Senin, 18 Januari 2010

Deja Vu

Kata "Deja vu" berasal dari bahasa Perancis yang artinya "sudah melihat". Deja vu adalah perasaan aneh yang dialami seseorang setelah melihat sesuatu atau mengalami suatu peristiwa yang menurut orang itu pernah dilihat atau dialami sebelumnya, tetapi ia tidak ingat kapan tepatnya. Apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan deja vu? Apakah hal tersebut merupakan hal yang lumrah atau tidak lumrah?

Jika yang dimaksud adalah ingatan akan pengalaman mengenai suatu peristiwa, maka sangat mungkin deja vu terjadi karena ingatan/memori seseorang belum sepenuhnya mengingat peristiwa yang sebenarnya pernah dialami oleh orang itu. Maka yang terjadi sesungguhnya adalah bahwa peristiwa yang sedang dialami memicu ingatan orang tersebut terhadap berbagai kumpulan ingatan mengenai berbagai peristiwa yang pernah dialaminya. Oleh karena itu, pengalaman seperti itu tentu akan dirasakan aneh oleh orang yang mengalami hal tersebut karena ingatannya masih terfragmentasi (terpecah-pecah/terbagi-bagi) dan belum membentuk satu ingatan yang utuh mengenai satu peristiwa. Harus selalu diingat dan disadari bahwa otak manusia mengumpulkan dan menyimpan berbagai ingatan yang terdiri dari berbagai fragmen (bagian) dan setiap otak manusia memiliki perbedaan dalam berapa lama mampu menyatukan fragmen-fragmen itu sehingga menjadi satu ingatan yang utuh dan jelas.

 Dengan demikian, pengalaman deja vu menurut penjelasan di atas bukanlah hal yang aneh atau luar biasa karena yang sesungguhnya terjadi adalah bahwa orang tersebut memang sebelumnya pernah pergi ke tempat itu atau sebelumnya pernah mengalami hal yang sedang dialaminya sekarang. Oleh karena itu, yang dialaminya hanyalah bahwa ia lupa terhadap detail-detail pengalamannya itu karena sangat mungkin pada saat pertama itu ia tidak begitu memperhatikannya. Dan pengalaman yang dialami orang itu bukan hanya mengacu pada beberapa hari atau bulan yang telah berlalu, tetapi bisa juga dialami hanya beberapa menit, bahkan beberapa detik sebelumnya.

Deja vu tidak terbatas pada ingatan akan pengalaman tertentu, tetapi juga bisa karena melihat gambar-gambar atau mendengar cerita-cerita yang sangat jelas yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Pengalaman seperti itu mungkin merupakan bagian dari pengalaman masa kanak-kanak. Selain itu, deja vu juga mungkin terjadi karena dipicu oleh aktivitas jaringan tertentu dalam otak manusia yang sama sekali tidak berkaitan dengan pengalaman yang terjadi di masa lalu.

Hal unik mengenai deja vu ini sesungguhnya bukanlah terletak pada peristiwa yang terjadi di masa lampau melainkan peristiwa yang terjadi di masa kini. Merupakan hal yang lumrah terjadi jika orang lupa bertanya mengenai hal-hal, seperti: "apakah saya sudah pernah membaca buku ini?" dan "tempat ini kelihatannya tidak asing lagi, apakah saya pernah datang ke sini sebelumnya?" Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidaklah aneh melainkan wajar. Terlebih jika orang itu sudah berumur di atas 60 tahun, di mana ia sudah membaca sekian banyak buku. Atau, seseorang yang seringkali berpergian ke berbagai tempat. Bukanlah hal yang aneh jika seseorang lupa terhadap hal-hal tertentu. Dengan demikian, apa yang terjadi ketika seseorang mengalami deja vu adalah tidak lebih dari apa yang biasa disebut dengan lupa.

Minggu, 17 Januari 2010

Berpikir Terbuka

Orang seringkali berkata, "berpikirlah terbuka!" atau "bukalah pikiran anda!" atau "kamu harus membuka pikiranmu dan jangan menutup pikiranmu!" Kata-kata serupa juga seringkali dialamatkan kepada saya. Apakah yang dimaksud dengan berpikir terbuka atau membuka pikiran? Bukankah seorang skeptik seperti saya yang selalu mempertanyakan banyak hal sudah pasti juga berpikiran terbuka? Jadi, bukankah kata-kata itu sangatlah keliru jika dialamatkan kepada saya karena saya bukanlah seorang yang berpikir tertutup? Dan apakah yang dimaksud dengan berpikir terbuka itu?

Berpikir terbuka adalah aktivitas otak yang terbuka terhadap segala ide, pandangan, data, teori, dan kesimpulan. Lebih dari itu, berpikir terbuka berarti membuka pikiran terhadap kemungkinan bahwa suatu ide, pandangan, data, teori, dan kesimpulan bisa benar atau salah. Jika seseorang tidak dapat menerima kemungkinan bahwa suatu ide/pandangan/data/teori/kesimpulan salah, maka orang itu dapat dikatakan sebagai orang yang berpikir tertutup. Dampak seseorang yang menganggap atau mengklaim dirinya sebagai orang yang berpikir terbuka, maka ia harus meneliti/menganalisis/mengkaji semua ide/pandangan/data/teori/kesimpulan secara kritis dengan menggunakan akal sehat dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya sebelum menerima dan mempercayai suatu hal sebagai sesuatu yang benar. Artinya, seorang yang berpikir terbuka tidak akan menerima dan mempercayai suatu ide/pandangan/data/teori/kesimpulan jika tidak didukung oleh berbagai bukti dan argumen yang didukung oleh akal sehat. dan ilmu pengetahuan Jadi, seorang yang berpikir terbuka tidak akan serta-merta menerima dan mempercayai suatu ide/pandangan/data/teori/kesimpulan meskipun hal tersebut dikatakan oleh otoritas tertentu (orangtua/keluaga, orang yang lebih tua, guru, pemuka agama/masyarakat, buku/bacaan) tanpa mengujinya terlebih dahulu dengan menggunakan akal sehat dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Jika seseorang menerima dan mempercayai sesuatu tanpa mengujinya terlebih dahulu, maka ia bisa disebut sebagai orang yang tidak kritis. Jika seseorang menerima dan mempercayai sesuatu tanpa didukung oleh data, bukti, dan argumen yang kuat, maka orang itu dapat disebut sebagai orang yang mudah percaya. Kedua tipe orang seperti itulah yang cenderung mudah ditipu, dimanipulasi, dan disesatkan. Dan jika seseorang menerima dan mempercayai sesuatu padahal data, bukti, dan kenyataan bertolak belakang dengan apa yang dipercayainya, maka orang tersebut mengalami delusinasi.

Setiap orang memiliki kecenderungan untuk lebih menerima dan mempercayai otoritas tertentu atau opini publik atau bahkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, seorang ilmuwan bisa saja 'jatuh' ke dalam pikirannya yang tertutup karena menganggap diri sudah benar dengan pengetahuan yang mumpuni. Seorang yang kritis atau skeptis tentu sangat mungkin, tanpa disadarinya, memiliki pikiran yang tertutup. Tidak ada seorang pun yang dapat serta-merta dinyatakan sebagai seorang yang berpikir terbuka, apapun pekerjaan, kekuasaan, kedudukan, karakter, ataupun label/cap yang selama ini dikenakan pada orang itu.

Dengan demikian, apakah saya termasuk orang yang berpikir terbuka atau tertutup? Sejauh yang saya sadari, maka saya termasuk orang yang berpikir terbuka karena saya selalu menyadari bahwa dalam dunia ini setidaknya selalu ada dua kemungkinan, entah benar atau salah. Saya sadar penuh bahwa teori, kesimpulan, dan argumen saya tentu saja bisa salah. Oleh karena itu, saya selalu menguji pandangan-pandangan saya sendiri dengan menggunakan akal sehat dan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Dan jika pandangan saya terbukti salah, maka dengan kesadaran penuh itu pulalah saya tidak ragu untuk mengakui dan mengoreksinya. Semua ini merupakan proses yang tiada akhir. Artinya, saya terus menguji berbagai pandangan, kesimpulan, dan argumen saya sendiri. Dengan didasarkan pada penjelasan di atas, maka saya dapat mengatakan bahwa saya adalah seorang skeptik sekaligus seorang yang selalu berpikir terbuka.

Seorang Sinik atau Skeptik?

Cukup lama saya dengan bangga menyatakan diri sebagai seorang sinik (bahasa Inggris: cynic), yakni seorang yang selalu berpikir dan bersikap meragukan segala hal. Cukup lama juga saya berpikir bahwa kata 'sinis' dan 'skeptis' memiliki pengertian yang sama. Hal ini didukung oleh penjelasan menurut Oxford Advanced Learner's Dictionary: International Student's Edition (seventh edition, 2006). Apakah kata 'sinis' dan 'skeptis' memang memiliki pengertian yang sama? Selain itu, cukup lama saya menyatakan diri sebagai orang yang suka meruntuhkan/menghancurkan pendapat orang lain. Apakah seorang sinik suka meruntuhkan/menghancurkan pendapat orang lain? Dalam tulisan ini saya akan menjelaskan siapakah sesungguhnya diri saya, apakah seorang sinik atau skeptik. Apakah saya memang suka meruntuhkan/menghancurkan pendapat orang lain? Atau?

Setelah memikirkan terus pengertian sinis dan skeptis dalam kaitannya dengan diri saya, maka saya menganggap bahwa yang lebih tepat adalah sinis karena pengertian sinis cenderung negatif. Oleh karena itu, saya menganggap diri sebagai seorang skeptik karena saya selalu mempertanyakan banyak hal. Bagi saya, mempertanyakan banyak hal, bahkan segala hal merupakan sesuatu yang lumrah. Sebagian besar orang memiliki kemampuan untuk mempertanyakan berbagai hal di sekitarnya untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Anak-anak juga mempertanyakan berbagai hal di sekitarnya. Namun harus diperhatikan, anak-anak memperoleh pengertian dan pengetahuan mengenai berbagai pertanyaannya dari orangtua dan orang-orang yang lebih tua. Dengan demikian, yang menjadi penekanan mengenai berbagai pertanyaan yang diajukan oleh orang yang lebih dewasa adalah selalu menguji dan mempertanyakan kembali "jawaban" yang telah diterima. Inilah yang dinamakan dengan skeptisisme, yakni selalu mempertanyakan banyak hal, termasuk pendapat/pandangan yang dibuat oleh diri sendiri.

Apakah skeptisisme hanya dilakukan dan diperuntukkan oleh para ilmuwan? Sama sekali tidak. Setiap orang dapat menjadi seorang yang skeptis, mempertanyakan banyak hal. Bahkan pada dasarnya, sifat dasariah manusia adalah mempertanyakan berbagai hal. Skeptisisme merupakan hal yang sangat baik bagi setiap orang karena dengan melakukan hal itu, seseorang mampu membedakan banyak hal, seperti baik - tidak baik, benar - tidak benar, nyata - tidak nyata. Skeptisisme dapat membuat orang selalu sadar akan banyak hal termasuk dirinya sendiri. Skeptisisme dapat menghindarkan orang dari manipulasi, penipuan, pembodohan, opini publik yang menyesatkan, eksploitasi, dan ketakutan, tetapi sebaliknya skeptisisme membuat orang selalu berpikir, mencari tahu kebenaran, dan mengedepankan argumen yang menggunakan akal sehatnya.

Bagi saya setidaknya ada tiga hal/karakter yang mencirikan diri saya yang sesungguhnya:


1. Berpikir. Artinya, saya selalu penggunaan akal sehat yang didasarkan pada berbagai data, teori, bukti, pengamatan, dan argumen daripada pendapat atau "perasaan" orang lain dan diri sendiri.


2. Bertanya. Artinya, saya selalu mempertanyakan suatu hal daripada langsung menerima dan mempercayai pandangan orang lain, sekalipun merupakan pandangan publik (banyak orang).


3. Berpikir terbuka. Artinya, saya selalu membuka pikiran terhadap berbagai hal baru. Ini sama sekali tidak berarti saya lebih mempercayai hal-hal baru dibandingkan yang lama karena tidak semua hal baru adalah benar. Sebagai contoh: banyak orang mempercayai New Age Movement sebagai sesuatu yang "baru" dan benar, padahal sebenarnya tidak karena sesungguhnya yang terjadi adalah manipulasi, penipuan, bahkan pembodohan yang menyesatkan.

Dengan demikian, saya sesungguhnya bukanlah seorang sinik melainkan seorang skeptik karena saya adalah seorang yang selalu mempertanyakan dan meragukan banyak hal yang terjadi di sekitar saya (dunia ini) demi memperoleh kebenaran, melalui berbagai data, teori, pengamatan, dan terlebih argumen yang mengedepankan penggunaan akal sehat dan ilmu pengetahuan.

Ilmu Pengetahuan & Skeptisisme

Ilmu pengetahuan merupakan cara berpikir dan bertindak tertentu yang bermanfaat untuk memahami berbagai pengetahuan yang diperoleh manusia, baik yang diterima secara langsung maupun tidak langsung (terjadi di masa lalu maupun masa kini). Hal-hal yang termasuk ke dalam cara berpikir manusia adalah semua hal mengenai dugaan, tebakan, ide, hipotesa, teori, dan paradigma. Sedangkan hal-hal yang termasuk ke dalam tindakan manusia adalah pengalaman, analisis statistik, penelitian lapangan, pengumpulan data, penemuan-penemuan, komunikasi dengan sesama, seminar (presentasi), dan tulisan-tulisan. Hal-hal yang termasuk ke dalam cara berpikir manusia disebut metode mental, sementara berbagai hal yang termasuk ke dalam tindakan manusia disebut metode sikap/kebiasaan.

Jika demikian, apa yang menjadi ciri khas ilmu pengetahuan? Metode apakah yang digunakan oleh dan dalam ilmu pengetahuan? Apakah metode ilmu pengetahuan itu? Ada begitu banyak tulisan yang membahas mengenai metode ilmu pengetahuan ini. Namun, kata sepakat mengenai hal tersebut sangat sulit dicapai, setidaknya para ahli berbicara mengenai hal yang saling berbeda. Artinya, para ahli mengemukakan pendapatnya masing-masing secara berlainan. Hal ini tidak berarti mereka tidak mengetahui apa yang dilakukannya. Antara "melakukan" dan "menjelaskan" terdapat perbedaan, walaupun rata-rata ahli menjalankan proses "melakukan" dan "menjelaskan" tersebut.

Setidaknya ada empat hal atau langkah yang dilakukan para peneliti (termasuk orang yang menyebut dirinya skeptik), yakni:

1. Melakukan observasi (pengamatan). Dalam tahap ini orang melakukan pengumpulan berbagai data menggunakan teknologi yang dimilikinya
2. Melakukan induksi. Dalam tahap ini orang menarik berbagai kesimpulan sementara yang diperoleh dari berbagai data yang telah dikumpulkannya pada tahap observasi. Pada tahap ini terbentuk hipotesis (tunggal) atau hipotesa (jamak).
3. Melakukan deduksi. Pada tahap ini orang membentuk teori (-teori) yang didasarkan pada berbagai kesimpulan yang diperoleh pada tahap induksi. Pada tahap ini hipotesis atau hipotesa melahirkan teori (-teori).
4. Melakukan verifikasi. Pada tahap ini teori (-teori) tadi diuji kesahihannya terhadap berbagai pengamatan yang terus dilakukan.
Keempat langkah/tahap di atas dapat disebut metode ilmu pengetahuan dan merupakan proses yang dilakukan secara berulang.

Hal yang selalu ditekankan dan diingat adalah, ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang selalu sama atau tidak pernah berubah atau kaku. Namun sebaliknya, ilmu pengetahuan tidak pernah "takut" atau tabu terhadap kata "perubahan". Ilmu pengetahuan akan berubah sejauh sesuai dengan data, bukti, dan argumen yang kuat. Artinya, semua data, teori, fakta, dan argumen berjalan sejajar alias tidak terjadi pertentangan di antara hal-hal tersebut. Oleh karena itu, melalui metode ilmu pengetahuan dengan sederhana kita dapat memperoleh tiga hal yang umum:

1. Hipotesis/hipotesa: pernyataan (-pernyataan) yang telah diuji kesahihannya melalui berbagai penelitian dan/atau pengamatan.
2. Teori: pernyataan (-pernyataan) yang telah diuji kesahihannya melalui berbagai penelitian dan/atau pengamatan.
3. Fakta: kesimpulan (-kesimpulan) yang menegaskan dan memperkuat data-data yang sudah ada/diperoleh.

Ilmu pengetahuan membawa, memimpin, dan menuntun manusia menuju akal sehat, akar dari metode ilmu pengetahuan. Contoh ilmu pengetahuan yang menjadi akar metode ilmu pengetahuan adalah berikut: bagaimana kita dapat mengatakan bahwa bumi ini bulat?

1. Bayangan yang terlihat di bulan bulat.
2. Ujung layar/tiang kapal laut yang sedang berlayar terlihat paling akhir sebelum hilang di ujung laut.
3. Cakrawala berbentuk lonjong atau setengah melingkar.
4. Hasil foto yang dilakukan dari luar angkasa/bumi.

Lebih lagi, ilmu pengetahuan dapat sangat membantu kita (bermanfaat) menghindari berbagai dogmatisme, seperti: menarik kesimpulan-kesimpulan yang hanya didasarkan pada otoritas tertentu (orangtua/keluarga, guru, pemuka/pemimpin agama, dan buku/bacaan). Tentu, pandangan otoritas itu patut, bukan sekadar diperhatikan melainkan diuji kebenarannya. Kesimpulan tidak diperoleh karena berdasarkan pendangan orang lain, tetapi berdasarkan data, teori, dan argumen yang didasarkan pada akal sehat manusia. Namun demikian, bukan dogmatisme itu sendiri yang harus digugat, dipertanyakan, dan dianggap sebagai suatu hal yang tidak sahih, tetapi yang lebih penting adalah mempertanyakan: bagaimana otoritas tertentu (seseorang) bisa sampai pada kesimpulannya? Apakah mereka menggunakan akal sehat atau hal (-hal) lainnya?