Sabtu, 03 Juli 2010

Mengamalkan Hukum Kasih

Sepertinya inilah yang dilakukan oleh Vatikan (otoritas tertinggi gereja Katolik) yang akan memberikan kesempatan kepada seorang Uskup Jerman untuk bertugas kembali setelah mengajukan surat pengunduran diri. Uskup Jerman tersebut mengundurkan diri setelah memberikan pengakuan bahwa beberapa waktu lalu pernah memukul anak-anak. Menanggapi surat pengunduran diri yang telah diberikan kepada Vatikan, pihak otoritas gereja tersebut tengah mempertimbangkan supaya Uskup Jerman tersebut bisa tetap melakukan tugas gerejawinya. 

Setidaknya ada dua tafsiran menanggapi sikap Vatikan yang sepertinya akan tetap membiarkan Uskup Jerman tersebut memangku jabatan gerejawinya:

Pertama: Persoalan tindakan kekerasan dengan memukul anak-anak seperti yang diakui telah dilakukan oleh Uskup Jerman tersebut tidak sebesar skandal seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh para petinggi gereja Roma. Oleh karena itu, kepedulian Vatikan  terhadap dua kasus tersebut (pemukulan dan tindak seksual terhadap anak-anak) tidaklah sama. Sepertinya Vatikan tidak menganggap kasus pemukulan terhadap anak-anak yang dilakukan seorang petinggi gereja Roma sebesar, seheboh, atau sememalukan ketimbang kasus seksual yang dilakukan para petingginya. Jika ini yang terjadi, maka jangan heran ketika kelak para petinggi gereja Roma mengaku hanya melakukan pemukulan anak-anak demi terhindar dari tuduhan telah melakukan tindakan seksual terhadap anak-anak.

Kedua: Sepertinya Vatikan mentolerir (baca: memaafkan) tindakan yang pernah dilakukan Uskup Jerman itu karena ia telah mengakui perbuatannya tersebut. Oleh karena ia tidak melakukan tindakan seksual terhadap anak-anak itu melainkan hanya memukul mereka ditambah ia telah mengakui perbuatannya yang disertai oleh surat pengunduran dirinya, maka gereja pun memberikan pengampunan terhadap Uskup Jerman tersebut. Mungkin saja  Vatikan menganggap pengakuan dosa dan pengunduran diri yang dilakukan oleh Uskup Jerman tersebut sebagai perbuatan "baik" karena ia telah menunjukkan keberanian dan tanggung jawab. Oleh karena itulah Vatikan mempertimbangkan supaya ia bisa terus melaksanakan tugas gerejawinya. Jika ini yang terjadi, maka sangat mungkin Vatikan tengah mewujudkan ajaran utama dalam agama Kristen, yakni "kasih." Artinya, tindakan pengampunan yang diberikan Vatikan terhadap Uskup Jerman tersebut merupakan wujud dari pengamalan hukum kasih seperti yang diajarkan Yesus. "Jika Allah Bapa yang penuh kasih telah mengampuni umat-Nya dengan mengurbankan Yesus, anak-Nya, demi menebus dosa manusia, masakan kita sebagai manusia yang telah ditebus melalui darah pengurbanan anak-Nya di kayu salib tidak mengampuni sesama kita?" Mungkin kata-kata itulah yang diucapkan oleh Vatikan.

Sungguh-sungguh Kejam!

Seorang pemuka/pemimpin agama yang seharusnya menjadi teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya (jemaat), bahkan masyarakat yang lebih luas ternyata malah bersikap yang bertolak belakang. Seorang pemimpin agama yang seringkali mengucapkan kata-kata yang bernuansakan cinta kasih dan ketenangan malah melakukan kekejaman dan ketakutan. Tempat peribadatan yang seharusnya menawarkan kesejukan, di mana interaksi yang arahnya, baik vertikal maupun horizontal terjadi, hanyalah isapan jempol karena menjadi tempat pembantaian manusia yang menyeramkan. Inilah kenyataan yang terjadi, di mana seorang pemimpin agama dengan kejam telah memerintahkan pembunuhan terhadap ratusan, bahkan ribuan orang. Inilah salah satu contoh ketika pemimpin agama bukannya menjadi pembawa kabar yang menyejukkan, tetapi malah menebarkan teror yang sungguh menakutkan! Apakah ini pemimpin agama yang bisa menjadi teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya? Sama sekali tidak.

Kamis, 01 Juli 2010

Berani & Hormat

Dia adalah contoh salah seorang pimpinan yang berani sekaligus penuh hormat. Ia adalah PM baru Australia, Julia Gillard. Baru-baru ini, kepada radio ABC Melbourne yang mewawancarainya, Gillard menyampaikan "keyakinan" yang dimilikinya, yakni ia adalah seorang atheis. Dengan berani ia menyatakan bahwa dirinya adalah seorang yang bukan relijius, namun ia tetap menaruh hormat pada para penganut agama/Tuhan. Pernyataan Gillard ini sangat jarang, jika tidak mau dikatakan tidak ada, dikemukakan dengan sangat terbuka oleh seorang pemimpin negara. Namun, Gillard tidak hanya berani mengungkapkan "keyakinannya" secara berani dalam suatu wawancara (didengar begitu banyak orang) melainkan juga mengutarakan rasa hormatnya terhadap orang-orang yang beragama atau percaya pada adanya Tuhan.

Seringkali para atheis dicap sebagai orang-orang yang tidak sopan dan hormat hanya karena dengan berani telah menyatakan diri sebagai atheis (orang yang tidak percaya terhadap keberadaan Tuhan). Oleh karena pandangan dan pilihan sebagai atheis yang merupakan suara "terkecil" dari mayoritas penduduk bumi, maka kaum atheis dianggap telah berlaku tidak hormat karena sebagian besar orang meyakini keberadaan Tuhan dan beragama. Pilihan menjadi atheis sama sekali tidak ada hubungannya dengan sikap yang tidak hormat ataupun tidak sopan terhadap orang lain, khususnya mereka yang beragama dan bertuhan. Pilihan menjadi atheis membutuhkan keberanian yang sangat besar, khususnya di tengah suara mayoritas yang mengaggungkan kebesaran nama Tuhan.

Orang yang menyatakan diri sebagai atheis, entah secara terbuka ataupun tertutup, harus dihargai karena tentu mereka telah memilih hal tersebut dengan berdasar pada alasan-alasan tersendiri, bukan karena mereka mengalami delusinasi, kesurupan, atau sakit mental. Terlepas dari apakah alasan-alasan tersebut bersifat negatif (kekecawaan) ataupun positif (rasional), kaum atheis juga adalah manusia (normal) seperti layaknya manusia lainnya yang beragama dan bertuhan. Oleh karena itu, pilihan menjadi atheis seperti yang dilakukan oleh Julia Gillard tidak menjadikan orang yang bersangkutan sebagai manusia yang tidak hormat, intoleran, atau kejam. (Tidak jarang kaum atheis dicap sebagai antek-antek setan/iblis). Namun, pilihan menjadi atheis hanyalah salah satu dari sekian banyak pilihan yang ada, seperti pilihan untuk beragama dan bertuhan yang telah menjadi pilihan sebagian besar manusia.

Paul: Gurita Cenayang

Ternyata bukan hanya manusia yang bisa meramal apa yang akan terjadi di esok hari, seekor gurita pun bisa meramal. Tidak tanggung-tanggung yang diramal oleh gurita itu adalah hasil pertandingan sepak bola Piala Dunia 2010, dan ramalannya tepat. Bahkan ia bukan hanya meramal satu pertandingan melainkan beberapa pertandingan yang semua hasilnya sesuai dengan ramalan gurita tersebut. Apa yang sesungguhnya dilakukan oleh gurita itu sehingga ia dikatakan telah berhasil meramal hasil beberapa pertandingan sepak bola?


Diberitakan, Paul, nama gurita itu, dihadapkan pada dua buah kotak kaca yang masing-masing diisi oleh kerang dan ditempeli oleh bendera tim yang akan bertanding. Kotak yang didekati dan disentuh artinya itulah tim yang akan memenangkan pertandingan. Tentu, hal ini sangat mungkin terjadi sebagai suatu kebetulan belaka. Mungkin orang akan bertanya: Jika hanya kebetulan, mengapa bisa terjadi lebih dari satu kali? Jawaban terhadap pertanyaan itu adalah: kebetulan bisa terjadi lebih dari satu kali, bahkan berulang kali. Namun yang harus dijawab oleh mereka yang percaya terhadap ramalan adalah: Apakah ada ramalan yang meleset? Jika ya, bagaimana menjelaskannya? Dan mengapa ramalan-ramalan yang meleset itu tidak diketahui publik?


Sebagian besar orang lebih menyukai jika hal-hal yang menjadi kesukaan atau dugaannya tepat dan menghindar jika kesukaan atau dugaannya meleset karena ia akan malu. Sebagian besar lebih memperhatikan ketika ramalan seseorang (bahkan seekor gurita!) tepat tanpa memperhitungkan berapa ramalan yang meleset apalagi memberitahukannya kepada khalayak ramai karena sebagian besar orang lebih memilih untuk mengetahui sesuatu yang tepat (tidak meleset). Orang tidak tertarik bahkan tidak ambil pusing jika ada ramalan yang meleset karena hal itu dianggap tidak menarik perhatian mereka. Terlebih media massa, cenderung tidak akan mempublikasikan ramalan-ramalan yang meleset karena mungkin dianggap tidak sopan, intoleran, dan bisa membunuh pribadi dan karir seseorang (bagi beberapa orang cenayang dianggap sebagai profesi, bukan sekadar iseng-iseng). Oleh karena itulah sebagian besar orang akan memilih ketika ramalan-ramalan tersebut tepat dan menyingkirkan kemungkinan yang lebih banyak jika ramalan-ramalan yang sama meleset.


Kembali pada berita mengenai Paul, seekor gurita cenayang, di mana ia meramalkan bahwa  yang akan keluar sebagai pemenang antara Jerman dan Argentina adalah timnas Jerman. Saya sendiri adalah pendukung timnas sepak bola Jerman sejak lama dan berharap Jerman dapat mengalahkan Argentina di babak perempat final nanti, namun saya juga menunggu (walaupun tidak antusias) apakah ramalan Paul itu tepat atau tidak. Jika ramalannya tepat (Jerman menang) tentu saya senang dan mungkin berita mengenai kehebatan Paul terus ada, namun jika Jerman kalah dan ini berarti ramalan Paul meleset, saya "meramalkan" setidaknya ada dua kemungkinan:


1. Berita mengenai kehebatan Paul dalam meramal tetap ada, tetapi para staf di Sea Life Aquarium di Oberhausen, Jerman, tempat Paul berada, akan memberikan berbagai alasan yang menyebabkan ramalan Paul meleset


atau...


2. berita mengenai kehebatan Paul dalam meramal akan lenyap. Artinya, tidak akan ada lagi berita mengenai seekor gurita bernama Paul yang mampu meramal hasil pertandingan sepak bola Piala Dunia 2010. Mengapa? Karena orang-orang yang tadinya yakin bahwa Paul bisa meramal menjadi malu karena ternyata ramalan Paul meleset. 


Jika kemungkinan kedua yang terjadi, maka, tepatlah "ramalan" saya yang mengatakan orang lebih memilih sesuatu yang tepat dan membenci hal yang tidak tepat (dugaan atau ramalan), dan ketika mereka tidak bisa menjelaskan mengapa duguaan atau ramalan itu meleset, mereka pun pergi mengacuhkan pertanyaan tersebut.