Sabtu, 06 Agustus 2011

Abad 19 & 20 (Bagian Keempat -Terakhir)


Seri tulisan kali ini membahas perkembangan tradisi berpikir kritis di abad 19 dan 20 sekaligus bagian terakhir seri tulisan “Sejarah Singkat Pemikiran Kritis.” 

Di abad ke-19 pemikiran kritis meluas memasuki kehidupan sosial masyarakat yang dilahirkan melalui pemikiran Comte dan Spencer. Dalam bidang ekonomi dan sosial lahir pemikiran kritis Marx yang menelisik masalah kapitalisme. Sementara itu, dalam bidang sejarah perkembangan budaya manusia yang berdasar pada kehidupan biologis lahir karya Darwin yang berjudul Descent of Man. Sedangkan dalam bidang kesadaran dicirikan melalui tokoh Sigmund Freud. Abad ini ditandai dengan semakin berkembangnya kajian-kajian kritis dalam bidang antropologi-budaya serta linguistik yang menganalisis berbagai fungsi simbol dan bahasa dalam kehidupan manusia.

Pada abad 20, pemahaman dan kesadaran akan pentingnya berpikir kritis semakin kuat dan muncul dalam bentuk-bentuknya yang semakin eksplisit. Tahun 1906 William Graham Sumner meluncurkan tulisan yang mendobrak mengenai dasar-dasar sosiologi dan antropologi dalam Folkway. Dalam karyanya tersebut Sumner menjelaskan kecenderungan pikiran manusia untuk berpikir secara sosiosentris dan kecenderungan sejajar dengan dunia pendidikan (sekolah-sekolah) demi melayani fungsi sosial yang tidak kritis.

Sejalan dengan pemikiran Sumner, John Dewey mengungkapkan bahwa manusia sepatutnya meningkatkan kesadaran berpikir dengan menggunakan pikirannya yang jernih dan terutama mendasarkannya pada tujuan, harapan, dan hal-hal yang sesuai dengan pikiran sehat. Ludwig Wittgenstein juga menekankan pentingnya bagi manusia untuk meningkatkan kesadarannya, bukan hanya melalui konsep-konsep berpikir yang jernih, melainkan juga melalui analisis terhadap konsep-konsep tersebut dan menilai segala kekuatan dan kelemahannya. Sementara itu Piaget menyadarkan kita bahwa kecenderungan-kecenderungan egosentrisme dan sosiosentrisme dalam pikiran manusia harus diredam dengan menerapkan dan mengembangkan gaya berpikir kritis sehingga manusia mampu memandang, menilai, dan menjelaskan sesuatu hal dari banyak sudut pandang. Ini menjadikan manusia, dalam istilah Piaget, menjadi “menyadari kesadarannya.” 

Setelah memperhatikan sejarah perkembangan tradisi pemikiran kritis dari akarnya hingga abad 20 kita semakin mengetahui dan menyadari bahwa setiap bidang kehidupan manusia lahir dari pemikiran kritis. Semangat berpikir kritis yang diusung dan dikembangkan para pemikir di masa lalu telah menyumbangkan banyak hal bermanfaat dalam kehidupan manusia. Melalui ilmu pengetahuan, manusia didorong untuk menyadari pentingnya mengumpulkan data dan informasi dengan hati-hati serta selalu disadari terhadap kemungkinan adanya ketidaktepatan, distorsi, dan penyalahgunaan data dan informasi tersebut. Sedangkan psikologi mengajak manusia untuk selalu rendah hati menyadari bahwa pikirannya dapat mengecoh atau mengelabui diri sendiri dan secara tidak sadar membangun berbagai ilusi dan delusi serta cenderung mudah terjebak pada stereotipe, terburu-buru mengambil kesimpulan, berpikir sempit, dan melakukan rasionalisasi. Dengan demikian, jelas, pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia bisa berkembang karena manusia senantiasa mengembangkan gaya berpikir kritisnya.

Zaman Pencerahan (Bagian Ketiga)


Jika tulisan sebelumnya membahas Abad Pertengahan dan Renaissance, maka tulisan kali ini mengangkat masa-masa setelahnya, yakni abad ke-17 sampai ke-18.

Dua pemikir besar Inggris (abad ke-16 dan 17), Hobbes dan Locke mengusung semangat berpikir kritis yang sejajar dengan Machiavelli. Keduanya menolak cara berpikir tradisional yang dimiliki sebagian besar orang pada masanya, juga tidak menerima hal-hal yang dianggap “normal” dalam budaya masa itu. Hobbes dan Locke mengedepankan gaya berpikir kritis untuk membuka wawasan dalam mempelajari segala hal. Hobbes memandang dunia dari sisi naturalistik, di mana setiap hal harus dijelaskan melalui bukti dan daya pikir. Sementara Locke menyatakan bahwa pengamatan dan pengalaman harus digunakan setiap hari dalam kegiatan berpikir. Ia telah meletakkan dasar teoretik kritis mengenai hak-hak manusia dan semua kewajiban pemerintah untuk bersedia dikritik oleh warga negaranya yang kritis.

Semangat berpikir kritis dan kebebasan intelektual juga terdapat diri orang-orang seperti Richard Boyle (abad 17) dan Sir Isaac Newton (abad 17 dan 18). Dalam karyanya, Sceptical Chymist, dengan tajam Boyle mengkritik teori kimia yang sudah ada. Demikian juga Newton yang mengembangkan secara menyeluruh bingkai berpikir yang mengkritik dunia pandang yang telah sekian lama diterima banyak orang. Ia melanjutkan pemikiran kritis pada pendahulunya, seperti Copernicus, Galileo, dan Kepler. Sejak masa Boyle dan Newton semakin banyak orang berpikir serius mengenai dunia naturalistik dan pandangan-pandangan yang berpusat pada diri sendiri harus ditinggalkan demi pandangan-pandangan yang seluruhnya didasarkan pada bukti-bukti yang ada serta diperoleh melalui kegiatan berpikir yang jernih dan lurus.

Pada masa Pencerahan di Prancis juga muncul nama-nama, seperti Bayle, Montesquieu, Voltaire, dan Diderot, yang mengembangkan gaya berpikir kritis di dalam karya-karya mereka. Para pemikir kritis tersebut mengawali gaya berpikir kritis mereka dengan menyatakan bahwa pikiran manusia, ketika diatur oleh akal sehat, akan lebih mampu menjelaskan dunia sosial dan politik. Lebih jauh, akal sehat harus ditujukan pada diri sendiri demi menemukan berbagai kelemahan dan kekuatan dalam berpikir. Mereka mengutamakan diskusi intelektual yang teratur sehingga semua pandangan melalui analisis yang mendalam dan kritik yang tajam. Para pemikir Prancis ini percaya bahwa semua otoritas harus (bisa) dipertanyakan, dianalisis, dan diuji dengan akal sehat.

Pada abad ke-18 suasana berpikir kritis tidak mengendur, malah semakin meluas. Pada masa itu muncul Wealth of Nations yang ditulis oleh Adam Smith, yang di dalamnya membahas masalah ekonomi. Pada masa yang sama juga muncul Declaration of Independence yang mempertanyakan konsep tradisional tentang kesetiaan terhadap raja. Selain itu, Critique of Pure Reason dilahirkan dari filsuf besar Jerman, Kant.

Semangat berpikir kritis pada masa setelah Renaissance telah merambah ke berbagai bidang lain seperti hak-hak asasi manusia dan politik. Ini menjadi salah satu bukti bahwa kegiatan berpikir kritis menuntun orang pada hal-hal lebih luas yang lahir dari pemikiran yang mendalam.

Jumat, 05 Agustus 2011

Abad Pertengahan & Renaissance (Bagian Kedua)


Setelah bagian pertama dari seri tulisan “Sejarah Singkat Pemikiran Kritis” yang membahas akar pemikiran kritis yang dipelopori oleh Sokrates yang kemudian dilanjutkan oleh para filsuf Yunani setelahnya, maka bagian kedua ini membahas para pemikir kritis yang hidup di Abad Pertengahan sampai masa Renaissance.

Pada Abad Pertengahan, tradisi pemikiran kritis terkandung dalam berbagai tulisan dan pengajaran para pemikir yang hidup di zaman itu, salah seorangnya adalah Thomas Aquinas. Dalam karyanya, Sumna Theologica, Aquinas menyatakan bahwa gaya berpikirnya sejalan dengan semangat kritisisme yang dicirikan oleh kerunutan penyampaian pendapatnya, penuh pertimbangan, dan selalu menjawab semua kritik yang ditujukan terhadap pandangan-pandangannya. Hal-hal ini dianggapnya sebagai tahap penting dalam membangun gaya berpikirnya. Aquinas menegaskan bahwa kesadaran manusia bukan hanya melibatkan kekuatan proses berpikir yang jernih dan runut, namun juga melibatkan perlunya berpikir jernih dan runut tersebut disajikan dengan bijak dan bertanggung jawab serta mampu diuji. Pemikiran Aquinas tidak selalu berarti bahwa seseorang yang berpikir kritis selalu menolak keyakinan-keyakinan yang telah ada, melainkan menolak keyakinan-keyakinan yang tidak dilandaskan pada dasar-dasar yang kuat. 

Pada masa Renassaince (abad ke-15 dan 16), banyak para pemikir Eropa mulai berpikir secara kritis mengenai seni, masyarakat, hakikat manusia, hukum, kebebasan, dan agama. Ini didasarkan pada pemikiran bahwa sebagian besar kehidupan manusia perlu dikaji kembali dan dikritisi. Di antara para pemikir tersebut adalah Colet, Erasmus, dan Moore. 

Salah seorang pemikir asal Inggris, Francis Bacon, secara gamblang mengungkapkan keprihatinannya terhadap bagaimana manusia keliru menggunakan pikirannya dalam mencari pengetahuan. Ia menyatakan bahwa pikiran (manusia) tidak bisa ditumpukan pada kecenderungan-kecenderungan yang seringkali mengecoh dan menyesatkan. Dalam bukunya, The Advancement of Learning, ia menekankan pentingnya mempelajari dunia secara empiris. Bacon meletakkan dasar bagi ilmu pengetahuan modern dengan menekankan pada proses-proses mengumpulkan informasi. Ia juga memberikan perhatian pada kenyataan bahwa sebagian besar orang, jika hidup hanya berdasar pada kecenderungan-kecenderungan tadi sangat mudah terjatuh pada kebiasaan-kebiasaan berpikir yang salah dan menyesatkan. Kebiasaan-kebiasaan ini disebutnya “berhala-berhala.” 

“Berhala-berhala” itu adalah
1.   “Berhala suku” = bagaimana pikiran manusia cenderung mudah mengelabui dirinya sendiri 
2.   “Berhala pasar” = bagaimana manusia keliru menggunakan kata-kata 
3. “Berhala (gedung) teater” = kecenderungan manusia untuk terjebak dalam sistem-sistem pemikiran  yang kuno 
4.   “Berhala aliran pemikiran” = masalah-masalah dalam berpikir ketika didasarkan pada aturan-aturan yang kaku dan membuat bodoh

Buku Bacon tersebut bisa diperhitungkan sebagai salah satu karya mula-mula dalam pemikiran kritis karena tujuan yang terkandung di dalamnya menampilkan tradisi pemikiran kritis yang sudah dimulai oleh Sokrates. 

Sekitar 50 tahun setelah munculnya karya Francis Bacon, Di Prancis, RenĂ© Descartes melahirkan sebuah buku – Rules For the Direction of the Mind – yang bisa dianggap sebagai tulisan kedua dalam pemikiran kritis. Dalam buku tersebut Descartes menegaskan perlunya sebuah cara sistematis khusus untuk melatih pikiran demi menghasilkan pemikiran yang jernih dan tepat karena itulah tujuan berpikir kritis. Ia mengemukakan sebuah metode berpikir kritis yang dilandaskan pada prinsip meragukan sistematis. Ia menegaskan pentingnya untuk mendasarkan cara berpikir yang baik pada asumsi-asumsi yang mendasar. Setiap bagian dalam berpikir harus dipertanyakan, diragukan, dan diuji.

Pada masa yang sama, Sir Thomas Moore (asal Inggris) mengajukan sebuah model baru dari tatanan sosial dalam karyanya Utopia. Di dalamnya ia menyatakan bahwa setiap bagian dari dunia masa kini harus (bisa) dikritisi. Secara tersirat ia mengungkapkan bahwa sistem-sistem sosial perlu dianalisis dan dikritisi secara mendasar. 

Sementara itu di masa Renaissance di Italia ditandai oleh karya Machiavelli, The Prince, yang mengkritisi politik pada masanya dan meletakkan dasar bagi pemikiran politik modern yang kritis. Machiavelli menolak jika pemerintah berfungsi sebagaimana dikatakan oleh pihak yang memiliki kekuatan dan berkuasa. Oleh karena itu, ia dengan kritis ia mengkaji bagaimana pemerintah berfungsi dan meletakkan dasar bagi pemikiran politik yang memperhatikan semua hal, baik berbagai tujuan para politikus, pertentangan dan ketidaksesuaian dari para politikus yang licik dan jahat pada saat itu.
Perkembangan tradisi berpikir kritis pada masa Renaissance telah membuka jalan bagi lahirnya ilmu pengetahuan, perkembangan demokrasi, hak-hak manusia, dan kebebasan berpikir.  

Kamis, 04 Agustus 2011

Sejarah Singkat Pemikiran Kritis (Bagian Pertama)


Berikut adalah sejarah singkat perkembangan pemikiran kritis yang disajikan dalam beberapa seri tulisan.

Akar pemikiran kritis bisa ditelusuri jauh sampai pada visi dan praktik yang terdapat dalam diri seorang filsuf Yunani, Sokrates, 2500 tahun lalu dengan cara mengajukan pertanyaan supaya orang mampu memberikan argumen masuk akal dan meyakinkan demi mendukung pendapat yang dikemukakannya. Argumen tersebut harus didasarkan pada pengetahuan yang jernih, relevan, bisa dibuktikan kesahihannya, dan mampu dipertanggungjawabkan. Pemahaman-pemahaman yang tidak jelas/kabur, bukti yang lemah dan tidak relevan, serta keyakinan-keyakinan yang saling bertentangan pada dirinya sendiri seringkali dianggap hal sepele sehingga luput dari pengamatan banyak orang, sekalipun seseorang yang berpendidikan tinggi. Ketiga hal tersebut mengakibatkan seseorang tidak bisa dikategorikan sebagai orang yang berpikir kritis. Sokrates menegaskan bahwa seseorang tidak boleh mendasarkan argumennya pada, contohnya, ketiga hal tadi. Artinya, ketiga hal tersebut tidak bisa dijadikan “otoritas”, di mana pengetahuan dan pemikiran yang layak berasal. Oleh karena itulah Sokrates menekankan perlu dan pentingnya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar dan relevan sebagai dasar pemikiran sebelum seseorang tiba pada kesimpulan atau sebelum seseorang menerima pemikiran-pemikiran (termasuk kepercayaan) orang lain. 

Demi menegaskan pandangannya mengenai berpikir kritis Sokrates menekankan pentingnya bagi seseorang untuk selalu mencari bukti-bukti, mengkaji berbagai ide atau  pemikiran dan asumsi yang melatarbelakangi pandangan orang lain, menganalisis konsep-konsep dasar, serta menelusuri berbagai dampak yang bisa terjadi, baik yang berasal dari ucapan maupun perbuatan. Metode pertanyaan yang diajukan Sokrates itu dikenal dengan “Pertanyaan Sokratik.” Dalam pertanyaan (-pertanyaan) tersebut Sokrates menekankan perlunya bagi manusia untuk berpikir secara jernih dan lurus demi pemahaman yang jelas, relevan, dan masuk akal. 

Sokrates meletakkan dasar-dasar dalam tradisi pemikiran kritis, seperti: mempertanyakan secara mendalam berbagai penjelasan dan keyakinan yang umum, hati-hati membedakan antara berbagai keyakinan yang masuk akal dan lurus/runut secara argumentatif dengan keyakinan-keyakinan – walaupun sepertinya menarik – yang tidak lebih dari mengedepankan agenda-agenda tertentu (seperti: popularitas atau uang) dan terlebih tidak didukung oleh bukti-bukti relevan dan jelas serta tidak berdasar pada argumen yang lurus dan masuk akal. 

Visi dan semangat Sokrates dalam berpikir kritis dilanjutkan oleh Plato, Aristoteles, dan kaum Skeptik Yunani, yang semuanya menekankan bahwa begitu banyak hal seringkali terlihat berbeda dari penampakannya. Oleh karena itu, hanya orang-orang yang selalu mau melatih dan menggunakan daya pikir kritisnya yang mampu melihat dan memahami banyak hal dengan jernih dan mendalam. Orang-orang seperti itu tidak mudah dikecoh atau dikelabui hanya dengan melihat hal-hal yang nampak dari luar seperti dialami sebagian besar orang, melainkan mampu melihat hal-hal yang berada di “bawah” penampakan tersebut atau mampu melampaui hal-hal yang nampak dari luar itu. Artinya, orang-orang yang berpikir kritis tidak mau hanya berhenti pada “penampakan luar” melainkan terus bergerak ke dalam bahkan melampaui “penampakan luar” tersebut demi pemahaman yang jernih dan masuk akal.

Para pemikir dari tradisi Yunani klasik di atas telah mendorong dan menginspirasi generasi setelahnya untuk menyadari bahwa manusia perlu memahami berbagai kenyataan di sekitarnya secara mendalam, berpikir secara sistematis/runut/lurus, menelusuri berbagai dampak yang bisa terjadi secara luas dan mendalam, berpikir secara menyeluruh, berpikir hati-hati, dan terbuka terhadap perbedaan pendapat.