mereka peduli terhadap saya? Apakah saya menipu diri sendiri dengan mempercayai hal tersebut? Apakah akibat-akibat yang akan terjadi jika saya mempercayai hal itu? Apakah yang harus dilakukan? Mengapa hal itu bisa terjadi? Bagaimana melakukannya dengan sesuai? Apakah ini merupakan masalah utama, ataukah ada masalah yang lebih utama? Apakah hal ini penting untuk ditanggapi, ataukah ada hal lebih penting lainnya yang seharusnya saya tanggapi? Terhadap poin (penting) manakah saya harus berfokus? Ini semua adalah beberapa contohpertanyaan yang patut diajukan ketika orang menganalisis suatu hal sehingga penilaian bisa dilakukan secara layak. Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti di atas maka sesungguhnya orang telah mengambil langkah awal dalam berpikir.

    Pertanyaan-pertanyaan di atas perlu dilanjutkan dengan mencari jawab terhadapnya. Mampu memberikan tanggapan dan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti itu merupakan proses berpikir selanjutnya. Artinya, berbagai pertanyaan yang diajukan tidak dibiarkan atau ditinggalkan begitu saja melainkan dicari jawaban relevannya sehingga penilaian yang sesuai dan tepat dapat dilakukan.

    Namun demikian, untuk memaksimalkan kualitas dalam berpikir, seorang harus terlebih dahulu belajar bagaimana menjadi kritikus yang layak bagi pikirannya sendiri. Ini dilakukan supaya orang tersebut mampu, bukan hanya berpikir melainkan juga bertindak seturut  dengan pikirannya yang sesuai serta mampu mempertanggungjawabkan pikiran serta tindakannya. Artinya, ia mempertimbangkan dampak-dampak yang dihasilkan dari pikiran dan tindakannya tersebut. Oleh karena itu, agar seseorang dapat menjadi kritikus yang layak bagi pikirannya, ia harus secara sadar menggunakan pikirannya yang sesuai dan menjadikan berpikir sebagai kegiatan yang utama. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa demi menjadi kritikus yang layak bagi pikirannya, orang harus belajar mengenai pikirannya sendiri.

    Cobalah tanyakan pada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan berikut:
    • Apa yang telah saya pelajari mengenai pikiran saya?
    • Apakah saya pernah mempelajari pikiran saya sendiri?
    • Apa yang saya ketahui mengenai cara pikiran mengolah berbagai informasi?
    • Apakah yang saya ketahui mengenai cara menganalisis, mengevaluasi, atau membangun pikiran saya?
    • Dari manakah pikiran saya berasal?
    • Apa itu kualitas yang “baik”? Apa ukurannya? Bagaimana mengukurnya?
    • Apa itu kualitas yang “buruk”? Apa ukurannya? Bagaimana mengukurnya?
    • Apakah saya dapat mengendalikan pikiran saya?
    • Bagaimanakah mengujinya?
    • Apakah saya memiliki tolok ukur dalam menentukan seberapa “baik” dan “buruk” saya melakukan penilaian?
    • Apakah saya menyadari jika ada masalah dalam proses berpikir saya?
    • Apakah saya secara sadar kemudian memperbaikinya?
    • Seberapa jauh saya bisa mengetahui dan menyadari ketidakjernihan, ketidakkonsistenan, ketidaktepatan, atau kedangkalan pikiran saya?
    • Apakah saya sadar jika saya berpikir? Apakah saya menyadari pikiran saya?
    • Jika seseorang meminta saya untuk mengajarinya bagaimana cara berpikir efektif, apakah saya memahami apa itu berpikir efektif?
    • Bagaimana cara (efektif) membimbing orang tersebut?
    Dapat diduga kuat jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas akan berkisar seputar: “Saya tidak tahu banyak mengenai pikiran saya sendiri”, “Saya tidak tahu apa itu berpikir”, “Saya tidak tahu bagaimana pikiran saya bekerja karena saya tidak pernah mempelajarinya”, “Saya tidak tahu bagaimana menguji pikiran saya”, “Saya tidak menganggap berpikir itu penting karena pikiran saya (sudah) bekerja dengan sendirinya/otomatis.”

    Tulisan berikut akan membahas mengapa orang perlu mempelajari pikirannya sendiri untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan di atas.

    Rabu, 10 Agustus 2011

    Pertanyaan Sokratik (Bagian Keempat - Penutup)


    Tulisan yang lalu membahas berbagai unsur yang harus digunakan seorang yang hendak membangun dialog Sokratik, entah dengan pernyataan, keyakinan, ataupun berita tertentu demi memperoleh pemahaman dan memberikan penilaian yang akurat dan jernih. Tulisan kali ini akan menutup seri “Pertanyaan Sokratik” dengan membahas beberapa hal penting lain yang perlu diperhatikan sebagai kelengkapan demi tercipta dan terbangunnya dialog Sokratik yang baik.

    Salah satu hal yang perlu disadari dan dipersiapkan ketika seorang akan menciptakan dan membangun dialog Sokratik yang baik adalah dengan mengajukan pertanyaan awal sebagai pembuka yang akan didiskusikan lebih lanjut dan jauh. Seperti telah kita pelajari bahwa semua setiap pertanyaan saling berkaitan, dan pertanyaan tertentu berasal dari pertanyaan lainnya. Artinya, pertanyaan awal menentukan pertanyaan berikutnya. Contoh, jika ada pertanyaan, “Apa itu multikulturalisme? Maka harus jelas lebih dulu jawaban untuk pertanyaan, “Apa itu kebudayaan”? dan, untuk menjawab pertanyaan tersebut, harus dijelaskan dulu pertanyaan, “Apa yang menjadi dasar kebudayaan?” “Apa karakter kebudayaan?” atau, “Apa saja unsur-unsur dalam diri seorang yang menentukan budayanya”?

    Demi dibangunnya proses berpikir yang lurus dan jernih, susunlah pertanyaan-pertanyaan relevan yang tertuju pada ide pokok yang hendak didiskusikan lebih lanjut. Proses yang sama bisa diterapkan setiap kali orang akan menganalisis, menilai, dan menjelaskan semua hal, termasuk pernyataan, keyakinan, bahkan berita tertentu. Jika proses berpikir seperti ini dilakukan setiap kali orang berdiskusi dengan subjek tertentu, maka dialog Sokratik pun terjadi. Dengan demikian, dialog Sokratik merupakan penuntun agar orang memahami sesuatu secara mendalam dan menyeluruh.

    Pertanyaan-pertanyaan di bawah merupakan penuntun demi terbangunnya dialog Sokratik yang terfokus. Pertanyaan utamanya adalah, “Apa itu sejarah?”

    •  Apa yang ditulis para sejarawan?
    • Apa itu masa lalu?
    • Apakah mungkin memasukkan semua hal yang terjadi di masa lalu ke dalam satu buku sejarah?
    • Bagaimana sejarawan menentukan hal-hal yang penting dan tidak penting?
    • Bagaimana sejarawan menekankan hal tertentu yang hendak didiskusikan lebih dalam dan menyeluruh?
    • Apakah para sejarawan memiliki penilaian-penilaian tertentu dalam mengajukan pandangannya?
    • Bagaimana menentukan atau membedakan antara opini dan fakta?
    • Bagaimana membedakan antara opini dan fakta?
    • Mengapa opini dan fakta harus dibedakan?
    • Bagaimana melakukan penafsiran sejarah?
    • Apa itu penafsiran (sejarah)?
    • Bagaimana membangun sudut pandang sejarah?
    • Apa itu sudut pandang (sejarah)?

    Setelah memperhatikan berbagai ciri, bentuk pertanyaan, prinsip, unsur, dan contoh pertanyaan dalam menciptakan dan membangun dialog Sokratik yang baik, maka orang diharapkan menyadari bahwa semua hal, baik pernyataan, keyakinan, dan berita setidaknya memiliki tiga fungsi, yakni:
    • Untuk menyatakan pandangan subjektif
    • Untuk membangun fakta objektif
    • Untuk menyajikan jawaban-jawaban atau pernyatan-pernyataan yang dianggap lebih baik

    Demi memperoleh pemahaman dan penilaian yang jernih dan mendalam, maka ketiga hal tersebut harus dianalisis dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan relevan, seperti sudah disajikan dalam tulisan sebelumnya (bagian ketiga). Akhirnya, harus disadari penuh bahwa setiap kali orang berjumpa dengan kenyataan tertentu dan ketika ia memberikan penilaian, orang tersebut berada dalam konteks tertentu. Artinya, ia memiliki pemikirannya dilatarbelakangi hal-hal tertentu, dan latar belakang tertentu, entah pengalaman, pandangan, budaya, keyakinan, atau pengetahuan yang dimilikinya. Dengan memahami hal-hal tersebut diharapkan seseorang menyadari posisinya sebagai makhluk yang (sesungguhnya selalu) berpikir.

    Senin, 08 Agustus 2011

    Pertanyaan Sokratik (Bagian Ketiga)


    Tulisan sebelumnya (bagian kedua) mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan Sokratik yang bisa dianggap sebagai seni serta prinsip-prinsip yang perlu dipertimbangkan ketika orang hendak membangun dialog Sokratik. Kali ini tema tulisan mengangkat unsur-unsur berpikir yang harus diperhatikan jika hendak membangun dialog Sokratik. 

    Mereka yang hendak terlibat dalam atau mau membangun dialog Sokratik perlu membangun secara rapi (sistematis) pertanyaan-pertanyaan yang dilandaskan pada kelurusan berpikir dan akal sehat yang terus dilatih. Di bawah ini adalah unsur-unsur yang akan mengarahkan dan memfokuskan pikiran ketika dialog Sokratik akan dibangun.

    • Menyadari dan mengenali bahwa semua hal mengarah pada sesuatu yang hendak dicapai. Dengan demikian, seorang yang hendak membangun dialog Sokratik, entah dengan pernyataan, keyakinan, atau berita tertentu perlu terlebih dulu secara mendalam dan menyeluruh memahami tujuan hal tertentu. Oleh karena itu, perlu diajukan pertanyaan-pertanyaan, seperti: apa yang hendak diperoleh melalui pernyataan tersebut? Apa tujuan utama dalam keyakinan atau berita tersebut?
    • Menyadari dan mengenali bahwa semua hal dilandaskan pada informasi tertentu. Dengan demikian, seorang yang hendak membangun dialog Sokratik, entah dengan pernyataan, keyakinan, atau berita tertentu perlu terlebih dulu secara mendalam sekaligus menyeluruh memahami dasar informasi yang digunakan untuk mendukung hal tertentu. Oleh karena itu, pertanyaan yang bisa dikemukakan, seperti: informasi apa yang digunakan untuk mendukung hal tersebut? Bagaimana kita bisa tahu jika informasi itu tepat atau relevan?
    • Menyadari dan mengenali bahwa untuk memahami dan menilai sesuatu secara menyeluruh sekaligus mendalam perlu membuat definisi, membangun opini, dan menarik kesimpulan. Dengan demikian, seorang yang hendak membangun dialog Sokratik, entah dengan pernyataan, keyakinan, atau berita tertentu perlu terlebih dulu secara mendalam memahami definisi, opini, bahkan asumsi yang membentuk hal tertentu. Oleh karena itu, beberapa contoh pertanyaan yagn bisa diajukan adalah: bagaimana kesimpulan itu dibuat/diambil? Seberapa jauh kesimpulan itu bisa dipertanggungjawabkan, baik secara logis maupun etis? Apakah ada kemungkinan jika diajukan kesimpulan yang berbeda atau lain?
    • Menyadari dan mengenali bahwa semua hal melibatkan konsep-konsep tertentu.  Dengan demikian, seorang yang hendak membangun dialog Sokratik, entah dengan pernyataan, keyakinan, atau berita tertentu perlu terlebih dulu secara mendalam sekaligus menyeluruh memahami konsep-konsep yang mendefinisikan dan membentuk hal tertentu. Oleh karena itu, contoh-contoh pertanyaan yang bisa diangkat, seperti: apakah ide pokok yang hendak disampaikan? Bisakah ide tersebut cukup jelas?
    • Menyadari dan mengenali bahwa semua hal saling terkait alias satu hal bergantung pada hal lainnya. Dengan demikian, seorang yang hendak membangun dialog Sokratik, entah dengan pernyataan, keyakinan, atau berita tertentu perlu terlebih dulu secara mendalam sekaligus menyeluruh memahami keterkaitan tersebut. Oleh karena itu, pertanyaan yang bisa diajukan adalah: apakah hubungan antara hal ini dengan dengan itu? Bagaimanakah menjelaskan hubungan di antara keduanya?
    • Menyadari dan mengenali bahwa semua hal mengarah pada tujuan tertentu yang berkaitan dengan suatu hasil atau dampak. Dengan demikian, seorang yang hendak membangun dialog Sokratik, entah dengan pernyataan, keyakinan, atau berita tertentu perlu terlebih dulu secara mendalam sekaligus menyeluruh membayangkan hasil atau dampak yang akan terjadi. Oleh karena itu, contoh pertanyaan yang relevan adalah: apa yang hendak disampaikan?
    • Menyadari dan mengenali bahwa semua hal terjadi dan/atau dibentuk dalam sudut pandang tertentu. Dengan demikian, seorang yang hendak membangun dialog Sokratik, entah dengan pernyataan, keyakinan, atau berita tertentu perlu terlebih dulu secara mendalam sekaligus menyeluruh sudut pandang yang membentuk hal tertentu. Oleh karena itu, pertanyaan-pertanyaan yang cocok adalah: apakah sudut pandang hal tersebut? Adakah sudut pandang lain yang bisa dipertimbangkan?
    • Menyadari dan mengenali bahwa semua hal bisa dipertanyakan. Artinya, tidak ada hal yang tabu atau kebal dari pertanyaan. Oleh karena itu, jika sesuatu hal belum jelas atau jernih, perlu dipertanyakan kembali. Dua contoh pertanyaannya adalah: saya belum mengerti, apakah ada informasi lain yang bisa dipercaya untuk memperjelas hal itu? Apakah hal tersebut cukup masuk akal?

    Minggu, 07 Agustus 2011

    Pertanyaan Sokratik (Bagian Kedua)


    Tulisan bagian pertama membahas apa itu pertanyaan dan jawaban serta ciri-ciri pertanyaan Sokratik. Tulisan kali ini membahas pertanyaan Sokratik sebagai suatu seni dan prinsip-prinsip pertanyaan Sokratik.

    Mengolah pertanyaan Sokratik sehingga menjadi sebuah seni merupakan hal yang sangat penting dan bernilai karena di dalamnya melibatkan aktivitas yang dilakukan secara intens dan tiada henti, bagaikan seorang pelukis atau pematung yang terus mengasah keterampilannya sehingga ia semakin fasih dan karyanya dipertimbangkan sebagai master piece. Orang yang ingin memiliki kemampuan berpikir kritis juga harus terus melatih pikirannya sehingga ia mampu berpikir dengan jernih, tajam, dan lurus. Dalam konteks inilah seorang yang berpikir kritis berarti selalu menggunakan pikirannya dengan teratur, dalam, dan menilai semua hal secara hati-hati dengan menggunakan akal sehatnya. 

    Ada kaitan yang khas antara berpikir kritis dan pertanyaan Sokratik karena keduanya memiliki tujuan yang sama. Dengan berpikir kritis seorang memiliki pandangan yang menyeluruh dan rinci mengenai pikirannya dalam melakukan penilaian dan untuk memperoleh kebenaran, sementara pertanyaan-pertanyaan Sokratik memberikan bingkai terhadap hal-hal tersebut dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan relevan sehingga kegiatan penilaian dan upaya memperoleh kebenaran itu menjadi terarah. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa melalui berpikir kritis seorang memperoleh gambaran luas dan tujuan yang hendak dicapai, sedangkan melalui pertanyaan Sokratik upaya orang tersebut menjadi lebih fokus.

    Tujuan berpikir kritis adalah membangun suatu proses berpikir disiplin yang mampu mengumpulkan, memisahkan/membedakan, menyusun, mengawasi, dan menilai, baik pikiran sendiri maupun pandangan, keyakinan, dan pikiran orang lain, dalam kerangka berpikir yang lurus, jernih, dan mampu dipertanggungjawabkan. Sementara itu, pertanyaan Sokratik memberikan model atau kerangka atau bingkai terhadap semua hal yang telah disebutkan di atas.

    Ada sekian prinsip yang perlu dipertimbangkan untuk menuntun mereka yang hendak terlibat dalam dialog Sokratik:

    • Menanggapi setiap (sedapat mungkin) pertanyaan dengan pertanyaan lanjutan yang relevan, yang bisa merangsang si penanya mengembangkan pikirannya lebih dalam dan menyeluruh
    • Berusaha memahami dasar-dasar penting yang berasal dari suatu pernyataan, keyakinan, peristiwa, atau kenyataan, dan mengikuti seraya mengawasi dampak-dampak yang bisa muncul dari hal-hal tersebut dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan relevan
    • Perlakukan semua pernyataan sebagai poin atau ide yang menghubungkan pada proses berpikir selanjutnya
    • Perlakukan semua proses berpikir sebagai suatu perkembangan
    • Menyadari bahwa pemikiran yang kemudian selalu dipengaruhi pemikiran sebelumnya. Artinya, setiap pemikiran saling berkaitan dan saling mempengaruhi
    • Sadar penuh bahwa pertanyaan berasal dari pertanyaan-pertanyaan sebelumnya dan semua proses berpikir berawal dari proses yang serupa. Ketika muncul sebuah pertanyaan terbukalah pada pertanyaan yang melatarbelakanginya