Minggu, 14 Februari 2010

Terapi

Terapi atau therapeutic touch (terapi yang dilakukan dengan sentuhan) adalah salah satu pengobatan energi yang dilakukan dengan cara si terapis (orang yang melakukan terapi/pengobatan) menggerak-gerakkan telapak tangannya di sekitar "wilayah energi" pasiennya. Praktik terapi didasarkan pada kepercayaan bahwa setiap makhluk hidup atau bahkan benda yang dikatakan hidup memiliki "wilayah energi kehidupan" yang dapat dilihat atau dirasakan di luar tubuhnya. Tentu, mereka yang mempercayai adanya "wilayah energi" yang dimiliki setiap makhluk dan benda hidup mengatakan bahwa kemampuan melihat atau merasakan ini hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu, mereka yang disebut "master" atau orang yang memiliki kemampuan supranatural. Menurut mereka, "wilayah energi" tersebut dapat mengalami distorsi atau kerusakan atau ketidakseimbangan atau kekotoran. Oleh karena itu, kerusakan atau ketidakseimbangan itu haruslah diperbaiki sehingga menjadi seimbang kembali. Para penyembuh energi ini mengklaim dan diklaim mampu merasakan dan memanipulasi "wilayah energi" tersebut dengan menggerakkan telapak tangannya (seperti gerakan memijat atau melambai) beberapa sentimeter dari tubuh pasiennya. Para penyembuh itu pun mengklaim bisa mentransfer (mengalihkan) beberapa energi kehidupan mereka kepada pasiennya. Menurut mereka, ini dilakukan demi terjadinya keseimbangan antara penyembuh dan pasiennya. Praktik ini dipercaya membuat tubuh seseorang mampu menyembuhkan dirinya sendiri.

Pengobatan cara ini (terapi) berasal dari Dolores Krieger yang memulainya di awal tahun 1970. Ia percaya bahwa telapak tangan manusia merupakan cakra (lihat tulisan saya yang berjudul CAKRA) dan mampu menyalurkan energi yang menyembuhkan. Ia mengemukakan segala kepercayaannya yang berkaitan dengan terapi, cakra, dan penyembuhan energi dalam bukunya yang berjudul Therapeutic Touch: How to Use Your Hands to Help and to Heal (1979) dan beberapa bukunya yang lain. Awalnya terapi seperti ini hanya dilakukan oleh para perawat, namun seiring perjalanan waktu terapi ini pun dilakukan oleh banyak orang yang menyatakan diri sebagai penyembuh atau "master" atau orang yang memiliki keahlian khusus dalam penyembuhan.

Para pendukung terapi ini dengan segala hal yang terkait di dalamnya, seperti: adanya "wilayah energi" dan ketidakseimbangan dalam tubuh manusia yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan alam mendasarkan kepercayaan mereka dengan mengatakan bahwa pandangan mereka sejalan dengan ilmu pengetahuan modern. Artinya, kepercayaan mereka sesuai dengan cara berpikir sains. Dengan demikian, mereka beranggapan bahwa kepercayaan mereka benar karena didukung oleh cara berpikir yang cermat dan tepat. Mereka mengatakan bahwa dalam jagat raya ini terdapat beragam energi. Pandangan ini didasarkan pada pandangan Albert Einstein yang mengatakan bahwa jagat raya ini adalah medan energi yang kompleks. Oleh karena itu, karena manusia berada dalam jagat raya ini, maka tentu manusia memiliki "medan energinya" sendiri, yang merupakan salah satu bagian kecil dalam medan energi yang lebih besar, yakni jagat raya. Dan jika medan energi yang lebih besar mengalami ketidakseimbangan, maka tubuh manusia pun akan terpengaruh dan mengalami ketidakseimbangan. Mereka yang mempercayai adanya energi dalam jagat raya tersebut memahami energi secara berbeda dibandingkan para fisikawan memahami energi. Orang-orang yang mempercayai adanya chi, Chi kung, dan terapi memahami energi sebagai kekuatan supranatural yang dikendalikan oleh jagat raya, sedangkan para fisikawan memahami energi sebagai sesuatu yang dapat dilihat pengaruhnya, seperti: energi listik yang mampu menyalakan TV atau energi cahaya yang berasal dari matahari atau energi panas yang dihasilkan dari kompor yang menyala.

Mereka yang mempercayai chi, Chi kung, dan praktik terapi mengatakan bahwa ketika tejadi ketidakseimbangan dalam tubuh seseorang yang mengakibatkan orang tersebut, salah satunya, mengalami penyakit, berarti "wilayah/medan energi" orang tersebut harus dibersihkan dengan cara terapi, di mana tangan si penyembuh digerak-gerakan (seperti gerakan memijat atau melambai) beberapa sentimeter dari tubuh pasiennya. Ini dilakukan untuk membersihkan "wilayah energi" pasien tersebut sehingga energi yang lebih baik/positif yang berasal dari jagat raya ini masuk ke dalam tubuhnya. Namun yang menjadi pertanyaan, bagaimana mereka yang mempercayai adanya "medan energi" dalam jagat raya dan tubuh manusia menjelaskan fenomena alam yang terjadi, seperti banjir, petir, angin ribut, gunung meletus, dan gempa bumi dalam kaitannya dengan energi yang terdapat dalam tubuh manusia? Sangat jelas, banjir, petir, angin ribut, gunung meletus, dan gempa bumi menghasilkan energi yang luar biasa besar. Bagaimana menghubungkan fenomena-fenomena energi alam tersebut dengan "wilayah energi" yang terdapat dalam tubuh manusia? Apakah energi alam tersebut mempengaruhi "wilayah energi" dalam tubuh manusia? Jika ya, apakah yang terjadi dengan tubuh manusia? Sejauh ini belum ditemukan penjelasan yang jelas mengenai keterkaitan antara energi yang dihasilkan alam dengan "wilayah energi" yang ada dalam tubuh manusia.

Jika sejauh ini belum ditemukan hubungan yang jelas antara energi yang dihasilkan alam dan "wilayah energi" dalam tubuh manusia, mengapa banyak orang mempercayai praktik terapi? Mengapa tidak sedikit orang yang percaya bahwa berbagai penyakit dapat disembuhkan hanya melalui gerakan tangan yang bahkan sama sekali tidak menyentuh kulit manusia? Mengapa beberapa orang lebih memilih pergi ke tempat-tempat terapi daripada ke dokter atau rumah sakit? Sangat mungkin orang memilih terapi karena terapi tidak melibatkan kontak fisik yang jika dalam pengobatan medis tertentu akan sangat menyakitkan, misalnya: penggunaan jarum suntik atau cuci darah, dan biaya pengobatan dokter atau rumah sakit relatif lebih mahal dibandingkan pengobatan melalui cara terapi.

Hal yang perlu juga diperhatikan dalam praktik terapi adalah bahwa si penyembuh atau terapis selalu dikatakan sebagai seseorang yang sangat perhatian dan lemah lembut terhadap pasiennya. Hal yang semakin jarang ditemukan dalam praktik-praktik dokter dan rumah sakit. Perhatian dan kelemahlembutan si terapis merupakan hal sangat penting dalam hubungan antara si terapis dan pasiennya sehingga pasien mengalami sugesti. Melalui perhatian dan kelemahlembutan si terapis, maka penyakit atau gangguan yang dialami pasien teratasi. Perhatian dan kelemahlembutan si terapis memberikan kenyamanan, optimisme, dan harapan kepada si pasien sehingga ia (pasien) percaya bahwa terapi yang dialaminya akan memberikan hasil yang positif. Tidak ada seorang pasien pun yang tidak mengharapkan dorongan semangat, rasa nyaman, dan harapan untuk menghadapi penyakit atau gangguan yang dideritanya. Dengan demikian, perhatian dan kelemahlembutan yang dimiliki si terapis memainkan peranan yang sangat vital walaupun kedua hal tersebut sama sekali tidak menyembuhkan penyakit seseorang. Jadi yang terjadi adalah bahwa si pasien mengalami perhatian dan kelemahlembutan dari si terapis tanpa menyadari bahwa penyakit yang "sesungguhnya" tidak pernah terobati. Namun ternyata yang diperlukannya, tanpa disadarinya, adalah perhatian orang lain. Yang pasti, si pasien mengalami "keadaan" yang lebih baik dari sebelumnya. Penyakit atau gangguan yang sebelumnya dialaminya pun menjadi teralihkan.

Hal-hal seperti kebahagiaan, kepenuhan dalam hidup, keberhasilan, dan cinta kasih menjadi penekanan dan ciri khas dalam banyak kelompok di masyarakat dewasa ini. Hal-hal seperti itu akan membuat kehidupan seseorang menjadi lebih indah, bermanfaat, berarti, dan tidak berakhir. Hal-hal inilah yang menjadi ciri dan "janji" berbagai kelompok Zaman Baru (New Age Movement). Kelompok-kelompok tersebut mendorong setiap anggotanya atau orang lain untuk menciptakan dunianya masing-masing berdasarkan kehendaknya, seperti layaknya tuhan yang menciptkan dunia ini menurut kehendaknya. Kelompok-kelompok Zaman Baru mendorong anggotanya untuk berpikir berdasarkan ilmu pengetahuan dan berpikir secara luas dan mendalam. Banyak orang mengatakan, Thinking Out of the Box. Namun, kelompok-kelompok Zaman Baru tidak mendorong anggotanya untuk berpikir kritis. Padahal salah satu unsur ilmu pengetahuan (sains) adalah terus menguji dan menilai berbagai teori, pandangan, dan argumen, termasuk teori, pandangan, dan argumen diri sendiri.

Changing Perspective

Sebuah pesan pendek masuk HP saya dan tulisannya seperti ini:

"Q: When is the bird bigger than a mountain? A: When it is closer than the mountain. Just as a bird is never bigger than a mountain, no problem is ever bigger than God. It's a matter of changing our perspective. The problem that we face each day can seem to much to bear until we turn our eyes to Christ and trust His tender care. Good morning!" (Penekanan saya).

Setiap kali manusia mengalami kesulitan dalam hidup dan melihat ke arah seseorang/zat/makhluk yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang, bagaikan seorang anak yang ketika terjatuh langsung melihat ke arah orangtuanya untuk segera memberinya pertolongan dan kasih sayang. Namun perbedaan yang sangat kentaranya adalah bahwa orangtua tersebut dapat dilihat secara kasat mata, sedangkan seseorang/zat/makhluk yang disebut allah atau tuhan itu tidak.

Apakah ketika seorang anak jatuh atau mengalami kesulitan hidup ia melihat ke arah tuhan atau allah? Tentu ia melihat ke arah orangtuanya agar orangtuanya segera menolongnya. Ketika anak itu beranjak dewasa, apakah ketika ia mengalami kesulitan dalam hidup melihat ke arah orangtuanya? Sepertinya tidak. Jika ia seorang yang beragama dan memiliki tuhan, tentu tidak diragukan lagi ia akan melihat ke arah tuhannya. Namun perbedaannya sekarang, tuhan itu tidak dapat dilihatnya secara kasat mata seperti orangtuanya ketika ia masih kecil dulu, melainkan tuhan dilihatnya dengan menggunakan "mata iman". "Mata iman" hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Artinya, ia hanya dimiliki oleh orang-orang yang beragama atau bertuhan.

Mengapa ketika seseorang yang beragama atau bertuhan mengalami kesulitan dalam hidup dan ketika kesulitan itu sepertinya tidak mampu lagi dihadapinya, ia mengarahkan pandangannya kepada tuhannya? Orang itu bagaikan seorang anak kecil yang melihat ke arah orangtuanya ketika jatuh. Tuhan seperti orangtua yang akan segera menolong anaknya ketika mengalami kesulitan atau kesakitan. Apakah tuhan bekerja seperti orangtua yang akan segera menolong anaknya ketika mengalami kesulitan atau kesakitan? Jika ya, apakah cara kerja tuhan itu selalu sama terhadap setiap orang yang mempercayainya? Artinya, tuhan akan segera memberikan pertolongan kepada setiap orang yang membutuhkan pertolongannya?

Orang seringkali mengatakan, "Jika menghadapi masalah ubahlah cara pandang anda terhadap masalah itu". Cara pandang apa yang harus diubah? Masalah adalah masalah. Tidak perlu mengubah cara pandang atau definisi atau pengertian mengenai masalah melainkan hadapilah masalah itu dengan akal sehat dan kritis. Artinya, hadapilah masalah dengan realistis. Hadapilah masalah sebagai sesuatu yang nyata. Selalu mencoba mencari penyelesaiannya secara nyata dengan berdasarkan pada akal sehat dan pikiran yang kritis. Dengan demikian, mengubah atau mengalihkan cara pandang seseorang dari masalah merupakan hal yang tidak perlu dan tidak relevan karena sesungguhnya masalah itu tetaplah ada, hanya baju atau bentuknya saja yang berbeda. Mengubah atau mengalihkan cara pandang seseorang dari masalah merupakan hal yang sesat.

Banyak orang mengatakan, "Masalah berasal dari diri orang itu sendiri". Jika demikian, buat apa mengikutsertakan seseorang/zat/makhluk yang tidak dapat dilihat itu? Jika cara pandang seseorang terhadap masalah haruslah diubah demi penyelesaian masalah itu, lalu mengapa membawa-bawa tuhan? Toh, orang itu yang harus mengubah cara pandangnya terhadap masalah yang sedang dihadapinya. Jika demikian, apa guna/fungsi/manfaat tuhan jika sebenarnya yang dibutuhkan orang yang sedang mengalami masalah hanyalah mengubah cara pandangnya terhadap masalah itu? Dengan demikian, tuhan tidak diperlukan lagi ketika orang mampu mengubah cara pandangnya terhadap masalah yang dihadapi.

Banyak orang juga mengatakan, "Selesaikanlah masalah dengan orang itu" (mengandaikan adanya masalah dengan orang lain, dan dalam istilah agama seseorang dituntut untuk, "mengampuni orang lain"). Ketika pernyataan seperti itu dianalisis menggunakan pisau Occam, maka upaya meminta pertolongan tuhan dan/atau upaya mengubah cara pandang seseorang terhadap masalah dengan orang lain menjadi sesuatu yang sangat tidak relevan. Mengapa demikian? Orang itu memiliki masalah dengan pihak/orang lain (satu atau beberapa orang), mengapa meminta pertolongan dari pihak lainnya (tuhan sebagai pihak ketiga atau kesekian). Mengapa tidak menyelesaikan masalah itu dengan orang lain, di mana ia mengalami masalah? Mengapa memunculkan atau menyertakan pihak lain (dhi. tuhan) untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan pihak/orang lain. Jika orang itu diharuskan mengubah cara pandangnya mengenai masalah yang dihadapinya dengan orang lain, berarti hal yang sama juga berlaku, yakni tidak perlu membawa-bawa tuhan untuk membantunya menyelesaikan masalahnya karena yang dibutuhkannya hanyalah mengubah cara pandangnya terhadap masalah itu.

Jadi sebenarnya, apakah yang seharusnya dilakukan seseorang ketika ia menghadapi masalah, baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain? Apakah ia harus mengubah cara pandangnya terhadap masalah yang sedang dihadapinya? Atau, ia harus mengalihkan pandangan kepada tuhannya? Ataukah ia harus melakukan keduanya, yakni mengalihkan pandangan kepada tuhannya untuk mengubah cara pandangnya terhadap masalah yang dihadapinya? Jika demikian adanya, manusia adalah sosok makhluk hidup yang tidak realistis, cengeng, dan kekanak-kanakan. Manusia adalah makhluk yang tidak realistis karena berupaya mengubah cara pandangnya terhadap masalah, padahal masalah adalah masalah. Masalah tetaplah merupakan masalah, tidak ada yang berubah sekalipun definisi atau cara pandang seseorang diubah. Manusia adalah makhluk hidup yang cengeng dan kekanak-kanakan karena mengalihkan pandangannya kepada tuhan ketika menghadapi masalah, seperti anak kecil yang melihat ke arah orangtuanya ketika jatuh.

Masalah hendaknya dihadapi dengan akal sehat dan ketenangan, bukannya dengan kepanikan. Ketika manusia menggunakan akal sehatnya, maka upaya atau anjuran untuk mengubah cara pandang terhadap masalah ketika masalah datang menjadi sesuatu yang tidak relevan karena masalah tetap merupakan masalah. Ketika manusia tenang dan tidak panik ketika menghadapi masalah, maka "melihat ke arah tuhan" merupakan yang tidak perlu karena hanya orang yang belum dewasa-lah yang mencari pertolongan kepada seseorang figur yang tidak dapat dilihat. Seorang anak kecil pun tidak "melihat ke arah tuhan" ketika ia jatuh melainkan ke orangtuanya, figur yang dapat dilihatnya secara kasat mata. Jadi, changing our perspective ketika menghadapi masalah membuat orang tidak realistis dan turn our eyes kepada tuhan ketika menghadapi masalah membuat orang menjadi cengeng dan kekanak-kanakan.

Chi Kung

Chi kung atau Chi'i kung atau ki qong oleh orang-orang yang mempraktikkannya diklaim merupakan "sains dan praktik" dari chi. Secara harfiah Chi kung adalah proses meningkatkan energi manusia. Menurut orang-orang yang mempraktikkannya, Chi kung mampu memperbarui kesehatan dan mental manusia dengan cara memanipulasi chi yang melibatkan pengendalian nafas, melakukan gerakan-gerakan tertentu, dan melaksanakan tekad tertentu. Bahkan orang-orang tertentu dengan kemampuan istimewa (master Chi kung) dipercaya mampu melakukan penyembuhan jarak jauh karena kehebatannya memanipulasi chi. Lebih lagi, diklaim bahwa seseorang dapat memperkuat/meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya dari berbagai penyakit dengan menguasai chi yang dimilikinya.

Ada dua praktik/kegiatan/aktivitas yang berkaitan dengan Chi kung, yakni Kung Fu dan Tai Chi. Kung Fu adalah salah satu seni beladiri yang melibatkan gerakan-gerakan tubuh dan seringkali juga dicirikan dengan kemampuan menghancurkan bata atau mematahkan besi dengan tangan kosong. Sedangkan Tai Chi merupakan istilah yang disematkan kepada orang-orang yang mempraktikkan Kung Fu tersebut. Berbagai demonstrasi atau pertunjukan yang mempertontonkan segala hal yang berkaitan dengan Kung Fu dan Chi kung diklaim oleh mereka yang mempercayainya sebagai bukti adanya kekuatan supernatural yang dimiliki oleh orang-orang tersebut karena mampu menguasai, mengendalikan, memanfaatkan, memanipulasi, dan/atau meningkatkan chi dalam tubuhnya.

Seni/aktivitas beladiri merupakan hal yang positif sejauh mengajarkan latihan-latihan fisik tertentu, melatih disiplin mental dan fisik, serta mengajarkan bagaimana melindungi diri sendiri dan orang lain. Bahkan beberapa orang mengatakan bahwa seni beladiri juga sanggup meningkatkan kepercayaan diri mereka (orang jadi PD) dan harga diri meskipun saya sama sekali tidak melihat di mana hubungan antara beladiri dengan percaya diri dan harga diri seseorang. Namun, beberapa seni beladiri mengajarkan peserta didiknya untuk percaya bahwa mereka dapat memiliki kekuatan supranatural atau memiliki kemampuan untuk menyembuhkan setelah mereka dilatih oleh orang-orang yang disebut "master". Bahkan dalam kaitannya dengan Chi kung dan Kung Fu, orang-orang yang mempercayai adanya chi dan kekuatan supernatural mengklaim bahwa seorang "master" mampu menjatuhkan orang tanpa menyentuhnya sama sekali.

Apakah ada bukti konkret mengenai kekuatan supranatural itu? Apakah ada bukti nyata mengenai kemampuan menyembuhkan dari jarak jauh atau tanpa menyentuh orang yang sakit? Apakah ada catatan medis bahwa Chi kung mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh seseorang? Tidak ada bukti yang konkret dan kuat mengenai adanya kekuatan supernatural itu. Tidak ada bukti yang nyata dan kuat mengenai kasus orang yang mengalami kesembuhan setelah "diobati" dari jarak jauh dengan cara "si master" memanipulasi chi orang tersebut. Tidak ada catatan medis yang mengatakan sistem kekebalan tubuh manusia dapat ditingkatkan melalui Chi kung kecuali melalui mengkonsumsi obat-obat tertentu. Jika demikian, mengapa ada cukup banyak informasi/berita/pernyataan yang mengatakan bahwa Chi kung benar adanya? Berbagai informasi/berita/pernyataan itu beredar dan berkembang dari mulut ke mulut. Artinya, orang-orang tertentu mengatakan berbagai hal mengenai Chi kung. Dengan demikian, sejauh yang dapat dikatakan bahwa Chi kung berkembang dan dipraktikkan oleh mereka yang mempercayainya tanpa perlu dibuktikan kebenarannya secara saintifik. Mereka akan mengatakan, "Tentu tidak bisa!" Oleh karena itulah dinamakan kekuatan supernatural, yang artinya, tidak dapat dilihat secara kasat mata, hanya dirasakan atau bahkan dialami oleh orang-orang tertentu. Jangankan dianalisis menggunakan sains, dipikirkan secara kritis saja tentu tidak ada dalam kamus orang-orang yang mempercayai hal tersebut, bahkan sebagian besar orang.

Sebagian besar orang cenderung mudah menerima dan mempercayai berbagai hal yang hanya didengarnya/diceritakan orang lain tanpa terlebih dahulu menguji apakah cerita atau kata-kata orang itu didasarkan pada bukti nyata atau tidak. Sebagian besar orang cenderung menyukai, mengaggumi, bahkan takjub terhadap hal-hal yang dalam pikirannya tidak masuk akal atau ajaib tanpa mengujinya dengan mengajukan berbagai pertanyaan kritis demi kejelasan hal-hal yang dianggapnya tidak masuk akal atau ajaib itu. Mengapa sebagian besar orang takjub terhadap berbagai hal yang menurutnya tidak masuk akal? Karena sebagian besar orang enggan berpikir kritis dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang relevan dengan hal-hal itu dan enggan melakukan pengujian (saintifik) dan penilaian kritis karena semuanya itu dianggap hanya membuang-buang waktu dan merepotkan. Oleh karena itulah tidak aneh jika sebagian besar orang cenderung menjadi pragmatis bahkan begitu mudah menjadi objek penipuan dan manipulasi.

Sabtu, 13 Februari 2010

Akupuntur

Akupuntur merupakan sebuah cara pengobatan yang banyak diminati orang, yakni dengan memasukkan/menusukkan jarum pada titik-titik tertentu di lapisan kulit manusia untuk memperlancar aliran chi dalam tubuh manusia. Praktik akupuntur diperkirakan berasal dari dan telah digunakan ribuan tahun yang lalu China. Catatan tertua mengenai akupuntur terdapat dalam Huang-ti Nei-ching yang berasal dari tahun 5-8 ZB, tetapi catatan tersebut tidak disebutkan adanya penggunaan jarum dalam akupuntur. Namun harus diakui bahwa penggunaan jarum dalam sejarah kehidupan manusia memang cukup tua. Berbagai tradisi mengenai tato dan membuat anting atau perhiasan di kulit manusia melibatkan jarum dan telah berkembang sejak zaman dulu. Apakah praktik akupuntur memang berasal dari China cukup diragukan karena manuskrip tertua China (berasal dari abad kedua SZB) yang berbicara mengenai pengobatan sama sekali tidak menyebutkan adanya akupuntur.

Penggunaan jarum seperti dalam praktik akupuntur seperti yang dilakukan sekarang ini baru muncul pada 20 melalui tulisan seorang Prancis, George Soulie de Morant. Pada awal abad 20 ia berada di China selama sekitar 20 tahun kemudian mengembangkan pengobatan akupuntur di Eropa selama sekitar 40 tahun. Pada tahun 1955 ia menerbitkan buku berjudul L'Acuponctore chinoise, yang di dalamnya diperkenalkan qi sebagai energi (kekuatan kehidupan). Kata "akupuntur" sendiri berasal dari dua kata Latin; acus yang berarti "jarum", dan pungere yang berarti "menusuk".

Sejauh yang diketahui orang-orang pergi ke tempat-tempat praktik akupuntur untuk mengobati berbagai alergi dan penyakit, seperti: demam, flu, asma, sinusitis, diare, paru-paru basah, epilepsi, sakit kepala yang akut, juga migren, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung. Bahkan ada yang mencoba mengatasi ketergantungan terhadap narkoba dan rokok, disfungsi seksual, stress, stroke, buang air kecil saat tidur (ngompol), mengatasi kesulitan hamil (masalah kesuburan), termasuk AIDS.

Berbagai pengalaman yang kemudian disebarluaskan di masyarakat hanyalah ketika seseorang memperoleh manfaat praktik akupuntur sehingga ia sembuh dari alergi atau penyakit yang dideritanya selama ini. Namun, orang tidak ambil pusing atau peduli terhadap tidak sedikitnya kasus yang menampilkan kenyataan yang bertolak belakang. Artinya, orang tidak peduli atau tidak tahu bahwa praktik akupuntur tidak selamanya berhasil. Namun orang yang mempercayai manfaat akupuntur tetap akan bertanya, "Walaupun akupuntur tidak selamanya berhasil berarti tetap ada, bahkan banyak kasus di mana akupuntur berhasil, bukan?" Itulah masalahnya. Jika akupuntur memang efektif dan efisien menyembuhkan berbagai alergi dan penyakit, mengapa hal yang sama tidak berlaku pada semua orang yang pernah mencoba pengobatan melalui cara tersebut? Jika orang mengalami pusing, maka tersedia berbagai macam obat pusing dan orang tinggal memilih obat mana yang lebih/paling cocok buat dirinya. Belum tentu obat stopcold cocok untuk semua orang. Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah ada berbagai macam akupuntur? Tentu tidak, karena praktik akupuntur pada dasarnya hanyalah memasukkan/menusukkan jarum yang sangat halus dan kecil pada titik-titik tertentu di kulit manusia dan melalui praktik tersebut dinyatakan bahwa seseorang yang selama ini mengidap alergi atau penyakit tertentu dapat mengalami kesembuhan.

Hal menarik mengenai akupuntur adalah hal tersebut harulah dilakukan melalui beberapa pertemuan atau sesi yang menghabiskan beberapa minggu bahkan bulan. Efek akupuntur tidak seperti ketika orang meminum obat stopcold yang bisa segera terasa efeknya setelah minum obat tersebut satu atau beberapa butir. Namun, orang yang mempercayai keampuhan akupuntur dapat bertanya, "Tapi pusing adalah sakit yang sangat ringan, jadi tentu dengan meminum sebutir atau beberapa butir obat pusing, maka seseorang akan segera sembuh. Bagaimana jika pusing itu bukannya hilang, tetapi bertambah parah bahkan menjadi migren?" Saya memiliki pengalaman yang sangat dekat mengenai hal tersebut. Ibu saya beberapa tahun lalu mengalami migren kemudian dibawa ke dokter dan dianalisis kemudian diberikan obat-obat tertentu untuk menghilangkan migren tersebut. Ya, migren tersebut tidak hilang dalam beberapa hari, bahkan masih suka "kambuh" dalam beberapa bulan (tidak lebih dari satu tahun). Saya tidak ingat apa yang dikatakan dokter mengenai hal yang dialami ibu saya tersebut. Namun yang pasti, sampai saat ini migran itu tidak pernah muncul lagi. Mari kita bandingkan dengan seseorang yang mengalami hal yang sama dengan ibu saya, migren, tetapi memutuskan untuk mengobatinya dengan pergi ke tempat praktik akupuntur. Di tempat tersebut kepada orang itu dijelaskan bahwa migren itu terjadi karena ia sedang mengalami ketidakseimbangan dalam hidupnya yang mengakibatkan aliran qi (energi) dalam tubuhnya tidak lancar. Apakah orang tersebut sembuh? Tentu ya. Namun apakah migren itu akibat telah dan sedang terjadi ketidakseimbangan dalam tubuh orang yang menderitanya? Sangat diragukan. Yang pasti, dalam kasus-kasus tertentu ketika seseorang (khususnya perempuan) berada dalam rentang usia tertentu bisa mengalami migren. Perhatikan, hanya kasus-kasus tertentu, seperti yang dialami ibu saya. Jadi, tidak semua perempuan atau orang dalam rentang usia tertentu pasti mengalami migren.

Lalu, apa perbedaan antara pengobatan medis dan akupuntur, jika hasilnya sama-sama efektif? Perbedaannya, orang yang lebih mempercayai pengobatan medis berpikir secara saintifik modern sedangkan orang yang mempercayai akupuntur berpikir secara tradisional. Mungkin orang akan bertanya, "Apakah dengan demikian berpikir saintifik modern lebih baik daripada berpikir tradisional?" Itu bukanlah pertanyaan yang relevan. Hal yang jelas adalah bahwa orang yang berpikir saintifik modern selalu mengarahkan pandangannya pada penemuan-penemuan terbaru yang didasarkan pada perkembangan ilmu pengetahuan. Pertanyaan lain muncul, "Apakah yang lebih baru selalu lebih baik daripada yang lama? Apakah ilmu pengetahuan selalu membawa dunia dan kehidupan ke arah yang lebih baik?" Yang lebih baru tidak serta-merta lebih baik daripada yang lama. Ilmu pengetahuan tidak serta-merta mengantarkan dunia dan kehidupan ke arah yang lebih baik. Namun, keingintahuan manusia, perkembangan berpikir manusia, dan upaya manusia untuk selalu mengembangkan hidupnya selalu menggiring manusia pada keadaan yang lebih baik dari sebelumnya.

Dalam kaitannya dengan praktik akupuntur, orang akan bertanya, "Bagaimana jika ilmu pengetahuan dan pikiran manusia tidak mampu mengatasi bagaimana cara menyembuhkan penyakit-penyakit tertentu? Bukankah akupuntur telah terbukti mampu menyembuhkan berbagai penyakit?" Di atas disebutkan berbagai penyakit yang diklaim mampu disembuhkan melalui praktik akupuntur. Berbagai penelitian medis tidak mendukung pernyataan tersebut. Apakah epilepsi bisa disembuhkan melalui akupuntur? Tidak ada catatan medis yang mendukungnya. Apakah berbagai penyakit akut dapat disembuhkan melalui akupuntur? Catatan medis tidak mengatakannya. Berbagai obat selalu terus diupayakan dan dikembangkan manusia dengan menggunakan ilmu pengetahuan yang didasarkan pada kemanusiaan. Oleh karena itulah manusia tidak henti melakukan penelitian dan percobaan demi keadaan yang lebih baik.

Orang-orang yang percaya pada keampuhan akupuntur akan terus mengatakan bahwa akupuntur adalah pengobatan yang efektif, bahkan mungkin lebih efektif dibandingkan pengobatan medis kedokteran, khususnya ketika tidak mampu menyembuhkan penyakit yang dialami orang-orang tersebut. Ditambah lagi jika akupuntur memberikan dampak yang sangat baik bagi orang-orang tertentu dalam masyakarat, seperti: artis, pemuka agama, orang dalam pemerintahan, dan bussines man, yang semuanya itu mampu memberikan sugesti, penegasan, dan pembenaran bahwa cara tersebut terbukti ampuh. Masalahnya adalah orang-orang seperti itu enggan membuka diri terhadap kegagalan akupuntur dalam kasus-kasus yang lain. Tentu, dalam budaya popular yang berkembang dalam masyarakat adalah selalu ditampilkannya keberhasilan-keberhasilan dalam berbagai bidang. Sementara kegagalan-kegagalan hanyalah konsumsi jurnal-jurnal sains yang dianggap hanyalah konsumsi orang-orang tertentu. Oleh karena itu, masyarakat lebih memilih dan menyukai hal-hal yang sederhana, ringan, dan menyenangkan pikirannya. Kenyataan bahwa akupuntur mengalami kegagalan dalam berbagai kasus dan risiko berbahaya dalam akupuntur, seperti: jarum patah, jarum yang masih menempel di kulit, dan alergi akibat jarum tentu disingkirkan oleh mereka yang mempercayai keampuhan akupuntur.

Berbagai fenomena popular yang berkembang di masyarakat perlu diperhatikan dan disikapi secara kritis. Jika tidak masyarakat akan dengan mudah dibodohi. Tidak mudah mempercayai suatu hal karena diklaim dialami oleh otoritas tertentu dalam masyarakat merupakan tindakan yang bijak. Banyaknya orang yang mengklaim bahwa akupuntur berhasil menyembuhkan alergi dan penyakit yang dideritanya selama ini tidak serta-merta membuktikan bahwa akupuntur adalah sesuatu yang benar dan baik karena sangat mungkin yang diangkat dalam pemberitaan hanyalah mereka yang mengalami kesembuhan tanpa sama sekali mengemukakan kasus-kasus kegagalan di sisi lainnya. Sebagian besar orang lebih memilih dan menyukai "keberhasilan" karena "kegagalan" merupakan hal yang menyakitkan dan bukan sifat dasar manusia. Sebagian besar orang mudah percaya pada pernyataan orang lain karena berpikir kritis dan skeptis merupakan hal yang melelahkan dan buang-buang waktu (tidak penting). Sebagian besar orang lebih memilih hal-hal yang menyenangkan pikirannya karena hal itu dianggap akan membuat hidupnya menjadi lebih baik, dan tidak disadari bahwa sesungguhnya yang mereka alami adalah delusinasi dan pembodohan. Sangat memprihatinkan.