Sabtu, 13 Maret 2010

Agama menurut Saya

Jika hendak menemukan definisi agama, maka orang tinggal membuka kamus. Namun, kata "agama" seringkali digunakan oleh sebagian besar orang dalam berbagai kesempatan dan beragam cara sehingga makna atau pengertiannya menjadi tidak jelas. Bagi saya, kata "agama" secara sangat sederhana dapat dijelaskan sebagai sistem kepercayaan dan aktivitas yang dilandasi dan diarahkan pada sesuatu yang dianggap kudus dan memiliki kekuatan yang dipercaya dapat mempengaruhi kehidupan manusia bahkan alam semesta.

Namun, "agama" adalah sebuah kata atau istilah yang sangat kompleks dan sangat sulit untuk dijelaskan. Yang jelas, "agama" merupakan salah satu fenomena dalam kehidupan sebagian besar manusia yang rumit untuk dijelaskan. Oleh karena itu, para sosiolog sebisa mungkin menghindari penggunaan definisi ketika berbicara mengenai agama dan hanya menjelaskan agama dengan mengajukan beberapa karakter yang sifatnya tidak menjadi keharusan. Artinya, karakter-karakter tersebut tidak harus selalu ada dalam setiap agama.

Beberapa karakter agama adalah:

1. Berhubungan dengan hal (-hal) yang supranatural.
2. Berhubungan dengan kondisi manusia yang membutuhkan keselamatan dan pembebasan.
3. Berhubungan dengan berbagai ritual.
4. Adanya kelompok/komunitas tertentu.

Namun, jika kita melihat pada beberapa kelompok agama, seperti Jainisme dan Buddhisme, maka karakter no. 1 tidak berlaku karena beberapa golongan Jainisme dan Buddhisme (Buddha Theravada) tidak berhubungan atau mempercayai adanya hal supranatural. Sedangkan beberapa golongan Taoisme dan Scientologi tidak memiliki karakter no. 3. Bahkan beberapa golongan Kristen Kharismatik di Amerika Serikat tidak menyebut kekristenan yang mereka peluk sebagai agama melainkan suatu "hubungan"; hubungan antara manusia dengan tuhan/allah dan sesama.

Bagi saya agama harus memiliki unsur-unsur berikut ini:

1. Komunitas.
= Adanya persekutuan, hubungan, dan komunikasi di antara para anggota komunitas.

2. Nilai-nilai yang diusung.
= Berbagai ajaran mengenai "kebaikan" dan "kejahatan" yang dilandasi pada tradisi (cerita-cerita moral), buku-buku tertentu (kitab suci), dan pemimpin yang harus ditaati atau dijauhi.

3. Memberikan ketenangan.
= Mampu menjelaskan berbagai hal yang terjadi dalam hidup manusia, seperti: penderitaan, kejahatan, kebaikan, bencana, kematian, kehidupan setelah kematian, dan penyakit.

4. Orang-orang (yang dianggap) Suci.
= Figur-figur tertentu yang dianggap (baca: dipercaya) memiliki otoritas tinggi, seperti: nabi, pengajar, ahli tafsir/agama, santo, santa, dan para wali (dalam tradisi Islam Jawa).

5. Alam baka.
= Mempercayai adanya kehidupan setelah kematian, seperti: surga-neraka, reinkarnasi, nirwana, dan dunia-roh.

Jumat, 12 Maret 2010

Into My Heart...

Into my heart . . . into my heart . . . come into my heart, Lord Jesus . . . Come in to stay, come in today . . . Come into my heart, Lord Jesus. . .

Di atas adalah salah satu lagu rohani anak-anak yang cukup dikenal sampai saat ini. Sebuah permintaan/permohonan agar Yesus masuk ke dalam hati orang-orang yang menyanyikan serta mengamini kata-kata dari lagu tersebut. Namun, muncul beberapa pertanyaan.

1. Apakah maksud atau arti kata "hati" tersebut? Apakah menunjuk pada kata benda atau kata sifat atau sebuah metafor? Atau?

"Hati" sebagai kata benda berarti menunjuk salah satu organ dalam tubuh, bukan saja manusia melainkan makhluk hidup lainnya, yang berfungsi untuk menyalurkan oksigen, sel-sel darah, protein, dan hormon. Hati sebagai kata benda (organ tubuh) terletak di sekitar dada. Jika kata "hati" digunakan sebagai kata benda, maka merupakan hal yang sangat tidak masuk akal seseorang atau hal apapun itu dapat "masuk" ke dalam hati seseorang. "Hati" sebagai kata benda berfungsi sebagai hal-hal yang telah disebutkan di atas, bukannya tempat "menampung" seseorang.

Apakah kata "hati" digunakan sebagai kata sifat? Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah: apakah pernah kata "hati" digunakan sebagai kata sifat? Sejauh yang saya tahu belum pernah saya mendengar jika kata "hati" digunakan sebagai kata sifat. Kalaupun ya, maka kata "hati" tersebut dihubungkan erat dengan "perasaan" seseorang. Apa yang dirasakan seseorang ketika mengalami peristiwa atau situasi tertentu. Oleh karena itulah seringkali orang bisa membaca atau mendengar frasa atau ungkapan seperti: "hatiku sakit karena tindakannya" atau "perasaanku terluka akibat kata-katanya" atau "hatiku dikhianati olehnya". Jika demikian, maka pertanyaan berikut yang muncul adalah: apakah ciri (-cirinya) ketika hati atau perasaan seseorang disakiti? Apakah ada ciri-ciri, baik fisik dan psikologis yang dapat dilihat secara kasat mata? Atau mungkin hal tersebut hanya "dirasakan" oleh orang-orang yang hati atau perasaannya disakiti. Jika hal tersebut hanya dirasakan oleh orang-orang yang hati atau perasaannya disakiti, maka ini pertanda sebagai sesuatu yang subjektif. Artinya, hal yang dialaminya tersebut telah direkam dalam memori otak orang tersebut kemudian disalurkan melalui pernyataan-pernyataan seperti tadi. (Memori otak seseorang menyerap dan mampu menampung berbagai hal yang bukan saja pernah dialaminya melainkan berbagai hal yang dilihat dan didengarnya.)

Apakah
kata "hati" digunakan sebagai metafor? Apa itu "metafor"? Metafor berasal dari dua kata Yunani: meta = "di antara" dan feroo = "mengangkat, membawa". Maka secara sangat sederhana kata "metafor" berarti mengangkat atau membawa ke luar melalui perbandingan, asosiasi, atau persamaan. Oleh karena "hati" merupakan salah satu organ vital dalam tubuh manusia, maka ketika "hati" digunakan dalam konteks metafor orang dapat mengatakan bahwa sesuatu (dhi. Yesus) dapat berada dalam tubuh manusia. Namun tetap saja penjelasan "hati" dalam konteks metafor tidak memuaskan.

2. Apakah ada ayat (-ayat) dalam Alkitab yang menyatakan bahwa orang Kristen harus meminta/memohon Yesus untuk masuk ke dalam hatinya? Tidak ada.

3. Apakah ada catatan (-catatan) sejarah yang menghubungkan antara "hati" dan tuhan/allah/dewa? Tidak ada. Bahkan tidak ada catatan sejarah yang menyebut kata "hati", tetapi yang disebut adalah "ginjal". (Hati dan ginjal sama sekali berbeda.)

Dengan demikian, apa yang dimaksud dengan "come into my heart, Lord Jesus?" Kata-kata tersebut merupakan kata-kata keagamaan. Artinya, kata-kata tersebut haruslah dipahami dalam konteks keagamaan. Maka setiap kali orang berbicara semua hal dalam konteks keagamaan yang harus disadari penuh adalah bahwa hal-hal tersebut seyogianya dibaca sebagai sesuatu yang tidak nyata atau riil. Bahasa keagamaan adalah bahasa iman bukan bahasa sejarah. Bahasa iman berarti membicarakan sesuatu yang tidak memerlukan pembuktian sejarah apalagi akal sehat. Agama mendasarkan bangunannya pada iman, bukannya bukti dan akal sehat. Apakah dengan demikian orang-orang beragama tidak menggunakan akal sehatnya? Mereka sangat mungkin menggunakan akal sehatnya, tetapi dalam bidang-bidang hidup lainnya, bukan agama. Ketika agama coba dipahami menggunakan akal sehat, maka semua unsur di dalamnya perlahan namun pasti akan runtuh.

Penebusan

Salah satu unsur dalam kekristenan adalah konsep "penebusan", di mana kematian Yesus dipercayai sebagai peristiwa yang bisa membawa seorang Kristen memperoleh keselamatan. Secara sangat singkat dan sederhana dapat dikatakan bahwa kematian Yesus akan menyelamatkan manusia, khususnya mereka yang percaya kepadanya. Namun demikian, konsep "penebusan" tersebut tidak hanya satu melainkan beberapa, sejauh yang saya pahami sampai saat ini.

Berikut adalah beberapa konsep "penebusan" Kristen yang coba saya ajukan:

1. Konsep Moral.

Kematian Yesus merupakan contoh paling sempurna yang mengedepankan kasih yang mengorbankan diri sendiri dan kesetiaan.
Contoh ayat : 1 Petrus 2.
Kritik terhadap konsep ini : Kematian tidak memberikan contoh mengenai kasih, atau setidaknya, kematian bukanlah contoh yang baik untuk menggambarkan kasih dan kesetiaan. Namun, kematian Yesus hanya akan memberikan gambaran yang brutal mengenai kasih yang ditunjukkan melalui kematian seseorang.

2. Konsep Rekapitulasi.

Kematian Yesus merupakan gambaran dari kondisi sempurna manusia melalui inkarnasi dan hidup sempurna manusia (tanpa dosa) yang dijalani Yesus selama di dunia.
Contoh ayat : Roma 5:18-21.
Kritik terhadap konsep ini : Sama sekali tidak mengangkat tema mengenai kematian Yesus padahal konsep "penebusan" dalam Kristen berkaitan dengan kematian Yesus.

3. Konsep Tebusan.

Kematian Yesus sebagai tebusan yang harus "dibayarkan" kepada iblis untuk membebaskan manusia dari dosa karena manusia pertama, Adam dan Hawa, telah "menjual" diri mereka kepada iblis yang mengakibatkan manusia jatuh ke dalam dosa.
Contoh ayat : Markus 10:45; 1 Timotius 2:5-6; 1 Korintus 6:19-20.
Kritik terhadap konsep ini : Iblis sebagai representasi kejahatan menjadi "tokoh utama" yang harus disogok.

4. Konsep Kepuasan.

Dosa adalah hutang. Hutang itu dihapuskan ketika Yesus mengurbankan dirinya sebagai pengurbanan yang sempurna kepada bapanya (allah) untuk menebus dosa manusia.
Contoh ayat : Ibrani 9:22.
Kritik terhadap konsep ini : Allah bisa dianggap sebagai figur kejam yang menginginkan kepuasan melalui kematian seseorang.

5. Konsep Partisipasi.

Penebusan melibatkan seseorang dalam peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus.
Contoh ayat : Roma 4:1-11; 2 Korintus 5:21; Roma 8:19-22; Kolose 1:15-20; Galatia 2:19-20.
Kritik terhadap konsep ini : Bisa mendorong orang bersikap fatalistik dengan ingin mengalami kematian demi kebangkitan, seperti yang dialami oleh Yesus.

6. Konsep Mistik.

Penebusan Kristus merupakan "kemenangan" atas keberdosaan manusia melalui kuasa roh kudus. Allah berinkarnasi menjadi manusia supaya manusia dapat menjadi sempurna seperti allah.
Contoh ayat : Galatia 2:20; Matius 9:13.
Kritik terhadap konsep ini : Dapat mendorong orang bersikap perfeksionis dengan menganggap bahwa dirinya dapat menjadi sempurna seperti allah, figur yang sesungguhnya tidak dilihat dan didengarnya.

_____________

* Apakah ada konsep yang luput dari pengamatan saya? Jika ya, tolong ditambahkan.

* Konsep manakah yang anda anut/percayai?

Kamis, 11 Maret 2010

Soteriologi

Salah satu unsur utama dalam agama-agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) adalah "keselamatan". Kata "keselamatan" berasal dari dua kata Yunani soterion = "keselamatan" dan logos = pembahasan, pembicaraan, diskusi. Setidaknya ada empat kategori "keselamatan" yang, baik disadari maupun tidak disadari dianut oleh para anggota ketiga agama Abrahamik tersebut.

1. Eksklusivisme. Orang-orang yang termasuk ke dalam kategori ini adalah mereka yang menganggap bahwa hanya para anggota kelompok agama merekalah yang akan diselamatkan. Pandangan ini didasarkan pada keyakinan bahwa hanya kepercayaan atau agama merekalah yang benar sedangkan kepercayaan atau agama lainnya salah. Yang diselamatkan hanyalah mereka yang secara terang-terangan mengakui imannya ketika hidup di dunia.

2. Inklusivisme. Orang-orang yang termasuk ke dalam kategori ini adalah mereka yang menganggap bahwa anggota kepercayaan atau agama lainnya masih bisa memperoleh keselamatan, tetapi berdasarkan kepercayaan atau agama saya. Orang yang memeluk kepercayaan atau agama lain mungkin tidak memperoleh keselamatan ketika masih hidup, tetapi mereka masih memiliki "kesempatan kedua" untuk diselamatkan setelah kematiannya. Artinya, mereka dapat diselamatkan di alam baka. Orang-orang yang berpandangan secara inklusif memiliki keyakinan bahwa para penganut kepercayaan atau agama lain dapat juga diselamatkan karena kepercayaan atau agama yang mereka anut juga mengajarkan hal-hal baik sebagai modal untuk memperoleh keselamatan di alam baka.

3. Pluralisme. Orang-orang yang menganut kategori ini meyakini bahwa para penganut kepercayaan atau agama lain dapat diselamatkan melalui kepercayaan atau agama yang mereka anut. Namun, tidak semua orang dari kepercayaan atau agama lain dapat diselamatkan, jika mereka tidak mengamalkan kepercayaan atau agama mereka secara baik.

4. Universalisme. Orang-orang yang termasuk ke dalam kategori ini meyakini bahwa semua orang akan mengalami kematian. Dan pandangan ini terbagi atas dua jenis:

a. Semua orang akan diselamatkan, tidak peduli pada pada kepercayaan atau agama yang dianutnya.
b. Tidak ada seorang pun yang akan diselamatkan karena tidak seorang pun yang perlu diselamatkan oleh dan dari apa atau siapa pun.

_____________

* Apakah ada kategori yang luput dari pengamatan saya? Jika ya, tolong ditambahkan.

* Apakah kategori "keselamatan" yang anda anut?