Kamis, 04 Maret 2010

Berdebat secara Bijak

Dalam suatu perdebatan ataupun diskusi, hendaklah masing-masing pihak tidak hanya mengambil sedikit-sedikit argumen yang dikemukakan masing-masing pihak. Tidak juga hanya mengambil beberapa pandangan yang dianggap lemah yang kemudian digunakan untuk menyerang lawan atau partner debat/diskusi. Namun, masing-masing pihak berupaya memahami seluruh argumen atau pandangan partner debat/diskusinya. Dan selalu berupaya memahami argumen masing-masing sedalam dan secermat mungkin demi memperoleh informasi yang jelas mengenai topik yang sedang diperdebatkan atau didiskusikan.

Upayakan untuk selalu mengkoreksi setiap argumen lawan atau partner debat/diskusi yang dianggap lemah, tidak relevan, tidak jelas (kabur/samar-samar), tidak logis, dan tidak masuk akal. Kemudian, berilah argumen yang lebih baik; relevan, jelas, logis, dan masuk akal. Senantiasalah awasi emosi sekaligus argumen sendiri. Dalam berdebat atau berdiskusi hendaklah tidak mencari-cari kelemahan lawan atau partner debat/diskusi untuk menunjukkan kehebatan diri melainkan bersama-sama mencari kesimpulan dan/atau solusi yang relevan, jelas, logis, dan masuk akal.

Hal yang juga selalu perlu diperhatikan dan diingat bahwa tujuan/sasaran debat atau diskusi bukanlah mencari pemenang atau siapa yang lebih kuat atau hebat melainkan bersama-sama mencari kebenaran yang didasarkan pada logika dan akal sehat manusia. Jadikanlah "lawan" debat atau diskusi sebagai rekan atau partner dalam upaya bersama menemukan kebenaran dan solusi yang relevan serta cermat. Partner debat/diskusi bukanlah lawan yang harus ditaklukkan, tetapi pasangan dalam bertukar dan berolah pikiran. Jadikanlah debat atau diskusi sebagai ajang mengasah dan mempertajam kemampuan menggunakan logika dan akal sehat yang dilandasi oleh semangat kritis yang dilakukan tanpa kenal lelah.

Rabu, 03 Maret 2010

Di Sini & Sekarang

"Jangan hanya lewati kuburanku, hai pengembara.
Namun, berhenti, dengarkan dan belajarlah, barulah engkau melanjutkan perjalananmu.
Tidak ada perahu di Hades [tempat orang mati dalam budaya Yunani klasik], tidak ada nahkoda di Charon.
Tidak ada penjaga di Aiakos, tidak ada anjing Cerberus.
Kami semua yang terbaring di bawah ini
Telah menjadi tulang-belulang dan debu, dan tiada lainnya.
Saya telah mengatakan yang sebenarnya, hai pengembara, lanjutkanlah perjalananmu,
Meskipun saya telah mati sepertinya saya masih saja berkata-kata kepadamu".

Kata-kata di atas ditulis oleh seorang yang tidak dikenal (tidak diketahui namanya/anonimus) yang hidup pada masa kekaisaran Romawi. Tulisan tersebut bertentangan dengan pandangan umum yang berkembang pada saat itu, di mana masyarakat mempercayai adanya kehidupan setelah kematian. Namun si penulis melawan arus gerakan pemikiran saat itu dengan mengatakan bahwa tidak sesuatu hal pun yang hidup setelah kematian, baik itu manusia maupun binatang. Meski demikian, manusia tetap diharapkan melanjutkan perziarahan hidupnya di dunia ini tanpa melayangkan pandangannya terhadap "dunia" setelah kematian.

Perziarahan yang sesungguhnya hanya terjadi ketika seseorang masih bernafas, menginjakkan kakinya di bumi, dan hidup di dunia ini. Perziarahan hidup manusia di dunia ini tidak akan berlanjut dalam kehidupan yang akan datang, entah itu di surga ataupun neraka. Dengan demikian, perziarahan hidup manusia hanya terjadi satu kali ketika berada dalam dunia ini. Oleh karena itu, manusia tidak perlu melayangkan pandangannya terhadap "dunia" yang akan datang melainkan membukan pandangannya terhadap dunia yang di sini dan sekarang. Seperti tulisan di atas, semua yang telah mati dan akan mati hanya akan menjadi tulang-belulang dan debu tanah.

Jalanilah hidup di sini dan sekarang dan sadarilah bahwa sesungguhnya tidak ada kehidupan selain di sini, sekarang, dan di bumi ini. Belajarlah dari tulisan di atas seraya terus melanjutkan perjalanan dalam memaknai kehidupan di dunia ini.

Selasa, 02 Maret 2010

Jiwa

Orang-orang yang mempercayai adanya kehidupan setelah kematian menganggap bahwa jiwa merekalah yang akan terus hidup di alam baka. Beberapa pertanyaan yang muncul dari kalimat tersebut adalah:

1. Apakah itu jiwa?
2. Apakah bentuk jiwa tersebut?
3. Berasal dari apakah jiwa itu?
4. Apakah unsur jiwa itu?
5. Terdiri dari apakah jiwa itu?
6. Di manakah jiwa itu berada?

Banyak orang mengatakan bahwa jiwa adalah salah satu unsur diri manusia yang tidak berbentuk fisik atau tidak memiliki daging dan darah layaknya tubuh manusia. Jiwa adalah lawan dari raga manusia. Oleh karena jiwa bukanlah raga, maka jiwa itu tidak dapat mati alias tidak akan mati. Pendek kata, jiwa bukanlah sesuatu yang berbentuk materiil atau bersifat ragawi melainkan sesuatu yang non-materiil atau non-ragawi.

Banyak orang menyatakan bahwa jiwa berasal dari kesadaran berpikir manusia. Namun, berbagai penelitian yang dilakukan terhadap otak manusia mengatakan hal yang sebaliknya. Artinya, kesadaran berpikir manusia hanyalah merupakan hasil proses kerja jaringan-jaringan syaraf otak manusia. Kata yang biasa digunakan untuk menyebut atau menamakan hasil proses kerja syaraf otak manusia tersebut adalah "pikiran" (bahasa Inggrisnya mind). ("Pikiran" atau Mind
adalah kata benda, sedangkan kata kerjanya adalah "berpikir" atau thought.) Dengan demikian, kesadaran manusia tidaklah "melahirkan" jiwa, tetapi kesadaran manusia tersebut merupakan hasil kerja fisik otak manusia.

Jadi sesungguhnya, "jiwa" adalah sesuatu yang tidak nyata. Tidak ada benda atau sesuatu pun yang dapat disebut atau dinamakan dengan "jiwa". "Jiwa" hanyalah sebuah konsep atau ide atau kata yang tidak menunjuk dan merujuk pada sebuah benda yang konkret. Kata "jiwa" hanya terdapat dalam "kamus" mereka yang mempercayai keberadaan "jiwa" tersebut, meskipun tidak hal tersebut tidak didukung oleh berbagai bukti relevan dan argumen yang kuat. Oleh karena itu, pandangan mengenai "jiwa" haruslah ditolak karena sama sekali tidak didasarkan pada bukti-bukti yang nyata dan relevan. Keberadaan "jiwa" hanyalah mitos. Tidak ada satu pun makhluk hidup yang memiliki jiwa, termasuk manusia, apalagi benda.

Jiwa bukanlah salah satu unsur yang ada dalam tubuh manusia dan bersifat kekal sehingga tidak akan mengalami kematian. Jiwa bukanlah unsur non materiil yang dimiliki manusia, namun di saat otak berhenti beraktivitas dan semua syaraf tubuh berhenti bekerja hanya jiwalah yang terus hidup setelah melewati masa kematian. Jiwa juga bukanlah pikiran dan kesadaran manusia karena kedua hal itu tidak lain hanyalah hasil kerja syaraf-syaraf otak manusia. Oleh karena itu, pandangan yang mengatakan bahwa makhluk hidup, khususnya manusia memiliki jiwa merupakan pandangan yang salah karena sama sekali tidak didukung oleh berbagai bukti dan data relevan serta argumen yang cermat. Dengan demikian, manusia adalah makhluk hidup yang memiliki pikiran, hasrat, dan emosi, tetapi tidak memiliki jiwa.

Senin, 01 Maret 2010

Iman

Banyak orang berbicara mengenai "iman" tanpa menjelaskannya dengan rinci dengan didukung oleh contoh-contoh yang relevan akibatnya kata "iman" tersebut hanyalah sebuah kata yang tidak jelas dan tidak jarang juga penuh oleh pengertian yang sangat beragam. Tulisan kali ini berusaha mencoba menafsirkan dan menjelaskan kata "iman" dan berbagai hal berkaitan dengan "iman" yang seringkali digunakan orang, entah sadar ataupun tidak sadar, dalam konteks yang beragam.

1. Kepercayaan, Harapan, atau Keyakinan yang Didasarkan pada Hal-hal Tertentu

Beberapa pengertian :

* Memiliki keyakinan penuh yang didasarkan pada kepercayaan atau nilai tertentu, seperti pada seseorang, sebuah ide, ataupun suatu hal.
* Menaruh kepercayaan atau keyakinan pada seseorang atau benda atau sesuatu.
* Sesuatu yang dipercayai dengan didasarkan pada keyakinan yang sangat kuat.

Contoh :

* Saya yakin bahwa ayah akan menolong saya ketika saya berada dalam kesulitan.
* Saya percaya bahwa dia tidak berbohong.

2. Kepercayaan atau Keyakinan yang Tidak atau Didukung Sedikit bukti.

Beberapa pengertian :

* Kepercayaan atau keyakinan yang tidak didasarkan pada bukti-bukti logis atau berbagai bukti fisik.
* Kepercayaan atau keyakinan yang tidak didasarkan pada bukti.

Contoh :

* Seseorang yang mempercayai adanya sesuatu dengan hanya mendasarkannya pada iman. Artinya, orang tersebut hanya mendasarkan kepercayaannya tersebut pada keyakinan yang hanya didukung oleh kata "iman".

3. Suatu Kumpulan atau Susunan Berbagai Prinsip, Nilai, atau Kepercayaan yang Berkaitan dengan Agama

Beberapa pengertian :

* Kumpulan ajaran atau dogma sebuah agama.
* Suatu sistem kepercayaan sebuah agama.

Beberapa sinonim :

* Semua teman dekat saya memiliki iman yang sama. Artinya, semua teman dekat saya memeluk agama yang sama (misalnya: Kristen).
* Orang itu kehilangan kepercayaannya terhadap Allah, tetapi tidak kehilangan moralitasnya. Artinya, orang itu tidak percaya lagi akan keberadaan Allah, tetapi tetap memiliki moralitas yang tinggi.

4. Suatu Institusi/Organisasi/Kelompok Tertentu

Pengertian :

* Sebuah kelompok yang memeluk suatu sistem kepercayaan yang sama.
* Tidak mau disebut atau disamakan dengan agama tertentu atau kelompok-kelompok keagamaan lainnya. Biasanya kelompok-kelompok tersebut tidak mau menggunakan kata "agama" dalam organisasi mereka.

Sinonim :

* Kekristenan memiliki beragam kelompok/aliran/tradisi yang saling berbeda, seperti: Katolik, Protestan, Metodis, Kharismatik, Baptis, Adventis, Mormonisme, Saksi Yehovah, Bala Keselamatan, Pentakosta, Ortodoks Yunani, dan Ortodoks Siria.

5. Ketaatan dan Loyalitas

Beberapa pengertian :

* Sebuah iman, kepercayaan, atau keyakinan melahirkan ketaatan dan tunduk pada otoritas tertentu, seperti: orang, kitab suci, tradisi, dan janji/sumpah.
* Adanya komitmen, kesetiaan, dedikasi (penyerahan diri), pembaktian diri, dan ketaatan penuh pada otoritas tertentu.

Contoh :

* Harus selalu taat! Tidak boleh ingkar janji!

6. Hanya Sebuah Kata yang Pada Dirinya Sendiri Tidak Memiliki Arti

* Tidak ada pengertian yang pasti, bahkan tidak ada upaya untuk menjelaskan kata "iman" tersebut. Akibatnya, kata "iman" tidak memiliki pengertian yang jelas sehingga digunakan secara sembarang dalam konteks yang beragam. Oleh karena itu, seringkali didengar pernyataan seperti: "iman sangat penting dalam kehidupan saya, agama saya, tuhan saya, dan kitab suci saya" atau "pokoknya iman sangat penting untuk keselamatan saya dan tidak peduli apapun yang terjadi saya akan tetap mempertahankan iman saya".

_________________

* Pengertian dan penggunaan kata "iman" di nomor berapakah yang seringkali orang gunakan?


* Apakah ada pengertian atau penggunaan kata "iman" atau segala hal yang berkaitan dengan iman yang terlewatkan oleh saya? Jika ya, tolong anda tambahkan dengan memberikan tanggapan
.