Rabu, 17 Maret 2010

Mengapa Benar?

Mengapa banyak orang mati-matian mengatakan bahwa sesuatu yang diimaninya adalah benar? Hal-hal apa sajakah yang biasa dijadikan sebagai alasan atau argumen untuk mendukung imannya mereka tersebut?

1. Akurasi. Segala hal yang ditulis dalam kitab suci atau tradisi tepat.

2. Nubuat. Segala yang telah dinubuatkan menjadi kenyataan.

3. Angka. Banyak orang mengatakan hal yang sama.

4. Perubahan hidup. Banyak orang mengaku mengalami perubahan hidup (misalnya: menjadi lebih baik atau bijak atau kaya).

5. Mukjizat. Memperoleh (beberapa) tanda, penglihatan, dan/atau keajaiban.

6. Pengalaman pribadi. Klaim merasakan kehadiran sesuatu di dalam hidupnya sehingga memberikan ketenangan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan kehangatan.


Saya : iman adalah sesuatu yang diharapkan terjadi oleh mereka yang mempercayainya dan merupakan bukti yang tidak dapat dilihat secara kasat mata. Tidak seorang pun bisa mengatakan percaya jika tanpa memiliki iman. Dengan demikian, iman dan percaya adalah dua hal yang saling terkait bagi mereka yang mengimani dan mempercayainya. "Saya beriman karena saya mempercayainya. Saya percaya karena saya telah mengimaninya".

Pertanyaan : apakah iman dan percaya itu dapat atau telah diuji kebenarannya?

Selasa, 16 Maret 2010

Mengapa Percaya?

Saya : Kenapa lu mempercayai hal itu?

Teman : Karena gua merasakannya.

Saya : Maksudnya "merasakan"?

Teman: Ya, karena gua merasakan bahwa hal itu memang benar adanya.


Saya : Maksudnya "benar" itu apa?

Teman : Hal yang gua percayai itu benar karena gua ngerasain itu benar.

Saya : Apakah pernah sekali aja lu coba mempertanyakan apa yang selama ini lu rasa benar dan percayai itu?

Teman : Buat apa gua pertanyain? Gua udah yakin sama apa yang gua rasain benar itu.

Saya : Apakah pernah sekali aja terlintas di benak lu kalo yang selama ini lu rasa benar dan percayai itu keliru?

Teman : Ga mungkin itu. Karena banyak orang juga merasakan apa yang gua rasain dan itu berarti benar.

Saya : Yang selama ini lu rasain benar dan percayai itu kan sebenarnya turunan dari orangtua lu dan lu udah dibentuk dari sejak kecil dalam lingkungan yang mendorong (baca: mengindoktrinasi) lu untuk mempercayai hal itu. Gimana lu menanggapi pernyataan gua tadi?

Teman : Ya, emang turunan, tapi seiring berjalannya waktu gua sendiri juga udah membuktikan kalo yang gua percayai itu emang benar dan ga salah.

Saya : Apa yang udah lu lakukan untuk "membuktikan" bahwa yang selama ini lu percayai itu emang benar dan ga salah?

Teman : Begitu banyak orang merasakan dan mengalami seperti yang gua rasain dan alami.

Saya : Apa itu yang dirasakan dan dialami itu?

Teman : Tenang, bahagia, merasa diberkati, dikasihi, dan jadi orang yang lebih baik.

Saya : Bukankah hal-hal yang lu rasain dan alami itu merupakan hal umum. Artinya, banyak orang lain juga merasakan hal yang serupa, tetapi tidak memiliki kepercayaan yang sama dengan lu. Gimana menurut lu?

Teman : Biarin aja. Yang penting, gua yakin kalo yang gua rasain itu benar dan ga salah. Dan yang paling penting dan benar itu apa yang gua percayai.

Saya : Masalahnya, banyak orang memiliki kepercayaan berbeda dengan lu, tapi juga merasakan dan mengalami hal-hal seperti yang lu bilang tadi. Gimana tuh?

Teman : Yah, mereka masih dikasih waktu untuk menyadari kalo yang mereka percayai itu salah. Gua cuma kasih contoh melalui sikap gua yang benar aja. Yah, seterusnya terserah mereka mo gimana. Semoga aja suatu saat mereka sadar dan mempercayai apa yang gua percayai.

Saya : Kenapa mereka harus mempercayai apa yang lu percayai?

Teman : Ga harus sih . . . karena emang cuma beberapa orang yang terpilih dan sisanya, bahkan kebanyakan ga.

Saya : Maksudnya "terpilih" dan "ga terpilih itu apa? Apa aja syarat-syaratnya untuk bisa jadi yang terpilih itu?

Teman : Ya, yang terpilih itu jadi bisa selamat sedangkan yang ga terpilih, yah, ga selamat. Syaratnya gampang aja kok, percaya seperti gua aja.

Minggu, 14 Maret 2010

Posisi

Beberapa waktu lalu saya menulis "BERDEBAT SECARA BIJAK". Tulisan kali ini berusaha melengkapi tulisan tersebut. Dalam diskusi, dialog, apalagi debat mengetahui dan memahami posisi masing-masing, baik diri sendiri maupun (terlebih) pasangan diskusi/dialog adalah hal yang sangat penting. Akan lebih baik jika mengetahui dan memahami posisi tersebut dilakukan sebelum berdiskusi/berdialog sehingga masing-masing pihak jelas dengan posisinya. Mengetahui dan memahami posisi masing-masing tersebut tidak terbatas pada kemampuan menyebut atau menamakan posisi seseorang, misalnya: saya seorang yang berpikir terbuka sedangkan dia berpikir tertutup atau saya seorang moralis sedangkan dia imoral. Meskipun hal tersebut sudah cukup baik, namun tidak begitu membantu pihak-pihak yang berdiskusi/berdialog. Oleh karena itu, menamakan atau menyebut posisi seseorang tidaklah cukup melainkan dibutuhkan lebih dari itu. Ini artinya pihak-pihak yang berdiskusi/berdialog harus mampu, bukan saja menjelaskan posisinya, tetapi juga menjelaskan posisi pasangan diskusi/dialognya. Dengan demikian, apakah yang seharusnya dilakukan oleh mereka yang hendak atau sedang berdiskusi atau berdialog, bahkan berdebat?

Lakukanlah taksonomi! Apakah "taksonomi" itu? Taksonomi adalah upaya mengklasifikasikan suatu hal. Awalnya, taksonomi dilakukan pada tumbuhan dan hewan. Taksonomi adalah aktivitas saintifik dalam mengklasifikasi semua hal. Dengan demikian, taksonomi merupakan sebuah cara atau alat yang sangat penting dilakukan demi memperoleh informasi yang cermat serta memperluas pengetahuan bagi mereka yang melakukannya.

Beberapa kekuatan taksonomi:

1. Membantu orang dalam menganalisis data-data yang relevan.
2. Membantu orang selalu terhubung dengan dunia nyata.
3. Membantu orang memperhatikan pola-pola yang saling berkaitan.
4. Membantu orang berpikir secara runut sehingga dapat membangun model-model sehingga memperdalam sekaligus memperluas wawasan/pengetahuan seseorang mengenai hal tertentu.

Beberapa kelemahan taksonomi:

1. Seringkali terjebak dalam reduksionisme. Artinya, terlena pada hal-hal yang sangat kecil dari suatu hal yang diklasifikasi.
2. Dapat menggiring orang menjauhi kenyataan yang terjadi akibat terlena pada hal-hal yang sangat kecil.
3. Bisa mengalihkan orang dari hubungan-hubungan kompleks yang terjalin di antara berbagai subjek.

Apa yang harus dilakukan terhadap taksonomi?

1. Taksonomi harus tetap dilakukan, tetapi bersifat sangat cair atau fleksibel. Artinya, orang harus selalu awas terhadap berbagai bukti baru yang muncul. Dan gunakanlah berbagai bukti baru tersebut untuk memperkaya klasifikasi yang sedang dilakukan.
2. Gunakanlah beberapa taksonomi dalam menganalisis suatu hal, jangan hanya satu.
3. Ujilah selalu taksonomi-taksonomi yang dilakukan menggunakan berbagai data terkini.
4. Jangan biarkan taksonomi-taksonomi tersebut menjadi satu-satunya cara dalam memandang sebuah subjek atau suatu kenyataan, tetapi gunakanlah akal sehat yang ditopang oleh pikiran yang kritis.

Setelah memperhatikan penjelasan mengenai taksonomi di atas, mungkin orang akan berkata, "Hanya mau berdiskusi/berdialog saja kok rumit banget, harus gunakan taksonomi-taksonomi segala!" Jika dilihat sepintas sepertinya rumit. Namun, tidak demikian ketika orang mencoba mempraktikkan hal tersebut setiap kali berdiskusi/berdialog/berdebat dengan orang lain. Taksonomi sangat penting bahkan untuk hal-hal yang sangat kecil atau bahkan remeh menurut pandangan banyak orang. Ketika berdiskusi/berdialog masing-masing pihak harus bersama-sama menjelaskan dan menentukan berbagai istilah bahkan kata yang digunakan sampai masing-masing pihak sepakat sehingga diskusi dapat dimulai atau dilanjutkan.

Taksonomi harus dilakukan agar masing-masing pihak yang berdiskusi/berdialog memiliki informasi yang jelas (tidak samar-samar) mengenai, bukan saja penggunaan berbagai istilah atau kata tertentu, tetapi juga sudut pandang masing-masing pihak. Taksonomi dilakukan supaya masing-masing pihak yang berdiskusi/berdialog bisa selalu mengecek/menguji/menilai kejelasan hubungan antara berbagai data yang ditemukan dan kenyataan yang terjadi. Tentu, taksonomi dilakukan demi memperoleh kejelasan mengenai posisi masing-masing pihak yang berdiskusi/berdialog sehingga diskusi/dialog yang dilakukan tidak mengarah atau berakhir pada adu mulut/perang kata-kata yang tiada manfaatnya. Karena sekali lagi, tujuan terutama diskusi atau dialog, bahkan debat sesungguhnya bukanlah untuk mencari siapa yang menang, apalagi siapa yang tepat atau benar melainkan menemukan kebenaran.

CSI : Miami

Salah satu serial TV yang saya sukai adalah CSI (Crime Scene Investigation) karena tokoh-tokoh protagonis dalam serial tersebut selalu mengutamakan akal sehat, logika, dan berbagai pembuktian yang ditopang oleh bukti-bukti fisik yang ada demi memecahkan setiap kasus kejahatan. Serial CSI terdiri atas tiga lokasi, yakni CSI : Las Vegas, CSI : New York, dan CSI : Miami.

Baru saja saya menyaksikan salah satu serial CSI : Miami yang kali ini menurut saya sangat bahkan paling gamblang dalam mengedepankan penggunaan akal sehat manusia. Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas serial tersebut dari awal sampai akhir melainkan hanya menitikberatkan pada satu bagian yang sangat kecil namun bagi saya sangatlah penting dan mencerahkan.

Di akhir serial tersebut, ketika semua kasus kejahatan telah berhasil dipecahkan, salah seorang anggota CSI ternyata masih seringkali melihat temannya yang sebenarnya telah tiada (meninggal). Temannya itu telah meninggal beberapa bulan yang lalu, tetapi ia masih sering melihatnya begitu nyata. Ketika temannya itu masih hidup mereka berteman sangat akrab, jadi setelah temannya tiada ia sungguh-sungguh kehilangan. Anggota CSI itu seringkali mengatakan kepada teman-temannya termasuk pimpinannya, Horatio, bahwa ia sungguh-sungguh telah melihat temannya. Ia selalu berkata bahwa ia tidak bohong, dan temannya itu masih hidup.

Namun, ketika untuk kesekian kalinya ia berkata kepada pimpinannya, bahwa ia sungguh-sungguh telah melihat temannya, apakah tanggapan pimpinannya? Apakah pimpinannya mengatakan bahwa ia gila? atau ia mengalami halusinasi? atau ia sakit jiwa? atau ia kurang istirahat, jadi harus pulang dan istirahat? Ternyata pimpinannya itu tidak mengatakan salah satu dari semua ucapan itu melainkan dengan bijak ia menganjurkan agar anggotanya tersebut untuk memeriksakan diri ke dokter sehingga bisa dianalisis dan diobati. Kemudian apa yang terjadi? Setelah memeriksakan diri ke dokter dan diberi obat orang itu pun tidak lagi "melihat" temannya.

Apa yang bisa diambil dari hal tersebut? Merupakan hal wajar jika seseorang merasa begitu kehilangan orang yang sangat dikasihinya sehingga ia seperti masih "melihat" sosok orang yang telah meninggal itu, "mendengar" suaranya, atau seperti "merasakan" kehadirannya. Namun, apakah semua hal itu nyata? Artinya, apakah sosok yang sudah meninggal itu masih hidup? Masih bisa dilihat, didengar, dan dirasakan? Tentu tidak, bukan?! Sesungguhnya yang dialami seperti tokoh dalam CSI : Miami tadi adalah memori yang begitu kuat terhadap sosok yang telah meninggal tersebut sehingga memori itu merangsang syaraf-syaraf tertentu dalam otak yang membuat orang itu seperti "melihat" temannya yang sebenarnya telah meninggal.

Sesungguhnya tokoh dalam serial tersebut menyadari bahwa temannya memang sudah meninggal, tetapi ia tidak mampu mengendalikan diri untuk membedakan antara yang nyata (temannya sudah meninggal) dan tidak nyata (penglihatan akan temannya yang sudah meninggal). Dalam hal yang sangat terbatas apa yang dialami tokoh dalam serial tersebut merupakan hal yang wajar, jika dialaminya hanya beberapa hari setelah kematian temannya. Namun, hal tersebut menjadi tidak wajar bahkan sangat tidak wajar jika dialaminya sampai berbulan-bulan apalagi sampai bertahun-tahun. Akan menjadi sesuatu yang aneh, jika hal tersebut didiamkan dan tidak segera dicari penanggulangannya, seperti: diobati melalui pengobatan medis. (Bukannya didoakan atau ditengking atau diberikan pengobatan alternatif.)

Kesedihan yang mendalam akibat seseorang yang dicintai meninggal merupakan hal yang sangat normal, wajar, dan manusiawi. Namun, jika kesedihan itu disertai oleh berbagai pengalaman "penglihatan" atau "pendengaran" yang dialami berulang-ulang dan orang yang mengalaminya bersikeras bahwa ia sungguh-sungguh telah "melihat" sosok dan "mendengar" suara bahkan "merasakan" kehadiran sosok yang telah meninggal serta berusaha meyakinkan orang lain mengenai hal tersebut, maka hal tersebut perlu segera ditangani secara bijak. Artinya, orang tersebut perlu dibawa ke dokter atau psikiater (bukan psikolog).

Berkaca pada salah satu serial CSI : Miami maka merupakan hal yang bijak jika setiap orang selalu berupaya menganalisis, memahami, dan menjelaskan setiap hal dengan dilandasi pada akal sehat. Setiap orang seharusnya menyadari bahwa pikirannya mudah dan seringkali dikacaukan oleh berbagai pengalaman dan pola pikir yang tidak cermat. Oleh karena itu, upaya untuk selalu menggunakan akal sehat disertai berpikir kritis merupakan hal yang positif, bukan saja bagi diri sendiri melainkan juga masyarakat yang lebih luas. Dikatakan positif karena orang yang menggunakan akal sehat dan pikiran kritisnya tidak mudah dimanipulasi, baik oleh orang lain maupun dirinya sendiri.